Actions

Work Header

Backburner?

Summary:

Juno is the silent fixture in Edward’s world—the one friend who knows him better than anyone, yet always remains a secondary thought. Trapped in a loop of late-night talks and blurred boundaries, Juno settles for being Edward's "safe place," even if it means watching him fall for everyone else while he unknowingly breaks Juno's heart.

Notes:

Honestly, I’m still lowkey figuring out how this story ends. My initial plan was just to write something purely based on NIKI’s Backburner (which I’ve literally played on repeat until I’m sick of it, lol). And I know the backburner life is usually 100% pain, but I really don’t want to see Juno suffer alone the whole time. My heart can’t take it! I’m still overthinking the plot, so we’ll see where this goes.

Chapter 1: Chapter One

Chapter Text

 

 

Pukul sembilan lewat lima belas malam. Kamar Juno sudah remang, hanya menyisakan pendar putih dari layar laptop yang menampilkan kursor berkedip malas. Hanya ada suara dengung AC yang monoton dan detik jarum jam dinding yang menyelinap masuk ke rungu Juno.

 

Juno menghela napas, matanya perih menatap draf tugas Bahasa Inggris di layar. Analytical Exposition. Topiknya bebas, tapi sudah satu jam Juno hanya menatap judul yang baru ia ketik setengah: "The Impact of..."

Dampak apa? Dampak terlalu lama menunggu seseorang? Dampak menjadi orang yang selalu ada tapi nggak pernah dianggap? Juno menggeleng, mencoba mengusir pikiran konyol itu.

Sampai ponselnya yang tergeletak di atas buku paket tebal itu bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Edward.

 

Juno sudah hafal polanya. Jam segini, Edward hanya akan mencarinya untuk dua alasan: kalau dia sedang kesepian karena dunianya sedang sepi, atau kalau dia baru saja kalah telak dalam perebutan hati perempuan atau laki-laki lain—dan butuh Juno untuk membalut egonya yang terluka.

 

"Jun," suara di seberang sana terdengar serak. "Belum tidur, kan?"

 

Juno melirik lagi kursor yang berkedip di tugas Bahasa Inggrisnya. Dia punya seribu alasan untuk bilang dia lagi sibuk belajar buat persiapan olimpiade nasional atau sudah mau tidur. Tapi, Juno ya adalah Juno.

 

"Belum," jawab Juno pelan. "Lagi ngerjain tugas dari Miss Tiffany."

 

"Good."

 

Juno memejamkan mata. Selalu good. Seolah-olah bagi Edward, dunia akan tetap berputar selama Juno masih ada di tempat yang sama—seperti ban serep yang siap dipasang kapan saja saat ban utamanya bocor di tengah jalan.

 

"Kenapa, Ed?" tanya Juno. Suaranya terdengar stabil, intonasi yang pas digunakan untuk menenangkan orang lain, padahal jemarinya kini sibuk mencabuti pinggiran stiker di pojok laptopnya sampai terkelupas.

 

Ada helaan napas panjang di ujung telepon. "Gue capek deh, Jun."

 

Hening sejenak ..

 

“Jun?” tanya Edward, setelah sekian detik tidak ada respon dari Juno.

 

"Berantem lagi?" tanya Juno pelan. Dia tidak perlu bertanya "siapa", karena di semesta Edward, saat ini hanya ada satu matahari yang bisa membuat dunianya panas atau redup seketika.

 

Hening kembali menyergap. Juno bisa membayangkan Edward sedang duduk di balkon kamarnya, mungkin sambil menatap jalanan aspal di bawah sana dengan tatapan kosong.

 

"Lo tahu, kan, gimana rasanya kalau lo udah usaha jadi yang terbaik, tapi ujung-ujungnya tetep dianggap angin lalu? Kayak disepelekan gitu.." suara Edward merendah.

 

Juno tersenyum getir ke arah kegelapan kamarnya. Gue tahu, Ed. Gue tahu banget. Matanya terasa panas, tapi ia memaksa dirinya untuk tetap bernapas teratur. Jean—atau siapa pun nama yang sedang Edward agungkan bulan ini—membuat Juno merasa seperti catatan kaki yang nggak penting; ada di sana, tapi nggak pernah benar-benar dibaca.

 

Juno perlahan menarik kakinya ke atas kursi, menekuk lutut hingga menyentuh dada, lalu memeluknya erat-erat. Dia cuma butuh tumpuan, karena rasanya dadanya mendadak terlalu kopong untuk menampung suara Edward yang lagi-lagi patah hati karena orang lain.

 

"Cerita aja," kata Juno, suaranya pelan tetap terdengar lapang. "Gue dengerin kok, Ed." Selalu seperti ini.

 

Dan Edward pun bercerita. Dia menumpahkan segala kekesalannya tentang pertengkaran yang tak masuk akal, tentang perasaannya yang tidak dihargai, dan tentang betapa dia merasa tidak ada orang yang benar-benar memahaminya di sekolah maupun di rumah.

 

Juno mendengarkan. Dia menjadi wadah penampung sampah emosional yang paling setia. Dia tidak memotong, tidak menghakimi, meskipun hatinya sendiri sedang dicubit rasa sakit yang familiar. Sakit karena tahu bahwa dia hanyalah tempat mampir saat Edward sedang terluka, bukan tujuan saat Edward sedang di puncak bahagia.

 

"Ya gitu deh Jun ceritanya, makasi ya udah mau dengerin sampe malem banget gini.” Tutup Edward pada keluh kesahnya malam ini. “Kayaknya emang dari lahir, cuma lo deh Jun yang ngertiin gue," gumam Edward. Suaranya melunak, biasanya sih berhasil membuat Juno merasa spesial. Seperti merasa dirayu.

 

Juno terdiam. Matanya beralih dari layar laptop ke sebuah papan corkboard di dinding kamarnya. Di antara deretan jadwal les dan catatan rumus yang membosankan, terselip sebuah foto yang di-pin dengan jarum warna-warni. Foto kelulusan SMP dua tahun lalu. Di sana, mereka berdua mengenakan seragam, tersenyum lebar ke arah kamera. Di foto itu, tangan Edward merangkul bahu Juno dengan santai. Lucu ya, dasar remaja.

 

Dan kalimat “cuma lo deh Jun yang ngertiin gue” bukan hal baru. Edward sudah mengatakannya ribuan kali, dalam berbagai versi, sejak mereka masih sering tukar-menukar bekal di pojok kelas TK. Sejarah mereka terlalu panjang untuk diringkas. Edward adalah orang yang sabar memegangi setang sepeda di jalanan kompleks saat Juno belajar keseimbangan, dan Edward juga yang dulu rela jarinya kapalan demi mengajari Juno kunci-kunci gitar dasar sampai dia bisa.

 

Edward juga selalu mengatakannya dengan nada tanpa beban, seolah itu adalah hak paten yang otomatis dia dapatkan karena mereka sudah bersama seumur hidup. Dia nggak tahu kalau sejarah panjang mereka justru jadi penjara buat Juno. Namun, ya salah Juno sendiri yang juga malah menikmatinya.

 

Juno menelan ludah, tenggorokannya terasa kaku dan perih, seperti ada bongkahan duri yang tersangkut di sana.

 

"Iya, Ed," jawab Juno akhirnya. Pendek saja, karena kalau lebih panjang sedikit, dia takut suaranya akan pecah dan merusak belasan tahun pertemanan yang dia jaga mati-matian.

 

Juno tahu dia baru saja berbohong. Dia nggak benar-benar mengerti kenapa Edward sebodoh itu mengejar orang lain, sementara ada Juno di sini. Yang Juno mengerti cuma satu: gimana rasanya mencintai seseorang sejak kecil sampai dia lupa caranya berhenti. Dia nggak sanggup membiarkan Edward sendirian, meskipun itu artinya dia harus membiarkan dirinya sendiri kesepian di sisi telepon yang lain.

 





***




Dua hari kemudian, mereka berakhir di sebuah kafe di daerah Cilandak. Bukan pertemuan yang direncanakan sejak semalam, semuanya selalu mendadak. Hanya dimulai dengan satu baris pesan singkat yang kasual.

“Lo lagi di mana?”

Lalu dibalas dengan, “Lagi di tempat biasa, nih.”

Sederhana, tapi cukup untuk membuat Juno membatalkan niatnya pulang ke rumah dan memilih menembus macetnya sore Jakarta sepulang dari les.

 

Juno melangkah masuk, disambut aroma kopi dan lagu lo-fi yang mengalun pelan. Di pojok ruangan, Edward sudah duduk dengan laptop terbuka dan satu earphone terpasang di telinga kiri. Seragam putih-abunya sudah tersembunyi di balik hoodie hitam yang lengannya digulung sampai siku, menampakkan urat-urat tangan kurusnya yang menonjol saat jemarinya menari di atas keyboard. Di samping laptopnya hanya ada satu gelas americano yang es batunya sudah hampir mencair seluruhnya—tanda dia sudah di sana cukup lama.

 

Juno duduk di hadapannya, lalu meletakkan sebuah kantong kertas bermerek toko donat populer yang tadi sempat ia singgahi di jalan.

“Nih,” Juno menggeser kantong itu ke atas meja, menutupi tumpukan kertas cakar-cakar Kimia milik Edward. “Gue lewat depan tokonya tadi, antreannya lagi sepi.”

Edward mendongak, matanya seketika berbinar. Tanpa basa-basi, dia melepas earphone-nya. “Demi apa, Jun? Gue dari tadi laper banget asli, tapi males milih menu. Eh ini, Classic Glaze kan?”

“Iya, semuanya. Gue tahu lo nggak bakal mau kalau ada topping aneh-anehnya,” jawab Juno. Dia sendiri kemudian memanggil pelayan untuk memesan Iced Mochaccino, sekadar agar dia punya alasan untuk tetap duduk di sana.

 

Edward tersenyum lebar. Tiba-tiba saja, Edward mengulurkan tangan, lalu dengan sangat santai ia mengacak rambut Juno pelan, sebuah afeksi natural yang sering ia lakukan sejak kecil.

 

“Lo emang terbaik sih Jun, juara,” ucap Edward. Tangannya turun, tapi tidak langsung menjauh; ia sempat mencubit pipi Juno gemas sebelum menarik tangannya kembali untuk mengambil donat.

 

Juno terpaku sejenak. Sentuhan itu terasa hangat di kulitnya, tapi dingin di hatinya. Edward melakukannya seolah itu hal biasa di antara teman, tanpa tahu kalau di dalam kepala Juno, kembang api baru saja meledak dan menyisakan abu yang perih.

 

“Biasa aja kali, tadi kebetulan gue lagi lewat tokonya terus ada promo aja sih,” dusta Juno. Matanya pura-pura sibuk mencari handphone di dalam tasnya, padahal hatinya sedang sibuk menata napas yang mendadak tidak beraturan.

 

Edward tertawa kecil sambil mengunyah donatnya. Dia kemudian merogoh sakunya, mengeluarkan satu earbud dan mengulurkannya untuk dipasangkan ke telinga Juno—tindakan yang mungkin sangat intim bagi orang lain, tapi "biasa saja" bagi mereka. “Eh, dengerin deh. Lagu yang kapan hari lo bilang enak pas kita lagi ngerjain tugas di perpus. Gue baru nemu versi unplugged-nya.”

 

Juno terdiam membetulkan posisi earbud itu. Saat jari mereka bersentuhan, Edward tidak menarik tangannya dengan cepat. Dia justru membiarkan tangannya menyentuh jemari Juno selama beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

 

“Gue inget lo suka banget sama bagian bridge-nya, kan?” tanya Edward lembut. “Kapan-kapan kita cover yuk Jun, abis gue kelar remed Kimia bisa lah,” tawarnya.

 

Juno tertegun. Ia membiarkan melodi itu memenuhi telinganya, tapi fokusnya justru terpecah pada suara rendah Edward yang sedang bersenandung lirik. Belum sempat Juno menjawab, Edward—tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya—meraih sebuah bantal sofa kecil di belakang punggungnya, lalu menyodorkannya ke arah Juno.

 

"Eh, ini Jun dipake," kata Edward kasual.

Tanpa mengalihkan fokus dari layar laptop, tangan kiri Edward meraih bantal sofa yang tadinya dia pakai sendiri sebagai sandaran, lalu menyodorkannya ke arah Juno.

"Kursi lo sandarannya keras banget keliatannya itu. Pake ini aja biar nggak pegel nanti," tambahnya pelan, seolah tindakannya barusan bukan hal besar. Memang bukan hal besar kan?

 

Juno menerima bantal itu, sisa kehangatan Edward masih tertinggal di sana. Ia merapatkan bantal itu ke punggungnya, merasa sesak sekaligus hangat. Edward tidak hanya ingat lagu kesukaannya; dia ingat kalau Juno punya kebiasaan punggungnya pegal kalau sandaran kursinya tidak empuk. Dia ingat Juno benci bau rokok, jadi dia selalu memilihkan meja di area no-smoking paling dalam. Edward ingat detil tentang Juno.

 

Dan itulah bagian paling menyesakkan dari seorang Edward. Dia sama sekali tidak brengsek. Dia memberikan perhatian yang begitu utuh, merawat kenyamanan Juno dengan detil yang begitu teliti, sampai Juno sering kali lupa kalau bagi Edward, semua keistimewaan ini hanyalah bare minimum dalam persahabatan mereka.

 

Edward memperlakukan Juno seolah Juno adalah prioritas nomor satu di dunianya, tanpa pernah sadar kalau kebaikan yang tanpa filter itu adalah rantai yang mengikat Juno di tempat. Sebuah penjara tak kasat mata yang pintunya selalu terbuka, tapi Juno tidak akan pernah sanggup melangkah keluar dari sana selama Edward masih menjadi orang yang paling tahu cara menjaganya.

 

Dan begitu saja. Mereka duduk berdua, hanyut dalam obrolan sepele yang melompat-lompat...

 

 



***




Kamar Juno sore itu diisi oleh suara petikan gitar akustik yang tidak berhenti sejak satu jam lalu. Edward duduk lesehan di karpet bawah tempat tidur Juno, punggungnya bersandar pada pinggiran kasur. Dia sedang terobsesi dengan lagu Think Fast-nya Dominic Fike, mengulang-ulang bagian intro-nya sampai jarinya seolah hafal di luar kepala.

Faktanya, mereka memang sudah sesering itu menghabiskan akhir pekan di kamar Juno jika sedang malas pergi-pergi.

Tanpa perlu bertanya, tangan kiri Edward meraba box di kolong meja belajar Juno, menarik kabel charger cadangan yang memang selalu Juno simpan di sana, lalu menyambungkannya ke ponselnya sendiri yang mulai lowbat.

Sambil jemarinya terus memetik senar gitar, Edward menyelonjorkan kaki dan menggunakan ujung jempol kakinya untuk menarik pelan pintu laci meja belajar Juno yang sedikit terbuka. Ia melakukannya tanpa sekali pun mengalihkan pandangan dari senar, seolah kakinya sudah punya navigasi sendiri untuk menemukan celah di sana.

"Cokelat lo habis ya? Laci biasanya kok kosong?" tanya Edward santai.

Juno yang sedang berbaring sambil scrolling TikTok hanya mendengus, matanya tetap terpaku pada layar ponsel. "Ada di laci atasnya, Ed. Yang bawah itu gue pake buat nyimpen album sama majalah sekarang. Awas, jangan lo berantakin!" Mengancam sedikit.


"Dih, galak," sahut Edward pelan, disusul tawa kecil yang tenggelam di antara nada-nada Think Fast.

 

Edward tahu persis batasan-batasan di kamar ini tanpa perlu diingatkan lagi. Meskipun sudah ribuan kali bertamu, dia tidak pernah sekalipun lancang melompat ke atas kasur Juno. Dia tahu Juno paling anti kalau ada orang yang duduk di tempat tidurnya dengan baju yang habis dipakai beraktivitas di luar rumah—terutama seragam sekolah yang sudah seharian kena debu dan keringat.

 

Itu sebabnya, sepegal apa pun punggungnya setelah sesi gitaran yang panjang, Edward akan tetap setia duduk lesehan di karpet bawah atau berpindah ke kursi belajar. Dia menjaga kebersihan kasur Juno seolah itu adalah aturan suci.

 

Keberadaan Edward di sana terasa begitu melekat, seolah kehadirannya sudah menyatu dengan cat dinding dan aroma ruangan yang sangat Juno kenali. Dia bukan lagi sekadar tamu; Edward adalah bagian dari furnitur permanen dalam hidup Juno. Jika suatu hari cowok itu benar-benar hilang, kamar ini pasti akan terasa ganjil—seperti ada satu sudut yang mendadak kosong, atau seperti lagu favorit yang tiba-tiba kehilangan nada dasarnya.

 

Juno sudah terlalu terbiasa melihat Edward di sana, sampai-sampai ia tidak tahu lagi bagaimana cara mendefinisikan kamarnya—dan dirinya sendiri—tanpa bayangan Edward di dalamnya.

 

"Kocak deh Jun, si Sandy emang udah nggak ketolong kemaren," celetuk Edward tiba-tiba. Tawanya pecah, membuat petikan gitarnya meleset sumbang. "Bisa-bisanya dia spam di grup kelas jam satu malem, nyebarin teori kalau suara ketukan di jendela lab Kimia itu bukan hantu, tapi salah satu dari murid di masa depan yang lagi kejebak di dimensi kelima kayak di film Interstellar, tau kan lo?"

“Ha?” respon Juno sambil membalikkan tubuhnya hingga kini tengkurap di pinggir kasur, lalu menjatuhkan ponselnya ke samping bantal. Ia menatap Edward dari samping dengan tatapan malas. "Terus lo percaya? Lo, kan, emang agak-agak kalo soal beginian."

"Ya gue pikir masuk akal juga sih,” jawab Edward enteng saja. Tuh kan. Juno mendecak pelan sambil memutar bola matanya—sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan tiap kali logika Edward mendadak lumpuh di tangan Sandy. Ia menumpu dagu di atas lipatan tangannya, menatap Edward dengan sisa-sisa rasa heran. Antara pengen marah karena Edward gampang banget dikibulin, atau pengen maklum karena cowok itu memang punya sisi polos yang terkadang nggak pada tempatnya. "Sumpah ya, Ed... gue beneran bingung siapa yang nularin siapa di antara lo sama Sandy," gumam Juno pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Edward hanya terkekeh pelan, kemudian ia melanjutkan, “Dia kan bawa-bawa teori gravitasi yang bisa nembus ruang dan waktu, ya menurut gue make sense sih, bisa aja kan bener," Edward mengendikan bahunya. "Lebih tolol lagi, paginya itu si Kevin beneran ke lab sambil komat-kamit nanya bocoran soal ujian ke 'siswa di masa depan'. Pas jendelanya bunyi tek-tek gitu, dia langsung sibuk nyatet kode Morse atau kode apaan gue juga ga paham."

Juno ikut terkekeh. "Terus? Jadi dapet bocoran soalnya?"

"Bocoran apaan! Pas udah dapet dua baris kode, Sandy baru nyeletuk pelan kalo itu bukan pesan dari masa depan, tapi itu tuh ranting pohon samping lab yang kena angin terus ngetok kaca," Edward masih tertawa mengingat kelakuan teman-temannya. "Kevin langsung lemes, bukunya dilempar ke muka si Sandy. Asli, stres banget tuh anak dua."

 

Juno bisa membayangkan dengan jelas dahi Kevin yang berkerut serius sementara Sandy pasti berdiri di belakangnya dengan muka sok bijak.

 

Meskipun mereka beda kelas, Edward itu selalu punya cara untuk melibatkan Juno ke semua sirkel pertemanannya. Alhasil, Juno jadi ikutan hafal tingkah absurd antara Sandy dan Kevin. Mulai dari debat kalau micin sebenarnya nutrisi otak yang kata Sandy sengaja nggak diakui WHO gara-gara konspirasi persaingan resto Amerika dan Cina zaman dulu, sampai teori ngawur Sandy kalau minum es pas lagi panas-panasan bisa bikin paru-paru 'kaget' terus menciut. Juno tahu persis Kevin adalah sasaran empuk bagi ide-ide "saintifik" Sandy yang nyeleneh.

 

Tapi Juno senang. Ia menyukai bagaimana Edward membagi dunia kecilnya yang berisik dan tidak masuk akal itu kepadanya, seolah ada satu kursi khusus yang memang sengaja disiapkan Edward agar Juno bisa selalu duduk di sana.

 

Sampai akhirnya, petikan gitar itu berhenti. Edward menyandarkan gitarnya ke kaki tempat tidur, lalu berbalik hingga kini ia sepenuhnya menghadap Juno. Ia menopang dagu dengan kedua tangan di atas kasur—tepat di samping lengan Juno. Jarak mereka begitu dekat hingga Juno bisa mencium aroma sandalwood yang tipis dan clean musk yang bercampur dari tubuh Edward.

 

"Jun," panggilnya lembut. Sorot matanya berubah, tidak lagi berisi tawa tentang polah teman-temannya.


"Hem," Juno memberikan gumaman pendek, mengisyaratkan bahwa ia mendengarkan. 

 

"Lo... kenapa, sih?" tanya Edward pelan. Suaranya terdengar jauh lebih serius dari biasanya. "Gue perhatiin akhir-akhir ini lo hobi banget ngelamun."

 

Juno tertegun sejenak, lalu berusaha memasang wajah sedatar mungkin. "Enggak kenapa-kenapa, kok. Lagi biasa aja."

 

"Bohong," potong Edward cepat. "Gue sempat mikir apa lo stres gara-gara olimpiade nasional bulan depan? Tapi kok kayaknya nggak mungkin.”

 

Juno hanya diam, jemarinya tanpa sadar meremas pinggiran sprei. "Gue beneran lagi nggak kenapa-napa, Ed."

 

"Atau..." Edward menggantung kalimatnya, matanya menyipit penuh selidik. "Jangan-jangan lo lagi naksir orang, ya? Siapa, Jun? Anak sekolah kita bukan? Gue kenal gak?"

 

 

Dada Juno mendadak terasa ngilu. Pertanyaan itu telak menghantamnya, tapi ia memilih untuk tetap memasang tameng. "Apa sih, Ed? Enggak jelas banget," jawabnya ketus, berusaha bersikap cuek.

 

Namun, Edward tidak menarik diri. Alih-alih berhenti, tatapannya justru makin dalam dan sendu, seolah ia sedang berusaha membaca sesuatu yang sengaja Juno sembunyikan. Di luar kendali Juno, satu tangan Edward terangkat pelan. Jemarinya yang hangat menyentuh kening Juno, mulai merapikan poni yang sudah sedikit melewati alis itu dengan gerakan yang sangat telaten.

 

Juno merasa jantungnya baru saja mencelos, meninggalkan rongga dada yang mendadak hampa dan bergemuruh hebat di saat yang sama. Memang sahabat itu seperti ini ya? Pikir Juno.

 

"Kalau ada yang gangguin lo, atau ada yang jahatin lo sampe bikin lo nangis... lo bilang gue, ya?" pinta Edward, masih sibuk merapikan poni Juno dengan telaten.

 

Juno memaksakan sebuah senyum yang maknanya tidak akan pernah bisa ditebak oleh siapa pun, meski hatinya terasa seperti baru saja dicubit dengan sangat keras. Ia menarik napas panjang, mencoba mencairkan ketegangan yang mulai mencekik.

 

"Emangnya kalo gue lapor ke lo, lo mau ngapain?" tanya Juno balik, nada bicaranya dibuat sedikit mengejek untuk menutupi gemetar di suaranya.

 

Edward langsung menegakkan sedikit kepalanya, matanya berkilat berani. "Gue ajak berantem lah. Gue hajar di tempat kalo sampe ada yang berani bikin lo nangis."

 

Juno tertawa kecil. "Dih, sok jagoan banget. Gayanya mau ngehajar orang, emangnya lo bisa berantem? Yang ikut les taekwondo itu gue, ya, bukan lo. Yang ada malah gue yang harus jagain lo."

 

Edward bukannya tersinggung, malah nyengir lebar tanpa dosa. "Ya itu dia maksud gue! Nanti pas gue lagi tonjok-tonjokan nih, lo muncul dari belakang terus bantuin pukulin orangnya. Kita keroyok, Jun. Pokoknya kalo gue udah mulai keliatan kalah, lo langsung roundhouse kick aja,” celoteh si Edward.

 

Juno hanya mendengus mendengarnya, hampir saja ia ingin menyentil dahi Edward kalau saja tangannya tidak terasa lemas. "Dasar curang."

 

Namun, tawa Edward pelan-pelan mereda. Cengirannya hilang, digantikan oleh ekspresi yang kembali tenang jauh lebih dalam. Tangannya yang tadi memainkan poni Juno kini turun, jemarinya sempat berhenti sejenak di pelipis Juno sebelum akhirnya menjauh.

 

"Tapi serius, Jun," ucap Edward, kali ini suaranya rendah dan sungguh-sungguh, mengunci tatapan Juno agar tidak berpaling. "Janji sama gue ya. Kalo ada siapa pun, atau apa pun yang bikin lo sedih atau ngerasa disakitin... lo harus bilang ke gue. Jangan dipendem sendiri. Oke?"

 

Juno hanya diam saja, tidak tahu harus merespon bagaimana. Ia ingin sekali menjawab, 'Terus kalau pelakunya itu lo, gue harus lapor ke siapa, Ed?' Tapi tentu saja, kalimat itu hanya tertahan di ujung lidah, terkubur bersama ribuan kalimat lain yang tidak akan pernah ia ucapkan.

 

Hah, dasar remaja.