Work Text:
“Loh, Satoru? Katanya kamu ada rapat? Kok udah pulang?”
Alih-alih menjawab, sang pemilik nama hanya tersenyum lebar sembari melangkah ke arah pria yang kini sedang menatapnya bingung di sofa ruang tamu. Begitu sampai di hadapan pria tersebut, ia membungkuk, menyodorkan kotak berukuran besar yang sedari tadi ia sembunyikan di balik punggung lebarnya.
“Surprise!”
“Eh?”
Satoru terkekeh geli, raut bingung sang kekasih memang selalu lucu di matanya. Ia kemudian membuka kotak tersebut, memperlihatkan kue berukuran besar dengan beragam jenis buah menghiasi bagian atasnya. Membuat sang kekasih semakin mengernyit.
“Kue?”
Satoru mengangguk antusias. Masih dengan cengiran khas yang terpatri di wajahnya, ia berujar, “selamat ulang tahun, Suguru!”
Suguru mengerjap, terdiam beberapa saat sebelumnya akhirnya tertawa. Satoru pun ikut tertawa dibuatnya, meskipun sedikit tak paham apa yang lucu dari kue yang ia bawa.
“Astaga! Aku kira ada perayaan apa sampai kamu beli kue segede ini,” bahu Suguru sedikit bergetar, masih mencoba meredakan tawanya, “ulang tahunku ternyata, ya? Hahaha.”
“Well, ulang tahun kamu memang termasuk sebuah perayaan buatku. Wajib hukumnya untuk selalu dirayakan,” balas Satoru sambil tersenyum lebar sebelum akhirnya kembali menegakkan tubuhnya dan berbalik, berjalan menuju dapur. “Yuk, makan! Kamu tunggu di meja makan ya, aku siapin dulu.”
Sesampainya di dapur, ia segera mengeluarkan kue dari kotak dan meletakkannya di atas konter. Ia potong kue tersebut menjadi beberapa bagian, meletakkan dua bagian untuknya dan Suguru di atas piring kecil, lalu mengembalikan sisa kue tersebut ke dalam kotak dan menyimpannya di kulkas.
“Nggak usah repot-repot padahal,” ujar Suguru begitu Satoru meletakkan dua piring kue di atas meja makan. “Mana kuenya gede banget. Siapa yang bakal makan sisanya, hm?”
Satoru terkekeh, menarik kursi yang berseberangan dengan Suguru dan mendudukkan tubuhnya, “pasti habis. Nanti aku bagiini ke semua orang di dunia ini. Sekaligus ngumumin kalau pacarku yang paling cantik baru aja ulang tahun,” balasnya sembari mengedipkan sebelah matanya.
Melihat hal itu, Suguru hanya menggeleng kecil sembari menumpu dagunya dengan tangan kirinya. “Ngaco. Kayak kenal semua orang di dunia aja.”
“Ya nanti kenalan, dong!”
Kemudian, mereka berdua tertawa. Bukan tawa terbahak-bahak, tetapi cukup membuat Satoru sedikit meneteskan air mata. Ah, rasanya sudah lama sekali ia tidak tertawa seperti ini. Kapan, ya, terakhir kali ia tertawa sampai menangis?
“Terima kasih, Satoru,” pandangan mata Satoru kembali beralih pada sang kekasih di hadapannya. Tersenyum begitu manis ke arahnya. “Kamu masih ingat ternyata.”
Satoru terdiam, tak langsung membalas ucapan Suguru yang masih tersenyum padanya. Senyum manis nan lembut yang selalu menjadi senyuman favorit Satoru sejak pertama kali mereka bertemu. Cukup lama ia memandangi wajah sang kekasih sebelum akhirnya menundukkan kepalanya.
“Aku...” Satoru berbisik. Suaranya sedikit bergetar. “Aku akan selalu ingat, Suguru. Kamu, ulang tahun kamu, apapun tentang kamu akan selalu aku ingat. Sampai kapan pun.”
Setelah itu, suasana menjadi hening. Kepala Satoru pun masih tertunduk. Bahkan saat Suguru kembali memanggilnya dengan suara lembutnya yang khas.
“Satoru...”
Satoru masih diam, masih dalam posisi yang sama. Hanya saja, kali ini bahunya sedikit bergetar.
“Tetap hidup, ya?”
Saat itu juga, kepala Satoru terangkat. Matanya sekali lagi memandang ke arah Suguru yang masih tersenyum manis di seberangnya. Di balik bingkai foto yang tersender di kursi makan. Tanpa sadar, air mata Satoru mengalir bebas. Membasahi kedua pipinya, jatuh bebas ke punggung tangannya.
Ah, benar. Bukan sosok Suguru yang sedari tadi berbincang dengannya. Bukan sosok Suguru yang sedari tadi tertawa bersamanya. Benar. Benar sekali. Sedari tadi ia memang sendirian di ruangan ini. Di rumah ini. Hanya ditemani bingkai dengan foto sang kekasih di dalamnya. Foto sang kekasih dengan senyuman termanisnya.
Dengan tangan bergetar, ia raih bingkai tersebut. Dipeluknya erat-erat seakan bingkai tersebut adalah sosok asli Suguru. Sosok asli dunianya.
Tak lama, bibirnya pun mulai mengeluarkan isakan kecil. Tubuhnya bergetar semakin kencang. Air mata pun tak berhenti mengalir. Di sela isak tangisnya, bibirnya terus menggumam nama Suguru. Berulang-ulang kali seakan memanggil sang kekasih untuk kembali. Kembali pulang ke pelukannya.
“Aku harus apa tanpa kamu, Suguru.”
Beberapa saat kemudian, tangisnya sedikit mereda. Tubuhnya tak lagi bergetar hebat. Ia pun melonggarkan pelukan pada bingkai foto kekasihnya, memandang sekali lagi wajah cantik berbalut kaca sang kekasih.
“Suguru,” Satoru mengusap lembut bingkai tersebut, “maaf, ya, kamu harus lihat sisi payahku di hari ulang tahun kamu,” ucapnya sembari terkekeh. Lalu secara perlahan, dibawanya bibirnya mendekati permukaan kaca. Mengecup bingkai itu tanpa ragu.
“Selamat ulang tahun, Suguru. Cinta dan cantikku selamanya.”
