Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-28
Completed:
2026-02-17
Words:
16,834
Chapters:
7/7
Comments:
54
Kudos:
789
Bookmarks:
25
Hits:
11,875

Alpha but Omega

Summary:

Yang katanya alpha, tetapi omega?

Notes:

stay halal brader

Chapter Text

​Bagi Ahn Keonho, reputasi adalah segalanya. Menjadi pemain inti renang dengan badan atletis dan suara paling berisik di koridor membuatnya merasa harus tetap di puncak rantai makanan. Saat hasil tes menyatakan dia adalah omega dominan, Keonho hampir membakar kertas itu.

​"Aku alpha! pokoknya aku alpha!" teriaknya di dalam kamar, buliran air bening lolos mengenai pipinya.

Sang kakak yang saat itu menyaksikan hasil tes Keonho hanya bisa menghela napas, perempuan tinggi itu perlahan mendekat ke arah Keonho yang terduduk di tepi ranjang. "Emang salah banget kalau kamu omega?"

Mendengar itu Keonho langsung menghapus air matanya kasar, memandang Ahn Yujin—kakaknya itu dengan alis bertaut. "Menurutmu!? kamu alpha diem aja!"

Yujin merotasikan bola mata, ia duduk di sebelah Keonho, memutar tubuh anak itu agar menghadapnya. Tangan lentiknya menangkup wajah sang adik dan mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya.

"Orang lain gak bakalan menghakimi kamu jadi omega, itu udah takdir jadi mereka nggak bisa mengubah apapun. Termasuk kamu, berhenti nangis dan terima."

Keonho menggelengkan kepala, ia melepas kasar tangan Yujin. Memberi tinjuan mentah di lengan perempuan itu yang mengaduh kesakitan.

"Kok aku di pukul sih?" tanyanya.

"Kakak ngeselin!" ia bekata begitu, lantas melangkah keluar kamar dengan kaki dihentak tidak sabaran bertanda ia sedang marah, kesal, dongkol menjadi satu.

Setiap seminggu sekali Keonho harus menenggak pil penekan hormon ganda, tentu saja dengan dosis yang tidak terlalu tinggi. Sebab dokter melarangnya mengonsumsi berlebihan, mau bagaimanapun ia tetap omega dominan.

Di sekolah, Keonho tetap si pecicilan yang hobi tebar pesona, sok jagoan, dan seringkali menjadikan Eom Seonghyeon sebagai sasaran kejahilannya.

Seonghyeon sendiri adalah anomali, ia adalah alpha dominan, tapi sangat benci kebisingan. Laki-laki itu tidak suka kerumunan yang memuja statusnya.

Itulah kenapa Seonghyeon selalu kabur ke rooftop gedung lama yang terbengkalai—satu-satunya tempat di mana ia bisa menghirup udara tanpa tercampur aroma parfum murah atau hormon yang saling pamer.

Siang itu, matahari terik luar biasa. Keonho merasa ada yang salah dengan tubuhnya, tulangnya terasa lemas, dan suhu tubuhnya naik drastis.​ Keonho butuh tempat sembunyi, ia tidak boleh ketahuan di kelas.

Dengan langkah sempoyongan, Keonho menaiki anak tangga menuju rooftop gedung lama, berpikir tempat itu kosong karena tak ada yang pernah ke sana.

​Begitu pintu rooftop terbuka, aroma manis yang pekat—seperti wangi bunga lili yang sedang mekar sempurna—langsung meledak di udara terbuka.
​Ternyata, tanpa di duga Seonghyeon berada di sana, sedang bersandar di pagar kawat langsung menoleh.

Mendapati seseorang masuk membuat matanya yang tajam menyipit, memastikan jika ia tidak salah lihat.

"Keonho?"

Keonho tersentak, punggungnya menempel di pintu yang baru saja tertutup. Wajahnya memerah padam, keringat mengucur deras di pelipisnya. "Seonghyeon? ngapain kamu di sini!? pergi sana!"

​Seonghyeon tidak bergeming. Alih-alih pergi, dia justru menghirup udara dalam-dalam, saraf-saraf alphanya langsung menegang. Bau ini bukan bau alpha yang sedang emosi. Ini bau omega yang sedang masuk masa heat pertama yang hebat.

​"Kamu bilang, kamu alpha, kan?" Seonghyeon melangkah maju, membuat Keonho panik setengah mati.

​"Iya! aku alpha! jangan deket-deket, atau aku hajar kamu!" ancamnya, tapi suaranya justru terdengar seperti rintihan. Kakinya lemas, membuatnya merosot duduk di lantai beton yang panas.

Seonghyeon berhenti tepat di depan Keonho. Dia melepaskan feromon alphanya sedikit demi sedikit—bukan untuk menyerang, tapi untuk menekan balik rasa sakit Keonho. Bau hutan hujan yang menenangkan mulai menyelimuti rooftop.

​"Alpha nggak punya bau semanis ini, Keonho." ujar Seonghyeon sembari berlutut.

Dia menarik paksa tangan Keonho yang menutupi wajahnya. ​Mata itu berair, pupilnya melebar karena gairah dan rasa sakit yang bercampur. "Aku cuma lagi sakit biasa..."

​Seonghyeon terkekeh pelan, ia menggeleng. "Sakit biasa gak bakal bikin aku pengen gigit leher kamu sekarang juga."

Keonho membeku. Untuk pertama kalinya, si pecicilan itu kehilangan kata-kata. Ia menatap Seonghyeon, menyadari bahwa laki-laki yang selama ini ia anggap "biasa-biasa saja" ternyata mempunyai aura dominan yang tak pernah ia temui sebelumnya.

​"Aku mau... obat..." lirihnya, mencoba bertahan pada sisa-sisa harga dirinya.

​"Nggak ada obat di sini." Seonghyeon mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Keonho, menghirup aroma lili yang semakin menggila. "Cuma ada aku, dan kamu tau kan. Alpha murni kalau udah nemu omega yang lagi heat di tempat sepi kayak gini nggak bakal dilepas gitu aja?"

​Tubuh Keonho bergetar hebat. Antara takut dan keinginan naluriah untuk menyerahkan diri pada alpha di depannya.

​"Pilih, Keonho. Masih mau ngaku alpha dan aku tinggalin kamu tersiksa di sini sendirian, atau kamu jujur dan aku bantu lewatin masa ini?"

Keonho meremas ujung seragamnya sendiri, harga dirinya sedang berperang hebat dengan rasa panas yang membakar syarafnya. Tapi, begitu Seonghyeon sengaja menarik sedikit feromonnya—membiarkan rasa panas itu kembali menyerang Keonho—si atlet renang itu akhirnya menyerah.

​"Omega... aku omega, brengsek!" hardiknya sambil memejamkan mata rapat-rapat, malu luar biasa. "Puas!? sekarang bantu aku, Seonghyeon... sakit banget."

​Mendengar pengakuan itu, Seonghyeon tidak tertawa mengejek. Alih-alih menghina, sorot matanya justru berubah sendu, meski kegelapan alpha di dalamnya belum sepenuhnya hilang.

​"Pinter." gumam Seonghyeon.

Seonghyeon kemudian duduk di lantai beton, bersandar pada dinding di samping pintu rooftop, lalu menarik tubuh Keonho yang gemetar ke dalam pelukannya.

Keonho awalnya ingin memberontak, tapi begitu kulit mereka bersentuhan, rasa dingin yang menenangkan menyergapnya.

​Seonghyeon tidak melakukan hal-hal yang 'aneh'. Dia justru melingkarkan lengannya yang kuat ke pinggang Keonho, menarik kepala laki-laki itu agar bersandar di pundaknya.

​"Napas, Keonho. Ikutin ritme aku," perintahnya.

Setelahnya, Seonghyeon benar-benar melepaskan feromonnya secara penuh. Bau hutan pinus yang basah, mulai menyelimuti mereka berdua seperti selimut tebal yang tak terlihat. Feromon alpha dominan murni itu bekerja layaknya penawar racun.

​Keonho yang tadinya meronta-ronta perlahan mulai tenang. Otot-ototnya yang kaku mulai rileks. Aroma manis lili milik Keonho yang tadinya liar dan tajam, kini perlahan 'dijinakkan' oleh aroma Seonghyeon.

​"Seonghyeon..." Keonho meremas kemeja Seonghyeon, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher laki-laki itu, mencari sumber bau yang paling kuat. "Jangan... jangan dilepasin dulu."

​"Iya, aku di sini. Nggak bakal kemana-mana." sahut Seonghyeon pelan. Tangannya yang lebar mengusap punggung Keonho dengan gerakan teratur, memberikan rasa aman yang belum pernah Keonho rasakan seumur hidupnya.

​Di bawah terik matahari rooftop yang tersembunyi, posisi mereka benar-benar kontras dengan apa yang dilihat orang di kelas. Keonho yang biasanya berisik kini tampak begitu rapuh dan kecil di pelukan Seonghyeon yang selama ini dianggap "orang biasa."

​"Kamu udah sering gini?" tanya Seonghyeon setelah beberapa menit keheningan yang nyaman.

​Keonho menggeleng lemah di pundak Seonghyeon. "Biasanya suppressantku ampuh. Tadi aku cuma kecapekan habis latihan."

​"Jangan dipaksa lagi. Kamu bisa mati kalau heat sendirian di tempat umum kayak gini."

​Keonho mendongak sedikit, menatap rahang tegas Seonghyeon dari dekat. "Kamu gak bakal ngasih tau anak-anak kelas, kan?"

​Seonghyeon menunduk, menatap bibir Keonho yang sedikit terbuka, lalu beralih ke matanya. Ia mengulas senyum tipis. ​"Tergantung,"

​"Tergantung apa?" Keonho bertanya, ia berdecak lidah merasa Seonghyeon menyebalkan.

​"Tergantung seberapa nurut kamu sama aku mulai sekarang." Seonghyeon mencubit pelan pipi Keonho yang masih panas. "Aku bakal jaga rahasia, aku juga bakal jadi tameng feromon kamu kalau butuh. Tapi di kelas, berhenti gangguin aku pas lagi baca buku. Oke?"

​Keonho cemberut, wajahnya makin merah karena malu. Tapi dia tahu dia tidak punya pilihan, berada di pelukan Seonghyeon rasanya terlalu nyaman untuk ditolak.

​"Iya, iya! dasar alpha licik." Keonho kembali menyandarkan kepalanya, menikmati aroma hujan yang terus menenangkan syaraf omeganya.



Kelas 2-A tersebut tetap berisik seperti biasanya. Keonho masuk ke dalam kelas dengan gaya khasnya yang menendang pintu pelan, melempar tas ke meja, dan menyapa teman-temannya dengan suara lantang.

​"Yo! siapa yang mau kalah main basket lawan aku istirahat nanti?" teriak Keonho sambil nyengir.

​Teman-temannya bersorak, tidak menyadari bahwa di balik jaket yang tertutup rapat, jantung Keonho berdetak kencang. Ia masih merasa agak lemas sisa heat kemarin, dan sedang waspada kalau-kalau ada bau omeganya yang bocor.

​Seonghyeon duduk tenang di bangku belakang dengan buku sosiologi di tangannya. Tidak terusik sedikitpun dengan suara ribut di dalam kelas, tetapi sudut bibirnya terangkat sedikit saat mendengar suara cempreng Keonho seperti biasanya.

Kelas di jam pertama kebetulan kosong, dan Keonho mulai merasa gelisah. Ia merasa beberapa alpha di barisan depan mulai mengendus-endus udara. Mungkin suppressant-nya mulai goyah karena hormon omega dominannya terlalu kuat.

Ia pun memilih tetap tidak tahu apa-apa dengan fokus membuat tugas yang di berikan oleh gurunya. ​Namun, tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang. Keonho menoleh dan mendapati Seonghyeon berdiri di sana, memegang botol minum.

​"Keon, pinjam tip-ex." ucap Seonghyeon datar.

​Keonho mengernyit. "Gak punya, cari di—"

​Belum sempat Keonho menyelesaikan kalimatnya, Seonghyeon sengaja membungkuk, seolah ingin mengambil sesuatu di meja Keonho. Di saat itulah, Seonghyeon melepaskan feromonnya dalam satu gelombang halus namun intens, khusus diarahkan ke tengkuk Keonho.

Aroma hutan hujan yang dingin dan pekat langsung membungkus tubuhnya. Sebagain teman-temannya ada yang menoleh sekilas merasa heran, tapi kembali fokus ke aktivitas mereka.

Feromon Seonghyeon menyelimuti aroma lili milik Keonho begitu rapat, menguncinya di bawah lapisan aroma kayu dan tanah yang dominan.

​Keonho merinding, seluruh bulu kuduknya berdiri. "Seonghyeon..."

​"Aku pinjam ini ya," bisik Seonghyeon tepat di telinga Keonho, tangannya sengaja mengusap helai rambut belakang Keonho untuk memastikan aromanya menempel di sana. "Lain kali kalau bocor lagi, bilang. Jangan cuma sok jagoan."

Seonghyeon kembali ke tempat duduknya dengan tenang, meninggalkan Keonho yang sekarang mukanya merah padam sampai ke telinga.



Kantin sedang berada di puncak keramaian. Keonho, seperti biasa, berada di tengah meja panjang bersama anak-anak basket lainnya. Dia tertawa paling keras, pamer dunk yang dia lakukan tadi, benar-benar bertingkah seperti alpha yang tak terkalahkan.

​Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu alpha dari kelas sebelah bernama Juyeon—yang memang terkenal agak kasar—mulai menyadari sesuatu. Juyeon adalah alpha dominan yang punya penciuman tajam.

​"Oi, Keonho," panggil Juyeon sambil berjalan mendekat. Dia berdiri tepat di belakang bangku Keonho.

​Keonho menoleh, masih dengan cengiran khasnya. "Apaan? mau minta tanda tangan?"

Juyeon tidak tertawa. Pemuda itu justru membungkuk, hidungnya mendekat ke arah bahu Keonho. Keonho membeku, jantungnya mulai berdetak dengan liar. Aroma Seonghyeon tadi pagi mulai menipis karena ia berkeringat setelah tanding.

​"Bau kamu aneh." ujar Juyeon, suaranya cukup keras hingga membuat meja itu hening. "Kayak ada bau manis yang coba ditutup-tupin. Bau bunga lili?"

​Wajah Keonho pucat seketika. "Apaan sih? itu mungkin bau omega cewek-cewek yang lewat kali, aku alpha, bego!"

​"Masa?" Juyeon menyeringai, ia sengaja mengeluarkan feromon yang berbau tajam seperti tembakau untuk memancing reaksi Keonho.

​Anak-anak lain mulai saling lirik. Keonho merasa terpojok, ia ingin melawan, tapi insting Omeganya di bawah tekanan alpha dominan lain mulai membuatnya ingin mengecil.

​Tiba-tiba, sebuah nampan berisi susu kotak dan roti diletakkan dengan bunyi yang cukup keras di meja, tepat di sebelah Juyeon.

​Semua orang menoleh, merasa terkejut oleh kehadiran Eom Seonghyeon.

​Laki-laki itu berdiri di sana dengan wajah yang sangat datar, bahkan cenderung dingin. Matanya menatap lurus, seolah Juyeon hanyalah sampah di koridor.

​"Minggir," ucap Seonghyeon.

​Juyeon tertawa meremehkan. "Apa?"

Seonghyeon tidak membalas dengan kata-kata. Ia pun melakukan sesuatu yang membuat seluruh kantin mendadak senyap— melepaskan feromon dominannya secara menyeluruh.

​Bukan lagi sekadar bau hutan hujan yang menenangkan seperti di rooftop, kali ini baunya seperti badai salju di tengah hutan pinus yang gelap. Tekanannya begitu kuat sampai beberapa beta dan omega di dekat sana merasa sesak napas.

Termasuk Keonho yang berusaha untuk tidak terlalu terangsang.

​Juyeon langsung tersentak mundur, ia menatap ke arah Seonghyeon tak percaya. "Kamu alpha?"

Seonghyeon melangkah maju, berdiri tepat di antara Juyeon dan Keonho. Tangannya terulur berada di atas kepala Keonho, jari-jarinya menyisir rambutnya dengan gerakan yang sangat pelan, seolah sedang menegaskan kepemilikan.

​"Aku bilang minggir." ulang Seonghyeon. "Kamu gak mau sesuatu terjadi kan?"

​Juyeon menelan ludah, wajahnya memucat, dan tanpa kata-kata lagi dia langsung berbalik lari meninggalkan kantin.

​Suasana kantin masih hening. Seluruh siswa termasuk teman-teman yang duduk di bangku itu menatap Seonghyeon dengan mulut menganga. Keonho sendiri hanya bisa menatap punggung lebar Seonghyeon, merasa lega dan ingin tenggelam ke bawah tanah karena malu.

Seonghyeon berbalik, menatap Keonho yang masih melongo. Ia menarik tengkuk jaket Keonho seperti sedang menyeret anak kucing.

​"Ikut aku." kata Seonghyeon.

​"Eh, mau kemana!?" protesnya, meski kakinya menurut saja.

Area belakang sekolah yang biasanya sepi—tepatnya di balik gudang olahraga yang tertutup bayangan pohon-pohon besar—menjadi saksi bisu betapa kontrasnya mereka sekarang. Begitu sampai di sana, Seonghyeon langsung melepaskan kerah jaket Keonho, tapi dia tidak memberikan jarak.

​Seonghyeon justru mendorong tubuh atletis Keonho hingga punggung laki-laki itu menabrak dinding bata.

​"Kamu ceroboh." Seonghyeon bersuara. "Aku bilang apa kemarin? jangan di bawa capek dulu kalau tau kondisi kamu lagi nggak stabil."

​Keonho menelan ludah susah payah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Aku nggak mau kelihatan lemah! nanti anak-anak bakalan curiga. Tadi si Juyeon aja yang brengsek."

​"Dia brengsek karena dia alpha, dan dia bisa nyium bau omega dominan yang lagi 'manggil' minta dilindungi." Seonghyeon mendekat, memangkas jarak sampai dada mereka bersentuhan. "Feromon kamu bocor ke mana-mana, Keonho."

​Keonho menggigit bibir dalam bagian bawah. Aroma manis lili miliknya kini benar-benar keluar karena rasa takut dan gugup yang bercampur. "Ya makanya bantu aku sekarang. Biar bisa balik ke kelas."

​Seonghyeon menyeringai tipis, tangan kanannya naik ke leher Keonho, ibu jarinya mengusap pelan tepat di atas kelenjar feromon yang berdenyut.

"Kamu pikir sesimpel itu? feromon kamu makin kuat tiap harinya. Cuma ngelus rambut kayak tadi nggak bakal cukup buat nutupin bau kamu seharian."

​"Terus?" Keonho menatap mata gelap Seonghyeon, jantungnya berpacu gila-gilaan.

​"Aku butuh akses yang lebih langsung."

​Tanpa peringatan, Seonghyeon membenamkan wajahnya di ceruk leher Keonho. Laki-laki itu tersentak, tangannya refleks meremas bahu Seonghyeon. Ia bisa merasakan napas hangat Seonghyeon mengenai kulit sensitifnya.

​Bukannya menggigit, Seonghyeon justru menggesekkan hidung dan pipinya di sana—sebuah tindakan scent-rubbing yang sangat intim antar sub-gender. Seonghyeon sengaja mengeluarkan feromonnya sepekat mungkin, seolah ingin "menenggelamkan" aroma Keonho di bawah aromanya sendiri.

​"Seonghyeon... pelan-pelan..." rintih Keonho pelan. Tubuhnya terasa meleleh. Rasa dingin dari feromon Seonghyeon terasa seperti air es yang menyiram api di dalam tubuhnya.

Seonghyeon menghirup dalam-dalam aroma lili itu sebelum akhirnya memberikan satu kecupan kecil tepat di samping urat leher Keonho.

​Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya bagi Keonho, Seonghyeon menjauhkan wajahnya. Dia menatap hasil kerjanya— leher Keonho kini tidak lagi berbau manis bunga yang mengundang, melainkan berbau hutan hujan yang sangat dominan—persis seperti bau pribadi Seonghyeon.

​"Sekarang." Seonghyeon merapikan kerah jaket Keonho yang berantakan dengan telaten. "Nggak bakal ada satu l
alpha pun yang berani deketin kamu. Mereka bakal ngira kamu alpha yang punya teritori sangat kuat, atau mereka bakal tau kalau kamu udah ada yang punya."

Keonho mengatur napasnya yang masih berantakan. Ia membuang muka, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah total. "Aku bukan punya siapa-siapa, ya!"

​"Oh ya?" Seonghyeon menarik sudut bibirnya. "Coba aja pergi ke Alpha lain sekarang. Kalau mereka gak gemeter ketakutan nyium bau aku di badan kamu, baru kamu boleh bilang gitu."

​Keonho hanya bisa bergumam tidak jelas, tapi ia tidak menolak saat Seonghyeon menggandeng tangannya untuk berjalan balik ke gedung sekolah.

​"Seonghyeon," panggil Keonho pelan saat mereka hampir sampai di koridor.

​"Hm?"

​"Makasih. Tapi kalau kamu berani macem-macem lagi, aku beneran bakal nge-dunk kepala kamu ke ring basket."

​Seonghyeon terkekeh, ia menggelengkan kepala. "Iya, iya omega."

"Jangan panggil omega!"



Saat bel pulang berbunyi, Keonho buru-buru membereskan tasnya. Ia ingin segera pulang sebelum efek feromon Seonghyeon menipis. Tapi, baru saja sampai di gerbang sekolah, hujan deras tiba-tiba turun.

​"Sial, mana nggak bawa payung lagi." gerutunya, berdiri di depan gerbang, memperhatikan butiran air yang jatuh.

​Sebuah payung hitam lebar terbuka di atas kepalanya. Keonho menoleh dan menemukan Seonghyeon berdiri di sampingnya, tangan kirinya masuk ke saku celana, tangan kanannya memegang payung.

​"Ayo, aku anter."

Mereka berjalan beriringan di bawah satu payung. Karena payungnya tidak terlalu besar untuk dua orang laki-laki dengan bahu lebar, Seonghyeon sengaja merangkul bahu Keonho agar laki-laki itu tidak terkena air hujan.

​"Hyeon, nanti orang-orang liat." protes Keonho pelan, meski dia sendiri justru makin merapat ke tubuh hangat Seonghyeon.

​"Hujannya deras, Keon. Kalau kamu sakit, heat kamu bisa makin parah." jawab Seonghyeon.

​Mereka sampai di sebuah taman kecil yang sepi sebelum menuju perumahan Keonho. Karena hujan makin lebat disertai petir, Seonghyeon menarik Keonho untuk berteduh sejenak di sebuah gazebo kayu.

​Suasana mendadak canggung. Hanya ada suara hujan yang menghantam atap gazebo. Keonho duduk di bangku kayu, kakinya bergerak-gerak gelisah.

​"Kamu kenapa baik deh sama aku?" tanya Keonho tiba-tiba. Matanya menatap sepatunya yang sedikit basah. "Aku kan sering gangguin kamu di kelas. Apalagi pas kamu baca buku."

​Seonghyeon yang berdiri bersandar pada tiang gazebo menoleh. Netranya menatap Keonho cukup lama sampai pemuda itu salah tingkah.

​"Karena kamu menarik." sahutnya.

​"Hah?"

​"Kamu berisik, pecicilan, dan sok keras. Tapi aku tau itu cuma cara kamu buat bertahan." Seonghyeon mendekat, lalu duduk di samping Keonho. "Aku udah menduga kamu omega dari awal semester, Keonho."

​Mata Keonho membulat sempurna. "Kamu..."

​"Bau kamu itu beda. Alpha dominan nggak bisa ditipu, apalagi punya penciuman bagus kayak si Juyeon." Seonghyeon terkekeh melihat wajah kaget Keonho yang lucu. "Aku cuma nunggu kapan kamu bakal nyerah dan minta tolong sama aku. Ternyata kamu lebih keras kepala dari yang aku kira."

​Keonho mendengus, telinganya merah padam. "Jadi kamu selama ini cuma nontonin aku kayak orang bego?"

​"Nggak cuma nontonin." Seonghyeon meraih tangan Keonho, menjalin jemari mereka di atas bangku kayu. "Aku juga jagain kamu dari jauh. Kamu pikir kenapa nggak ada alpha lain yang berani gangguin kamu selama ini? itu karena aku selalu naruh sedikit feromon di kursi kamu tiap pagi."

​Keonho tertegun. Jadi selama ini, perlindungan Seonghyeon sudah ada bahkan sebelum dia menyadarinya.
​"Kamu beneran alpha aneh." ujar Keonho. Dia tidak menarik tangannya.

Justru, dia menyandarkan kepalanya di bahu Seonghyeon. Bau hujan dari luar dan bau "hujan" dari tubuh Seonghyeon menyatu, membuat Keonho merasa sangat mengantuk dan tenang.

​Seonghyeon mengelus surai Keonho dengan lembut. Ia mengulas senyum tipis.

Hujan yang tadinya hanya deras, kini berubah menjadi badai kecil. Suara guntur menggelegar di atas cakrawala, membuat Keonho refleks berjengit dan makin menempel pada lengan Seonghyeon saat mereka berlari kecil menuju teras rumahnya.

​Begitu sampai di bawah kanopi teras, keduanya basah kuyup. Rambut Keonho yang biasanya tertata rapi kini lepek menutupi dahinya, sementara seragam sekolah Seonghyeon yang putih jadi agak transparan, memperlihatkan siluet tubuh tegapnya yang atletis.

​"Sial, basah semua!" seru Keonho sambil merogoh saku mencari kunci. "Masuk dulu, Hyeon. Nggak mungkin kamu balik dengan badai kayak gini."

​Begitu pintu terbuka, suasana rumah sangat sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding dan gemuruh hujan dari luar.

​"Sepi banget?" Seonghyeon bertanya seraya meletakkan payungnya di sudut teras sebelum masuk.

​"Mama papa kerja, kak Yujin juga kerja, balik malem biasanya." jawabnya, melempar tasnya ke sofa. "Bentar, aku ambil handuk. Kamu tunggu sini, atau duduk lah, jangan kayak tamu gak diundang gitu."

​Keonho kembali dengan dua handuk kering. Dia melemparkan satu ke arah Seonghyeon, lalu mulai menggosok rambutnya sendiri dengan kasar.

Namun, karena kondisi tubuhnya yang masih dalam siklus pasca-heat, suhu dingin dari air hujan mulai membuat tubuh omeganya bereaksi aneh.

​Keonho mulai menggigil. Bukan hanya karena dingin, tapi karena instingnya mulai meronta minta kenyamanan.

​"Mukamu pucat." Seonghyeon menyadari itu, ia mendekat, lalu menyentuh dahi Keonho. "Dingin banget. Ganti baju sana."

​"Hyeon..." Keonho meremas handuknya. Matanya mulai sayu, menatap Seonghyeon. "Bisa... bisa tolong keluarin feromon kamu lagi? yang banyak."

​Seonghyeon tertegun sejenak. Ia tahu apa yang terjadi, dalam rumah yang sepi, tanpa gangguan orang lain, insting omega Keonho ingin "menandai" tempat tinggalnya dengan bau alpha yang dia percayai.

​"Oke. Tapi ganti baju dulu, ya?"

​Sepuluh menit kemudian, Keonho keluar dari kamar dengan hoodie kebesaran dan celana kain. Di ruang tengah, Seonghyeon sudah menunggu. Ia juga sudah mengganti seragam basahnya dengan kaos milik Keonho yang ironisnya terasa agak sempit di bahu Seonghyeon.

​Begitu Keonho duduk di sampingnya, Seonghyeon langsung menarik pemuda itu ke dalam dekapannya. Tanpa diminta dua kali, Seonghyeon melepaskan feromonnya secara maksimal.

​Aroma hutan pinus dan tanah basah langsung memenuhi ruang tamu yang hangat itu. Bagi Keonho, rasanya seperti seluruh ruangan ini berubah menjadi pelukan Seonghyeon.

​"Enak banget..." gumam Keonho, wajahnya terkubur di dada Seonghyeon. "Aku nggak pernah ngerasa seaman ini."

Seonghyeon mengusap tengkuk Keonho, jarinya sengaja berlama-lama di area kelenjar feromon. "Itu karena kamu emang aman sama aku. Di rumah, kamu gak perlu pura-pura jadi alpha galak."

​Keonho mendongak sedikit, menatap dagu Seonghyeon. "Aku tetep galak, tau!"

​Seonghyeon terkekeh, lalu menunduk, hidungnya bersentuhan dengan hidung Keonho. Di tengah suara hujan yang membungkus rumah itu, dunia terasa hanya milik mereka berdua.

​"Iya, galak banget sampe gemeteran gini," goda Seonghyeon. Dia perlahan mengecup dahi Keonho, lalu turun ke kelopak matanya, dan berakhir di pipi. "Tapi aku suka kok. Galak atau manja, kamu tetep Ahn Keonho yang bikin aku nggak bisa fokus baca buku di kelas."

Keonho terdiam, jantungnya meledak-ledak. Ia memberanikan diri melingkarkan lengannya di leher Seonghyeon, menarik alpha itu agar makin dekat.

​"Hyeon jangan balik dulu ya? tunggu hujannya bener-bener berenti." bisik Keonho.

​"Aku bakal di sini sampe kamu ketiduran, Keon." janji Seonghyeon sambil makin mengeratkan pelukannya, memastikan setiap jengkal tubuh Keonho tertutup oleh aromanya.