Actions

Work Header

when keonho doesn't listen

Summary:

keonho demam rewelnya minta ampun

Work Text:

keonho sudah 2 hari mengeluh kalau tubuhnya terasa lemas, hidungnya tersumbat dan tenggorokannya sakit, sesekali batuk kering juga terdengar.

 

jadi manager menyuruhnya untuk beristirahat di dorm supaya cepat pulih, tapi anak keras kepala itu akan membantah dan berkata ingin ikut latihan.

 

para kakak juga dibuat pusing kalau keonho sudah merengek dengan mata memohon sesekali menyedot ingusnya masuk, siapa yang bisa lepas dari mata cantik keonho begitu saja.

 

"aku mau ikut! mau ikut! mau ikut!" katanya, berdiri didepan pintu kamarnya dengan mata yang masih mengantuk, tidak lupa nasal strip yang terpasang di batang hidungnya, jejak hidung tersumbat semalam.

 

para kakak sudah siap berangkat, memang sengaja tidak membangunkan si adik supaya tidak ikut latihan, tapi sepertinya suara berisik grasak grusuk pagi ini membuat tidur keonho terusik.

 

jadi semua kegiatan para kakak terhenti diruang tengah, menatap keonho yang tengah merengut didepan pintu, om manager sudah menunggu dibawah untuk memanaskan mobil.

 

james bergerak pertama, mendekat kearah keonho yang merasa dihianati karna akan ditinggal.

 

"kalian mau ninggalin aku ya?" tanyanya murung.

 

james menggeleng, merangkul pundak sempit keonho dan membawanya masuk ke dalam kamar lagi.

 

"enggak dong adek, kan kamu lagi sakit, jadi hari ini istirahat dulu" jelas james lembut.

 

tapi tatapan keonho masih sama, masih tajam dan tidak bersahabat.

 

"mau ikut" suaranya mulai bergetar, sesekali menyedot ingusnya yang meler.

 

james memejamkan matanya sesaat, keonho memang sangat rewel kalau tengah sakit seperti ini, apalagi jauh dari orang tua, keonho butuh seseorang untuk menemaninya kapanpun saat butuh.

 

juhoon melangkah masuk kedalam kamar, menatap keonho dengan tenang, tangannya naik mengelus rambut yang paling muda.

 

"ganti baju dulu, habis itu ikut" kata juhoon kelewat tenang.

 

yang lain langsung menatap tidak setuju, tapi senyuman merekah dari bibir keonho, mengangguk mantap dan berlalu memilih baju yang akan dikenakan hari ini.

 

"juhoon?" suara martin menginterupsi.

 

"masih lemes gitu badannya loh kak" tambah seonghyeon.

 

jihoon menatap ketiga orang didepannya dengan santai, mengangkat pundaknya dengan pelan.

 

"kasihan kalau sendirian disini" katanya, dan memang betul kasihan kalau keonho ditinggal sendirian lagi, walau om manager akan kembali menemani di dorm setelah mengantar yang lain ke tempat latihan.


ditempat latihan, keonho sama sekali tidak dapat izin untuk ikut menari, tubuhnya masih terlihat lemas dan loyo, takut takut kepala si adik akan pusing setelah mencoba ikut menari.

 

jadi keonho hanya duduk di bangku yang ada di belakang ruang, memonitor tarian para kakak dan menjadi operator musik kali ini.

 

keonho tidak rewel hari ini, tidak membantah saat diberitau untuk duduk diam memperhatikan, dengan jaket tebal yang membalut tubuh mungilnya.

 

tapi para kakak juga merasa keonho terlalu diam, terlalu tenang dari biasanya, kemarin walau pileknya menyerang parah, anak itu masih kuat berlari menjahili martin dengan semangat, masih kuat melompat kecil untuk mengganggu martin yang lebih tinggi.

 

jadi saat istirahat latihan, martin duduk disamping keonho, menatap curiga pada pipi dan hidung keonho yang warnanya makin merah, dengan sedotan ingus dan batuk yang makin sering.

 

"tambah pusing nggak?" tanya martin sambil meneguk sebotol air putih, mengatur nafasnya yang terengah.

 

keonho menggeleng, tapi tubuhnya merapat kearah martin, menyandarkan kepalanya dengan lemas ke pundak yang lebih tua.

 

martin mengernyit, rasa curiganya makin membuncah, tangannya terangkat menyentuh kening keonho dengan lembut.

 

panas, panas sekali.

 

panik mulai menyerang martin, cowok itu buru buru memanggil seonghyeon yang masih mengatur nafasnya.

 

"hyeon, ini adek panas banget" 

 

diberitahu seperti itu seonghyeon jelas ikut panik, anak itu dengan cepat berlari keluar memanggil om manager.

 

sedangkan james dan jihoon bergerak mendekat kearah keonho yang sudah sepenuhnya masuk kedalam rengkuhan martin, tubuh anak itu sudah lemas bukan main.

 

"pusing kan kepalanya adek?" tanya james dengan helaan nafas setelahnya.

 

juhoon juga merasa keliru dengan menuruti kemauan keonho untuk ikut ke tempat latihan kali ini.

 

keonho tidak sanggup menjawab, matanya sudah terpejam karna suhu tubuhnya naik, mulutnya juga sudah meracau kecil dengan sesekali menggigil.

 

pintu terbuka, om manager dengan cepat masuk dan mendekat kearah mereka.

 

"kita kerumah sakit aja"


 

selesai pemeriksaan dan setelah habis satu IV drop, keonho boleh kembali ke dorm, dan kali ini jadi super rewel.

 

"aku mau dipeluk" 

 

"gendong"

 

"seonghyeon kamu abang bukan sih?"

 

"mau dipangku"

 

semuanya, jadi riweuh karna keonho yang rewel bukan main.

 

hari sudah malam, dan keonho harus minum obatnya sebelum tidur, dan tentu saja jadi tantangan paling berat bagi para kakak.

 

"keonho, ayolah satu sendok aja habis itu selesai" 

 

ah, seonghyeon sepertinya sudah sedikit capek dengan adik beda satu bulannya itu, masalahnya mereka sudah membujuk keonho setengah jam, dan anak itu masih bersembunyi di bawah selimut, dan menolak keras untuk minum obat.

 

obat keonho juga tablet yang sudah dihaluskan karna keonho tidak bisa menelan tablet obat dengan mudah, terakhir kali di coba keonho muntah dengan obat yang tidak tercerna.

 

"adek, come on it's not a big deal" panggil martin dengan nada yang sedikit jengah.

 

james berdiri disana, mencari ide untuk membuat keonho meminum obatnya, walaupun demamnya sudah turun, tapi badan keonho masih hangat.

 

juhoon sudah siap dengan sendok dengan obat yang sudah terlarut dengan air.

 

"sini" suara james pelan, meminta yang lain untuk bergerak mendekat.

 

"kita paksa, aku tarik selimutnya, martin tarik keonho terus tahan, seonhyeon paksa keonho buat buka mulut, juhoon langsung sendokin kalau keonho udah buka mulutnya" komando james.

 

yang lain mengangguk mantap, siap untuk melakukan tugas masing masing.

 

begitu james menarik selimut yang membungkus keonho dengan sekali sentakan, keonho kaget bukan main, makin kaget saat martin meraih pinggangnya, mengunci tubuh mungil keonho dalam pangkuannya.

 

"lepas! nggak mau minum obat! lepas!" protesnya.

 

keonho memberontak, tapi tenaganya memang tidak sebanding, apalagi keonho sedang sakit sekarang ini.

 

juhoon mendekat dengan sendok yang sudah siap, tapi melihat itu keonho jelas langsung tutup mulut.

 

seonghyeon dengan cepat bergerak menutup hidung keonho, menunggu anak itu kehabisan nafas dan membuka mulutnya, dan saat itu obat sudah masuk sempurna kedalam mulut keonho.

 

keonho menjerit, meraung meminta air untuk menetralisir rasa pahit yang menyebar di mulutnya.

 

wajahnya merah padam, air matanya menumpuk di ujung mata cantik itu.

 

martin mengendurkan pelukannya pada keonho.

 

"jahat!" 

 

keonho menangis, merasa dihianati semua kakaknya.

 

"kan biar cepet sembuh adek" kata martin, mengelus puncak kepala keonho yang sudah kembali terkulai di dadanya.

 

"tapi aku nggak mau minum obat, nanti juga sembuh sendiri" suaranya sesekali tertahan karna isakannya yang makin keras, tenggorokannya terasa teecekat karna tangisnya yang mendesak.

 

"iya sembuh sediri tapi lama, kalau minum obat kan cepet" juhoon menambahi.

 

tapi keonho malas mendengarkan, anak itu sibuk menangis.

 

martin menghela nafas, bergerak mengangkat tubuh keonho lagi, membaringkannya ditempat tidur.

 

"udahan ah nangisnya, coba sekarang bobo pasti besok udah sembuh" ucap james sambil menepuk paha keonho lembut.

 

"beneran?" tanya keonho polos, mata sayunya menatap dengan mata yang membulat.

 

"iya, besok pileknya hilang" balas seonghyeon.

 

malam itu keonho tidur nyaman dengan kecupan di dahinya, dekap hangat dari kakak kakaknya, dan tidak tidur sendirian, keonho dapat teman tidur empat orang!