Work Text:
Berkali-kali Keonho beri perhatian supaya Seonghyeon tak abaikan makanannya walaupun sedang banyak tugas kuliahnya. Seonghyeon terkadang bebal, jangan salahkan Keonho jika ia bilang Seonghyeon nakal. Keonho kelabakan diberi kabar jika sang teman hampir pingsan setelah selesai kelas pagi hari itu.
Ajakan ke klinik kampus ditolak Seonghyeon. Jadi Keonho hanya belikan temannya makan dan obat. Diajak pulang pun tak mau sebab masih ada kelas siang yang harus Seonghyeon hadiri. Harusnya Seonghyeon tahan mulutnya sendiri, harusnya ia tak balas apa-apa saat Keonho sedang ceramahi. Kepalanya pening dan bawelnya sang teman buat ia kepayahan tahan moodnya.
“Ngatur banget sih, gue tau limit badan sendiri kok.”
Pun makanan yang sedari tadi Keonho suapkan pada sang teman diletakan sembarangan di dashboard mobil. “Yaudah atur sendiri.” Bantingan pintu mobil kencang di telinga keduanya. Keonho bahkan tak menengok lagi begitu keluar dari mobil sang teman. Dan didiamkan Keonho tak pernah ada dalam angan. Pesan yang dikirim Seonghyeon tak dibalas, bertemu di kampus Keonho buang muka. Argh, Seonghyeon mau gila. Maka begitu malam ini ia dapat pesan ada Keonho menunggunya di depan rumahnya si manis itu buru-buru datang.
“Papi lu telfon. Gue suruh nemenin lu soalnya Bibi pulang kan?”
Keonho memang ada di depannya. Dekat, namun rasanya tetap berjarak.
“Kalau kepaksa gausah...”
Seonghyeon mundur satu langkah saat Keonho majukan wajah. “Ngomong lagi yang jelas.”
Mata Seonghyeon bergetar dengar ucapan sang teman. “Pintunya dikunci, gue mau lanjut nugas.” Lalu ada Seonghyeon yang abaikan tatap sang teman dengan bergegas masuk. Keonho sudah gunakan piyama dan Seonghyeon harusnya paham kalau lelaki itu datang jelas untuk menginap di rumahnya. Pintu kamarnya Seonghyeon biarkan terbuka namun sampai lima belas menit setelahnya tak ada Keonho yang menyusulnya. Tugas kuliahnya terabaikan dan Seonghyeon berdoa pagi lekas datang supaya rasa sesak di dadanya lekas hilang.
Terlalu larut dalam pikirannya sendiri Seonghyeon bahkan tak rasakan Keonho datang. Satu gelas susu hangat Keonho berikan pada sang teman. “Susunya diminum dulu, abis itu terserah mau tidur apa lanjut nugas.” Seonghyeon melirik jam dinding di kamarnya, oh. Sudah pukul sepuluh malam rupanya.
“Makasih.”
“Hmm.”
Si Aquarius pilih duduk di sofa yang ada di kamar temannya. Bisa ia lihat Seonghyeon matikan laptopnya dan bereskan kertas tugasnya. Keonho alihkan pandang dapati Seonghyeon meliriknya. Pilih sandarkan tubuh ke sofa sembari scroll ponsel sendiri.
Susu yang dibuatkan temannya diminum Seonghyeon setengahnya. Pilih hampiri Keonho dan sodorkan sisa susu dalam gelas pada temannya.“Nggak habis.” Ada raut jenaka di wajah temannya dan setelah beberapa hari pundak Seonghyeon lebih ringan terasa.
Jemari mereka bersentuhan saat Keonho terima gelas dari temannya. Susu yang ia buat sendiri ia habiskan sampai gelas tanpa isi. Senyum Seonghyeon merekah dapati Keonho habiskan susunya. “Gue sikat gigi dulu baru bobo.”
“Selimutnya ambil satu lagi.”
“Kan udah ada selimut?” Seonghyeon tunjuk selimut di atas ranjang.
“Gue tidur di sofa aja.”
Senyum Seonghyeon luntur seketika. Ternyata ia terlalu cepat ambil kesimpulan. Selimut ia ambil untuk diberikan pada sang teman sebelum pilih pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi. Pun Seonghyeon dapati Keonho sudah tidur di atas sofa membelakanginya begitu ia keluar dari dalam kamar mandi.
Hujannya deras, Seonghyeon menengok keluar jendela kamarnya untuk pandangi hujan yang jatuh basahi bumi. Lampu kamar ia matikan sebelum naik ke atas ranjang. Tidur miring menghadap punggung temannya dan helaan nafas panjang terdengar nyaring di dalam kamarnya.
“Maaf.”
Apa yang ingin Seonghyeon ucap tertelan di tenggorokan. Banyak yang ingin ia sampaikan tapi rasa hangat di pipi urungkan niatnya. Jemarinya usap air matanya yang turun tanpa aba-aba. Ikut punggungi sang teman sebelum tarik selimutnya sendiri. Seonghyeon gigit bibir bawahnya untuk redam isak yang mungkin lolos. Seonghyeon akan ingat supaya tak buat Keonho marah lagi. Mungkin harus ia coba besok pagi untuk minta maaf lebih baik lagi.
Yang tak disadari Seonghyeon adalah Keonho yang jelas belum lelap sama sekali. Lelaki itu balikan badannya dan rasa bersalah membuncah dalam dada dapati punggung temannya bergetar sebab tangisnya. Keonho lebih dari paham, ia hanya tak suka respon Seonghyeon yang seolah menyepelekan kekhawatirannya.
“Udahan nangisnya.”
Usapan di rambutnya buat Seonghyeon terlonjak kaget.
“Enggak nangis.”
“Sini lihat wajahnya kalau emang nggak nangis.”
Kamar Seonghyeon hanya diterangi lampu tidur yang pendarnya tak seberapa. Keonho memaki diri sendiri dalam hati lantaran Seonghyeon yang mendongak untuk menatapnya kelihatan cantik sekali. Cantik. Temannya menangis sebab perilakunya. Cara kerja dunia memang ada-ada saja, Keonho luluh lantak dapati bulu mata milik temannya basah sebab air mata. Keonho ikut naik keatas ranjang, masuk kedalam selimut dan dengan lembut balikan badan sang teman sebelum bawa Seonghyeon dalam peluk.
“Kalau nggak berhenti nangis gue tinggal pulang.”
Piyama Keonho diremat Seonghyeon, yang badannya lebih kecil gelengkan kepala sambil usak wajahnya di dada milik temannya. “Udah nggak nangis. Jangan pulang.” Punggung Seonghyeon diusap pelan-pelan, diberi nyaman sampai rasanya tenang.
“Dimarahin nggak papa tapi jangan didiemin. Nggak suka didiemin.”
“Makanya jangan bandel.”
“Kan udah sehat.”
“Seonghyeon.”
“Galak!”
Keonho kulum senyumnya, dongakan dagu temannya yang daritadi sembunyikan wajah di dadanya. Air mata temannya Keonho hapus tanpa sisa. Senyumnya teduh buat jantung Seonghyeon tiba-tiba gaduh. “Maaf udah bikin sedih sampai nangis.”
“Nggak apa-apa. Kan guenya salah.”
“Yaudah kita salah bareng-bareng.”
“Gajelas.”
Tawa Keonho menular. Peluk Keonho di pinggang Seonghyeon mengerat, makin bawa Seonghyeon hingga nihil jarak. Wajah Seonghyeon dikecupi hingga tawanya penuhi rungu Keonho. Hidung bangirnya Keonho usakan dengan milik sang teman sampai ia pun ikut tertawa atas perilakunya sendiri. Satu kata ringan yang terucap seperti tanpa beban buat Seonghyeon terdiam.
“Kangen.”
Katanya demikian. Seonghyeon niat hati sembunyikan lagi wajah di dada sang teman namun di tahan. Keonho mengusap pipinya sebelum rapihkan rambut Seonghyeon pelan-pelan.
“Salah sendiri ngediemin.”
“Iya gue yang salah.”
Lengan Seonghyeon dibawa Keonho supaya peluk lehernya. Pun tak lupa lontarkan tanya perihal nyaman atau enggak posisinya. Seonghyeon mengangguk saja. “Kangen juga.”
Seonghyeon yang lebih dulu dekatkan wajah, kecup bibir Keonho sekali dengan tatap yang manis sekali.
“Udah berani ya sekarang.”
“Ah jangan diledek.” Seonghyeon merengek.
Kalau yang begini Keonho mana bisa antisipasi. Bibir Seonghyeon dikecup lagi, berkali-kali sebelum dilumat dengan mata yang akhirnya terpejam erat. Bibir keduanya bertaut mesra, saling sesap bibir bawah dan atas bergantian dengan rasa hangat yang ikut muncul dalam dekap.
Obsidian keduanya bersirobok lagi saat tautan itu lepas juga.
“Bibirnya buka.”
Seonghyeon ikuti apa yang diperintahkan temannya. Buka bilah bibirnya dan Keonho dekatkan wajahnya lagi sembari julurkan lidahnya. Seonghyeon pening seketika saat Keonho jilat bibir atas dan bawahnya bergantian, pun remat Seonghyeon di piyama sang teman menguat saat bibir mereka bertaut lagi dengan lidah Keonho yang ikut ambil peran.
Suara kecapan terdengar disela derasnya hujan yang turun basahi bumi. Seonghyeon baru tau kalau ciuman bisa kaya gini. Bibir Keonho disesap Seonghyeon dengan lamat. Bilah bibirnya ia buka lagi, beri ijin Keonho mainkan lidahnya di dalam mulutnya. Keonho sesap lidah temannya sampai Seonghyeon terkesiap dibuatnya. Jemari Keonho menyusup kedalam piyama sang teman untuk usap punggung Seonghyeon tanpa terhalang apa-apa.
Dengan paksa Seonghyeon lepaskan ciuman keduanya.
“Boleh?”
Tak bisa Seonghyeon sangkal jika usapan Keonho di punggungnya nyaman terasa.
“Hmm, boleh.”
Ciuman mereka makin intens setelahnya, Keonho sesap bibir Seonghyeon makin nikmat saat rasakan rambutnya diremat. Makin disesap makin nikmat, Keonho sesap bibir bawah Seonghyeon lagi sebelum sudahi ciumannya sebab bisa ia rasa Seonghyeon kepayahan oleh ulahnya. Kening Seonghyeon jadi sasaran kecup Keonho, dikecup lama sampai rasanya Seonghyeon ingin menangis dibuatnya.
“Bobonya dipeluk kan?”
“Iya dipeluk.”
Seonghyeon makin masuk dalam peluk. Gunakan lengan sang teman sebagai bantal, Seonghyeon dongakan wajah untuk beri kecup di pipi Keonho. Ucapkan selamat malam pada sang teman sebelum masuk lagi dalam peluk. Hujannya deras tapi Seonghyeon rasakan hangat sebab dekap Keonho begitu erat. Kantuknya datang cepat apalagi belakang kepalanya diusap-usap. Harum tubuh temannya buai Seonghyeon makin jadi. Pun sebelum jatuh pada mimpi Seonghyeon bisa dengar ucapan temannya.
Ah tapi mungkin hanya ilusi.
“I love you Seonghyeon. I really do. Bobo yang nyenyak ya.”
