Work Text:
Warning!!!
Harap tidak disebarluaskan secara terang-terangan :3
Semua yang terjadi disini hanya fiksi!
Enjoy and Happy Reading!
play music: JVKE (feat. ZVC) — her
Lampu-lampu gudang tua itu berdengung pelan, memantulkan cahaya pucat di lantai semen yang dingin dan lembab. Bau besi, oli, dan asap rokok bercampur jadi satu, aroma yang sudah terlalu akrab bagi Rion Kenzo. Rambut ungunya dipotong pendek, rapi tapi kasar, gaya yang tidak peduli tren namun justru membuat auranya makin menekan. Dirinya berdiri dengan tubuh tegap, bahunya lebar, jaket hitamnya terbuka sedikit memperlihatkan kaos gelap di dalam.
Di seberang meja, Caine Chana duduk sambil menyilangkan kaki, posturnya elegan, seolah dunia gelap yang mereka jalani hanyalah kabut tipis yang bisa ia hembuskan kapan saja. Rambut merahnya tertata jatuh lembut di dahi, sedikit bergelombang, wajahnya cantik dengan garis-garis halus yang selalu terlihat tenang, bahkan ketika membicarakan hal-hal yang membuat orang lain gemetar. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, menyembunyikan mata emas yang biasanya hangat namun kini fokus membaca laporan di tangannya.
“Rute pengiriman senjata kita aman,” kata Caine pelan, suaranya rendah dan stabil. “Anak-anak yang kita perintahkan sudah disebar. Kalau ada yang bergerak di luar rencana, kita akan tahu lebih dulu.”
Rion mengangguk singkat. “Bagus. Kita selesai di sini.”
Mereka berdua sudah terbiasa bekerja berdampingan dalam keheningan yang tidak canggung. Ada kepercayaan di sana, kepercayaan yang dibangun dari darah, rahasia, dan kesetiaan yang tak pernah diucapkan dengan kata-kata manis. Mereka bukan orang baik, itu fakta yang tidak pernah mereka bantah. Dunia gelap adalah rumah mereka, dan mereka berdiri di puncaknya, bukan sebagai bayangan, tapi sebagai pusat gravitasi yang tidak pernah berhenti memberi ruang untuk keraguan moral.
Saat mereka melangkah keluar gudang, malam sudah turun sepenuhnya. Jalanan belakang kawasan itu sepi, hanya lampu jalan yang berkedip malas, meninggalkan bayangan panjang di aspal retak. Caine mengikuti di belakangnya. Ia menarik mantelnya lebih rapat, bukan hanya karena dingin, tapi karena perasaan tidak nyaman yang tidak bisa ia jelaskan. Angin malam membawa hawa dingin, menyusup ke sela-sela jaket kulit Rion. Ia menyalakan rokok, menghembuskan asap ke udara, lalu berhenti melangkah.
Ada suara. Pelan, terputus-putus, seperti desahan yang tertahan.
Bukan suara mesin, bukan langkah kaki.
Tangisan.
Tangisan itu datang seperti kesalahan kecil di tengah sunyi. Nyaris tak terdengar. Seandainya mereka melangkah satu dua langkah lebih cepat, suara itu mungkin tenggelam oleh bunyi tetes air dari atap seng.
Langkahnya terhenti begitu saja, seolah tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Caine hampir menabraknya.
“Kamu kenapa?” tanya Caine pelan.
Rion tidak menjawab. Dirinya menoleh ke arah gang sempit di sisi gudang. Gelap, sempit, hanya cukup untuk satu orang berjalan. Caine juga mendengarnya, alisnya berkerut samar.
“Dengar itu?” tanya Rion.
Caine mengangguk. “Bayi.”
Satu kata itu terasa asing di telinga mereka.
Rion mematikan rokoknya dengan menekan ujungnya ke tembok. “Aneh.”
“Ayo kita cek,” kata Caine. Nada suaranya tenang, tapi matanya waspada.
Mereka masuk ke gang itu. Bau sampah dan air kotor menyergap, membuat hidung perih. Gang itu sempit, gelap, hanya diterangi cahaya sisa dari lampu jalan. Tangisan itu semakin jelas, semakin dekat, sampai akhirnya mereka melihatnya
Di sudut gang, di antara tumpukan kardus basah, ada satu kardus yang tampak lebih baru. Kardus itu sedikit bergerak, dan dari dalamnya terdengar tangisan kecil yang rapuh, seolah suara itu bisa patah kapan saja.
Rion berlutut. Tangannya yang biasa memegang senjata kini ragu menyentuh kardus itu. Ia membuka penutupnya perlahan.
Di dalamnya, ada bayi.
Tubuh kecil itu dibungkus selimut tipis yang warnanya sudah pudar. Kulitnya pucat, wajahnya mungil dengan pipi kemerahan karena dingin. Rambutnya putih, halus seperti benang sutra, menempel di keningnya yang berkeringat. Matanya terpejam seolah dunia terlalu menyakitkan untuk ditatap. Dan kemudian mata bayi itu terbuka, besar, bulat, berkaca-kaca, menatap ke atas dengan sayu seolah memohon untuk diselamatkan.
Tatapan itu langsung mengenai Rion.
Caine menahan napas. Dadanya terasa sesak.
Di detik itu, dunia mereka mengerut, menyisakan satu titik kecil yang bernapas di hadapan mereka.
love, love at first sight
“Syukurlah… dia masih hidup,” bisik Caine, suaranya gemetar.
Sejenak, dunia berhenti. Tidak ada gudang, tidak ada bisnis gelap, tidak ada darah di tangannya. Hanya tatapan itu, polos dan jujur, tanpa rasa takut, tanpa kebencian, tanpa kepatuhan yang dipaksakan. Mata itu menatapnya seolah Rion adalah satu-satunya hal yang ada di dunia bayi itu.
Tangisan itu mereda, berubah jadi isakan kecil.
“Rion…” suara Caine terdengar ragu. Ia jongkok di sampingnya, mengambil secarik kertas dari dalam kardus. “Ada nama.”
Ia membuka kertas itu perlahan. Tulisan tangan sederhana terbaca jelas.
Mia Eleanor.
“Hanya itu,” kata Caine. “Tidak ada apa-apa lagi.”
“Rion…” suara Caine terdengar ragu, sesuatu yang jarang sekali muncul di nadanya. “Kita tidak bisa…”
Rion tidak menjawab. Ia mengangkat bayi itu perlahan, menopang kepalanya dengan canggung. Tubuh kecil itu hangat, beratnya hampir tidak terasa, tapi justru itu yang membuat dadanya sesak. Bayi itu menatapnya lagi, lebih fokus, dan bibir kecilnya bergerak, seolah mencoba mengenali wajah asing di hadapannya.
Rion merasa sesuatu di dalam dirinya retak.
Selama hidupnya, orang-orang menatapnya dengan takut, tunduk, atau benci. Tatapan-tatapan itu selalu penuh perhitungan. Tapi bayi ini menatapnya tanpa beban, tanpa sejarah, tanpa prasangka. Dan di sana, di balik mata bulat yang berkaca-kaca itu, Rion merasa hidup, untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama.
“Kita tidak bisa menyerahkannya ke polisi,” kata Caine pelan, lebih pada dirinya sendiri. “Kita terlalu terikat dengan terlalu banyak hal. Sekali nama kita muncul…”
“Aku tahu,” potong Rion. Suaranya serak. “Dan kita juga tidak bisa meninggalkannya di sini.”
“Kita juga ga bisa sembarang bawa pulang bayi,” lanjut Caine, berusaha tetap berdiri di atas logika.
Rion menunduk menatap wajah kecil itu. “Kalau kita ninggalin dia di sini, dia mati.”
Hening menyebar di antara mereka.
Akhirnya Caine menghela napas panjang.
Caine menatap bayi itu, lalu Rion. Ada konflik di matanya, antara logika dan sesuatu yang lebih lembut, lebih manusiawi. “Kita laki-laki. Kita tidak tahu apa-apa soal merawat bayi.”
Rion menatap Mia lagi. Bayi itu menggenggam ujung jaketnya dengan jari-jari kecil yang mengejutkan kuat. “Kita belajar.”
Caine terdiam. Angin malam berhembus, membawa suara kota yang jauh. “Ini gila.”
“Mungkin,” kata Rion. “Tapi aku tidak bisa melepaskannya. Lihat dia, Caine. Dia melihatku seperti…” Rion berhenti, mencari kata yang tepat. “Seperti aku bukan monster.”
Caine menelan ludah. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Mia dengan jari yang biasanya dingin. Bayi itu berhenti bergerak, lalu tersenyum kecil, senyum refleks yang sederhana namun menghantam tepat ke jantung.
Caine menoleh. “Kalau kita bawa dia, hidup kita berubah. Total.”
Rion menelan ludah. “Kita… kita nggak bisa ninggalin dia.”
Ia berhenti sejenak, menatap bayi itu lagi. “Kamu yakin?”
Rion mengangguk. “Aku lebih nggak yakin kalau kita pergi dan pura-pura nggak dengar apa-apa.”
Caine mengangguk pelan. “Kalau begitu… kita pulang bertiga.”
Mata Caine mencari wajah Rion, mencoba menemukan keraguan. Tapi yang ia temukan hanya tekad yang sama kerasnya dengan pria itu. Perlahan, Caine mengangguk. “Baik. Tapi kita lakukan ini sepenuh hati.”
Rion menunduk, menyentuhkan dahinya ke kening kecil Mia. “Namanya Mia Eleanor.”
Sejak malam itu, hidup mereka berubah dengan cara yang tidak pernah mereka rencanakan seolah tahu sesuatu telah lahir di sudut gang yang tidak akan pernah tercatat siapa pun.
Mereka berdua pun sepakat membawa bayi kecil itu untuk diperiksa kesehatanya sebelum dibawa pulang. Perjalanan ke rumah sakit terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu lampu kota melintas seperti bayangan, sementara Caine duduk diam, memangku bayi itu tanpa berani mengubah posisi. Setiap napas kecil yang naik turun terasa seperti janji yang harus dijaga.
Rion mengemudi tanpa bicara. Rahangnya mengeras. Pikirannya penuh dengan kemungkinan buruk, dengan hukum, dengan masa lalu yang tidak bersih. Tapi setiap kali ia menoleh, melihat bayi itu masih bernapas, semua keberatan terasa tidak relevan.
hospital light
Lampu rumah sakit menyambut mereka dengan cahaya putih yang terlalu terang. Bau antiseptik menusuk, membuat segalanya terasa asing dan dingin.
Dokter memeriksa dengan cepat namun teliti. Ada detik detik menunggu yang terasa seperti jam. Caine berdiri dekat ranjang kecil itu, tangannya tidak berhenti mengelus selimut. Rion bersandar di dinding, lengannya menyilang, tubuhnya tegang.
“Dia dehidrasi ringan,” kata dokter akhirnya. “Tapi masih kuat. Kalian beruntung membawanya sekarang.”
Caine menghela napas, napas yang seolah tertahan sejak gang itu. Rion mengangguk singkat.
Dokter menatap mereka bergantian. “Bayi ini siapa kalian?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi udara di ruangan terasa menebal.
Caine menoleh ke Rion. Hanya sedetik. Tapi di sana ada ketakutan, ada ego, ada hidup lama yang menolak dilepas.
Rion melangkah maju. “Anak saya.”
Kata itu jatuh dengan berat, tapi juga dengan kejelasan yang mengejutkan. Dokter tidak bertanya lebih jauh. Ia mencatat, mengangguk, lalu pergi.
Caine menatap Rion lama. “Kamu sadar kan apa artinya itu.”
Rion mengangguk. “Iya.”
that was the day you changed my life
Hari hari setelahnya tidak datang dengan keindahan. Rumah besar di pinggiran kota yang dulu terasa dingin kini dipenuhi suara tangisan dan kebingungan yang tidak pernah mereka ceritakan pada siapa pun. Mereka datang dengan kekacauan. Dengan malam tanpa tidur. Dengan tangisan yang tidak selalu bisa dijelaskan. Dengan botol susu yang terlalu panas, lalu terlalu dingin. Dengan popok yang salah pasang dan baju yang basah oleh susu tumpah.
Caine belajar pelan pelan. Ia belajar mengganti popok dengan tangan kaku yang semakin cekatan dari hari ke hari, wajahnya sering mengernyit karena takut menyakiti. Ia duduk berjam jam di tepi ranjang kecil, kadang menggendong Mia sambil bersenandung pelan. Menyanyikan lagu apa saja yang terlintas, suaranya tidak selalu indah, tapi selalu penuh niat menenangkan.
Ia belajar menjadi sosok yang menggantikan peran ibu yang baik dengan kesabaran yang bahkan tidak ia tahu ia miliki. Ia membiarkan dirinya dipanggil mami, membiarkan kata itu tumbuh di dadanya, mengisi ruang yang tidak pernah ia sadari kosong. Tangannya yang biasanya rapi mengurus berkas kini terbiasa mengusap punggung kecil yang menangis, membedakan tangisan lapar dan lelah, menggendong hingga tubuh mungil itu tenang.
Rion belajar dengan cara yang lebih sunyi dengan tetap mengurus dunia luar. Tetap menjadi pria yang ditakuti. Ia masih pria yang sama di luar, tegas, dingin, memimpin dunia gelap dengan tangannya. Tapi di rumah, ia berubah menjadi papi yang diam-diam memperhatikan setiap detail. Ia belajar pulang lebih cepat. Belajar menahan amarah saat bayi itu menangis di saat tubuhnya remuk oleh lelah. Cara menahan panik ketika tangisan terdengar berbeda dan ia belajar bahwa tangan yang biasa memegang dunia dengan kasar kini harus menyangga kepala kecil dengan lembut.
Waktu bergerak tanpa mereka sadari.
Mia tumbuh. Tangisannya berubah menjadi celoteh. Tubuhnya menjadi gembul. Suatu sore, cahaya matahari jatuh lembut ke lantai ruang tamu. Caine duduk di sana, tersenyum, wajahnya lembut oleh kelelahan yang manis.
Ia mengulurkan satu jarinya.
five little finger wrapped around mine
Lima jemari kecil Mia langsung menggenggamnya, erat, seolah takut dunia akan hilang jika ia melepas.
Caine tertawa pelan. Senyum manis yang lahir tanpa disadari. Dadanya sesak oleh rasa yang terlalu penuh untuk ditampung.
Di belakangnya, Rion berdiri diam. Ia melihat semuanya. Hari harinya yang dulu hanya hitam kini punya alasan untuk terang. Ada bayi kecil yang menunggunya pulang.
Ada tawa.
Ada rumah.
Tanpa Mia, ia sadar menemukan ritme hidup yang tidak pernah ia punya.
Mia tumbuh. Ia tertawa dengan ceria, merangkak, lalu berjalan. Rambut putihnya berkilau di bawah cahaya pagi. Matanya cerah ketika memanggil Rion papi dan Caine mami dengan suara cadel, membuat kata-kata itu menjadi mantra yang mengikat mereka bertiga.
“Papi!” teriak Mia suatu pagi, berlari kecil ke arah Rion.
Rion berlutut, menangkap tubuh kecil itu. “Kenapa, dedek?”
Mia terkikik. “Aku seneng.”
“Seneng apa?”
“Seneng jadi anak papi sama mami,” jawabnya polos.
Rion terdiam. Tangannya memeluk Mia lebih erat. “Papi juga.”
Caine berdiri di belakang mereka, tersenyum kecil, matanya hangat.
Ada malam-malam ketika Rion pulang dengan darah di bajunya, wajahnya keras dan mata gelap. Mia akan berlari menghampirinya, memeluk kakinya tanpa takut. Rion akan berhenti, menghela napas, lalu mengangkatnya, membiarkan dunia gelap itu menunggu di luar pintu.
Caine selalu ada di sana, membersihkan luka Rion dengan tangan lembut, matanya penuh kekhawatiran yang tidak pernah ia ucapkan. Mereka jarang bicara soal cinta, tapi di antara mereka ada pemahaman yang lebih dalam dari sekadar kata.
thats when i knew that i would
Tahun demi tahun berlalu. Mia belajar berjalan, jatuh, bangkit lagi. Ia belajar membaca dengan duduk di pangkuan Caine, jari kecilnya mengikuti huruf-huruf. Ia belajar bersepeda dengan Rion yang berlari di sampingnya, tangannya siap menangkap setiap saat. Setiap tawa Mia adalah pengingat bahwa mereka telah menciptakan sesuatu yang murni di tengah dunia yang kotor. Dunia gelap tetap ada, tapi selalu dijauhkan dari langkah Mia. Rion menjaga dari bayangan, Caine menjaga dari dekat. Ia tahu papi dan maminya bukan orang biasa, tapi baginya, mereka adalah rumah.
Rion sering memandangi Mia diam-diam, merasa takut yang aneh. Takut kehilangan. Takut bahwa dunia yang ia bangun dengan kekerasan suatu hari akan menuntut bayaran. Tapi setiap kali ketakutan itu datang Mia akan menatapnya, seperti lagu yang pernah ia dengar samar-samar dan Rion merasa hidup lagi.
love you till the day that i die
Rion tahu. Ia tahu sejak awal. Sejak malam pertama itu. Sejak mata polos menatapnya dari balik selimut tipis. Dari tangisan pertama atau bahkan saat dirinya berlutut di lantai membiarkan Mia menarik rambut ungunya, tertawa kecil saat bayi itu mengoceh tanpa arti, pertanyaan-pertanyaan kecil, hingga suara marahnya sendiri saat Mia melakukan kesalahan dan kemudian memeluknya kembali. Dari sepeda kecil yang ia dorong mengelilingi halaman hingga menjemputnya pulang dari sekolah.
Mia tumbuh menjadi gadis yang cantik. Rambut putihnya tergerai panjang, senyumnya hangat. Ia tahu orang tuanya bukan orang biasa, tapi ia tidak pernah takut. Dunia baginya adalah rumah, selama papi dan mami ada di sisinya.
Hingga suatu hari, semuanya runtuh.
Dunia menagih harga.
Rion terluka. Ia sibuk. Tapi pundaknya harus tetap kokoh. Punggungnya harus tetap kuat. Kalau harus ada yang jatuh, biarlah dirinya. Asal Mia tidak. Ia sudah melindungi Mia dari dunia, dari musuh, dari bahaya, tapi tidak dari takdir.
Caine juga mengorbankan dirinya dengan caranya sendiri. Waktunya. Tidurnya. Kesehatannya. Ia sering lupa makan, lupa istirahat, lupa dirinya sendiri.
Semua demi Mia. Mereka menjaga Mia sebaik yang mereka bisa.
Tidak ada peringatan yang cukup. Tidak ada rencana yang sempurna.
Mia pergi.
take care of you till you walk down that aisle
Rion berdiri di depan peti putih itu, tangannya gemetar. Gaun putih yang dikenakan Mia begitu indah, terlalu indah untuk tempat yang dingin ini. Wajahnya tenang, seperti sedang tidur. Hamparan bunga mengelilinginya, wangi yang menusuk hidung dan hati.
Marah, sedih, kecewa, semua bercampur jadi satu. Rion marah pada dunia, pada musuhnya, pada dirinya sendiri. Ia sudah menjaga Mia sejak malam di gang sempit itu. Ia seharusnya melindunginya sampai akhir. Ia seharusnya menggandeng tangan Mia di altar, melihatnya tersenyum di hari pernikahannya. Ia lebih rela melepaskannya pada orang lain, pada hidup baru, daripada harus berdiri di sini
Rion membayangkan hari itu dapat terjadi nanti. Rambut Mia yang panjang, tak lagi penuh jepit lucu. Gaun pernikahannya putih secantik dirinya yang tersenyum gugup. Tangannya menggenggam tangan Mia, mengantarnya ke kehidupan baru. Caine berdiri di samping, menangis bangga.
Ia ingin Mia dirayakan.
Bukan ini.
Bukan peti kayu.
Bukan bunga-bunga duka.
“Harusnya papi yang gandeng tangan kamu nanti,” suaranya pecah. “Bukan begini.”
Tangannya gemetar menyentuh tepi peti. “Papi masih mau nganter kamu nanti. Masih mau lihat kamu senyum di hari bahagia kamu.”
Ia tertawa kecil, getir. “Dedek bercanda kan? Ga mungkin ninggalin papi duluan.”
Tidak ada jawaban.
Air mata jatuh. “Kenapa dedek pergi? Papi belum siap.”
Tangannya mengepal. Air mata terus jatuh tanpa bisa ia cegah.
“Kenapa dedek pergi duluan… harusnya papi yang jaga kamu.”
Caine berdiri agak jauh, lebih diam dari biasanya. Seolah kabar itu datang terlambat padanya, seolah ia adalah orang terakhir yang tahu. Mata emasnya kosong di balik kacamata, kilau yang dulu hangat kini padam. Air mata mengalir pelan, tanpa suara.
they’ll see the beautiful woman you’ve become
Pemakaman itu sunyi, jenis sunyi yang tidak memberi ruang untuk berpura pura kuat. Hujan turun lagi, halus tapi kejam, menetes pelan seolah tahu bahwa setiap tetesnya sedang jatuh di atas sesuatu yang tak akan pernah bisa diperbaiki. Tanah masih gelap dan basah, gundukan itu belum benar benar menyatu dengan sekelilingnya, seolah dunia pun belum siap menerima bahwa seorang gadis kecil telah kembali padanya.
Rion berdiri kaku, kedua kakinya tertanam di tanah yang dingin. Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, mendesak keluar tapi tidak menemukan jalan. Ia ingin berteriak pada dunia. Ia ingin menunjuk ke arah tanah itu dan memaksa semua orang melihat.
Lihatlah putriku.
Lihat bagaimana ia dicintai.
Lihat bagaimana ia tumbuh dari tangan yang kasar menjadi lembut hanya untuknya.
Ia ingin mengatakan bahwa gadis itu tidak lahir dari rahim mereka, tapi tumbuh dari dada mereka. Bahwa setiap tawa, setiap langkah kecil, setiap mimpi yang belum sempat diucapkan adalah hasil dari cinta yang mereka rawat hari demi hari.
Kini tanah menutup semuanya.
Hujan gerimis turun semakin rapat saat pemakaman benar benar usai. Orang orang mulai pergi, langkah mereka pelan seolah takut merusak kesedihan yang masih menggantung di udara. Beberapa dari mereka berhenti sejenak di dekat Caine, menyuruhnya berteduh, menawarkan payung, menawarkan bahu. Tapi Caine tidak mendengar.
Ia tetap berdiri di sana.
Ia tidak bergerak, tidak bicara, hanya berdiri, membiarkan hujan membasahi rambut merahnya.
Tubuhnya lurus, tangannya menggantung di sisi tubuh, matanya menatap tanah basah yang kini menjadi rumah Mia. Rambut merahnya basah oleh hujan, menempel di pelipis dan lehernya, tapi ia tidak menghapusnya.
Di kepalanya, kenangan berputar tanpa urutan. Tangisan pertama. Malam malam panjang tanpa tidur. Tubuh kecil yang selalu ia peluk setiap kali dunia terasa terlalu besar. Gadis kecil yang tertidur di dadanya dengan nafasnya yang teratur, hangat.
Semua itu seharusnya masih ada.
Rion mendekat perlahan, lalu memeluknya erat. Lebih erat dari sebelumnya. Seolah jika ia melepas, Caine akan runtuh ke tanah bersama hujan.
“Aku di sini,” bisiknya.
Tubuh Caine akhirnya bereaksi. Bahunya bergetar halus, seperti dinding yang selama ini menahan beban terlalu berat dan akhirnya retak.
“Rion…” suaranya bergetar. “Mia… dedek Mia…”
Ia mengangkat tangannya, menutup wajahnya sendiri, seolah tidak sanggup menghadapi kenyataan di hadapannya. Tangisnya tidak langsung meledak, ia keluar perlahan, tercekik, patah patah.
“Anak yang aku rawat…” katanya di sela napas yang berantakan. “Yang aku peluk tiap malam… yang aku bangunin pagi pagi… yang aku bilang hati hati tiap dia keluar rumah…”
“Dia anak kita,” bisik Caine di dadanya, suaranya pecah. “Dia anak kita, Rion.”
Caine menangis di dadanya. “Rion… Mia…”
Rion merapatkan pelukannya, tangannya mencengkeram mantel Caine seolah itu satu satunya jangkar yang ia punya. Tenggorokannya perih, matanya panas, tapi ia membiarkan Caine menangis lebih dulu.
Kalimat itu jatuh di antara mereka, berat, nyata, tak terbantahkan.
while i see my little girl
Di mata mereka, Mia tetap bayi kecil itu. Bayi yang digendong dengan tangan gemetar. Anak kecil yang tertawa saat sepedanya didorong. Gadis kecil yang memeluk mereka tanpa tahu betapa dunia bisa kejam.
Rion memeluknya makin kuat, lengannya mengunci Caine seolah takut kehilangan satu satunya hal yang masih bernapas di pelukannya. Ia menunduk, menyembunyikan wajah di rambut Caine yang basah oleh hujan dan air mata.
Untuk pertama kalinya, pria yang selalu berdiri paling depan, yang selalu memikul segalanya tanpa suara, membiarkan dirinya rapuh sepenuhnya. Bahunya ikut bergetar. Napasnya terpecah. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.
Mereka berdiri di sana, di bawah hujan yang tak kunjung berhenti, dua pria dari dunia gelap yang pernah menemukan cahaya dalam tatapan seorang anak, dan kini harus belajar bernapas tanpa cahaya itu.
Hujan terus turun.
Dan di antara tetes air dan tanah basah, cinta itu tetap tinggal, meski yang mereka peluk kini hanya kenangan.
.
.
.
-The End-
Terima Kasih sudah membaca <3
