Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Metanoia #2: 26
Stats:
Published:
2026-01-26
Words:
1,126
Chapters:
1/1
Kudos:
1
Hits:
38

26 Minutes Left

Summary:

Waktunya hanya tinggal 26 menit dan Zayne berniat untuk memanfaatkannya

 

Love and Deepspace © Infold
Original Character, Plot © Me
For Metanoia #2: 26, Theme: “26”

Work Text:

Waktunya hanya tinggal 26 menit dan Zayne berniat untuk memanfaatkannya


Love and Deepspace © Infold


Original Character, Plot © Me


For Metanoia #2: 26, Theme: “26”

Aroma bunga lili yang bercampur dengan mawar dari kebun belakang langsung menyapa saat ia terbangun. Zayne mengerang, mengutuk jam tubuh yang memaksanya untuk terjaga bersama dengan mentari yang memancarkan sinarnya. Sejujurnya, ia tak ingin terburu-buru kembali ke dunia nyata, terlebih setelah kembali larut semalam.

Namun jika sudah terjaga, bukankah lebih baik memanfaatkan tiap detiknya untuk mengagumi istrinya?

Ia memutar kepala ke kanan. Sudut bibirnya tertarik lebih dalam, menangkap potret sang kekasih, lebih tepatnya punggung Estelle. Terdengar kasmaran, tetapi Zayne bersumpah ia mampu menghabiskan waktu seharian untuk memandangi Estelle dan yakin bosan takkan menghampiri. Ujung jarinya membayangi kulit punggung sang istri, berusaha untuk tidak membangunkan lelap Estelle.

Buru-buru Zayne mematikan alarm di ponsel Estelle, sedikit banyak tidak rela mengetahui bahwa suara alarmlah yang menjadi suara pertama yang didengar oleh Estelle. Pertanda bahwa sudah saatnya Estelle kembali ke realitas, Zayne mencondongkan tubuh.

“Selamat pagi, My Love,” bisik Zayne serak. Bibirnya menjejaki kulit bahu dan tengkuk Estelle, tahu lebih dari siapa pun bahwa istrinya bisa semengerikan Wanderer yang melindungi teritori saat terbangun. “Waktunya bangun.”

Estelle tetap tak bereaksi, bahkan saat Zayne merangkul pinggul sang wanita untuk memutar tubuh agar mereka berhadapan. Berulang kali Zayne mengatakan hal yang sama, membubuhi kening juga kelopak mata Estelle dengan kecupan ringan untuk membujuk sang hawa agar membuka mata. Seringai puas tersungging kala Estelle mengerang, meregangkan tubuhnya lalu mengerjap ringan.

“Lima menit lagi, Zaynie.”

Zayne berdeham pelan. “Kalau kubiarkan, kau bisa tidur seharian.”

Secercah penyesalan terbit kala Estelle mencebik, membuka sebelah mata dengan alis berkerut. “Itulah niatku. Apa aku tidak bisa mendapatkan tidur lebih banyak di hari libur?”

“Bisa saja, tapi aku merindukanmu saat kau tertidur.” Zayne mencubit ujung hidung Estelle tanpa melunturkan seringai. “Itu dan aku hanya punya waktu dua puluh enam menit lagi sebelum berangkat.”

Estelle menarik napas panjang, mengerang lemah. Ekor matanya menangkap jam yang diletakkan di meja nakas. “Masih jam setengah enam, Zaynie. Kenapa kau membangunkanku sekarang?”

“Hanya kau yang libur di akhir pekan, My Love.” Zayne menyingkap helaian jelaga di kening Estelle. “Dan sudah kubilang. aku merindukanmu saat kau tidur.”

“Terlalu pagi untuk ucapan manismu.”

Zayne terkekeh rendah. Ia mengapit Estelle di antara lengannya, menggulingkan tubuh wanita itu hingga berbaring di atas tubuhnya. Diabaikan protes Estelle, membungkam sang hawa dengan bibirnya.

“Zayne!” Estelle menarik diri, memukul bahunya pelan. “Kita berdua belum gosok gigi.”

Keningnya berkerut samar. “Lalu? Kau bertingkah seolah aku belum pernah merasakannya.”

“Tidak nyaman.” Estelle mengerang saat ia kembali mencuri kecupan dari pipi. “Zaynie!”

“Iya?” Ia mengulas seringai jahil, menyukai bagaimana ekspresi Estelle yang biasanya tenang dan  serius bisa berubah menjadi sangat menggemaskan di bawah sentuhannya.

Estelle mendengus kecil. “Kau bilang harus berangkat kurang dari setengah jam lagi?”

“Konsep waktu menjadi relatif jika berhubungan dengan orang terkasih.”

Estelle memicingkan mata. Sudut bibirnya berkedut menahan senyum, tetapi disembunyikan dengan decakan. “Sudah pintar berkelit.”

Senyum sirat kemenangan terukir di bibir Zayne. Tangannya terjulur, membelai sisi wajah Estelle dengan ibu jari. Matanya memetakan tiap lekuk garis wajah sang hawa. Untuk kesekian kalinya mengucap syukur dalam hati berhasil meyakinkan wanita dalam dekapannya untuk jatuh hati.

“Kenapa memandangiku begitu?” Akina menyandarkan pipi pada telapak tangan Zayne, menjaga agar mata mereka saling mengunci.

Sebelah alisnya terangkat. “Seperti apa?”

“Seperti kau akan menerkamku.”

Kalah oleh desakan untuk mengungkapkan perasaan dengan gestur ringan juga tuduhan penuh alasan Estelle, Zayne menangkup belakang kepala wanitanya. Ia menelan protes Estelle. Masa bodoh dengan napas pagi. Zayne telah menghabiskan seumur hidup untuk menahan diri.

“Zaynie.”

“Iya, My Love?”

Jemarinya mengelus rahang Estelle, membujuk wanita itu untuk memiringkan kepala agar memperdalam kecupan mereka. Indra penciumannya dikuasai oleh aroma Estelle, menghidu bunga lili yang bercampur teh yang selalu menguar dari sang hawa. Dengan berat hati ia terpaksa menarik diri saat Estelle meremat rambutnya, pertanda bahwa paru-paru wanita itu telah menuntut udara.

Alih-alih merona, Zayne nyaris terbelalak saat Estelle mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Sang hawa mengangkat sebelah alis dengan sirat menantang.

“Seseorang memilih untuk bersikap nakal pagi ini,” komentar Zayne setengah terhibur.

Estelle mengangkat bahu acuh tak acuh, tetapi sirat jenaka dalam netra kehijauannya sangat kentara. “Napas pagi, Zaynie. Sudah kubilang tidak nyaman.”

Zayne menyipitkan mata, setengah mengancam. Ia menarik kepala Estelle untuk menyematkan kecupan singkat di bibir. Ekspresinya seketika menggelap saat Estelle lagi-lagi mengusap bibirnya dengan punggung tangan.

Seketika, ia mengempaskan tubuh Estelle ke ranjang lalu menggelitik sang hawa. “Aku menunggu permintaan maaf dalam bentuk macaroon satu lusin.”

“Aku hanya bercanda, Zayne!”

Mengabaikan rengekan Estelle yang dibalut oleh tawa, ia terus menggelitik titik lemah sang hawa. Senyum mengembang tanpa bisa ditahan. Dalam pandangan subjektifnya, tawa Estelle bagai melodi merdu yang berpadu dengan pagi yang syahdu. Kombinasi yang berbahaya untuk kewarasannya.

“Zayne! Zaynie! Baiklah, aku menyerah!”

Zayne menarik diri sejenak. “Sudah selesai bertingkah menyebalkannya?”

“Aku hanya bercanda.” Zayne membantu Estelle duduk saat wanitanya merentangkan tangan. “Harga yang pantas untuk membangunkanku sepagi ini.”

“Bukankah seseorang meminta untuk dibangunkan karena ingin menghabiskan waktu sebelum berangkat?”

Ia membawa Estelle dalam gendongan layaknya seekor koala pada pohon kesayangan mereka. Langkahnya stabil, tak terpengaruh dengan berat tambahan dalam dekapannya. Rengkuhannya mengerat ketika tubuh Estelle gemetar sambil membisikkan kata ‘dingin’ sebagai usaha untuk menghangatkan tubuh wanitanya. Zayne menurunkan Estelle, mendudukkan gadis itu di meja sebelah wastafel.

“Menghapus ciumanku lagi, seseorang akan kehilangan haknya untuk menyantap lava cake saat aku pulang nanti.” Ada nada mengancam dalam suaranya saat Zayne menyodorkan sikat gigi pada Estelle. “Aku bersungguh-sungguh.”

“Baik, baik.”

Estelle menyerahkan kembali sikat giginya lalu berkumur dengan air yang diberikan oleh Zayne. Wanita itu pasrah ketika Zayne membantunya membasuh wajah juga melakukan rutinitas perawatan kulit paginya. Sesekali kecupan ringan tersemat di antara percakapan berbisik—enggan merusak suasana tenang.

“Apa sekarang aku sudah bisa menciummu?” tanya Zayne memiringkan kepala di depan Estelle.

Sudut bibir Estelle tertarik dalam, senyumnya mengembang. Wanita itu mengangguk antusias sembari mengalungkan lengan di lehernya.

Butuh seluruh kendali dalam dirinya untuk tidak tersenyum bodoh lantaran hatinya membuncah penuh kebahagiaan yang sulit tidak bisa dijelaskan. Wajah mengantuk Estelle, rambut berantakan wanitanya juga gerakan malas di pagi hari, bahkan kejahilan yang mendadak muncul. Potret ini sudah menjadi pemandangannya setiap pagi sejak mereka memutuskan untuk tinggal bersama. Namun, sepertinya ia tidak akan pernah terbiasa dengan bahagia yang mengiringi harinya di sisi Estelle.

“Harus kuingatkan kalau 26 menitmu hampir habis, Dokter Zayne.”

“Aku bisa meluangkan beberapa menit lagi.”

Zayne membantu Estelle berendam dalam bak dengan senyum tipis tersungging di wajah. Ia yakin harinya akan berjalan baik. Ralat, harinya selalu berjalan baik jika Estelle menyapanya dengan senyuman dan memenuhi harinya dengan tawa—meski kurang dari lima belas menit lagi, ia harus berhadapan dengan pekerjaan.

Dua puluh enam menit. Rasanya seperti beberapa detik kalau dihabiskan bersama Estelle.

Jika ada satu kata yang mampu memberi nama atas perasaannya, bahagia adalah salah satunya. Beruntung, kata lainnya. Diberkahi, mungkin yang paling tepat.