Actions

Work Header

The Alchemy

Summary:

Di lap terakhir musim, Yas Marina menjadi saksi kepercayaan yang tak pernah goyah. Lewat radio, George Russell mengawal Max Verstappen menuju gelar juara dunia, tanpa tahu bahwa panggilan terakhir itu bukan tentang balapan. Saat checkered flag berkibar dan dunia merayakan seorang World Champion, Max memilih satu momen untuk memenangkan hal yang lebih besar. Di bawah lampu sirkuit dan di depan piala WDC, sebuah 'copy' terakhir berubah menjadi janji seumur hidup.

Work Text:

Langit Abu Dhabi mulai memerah, memantulkan bias jingga ke permukaan Yas Marina Circuit yang berkilauan di bawah sorotan lampu. Ini adalah balapan terakhir di musim ini, dan merupakan Grand Prix yang sangat penting bagi semua orang. Udara di pit lane terasa begitu pekat, campuran aroma bensin beroktan tinggi, panasnya ban, dan tensi yang hampir bisa dirasakan secara langsung.

Max Verstappen duduk di kokpit RB18, matanya terfokus lurus ke depan, mengarah ke lintasan yang segera akan menjadi medan perang baginya. Helmnya belum terpasang sempurna, memperlihatkan rahangnya yang mengeras. Peluang untuk mengamankan World Drivers' Championship masih terbuka, dan dia tahu, satu-satunya cara untuk memastikan gelar tersebut adalah dengan meraih kemenangan yang bersih. Tidak ada ruang bagi kesalahan maupun drama. Hanya kecepatan, kontrol, dan insting yang akan membawanya sampai ke garis finish sebagai juara.

Di pitwall, hanya beberapa meter dari Max, George Russell duduk tegak dengan headset terpasang erat di telinganya. Layar di depannya menunjukkan deretan data telemetri. Suhu ban, tekanan rem, konsumsi bahan bakar, lap time… angka-angka itu bergerak-gerak di hadapannya, setiap digit mengandung kemungkinan keputusan, kemungkinan resiko. George adalah Race Engineer Max, pikirannya yang mengatur setiap strategi, suaranya yang memberi instruksi setiap saat. Dan malam ini, beban yang ada di pundaknya terasa berkali-kali lipat.

George menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. “Don’t mess this up, George” bisiknya pada diri sendiri. Ketakutan itu selalu ada, mengintai di sudut pikirannya. Ketakutan akan menjadi alasan Max gagal. Dia tahu, Max adalah pembalap yang luar biasa, seorang talent langka yang bisa mengubah mustahil menjadi mungkin. Tapi ini adalah olahraga tim, dan satu kesalahan kecil dari pit wall bisa menghancurkan segalanya.

Namun, di balik ketakutan itu, ada keyakinan yang tak tergoyahkan. Keyakinan pada Max. George telah melihat berulang kali bagaimana Max bisa melakukan overtaking yang tidak masuk akal, bagaimana dia bisa mendorong mobil hingga batas terbesar dan bahkan melebihi batas itu. Max adalah sifat alami, semangat yang sangat agresif, dan keberanian yang luar biasa. George adalah perhitungan, stabilitas, dan presisi yang dingin. Mereka seperti dua sisi dari koin yang sama, saling mengimbangi dan melengkapi satu sama lain.

George ingat percakapan mereka kemarin malam, di hospitality tim yang sepi. Max, dengan santainya, menepuk bahunya. “Don't overthink it, dear. Just do what you always do. I trust you”

Kata-kata itu terdengar seperti sebuah mantra yang memberi rasa tenang. Max selalu begitu. Di luar jalur, dia bisa terlihat lebih rileks, bahkan terkadang konyol. Tapi di dalam kokpit, dia seperti predator yang sangat fokus, dan dia sangat percaya pada timnya, terutama pada George.

“Radio check, Max. Can you hear me?”

George berbicara ke mic di headset-nya, suaranya terdengar profesional, tenang, dan tepat.

Suara Max membalas, sedikit terdistorsi oleh radio, tapi tetap jelas.

“Loud and clear, George. How’s the weather up there?”

Ada sedikit nada tertawa dalam suaranya, usaha untuk meredakan ketegangan. George hanya tersenyum tipis.

“Clear skies, Max. Perfect for a win”

Di sekitarnya, para mekanik sedang menyelesaikan tugas-tugas terakhir mereka. Bendera start akan segera dikibarkan. Lampu-lampu merah di garis start mulai menyala satu persatu. George menatap layar di depannya, lalu melirik ke arah Max yang kini sudah mengenakan helmnya, siluetnya terlihat samar di balik kaca pelindung. Dia tahu, ini akan menjadi balapan yang panjang, penuh tekanan, dan mungkin, penuh kejutan. Tapi dia juga tahu, selama mereka terhubung melalui radio, selama kepercayaan itu ada, mereka bisa menghadapi apa pun.

---

Balapan telah berlangsung separuh jalan. Raungan mesin V6 turbo-hybrid memenuhi udara Yas Marina, menghasilkan sebuah simfoni kecepatan yang membuat telinga terkejut. Namun bagi Max Verstappen di dalam kokpit dan George Russell di pit wall, dunia mereka menyempit menjadi hanya suara yang terdengar dari headset dan data-data yang terus menerus berkedip di layar. Keramaian penonton, sorotan kamera, dan tekanan dari dunia luar seolah menghilang, digantikan oleh perhatian yang hanya tertuju pada performa mobil dan strategi balapan.

“Tyre degradation looking okay, Max. Keep pushing, but mind the rears on turn 13”

Suara George terdengar tenang, namun penuh otoritas. Ia memperhatikan grafik suhu ban secara hati-hati, melihat bagaimana ban belakang Max mulai menunjukkan tanda-tanda aus saat melewati tikungan tajam itu. Ini adalah detail kecil, namun krusial, yang bisa membedakan antara kemenangan dan kegagalan.

“Copy, George”

Balas Max, suaranya sedikit terengah, namun tetap terkontrol. Kata 'copy' itu, yang biasanya diucapkan dengan nada datar dan formal oleh pembalap lain, selalu terdengar sedikit lebih lembut saat keluar dari bibir Max ketika berbicara dengan George. Sebuah hal kecil yang hanya George yang tahu, sebuah tanda kepercayaan yang tidak pernah diucapkan.

George selalu memulai setiap instruksi teknis dengan menyebut nama Max terlebih dahulu. Ini bukan hanya soal formalitas. Ini adalah cara George memastikan Max mengerti bahwa dia berbicara langsung padanya, bukan hanya kepada seorang pembalap, tetapi kepada partner-nya.

“George, I’m feeling a slight oversteer on entry to turn 5. Anything you can do with the diff?” tanya Max, suaranya menunjukkan sedikit frustrasi. Belokan tersebut memang selalu menjadi tantangan, dan dengan ban yang mulai terasa aus, kemungkinan oversteer bisa menjadi masalah yang besar.

“Understood, Max. We’ll adjust the differential settings on the next lap. Try to manage it for now. You’re doing great”

George segera memeriksa data. Dia memberi instruksi kepada strategist di sebelahnya, yang dengan cepat memasukkan perubahan ke dalam sistem.

Christian Horner, Team Principal Red Bull, sesekali melirik ke arah George, senyum tipis tersungging di bibirnya. Dia telah melihat banyak Race Engineer datang dan pergi, tapi dynamic antara George dan Max adalah sesuatu yang istimewa. Kepercayaan mereka satu sama lain adalah fondasi dari setiap kemenangan.

---

Lampu-lampu Yas Marina semakin terang, seolah merayakan detik-detik terakhir dari musim yang berlangsung lama dan penuh cerita. Di layar besar di sirkuit, selisih waktu antara Max Verstappen dan Charles Leclerc di belakangnya terlihat jelas. 12,5 detik. Gelar World Drivers' Championship hampir bisa diraih. Ketegangan yang tadi memberatkan perlahan memudar, digantikan oleh euforia yang mulai terasa. Beberapa mekanik sudah siap menyambut momen untuk merayakan.

Namun, George Russell tidak bisa merasakan euforia itu. Ada sesuatu yang mengganjal. Max, yang biasanya akan memberikan feedback konstan di lap-lap terakhir, kini larut dalam keheningan. Keheningan dari sisi Max di radio terasa lebih berat daripada kebisingan mesin atau sorakan penonton. George menatap data telemetri, memperhatikan kembali celah yang mungkin ia lewatkan. Tidak ada yang salah secara teknis, tapi insting George menyiratkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

“Max, how are the tyres feeling? Any degradation to report?”

George mencoba memancing, suaranya tetap tenang, tapi terdengar sedikit waspada.

Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. George menahan napas, jantungnya berdetak lebih cepat. Apakah ada masalah dengan radio? Atau Max sedang fokus penuh, mengabaikan semua gangguan?

Lalu, radio berderak. Suara Max terdengar, tidak terengah seperti biasanya, tapi lebih… tenang.

“George?”

Satu kata, tapi itu cukup membuat George tegang seketika. Dia tahu nada itu. Nada yang digunakan Max hanya ketika ada hal yang sangat penting atau sangat salah. Pikirannya langsung berputar cepat, memikirkan skenario terburuk dalam waktu singkat.

George, dengan profesionalismenya yang sudah menjadi kebiasaan, langsung memberikan respons.

“Go ahead, Max. What’s the issue?”

Ia menekan tombol mikrofon, matanya menatap tajam ke layar, siap menganalisis segala data yang akan diberikan oleh Max. Tangannya sudah siap untuk memanggil pit crew dan mempersiapkan strategi darurat jika memang diperlukan. Seluruh anggota tim di pit wall menghela napas dalam-dalam, menunggu jawaban Max, merasakan ketegangan yang sama yang menyelimuti George.

Di dalam kokpit, Max merasa adrenalin semakin berpacu, bukan karena kecepatan yang tinggi, tapi karena rasa penasaran dan antisipasi yang semakin meningkat. Dia tahu George akan panik. Dia tahu ini bukan waktu yang tepat. Tapi kapan lagi? Momen ini, di lap terakhir balapan yang menentukan juara, di mana seluruh dunia sedang menonton, terasa begitu sempurna. Dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri di balik helm, berirama dengan bunyi mesin. George mungkin akan membunuhnya, tapi itu akan sepadan. Ini adalah resiko terbesar yang pernah dia ambil di luar lintasan, dan dia sudah siap menghadapinya.

George menahan napas, menunggu jawaban Max. Di telinganya, suara Horner dan tim strategist lainnya terdengar samar, seolah-olah dari dunia yang berbeda. Fokusnya hanya pada satu frekuensi, satu suara. Dia siap menerima instruksi teknis apa pun, siap memanggil pit crew, dan siap mengaktifkan protokol darurat. Tapi yang datang setelah itu bukan instruksi teknis, melainkan sesuatu yang jauh lebih tidak terduga.

“No issues, George. Car’s perfect”

Suara Max terdengar mantap, tanpa cela, seolah dia sedang menikmati late night drive lengkap dengan city lights scenery, bukan memimpin balapan penentu kejuaraan dunia.

George mengerutkan kening. Car’s perfect? Lalu mengapa dia memanggil George dengan suara seperti itu? Ada apa ini?

Kembali terdengar sunyi di frekuensi radio mereka, tapi kesunyian kali ini terasa berbeda. Bukan kesunyian yang membuat tegang karena masalah teknis, tapi kesunyian yang aneh. George bisa merasakan tatapan Horner berada di sampingnya, tatapan yang sama penuh rasa penasaran seperti yang ia alami. Apa yang sedang terjadi?

Lalu, suara Max kembali, kali ini dengan nada yang George kenali, nada yang Max gunakan hanya saat mereka berdua, di luar kebisingan sirkuit, berbicara tentang hal-hal yang personal.

“I just wanted to ask you something… before we cross the line”

Dunia George berhenti berputar. Kata-kata itu berdenging di telinganya. Apa maksud ucapan Max? Pikirannya berputar-putar, mencoba mencari tahu artinya, mencari penjelasan yang masuk akal. Tapi tidak ada yang masuk akal. Ini adalah balapan terakhir, Max akan menjadi juara dunia, dan dia ingin bertanya sesuatu? Sekarang?

“Max, we can talk after—”

George berusaha menghentikan, suaranya terdengar lebih gelisah daripada yang dia harapkan. Ini bukan waktunya. Ini adalah momen paling krusial dalam karir Max, dalam karir mereka berdua. Tidak ada ruang untuk hal-hal personal dalam kondisi seperti ini.

Tapi Max tidak membiarkannya selesai. Suaranya kembali dengan lebih tegas dan penuh keyakinan.

“George… will you marry me?”

Pit wall yang sebelumnya penuh dengan bisikan dan instruksi, kini menjadi diam dan tidak bergerak. Horner, yang sebelumnya memperhatikan George, kini memperhatikan layar di depannya dengan mata terbelalak. Seisi garasi Red Bull, yang sebelumnya sudah siap untuk melompat dan bersuka cita, tiba-tiba menjadi sunyi dan hening.

George… dia lupa. Dia lupa dia sedang berada di pit wall . Dia lupa dia adalah seorang Race Engineer. Dia lupa dia sedang berada di tengah balapan, di depan jutaan pasang mata di seluruh dunia. Yang ia tahu hanyalah suara Max, suara yang baru saja mengucapkan empat kata yang mengubah segalanya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena adrenalin dari balapan, melainkan karena Max. Max Verstappen. Pembalapnya. Sahabatnya. Dan sekarang, calon suaminya?

Tangannya bergetar, ia berusaha menekan tombol mic, tapi jari-jarinya terasa kaku. Suaranya terdengar gemetar saat ia mengeluarkannya.

“…Max, are you serious right now?”

Di dalam kokpit, Max tersenyum. Dia bisa membayangkan ekspresi George sekarang. Panik, terkejut, mungkin sedikit marah. Tapi dia juga tahu, George akan mengerti. Max tertawa pelan, tawa yang lembut, yang hanya George yang pernah mendengarnya.

“Dead serious, George. Like championship serious”

Dan di tengah keheningan yang memekakkan telinga itu, di tengah jutaan pasang mata yang menatap ke arah Yas Marina, dunia George Russell benar-benar berhenti berputar. Hanya ada dia, Max, dan empat kata yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Ini bukan lagi tentang balapan. Ini tentang Max, dengan segala keberaniannya, baru saja memenangkan balapan yang jauh lebih penting dari sekadar kejuaraan dunia.

---

Detik-detik setelah Max Verstappen melontarkan pertanyaan yang mengguncang dunia George, terasa seperti waktu yang berhenti selamanya. Di pit wall, Christian Horner akhirnya menemukan suaranya, berteriak ke radio tim.

“Max, what the hell was that?! Focus! Finish the race!”

Tapi suaranya tenggelam dalam keheningan yang lebih besar, keheningan yang tercipta dari keterkejutan kolektif. Semua orang memperhatikan George, yang masih terpaku, headset dipasang dengan erat, wajahnya tampak pucat.

Di dalam kokpit, Max bisa mendengar keributan di radio tim, tapi dia mengabaikannya. Fokusnya bukan pada garis finish yang semakin dekat, bukan pada gelar juara dunia yang sudah terlihat jelas di depan mata. Fokusnya hanya pada satu hal. Jawaban George. Dia telah mengambil resiko terbesar dalam hidupnya, dan sekarang dia sedang menunggu hasilnya. Jantungnya berdebar cepat, jauh lebih cepat daripada bunyi mesin yang menggema keras. Ini adalah balapan terpenting yang pernah dia jalani, dan dia tidak akan menyeberangi garis finish tanpa tahu jawabannya.

Dan kemudian, di tengah ketegangan yang sangat mencekik, bendera berbentuk kotak-kotak berkibar. Max Verstappen melintasi garis finish, yang berarti ia memenangkan balapan. Gelar World Drivers' Championship secara resmi telah diamankan. Sorakan penonton meledak, kembang api mulai menyala di langit Yas Marina, menghiasi sirkuit dengan warna-warna yang terang dan mengagumkan. Radio tim Red Bull langsung bersemangat dalam antusiasme yang luar biasa. Christian Horner berteriak kegirangan.

“INCREDIBLE! MAX VERSTAPPEN, YOU ARE THE WORLD CHAMPION!"

Namun, di tengah semua keributan itu, Max tetap diam. Dia tidak membalas maupun merayakan teriakan dari timnya. Dia hanya menunggu satu suara, suara George.

Di pit wall, George akhirnya memutuskan untuk membuka suara. Tangannya gemetar saat ia menekan tombol mic. Suaranya lirih, hampir tidak terdengar di tengah keramaian perayaan. Tapi Max selalu mendengarnya.

“Yes, Max"

Max menghembuskan napas panjang, lega, keluar dari bibirnya. Beban berat yang tak terlihat di pundaknya tiba-tiba terasa ringan. Dia tersenyum, senyum yang tulus dan jarang terlihat di depan kamera.

“Good. Then win's perfect"

Bagi Max, kemenangan ini tidak akan sempurna tanpa George. Gelar juara dunia yang telah ia kejar dengan segenap jiwa dan raga, terasa hampa tanpa George di sisinya. Dan sekarang, dengan jawaban George, semuanya terasa sempurna Ini adalah kemenangan ganda, sejarah yang tercatat dua kali dalam satu malam.

---

Max Verstappen memulai victory lap-nya, mengelilingi Yas Marina Circuit yang kini bermandikan cahaya kembang api dan sorotan lampu. Dia melakukan classic donuts, memutar mobilnya dalam lingkaran sempurna, ban-ban mengeluarkan asap tebal, menciptakan lingkaran kemenangan yang ikonik. Dia melaju pelan, melambaikan tangan kepada para penggemar yang bersorak. Kamera global fokus padanya, mengabadikan setiap momen dari juara dunia yang baru. Tapi di balik semua itu, Max hanya berpikir tentang George.

Di pit wall, George Russell perlahan bangkit dari kursinya. Kakinya terasa lemas, jantungnya masih berdebar kencang. Headset masih terpasang di telinganya. Horner dan tim lainnya sudah bersibuk merayakan dan saling berpelukan, tapi George masih dalam keadaan terkejut. Kata-kata Max di radio, masih menggema di kepalanya.

George melangkah keluar dari garasi, melewati kerumunan pit crew yang bersorak-sorai. Dia berjalan seperti dalam mimpi, matanya mencari Max. Keramaian penonton di tribun mulai menyadari ada yang berbeda. Sorakan mereka sedikit mereda, digantikan oleh bisikan-bisikan penasaran. Kamera-kamera mulai bergeser mengikuti George yang berjalan menuju lintasan.

Max menghentikan mobilnya tepat di depan pit wall Red Bull. Dia mematikan mesin, suasana diam tiba-tiba terasa aneh setelah kebisingan mesin yang mengganggu telinga. Dengan gerakan cepat, dia melepas helmnya, rambut pirangnya sedikit berantakan. Matanya yang biru menatap langsung ke arah George dengan penuh harapan. Dia tidak peduli sama sekali dengan kamera, tidak peduli juga dengan jutaan orang yang menonton. Saat ini, hanya ada George.

Max mengambil sesuatu dari kokpit, sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam yang sudah ia sembunyikan di sana sejak lap sebelum finish. Dia keluar dari mobil, kakinya terasa ringan seperti gravitasi tidak lagi mengguncangnya. Langkahnya lurus menuju George, melewati kerumunan orang yang kini membuka jalan. Tidak ada lagi yang memmbatasi mereka berdua saat ini.

George melihat Max mendekat ke arahnya, tangan Max menggenggam kotak kecil. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ini benar-benar nyata. Max, pembalap yang paling agresif di trek, sekarang mendekat dengan tatapan yang lembut dan penuh cinta. Max berhenti tepat di depan George. Di belakang mereka, trofi WDC bersinar terang di bawah cahaya lampu. Max berlutut, satu lutut menyentuh aspal sirkuit, di depan trofi yang baru saja dia menangkan. Seluruh dunia menahan napas. Kembang api di langit Yas Marina meledak, menciptakan latar yang sempurna untuk momen tak terlupakan ini.

“George, I won the championship because I trust you with my life”

Suara Max terdengar jelas, meskipun sedikit gemetar. Matanya menatap George dengan penuh ketulusan. Dia membuka kotak beludru itu, memperlihatkan sebuah cincin perak dengan ukiran yang cantik.

“Would you let me trust you with the rest of it too?”

George tidak bisa menahan tangisnya. Air mata mengalir deras di pipinya, membasahi pipinya yang dingin. Persetan dengan kamera, kerumunan, dan segalanya malam ini. Yang ia tahu hanyalah Max, yang berlutut di depannya, menawarkan seluruh hidupnya.

“Of course, yes. I would”

Max tersenyum lebar, senyum yang sangat tulus dan begitu berbahagia. Dia berdiri, menyematkan cincin itu di jari manis George, lalu menarik George ke dalam pelukannya. George membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di bahu Max, lalu merasakan detak jantung Max yang berdebar cepat.

Pelukan Max dan George di tengah sirkuit Yas Marina, di bawah sorotan lampu dan ledakan kembang api, menjadi pemandangan yang tak akan pernah terlupakan. Kerumunan penonton yang tadinya bersorak untuk kemenangan Max, kini meraung lebih keras, menciptakan suara yang campur aduk antara kejutan, kebahagiaan, dan histeria. Para mekanik Red Bull, yang baru saja merayakan gelar juara dunia, sekarang mulai bersamaan meneriakkan nama Max dan George. Suara mereka berdentum keras di seluruh pit lane, menciptakan suasana yang lebih menyenangkan dan penuh energi daripada podium mana pun.

Para komentator akhirnya berbicara dengan analisis yang bercampur aduk antara balapan dan momen pribadi yang baru saja mereka tonton.

“I… I don’t think I’ve ever seen anything like this in the history of Formula 1!”

“Max Verstappen not only secured his World Championship, but he just proposed to his Race Engineer, George Russell, on live television!”

George, yang masih berada dalam pelukan Max, bisa merasakan getaran tawa Max di dadanya. Dia mengangkat kepala, matanya yang basah berpapasan dengan mata biru Max yang bersinar.

"Kamu gila, Max"

bisiknya, suaranya serak. Tapi ada senyum lebar di wajahnya, senyum penuh kelegaan dan kebahagiaan.

Max hanya tersenyum, mengusap pipi George dengan ibu jarinya.

“Only for you, love”

Dia menunduk, jemarinya menangkup lembut rahang George, ibu jarinya membelai kulit hangat di sana. Mata biru Max menatap dalam ke mata biru George, yang perlahan terpejam, bulu mata lentiknya yang cantik bergetar. Bibir mereka akhirnya bertemu. Itu adalah ciuman yang singkat, namun membakar, penuh gairah yang tertahan, seperti ledakan perasaan yang mengalir dari hati ke hati.

Tangan Max yang lain melingkar erat di pinggang George, menariknya mendekat hingga tak ada lagi jarak. George membalas dengan jemarinya yang meremas kuat bahu Max. Dunia di sekitar mereka seolah lenyap, hanya menyisakan detak jantung yang berpacu dan kehangatan yang menjalar dari setiap sentuhan. Pelukan mereka berlangsung lama, seolah ingin mengabadikan setiap detik dari kebahagiaan yang meluap-luap itu. George menyandarkan kepalanya di dada Max, mendengarkan detak jantung Max yang kini berirama tenang, berbeda dengan detak jantungnya sendiri yang masih bergerak cepat.

Ketika akhirnya mereka melepaskan pelukan, Max masih menggenggam tangan George erat, cincin perak sederhana itu berkilauan di jari manis George. Dia menatap George dengan pandangan penuh janji.

“So, is it a yes? Officially?” tanyanya dengan nada bercanda, tapi ada ketulusan yang mendalam di baliknya.

George tertawa, air mata masih membasahi pipinya.

“Of course it’s a yes, you idiot. You almost gave me a heart attack!

Dia memukul pelan lengan Max, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Max, merasakan kehangatan dan kekuatan yang selalu diberikan oleh Max kepadanya.

“Radio check, George?” bisik Max pelan, mengulang candaan mereka.

George tertawa kecil, air mata haru kembali menggenang di sudut matanya. Ia menarik Max kembali ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Max.

“Loud and clear, Max. Forever”