Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Metanoia #2: 26
Stats:
Published:
2026-01-26
Words:
1,550
Chapters:
1/1
Kudos:
1
Hits:
8

Sore di Lab

Summary:

Saat menarik kursi dan mendudukkan diri, fokus Satoru hanya satu. Dia harap sore itu tidak berlalu cepat karena benaknya akan semakin berisik.

Jujutsu Kaisen © Gege Akutami
Original Character, Plot, Idea © Wizardcookie
For Metanoia #2: 26, Theme: “26”

Work Text:

Langkah Satoru menggema dengan sepatu kets yang bergesekan pada lantai kayu. Kesunyian sore menjadi alunan dan peneman tanpa sesekali beralih pandang. Satu fokus tuju terarah pada ruang di ujung lorong—walau harus sedikit menambah langkah dengan belok kanan—hanya penantian semakin membuat gerak cepat. Sepi semakin menggaung tapak kaki sampai dia berada di depan ruangan, napas diatur sejenak dan memberi jeda, sampai tangan menggeser pintu dengan wajah sumringah … akan tetapi tidak ditemukan apa pun di sana, termasuk sosok yang ingin dia temui.

Sepertinya Satoru salah kira.

.

.

Sore di Lab

Sinopsis: Saat menarik kursi dan mendudukkan diri, fokus Satoru hanya satu. Dia harap sore itu tidak berlalu cepat karena benaknya akan semakin berisik.

Jujutsu Kaisen © Gege Akutami

Original Character, Plot, Idea © Wizardcookie

For Metanoia #2: 26, Theme: “26”

.

.

“Gojo-san?”

Kala kepala menoleh ke asal suara, juga adalah bunyi yang telah ia rindukan sejak beberapa hari, senyum yang tadinya merosot kini terangkat kembali. Wanita berambut cokelat sebahu itu tengah memeluk berkas dan menatapnya bingung. Mungkin pria itu tengah mencari Shoko, pikirnya.

“Lab kosong?” tanya Satoru, sekadar basa-basi—padahal dia tahu tempat itu tidak ada penghuni. “Shoko mana?”

“Dia ada keperluan di pusat kota, mungkin baru bisa kembali besok,” jawab sang puan. “Gojo-san ada perlu dengannya?”

Satoru menggeleng. “Tidak.”

Hanya ‘oh’ singkat yang diterima, wanita itu pun sedikit melewati Satoru dan masuk ke laboratorium Jujutsu High, harus menaruh berkas-berkas tersebut di meja.

Sementara lelaki berambut putih itu … hanya diam menatap sang wanita.

Padahal sudah ada kehadiran figur yang dia nanti, tetapi Satoru bergeming. Jantungnya begitu berisik ketika angin bercampur parfum vanilla musky menusuk indera penciuman, iya itu aroma sang puan. Ditambah suara lembut yang menggelitik telinga membuat Satoru refleks mengusap anggota tubuh itu.

“Gojo-san perlu sesuatu?” tanya wanita itu lagi. Dia sudah menaruh berkasnya di atas meja, kepala melongok ke arah pintu, menyadari sang adam masih di sana.

“Aku temani ya!” seru Satoru, masuk ke dalam laboratorium dan menutup pintu.

Bau kertas bercampur obat-obatan tidak begitu Satoru sukai, tetapi karena sang pujaan hati, dia akan menahan diri. Toh saat langkah semakin dalam ke ruang itu, bau-bau tersebut sudah menjadi temannya.

“Apa yang sedang kau lakukan, Maya-chan?”

Maya melirik Satoru sekilas saat merapikan kertas di hadapan lalu tersenyum tipis. “Ada berkas kiriman yang harus aku periksa,” ujarnya lalu memegang satu berkas yang sudah disatukan dengan staples. “Seingatku yang ini … ada dua puluh enam halaman,” Ia bergumam.

Satoru menarik kursi, duduk dengan posisi terbalik—sandaran kursi bertemu dengan dadanya lalu menumpu ke dua tangan di atas kepala sandaran, lalu melirik berkas yang diangkat Maya ke udara seolah memisahkannya dengan kertas lain.

“Apa itu harus diperiksa dulu?”

“Hm?” Maya beralih pada dua puluh enam halaman berkas itu, kembali pada Satoru dan mengangguk. “Iya, soalnya harus dikirim besok.” Ia menjawab. “Mungkin Shoko sudah mendapatkannya juga.”

“Tentang apa?”

Tangan sang wanita berhenti, melirik Satoru kembali dan tersenyum tipis. “Gojo-san tidak punya hak untuk mengetahuinya ‘kan?”

“Iya sih—tapi aku ‘kan guru di sini?”

“Tidak semua guru di Jujutsu High punya wewenang itu.”

Satoru mencebik, menaruh kepala di tumpuan tangan dan bermuram durja. Matanya fokus pada pemisahan berkas terakhir yang sudah Maya susun rapi dengan map plastik di bawahnya. Sejenak menepikan berkas dengan dua puluhan halaman, memasukkan kertas-kertas ke dalam map, lalu menumpuknya menjadi satu.

Sebenarnya Maya sudah biasa ditatap, malah dia tidak begitu acuh dengan eksistensi Satoru yang biasa datang ke laboratorium sekadar bercanda dengan Shoko atau mengobrol dengannya. Namun, sore ini rasanya berbeda.

Dia tetap mengabaikannya, menarik kursi beroda dan duduk sembari menarik berkas tentang ‘Laporan Anomali di Kota dan Kutukan Sejenis’ yang harus diperiksa. Tidak begitu banyak pekerjaan untuk memeriksa laporan selain memastikan data di berkas tersebut faktual, kadang salah ketik pun tidak begitu diperhatikan, hanya terkadang ada yang membuat laporan asal-asalan berujung pada kacaunya arsip. Maya dipercayakan melakukan pekerjaan itu, memeriksa laporan sebelum dibawa ke arsip.

Hanya sunyi di antara mereka tanpa ada obrolan. Suara kertas yang saling bergesekanlah menjadi latar, terlebih laboratorium ini jauh dari lingkungan sekolah dan di luar, lebih dekat dengan hutan, jadi semakin tenang.

Meski begitu, Satoru tak bisa sekadar menatap dan memerhatikan wanita itu saja. Dia ingin melakukan sesuatu karena pikiran semakin kacau ditambah benak semakin berisik. Ia harap waktu tidak berlalu cepat dan sore tidak berganti. Ia ingin menikmati momennya bersama sang wanita.

“Ngomong-ngomong,” Satoru berbicara, menumpu pipi dengan tatap tak teralih pada sang wanita. “Kau biasa sendiri di sini, Maya-chan?”

“Iya,” Maya menjawab tanpa menoleh pada Satoru.

“Sayang sekali, harusnya kau panggil saja aku untuk menemanimu,” ujarnya menggoda.

Maya tak merespon beberapa saat, membalik kertas yang sudah masuk ke halaman sepuluh dengan kepala bergerak sedikit ke kiri-kanan.

“Aku tidak mau merepotkan orang lain, Gojo-san.”

Itulah jawabannya setelah Satoru menunggu, walau ada kecanggunggan kala puan tersebut tak merespon.

“Aku tidak merasa direpotkan,” Satoru bersuara lagi. “Yah~ selama aku tidak sibuk, aku pasti datang ke sini.”

Halaman dua belas, masih ada empat belas lagi yang tersisa. Maya kembali diam tanpa membalas. Fokusnya takut terpecah antara membalas ucapan Satoru dan memeriksa laporan, lalu muncul pikiran tidak enak—takut mengabaikan Satoru.

“Ah, maaf.” Maya berucap. “Bisa tunggu aku selesai dengan laporan ini dulu, Gojo-san?”

“Tidak apa~ Santai saja, Maya-chan.” Ia mengibas tangan. “Atau kau mau aku pergi dulu?”

“Tidak,” Wanita itu menjawab spontan, menatap Satoru dengan penutup matanya itu dan terdiam beberapa saat. Ia mengulum bibir lalu kembali pada berkas. “Duduk saja, aku ingin ditemani.”

Bagai permohonan, Satoru tersenyum puas dan mengangguk-angguk. Permintaan Maya yang ingin dia menetap pun dikabulkan walau tanpa berbicara atau melakukan apa pun.

Kertas-kertas itu semakin cepat berganti bahkan Satoru takjub dibuatnya. Entah halaman ke berapa sudah sang wanita berada, tetapi semakin halaman berubah semakin suram juga wajah Maya dan Satoru sadar.

“Kalau lelah bisa istirahat loh,” Satoru berucap lagi, memecah konsentrasi dan sunyi. “Masih dikirim besok, istirahat sejam dua jam tak masalah.”

Maya berhenti pada halaman dua puluh dua, masih tersisa empat lagi. Dia terdiam saat mendengar ucapan Satoru, menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. Ia memijat dahi yang terasa berdenyut tiba-tiba.

“Aku beliin minuman dulu deh. Ada request?” tanya Satoru. “Jangan kopi!” Ia lalu menyergah seakan tahu kesukaan sang wanita, tetapi meminum kafein itu di saat kepala dan raga penuh tidak direkomendasikan.

“Teh?”

“Boleh, ada lagi?”

“Aku mau susu stoberi dan … mungkin snack juga?”

“Siap laksanakan~!”

Satoru melangkah mantap menuju pintu, tetapi dia menoleh lagi kepada Maya yang memainkan ponsel. “Aku tidak akan lama, jangan kemana-mana!”

Maya menoleh dan mengangguk diiring senyum tipis, barulah lelaki itu menghilang dari balik pintu geser. Ia menggeleng pelan lalu menghembus napas kasar sekali lagi. Entah kenapa, sore ini terasa berbeda.

Perasaannya campur aduk setelah membaca tumpukan laporan itu, mungkin karena informasi di sana cukup membuat isi kepala penuh, juga … kehadiran Satoru membuatnya terasa tak sepi. Rasanya … begitu tenang. Apa niatnya menyelesaikan laporan dengan cepat agar bisa banyak mengobrol dengan Satoru?

Entahlah.

Yang pasti dia bisa sedikit bernapas lega saat sang lelaki tak lagi di hadapan.

Beda dengan Satoru.

Langkahnya lebih cepat untuk bergerak ke vending machine, tidak ingin menyia-nyiakan beberapa menit yang terbuang karena menjauh dari sang wanita. Debaran jantungnya pun tak lagi berisik, tapi kita tidak tahu nanti.

Saat berada di depan mesin minuman, tangannya cepat menekan tombol dan sebotol teh hijau diikuti sekotak susu stoberi keluar, begitupula dengan sekaleng kopi susu yang langsung ia ambil dan ditenggak habis, lalu memegang dua minuman hasil permintaan sang wanita. Satoru beralih ke mesin cemilan, memberi jeda beberapa saat guna menelisik apa yang lebih pantas disantap puan tersebut, sampai tangannya memilih cemilan kentang dua bungkus rasa barbekyu sebagai keputusan akhir.

 Di sore yang pelan-pelan berganti menjadi malam, suara mesin penjual otomatis menggema. Memang Jujutsu High terlampau sepi hari itu karena para murid dan tentu saja guru sepertinya sibuk dengan aktivitas masing-masing. Pastinya Satoru sendiri ingin menghabiskan waktu bersama Maya.

“Maya-chan~”

Maya kali ini terlihat bersandar di kursi sembari memegang berkas yang mengawang di udara, pena berada di tangan kanan, mata begitu fokus pada deretan tulisan.

“Ah, aku ‘kan sudah bilang kau istirahat dulu!” protes Satoru sembari menggeser pintu.

“Ini halaman terakhir, sungguh,” Maya meyakinkan, menceklis bagian terakhir halaman tersebut lalu meletakkannya di atas meja. Tepat saat Satoru hadir laporannya telah diselesaikan, hadiah berupa susu stoberi, teh hijau, dan cemilan-lah yang menjadi imbalan.

Ia meregang kedua tangan di udara, melihat makanan dan minuman permintaannya sudah di hadapan. Maya membuka laci, mengambil dompet lalu membukanya.

“Berapa?”

“Apanya?” tanya Satoru, kembali duduk dengan posisi semula sembari membuka bungkus cemilan.

“Semuanya.”

“Kali ini aku yang traktir~”

“Sungguh?” Ia bertanya lagi. “Kau tak akan menyuruhku mentraktir omakase ‘kan?”

“Hei, memangnya aku manusia seperti apa?!”

Protes Satoru membuat Maya terkekeh, mengambil bungkusan yang belum dibuka tetapi sang lelaki langsung menyodorkan yang sudah ia buka (dan dimakan) pada Maya.

“Ini saja.”

“Punyamu?”

“Aku bisa beli lagi.”

Maya mengangguk ragu, menerima cemilan tersebut dan menyomot satu lalu memakannya. Meski begitu dia tetap menyodorkan bungkusan pada Satoru, meletakkannya di tengah mereka.

“Tapi apa Gojo-san tahu kalau Shoko punya pacar?”

“SUNGGUH?!” Pria itu histeris, mendekatkan kepala sampai jarak di antara mereka tinggal beberapa senti—seperti sedang membagikan informasi sangat-sangat rahasia. “Gimana-gimana?”

Wanita itu menoleh ke kiri-kanan, memastikan jika tidak ada orang selain mereka di sana. Ia pun memberi gestur pada Satoru untuk lebih dekat dan mereka kembali berbincang—membicarakan Ieiri Shoko lebih tepatnya. Sore yang kini berubah jadi malam pun berujung dengan gosip, cemilan, dan minuman yang belum disentuh sama sekali.