Actions

Work Header

playing with fire

Summary:

Siapa yang menyangka keinginan kecil Fang untuk minum susu hangat di malam hari berakhir dengan petaka yang tidak terduga?

Notes:

Pre-Gur'latan arc setting. Kaizo dan Kira'na berumur 15 tahun, dan Fang 5 tahun.

Work Text:

“Abang ….”

Kaizo mengangkat wajah dari bukunya dan mendapati Fang yang terseok-seok menghampiri dengan wajah mengantuk.

"Kenapa bangun?” tanya Kaizo. "Mau pipis?”

Fang menggeleng dan menguap lebar. "Mau minum.”

"Minum? Itu ada air—”

"Mau susu.” Fang kembali menguap dan mengucek-ngucek matanya. "Susu wortel.”

"Nggak ada susu wortel malam-malam begini, Pang,” Kaizo menghela napas. Ia ingat salah satu pelayan di dapur membuatkan jus wortel dengan campuran susu kemarin, dan Fang sangat menyukainya. "Besok aja, ya?”

"Mau susu,” Fang mencebik dan menatap Kaizo dengan sorot memelas. "Susu cokelat juga boleh.”

"Ya udah, coba Abang liat dulu apa ada susu di dapur,” kata Kaizo.

"Ikut!”

"Pang di sini aja, jangan—" 

"Mau ikut!” Fang merengek.

Kaizo tahu ia harus lebih tegas pada Fang dan tidak perlu menuruti semua kemauannya, tapi bagaimana mungkin ia bisa menang melawan sepasang mata bulat menggemaskan itu?

"Ya udah, ayo,” Kaizo akhirnya mengalah.

"Yeay!”

Kaizo memakaikan jaket pada Fang untuk menghalau udara dingin di luar sebelum menggandengnya ke dapur. Mereka baru berjalan sebentar, dan langkah Fang sudah mulai melambat.

"Abang, ngantuk …." 

Kaizo berdecak. “Abang ‘kan udah bilang jangan ikut." 

“Gendong." 

Fang merentangkan tangan penuh harap, dan Kaizo menggeleng.

“Kamu udah gede, Pang. Nggak boleh manja lagi." 

Mata Fang berkaca-kaca dengan bibir bergetar, siap menumpahkan tangis jika disambut penolakan. Sudah lewat tengah malam, dan semua orang sedang beristirahat. Kaizo tidak ingin sampai memancing keributan, maka mau tak mau ia membungkuk dan meraih Fang ke dalam gendongan.

“Ini terakhir kali, ya." Kaizo memperingatkan. “Lain kali, nggak ada minta gendong, atau minta susu tengah malam lagi. Kalau haus harus ambil minum sendiri, dan ke mana-mana harus jalan sendiri. Ngerti?”

Fang hanya mengangguk-angguk, terlalu nyaman meringkuk di gendongan Kaizo untuk peduli dengan omelannya.

Kaizo menghela napas. Ia membetulkan posisi Fang selagi berjalan. Semua donat dan makanan manis yang didapat Fang dengan membujuk para pelayan lewat wajah manisnya jelas berpengaruh besar pada berat badannya. Kaizo harus lebih sering mengajak Fang berolahraga setelah ini, mungkin dengan bersepeda atau berjalan-jalan di taman setiap pagi dan sore.

Kegiatan harian di dapur dimulai sebelum matahari terbit dan berakhir pada tengah malam, jadi sekarang seharusnya tidak ada siapa-siapa di sana. Atau begitulah yang dipikirkan Kaizo. Sebagian besar lampu sudah padam, tapi sebagian yang masih menyala cukup untuk menerangi area dapur yang luas. Rambut merah yang menyembul dari balik pintu kulkas yang terbuka jelas tak luput dari pandangan Kaizo.

“Kira?" 

Kira'na berteriak kaget dan menjatuhkan setumpuk bungkusan es krim dan camilan dari tangannya.

“Kai!" Kira'na sesaat tampak lega saat menyadari Kaizo dan Fang, sebelum matanya melotot jengkel. “Jangan bikin kaget kenapa, sih?" 

Kaizo mendengkus geli. “Lagian kamu ngapain tengah malam gini grasak-grusuk di dapur kayak tikus? Bukannya kemarin bilang mau diet?" 

“Aku memang mau diet." Kira'na menyipitkan mata sambil memungut camilannya. "Ini buat teman belajar.”

Kaizo mengangkat alis. "Itu termasuk diet?" 

“Iyalah. Kalau makan sambil belajar, kalorinya langsung terbakar karena sambil mikir," Kira'na menerangkan penuh percaya diri.

“Ya kali," cibir Kaizo.

“Bener, tau! Aku—" 

“Pang mau es krim juga!" 

Kaizo pikir Fang sudah tidur lagi, tapi teriakan Kira'na pasti sudah membangunkannya.

“Nggak boleh makan es krim malam-malam," ucap Kaizo galak. “Tadi minta susu, ‘kan?" 

Fang cemberut. Matanya menatap penuh damba bungkusan es krim dalam pelukan Kira'na.

“Kira'na ….”

"Besok aja kita makan es krim sama-sama, ya.” Kira'na mengacak rambut Fang gemas. "Kita minta bikin es krim wortel sekalian, gimana?”

"Mau, mau!”

"Oke,” Kira'na tersenyum. "Pang mau susu? Biar aku ambilin, ya.”

"Makasih!”

Kira'na menyingkirkan tumpukan camilannya sejenak dan menuang segelas susu cokelat untuk Fang.

"Ini, susu cokelat untuk anak manis!” 

Kaizo mendudukkan Fang di kursi agar bisa meminum susunya, tapi Fang hanya memegangi gelasnya sejenak sebelum mengulurkannya pada Kaizo.

“Kenapa?" Kaizo mengerutkan dahi. “Nggak jadi minum susu?" 

“Dingin." 

“Susunya dingin?" 

Fang mengangguk-angguk dan bergidik. “Dingin." 

"Bener juga. Malam-malam enaknya minum susu hangat,” kata Kira'na.

Kaizo dan Kira'na saling berpandangan sejenak.

"Gimana cara bikin susunya jadi hangat …?" 

Kaizo tahu itu pertanyaan bodoh. Jawabannya sudah jelas, susunya harus dipanaskan lebih dulu. Masalahnya sekarang, tidak ada di antara mereka yang tahu cara memanaskan susu.

“Mungkin bisa dipanasin di microwave?" usul Kira'na ragu-ragu.

“Kamu tau cara pakainya?" 

“Tinggal masukin aja susunya, ‘kan?" 

“Oke." 

Kaizo berjalan ke arah microwave di seberang kulkas dan meletakkan gelas susu Fang di dalamnya. Kira'na berdiri di sebelahnya, dan sejenak mereka hanya diam memandangi gelas susu yang bergeming di balik tutup microwave.

“Ini bisa panas otomatis atau harus pencet sesuatu?" tanya Kaizo bingung.

“Entah." 

Kaizo memandangi deretan tombol di samping tutup kaca. Yang mana yang harus dipencet? Kenapa ada tombol angkanya segala? Apa ada sandi yang harus ditekan untuk menyalakannya?

Kaizo membuka kembali tutup microwave dan meraih gelas di dalamnya, masih dingin.

“Ternyata nggak otomatis, ya," gumam Kira'na. “Ah, apa kita coba panasin di kompor aja?" 

Kaizo menatap Kira'na seolah gadis itu baru saja mengusulkan untuk mengebom istana Gur'latan. Usulannya memang terdengar seperti itu.

“Kita nggak tau cara nyalain kompor." 

“Ah, apa susahnya, sih?" 

Kira'na mengibaskan tangan santai dan berjalan ke area kompor. Ada banyak jenis kompor di dapur ini, dan Kaizo sama sekali tidak tahu apa perbedaannya dan bagaimana cara menggunakan salah satu di antara mereka, dan ia tahu persis Kira'na juga sama.

“Mana gelas susunya?" Kira'na mengulurkan tangan pada Kaizo, yang menyerahkan gelas susu Fang dengan sangsi. "Nah, pertama kita taruh gelasnya di atas kompor.”

Kaizo tahu ini ide yang sangat buruk. Ia tidak tahu apa-apa tentang memasak dan kegiatan apapun di dapur, tapi Kaizo yakin meletakkan gelas kaca di atas kompor yang bisa menyalakan api kapan saja bukan ide bagus.

“Terus, kita nyalain kompornya!" 

“Kira, hati-hati—”

Peringatan Kaizo teredam oleh suara ledakan yang terdengar segera setelah Kira'na memutar kenop di bagian depan kompor. 

Kira'na memekik kaget dan Kaizo mengumpat pelan. Susu muncrat ke mana-mana dari gelas kaca yang pecah berhamburan. Kaizo menarik Kira'na untuk tiarap dan berlindung dari serpihan kaca. Ia kemudian cepat-cepat menoleh pada Fang yang masih duduk di kursi yang cukup jauh dari mereka. Wajahnya tampak syok, tapi syukurlah dia berada di luar jangkauan hamburan pecahan kaca.

"Kamu nggak apa-apa?” Kaizo beralih mengecek keadaan Kira'na. "Aku udah bilang hati-hati—" 

“Apinya!" Kira'na berseru panik.

“Api apa—”

Kaizo membelalak melihat api yang menyala di atas kompor. Ia yakin itu bukan ukuran normal api yang biasa digunakan untuk memasak. Bagaimana jika api itu sampai menyebar?

Kaizo melepaskan sweaternya, meninggalkan kaus tanpa lengan yang dipakai di baliknya, dan dengan panik berusaha memadamkan api. Tidak berhasil, tentu saja, justru api dengan cepat mulai melahap sweaternya.

"Idiot! Ngapain matiin api pakai sweater? Kamu nggak pernah sekolah?” semprot Kira'na.

"Biasanya ‘kan bisa padamin pakai kain!” balas Kaizo sewot. 

"Itu kain basah! Lagian bukan gitu cara—APINYA MAKIN BESAR!”

Fang menangis ketakutan, dan Kaizo dengan panik berlari mencari air.

"Air, air, cepat!” Kira'na berseru, ikut berlarian mencari sumber air. “Di mana airnya?!" 

Asap mulai memenuhi dapur, dan alarm peringatan menyala keras sebelum air menyemprot dari segala sisi di plafon.

“Abang!" 

Kaizo berlari menghampiri Fang yang gemetar ketakutan. Kira'na masih menjerit-jerit dan melempar semua botol air yang ditemukannya di kulkas ke arah sumber api yang masih menyala.

“Kira!" Kaizo berteriak memanggil. "Kira, ayo keluar—" 

Kira'na terpeleset genangan air di lantai dan terpelanting jatuh dengan keras. Kaizo dengan panik menghampiri sambil menggendong Fang yang menangis semakin keras.

“Kira, kamu nggak—”

"Kita bakal mati di sini, Kai,” Kira'na berujar dramatis, matanya berkaca-kaca di wajahnya yang tercoreng abu. "Meski singkat, pertemuan kita berarti banget buat aku. Aku senang bisa temenan sama kamu.”

"Apa, sih,” Kaizo berdecak jengkel. "Kita nggak bakal mati di sini. Alarm-nya pasti—" 

Kaizo tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena saat itu penjaga berhamburan masuk. Beberapa membawa tabung alat pemadam api dan dengan sigap berusaha memadamkan api yang masih berusaha melawan semburan air dari sensor alarm. Penjaga yang lain menghampiri Kira'na, Kaizo, dan Fang.

"Tuan Putri, anda nggak apa-apa?”

"Pinggang aku sakit,” Kira'na mengerang.

Pesan disebarkan lewat alat komunikasi, dan Kira'na segera diangkut dengan brankar, dan Kaizo juga Fang ikut diseret ke ruang kesehatan meninggalkan dapur yang kacau balau, dan susu hangat yang tak pernah sempat diminum.

.

.

.

“Kalian tau apa yang udah kalian lakuin?" 

Kaizo dan Kira'na menunduk takut di hadapan Kul'dar yang jelas-jelas murka. Mereka tidak berani membuka suara, bahkan Kira'na yang biasanya bisa dengan santai membantah omelan ayahnya kini hanya membisu.

“Kalian bukan cuma membahayakan diri sendiri, tapi juga seisi istana dan semua orang di dalamnya, kalian ngerti nggak?!" 

Kaizo berjengit mendengar nada tinggi Kul'dar. Ia tidak pernah melihat Sang Jenderal Gur'latan itu semarah ini. Ia tahu Kul'dar adalah Jenderal dari pasukan yang paling disegani di seantero galaksi, tapi tak pernah harus menghadapi langsung kemarahannya seperti ini. Apa Kaizo akan dieksekusi karena nyaris membumihanguskan seisi istana? Atau lebih buruk, apa ia dan Fang akan diusir dari sini?

"Kira yang salah, ayah,” Kira'na mencicit ketakutan. “Kira yang sembarangan nyalain kompor padahal Kaizo udah bilang jangan." 

“Bukan salah kamu," Kaizo langsung membantah. “Kalau aja aku bisa bujuk Pang buat minum susu dingin, semuanya nggak bakal kayak gini." 

“Jangan bodoh. Mana mungkin kamu tega nyuruh Pang minum susu dingin malam-malam? Dia bisa sakit." 

“Itu cuma susu. Nggak ada bedanya mau diminum dingin atau hangat." 

“Jelas beda, lah! Aku—”

"Cukup.”

Keduanya kembali mengatupkan mulut rapat-rapat di bawah hujaman tatapan mata Kul'dar.

"Kalian berdua dilarang dekat-dekat dapur lagi mulai sekarang.”

"Apa?” Kira'na mengangkat wajah untuk memprotes. "Kalau nggak boleh ke dapur terus gimana mau ngambil makanan kalau lapar?”

“Makanan selalu disiapkan tepat waktu di ruang makan tiga kali sehari, dan camilan selalu disediain di ruang tengah setiap pagi dan sore. Selain itu, nggak ada jatah makan lagi buat kalian.”

"Kalau Kira pengen ngemil malam-malam buat nemenin belajar gimana?” Kira'na masih tidak terima.

"Nggak ada ngemil setelah makan malam. Itu nggak bagus buat kesehatan.”

"Tapi, ayah—”

"Kamu mau jatah camilan dihapus sekalian semuanya?”

"Nggak, jangan!” Kira'na menggeleng ngeri. "Jangan dihapus! Pagi sama sore aja udah cukup buat ngemil, kok!”

"Bagus.”

Kul'dar sekali lagi menatap Kaizo dan Kira'na.

"Jatah latihan kalian ditambah jadi lima kali seminggu,” tukasnya. Ia melotot tajam pada Kira'na yang hendak memprotes, yang langsung membungkam kembali mulutnya. "Dan nggak ada jatah main keluar setiap akhir pekan.”

"Ayah!” Kira'na merengek tak senang. "Nanti Kira bisa botak karena stres kalau disuruh latihan terus dan nggak bisa main!" 

“Biar aja botak sekalian," Kul'dar mendelik. “Kamu beruntung masih hidup setelah hampir nyelakain diri sendiri kayak gitu." 

Kira'na mencebik kesal. 

Kaizo masih menunduk, tak berani bicara sepatah kata pun. Rasa bersalah masih menggelayuti pundaknya, tapi Kaizo bersyukur setidaknya ia dan Fang tidak diusir dari sini.

“Luka kamu udah nggak apa-apa, Kaizo?" 

“Eh." 

Kaizo mendongak dan menyadari Kul'dar tengah menatapnya. Mungkin hanya perasaannya, tapi ada sorot khawatir di sana. Kaizo dengan kikuk menggaruk plester di pipinya yang menutupi luka torehan serpihan gelas kaca yang pecah. 

“Nggak apa-apa. Ini cuma luka kecil." 

“Baguslah." 

“Pinggang Kira masih sakit, ayah," Kira'na merengek. “Tadi jatuhnya keras banget! Ayah nggak kasian liat anak kesayangan ayah ini? Jangan dikasih hukuman dong lagi sakit gini." 

“Kalau sakit kamu di kamar aja jangan ke mana-mana. Awas kalau nanti ayah lihat kamu berkeliaran di luar." 

“Masa’ harus di kamar terus, sih? Yang ada bosan—" 

“Udah, mending sekarang kalian balik ke kamar dan tidur," Kul'dar menukas. “Istirahat, dan jangan coba-coba berkeliaran lagi tanpa izin." 

Kaizo mengangguk patuh, sementara Kira'na menggerutu kesal. Ia lebih dulu beranjak dan menghentak langkah keluar dari ruang kesehatan.

Kaizo melirik Kul'dar dan membungkuk dengan canggung sebelum berpamitan. Matanya mencari-cari ke sekeliling dan menemukan Fang yang sudah terlelap di salah satu ranjang pasien di sana.

“Dia udah diperiksa juga tadi dan nggak kenapa-napa," Kul'dar menjawab pertanyaan yang tidak bisa diutarakan Kaizo. “Susu hangat udah diantar ke kamar kalian, jadi lebih baik kamu cepat bawa Fang balik ke sana. Kalau ada yang sakit lagi, langsung balik ke sini dan minta diperiksa dokter." 

“I-iya," Kaizo mengangguk gugup. “Makasih, Paman Kul'dar." 

Kul'dar mengangguk, dan memberinya isyarat untuk pergi. Kaizo kemudian bergegas menggendong Fang dan membawanya kembali ke kamar. 

Ini malam yang panjang dan penuh kekacauan, tapi mungkin segelas susu hangat bisa membantu Kaizo istirahat sejenak dan melupakan sejenak tragedi konyol ini.

 

Series this work belongs to: