Work Text:
Harusnya tidak di lapangan ini, Baskara.
Tidak saat ini.
Tidak saat peluh membanjiri wajah Raka berkat terik yang berasa neraka ini. Tidak saat suaranya hampir habis karena lelah memarahi Selin yang pukulan tamborinnya terus meleset dari cajon yang sudah ia pukul sampai tangannya hampir merah. Tidak saat teman-temannya yang lain berkumpul dan menyaksikan bagaimana Baskara, si adik kelas yang merasa diajak—alias kekasih Raka dalam bayang-bayang itu—duduk di paha yang lebih tua sambil memangku gitar yang ia curi dari Bintang.
"Bas, turun, deh." Semoga Baskara tidak sadar kalau kalimat itu bergetar. Kalau harus jujur, napas Raka jauh dari kata leluasa untuk dikeluarkan sekarang. Kakinya mati rasa, tak ingin bergerak dan menjatuhkan cowok jelita yang tengah melecehkan area pribadinya. Yang ditegur cukup kurang ajar, ia mencibir dengan bibir tebalnya dan justru makin mencari posisi nyaman untuk pantatnya.
"Kuwi, loh, Mas Bin. Ora gelem ngadek." Bibirnya maju sekilas, jarinya menunjuk Bintang yang sedang duduk santai dan memang menolak untuk berdiri di tengah panas matahari siang itu. Akhirnya, jemari lentik itu menemukan fret gitar dan menggenggamnya erat. Tiba-tiba, kepalanya menoleh ke arah Raka, dengan jarak yang tak lebih dari 3 jari manusia. "Lagu apa, Kak?"
Hampir Raka lupa kalau ia punya mulut dan suara yang sudah kodratnya untuk dipakai menjawab pertanyaan—salahkan matanya yang tak mau diajak kooperasi dan jantungnya yang berdegup lebih kencang dari sound horeg yang biasa mengitari kompleknya tiap malam. "Kampuang Nan Jauh di Mato." Helaan napas mengawali judul lagu itu.
"Yaudah, ayok. Aku pengen melu."
"Bas, tanganmu minggiren sek." Pipi Baskara langsung merah saat sadar daritadi ia menduduki tangan berurat milik Raka. Ia majukan tubuhnya, akhirnya melepas belenggu dari pergelangan Raka yang cukup merah karena dibebankan tubuh seberat 70 kilogram.
Selin mengawali lagu dengan tamborinnya, kali ini tidak keluar dari tempo. Raka mengikuti, dipukulnya cajon yang ia duduki dengan semangat. Nampaknya, Baskara sudah pernah mendengar proses latihan kelompok kakak kelasnya ini—ia masuk sempurna dengan gitarnya. Chord demi chord, sampai akhirnya para pemain pianika masuk mengantarkan melodi.
Satu bait sudah, mendadak semua acak-acakan, memaksa mereka semua berhenti satu-persatu. Kepala Baskara otomatis bersandar pada pundak Raka, tangannya kali ini tidak bisa bergerak atas kemauan sendiri. Ia bisa menghirup jelas wangi parfum mahal Baskara yang tercampur dengan keringat, aroma rambutnya yang nyatanya masih badai meski diterpa cuaca panas, dan rasanya belahan pantat Baskara yang singgah di pahanya terasa lebih signifikan dari sebelumnya.
"Astagay," gumam Gadis yang nampaknya, merupakan wakil ketua dari Raka. Ia memegang pianika hitam, gumaman itu cukup keras untuk didengarkan kedua insan yang memang disinggung itu. Keduanya saling bertatapan, tertawa karena tahu hal yang tidak Gadis ketahui itu.
"Wes, ah. Nesu aku. Muleh ae, yok. Aku meh mukbang Indomie," tukas Satria sambil membereskan pianikanya. Yang lain ikut bubar, Raka baru tahu kalau si Satria itu punya influence segini besarnya. Giliran Raka mengingatkan latihan, malah tak pernah digubris anggotanya.
"Ho, rungokno, Bas. Mudhun gak kowe." Kaki yang diduduki Baskara diangkat-angkat kecil, sebenarnya Raka pun tak ingin Baskara turun. Ingin lanjut memangkunya, memeluk tubuh besarnya sambil menikmati bau khasnya—sedihnya, tidak bisa di lapangan ini.
Baskara melihat si pacar dengan cemberut, mau tak mau berdiri. Ditambah harus menyerahkan kembali gitar milik Bintang, bibir Baskara makin maju. Ia angkat tas dengan berat luar biasa yang tadi tergeletak di aspal, posturnya langsung rusak ketika menggendong tas itu di pundaknya. Raka langsung merangkul pundak yang lebih muda, berjalan bersama yang lain menuju lobi sekolah.
Keduanya tak banyak bicara, hanya handshake dengan teman-teman yang sudah dijemput atau memang mau pergi ke parkiran. Baskara tidak memesan ojek online, karena tahu Raka akan mengantarnya pulang. Raka pun tidak ikut Satria dan Bintang ke parkiran, karena tahu ia akan mengantar Baskara pulang. Banyak pertanyaan "gak muleh, Rak?" tertuju pada Raka, alasannya cuma "jek ono kerkom," meski jelas itu kibul belaka. Begitu terus, sampai akhirnya hanya dua yang tersisa.
Lobi memang terbuka lebar, begitu keluar langsung dihadapkan oleh jalan raya yang selalu punya mata—namun, sepertinya Raka lupa akan hal itu. Karena sekarang, ia begitu berani untuk menghimpit tubuh mereka berdua di tembok lobi itu. Ibu jari dan telunjuknya menggenggam dagu Baskara, sukses membawa rona merah pada pipinya.
"Kak, jek neng sekolah, lho.." cicitnya, Raka bisa lihat bahwa sepasang manik itu tak berani menatap balik. Gerakannya kikuk, menjelajahi semua pemandangan yang bisa ia jangkau, meski tahu bahwa di depannya ada wajah kacak paripurna.
"Lapo emange? Kangen, kok." Deretan giginya terpampang bangga, Baskara heran kenapa wajahnya masih jaga jarak. Bukannya ia ingin kedua netra sang kekasih memandangnya lebih dekat, atau ingin bibir mereka tidak sengaja bergesekan. Hanya, tidak seperti Raka yang biasanya.
"Iku.. ngarep dalan.." lirih si adik kelas. Kedua tangannya tersimpan rapi di belakang punggungnya, mendadak tinggi Baskara yang harusnya tak jauh dari Raka, menurun dan terlihat kecil di mata yang lebih tua. Raka terkekeh, kini menangkup dagunya sambil memotong jarak antar hidung mereka.
"Ciuman nang ngarep dalan, oke gak?"
"Kakak, mah.."
Tolong, Raka dan Baskara dipaksa membuat konten jenaka pasca publikasi hubungan mereka.
Sebenarnya, Raka lebih dari kata ogah. Tapi, demi semangkok mi ayam depan sekolah, Raka harus mengalah. "Pegel aku ce, lananganku pangkuan ambek lanangan liyo.. aku kudu yoopo ce..?"
"Jujur janggal, yo.. siji, jenengmu Raka.." Kamera memperbesar wajah Raka yang tengah berlagak pusing, lalu kamera bergeser ke arah Baskara, "loro, lananganmu.."
"Telu, pangkuan ambek lanangan liyo..?" Baskara yang tengah duduk nyaman di pangkuan Satria malah tertawa lepas.
