Actions

Work Header

Tanuki who Loves "Tanuki"

Summary:

Keiwa Sakurai ... is he a "Tanuki"? like Tanuki and eat Tanuki? Eh— did you see what above his head? Fluffy and ...?

Some short story in Desire Grand Prix's day off while Keiwa is just an ordinary man who loves peaceful worlds.

Notes:

This is my 2022 draft while Kamen Rider Geats still airing. I missed Neon, Keiwa and Geats series so much. <3

This story background set as the early season of DGP, while Ace's wish is still to be "Stars of the Stars of the Stars" and Keiwa still a cute guy.

*Author Note: I ship them so much. Sehat-sehat penumpang kapal TycooNaago. 🦝🐱

Work Text:

"Kakak, aku pulang!" 

 

Saat lelaki tinggi itu masuk ke rumahnya, keadaannya begitu hening. Lelaki itu, Sakurai Keiwa. Seorang pemain bertopeng rakun yang diundang ke dalam arena Desire Grand Prix. Setelah menyelesaikan satu ronde permainan tersebut, Ia memutuskan untuk pulang ke rumah untuk beristirahat dan menikmati hari libur yang damai tanpa adanya ronde tambahan Desire Grand Prix. Keiwa membuka sepatunya dan tak mendapati jawaban apa-apa dari kakak perempuannya, ia berpikir sejenak. Apakah kakaknya sedang tak ada dirumah? Kalau begitu, kenapa TV menyala? Volumenya juga tak dikecilkan lagi.

 

"Kakak?" panggil Keiwa seraya masuk ke ruang keluarga, awalnya ia ingin meneriakan kakaknya sekali lagi. Namun, melihat batang hidung sang kakak yang terdiam dengan senyum sumringah membuatnya mengurungkan niatnya. 

 

"Saksikan sang bintang dari bintang dari bintangnya, Ukiyo Ace!"

 

Keiwa memanggil kakaknya sekali lagi akibat heran. "Ka–"

 

Sara menyimbolkan adik lelakinya untuk diam, lalu mengibaskan tangannya; mengodekan Keiwa bahwa ia tengah sibuk dengan Ace tercintanya yang muncul di iklan TV serta mengusir adiknya dari ruang keluarga.

 

Adik lelaki Sara langsung berdecak sebal, dan meninggalkan kakaknya serta sang iklan si paling bintang itu berduaan dengan kesal. 

 

"Sebentar ... Keiwa?" Sara membalikan badannya. Sepertinya ada yang aneh di rambut Keiwa.

 

"Ya, kakak?" jawab Keiwa malas seraya memutar langkahnya menjadi ke hadapan Sara. Benar saja, ada sesuatu mirip gumpalan bola bulu berwarna abu-abu dikepalanya.

 

"Rambutmu?" Sara berjinjit untuk melihat apa yang tengah menggeliat diatas kepala adik sematawayangnya itu.

 

"Oh," Keiwa dengan hati-hati menurunkan bola bulu tersebut, dengan santai Keiwa menjawab kebingungan kakaknya. "Ini rakun."

 

"RAKUN!?" Sara menganga seketika setelah melihat rakun yang tengah tertidur itu. "Sejak kapan ia berada di atas kepalamu?"

 

"Sejak aku berjalan-jalan dengan temanku," ujar Keiwa sambil menunjukan bayi rakun itu ke kakaknya. Moodnya benar-benar membaik setelah melihat rakun yang menggemaskan itu. "Lucu, bukan?"

 

Sara terdiam sejenak, lalu ia mengelus kepalanya sendiri. Takutnya ada rakun diatas kepalanya atau apapun itu, ia masih tak percaya dengan adiknya yang sedang menimang-nimang bulu abu-abu yang ada ditangannya. 

 

"Sebentar, kau dapat rakun itu darimana?"

 

"Dari ... teman," jawab Keiwa dengan sedikit penekanan di kata teman. Ia bingung untuk memanggilnya siapa, jika Keiwa sebut nama bisa-bisa kakaknya terkena serangan jantung.

 

"Kebetulan temanku sangat suka kucing, dan benda-benda berbulu, rupanya ia punya kenalan yang mempunyai bayi rakun untuk diadopsi."

 

Sara mengerutkan keningnya, ah. Yang penting adik lelakinya senang. "Oke, tapi tolong jangan buat bulu itu menggaruk-garuk sofa selagi aku pergi."

 

"He? Tumben," Keiwa beralih menatap kakaknya yang berjalan menuju ambang pintu. "Mau kemana, kak?"

 

"Belanja!" semangat Sara sambil mengangkat totebag miliknya. "Kau mau menitip sesuatu? Atau untuk ... rakun itu?"

 

"Oh, iya! Makanan rakun milikku masih di Neon-chan!"

 

"NEON?! NEON MANA!?" Sara ternganga sekali lagi, namun acara kagetnya dihentikan dengan bel rumah yang berdering. Sara dengan cepat membuka pintu.

 

".. KURAMA NEON!" jerit Sara setelah melihat gadis dengan blouse kuning cerah yang senada dengan jepit rambutnya. Siapa lagi jika bukan Kurama Neon, idola Sara kedua setelah Star of the star of the stars.

 

"Ah, maafkan kakakku, ya?" timpal Keiwa yang segera ke depan pintu setelah sudah melihat kelakuan kakaknya yang mengagetkan gadis imut di hadapannya.

 

Tentu sebagai respon, Keiwa menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil berbisik. "Ia salah satu fans beratmu."

 

"Begitukah?" Neon berujar senang sambil menyapa Sara dengan nada riang. "Hai! Senang bertemu denganmu!"

 

"Wah! Salam kenal!" timpal Sara dengan nada riang juga, namun ekspresinya langsung berubah setelah bertatapan dengan adiknya. "Astaga, Keiwa! Kau tak bilang bahwa kau kenal Neon!? Dasar!" Sara menyikut adiknya yang masih membawa rakun itu. 

 

Sara menatap Keiwa yang memindahkan bayi rakun itu ke atas nakas dekat rak sepatu. "Entah keberuntungan apa yang bisa membuatmu kenal dengan Neon-chan!"

 

Tentu gadis itu terkekeh pelan, "Keiwa sudah kenal denganku cukup lama."

 

"Betulkah?" tanya Sara. "Mungkin dengan keberuntunganmu, kau bisa mengenal Ace-sama, ya?" Sara terkekeh, dan ditanggapi Neon dengan senyumnya.

 

"Ace-sama? Keiwa 'kan sudah kenal dengan Ace–"

 

"AH, BUKAN-BUKAN!" dengan cepat Keiwa membungkam Neon dengan teriakannya, bahaya jika kakaknya tau bahwa ia kenal dengan Ukiyo Ace. Bayangkan saja jika Sara bertemu Star of the star of the stars, kakaknya bisa kehilangan kesadarannya serta Keiwa yang repot sendiri. Ah, membayangkannya saja sudah merepotkan!

 

Hingga hal tersebut mengundang kecurigaan kakaknya. Sara memberi tatapan yang seolah memojokan Keiwa. "Ada apa, huh?"

 

"Bukan apa-apa!" Keiwa menghindari pertanyaan Sara sembari mendorong kakaknya pelan keluar rumah dan beralih menarik Neon masuk ke rumahnya. Ia buru-buru membanting pintu.

 

"Dadah, kakak! Selamat berbelanja!" 

 

Samar-samar Sara dengar suara adik sematawayangnya, tentu sang kakak memberikan wajah tak suka. Lalu menghentakan kakinya kesal, berdecak sebal lalu memaki Keiwa sebelum benar-benar meninggalkan halaman rumahnya.

 

Sara memutar tubuhnya sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkan rumah. "Awas saja kau, Keiwa Sakurai!"

 

Keiwa meringis, lalu menggaruk kepalanya. Kelakuan kakaknya sangat-sangat menyebalkan jika berhubungan tentang idolanya. Apalagi tadi, Neon saja hingga terkejut. Ia menggendong bayi rakun itu kembali, lalu mengajak Neon untuk duduk diikuti Keiwa yang duduk dihadapannya.

 

"Aku bawa makanan rakun itu, serta beberapa perlengkapan lain. Kau lupa, ya?" kata Neon dan dihadiahi Keiwa yang tersenyum canggung.

 

"Bisa dibilang seperti itu."

 

Neon tertawa kecil sembari menaruh plastik diatas meja itu, Keiwa membungkuk untuk ucapan terimakasihnya pada Neon karena repot-repot membawakannya kemari.

 

"Neon-chan ... maaf ya atas kejadian tadi, kakakku benar-benar fans beratmu, kau sampai terkejut lagi," ujar Keiwa lagi sembari meremas jemarinya dengan kepala tertunduk. Ia takut jika Neon marah padanya.

 

Neon kembali tertawa. "Itu hal yang normal, Keiwa!" jawabnya sembari menopang dagunya. "Menemui idola itu salah satu hal terhebat dalam hidup, jadi hal itu normal saja."

 

Neon tersenyum ketika Keiwa mengangguk kecil untuk menanggapinya. Dan, gadis itu menarik wajah Keiwa untuk menatapnya. Keiwa dihadiri pemandangan bahwa Neon sudah berdiri dihadapannya sembari membungkuk kecil dan tentu;

 

Senyum yang tak pernah menghilang dari wajah imutnya.

 

Entah apa yang dialami, perasaan Keiwa tiba-tiba menghangat setelah melihat riangnya wajah Neon dihadapannya. Sang pemuda rakun itu langsung terkekeh dan menyembunyikan semburat merah jambu yang menjalar di pipinya.

 

"Ah, iya! Tebak aku bawa apa–"

 

Keiwa meredakan tawanya dan menatap Neon yang sedang berputar-putar hingga gaunnya tampak mengembang dan ia berhenti berputar dengan posisi membelakangi Keiwa. 

 

"Kucing!" jawab riang Keiwa, ia baru sadar bahwa Neon membawa kucing itu di ransel khusus sejak ia membawa rakun itu dikepalanya.

 

"Betul!" sedikit lompatan kecil dari Neon sebagai respon senang. Lalu gadis itu berjongkok dan mengeluarkan kucing tersebut dari ransel khususnya. Sebuah kucing bermata kuning dengan bulu tebal lembut berwarna jingga— serupa dengan motif Neon Kurama sendiri— kucing emas, Naago. Jika dibandingkan dengan bola, kucing itu mirip bola basket berbulu. Rakun Keiwa mirip bola baseball berwarna ke-abuan.

 

"Hai, kucing!" Keiwa menyapa ramah kucing yang sedang mengeong berterimakasih pada Neon. 

 

Neon menggendong kucing tersebut, lalu menaruhnya didepan wajahnya. Ia menggerakan kaki kucing itu. "Halo, rakun!"

 

Keiwa mengangkat bayi rakun yang ada dipangkuannya. "Hari yang cerah, ya!"

 

"Iya!" Neon menjawabnya sembari menempelkan kucing tersebut di pipi gembulnya. Lalu melepaskan kucing itu untuk sekedar berjalan-jalan di rumah Keiwa. Tentu sang pemuda rakun itu tertawa, lalu menaruh rakun yang masih tertidur dipangkuannya.

 

"Rakun yang lucu."

 

Keiwa menanggapinya dengan deheman kecil sembari menggaruk leher rakun tersebut dengan jari telunjuknya. "Aku jatuh cinta pada rakun ini sepertinya."

 

"Ah, rakun yang jatuh cinta pada rakun!" ungkap Neon mengingat motif Rider milik Sakurai Keiwa alias Tycoon— sebuah Rakun. 

 

"Bukan-bukan," balas Keiwa sembari berpikir sebentar lalu mengoreksi ucapan Neon. "Rakun yang makan rakun dan jatuh cinta pada rakun."

 

"Kau makan rakun!?" 

 

"Bukan-bukan," koreksi Keiwa setelah hal itu membuat kesalahpahaman. "Aku makan Tanuki Soba, bukan makan Tanuki—rakun betulan!"

 

"Oh, Tanuki soba!" setelah menyadari hal tersebut, Neon tertawa diikuti oleh Keiwa yang menertawai kesalahannya tentang "makan rakun".

 

"Berarti rakun makan rakun, dong?"

 

"Bukan begituuuu!"

 

Tawa Neon makin terdengar bahagia, puas karena menertawai Keiwa. Tantu pemuda itu juga makin senang setelah melihat tawa dan senyum Neon.

 

"Kalau begitu, apakah aku cocok jadi rakun?"

 

Neon memberhentikan sejenak tawanya. "Apa-apa? Rakun?" dengan sisa tawa, Neon berucap seraya menatap Keiwa yang sedang menaruh rakun dikepalanya. 

 

"Aku rakun! Keiwa Tanuki!" kata Keiwa sembari meniru hewan yang tertidur ada dikepalanya. Tangannya membentuk sebuah telinga rakun makin membuat keimutan Keiwa dan tawa Neon bertambah.

 

"Oke, tuan rakun!" ujar Neon sembari berdiri, mendekati Keiwa dan meniru gaya kucingnya. "Aku Neko Neon!"

 

"Nona kucing!" ungkapnya disertai tawa mereka berdua. Rasanya disekitar mereka hanyalah tawa hangat tanpa ada sesuatu yang menganggu mereka. 

 

"Hei, lihat tuan rakun! Rambutmu banyak bulu rakunnya," ujar Nona kucing— alias Neon yang sedang mengelus kecil sisi kepala Keiwa untuk membersihkan rambut pemuda itu.

 

"Terimakasih, nona Kucing!"

 

"Kapan-kapan aku traktir tuan rakun untuk makan rakun!"

 

"Tanuki soba, nona kucing!" ujar Keiwa diselingi tawanya. Neon sontak saja tertawa kembali. "Kita makan bersama, oke?"

 

"Oke, rakun!"

 

Neon dan Keiwa itu memang lucu, bahkan perasaan mereka menghangat seketika dengan rasa bahagia yang membuncah dengan hal sederhana seperti ini. Obrolan, tawa serta bola bulu; hanya itu. Tapi, mereka tak sadar akan sesuatu—

 

Kucing Neon menggaruk sofa milik kediaman rumah Sakurai.