Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of Wajar, Namanya Juga Masih Remaja
Stats:
Published:
2026-01-31
Words:
3,376
Chapters:
1/1
Comments:
12
Kudos:
76
Bookmarks:
4
Hits:
1,087

Binar Wajah Sebaya

Summary:

RUNDOWN PLAYDATE SEONGHYEON CANTIK DAN KEONHO
1. Seonghyeon jemput Keonho ke rumah (janji Keonho sudah rapi wangi siap berangkat)
2. Caw menuju Prawiro dan parkir di depan Till drop
3. Jalan kaki sampai jalan magelang (gila kau Keonho)

Cepat - cepat sebelum kelinci putih pembawa waktu itu datangi kita !

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Keonho suka waktu jemari seonghyeon berjalan diatas tangannya. Meraba tangannya, meneliti tiap garisnya. Keonho suka sensasi jemari seonghyeon memijat ruas jemarinya, menekan tiap sisinya, menyelimuti tangannya dengan kehangatan. Memijat belakang tangannya, membuat gerakan memutar. Kadang, Seonghyeon melakukannya langsung di kedua tangan Keonho. Di akhir, Seonghyeon akan mendekatkan kedua tangan Keonho mendekati wajahnya, dan menciumnya. Kadang Seonghyeon juga menggunakan tangan Keonho untuk menangkup wajahnya sendiri.

 

Seonghyeon suka jalan kaki. Baru baru ini Keonho menyadarinya. Meskipun Keonho selalu gas setiap Seonghyeon mengajaknya jalan kaki, tetapi baru terlintas dibenak Keonho kalau Seonghyeon cinta jalan kaki. Jalan - jalan. Seonghyeon suka mengajaknya mampir Prawirotaman, memarkirkan motor di indomaret sembarang, lalu berjalan mengitari Prawirotaman jauh sampai ke tempat yang Keonho tidak pernah lewati.

 

Hari ini hujan deras sekali. Kilat dan gemuruh beradu, angin bertiup sangat kencang. Seonghyeon melongo. Jogja memang gila. Seharian panas kering dan gerah, tiba tiba turun hujan deras. Habislah rencana jalan – jalannya dengan Keonho hari ini. Seonghyeon barusan banget sampai di rumah Keonho, mengemper dibawah atap pagarnya yang hanya secuil itu sambil menahan tubuhnya supaya tidak terseret angin. Gila, anginnya kencang sekali hari ini. Kemana sih ini Keonho? Padahal Seonghyeon sudah mengabari kalau ia sudah didepan tapi kok tidak dibukakan juga pintunya. Apa jangan jangan dia tidur?

 

Seonghyeon

Keonho bukain pintu aku didepan

Keonho cepet ini hujan angin serem banget

Woi anjeng

 

Seonghyeon mengernyit, tidur betulan kah orang ini? Sebal, akhirnya Seonghyeon memencet tombol dial untuk menelfon Keonho. Ketika tersambung, suara serak dan tidak ikhlas khas Keonho baru bangun tidur terdengar,

“ha?”

Seonghyeon berdecak, “ih keonho aku loh udah disini dari tadi. Kamu tidur ya? Cepet bukain pintunya ini hujan gila banget aku takut,”

Terdengar suara kain bergesek disana, terdengar kedabikan, “oiyah iyah sebentar oke aku turun, oke tunggu,”

Lalu telefon dimatikan. Seonghyeon memasukkan handphonenya ke kantong dan memeluk dirinya sendiri erat. Menutup mata sambil berkomat kamit sebab angin makin kencang dan air hujan sudah mulai membelai wajahnya. Dibelakangnya, Keonho grasa grusu membuka pintu garasi dan berlari membuka pintu pagar (yang sebenarnya tidak dikunci). Keonho menarik lengan Seonghyeon masuk kedalam dan mendorong masuk motor Seonghyeon, memarkirkannya rapi disebelah mobil keluarganya.

Keonho menatap Seonghyeon cemas, tangannya naik turun meraba Seonghyeon, memastikan Seonghyeon tidak basah kuyup kena hujan. Duh, Keonho jadi setengah merasa bersalah karena ketiduran, nih. Keonho menyingkap poni yang menempel di dahi Seonghyeon, mengusap air hujan dari wajahnya, kedua tangannya menangkup pipi Seonghyeon. Meleleh, Seonghyeon bersandar pada kehangatan telapak tangan Keonho. Hidung Seonghyeon sampai memerah saking dinginnya.

“kamu nih gimana sih, kan aku udah bilang otewe jangan ketiduran ih .. kamu pasti belom mandi ya?” Tangan Seonghyeon menangkup tangan Keonho yang singgah di pipinya, meremasnya kencang sampai Keonho meringis sedikit. Seonghyeon masih lanjut ngomel-ngomel karena Keonho ketiduran, belom mandi, belom siap, masih kucel dan gembel dan bau dan dekil, belum makan (padahal setelah ini mereka mau makan), dan lama sekali bukain Seonghyeon pintu. Gemuruh dan petir yang masih sahut sahutan semakin mendramatisir omelan Seonghyeon.

Keonho menarik Seonghyeon masuk kedalam dengan menyeret wajahnya. Seonghyeon, masih mengomel, terpaksa ikut melangkah masuk. Keonho menutup pintu kayu garasi dengan kakinya. Garasi rumah Keonho itu gelap, lampunya jarang dinyalakan dan jaraknya cukup jauh untuk menuju pintu masuk rumah. Seonghyeon masih manyun, meskipun sudah tidak mengomel lagi. Keonho melirik kebelakang, memastikan situasi kondisi aman tanpa gangguan.

Keonho menatap Seonghyeon tepat di mata, tangannya berpindah melingkar di pinggang Seonghyeon, menariknya mendekat. Nafas hangat Keonho menyapu wajah Seonghyeon. Mereka masih beradu pandang, beradu nafas. Bibir Seonghyeon bergetar, merinding merayapinya sampai ke tulang belakang. Tangannya terkunci di samping tubuhnya, tidak sanggup bergerak.

Perlahan, Keonho raih tangan Seonghyeon, menuntunnya kearah leher, mengarahkan Seonghyeon untuk melingkarkan tangan di leher Keonho. Setelah tangan Seonghyeon duduk nyaman diantara bahu dan leher Keonho, tangan Keonho kembali meraih pinggang Seonghyeon, menariknya semakin erat. Keonho tersenyum jenaka, meniup hidung Seonghyeon yang memerah.

Darah berdesir masuk kedalam jantung Seonghyeon, membuatnya berdebar kencang. Orang gila, batinnya.

Keonho menyamankan wajahnya diantara leher dan bahu Seonghyeon. Menghirup wangi laut parfum Seonghyeon yang bercampur dengan air hujan, lembab. Nafas hangat Keonho yang bersentuhan langsung dengan kulitnya membuat Seongnyeon semakin bergetar dan merinding sampai ke tulang belakang. Seonghyeon mengeratkan pelukannya di leher Keonho.

Keonho meraba punggungnya. Seonghyeon merasakan gesekan tangan Keonho dan punggungnya yang hanya dibatasi dengan kaos band tipisnya itu. Tiap sentuhan Keonho terasa panas. Keonho cium lehernya. Seonghyeon semakin bergetar, sebuah desahan tak sengaja kabur dari bibirnya.

Menarik kepalanya menjauh, Keonho menempelkan dahinya dengan dahi Seonghyeon. Sebadan badan Seonghyeon sudah panas sekarang. Wajahnya memerah, nafasnya patah patah.

“masih kedinginan, nggak?”

Seonghyeon menggigit bibirnya, “ng… nggak,”

 

Keonho tersenyum puas, bangga dengan dirinya sendiri. Melonggarkan pelukan, tangan Keonho kini pindah merangkul bahu Seonghyeon. Menuntunnya masuk kedalam rumah, “yuk, masuk,”

“kita nggak jadi jalan jalan?” Seonghyeon bertanya sambil melepas sepatunya asal. Keonho nampak berfikir (yang terlihat satir),

“hujan deres gini, kamu masih tetep mau ngotot jalan?”

Seonghyeon melangkah masuk kedalam rumah Keonho setelah akhirnya berhasil melepas sepatunya dan melemparnya ke lantai, “maksud aku sih, kalau udah selesai hujannya… kata aku habis ini berhenti hujannya,”

Seonghyeon membututi Keonho menuju kamarnya di lantai 2. Rumah Keonho besar, ada halaman besar di belakang rumahnya, didalam halaman itu ada kolam ikan besar yang ada jembatannya. Rumputnya hijau dan terawat. Ditengah atap rumah menempel chandelier besar yang menggantung indah kebawah. Ketika naik tangga, Seonghyeon bisa menyentuh chandelier itu kalau nekat. Sambil naik tangga, Keonho menatap langit diluar skeptis,

“yakin kah dia berhenti bentar lagi? Lihat tuh di utara, gelap banget,”

Sampailah mereka didepan pintu kamar Keonho. Seonghyeon melirik ke jendela yang menghadap kearah utara. Memang gelap sekali sih. Keonho mendorong pintu dan menahannya, mempersilahkan Seonghyeon masuk. Sambil berbisik permisi, Seonghyeon berjalan masuk. Langsung disuguhkan kasur Keonho yang besar, empuk, dan terlihat nikmat untuk ditiduri. Tapi Seonghyeon sadar diri, ia baru dari luar, dan kehujanan. Bajunya kotor. Meskipun Keonho jarang mandi dan gaya hidupnya agak … questionable, tapi Seonghyeon menghormati kalau kalau Keonho tidak berkenan baju luar menempel di kasur bersih.

Mata Seonghyeon mengikuti gerak Keonho yang langsung melompat tidur keatas kasurnya. Keonho menatap Seonghyeon, tangannya menepuk nepuk spot disebelahnya, mengisyaratkan Seonghyeon untuk lompat dan menyamankan diri di sebelahnya. Seonghyeon mendekat ragu ragu,

“tapi bajuku kotor kena hujan,”

Keonho mengerang meraih lengan Seonghyeon, menariknya paksa, “udah gapapa, santai aja. Kaya sama siapa aja, sih”

 

Oke, baik. Seonghyeon menyamankan diri disebelah Keonho yang sudah mengeluarkan handphonenya dan membuka tiktok. Tatapan Seonghyeon mengikuti gerak tangan Keonho menggulir layar,

“jadi kita dirumah aja?”

“hmm…,” Mata Keonho tidak lepas dari layarnya, “ya nanti kalau udah berhenti hujannya kita jalan,”

Keonho tiba tiba mematikan handphonenya dan langsung memeluk Seonghyeon, menekannya di dada Seonghyeon. Kencang sekali jantung Keonho berdebar. Seonghyeon kaget, tapi karena wajahnya tertekan di dada Keonho, racauan Seonghyeon makin tidak terdengar jelas,

“mumpung masih hujan, kita manfaatkan waktu buat kelonan aja. Kan, paling mantap memang kelonan waktu hujan,” Keonho melonggarkan pelukannya sedikit, membiarkan Seonghyeon menghirup yang lain selain wangi khas bangun tidurnya itu. Tangan Seonghyeon menepuk pantat Keonho,

“kamunya aja belom mandi, main gas – gas aja,”

 

Keonho menempelkan telunjuknya di bibir Seonghyeon, menyuruhnya diam, “ssut.. mandi itu perkara mudah, baby,

Seonghyeon merinding ilfeel. Menggelikan. Seonghyeon bangkit dari tidurnya, duduk memelototi Keonho yang masih asik tiduran nyaman diatas kasur. Seonghyeon menggoyang tubuh Keonho, memaksannya mandi,

“mandi gih cepet. Biar pas ujannya selesai bisa langsung caw kita, ih,”

Keonho mengerang malas, membalik tubuhnya dan menggeliat, “hngg … mau dipijitin mukanya,” membanting tubuhnya kembali menghadap Seonghyeon, matanya mengerling nakal kepada Seonghyeon, berkedip manja,

“pijitin dulu dong, nanti baru aku mandi,”

 

Seonghyeon menghela nafas berat dan panjang, menggeser tubuhnya untuk bersandar nyaman pada dipan kasur, Keonho langsung mengangkat kepala dan memposisikannya diatas paha Seonghyeon. Kepala Keonho bergerak agresif, entah menyamankan diri, entah menuntut Seonghyeon untuk memijat kepalanya yang besar itu segera. Seonghyeon mendengus, mencengkeram kepala Keonho untuk mendiamkannya,

“diem. Pokoknya habis ini mandi ya, gak ada ketiduran-ketiduran”

Jemari Seonghyeon mulai bergerak menyusuri wajah Keonho,

“yes … yes …”

Bahkan dari jawabannya pun, Keonho sudah terdengar liyer – liyernya. Seonghyeon menghela nafas, sekalipun sudah diwanti wanti, Keonho pasti bakal ketiduran. Memang dasarnya Keonho pelor. Tapi Seonghyeon tidak berani menolak, toh dia enjoy juga memijat wajah Keonho. Bisa puas puas melihat wajahnya lamat lamat tanpa menimbulkan pertanyaan tidak perlu dari Keonho (maupun pernyataan sombong nan jumawa dari Keonho si kepala besar). Seonghyeon juga bisa menyusuri tangannya kepada garis wajah Keonho, jemarinya bergerak dari ujung kepalanya, dahinya, menyapu kedua alis Keonho yang tebal.

Jemari Seonghyeon bergerak ke bawah mata Keonho, menekannya di titik yang menurut Seonghyeon sih bisa membuat rileks (menurut ajaran ibunya). Menekan sisi samping mata Keonho, menarik pipi Keonho naik, memijat mijat kulit kepala keonho yang terasa berminyak karena tidak dikeramasi berhari hari itu.

Detail kecil juga tidak luput dari mata Seonghyeon. Seperti, jerawat yang baru akan muncul, spot kering di kulit Keonho karena ia suka pergi tanpa sunscreen, kulit wajah Keonho yang dekil karena ia jarang cuci muka pakai sabun, bibir keonho yang agak kering padahal koleksi lip balmnya banyak.

Seonghyeon juga memijat dan menekan telinga Keonho, berpindah ke belakang kepalanya juga.  Keonho bergumam keenakan. Apalagi ketika Seonghyeon menekan diantara kedua alisnya. Keonho, sangat amat membutuhkan itu. Seonghyeon, jemarinya, dan pijat pijatnya itu. Seonghyeon juga berpindah memijat leher dan bahu Keonho tipis tipis. Menekan bahunya yang keras dan kaku, sambil mengomel.

 

Sebenarnya sesi pijat itu harusnya sudah selesai, tetapi Seonghyeon terlena, menatap Keonho tak habis habis. Mata dan jemarinya menyusuri ulang garis wajah tegas Keonho, menatapnya lamat lamat, bolak balik menyapu rahang dan tulang pipi Keonho dengan jarinya, halus dan pelan. Keonho sudah lama berjalan jalan di alam mimpi sana.

Keonho memang ganteng, ya. Garis wajahnya tegas, alisnya tebal dan rapi (dipaksa ibunya threadding), matanya meskipun sayu tetapi tetap tajam dan mempesona. Seonghyeon menatap bibir Keonho lebih lama, menyapu bibirnya dengan halus. Seonghyeon suka bibir Keonho, terlebih ketika mereka tersenyum. Seonghyeon suka senyum Keonho. Seonghyeon tersenyum, menepuk pipi Keonho dua kali, membangunkannya,

“Keonho, cepat bangun dan mandi,”

Keonho mengerang, membalik tubuhnya memeluk pinggang Seonghyeon erat, tidak mau lepas. Aduh, Keonho, kalau seperti ini, hati Seonghyeon juga tidak kuat menahannya. Bisa bisanya si Keonho ini menggesek wajah ke perut Seonghyeon. Manja sekali,

“emang hujannya udah abis?”

Seonghyeon mendorong Keonho, berusaha melepaskannya dari pinggangnya, “udah kering dia daritadi. Cepet mandi sana, keburu hujan lagi,”

 

Keonho akhirnya bagun dengan erangan keras, setengah hati, dan mengucek matanya. Seonghyeon menahan senyumnya, tangannya meraih dan hinggap di kepala Keonho, mengelus rambutnya. Keonho menguap, dan beranjak ke kamar mandi. Setelah Keonho masuk kamar mandi, barulah Seonghyeon yang gantian rebahan sambil menonton tiktok di handphone Keonho.

Fyp tiktok Keonho jelek banget. Masa isinya kalau bukan cerita reddit yang di voice over AI, konten potong potong gabus, atau orang main slime. Kadang malah cuplikan episode the simpson yang di voice over AI juga lewat. Cukup lama Seonghyeon menonton slop di tiktok Keonho sampai akhirnya yang bersangkutan keluar dari kamar mandi hanya bersempak dan berkaos. Wajah Keonho masih tetap kucel sih, entah disabuninya atau tidak wajahnya itu. belum lagi masih cukup banyak air menetes dari rambut dan badannya karena Keonho super skill issue dalam mengeringkan badan.

 

Keonho melempar handuk, menyodorkan hair dryer dan langsung duduk nyaman di hadapan Seonghyeon,

“maksudnya ape nih men?”

Keonho bersandar dan mengadah keatas, “tolong keringkan rambutku plis Seonghyeon manisku, cintaku, pujaan hatiku, semangat hidupku-“

Seonghyeon membekap mulut Keonho sebelum ia nyerocos lebih jauh dan langsung membungkus kepala Keonho dengan handuk. Tangannya dengan lihai mengeringkan rambut Keonho. Disisi lain, Keonho sangat amat enjoy dan nyaman meskipun kepalanya bolak balik digoyang oleh Seonghyeon.

Keonho tertegun ketika Seonghyeon tiba tiba berhenti dan bilang kalau sudah selesai. Hah, apanya yang selesai? Rambutnya masih setengah basah ini. Seonghyeon nyengir, sambil menata rambut Keonho tipis – tipis, “gini aja, ganteng,”

Jujur…. Izin …. Jantung Keonho skip berdetak 5 hitungan, loh. Bisa saja si Seonghyeon ini.  Keonho memaksa dirinya untuk merengut, “tapi nanti kalo pake helm lembab terus bau terus lepek terus aku jelek dan tidak ganteng dan bau dan dekil dan bau lembab terus kamu nggak mau lagi sama aku dan kamu pindah negara karena gamau lagi cium aku yang bau lembab-“

Seonghyeon memejamkan mata dan menghela nafas panjang, ia tutup bibir Keonho yang masih sibuk meracau tentang dirinya yang pergi ke belanda meninggalkan Keonho karena ia bau, apalah. Keonho mendongak melihat Seonghyeon, tangan Seonghyeon berpindah untuk menarik pipi Keonho kuat kuat sampai si Keonho mengaduh kesakitan,

“stop alay,”

Seonghyeon mengembalikan kepala Keonho kembali menghadap depan, ia meraih hairdryer dan mulai mengeringkan rambut Keonho. Tangan Keonho yang menganggur disandarkan pada paha Seonghyeon, merangkulnya. Sesekali tangannya naik turun mengelus dan menggelitik kaki Seonghyeon. Tak lama, Seonghyeon mematikan hairdryer, meraih sisir dan hair clay Keonho. Kenapa hair clay bukan hair gel atau pomade? Karena Keonho tidak suka kalau hair gel dan pomade suka bikin rambutnya kaku, mana susah dikeramasi. Sebenarnya hair clay juga tidak lebih mudah dikeramasi sih tapi tampilan rambutnya jadi lebih swag dan tidak klimis macam jamet kabupaten yang baru kenal pomade.

Seonghyeon mulai menata rambut Keonho sebahagianya, yang menurutnya bikin Keonho ganteng aja. Sebenarnya Keonho mau diapain pun bakal tetap ganteng sih, dibotak sekalipun Keonho tetap bakal ganteng (tapi Keonho tidak perlu tahu itu). Seonghyeon mencolek hair clay secuil, meratakannya dengan kedua tangan, dan mulai mengusapnya ke rambut Keonho.

“sudaah,” Seonghyeon menyeka tangannya bekas hair clay itu di handuk Keonho sambil sedikit mendorongnya untuk berdiri, membawa Keonho ke depan kaca untuk melihat hasil kerjanya. Keonho matut matut depan kaca, toleh kanan, toleh kiri. Boleh juga stylingan Seonghyeon ini. Keonho melirik Seonghyeon, tersenyum sampai matanya menyipit,

“cakep ya. Tangan kamu pinter juga mainin rambut—” Keonho menahan senyum, “jadi makin ganteng akunya,”

Ah, inilah kenapa kalian tidak boleh sering sering memuji Keonho. Dia mudah besar kepala dan tengil. Seonghyeon memasang wajah ilfeel, “enggak. Udah cepet ganti baju terus kita caw. Emang kamu keluar mau kutangan sama sempakan doang?”

Keonho mengedip sambil meniupkan cium kearah Seonghyeon, “tapi kamu suka kan?”

Idih banget.

 

Seonghyeon nyaris habis kesabaran ketika Keonho masih rewel soal baju yang mau dipakainya, bingung antara pakai baju yang satu warna dengan Seonghyeon, atau pakai kaos band juga, tapi nanti dibilang kembar, atau … kutangan saja, lah Keonho pusing pilih baju. Seonghyeon mendengus dan menggeser Keonho, mulai mengubek isi lemari Keonho yang bajunya menumpuk itu. Seonghyeon raih kaos random dan melemparnya ke wajah Keonho,

“udah pake itu aja, terus pake jaketmu yang item kulit itu,”

“okai,” Keonho bergumam sambil pakai bajunya. Tangannya meraih kalung dan cincin diatas meja, memakainya cepat, sembari meraih jaket dan menyambar kunci motor. Buru buru banget keburu Seonghyeon bete soalnya. Oh iya, hapenya belum diambil. Keonho balik badan, tapi belum juga ia membongkar kamarnya untuk mencari hape, Seonghyeon sudah menyodorkan hape iphone 17 pro max oren mentereng 1TB cash diwajahnya,

“nih, hape. Udah sekarang kita cabut. Aku udah laper banget, ga tahan,”

Seonghyeon yang baru mau berbalik menuju pintu langsung ditahan oleh Keonho. Seonghyeon menatapnya bingung, mau apalagi orang ini? Bibir Keonho manyun,

“aku ganteng gak?”

 

Astaga, gelinya.

Seonghyeon melirik Keonho dari ujung kaki sampai kepalanya, agak ilfeel sih jujur. Dijawabnya ketus, “gak penting banget sumpah, mau pergi ga sih?”

Genggaman Keonho di lengan Seonghyeon mengerat, “bilang aku ganteng dulu,”

Ngotot banget deh orang ini.

“yaa ganteng kok,”

Seonghyeon berkata seadanya, bahkan menatap Keonho pun tidak. Ucapan Seonghyeon disambut wajah Keonho yang semakin menekuk, “yang ikhlas bilangnya. Kamu gak ridho ya bilang aku ganteng,”

Seonghyeon sudah kelaparan mampus dan tidak mampu lagi menghadapi bullshit yang akan terus dikeluarkan oleh Keonho jika ia tidak sesegera mungkin makan. Oh, Keonho. Sebal setengah mati, Seonghyeon menarik wajah Keonho mendekat, matanya memelototi Keonho lamat-lamat. Keonho kaget, deg degan mampus. Diam-diam menahan senyum. Dia harus stay cool dan mempertahankan imej ngambeknya sampai akhirnya Seonghyeon menjauh,

“ganteeng kok emang Keonho temanku paling ganteng rupawan langit bumi bahkan rahwana kalau lihat kamu mungkin dia nggak akan maksa memperistri shinta tapi pindah memperistri Keonho,”

--- itukan yang kamu mau dengar, Keonho?

Keonho tersenyum puas, terkekeh kekeh, “heh. .. heheh. … heheheh… yeah, lets go kita caw,”

bergegas turun mereka kebawah, buru buru menuruni tangga hingga sesuatu baru terpikir oleh Seonghyeon,

“kenapa kita nggak naik mobilmu aja?”

Aduh pertanyaanya ini sedikit pikmi gitu ya, tapi Seonghyeon baru terpikir. Keonho punya mobil didepan, kemarin juga mereka sempat keluar dengan mobil Keonho itu. Kenapa mereka tidak keluar saja naik mobil? Mana hari ini hujan terus menghujani Jogja. Keonho menggaruk kepalanya,

“tapi kalo naik mobil nanti kita duduknya jauhan? Nanti kamu gabisa nempel nempel sama aku? Nggak bisa taroh dagu di bahu aku? Kurang intim lah kalau pake mobil itu,”

Astaga, orang ini. Seonghyeon menjawab dengan “ooh,” seadanya sambil menahan tawa. Baiklah, karena pakai motor, hari ini Seonghyeon akan puas-puas cium wangi Keonho.

Seonghyeon sedang memakai sepatu ketika Keonho mengeluarkan motornya. Keonho langsung menyodorkan helm kepada Seonghyeon, tapi ketika Seonghyeon mau mengambilnya, Keonho malah menahan helm itu supaya tidak bisa diambil Seonghyeon. Maksudnya apa?

Belum sempat Seonghyeon protes, Keonho sudah mengangkat helm itu dan memakaikannya dengan hati hati ke kepala Seonghyeon. Ketika kait helm berbunyi klik, barulah Seonghyeon tersadar.

Kayak orang pacaran, ih.

 

Keonho menaiki motornya setelah berhasil mengeluarkannya dari pagar, dagunya menghentak kebelakang, mengisyaratkan Seonghyeon untuk segera naik. Tidak lupa Keonho menunduk dan membuka sandaran kaki supaya Seonghyeon tidak perlu repot repot. Seonghyeon menaiki motor dan mendudukkan dirinya nyaman. Keonho menarik kedua tangan Seonghyeon melingkari pinggangnya,

“pengang yang kencang ya, cantik,”

Seonghyeon merinding sebadan.

 

 

Angin bertiup kencang sekali hari itu. Keonho dan Seonghyeon tidak berhenti nyerocos sepanjang jalan, meskipun sama sama sulit mendengar sebab angin kencang tulikan telinga mereka, tetapi Seonghyeon tetap menyandarkan bahunya di leher Keonho, berusaha mendengarnya berbicara tentang matcha 400 ribu rupiah yang overprice abis tapi tetap dibelinya karena penasaran.

ah.. oh … hah… oh iya…

Sebenarnya Seonghyeon nggak dengar jelas Keonho bicara apa, tapi ia suka momen seperti ini dimana ia bisa bebas menempel pada Keonho, mendengarnya bicara. Seonghyeon suka dengar suara Keonho. Setiap kali Keonho bicara, perut Seonghyeon tergelitik dan punggungnya tegak. Apalagi kalau Keonho menyanyi, Seonghyeon suka sekali. Terutama ketika Keonho menyanyi dan mengeluarkan gitarnya, kombo maut. Seonghyeon auto bertekuk lutut.

“Seonghyeon itu pertigaan didepan belok nggaaak?”

 

Minusnya Keonho itu meskipun sama sama orang Jogja, tapi nggak hafal jalan dan nggak hafal tempat, jadi Seonghyeon harus sering sering mengarahkannya. Padahal mereka juga berkali kali lewat jalan yang sama. Seonghyeon juga selalu menegaskan dan sudah road training Keonho dijalanan tapi kok ya masih tidak hafal si Keonho ini.

Lalu kenapa tidak Seonghyeon saja yang menyopir?

  1. Seonghyeon tidak mau
  2. Seonghyeon suka jadi Passenger Princess
  3. Seonghyeon suka dimanja dan nempel nempel Keonho. Selagi bisa, selagi sempat.

Selagi sempat.

 

 

“Keonho didepan, tuh nanti ada gang kecil. Persis abis mobil wuling mini warna kuning, nanti belok situ ya. Potong jalan,”

Keonho hohah hoheh memaksa Seonghyeon memegangi kepala Keonho, mengarahkannya memandang kedepan dan menuding mobil kecil kuning kasihan itu. Keonho masih tidak paham,

“yang manasih?”

Seonghyeon menghela nafas. Barusan sekali mereka melewati gang yang Seonghyeon maksud. Mau marah juga bingung…

“lewat jalan yang kamu suka ajalah, Keonho,”

Tangan kiri Keonho turun mengelus lutut Seonghyeon, “jangan mayah mayah dong, cantik. Nanti kita malah nyasar 3 jam gimana dong?”

Seonghyeon tidak menjawab, hanya menunjuk jalanan didepan dan mengisyaratkan Keonho untuk belok kiri.

 

Mereka mau datangi kafe kalcer yang Keonho temukan di tiktok. Kafenya didalam gang. Tapi begitu sampai di kafenya--setelah nyasar betulan karena Keonho ngotot belok kanan padahal kata google mapsnya belok kiri, mereka sampai didepan kafe kecil yang tertutup pohon itu. Seonghyeon curiga, tempat ini sepi sekali. Cocok untuk maksiat, tapi kurang cocok untuk nongkrong santai. Takutnya digondol wewe.

Tutup nggak, sih …

“yah, tutup anjir kafenya,” Keonho mengerang. Seonghyeon akhirnya melihat plang kecil yang menyangkut ditiang setengah jatuh itu. Tulisannya kecil, susah dibaca dan terlihat performatif untuk pajangan saja.

Keonho memutar tubuhnya untuk melihat Seonghyeon, “pilih andeska, atau indomaret jakal?”

Indomaret jakal sama saja memutar jauh, jadi Seonghyeon pilih andeska saja.

 

 

Sial juga ya, hari ini. Sudahlah hujan badai, menunggu Keonho siap lama sekali, tidak jadi ke Prawirotaman karena Keonho memaksa untuk nongkrong di kafe kalcer sambil membaca buku performatif—eh kafenya tutup. Ujung ujungnya mereka ke andeska lagi.

Meskipun sedikit dongkol, tetapi Seonghyeon tidak menyesal jauh jauh dan repot repot datangin rumah Keonho. Seonghyeon menikmati setiap waktu yang ia habiskan dengan Keonho. Sebisa mungkin, Sesering mungkin. Seonghyeon sangat amat menikmati waktunya pandangi wajah Keonho yang tak pernah mau ia akui sangat ganteng rupawan paripurna itu. Seonghyeon sangat menikmati waktunya bagi candaan dan percakapan remeh tetapi hangat dengan Keonho. Ketika Seonghyeon tertawa kencang sampai habis nafasnya dan Keonho masih menambah punchline jokesnya, membuat Seonghyeon semakin kehabisan nafas sampai memohon ampun.

Seonghyeon nikmati setiap sentuhan yang Keonho beri pada tubuhnya, tangannya. Setiap rangkul, setiap peluk, setiap gesekan yang mereka bagi.

 

Selagi sempat, Selagi bisa.

Notes:

coba lu pada kasih gw suggestion keonhyeon dah

btw aku ada di twt membuat chatfic cuma jarang aktif (takut ditangkep p*ltis) feel free to hmu (butuh teman)

Series this work belongs to: