Chapter Text
Pagi selalu datang lebih cepat bagi Akashi Seijuurou.
Bukan karena ia terbiasa bangun lebih awal, melainkan karena dunia tidak pernah benar-benar memberinya kesempatan untuk tidur tanpa tuntutan.
Lampu-lampu studio sudah menyala bahkan sebelum matahari memanjat langit Tokyo. Cahaya putih itu dingin, steril, dan kejam—seperti sepasang mata yang menilai tanpa pernah benar-benar ingin memahami. Di dalam ruang latihan yang dindingnya dilapisi cermin setinggi langit-langit, pantulan tubuh Akashi terbelah menjadi puluhan versi dirinya sendiri. Semuanya sempurna. Semuanya tersenyum dengan sudut yang sudah diukur.
"Sekali lagi dari delapan!" teriak koreografer.
Akashi menurut.
Tubuhnya bergerak mengikuti irama—tepat, presisi, tanpa satu pun gerakan yang berlebihan. Setiap langkah adalah hasil perhitungan. Setiap ayunan tangan adalah keputusan yang telah disetujui banyak orang sebelum akhirnya jatuh ke tubuhnya.
Idola Akashi Seijuurou tidak boleh salah.
Ia adalah pusat inti pertunjukkan. Ia adalah porosnya. Ia adalah matahari yang tidak boleh redup.
Dan matahari, seperti yang semua orang tahu, tidak memiliki kemewahan untuk beristirahat.
Nama Akashi Seijuurou bagi dunia adalah merek.
Bukan sekadar manusia.
Di layar LED raksasa Shibuya, wajahnya muncul berulang kali: iklan minuman energi, parfum, album terbaru. Senyum yang terlihat sempurna. Tatapan yang sama. Seolah dunia hanya mengenalnya lewat satu ekspresi yang dibakukan.
"Akashi-kun, wawancara lima menit lagi." Manajernya, Momoi Satsuki, menyodorkan tablet dengan jadwal yang padat.
"Aku tahu," jawab Akashi tenang.
Tenang selalu menjadi cirinya.
Ia duduk di kursi ruang tunggu, membiarkan penata rambut merapikan helai merahnya dengan tangkas. Di sekelilingnya, staf berlalu-lalang seperti bayangan. Semua bergerak untuknya. Semua bergerak karena namanya.
Namun, di antara semua hiruk-pikuk itu, ia merasa sendirian.
Akashi memandang pantulan dirinya di cermin. Mata heterokromatik itu menatap balik—tajam, dingin, nyaris tidak manusiawi.
Ia bertanya-tanya kapan terakhir kali seseorang memanggil namanya tanpa maksud tertentu.
Tanpa kontrak. Tanpa kamera. Tanpa tuntutan.
Ia hanya mengingat satu nama,
Tetsuya.
Dulu, sebelum dunia memutuskan bahwa Akashi Seijuurou harus bersinar seterang matahari, ada seorang anak laki-laki yang sering duduk bermain bersamanya di ayunan taman dekat rumahnya.
Di bawah langit sore berwarna jingga dan di antara cat ayunan yang mengelupas, Akashi kecil mengayunkan kakinya pelan, sementara di sampingnya, Kuroko Tetsuya memegang es krim yang hampir mencair.
"Akashi-kun,"
"Hm?"
"Kalau aku menghilang, Akashi-kun masih bisa melihatku, kan?"
Akashi menoleh, alisnya berkerut. "Pertanyaan aneh. Kenapa kau tiba-tiba menghilang?"
Kuroko menunduk, memandangi es krimnya. "Aku sering tidak diperhatikan oleh orang."
Akashi mengernyit lebih dalam. Ia tidak mengerti konsep itu saat itu. Dunia selalu memperhatikannya. Dunia selalu menatapnya.
"Kalau begitu," kata Akashi kecil dengan keyakinan mutlak, "aku akan melihatmu."
Kuroko terdiam.
Lalu tersenyum kecil.
Itu janji yang sederhana. Terlalu sederhana untuk bertahan di dunia orang dewasa. Namun hati Akashi masih mengingat senyum manis milik anak laki-laki berambut biru itu.
Akashi tidak ingat kapan tepatnya jarak itu tercipta.
Mungkin saat ia masuk dunia hiburan di awal masa pubernya.
Mungkin saat namanya mulai dikenal.
Atau mungkin sejak awal, jarak itu memang tak terelakkan. Keduanya bagai dua poros magnet yang bertolak belakang. Akashi yang selalu menjadi pusat perhatian, dan Kuroko yang selalu terhindar dari perhatian.
Namun yang ia tahu, Kuroko Tetsuya tidak pernah lagi berdiri di sampingnya.
Ia selalu berada sedikit ke belakang.
Sedikit ke samping.
Selalu di luar bingkai dari kamera yang menangkap sosok Akashi Seijuurou.
"Akashi-kun, fansign hari Minggu ini sudah penuh." Momoi tersenyum, profesional.
"Ya." jawab Akashi.
Fans.
Mereka memanggil namanya dengan cinta yang berisik. Mereka menangis. Mereka berteriak. Mereka berkata bahwa Akashi adalah cahaya hidup mereka.
Akashi menerima semuanya dengan senyum yang sama.
Namun, di antara ribuan wajah itu, ia tidak pernah menemukan satu yang ia cari.
Malam datang, dan konser selesai dengan gemuruh yang memekakkan telinga.
Lampu sorot padam satu per satu. Tepuk tangan masih menggema saat Akashi berdiri di tengah panggung, menunduk dalam.
"Terima kasih," katanya ke mikrofon.
Suara yang lembut dan hangat itu berkontras dengan hatinya yang dingin karena ia kembali tidak menemukan sosok yang ia cari di antara hiruk pikuk manusia di area konser itu.
Entah apa yang membuatnya masih memiliki harapan bahwa Tetsuya akan ada dan mendukungnya di panggung idola yang ia pilih.
Di sisi lain kota, jauh dari sorot kamera dan cahaya panggung, Kuroko Tetsuya merebahkan dirinya di kamar kecilnya dengan lampu mati dan tirai yang tertutup.
Hanya layar ponsel yang menyala menyinari ruangan tersebut.
Situs sosial media dibuka, video fancam Akashi Seijuurou diputar dengan suara kecil, dengan Kuroko menatap layar dengan saksama.
Tangannya menggenggam ponsel erat.
Ia tahu posisinya.
Ia bukan siapa-siapa.
Ia hanyalah seorang teman masa kecil yang harus tahu diri.
Seorang penggemar yang tidak boleh terlihat.
Karena jika ia terlalu dekat,
jika ia menunjukkan bayangannya,
maka cahaya itu bisa tercemar.
Dan Kuroko lebih memilih menghilang, daripada menjadi noda di nama Akashi Seijuurou.
Di layar, Akashi tersenyum ke arah lautan manusia.
"Akashi-kun," bisik Kuroko pelan.
Ia mematikan layar dan gelap kembali menyelimuti kamar.
Akashi Seijuurou berhenti berlari saat napasnya mulai terasa asing di dada sendiri.
Ia menekan pintu darurat gedung agensi, membiarkannya tertutup kembali dengan bunyi logam yang teredam, lalu bersandar sebentar—topi ditarik lebih rendah, syal dililitkan menutup separuh wajah. Musim dingin yang kejam membuatnya menggigil kedinginan, tapi ia lebih memilih gigil daripada merespons suara ponsel yang tak henti bergetar di saku mantel.
Momoi.
Tentu saja.
Ia tidak mengangkatnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Akashi memutuskan untuk tidak patuh.
Langkah kakinya membawa ia menyusuri trotoar dengan kepala tertunduk. Saat ini, ia hanyalah seorang pria muda yang kelelahan, bukan ikon bintang dengan jadwal padat dan senyum wajib. Ia berhenti di sebuah kafe kecil di sisi jalan—kafe kecil dengan papan nama Miracle in a Coffee.
Bel pintu berdenting lembut dan hangat menyambutnya.
Aroma kopi dan kayu manis merambat pelan, menyelinap ke penciumannya. Akashi memesan satu kopi hitam biasa tanpa gula. Seperti biasa.
Di ujung kafe, seorang pemuda berambut biru pucat duduk dengan buku terbuka. Punggungnya sedikit membungkuk, bahu santai. Dunianya terfokus kepada buku di depannya.
Kuroko Tetsuya.
Akashi tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenalinya.
Benar-benar Miracle in a Coffee, pikir Akashi.
Langkahnya ringan, hampir ragu—lalu berhenti tepat di depan meja itu.
"Tetsuya," panggil Akashi.
Kuroko mengangkat kepala. Sejenak, matanya melebar, lalu kembali datar seperti biasa.
"Akashi-kun," jawabnya.
Akashi duduk begitu saja di hadapannya.
Kuroko menutup bukunya perlahan.
“Tumben?” tanyanya datar.
Akashi tersenyum kecil. “Aku sedang libur.”
Itu bohong, Kuroko tahu. Tapi ia tidak membantah.
Suara langkah kaki mendekat, seorang waiter dengan rambut merah menghampiri meja mereka, membawa cangkir kopi.
“Kopi hitam, uh, tuan.” katanya.
“Ya.” jawab Akashi.
“Terima kasih, Kagami-kun.” Kuroko menoleh.
“KUROKO?! SEJAK KAPAN?!”
“Sedari tadi, Kagami-kun.” Jawab Kuroko sambil menyeruput teh susu.
Kagami menghela nafas, “Kau selalu saja mengagetkanku. Ya sudah, aku balik bekerja dulu.”
“Semangat, Kagami-kun.” Jawab Kuroko.
Akashi diam memerhatikan. Ada sesuatu di cara mereka berbicara—ringan, akrab.
Tangannya mengepal tanpa ia sadari.
“Temanmu?” tanya Akashi sambil melihat Kagami pergi.
“Teman satu kampus, kami bertemu di klub basket kampus.” Jelas Kuroko.
Akashi mengangguk, diam sejenak. Tangannya menggenggam pegangan gelasnya dengan erat.
“Tetsuya.”
“Ya, Akashi-kun?”
“Kenapa kau tiba-tiba pergi begitu saja dan sekarang ketika kita bertemu, kau tampak biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa?”
Kuroko terdiam, menatap salju di luar jendela yang jatuh perlahan.
“Kau juga menghindariku sejak aku debut sebagai idola. Kenapa?” Akashi kembali bertanya, mendesak.
Kuroko menatap cangkir kopi di meja Akashi. “Aku tidak ingin mengganggu Akashi-kun.”
“Mengganggu? Untukmu tidak pernah ada kata mengganggu, Tetsuya. Kita sudah mengenal satu sama lain sedari kecil.”
“Aku tidak ingin mencemari namamu.”
Akashi tertawa kecil—kering. “Kau pikir aku sebersih itu?”
Kuroko menggeleng. “Aku tahu dunia showbiz itu kejam. Satu skandal saja bisa menjadi fatal untukmu.”
Akashi mencondongkan tubuhnya, suaranya rendah. “Kau tahu aku baru saja meraih mimpiku dalam karier musik dan kau menghilang di saat aku ingin kau melihatku.”
Aku melihatmu, Akashi-kun. Namun pikiran itu tidak berani Kuroko ungkapkan. Ia diam menatap bayangan Akashi di kopi hitamnya, tidak berani menatap mata heterokomnya langsung karena ia tahu: dirinya tidak bisa berbohong di depan Akashi.
“Di akhir SMP kau tiba-tiba pindah tanpa memberitahuku dan aku tidak tahu cara menghubungimu kembali. Aku bahkan tidak tahu alamat surelmu karena kita selalu bersama.” Akashi terdengar putus asa, Kuroko bisa merasakannya.
“Bukankah kita ini teman?”
Kuroko tertohok.
Perasaan yang selama ini ia kubur lama kini muncul kembali.
Ia tidak ingin hanya menjadi teman. Ia tahu perasaan ini tabu, laki-laki tidak bisa menyukai sesama laki-laki. Apalagi jika yang disukainya adalah idola.
Satu skandal.
Satu skandal saja menyentuh Akashi Seijuurou, Kuroko tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Kuroko ingin saja mengatakan bahwa ia memuja Akashi, kamarnya penuh dengan merchandise official Akashi Seijuurou. Namun ia takut bila Akashi Seijuurou menatapnya dengan rasa jijik karena hal itu.
Kuroko hanya bisa diam, matanya hanya tertuju ke arah meja dan minuman di depannya.
“Sejak kapan kau jadi bisu?” ujar Akashi, kesal.
“Aku tidak bisu.” Jawab Kuroko datar.
“Kalau begitu, jawab.”
“Sulit menjelaskannya, Akashi-kun” dalih Kuroko.
Hari ketika Akashi memberitahunya dengan senyum yang lebar, bahwa ia diterima debut oleh agensi Rakuzan setelah audisi, Kuroko ingat dirinya ikut tersenyum.
“Aku akan debut, mimpiku akan menjadi nyata, Tetsuya!” ujar Akashi senang.
Kuroko ingat bagaimana dadanya menghangat. Ia ingat bagaimana ia mengucapkan selamat dengan suara datar yang tidak mampu memuat seluruh rasa bangganya.
Ia ikut senang, benar-benar senang.
Awalnya.
Namun, hari-hari berikutnya perasaannya menjadi sedikit campur aduk.
Akashi menjadi lebih sibuk dan waktu mereka bersama menjadi semakin jarang, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dan setiap Kuroko berada di sisi Akashi, kini muncul tatapan-tatapan baru yang ikut menempel.
Perempuan-perempuan yang tersenyum dan memanggil Akashi dengan nada yang berbeda. Kuroko melihat bagaimana mereka bergelayut, mencoba menarik perhatian Akashi Seijuurou sang idola di sekolah.
Kuroko mulai merasa tidak nyaman.
Bukan karena Akashi, melainkan karena dirinya sendiri. Ia menyadari: ia tidak suka dengan keberadaan perempuan-perempuan itu.
Perasaan itu datang tanpa izin dalam hatinya. Berat, bagai racun yang meracuni hati dan pikirannya.
Bersamaan dengan itu, omongan-omongan mulai bermunculan seiring Akashi menjadi pusat perhatian.
Siapa itu anak biasa saja yang selalu berada di samping Akashi?
Kuroko mendengarnya, ia selalu mendengar.
Sejak saat itu, ia takut. Kuroko takut berada terlalu dekat dengan Akashi Seijuurou. Ia takut dengan tatapan orang yang melihatnya di sisi Akashi. Takut pada gosip yang belum lahir, namun mungkin lahir.
Lebih dari itu—ia takut pada perasaannya sendiri. Perasaan busuk yang meracuni pertemanan keduanya.
Ia tahu, jika ia terus berdiri di samping Akashi, suatu saat ia, dan mungkin, Akashi, akan tergelincir.
Dan Akashi Seijuurou tidak boleh jatuh hanya karena dirinya.
Maka Kuroko mundur.
Keluar dari bingkai kamera yang menangkap sosok Akashi Seijuurou.
Ia memilih menjadi bayangan yang jauh dari cahaya sang idola.
Kafe kembali masuk ke fokus pandangnya, dengan Akashi masih duduk di depannya.
Kopi hitam yang hangat kini mulai mendingin, seiring percakapan mereka.
Akashi kembali mengangkat suara. “Bukannya dulu kau yang ingin aku melihatmu saat tidak ada yang melihatmu?” suara Akashi rendah. “Aku juga ingin kau melihatku, Tetsuya.”
Kuroko mengangkat kepalanya, dan mata mereka bertemu untuk pertama kalinya sejak mereka duduk berhadapan.
“Aku melihatmu, Akashi-kun,” katanya akhirnya. “Namun aku tidak bisa berada di sampingmu.”
Akashi mengernyit. “Kenapa?”
Kuroko menarik napas kecil.
“Aku tahu bahwa dunia tidak akan membiarkan seorang Akashi Seijuurou memiliki seseorang di sisinya.” Ujarnya pelan.
“Siapa bilang? Aku tidak pernah bilang—”
“Aku tidak ingin menjadi celah di hidupmu, Akashi-kun.” Potong Kuroko.
“Tetsuya….” Akashi bingung, mengapa begitu sulit bagi Kuroko untuk terus berada di sisinya seperti biasa. Mengapa ia harus menyingkir dari hidup Akashi hanya karena kini Akashi Seijuurou menjadi idola.
Kuroko menatap meja, matanya tertuju kembali kepada pantulan Akashi Seijuurou di kopi hitamnya.
“Jikalau aku tetap di sisimu,” katanya pelan, “Aku tidak akan bisa berhenti menginginkan lebih.”
Mesin kopi berdengung dari jauh mengisi keheningan di antara keduanya. Kuroko menatap keluar jendela, melihat salju yang terus terjatuh di balik kaca.
“Aku tidak bisa menjadi temanmu lagi, Akashi-kun.”
Akashi tertegun.
“Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri lagi, Akashi-kun.”
Dan untuk pertama kalinya sejak perasaan itu tumbuh, Kuroko memberanikan diri mengutarakan perasaan yang selama ini ia simpan di balik wajah datarnya.
“Aku mencintaimu, Akashi-kun.” Ujar Kuroko lirih, matanya menatap Akashi dengan beribu perasaan.
Akashi terdiam, kehilangan kata-kata.
“Aku hanya ingin kau bersinar tanpa beban, Akashi-kun. Tanpa diriku.” Lanjutnya.
“Tetsuya….” Akashi tidak tahu harus merespons seperti apa.
“Itu saja, maafkan aku, Akashi-kun.” Kuroko berdiri, membungkuk kecil, lalu berjalan pergi.
Meninggalkan Akashi dengan kopi pahit dan jarak yang kembali muncul di antara mereka.
