Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2016-08-21
Words:
483
Chapters:
1/1
Kudos:
1
Bookmarks:
1
Hits:
63

under the rain, we wait

Summary:

Di luar dangau, hujan masih menggebu, namun Doudanuki rela menunggu.

Notes:

request from kak crow, thanks a lot for your help the other day ;;;

also sorry kalo ooc gimana gitu, first time writing these two dan agak ngeraba-raba karakter mereka. hopefully this thing is enjoyable ;;;

Work Text:

“Doudanuki-san?”

 

Doudanuki tersadar dari lamunan ketika namanya dipanggil pelan. Derasnya hujan mengaburkan pandangannya, namun tidak mungkin ia salah mengenali Souza Samonji yang berdiri di hadapannya di bawah lindungan payung merah muda.

 

“Oh, Souza-san.” Doudanuki berdeham, merasa aneh dengan sufiks yang ia berikan. Sekejap kemudian, ia sadar bahwa keheningan akan membuat keadaan canggung, sehingga ia mengambil inisiatif membuka pembicaraan. “Dari mana?”

 

“Ah, dari pasar. Aruji kehabisan gula jadi aku pergi membelinya,” jawab Souza seraya menunjukkan tas belanjanya. Matanya mengamati Doudanuki, membuat sang pedang menjadi sedikit salah tingkah.

 

Suara percikan pelan membuat Doudanuki kembali mendongak. Souza kini tengah menutup payungnya sambil berlindung di bawah dangau kecil tempat Doudanuki sedari tadi berlindung.

 

Ketika tangan Souza yang sedikit basah diterpa hujan tak sengaja menyentuh tangannya sendiri, Doudanuki tersentak kecil. Ia menyalahkan udara dingin yang membuat tubuhnya lebih sensitif pada sentuhan. Souza tampak tidak terganggu. Doudanuki menundukkan kepala dalam-dalam, mencoba mengabaikan degupan jantungnya yang kian kencang.

 

Ketika keheningan menjadi tak tertahankan, Doudanuki mendongak, mengabaikan wajah yang mulai merah padam, dan bertanya, “So—Souza-san, apa yang kaulakukan?”

“Hm?” Souza bergumam dalam tanya. “Menemani Doudanuki-san.”

 

Doudanuki menahan napas. Sulit untuk menahan diri ketika ada pedang secantik Souza berkata demikian. “Menemani? Kenapa?” Akhirnya ia dapat mengatakannya dengan susah payah.

 

“Doudanuki-san baru selesai berkebun, ‘kan? Pasti sedang menunggu seseorang untuk datang membawa payung, ‘kan?” Souza bertanya kembali.

 

“Eh? Bukan. Berkebun sudah selesai dari tadi. Aku lupa kalau aku meninggalkan handukku di sini, jadi aku kembali. Saat mau pulang, tiba-tiba hujan. Jadi aku di sini, menunggu sampai hujan berhenti.”

 

Jawaban Doudanuki membuat pipi Souza bersemu. “Oh. Kukira… Maaf sudah berasumsi,” ujarnya pelan.

 

“Tidak apa-apa. Lagipula,” rona merah merambat hingga ke telinga Doudanuki, “aku tidak keberatan ditemani Souza-san.”

 

Doudanuki tahu Souza tengah memandanginya, namun ia tak berani membalas tatapannya. Sebagian dirinya tengah merutuki diri karena telah mengatakan hal itu. Souza mungkin menganggapnya aneh sekarang.

 

“Begitu,” Souza bergumam pelan, dan Doudanuki sedikit lega karena ada nada senang dalam suaranya. Souza berdeham pelan, bermain dengan jemarinya sendiri, sebelum bertanya lagi, “Kalau begitu, Doudanuki-san, keberatan jika aku melakukan ini?”

 

Pertanyaan Doudanuki menggantung di ujung lidah ketika sekelebat merah muda menyapu pandangannya. Ia mengedip, sekali dua kali, membatu dalam keterkejutan. Bahkan ketika Souza menjauh darinya—bibirnya sedikit berkilat lembab dan pipinya bersemu semerah mawar di taman honmaru—pikirannya masih berusaha mengolah apa yang baru saja terjadi.

 

Souza Samonji. Menciumnya. Di bibir.

 

“Tidak keberatan!” Doudanuki berteriak dengan wajah merah padam.

 

Ah, sial, Doudanuki membatin pilu. Hancurlah sudah image-nya.

 

Tawa pelan dari bibir Souza membuat Doudanuki menoleh. Tidak dikiranya, ternyata Souza tersenyum. Bukan hanya tersenyum, tapi tersenyum padanya. Doudanuki terdiam. Ia berpikir kalau Souza harus selalu tersenyum, karena senyumnya sangat indah.

 

“Jadi, Doudanuki-san tidak keberatan?” Souza bertanya lagi, matanya seakan mengedip, mengundang Doudanuki.

 

Napas Doudanuki menderu pelan, hangat di wajah Souza. Ia hanya menggeleng sebelum kembali menutup jarak di antara mereka.

 

Di luar dangau, hujan masih menggebu, namun Doudanuki rela menunggu.