Work Text:
Slow down, slow down. Relax. C'mon, c’mon.
Don't you worry, no need to hurry.
Just for today, let it go.
Everyone has nights.
Where their traumas won't go away.
Even that is drama, no need to hide it.
.
Babak akhir Battle of Unity resmi berakhir dengan kekalahan BAE dari Akanyatsura. Tim Revengers keluar sebagai juara. Artinya cozmez, AMPRULE, VISTY, dan Akanyatsura akan tampil di Triumph Live. Acara penutup yang akan dikelola langsung oleh BAE.
Benar, Before Anyone Else.
Sebagai pemenang turnamen sebelumnya, BAE masih memegang hak eksklusif untuk mengelola Club Paradox. Mereka juga yang mengajukan proposal Battle of Unity sebagai kelanjutan kompetisi. Karena itu, tanggung jawab untuk menyelenggarakan acara penutup masih berada di pundak mereka.
Peran BAE belum berakhir.
Tapi lupakan dulu. Sesekali beristirahat setelah perjalanan berat juga perlu.
Denting alat makan yang beradu perlahan surut, menyisakan keheningan yang nyaman di ruang makan. Dua dari mereka menyandarkan punggung ke kursi, menghela napas panjang karena kekenyangan. Sementara sang koki hanya memperhatikan sambil tersenyum tipis.
“Uwaa.. masakan Hajun hari ini rasanya enak banget!”
“Na, Hajun! Kamu lagi seneng ya?”
Pemuda berambut pirang itu hanya menyesap teh hijau yang masih hangat. “Itu sih kalian yang kelaparan. Apa kalian nggak makan tadi?” Tatapannya memandang yang berambut paling panjang di depannya. “Anne, kalau mau berangkat part time, jangan lupa tata piringnya di mesin. Bilas dulu sebelum dimasukin.”
“Iya iyaa, maa.. Nanti habis makanannya turun. Aku juga libur kok.” Sahut Anne santai sambil membiarkan rambut panjangnya menjuntai di sandaran kursi.
Hajun memicingkan matanya, “Aku bukan mamamu.”
“Eh bentar. Aku ninggalin gelas di kamar.” Pemuda lain berambut merah gelap beriris senada beranjak dari kursi, kemudian berjalan ke kamarnya.
“Aku heran, apa dia nggak takut peralatan musiknya ketumpahan.”
“Kalau ketumpahan nanti juga ribet sendiri.”
Anne menggumam setuju, sebelum memaksa dirinya bergerak. Ia mulai menumpuk segala alat makan yang selesai mereka gunakan. Akan lebih baik kalau dirinya selesai menata sebelum Allen datang. Dia bisa menyuruh Allen, langsung meletakkan saja di mesin cuci piring sekalian menyalakannya.
Sayang sekali. Baru setengah jalan Anne membilas, Allen sudah datang dengan tangan penuh gelas dan meletakkannya wastafel. “Sudah. Makasih, cantik.”
“Muji doang, bantuin dong!” Anne menatap kesal, sebelum kembali pada alat makan. Sampai ia sadar betapa banyak kafein yang dikonsumsi si maniak musik itu. “Len, kamu nggak niat bunuh diri kan?”
Allen yang baru saja duduk di sofa, hanya menatap remot TV yang digenggam. Baru setelah Hajun memanggilnya, ia menoleh. “Huh?” Oh, lihatlah wajahnya yang tampak bodoh itu. “Enggak lah! Aku masih punya banyak hal belum kecapai!”
“Iya nggak bunuh diri, tapi numpuk penyakit.”
“Kalau kamu mati duluan, aku sebar fotomu sama mantanmu! Sekalian foto-foto aibmu semua!”
“Oi!”
Hajun beranjak untuk membilas cangkir bekas teh sebelumnya. “Allen, aku tau kamu frustasi karena kalah dari Akanyatsura,” Ia menjeda kalimatnya, untuk memberikan cangkir itu pada Anne yang masih menata alat makan. “tapi bukan berarti kamu ngurung diri terus-terusan. Justru di Triumph Live kita harus buktiin diri sebagai penyelenggara.” Netranya menatap dingin Allen.
“Hajun, tatepanmu nyeremin.”
Hajun melanjutkan ucapannya, “Ditambah.. ‘dia’ liat kamu kalah kemarin.”
Allen mendecak kesal, sebelum memalingkan wajahnya. Ia memilih menyalakan TV. “Siapapun itu, heads ya heads. Nggak lebih. Lain kali, kita bakal ngalahin Akanyatsura. Aku bakalan bikin track yang sempurna! Lebih catchy, lebih ikonik! Sampai semua orang selalu kepikiran kita!”
“Ooo?”
Pandangan Anne dan Hajun saling bertemu, seolah memahami satu sama lain mereka tersenyum lebar. Benar, ini si fanatik hip-hop yang mereka kenal. Allen yang selalu ingin membuktikan dirinya pada dunia. Pemuda yang menarik mereka terjun ke dunia, dimana keduanya bisa menjadi diri mereka sendiri.
“Kayaknya kita udah lama nggak manggung di luar kompetisi. Kebetulan aku dapet tawaran manggung di Hotel de Nox. Gimana?”
Begitu mendengar nama itu kedua mata Anne langsung berbinar. “Eh? Hotel de Nox yang terkenal di luar kota itu? Katanya cuma kalangan elit yang bisa manggung disana. Kok bisa?! Terimalah, masa ditolak!”
Hajun terkekeh, kemudian mengangguk. “Anggep aja kalian dapet dari jalur dalam. Mereka sebenarnya udah ngabarin dari tengah pas kita turnamen, tapi aku minta buat tunda jawaban. Disetujui, dan bakal nunggu sampai kita kirim kabar lagi.”
Allen kembali menoleh, “Huh???”
“Kamu nggak tau?! Itu loh yang kita sempet lewat, terus kamu bilang, ini hotel atau mansion mewah? Besar banget. Hajun jawab, aku pernah nginep disitu. Kamu cuman melongo doang..”
“...”
“Pokoknya yang itu. Udah nggak usah peduliin dia! Terima aja, Hajun! Tempat itu punya standar yang gila! Kalau kita manggung di sana, reputasi BAE bakal naik pesat!”
“Gimana? Gimana??”
“Shut up! Kita nggak boleh lepasin kesempatan super rare ini! Aku ngewakilin Allen, terima!!”
“Eh? Lho? Tunggu dulu!!”
Di sisi lain Hajun hanya tertawa kecil. Hatinya berharap momen-momen seperti ini tidak akan berakhir. Selama mereka bertiga, saling memahami, ia akan berusaha menjaga kehangatan ini selama mungkin.
