Work Text:
Jam pelajaran pertama baru saja selesai. Zenitsu yang duduk di bangku depan langsung belari ke arah meja belakang dimana aku dan Tanjiro duduk, terus berjongkok di depan meja kami. Tangannya meraih tangan Tanjiro yang sedang memegang buku dan mulai melakukan kebiasaannya sehari-hari: mengeluh.
"Aaaah! Gue capek!"
Bola mataku reflek berputar mendengar rengekan Zenitsu. Setiap hari denger dia ngeluh bikin geleng-geleng kepala. Beda sama Tanjiro, jemari rampingnya dengan tenang mengusap dan menepuk pelan surai pirang teman kami itu.
"Kerja bagus, Zenitsu! Kamu gak ketiduran di tengah jam pelajaran tadi!" Puji sang gadis.
"Huaaa, Tanjiro!"
"Lo terlalu manjain Zenitsu deh, Tanji," ungkapku, menunjuk ke arah Zenitsu yang masih berjongkok di depan meja kami.
Gak terima, Zenitsu berdiri dari posisi berjongkoknya, terus megang pundakku. Tubuhku digoyang-goyangkan ke depan dan belakang.
"Enak aja! Enggak! Gue butuh dimanjain Tanjiro! Jangan bikin Tanjiro ngerasa harus berhenti!"
"Argh! Lepasin!" Protesku sambil mendorong tangan Zenitsu supaya cengkeramannya di pundakku lepas. "Gua aduin Kak Kai lo minta dimanja Tanji baru tau rasa!"
"Ya jangan dong!" Zenitsu berseru panik. Temanku itu langsung berpindah untuk berlutut di sampingku, memasang pose memohon dengan tangan terkatup di depan dada, "jangan bilang kayak gitu ke kakak cantik, please! Bisa salah paham! Gue bisa habis!"
Berisik banget, astaga. Padahal udah sering dan udah biasa juga dengerin Zenitsu merengek setiap hari dan aku masih gak terbiasa.
"Genya!"
"Iya, iya! Gue gak bilang! Udah? Puas?"
Zenitsu ngangguk cepet, terus ngucapin terimakasih ke Tuhan. Bener-bener dramatis banget temenku yang satu itu.
Gak mau berurusan sama Zenitsu lebih jauh, aku putusin buat buka ponsel aja dan browsing internet sambil nunggu jam pelajaran ke dua.
Tanjiro tiba-tiba ikut nimbrung, "aku nggak ada niat jahat, jadi seharusnya Kak Kaigaku gak marah, kan?"
"Tanji, lu gak kenal kakak cantik."
"Iya sih, aku gak begitu kenal Kak Kaigaku... aku berhenti aja kalo gitu?"
"Jangan! Gue butuh disemangatin! Kalimat Genya aja yang ambigu!"
Aku udah sibuk main ponsel, jadi percakapan Zenitsu sama Tanjiro cuma kedengeran samar-samar di telingaku. Aku cuma sesekali nimbrung kalo percakapannya lagi kedengeran aja.
Gak tau udah berapa lama, tapi pertanyaan Zenitsu yang tiba-tiba ngalihin fokusku dari layar ponsel ke dia.
“Genya, kakak lu kenapa sih?”
Sontak aku mengangkat kepala supaya bisa melihat wajah Zenitsu. Dia udah pindah posisi dan duduk di bangku tepat di depan bangkuku.
”Kakak? Memang kenapa?”
Zenitsu menunjuk dengan sembunyi-sembunyi ke arah pintu masuk kelas kami sambil mengadu, “itu! Liat aja sendiri! Gue dipelototin terus!”
Pandanganku lantas berpindah ke arah pintu, menemukan laki-laki bersurai pucat yang, benar saja, sedang melotot ke arah kami. Lihat kakak cukup bikin hatiku kayak ditumbuhi bunga-bunga musim semi yang mekar—walau dilihatinnya sambil melotot sekalipun. Dengan antusias, aku pun buru-buru bangkit dan langsung melangkah mendekati sosoknya.
“Kak Nemi, ada apa?” Sapaku sambil tersenyum manis.
“Nih,” ucap kakak sambil menyodorkan sebuah tas kecil ke arahku. “Ketinggalan.”
Aku gak tau isinya apa, tapi karena kakak yang kasih, aku terima tasnya tanpa banyak nanya. Baru setelah tas kecil itu udah di tanganku, baru aku cek isinya. Ternyata isinya kotak bekal yang lupa aku bawa tadi pagi.
Pipiku merona, senang bukan main karena diperhatikan kakak. Aku selalu merasa begitu disayang kalau sama kakak—oh, berarti aku gak perlu nahan lapar siang ini! Asik!
”Makasih, kak!”
Kak Nemi cuma bergumam mengiyakan.
“Dia bukannya udah punya pacar?”
Aku medongak waktu denger kakak tiba-tiba nanya, lalu mengikuti arah tatapan tajamnya. Netraku menemukan Zenitsu yang tengah bersembunyi di belakang tubuh Tanjiro sambil merengek dan menunjuk-nunjuk ke arah kakak. Dia langsung berjongkok dan menghilang di balik tubuh Tanjiro waktu sadar dilihatin aku sama kakak.
”Zenitsu? Punya, kok,” jawabku sambil mengangguk. “Tau kakak cantik di kelas 2 yang namanya Kaigaku? Katanya, sih, itu pacarnya.”
”Suruh dia jauh-jauh dari kamu.”
”Eh, kenapa?”
Kenapa tiba-tiba?
Dahi kakak mengerut tidak suka, ”udah punya pacar gak seharusnya dia deket-deket sama kamu.”
Aku bingung. Memang, sih, kakak suka sensi kalau ada anak laki-laki yang ngobrol terlalu deket sama aku. Zenitsu juga beberapa kali protes dan bilang kalau kakak sering melototin dia. Tapi, kakak gak pernah nyuruh ngejauhin kayak gini sebelumnya, jadi aku suruh aja Zenitsu buat gak usah terlalu dipikirin.
”Zenitsu cuma temenku, kok. Kita, kan, temenan berempat! Aku, Zenitsu, Tanjiro, Inosuke.”
Kakak otomatis melotot ke arahku. “Inosuke? Cowok? Temenmu yang mana lagi?”
“Iya, cowok. Dia pernah main ke rumah… kakak lupa?” Aku memiringkan kepala, bertanya-tanya. “Kakak nyapa kita pas aku bawa mereka main.”
”Yang mana? Temen cowokmu yang kakak tahu si kuning itu doang.”
Aku bingung sebentar. Dari awal, kelompok pertemanan kami memang terdiri dari dua perempuan dan dua laki-laki. Aku yakin Inosuke itu laki-laki, dari dulu hingga sekarang. Kapan temanku itu merubah jenis kelaminnya? Dia gak pernah cerita ke kami.
Aku menatap langit-langit ruang kelas sambil berpikir. Mau dipikirkan bagaimana pun juga, rasanya ada kesalah pahaman... oh, astaga! Tentu saja! Aku langsung ketawa lepas pas sadar.
”Kenapa ketawa?”
“Kakak inget temenku yang rambutnya agak biru?”
”Temen cewekmu yang satu lagi, kan? Selain Tanjiro.”
Nah, kan, betul. Kakak salah ngira teman laki-lakiku yang mukanya cantik banget itu sebagai cewek.
“Itu Inosuke, kak," jawabku sambil menahan tawa. "Dia cowok.”
Kak Nemi diem, terus merengut. Pipinya agak merona karena salah kira. Kakak lucu banget aku sampai gak bisa nahan diri buat gak ketawa kecil karenanya.
Sambil nusuk-nusuk lengan atas kakak, aku godain dikit aja. Mumpung lagi gemes.
”Kakak posesif banget. Nanti kalau aku gak bisa punya pacar gimana?”
Jawaban kak Nemi gak bikin kaget.
”Bagus. Biar kamu sama kakak terus,” jawab kakak sambil mengedikan bahu gak peduli.
Aku geleng-geleng kepala walau dalam hati setuju. Fungsi pacar cuma buat gitu-gitu aja dan aku bisa ngelakuin semua itu sama Kak Nemi. Jadi, ngapain aku nyari laki-laki lain kalau udah ada kakak? Lagiab, gak akan ada yang bisa ngalahin kakak kalau soal nge-treat aku kayak tuan putri.
Rok seragam pendek yang aku pakai berayun kecil ngikutin gerakanku waktu ngedorong tubuh kakak buat sedikit menjauh dari pintu. Pundak kakak aku jadiin tumpuan sementara aku berjinjit dan ninggalin kecupan di pipinya. Lengan kakak melingkar di pinggangku, menarikku semakin dekat dengannya.
”Aku bakal selalu sama kakak, kok," ujarku sambil tersenyum. "Kita udah janji. Kakak inget, kan, sama janji kita?"
Kakak ikut tersenyum, lalu menunduk dan ninggalin kecupan lembut di pipiku. Aku ketawa geli ngerasain tekstur kenyal bibir kakak di pipiku.
"Kamu kira kamu ngomong sama siapa?" Kakak mencubit pelan hidungku kali ini. "Kakak inget semuanya kalau soal kamu."
Aku nyengir.
"Aku tau."
