Work Text:
Pagi itu suasana di biro kepolisian semi sibuk. Kasus besar baru selesai beberapa Minggu. Ducheng—kapten tim divisi kriminal—tengah mengecek beberapa dokumen terkait yang mungkin bisa dibuka kembali.
Tak lama pintu kantornya di ketuk. Ducheng tanpa menoleh memberi kan izin untuk masuk.
"Permisi saya dari institut seni Beijing, ingin mengambil beberapa lukisan saya yang di jadikan barang bukti untuk kasus seniman pembunuh beberapa hari lalu"
Tangan Ducheng berhenti. Dia tau suara itu. Dia mengenalnya. Kepalanya menoleh dan mendapati sosok pria yang tidak asing di depannya, tengah berdiri menenteng tas samping.
Pria itu tidak bereaksi apapun, tubuhnya tegak seolah tidak terpengaruh apapun. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Oh..ya... Itu..." Ducheng berdiri dengan gugup dan melirik ke sana kemari mencoba mencari sesuatu atau berusaha menurunkan kegugupannya.
"Dimana saya harus mengambilnya?" Pria itu bertanya lagi kali ini seperti ada keburu-buruan di nada bicaranya.
Ducheng kemudian menghela nafasnya dan mendekati pria itu, lalu mengulurkan tangannya
"Apa kabarmu, Shenyi?"
ShenYi melirik tangan Ducheng, seperti tidak berniat membalas. Sebelum Ducheng sempat menarik lagi, tangan Shenyi terulur dan menerima salamnya. Ducheng cukup senang dengan itu.
Tapi Shenyi tak membalas apapun soal pertanyaan Ducheng.
"Lukisanku" ujarnya sambil menarik tangannya lagi.
"Oh, ya ada di ruang barang bukti. Apa ada-"
Shenyi menyerahkan selembar surat dari pengadilan, keputusan resmi pengembalian barang.
Ducheng mengambil suratnya dan membacanya—dengan tak peduli—dan mengangguk
"Ayo ikut aku"
Ducheng berjalan duluan disusul Shenyi di belakangnya, menyusuri lorong-lorong kantor biro hingga sampai di depan sebuah ruangan. Ducheng membuka pintunya. Ruangan sepi dan temaram, lembab. Membuat hati Shenyi tak enak sebab lingkungan seperti ini sangat buruk untuk sebuah lukisan.
Ducheng menyadari perubahan suasana di hati Shenyi. ShenYi mengulurkan tangannya hendak menyentuh sebuah rak namun tangannya di tahan oleh Ducheng.
ShenYi mendongak menatap Ducheng menanyakan perbuatannya dengan matanya.
"Pakai ini" Ducheng paham dan menunjukkan sarung tangan ke ShenYi. Alis Shenyi menukik tajam dan merampas sarung tangan dari tangan Ducheng.
"Tidak usah pegang" ShenYi menarik tangannya dari genggaman Ducheng dan memakai sarung tangannya.
Ducheng terkekeh tanpa suara dan menggelengkan kepalanya.
ShenYi berjalan di depan Ducheng mencari lukisannya. Ducheng tidak berniat membantu, dia hanya menatap kepala ShenYi dari belakang, rambutnya terlihat rapi dan empuk. Ia ingin sekali memegangnya, seperti dulu...
Langkah Shenyi berhenti dengan tiba-tiba membuat Ducheng terkejut dan tubuhnya menabrak pria di depannya.
ShenYi hanya diam tapi tubuhnya menunjukkan bahwa ia menahan kesalnya
"Maaf" ucap Ducheng pelan
"Apa kau tidak akan membantu?"
"Huh?"
ShenYi membalik badannya, matanya melirik Ducheng dengan kesal.
'wajah kesalnya benar-benar tidak berubah'
Tentu saja, semuanya baru terjadi 3 tahun lalu
3 tahun lalu, ShenYi dan Ducheng berkenalan di sebuah acara seminar tentang seni dan kriminalitas. Intinya pembicaraan yang menggabungkan dua lingkup yang berbeda.
Perkenalan yang singkat itu sempat memiliki ketidakpastian selama 2 bulan. Tak bertemu, tak ada kontak. Seolah pertemuan dan perbincangan intens di kamar mandi hotel mewah ibukota itu adalah sekedar narasi yang salah catat di draft penulis.
Namun takdir menjalankan tugasnya lagi 2 bulan kemudian. Saat itu festival bunga mekar di alun-alun kota mempertemukan keduanya lagi. Magnolia yang bersemi harum mewarnai pertemuan itu.
Singkatnya mereka menjalin hubungan.
3 tahun beradu mesra, melepas lelah dengan berleha-leha memeluk raga satu sama lainnya. Ducheng mendengar ShenYi bercerita. Ducheng mengomel tentang kasus-kasusnya, ShenYi tersenyum menorehkan warna-warna pada kanvasnya.
Api cinta yang membara itu tak cukup hanya sekedar perasaan... dan sampai Ducheng hampir mati.
Kebakaran hebat pada bangunan yang mereka tinggali. Lilin penerang yang tak beralas menjadi bencana.
ShenYi takut. Rasanya apa yang ia khawatirkan menjadi kenyataan. Dia teringat dengan apa yang ia katakan pada Ducheng di kamar mandi mewah hotel yang sepi itu.
"Mungkin karena cinta yang aku miliki selalu berakhir buruk. Aku tidak berani untuk sekedar menaruh rasa lagi... Orpheus..."
Tapi Ducheng tidak paham seni ditambah saat mengatakan itu ShenYi terlihat sangat sedih. Dia pejuang, dan pejuang akan selalu melakukan apapun untuk tujuannya. Pejuang yang terhormat tentunya.
Dan api sore itu merobek lagi lubang yang hampir menutup di hati Shenyi.
Ducheng koma selama beberapa bulan. Dan ShenYi menghilang. Entah bagaimana caranya ia selalu bisa menghindari Ducheng.
"Kau benar-benar sudah dijauhkan darinya kawan. Lihatlah kau seorang kapten dari divisi kriminal dan kau bahkan tak bisa bertemu dengannya lagi? Ini sudah hampir 3 tahun. Aku sarankan untuk menyerah" ujar teman sekantornya.
Namun tidak. Ia pejuang, ingat?
Dan cahaya harapan yang terang muncul di depannya saat di TKP ia melihat lukisan yang mirip dengan milik ShenYi. Dia dengan berhati-hati membawanya saat itu.
Lalu saat yang ia tunggu tiba. Shenyi sekarang di depannya.
Ducheng melepas sarung tangannya dan mengulurkannya menyentuh wajah dingin ShenYi.
Pria ini kehilangan hangatnya entah sudah sejak kapan.
ShenYi tak bergeming, dia tak mau menolak . Tapi dia juga ragu tuk menerima. Bingung dan dia menangis. Saat tangisannya berubah pilu, Ducheng menariknya ke pelukannya.
Pintu ruang barang bukti terbuka, beberapa anggota melongok. Mendapati kaptennya tengah memeluk seorang pria, mereka pun menutup kembali pintu itu lalu diam-diam pergi enggan mengganggu.
Pertahanan Shenyi runtuh. Dia tau ini akan terjadi, tapi tak menyangka dia akan menangis. Salahkan hati melankolis dan rindu mendalam untuk kasihnya.
"Ducheng"
"Hmmm, aku juga merindukanmu"
Ducheng paham apa yang Shenyi rasakan dan khawatirkan. Tapi jika tak bertemu dengan ShenYi justru lebih buruk dari ditimpa kemalangan berkali-kali, ia memilih untuk menahan apapun kecuali yang satu itu.
Kecuali melepaskan jantung hatinya lagi.
"Lukisannya aman. Kita buka lagi kertasnya, taruh di atas kanvas, kali ini aku akan melukis bersamamu. Kali ini aku yang akan menaruh lilin di tatakannya. Biar lilin-nya habis tanpa apinya membakar."
DuShen. 2026.
