Work Text:
Ketika perasaannya mulai terasa jelas, justru keraguan yang datang lebih dulu.
Juhoon berkali-kali bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia benar-benar boleh memikirkan Seonghyeon dengan cara seperti itu, dengan perasaan yang seharusnya tidak pernah tumbuh di antara dua orang yang telah berjalan bersama sebagai teman selama delapan tahun.
Pada awalnya Juhoon mencoba menepis semuanya, meyakinkan diri bahwa ini hanya perasaan sesaat yang akan hilang dengan sendirinya seiring waktu. Namun setiap kali tanpa sadar ia menatap Seonghyeon lebih lama dari yang seharusnya, hatinya justru semakin sulit untuk berbohong. Sebab ada sesuatu yang pelan-pelan berubah, yang tidak bisa lagi ia sebut sekadar kebiasaan atau kepedulian biasa.
Karena sesungguhnya, hal yang paling Juhoon takutkan bukanlah penolakan. Bukan kata tidak, bukan juga kemungkinan perasaannya tidak terbalas. Melainkan perubahan di mata Seonghyeon. Bagaimana jika setelah mengetahui semuanya, Seonghyeon tidak lagi memandangnya sebagai tempat pulang yang sama seperti selama ini? Bagaimana jika kehangatan yang tercipta di antara mereka justru berubah menjadi canggung yang asing? Membayangkan kemungkinan itu saja sudah cukup membuat dadanya terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.
Karena itu, Juhoon memilih untuk tetap berada di dekat Seonghyeon untuk menjaga jarak yang tak terlihat, sambil menggenggam erat perasaan yang tak pernah ia izinkan untuk terucap. Baginya, memendam terasa jauh lebih aman dibandingkan harus kehilangan tempatnya di sisi Seonghyeon setelah mengatakan yang sebenarnya.
Selama ia masih bisa berjalan berdampingan seperti delapan tahun yang telah mereka lewati, selama ia masih bisa mendengar namanya dipanggil dengan nada yang sama hangatnya, Juhoon merasa mungkin itu sudah lebih dari cukup. Kebersamaan sederhana itu terasa seperti sesuatu yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan hanya demi satu pengakuan.
Meski begitu, akhir-akhir ini Seonghyeon justru terasa sedikit berada di luar jangkauannya. Bukan karena mereka bertengkar atau menjauh dengan sengaja, melainkan karena keadaan yang tiba-tiba berubah. Juhoon mendadak ditunjuk menjadi kapten tim basket setelah kapten sebelumnya mengalami cedera kaki yang cukup parah. Pelatih tanpa banyak pilihan langsung mempercayakan tanggung jawab itu kepadanya, bersama beban latihan yang jauh lebih berat dari sebelumnya. Sejak saat itu, Juhoon hampir selalu pulang lebih malam, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak bisa mengantarkan Seonghyeon pulang seperti biasanya.
“Bajingan lu, Juhoon,” batinnya sendiri terasa seperti makian ketika ia melihat Seonghyeon tersenyum tipis ke arah layar ponselnya, layar yang menampilkan pesan-pesan yang belum sekalipun ia balas sejak tadi malam. Senyum itu terasa pahit seolah dipaksakan agar tidak terlihat terlalu kecewa.
Juhoon melangkah masuk ke dalam kelas dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur, lalu tanpa sengaja bertatapan dengan Ian. Hanya lewat satu anggukan kecil, Ian sudah seakan memahami seluruh situasi yang tidak perlu dijelaskan. Ia kemudian menyenggol pelan lengan Seonghyeon, memberi isyarat halus bahwa seseorang telah datang, sebelum akhirnya berpamitan pergi dan meninggalkan ruang itu hanya untuk mereka berdua.
Seonghyeon mendongakkan kepala tepat saat Ian beranjak.
“Seonghyeon…”
Begitu Juhoon berdiri di sampingnya, pikirannya terasa kosong dari segala kemungkinan lain. Tidak ada cara yang terasa cukup selain menurunkan dirinya, bertekuk lutut, lalu menggenggam tangan Seonghyeon dengan hati-hati.
“Maaf… maaf. Tolong maafin gue. Gue tadi malem ketiduran, terus pagi tadi dibangunin Woojin dan langsung disuruh ke sekolah karena ada masalah sama rundown lomba. Gue bener-bener ga sempet ngabarin lu.”
Suara Juhoon pelan menyesal, seperti bisikan yang takut terdengar jika terlalu keras. Tatapannya penuh permohonan yang tidak ia sembunyikan sedikit pun, karena sesungguhnya ia tidak pernah siap melihat Seonghyeon kecewa, terlebih jika penyebabnya adalah dirinya sendiri.
“Gapapa. Aku paham,” jawab Seonghyeon sambil tetap tersenyum lembut. “Kamu udah makan belum? Masih mau makan bekal dari aku?”
Nada suara Seonghyeon terdengar biasa saja, terlalu biasa bahkan, sampai-sampai terasa asing. Di saat yang sama, genggaman tangan Juhoon perlahan ia lepaskan. Juhoon tidak tahu apakah itu hanya perasaannya sendiri, atau memang Seonghyeon sengaja menghindari sentuhannya dengan alasan membenarkan posisi tas yang sebenarnya sudah tersusun rapi di kursi.
“Mau. Gue mau makan bekal dari lu,” jawab Juhoon cepat sambil mengangguk kuat, seolah takut kesempatan kecil itu ikut menghilang jika ia terlambat satu detik saja.
Lalu hening turun begitu saja di antara mereka. Juhoon sampai merasa telinganya berdenging karena Seonghyeon memilih diam. Padahal biasanya, laki-laki itu akan berbicara tanpa henti tentang hal-hal kecil yang entah kenapa selalu terdengar menyenangkan.
Juhoon menarik napas panjang yang terasa berat, seolah udara di sekitarnya ikut menekan dadanya. Ada rasa takut yang pelan-pelan merambat, takut akan kemungkinan yang sejak tadi ia coba sangkal. Dengan hati-hati, ia kembali meraih tangan Seonghyeon yang kini terletak canggung di atas tas, menyentuhnya pelan seperti seseorang yang tidak yakin apakah ia masih diizinkan sedekat itu.
“Marah, ya?” suaranya lirih, hampir goyah. “Boleh jawab permintaan maaf gue dulu ga? Tolong.”
Nada suaranya tidak lagi terdengar seperti Juhoon yang biasanya tegas di lapangan basket atau santai saat bercanda. Ada sesuatu yang rapuh di sana, sesuatu yang hanya muncul ketika ia berhadapan langsung dengan kemungkinan kehilangan Seonghyeon.
Detik terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Karena bagi Juhoon, diamnya Seonghyeon jauh lebih menakutkan daripada kata-kata marah apa pun.
Sedang Seonghyeon menatap nanar genggaman tangan mereka.
Belakangan ini, menurut Seonghyeon, ada yang terasa berbeda dari dirinya.
Dulu, ia baik-baik saja menahan diri tidak bertemu Juhoon seharian penuh saat laki-laki itu sibuk menghadapi turnamen. Ia selalu menganggap semuanya wajar karena mungkin hanya dirinya yang terlalu terbiasa.
Namun kemarin berbeda. Saat ia sengaja pulang lebih sore hanya untuk memberi Juhoon minuman isotonik, sesuatu yang aneh justru muncul di dadanya. Rasa sesak pelan pelan terasa lebih jelas, ketika ia melihat Juhoon tersenyum begitu lepas di hadapan seorang perempuan. Perempuan yang ia kenal dekat dengan Juhoon, karena mereka berada di tim basket sekolah yang sama.
Seonghyeon memilih duduk di tempat biasanya, berharap Juhoon menyadari kehadirannya seperti dulu. Namun harapan itu perlahan runtuh. Bahkan sampai akhir, yang ia lihat hanyalah Juhoon memboncengi perempuan itu pulang tanpa sekali pun menoleh ke arahnya.
Dan sekarang, Juhoon yang masih menggenggam tangannya menatap wajah Seonghyeon dengan panik. Matanya membulat sedikit terkejut karena di hadapannya, ada senyum tipis yang terasa asing persis senyum getir yang hampir tak pernah ia lihat di wajah Seonghyeon.
“Kamu latihan buat turnamen sampe kapan?”
“2 minggu lagi”
Seonghyeon perlahan mengambil wadah bekalnya, lalu menyodorkannya pada Juhoon. Gerakannya tenang memaksa Juhoon melepaskan genggaman tangannya demi menerima wadah itu.
Detik itu, sentuhan mereka terputus dan entah kenapa, jarak kecil yang tercipta setelahnya terasa jauh lebih menyakitkan daripada perpisahan apa pun yang pernah Juhoon bayangkan.
“Aku maafin. Lagipula kamu ga salah, kok. Wajar kalau lupa ngabarin, kamu juga lagi sibuk, kan? Tapi aku harap kamu tetep jaga pola makan kamu, ya.”
Seonghyeon mengucapkannya dengan tenang, menutup kalimat itu seperti sesuatu yang sudah selesai dibicarakan. Tangannya kemudian menarik pelan Juhoon agar berdiri.
“Udah sana, lanjut makan bekal di kelas kamu.”
“Sebentar.”
Seonghyeon sedikit mengernyit, alisnya terangkat bingung ketika melihat Juhoon justru merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan ponsel.
“Kamu ngapain?”
Beberapa detik kemudian, Juhoon mengangkat ponselnya dan memperlihatkan layar pada Seonghyeon. Status Do Not Disturb-nya aktif untuk semua kontak, kecuali satu nama.
Seonghyeon.
Sebenarnya, sejak dulu namanya memang tak pernah masuk daftar DND. Namun kali ini ada yang berbeda sebab notifikasi khusus dipasang, cukup keras untuk memastikan setiap pesan atau panggilan darinya tak mungkin terlewat.
“Hah? Nggak perlu sampai segitu—”
“Seonghyeon,” potong Juhoon tegas, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
“Nggak adil rasanya kalo lu bilang gapapa gue lupa ngabarin… padahal lu udah nyiapin semua bekal ini buat gue.”
Ia menarik napas sebentar, “Gue kecewa sama diri gue sendiri dan gue tahu gue harus benerin sikap gue… tapi tolong, tegur gue kalo lu sakit hati. Apa pun yang bikin lu masang ekspresi kayak tadi.”
Seonghyeon terdiam.
Ekspresi… apa?
Ia bahkan tak sadar sudah memperlihatkan sesuatu sehingga Seonghyeon mulai takut bahwa Juhoon bisa melihat perasaan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
“Pulang sekolah gue tunggu di lapangan, ya. Kita pulang bareng hari ini.”
“Emangnya kamu enggak latihan?”
“Bolos latihan sekali enggak bakal bikin gue mati kayak kalo lu kecewa sama gue.”
Belum sempat Seonghyeon memberi jawaban, Juhoon sudah lebih dulu melakukan kebiasaan yang tak ia sadari. Ujung jarinya sempat menyentuh pelan helai poni Seonghyeon, menyampirkannya ke belakang telinga dengan gerakan lembut yang tetap selalu terasa intim di antara mereka, lalu ia tersenyum tipis.
Setelah itu Juhoon melangkah keluar kelas dan terus berjalan menyusuri koridor dengan pandangan kosong yang tidak benar-benar melihat apa pun di depannya.
Bayangan-bayangan kecil berputar tanpa henti di kepalanya.
Seonghyeon yang menghindari tatapannya.
Seonghyeon yang menolak halus genggaman tangannya.
Seonghyeon yang tidak langsung menanggapi permintaan maafnya.
Seonghyeon yang tetap tersenyum, tetapi dengan getir yang jelas berusaha menyembunyikan sesuatu yang menyakitkan.
Pertanyaan itu akhirnya muncul juga.
Apakah masih ada kesempatan baginya untuk memperbaiki semuanya, untuk mengevaluasi kembali sikap yang akhir-akhir ini tanpa sadar ia berikan kepada Seonghyeon, jika bahkan respons Seonghyeon sendiri sudah terasa seperti kehilangan kepercayaan?
Di tengah kebingungan itu, hanya satu harapan yang terlintas di pikirannya, yaitu berbicara dengan Ian.
Dan seolah kebetulan yang terlalu tepat, Juhoon justru berpapasan dengan Ian di lorong menuju kelasnya.
Ian sedang berdiri bersama Keonho, teman sekelas Seonghyeon yang diam-diam selalu membuat Juhoon merasa tidak nyaman. Entah sejak kapan perasaan curiga itu muncul, tetapi menurutnya Keonho terlalu dekat dengan Seonghyeon. Ia masih ingat jelas bagaimana beberapa waktu lalu ia melihat Seonghyeon menyentuh tangan Keonho untuk membenarkan posisi jari saat mengajari gitar di ruang musik. Interaksi mereka terlihat terlalu lembut dan cara Keonho menatap Seonghyeon saat itu membuat alis Juhoon tanpa sadar menukik tajam.
“Ian, bisa ngobrol sebentar gak?” tanya Juhoon, memotong pembicaraan mereka.
Keduanya menoleh hampir bersamaan, tetapi tatapan Juhoon secara otomatis justru berhenti pada Keonho. Ada dorongan aneh di dalam dirinya untuk menilai laki-laki itu, mencoba membaca sesuatu dari raut wajah seseorang yang akhir-akhir ini sering berada di dekat Seonghyeon. Ini adalah pertama kalinya mereka benar-benar bertemu secara langsung, tanpa perantara cerita Seonghyeon di pesan singkat atau obrolan santai saat mereka bermain bersama teman-teman lain.
Sebenarnya, setiap kali nama Keonho muncul dalam cerita Seonghyeon, ada rasa jengkel kecil yang tumbuh di hati Juhoon. Namun di saat yang sama, ia juga tidak bisa menyangkal bahwa ia menyukai cara Seonghyeon tersenyum ketika bercerita tentang teman barunya itu. Senyum yang begitu tulus hingga membuat Juhoon tidak punya alasan untuk menghentikannya.
Tetapi alih-alih menemukan raut tidak suka atau sikap menilai, Juhoon justru melihat Keonho menatapnya dengan senyum tenang, seolah pertemuan ini memang sesuatu yang sudah lama ia tunggu. Senyum itu terlalu santai untuk membuat Juhoon semakin tidak nyaman.
Ian kemudian merespons pertanyaan Juhoon dengan nada biasa saja.
“Oh, boleh. Mau ngobrolin apa emangnya? Di sini aja?”
Juhoon akhirnya mengalihkan pandangannya dari Keonho dan menatap Ian.
“Di lapangan badminton aja. Tadi Ana sekalian nitip raket ke kita.”
“Oh, yaudah, ayo.”
Sebelum benar-benar pergi, Ian menoleh sebentar ke arah Keonho.
“Duluan, ya. Kalau emang bisa nanti sore, bilang ke Seonghyeon dulu. Takutnya dia keburu pulang naik ojek online, soalnya ayahnya enggak bisa jemput hari ini,” ucap Ian sambil mengacungkan jempol ringan.
“Oke,” balas Keonho dengan gestur yang sama, lalu berbalik menuju kelas IPA dua, meninggalkan Juhoon dan Ian yang mulai berjalan ke arah berlawanan.
Begitu Juhoon dan Ian tiba di lapangan badminton dengan raket masih berada di tangan masing-masing, mereka mendapati tempat itu dipenuhi oleh tim perempuan kelas sepuluh yang tampaknya baru saja dipanggil untuk berkumpul mendadak. Suasana cukup ramai, tetapi Ian justru berhenti melangkah. Ia membalikkan badannya menghadap Juhoon, lalu tanpa basa-basi berkata dengan nada datar yang tajam,
“Brengsek lu, ya.”
Juhoon mengernyitkan dahi, jelas tidak siap dengan serangan itu.
“Apaan sih? Tiba-tiba?”
“Lu tau gak,” lanjut Ian, kali ini suaranya lebih rendah, “kemarin Seonghyeon nungguin lu latihan basket sampai jam enam sore, terus malah liat lu pulang bareng cewek lain?”
Mata Juhoon langsung membesar, jantungnya seolah berhenti sepersekian detik.
“Hah?”
“Kalo bukan karena Seonghyeon yang nyuruh gue buat diem aja,” kata Ian sambil menatapnya tajam, “udah gue tonjok lu tadi di kelas. Gue paham kalian cuma temen, tapi semua orang juga tau gak ada temen yang tingkah lakunya kayak lu. Lu harusnya bisa bayangin gimana perasaan Seonghyeon waktu liat lu sama cewek lain, sementara di sisi lain, sikap lu ke dia udah lewat batas wajar buat sekedar temen.”
“Tunggu, tunggu,” Juhoon buru-buru menyela, suaranya terdengar panik. “Gue gak pernah pulang bareng cewek. Kalo soal kemarin habis latihan basket, gue cuma nganter Iroha sampe gerbang depan sekolah. Woojin nunggu di situ, mereka mau pulang bareng, terus Woojin minta Iroha numpang gue sebentar.”
Ian mengusap wajahnya, lalu memegang kepalanya seperti orang yang benar-benar kehabisan kesabaran.
“Tai lu. Makanya komunikasi. Seonghyeon tadi pagi udah hampir nangis nungguin kabar dari lu.”
“Anjing…” Juhoon mengumpat pelan. “Gue sama sekali gak lihat bangku di samping lapangan basket. Demi Tuhan, gue gak sadar ada Seonghyeon di situ.”
“Mata lu dipake, tolol,” balas Ian tanpa ragu. “Pantes Seonghyeon bilang lu kayak ngejauhin dia akhir-akhir ini. Biasanya, dia berdiri sepuluh meter dari lu aja, lu udah langsung nyadar.”
Juhoon mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Kepalanya terasa penuh. Masalah turnamen menumpuk, tuntutan sebagai kapten membuatnya jadi sasaran utama setiap kali pelatih meluapkan amarah. Semua tekanan itu datang bersamaan, membuat suasana hatinya sering jatuh berantakan. Ia yang biasanya bersandar pada Seonghyeon, bercerita dan mengeluh tanpa beban, justru memilih diam akhir-akhir ini. Ia ingin Seonghyeon hanya melihat sisinya yang ceria dan perhatian, tanpa tahu betapa kacaunya ia di dalam.
“Sorry,” ucap Juhoon akhirnya, suaranya lebih pelan. “Gue janji, nanti pulang sekolah gue jelasin soal kemarin sore ke Seonghyeon.”
Ian mendecak pelan.
“Telat. Gue udah nyuruh Keonho nemenin Seonghyeon nyari senar gitar dia yang putus. Tadinya Seonghyeon mau ngajak lu, tapi dia takut ngerepotin lu yang lagi capek mikirin turnamen.”
“Enggak. Gak ada Keonho-Keonhoan,” Juhoon langsung memotong, nadanya naik. “Apaan sih. Gue bakal nekat bolos latihan nanti sore buat nganter Seonghyeon pulang. Kalo dia mau nyari senar gitar biar sama gue aja. Gue lebih paham soal itu daripada Keonho.”
“Ngomong sendiri aja sana sama Keonho,” ujar Ian sambil mengangkat kedua bahunya, seolah lepas tangan.
“Lah, buat apa?” tanya Juhoon, tidak sabar.
Ian meliriknya sekilas sebelum menjawab, “Katanya dia ada rencana mau ngomong sesuatu ke Seonghyeon nanti sore. Gue gatau apaan.”
Juhoon terdiam sesaat.
“Anjing.”
Sehingga begitu bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, Juhoon tidak membuang waktu sedikit pun. Ia langsung berjalan cepat menuju kantin setelah sebelumnya menghubungi Keonho lewat pesan singkat. Sementara itu, ia meminta Ian untuk menemani Seonghyeon sebentar, setidaknya sampai urusannya selesai dan ia bisa menjemput Seonghyeon pulang bersama. Ia tidak ingin Seonghyeon menunggu sendirian lagi, tidak hari ini.
Keonho sudah duduk lebih dulu di salah satu bangku kantin ketika Juhoon datang. Laki-laki itu tampak santai, bahkan sempat tersenyum ringan seolah pertemuan ini bukan sesuatu yang tegang.
“Mau kenalan dulu gak? Ini pertama kalinya kita ngobrol langsung, kan?” ujarnya tenang.
Bagi Juhoon, senyum itu justru terasa menjengkelkan.
Ia menarik kursi di hadapan Keonho untuk duduk kemudian menjawab, “Gak usah basa-basi. Lu pasti udah tahu nama gue.”
Keonho mengangkat alisnya sedikit, masih dengan ekspresi santai yang sama.
“Wow wow wow, santai, santai. Perasaan Juhoon yang diceritain si cantik gak begini sikapnya.”
Rahang Juhoon menegang seketika. Kata si cantik yang ditujukan pada Seonghyeon terasa seperti percikan api yang jatuh tepat ke dalam dadanya.
“Sok akrab lu anjing,” ujar Juhoon, menahan diri sekuat mungkin. Ia tahu ia tidak boleh membuat masalah, tidak boleh melakukan sesuatu yang justru akan mengecewakan Seonghyeon. Meski begitu, keinginan untuk menghantam Keonho saat itu juga hampir tidak bisa ia tahan.
Keonho malah tertawa kecil menikmati ketegangan yang menggantung di antara mereka.
“Jadi, mau ngomongin apa? Soal siapa yang bakal dipilih Seonghyeon?” tanyanya ringan sambil menyesap es teh.
“Lu pede banget bakal dipilih,” balas Juhoon tajam, “padahal baru kenal dia dua bulan.”
Keonho menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Yang kenal delapan tahun aja gak gerak-gerak. Kenapa gue harus ragu setelah gue terang-terangan nunjukkin kalau gue mau deket sama dia?”
Kalimat itu terasa seperti pukulan langsung ke titik paling dalam pada diri Juhoon.
Emosi yang sejak tadi ia tahan akhirnya meluap.
“Jangan main-main lu, brengsek,” desisnya sambil menarik kerah baju Keonho hingga keduanya terpaksa berdiri dari bangku.
Keonho tidak mundur. Ia justru mencengkeram pergelangan tangan Juhoon yang memegang kerahnya, tatapannya kini sama tajamnya.
“Lu yang main-main di sini, anjing.”
Beberapa detik menegang di antara mereka, napas keduanya sama-sama berat.
Namun Keonho yang lebih dulu melepaskan.
“Gue gak mau ngecewain Seonghyeon cuma karena berantem sama temennya,” katanya datar.
Ia menepis tangan Juhoon, lalu duduk kembali sambil membenahi kerah bajunya yang kusut, berusaha mengembalikan situasi tenang.
Sementara Juhoon masih berdiri di tempatnya, dengan dada yang naik turun dan perasaan yang semakin sulit ia kendalikan.
Juhoon masih cukup waras untuk tidak menendang meja kantin, meskipun dadanya terasa penuh oleh emosi yang berdesakan. Di kepalanya hanya ada satu bayangan yang terus mengganggu, yaitu kemungkinan bahwa Keonho perlahan mengambil posisi yang selama ini selalu ada di sisinya, posisi orang yang menemani Seonghyeon ketika ia sendiri terlalu sibuk dengan turnamen.
“Sebelum lu beneran ngancurin kantin,” ucap Keonho pelan, kali ini tanpa nada santai seperti sebelumnya, “gue kasih tahu satu hal. Seonghyeon gak pernah mikirin temen lain melebihi dia mikirin lu.”
Keonho tidak lagi meminum es tehnya. Ia menunduk, mengaduk minuman itu tanpa melihatnya. Entah ke mana perginya kepercayaan diri yang tadi ia tunjukkan. Kalimat barusan cukup untuk membuat Juhoon yang semula berdiri tegang akhirnya duduk kembali.
“Satu minggu belakangan gue berusaha terus buat deketin dia,” lanjut Keonho lirih. “Padahal sebenernya gue udah suka dia dari dua bulan lalu. Tapi gue gak bisa ngapa-ngapain kalau ada lu yang selalu nempel di hidup dia setiap hari.”
“Orang baru mau berharap apa sih lu,” ucap Juhoon refleks, setengah defensif.
“Bacot,” balas Keonho singkat.
Ia menarik napas sebelum melanjutkan, “Hampir semua ajakan gue tiap hari ditolak. Ada beberapa yang diterima, kayak waktu gue minta diajarin gitar. Tapi selebihnya… entah kenapa, selalu ada nama lu di setiap alasan dia. Gue ajak pulang bareng, dia bilang udah dijemput ayahnya karena Juhoon gak bisa nganter sampe turnamen selesai. Gue ajak makan di kantin, dia bilang mau nganterin bekal ke Juhoon. Gue ajak kerja kelompok, dia masih sempet bilang mau ngabarin Juhoon dulu takut lu nyariin dia ke rumah.”
Keonho berhenti sebentar, lalu tersenyum tipis yang terlihat pahit.
“Sampai di titik gue bahkan udah tahu jawaban yang bakal dia kasih sore ini kalau gue beneran confess.”
Juhoon terdiam.
Semua yang dikatakan Keonho belum sepenuhnya ia cerna, tetapi satu hal terasa jelas menekan dadanya. Ia memang tahu dirinya dan Seonghyeon sudah bersama begitu lama, tetapi ia tidak pernah benar-benar menyadari bahwa namanya hadir di hampir setiap bagian hidup Seonghyeon.
Keonho juga ikut terdiam hingga untuk beberapa saat, hanya suara samar kantin yang terdengar di sekitar mereka.
“Gue tau,” ucap Keonho akhirnya, “lu bakal nyegah gue sebelum gue ngomong ke Seonghyeon. Makanya tadi pagi waktu gue liat dia hampir nangis, gue mutusin buat pura-pura bilang bakal confess sore ini. Biar orang tolol kayak lu akhirnya gerak dan gak nyia-nyiain dia lebih lama lagi.”
Keonho menghela napas panjang sebelum melanjutkan, “Gue juga gak tau kenapa gue bisa sesuka ini sama Seonghyeon. Tapi gue tau satu hal… kebahagiaan dia ada di lu. Jadi gue harap lu bisa megang kepercayaan gue.”
Tatapan Juhoon mengeras, tersinggung oleh cara Keonho mengatakannya, tetapi juga tidak mampu menyangkal kebenarannya,
“Tanpa lu kasih tahu juga,” balas Juhoon tegas, “gue bakal bahagiain Seonghyeon seumur hidup gue.”
Keonho tersenyum miring, bukan mengejek, melainkan seperti seseorang yang sudah menerima hasil akhir dari sesuatu yang bahkan belum benar-benar dimulai.
“Kalo suatu hari nanti lu gak bisa jagain Seonghyeon lagi… serahin aja ke gue. Gue bakal tetep nunggu.”
“Bacot, anjing,” jawab Juhoon. Karena untuk pertama kalinya, kata-kata itu tidak lagi terdengar seperti ancaman melainkan seperti janji yang harus ia pegang kuat sebelum kehilangan terjadi.
Tentu saja, pembicaraan Juhoon dan Keonho sepulang sekolah tidak berjalan mulus seperti yang seharusnya. Beberapa kali emosi di antara mereka nyaris benar-benar meledak, tangan hampir terayun menjadi pukulan, kaki hampir saling menendang tanpa sisa kendali. Namun pada akhirnya, kenyataan bahwa Juhoon kini berdiri di depan rumah Seonghyeon dengan laki-laki itu berada tepat di belakangnya sudah cukup menjadi bukti bahwa setidaknya satu masalah paling menjengkelkan hari ini telah selesai.
Juhoon menurunkan standar motor dengan pelan, lalu tangannya secara refleks mengelus lembut jemari Seonghyeon yang masih melingkar di pinggangnya.
“Turun dulu, terus bangun yang bener, yuk. Gue mau ngomong.”
Seonghyeon yang sempat tertidur di perjalanan karena jarak rumah mereka dari sekolah memang cukup jauh, terbangun dengan wajah bingung. Matanya masih berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya sore ketika tiba-tiba Juhoon sudah lebih dulu mengelus rambutnya, lalu dengan hati-hati membantu mengangkat tubuhnya turun dari motor.
“Eh, kaget. Ngapain sih… aku bisa turun sendiri,” protes Seonghyeon sambil melepas tangan Juhoon dari pinggangnya.
“Mata masih merem melek gitu gimana mau turun sendiri. Paling juga jatuh,” balas Juhoon santai.
“Kurang ajar,” gumam Seonghyeon sebelum meninju perut Juhoon tidak setengah-setengah.
“Aduduh…” keluh Juhoon dramatis jelas bercanda.
Lalu tangan Juhoon kembali naik mengelus rambut Seonghyeon, gerakan yang menjadi terlalu biasa di antara mereka.
“Gimana tidurnya?”
“Hm… nyenyak,” jawab Seonghyeon sambil mengangguk kecil, matanya terpejam menikmati sentuhan itu seperti lupa dengan jarak tipis yang tadi siang sempat tercipta.
“Karena senderan ke gue, ya?”
“Karena semalam enggak tidur nungguin kabar dari orang,” balas Seonghyeon sambil membuka mata lagi, menatap lurus ke arah Juhoon.
“Eh… udah dong…”
Seonghyeon malah tertawa kecil.
“Hahaha, maaf, maaf. Ngomong-ngomong, kamu tadi mau ngomong apa?”
Ia meraih tangan Juhoon yang masih berada di atas kepalanya, lalu mengayunkannya pelan ke kanan dan ke kiri.
Juhoon menarik napas sebentar, mencoba mengumpulkan keberanian yang sejak tadi ia siapkan.
“Mau ngomongin soal kemarin sore.”
Nada suaranya berubah sedikit lebih serius membuat udara di antara mereka ikut berubah pelan sehingga terasa seperti Juhoon sedang menahan sesuatu yang sejak lama menunggu untuk akhirnya diucapkan.
Seonghyeon tiba-tiba terdiam.
Ayunan tangan mereka yang tadi pelan kini berhenti begitu saja karena sesuatu di dalam dirinya ikut membeku mendengar ucapan Juhoon. Ia sempat mencoba menarik tangannya kembali, berniat melepaskan genggaman itu sebelum Juhoon menahannya lebih dulu.
Jari Juhoon mengerat, menahan tangan Seonghyeon dengan hati-hati dan penuh putus asa, seakan-akan takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia miliki sepenuhnya.
Jangan pergi lagi. Jangan menjauh lagi. Tolong… jangan.
“Bentar… tolong dengerin dulu,” ucap Juhoon lirih.
Ibu jarinya mengelus satu per satu jemari Seonghyeon, pelan dan gemetar seperti setiap sentuhan terasa seperti permohonan yang tidak sanggup ia ucapkan dengan kata-kata.
“Iya… aku di sini,” jawab Seonghyeon lembut.
Juhoon menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara,
“Kemarin sore gue cuma nganterin Iroha ke gerbang sekolah, soalnya Woojin nyuruh dia nebeng sama gue sebentar. Mereka lagi deket dan emang mau pulang bareng, cuma karena takut keburu hujan, jadi daripada Iroha jalan ke gerbang, Woojin minta gue nganterin naik motor biar cepet.”
Suaranya mulai bergetar.
“Dan… maaf banget gue gak liat ada lu di situ. Demi Tuhan, kalau gue tau lu nunggu di sana, gue pasti nganterin lu pulang dulu biar lu gak sendirian sampai sore.”
Ia menelan ludah mencoba menahan sesuatu yang saat itu menyesakkan di tenggorokan.
“Maaf juga gue gak ngabarin pas udah sampe rumah. Gue gak punya pembelaan buat itu selain gue capek banget. Tapi gue tau itu tetep salah. Dan gue juga salah karena tadi pagi gak langsung minta maaf, padahal biasanya kita selalu ngobrol dulu sebelum masuk kelas.”
Genggamannya tanpa sadar makin erat, takut Seonghyeon akan benar-benar pergi kalau ia longgarkan sedikit saja.
“Tolong maafin gue… tolong jangan hindarin gue… tolong jangan cuekin gue… dan tolong… jangan pasang ekspresi kayak tadi siang.”
Suaranya pecah di akhir kalimat.
“Gue gak sanggup liat lu sedih.”
Di antara senja yang mulai turun pelan dan jarak yang hanya sejengkal di antara mereka, pengakuan itu akhirnya berdiri telanjang.
Saat Juhoon selesai menjelaskan semuanya, baik tentang kesalahpahaman kemarin sore maupun tentang hal-hal yang selama ini tidak sempat ia ucapkan, suasana di antara mereka menjadi jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Sunyi yang terasa penuh akan sesuatu yang menggantung pelan di udara dan menunggu untuk dijawab.
Seonghyeon menatap Juhoon tanpa menyela sedikit pun. Tatapannya tetap lembut seperti biasa, tetapi kali ini ada getaran halus yang sulit ia sembunyikan. Ia bisa melihat rasa sesal yang begitu jelas di wajah Juhoon, dari cara bahunya sedikit turun seperti menanggung beban yang terlalu berat, dari nada suaranya yang pelan seolah takut menyakiti lebih jauh, hingga dari matanya yang tampak menunggu hukuman yang menurutnya pantas diterima.
Dan anehnya, yang memenuhi dada Seonghyeon bukanlah kekecewaan.
Yang muncul justru rasa hangat yang menyebar perlahan, bercampur dengan perih karena akhirnya ia mengerti betapa besar perasaan yang selama ini bersembunyi di balik sikap Juhoon.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Selama ini ia selalu berpikir bahwa diam adalah cara paling aman untuk menjaga pertemanan mereka tetap utuh. Namun setelah melihat penyesalan di mata Juhoon sedekat ini, ia mulai sadar bahwa ada kalimat-kalimat tertentu yang memang tidak boleh terus ditunda.
Seonghyeon menarik napas pelan, lalu menyadarkan dirinya sendiri dengan menggeleng kecil. Perlahan ia melepaskan genggaman tangan mereka, meskipun terasa lebih sulit dari yang ia bayangkan karena Juhoon benar-benar menahan tangannya agar tidak menjauh.
Begitu sentuhan itu terlepas, Juhoon sudah lebih dulu memasang ekspresi sedih yang dengan sengaja tidak ia sembunyikan. Kepalanya menunduk, dipenuhi ketakutan yang datang bersamaan. Takut Seonghyeon tidak memaafkannya. Takut Seonghyeon tidak lagi percaya padanya. Takut delapan tahun yang mereka lalui dianggap hanya permainan. Takut semua kata yang ia ucapkan terdengar seperti bualan kosong. Dan yang paling menakutkan, takut Seonghyeon sebenarnya sudah tidak peduli lagi padanya.
Namun sebelum Juhoon sempat benar-benar tenggelam dalam ketakutannya sendiri, sebelum ia sempat menjatuhkan dirinya ke tanah bersimpuh tanpa ragu akibat rasa bersalah yang terlalu dalam, tiba-tiba terasa dua telapak tangan hangat menangkup lembut kedua pipinya.
Sentuhan itu mengangkat wajahnya perlahan, memaksanya keluar dari tunduk yang penuh takut.
Juhoon pun mendongak.
Di hadapannya, Seonghyeon sedang tersenyum manis, dengan kedua tangannya masih memegang sisi wajah Juhoon, sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga agar tidak jatuh lagi.
Seonghyeon berdiri menghadap cahaya matahari sore yang turun pelan-pelan seperti memang sengaja menunggu momen itu terjadi. Senyumnya terlihat hangat dan manis sampai-sampai Juhoon kehilangan seluruh rencana yang tadi sudah ia susun rapi di kepala selama perjalanan pulang tiga puluh menit. Semua skenario yang semula terasa penting buyar begitu saja, tersapu oleh satu pemandangan apik di hadapannya.
Beberapa helai rambut hitam Seonghyeon yang belum sempat Juhoon rapikan tertiup angin lembut ke belakang, nyaris menutupi matanya yang berbinar. Mata itu melengkung seperti bulan sabit karena senyumnya terangkat bersamaan dengan pipi yang merona halus, entah karena hangatnya matahari atau karena perasaan lain yang diam-diam ikut tumbuh di sana. Cahaya senja menyentuh wajahnya dengan lembut, membuatnya tampak begitu dekat. Dekat seperti bagaimana Juhoon ikut melangkah maju dan menahan pinggang Seonghyeon agar tidak menjauh, menjaga jarak di antara mereka tetap setipis napas yang kini saling berbaur pelan. Hangatnya udara sore bercampur dengan degup jantung yang tak lagi bisa disembunyikan, waktu sengaja berjalan lebih lambat untuk memberi ruang bagi perasaan yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Di detik itu, Seonghyeon terlihat sangat cantik, seperti pemandangan senja yang tidak akan pernah bisa dilepaskan dari ingatan Juhoon, bahkan setelah hari benar-benar gelap dan malam datang menggantikan cahaya.
“Juhoon…”
“Iya?”
Seonghyeon menarik napas kecil, mengumpulkan keberanian tanpa ingin merusak lembutnya sore hari itu. Ketika akhirnya suaranya keluar, nadanya halus, sengaja dibuat seperti bisikan yang takut mengejutkan cahaya senja di sekitar mereka.
“Aku suka sama kamu.”
Waktu seolah berhenti.
Juhoon membutuhkan beberapa detik lebih lama dari seharusnya hanya untuk memahami kalimat itu.
Bukan karena ia tidak mendengar, melainkan karena ia mendengarnya terlalu jelas hingga kata-kata Seonghyeon terasa menggantung di udara lalu jatuh tepat ke dadanya. Napasnya terpotong setengah, matanya sedikit membesar, seperti otaknya sedang memastikan ini bukan salah dengar, bukan candaan, bukan mimpi yang akan hilang begitu ia berkedip.
Selama ini Juhoon sudah berkali-kali membayangkan momen seperti ini.
Momen ketika hanya ada mereka berdua tanpa kata yang tertahan. Momen ketika perasaan akhirnya berbicara dengan suara yang sebenarnya.
Bibirnya terbuka pelan, tetapi tidak ada suara yang langsung keluar.
Tangannya yang tadi menegang di samping tubuh perlahan terangkat, menyentuh tangan Seonghyeon yang masih menangkup pipinya. Dengan hati-hati, Juhoon menunduk dan mengecup ujung jari Seonghyeon satu per satu, penuh rasa sayang yang terlalu lama terpendam hingga kini akhirnya menemukan jalannya pulang. Sentuhan kecil itu terasa begitu rapuh sampai membuat napas Seonghyeon bergetar halus dan jantungnya berdetak cepat tanpa sempat ditenangkan karena ia tahu, perasaan yang sama sedang hidup di dada mereka berdua.
Lalu, sangat pelan, senyum lega yang sudah lama Juhoon tahan akhirnya muncul di wajahnya.
Rasanya seperti seluruh dunia yang akhir-akhir ini terasa berat menjadi ringan hanya karena satu kalimat yang keluar dari mulut Seonghyeon.
“Seonghyeon…”
“Iya?”
Juhoon menatapnya dalam-dalam, memastikan wajah itu benar-benar ada di hadapannya, bukan harapan yang selama ini ia angan-angankan sendirian setiap malam. Matanya turun perlahan, menghafal setiap garis wajah yang begitu ia cintai, dari sorot mata yang hangat sampai napas lembut yang kini menyentuh jaraknya. Di hadapan keindahan itu, kata-kata yang ingin Juhoon ucapkan mendadak terasa terlalu kecil, kalah oleh perasaan tunduk yang lahir dari kesadaran betapa berharganya keberadaan Seonghyeon di dalam hidupnya.
“I love you so deeply that I can’t imagine a life where you’re not part of it.
So please, stay with me. Not just for now, but for all the days we have yet to live.”
Di antara senja yang perlahan tenggelam, dua hati yang sejak lama berjalan berdampingan akhirnya berhenti berpura-pura menjadi sekadar teman.
