Work Text:
Kwon Ohyul selalu datang paling pagi, bahkan sebelum para siswa mulai memenuhi lorong sekolah. Ia berdiri di depan gerbang dengan seragam rapi tanpa satu lipatan pun, dasi terikat sempurna, dan buku catatan kecil di tangannya.
Posisi itu sudah seperti bagian dari dirinya. Sebagai ketua disiplin sekolah, namanya sudah menjadi semacam legenda kecil di antara para siswa. Tidak ada yang berani melanggar aturan terang-terangan jika ia sedang bertugas. Bahkan siswa kelas tiga yang biasanya merasa paling berkuasa pun akan refleks merapikan kemeja atau memperlambat langkah saat melewati tatapannya.
Ohyul tidak banyak bicara. Ia tidak berteriak atau memarahi seperti guru-guru atau anggota disiplin yang lain. Ia hanya menatap dan tatapan itu terasa lebih menekan daripada bentakan mana pun.
Wajahnya sebenarnya terlalu lembut untuk disebut menakutkan. Garis rahangnya halus, kulitnya bersih, dan bulu matanya panjang bahkan terlalu panjang untuk ukuran laki-laki. Banyak yang diam-diam mengakui bahwa Ohyul punya paras yang cantik. Namun kesan itu langsung hilang begitu ia mengangkat pandangan. Sorot matanya dingin, rautnya cuek, dan sudut bibirnya selalu sedikit tertarik ke bawah, seperti sedang menilai semua orang tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun. Ia jarang tersenyum. Bahkan mungkin hampir tidak pernah.
Berbeda jauh dari Ohyul, Kim Ryul adalah kebalikannya dalam segala hal. Ia datang ke sekolah sesuka hati. Kadang tepat waktu, kadang terlambat, kadang bahkan baru muncul saat pelajaran kedua sudah berjalan. Kemejanya hampir selalu tidak dimasukkan dengan benar, dasinya sering hilang entah ke mana, dan rambut jabriknya yang tidak memiliki kesempatan untuk rapi.
Ia tidak benar-benar nakal. Nilainya tidak buruk dan ia jarang membuat keributan besar. Tapi ia terlalu santai dan tidak peduli pada aturan. Alasan itulah yang membuat namanya jadi langganan di buku catatan Ohyul.
“Kim Ryul. Terlambat lagi.” Suara Ohyul terdengar datar, nyaris tanpa emosi, saat Ryul melewati gerbang dengan langkah malas suatu pagi.
Ryul berhenti, lalu menyunggingkan senyum tipis.
“Pagi, cantik.” sapanya ringan, dengan sedikit nada merayu yang kentara.
Ohyul tidak menanggapi sapaan itu. Tangannya sudah bergerak mencatat. Ryul melangkah mendekat, sedikit menunduk agar bisa melihat isi buku itu.
“Hari ini yang ke berapa?”
Tidak ada jawaban.
“Sepuluh?” Ryul menebak. “Atau udah dua puluh?”
Ohyul menutup bukunya dengan pelan.
“Dua puluh tiga.”
Ryul bersiul pelan. “Wah, hampir satu buku sendiri. Harusnya gue dapet penghargaan gak sih.”
Ohyul mengangkat pandangannya. Tatapan dingin itu langsung mengenai Ryul.
“Kalau kamu punya waktu buat bercanda, harusnya punya waktu juga buat dateng tepat waktu.”
Ryul hanya terkekeh kecil. “Gak ah, gak asik. Nanti gue jadi gak bisa liat muka prengat-prengut lo dong.”
Tidak ada perubahan di wajah Ohyul. Namun sejenak, tangannya berhenti bergerak. Tanpa mengindahkan eksistensi Ryul lebih lanjut, ia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan pemuda jabrik itu yang masih tersenyum lebar.
Bagi siswa lain, Ohyul adalah sosok yang harus dihindari. Tapi bagi Ryul, Ohyul justru seperti magnet yang membuatnya ingin mendekat. Ia tidak tahu pasti kenapa. Mungkin karena Ohyul terlalu kaku dan dingin. Menarik untuk melihat apakah ada celah di balik tembok tebal itu.
Ryul sangat suka memancing reaksi dari pemuda itu. Kadang ia sengaja datang terlambat beberapa menit, lalu berdiri di depan Ohyul lebih lama dari yang diperlukan. Kadang ia sengaja mengeluarkan dasinya dari saku saat melewati koridor, memastikan Ohyul melihatnya.
Dan reaksinya hampir selalu sama. Ohyul akan mengerutkan alisnya tidak suka. Kadang jika pemuda itu sudah sangat jengkel, ia akan merebut dasi yang digenggam Ryul dan mengalungkan ke leher si jabrik dengan asal.
"Bisa gak sih pake dasi yang bener?"
"Pakein dong cantik." Ryul sedikit membungkukkan badannya ke arah Ohyul.
"Punya tangankan? Pake sendiri."
"Dan please stop manggil aku kayak gitu."
"Kayak gitu? Apa? Cantik?"
Ryul menarik ujung bibirnya dan semakin mencondongkan wajahnya agar tepat berada di depan wajah Ohyul.
"Gue manggil sesuai kenyataan kali. Coba deh lo ngaca."
Ohyul masih diam dengan raut wajah tidak sukanya yang perlahan menghangat saat ditatap cukup lama oleh Ryul.
"Apasih, gak jelas." Dan dengan itu Ohyul kembali melarikan diri dari hadapan Kim Ryul yang lagi-lagi tersenyum lebar tak lupa dengan wajah kecintaannya.
Saat sekolah sudah hampir kosong, Ryul duduk di dekat ruang kedisiplinan. Ia punya alasan jelas untuk berada di sana. Tentu saja menemui ketua cantiknya.
Pintu terbuka. Ohyul keluar, tas menggantung di bahunya. Ia berhenti sejenak saat melihat Ryul duduk di sana dengan kaki disilangkan santai. Ia sempat melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain selain dirinya disana.
“Belum pulang? Nyari siapa?” tanya Ohyul.
Ryul tersenyum kecil. “Belum.”
Ohyul menunggu beberapa detik, seolah mengharapkan penjelasan. Tapi Ryul tidak melanjutkan.
"Nyari siapa? Kamu belum jawab.” tanya Ohyul akhirnya.
Ryul berdiri, lalu mengangkat bahu. “Gak tau nih.”
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda di wajah Ohyul. Ketidakpuasan atas jawaban yang diberikan Ryul.
“Terus ngapain masih disini?”
Ryul mengangkat alis. “Emang gak boleh? Terserah gue mau dimana.”
"Ya boleh, kan aku cuma nanya.” Suaranya tetap datar, tapi lebih pelan dari biasanya.
Ryul menatapnya beberapa detik, lalu tertawa kecil.
“Bercanda. Gue kesini nyari lo. Emang siapa lagi sih yang selalu gue tunggu-tunggu kedatangannya kalo bukan ketua disiplin kita yang paling cantik sedunia.”
“Ngomong apasih, gak jelas.”
Nadanya yang ketus tidak bisa menyembunyikan senyum kecil dan rona samar di wajah ayu itu.
“Biar jelas, pulang bareng gue aja.” Ryul mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke mata Ohyul.
“Modus.” Ohyul menghindari tatapan mata itu dengan melihat langit sore di luar kaca jendela.
"Emang. Mau gak nih? Kalo gak mau ya udah."
Angin sore bertiup pelan, membuat beberapa helai rambutnya bergerak. Untuk sesaat, di bawah cahaya jingga yang masuk dari jendela, raut wajah Ohyul terlihat lebih lembut. Bulu matanya yang panjang membuat matanya tampak hampir rapuh, berlawanan sekali dengan sikapnya yang dingin. Ryul baru sadar betapa dekatnya mereka berdiri dan ia bersyukur dapat melihat sesuatu yang begitu indah sore itu.
Ohyul akhirnya berbicara, pelan. “Aku gak bilang gak mau.”
Ryul terkekeh. “Duluan cantik.”
Ia mempersilakan Ohyul untuk berjalan ke tangga lebih dulu yang ditanggapi dengan lirikan tajam dari pemuda itu.
Ryul sebenarnya tidak berniat berlama-lama di gedung kelas tiga. Ia hanya mampir sebentar menemui sepupunya untuk mengembalikan seragam olahraga yang sempat ia pinjam kemarin. Setelah berbincang beberapa menit, ia pun pamit, menuruni tangga dengan langkah santai seperti biasa.
Saat itu sedang istirahat makan siang. Suara gaduh memenuhi lorong sepanjang ia berjalan. Ryul menuruni satu anak tangga, lalu satu lagi, sampai langkahnya terhenti.
Ada suara dari bawah tangga. Suara beberapa siswa laki-laki. Nada mereka pelan, tapi cukup jelas untuk terdengar di ruang sempit itu. Ia tidak bermaksud menguping. Tapi nama yang disebut membuatnya diam tanpa sadar.
“Bangsat emang tuh ketua disiplin. Rokok gue disita, mana baru gue pake satu.”
Ryul mengernyit. Mereka sedang membicarakan Kwon Ohyul.
Suara kedua menyusul, penuh nada mengejek.
“Si bencong emang bikin muak tiap hari.”
Tubuhnya kaku, berdiri setengah tersembunyi di balik tembok tangga.
“Woee anjing, parah lo.”
“Kan emang.” suara pertama kembali, diiringi tawa kecil.
“Kalian liat aja deh, cowok kok cantik. Bibirnya pink lagi, pake lipstik kali tuh anak.”
“Tapi asli, bibirnya tebel warnanya pink, cuy. Rada ngaceng gue kalo tiap pagi ketemu di gerbang.”
“Si anjir malah homo.”
Lalu terdengar gelak tawa. Keras. Lepas. Seolah itu cuma lelucon biasa yang pantas ditertawakan. Sesaat, semuanya terasa sunyi di telinga Ryul.
Tangannya yang tadinya santai di saku perlahan mengepal. Ia bahkan tidak sadar kapan napasnya mulai terasa berat.
Biasanya, Ryul tidak peduli urusan orang lain. Ia bukan tipe yang gampang tersulut. Ia sering melihat orang bertengkar, saling ejek, saling hina dan ia hanya lewat begitu saja.
Ryul melangkah turun satu anak tangga lagi. Sengaja. Sepatunya menggesek lantai cukup keras hingga suara obrolan di bawah langsung terhenti.
Tiga siswa itu menoleh hampir bersamaan.
Raut wajah mereka berubah saat melihat siapa yang berdiri di tangga.
“Lanjutin.” katanya pelan.
Ketiganya saling pandang.
“Apaan?” salah satu dari mereka terdengar tidak terima.
“Yang tadi.” Ryul menuruni tangga perlahan sampai sejajar dengan mereka.
“Lanjutin. Gue pengen denger semuanya.”
Tidak ada yang menjawab.
“Jangan ikut campur urusan orang.” kata salah satu dari mereka akhirnya, mencoba terdengar santai.
Ryul mengangguk kecil. Ia melangkah mendekat satu langkah.
“Lucu ya.” lanjut Ryul pelan. “Depan dia pada kalem, takut. Belakangnya berani ngomong macem-macem.”
Salah satu dari mereka mendecak. “Yaelah bro, kita cuma bercanda kali.”
Ryul tertawa kecil. Tapi tawanya dingin.
“Bercanda?”
Ia menatap satu per satu wajah mereka. Lama. Sampai tidak ada yang berani menatap balik.
“Kalian tau gak? Apa yang kalian omongin tadi udah masuk ke tindakan pelecehan?”
Tidak ada jawaban. Satu dari mereka mengalihkan pandangan, yang lain pura-pura sibuk merapikan lengan baju. Ryul menghembuskan napas pelan, berusaha meredakan sesuatu yang masih mendidih di dadanya. Padahal tangannya sudah gatal untuk memukul mereka tapi ia ingat, Ohyul tidak akan menyukai tindakan itu.
"Sekali lagi gue liat kalian ngomong gitu tentang Kwon Ohyul. Abis kalian."
Tapi langkahnya berhenti saat perkataan mereka terdengar dan tawa yang kembali menyulut amarahnya.
"Pacarnya si bencong kali."
"Dipikir-pikir lagi dia emang cantik sih ya. Jadi pengen bikin dia nangis."
"Seru tuh."
Lalu suara gelak tawa kembali terdengar diikuti ejekan lain untuk sang ketua disiplin.
Sesuatu di dadanya terasa semakin sesak. Ryul mengembuskan napas kasar, mencoba mengabaikan semuanya. Tapi bayangan Ohyul berdiri di gerbang tiap pagi malah muncul di kepalanya. Lalu perkataan ketiga siswa itu, bagaimana sikap takut mereka tidak menghalangi pandangan dan pikiran mesum mereka untuk Ohyul. Tiba-tiba, semua itu terasa lebih menjijikkan.
Ia berbalik.
Tiga siswa kelas tiga itu masih berdiri di bawah tangga, sekarang tertawa pelan lagi, mungkin mengira Ryul sudah benar-benar pergi.
Ryul menuruni tangga lagi. Kali ini langkahnya lebih berat. Suara sepatunya membuat mereka menoleh.
“Apa lagi?” salah satu dari mereka berkata, alis terangkat.
Ryul tidak menjawab. Ia berdiri tepat di depan mereka. Tatapannya menajam.
“Ngomong lagi.” katanya pelan.
Mereka saling pandang, lalu salah satu dari mereka tertawa kecil. “Lah, kenapa? Tersinggung lo?”
Ryul tidak bergerak. Rahangnya mengencang. Ia mendekat satu langkah. Jarak mereka sekarang hanya sejengkal.
“Tadinya gue cuma mau negur tapi perkataan kalian udah keterlaluan. Ngomong depan gue sini, berani gak lo?" tanya Ryul, suaranya makin pelan.
Siswa itu mendecak. “Apaan sih lo? Doyan juga ya sama dia?”
Kalimat itu seperti memantik sesuatu yang sudah lama menunggu untuk meledak. Tangan Ryul bergerak lebih cepat dari pikirannya.
BUGH
Pukulan itu mendarat tepat di pipi siswa yang tadi bicara. Kepalanya langsung terlempar ke samping, tubuhnya oleng sebelum jatuh terduduk di lantai. Dua yang lain langsung kaget.
“Woi! Gila lo!” salah satu dari mereka maju, mendorong bahu Ryul.
Ryul tidak mundur. Tubuhnya besar dengan bahu lebar. Di antara siswa seangkatannya, ia memang sudah terlihat seperti orang dewasa. Tingginya hampir menyamai kakak kelas yang paling besar di sana. Dorongan itu nyaris tidak menggerakkannya.
Ryul menatap mereka, napasnya berat. “Mulut lo kek tai.”
Salah satu dari mereka langsung menyerang. Tangannya mengayun, mencoba memukul. Ryul menangkisnya dengan lengan, lalu membalas dengan satu pukulan ke perut. Orang itu terbatuk keras. Yang satu lagi mencoba memegang kerah Ryul dari samping, tapi Ryul lebih cepat. Ia mencengkeram pergelangan tangan kakak kelas itu, memelintirnya, lalu mendorongnya hingga punggungnya membentur tembok.
Suara benturan menggema di ruang tangga yang sempit. Siswa pertama yang tadi jatuh sudah bangkit, wajahnya merah, matanya penuh marah. Ia menyerang lagi, kali ini lebih brutal. Pukulannya sempat mengenai bahu Ryul. Ia mendesis pelan, lalu membalas dengan satu hantaman keras ke rahangnya. Kepalanya terangkat, tubuhnya goyah, lalu jatuh lagi ke lantai.
Semua terjadi cepat. Napas mereka terdengar berat, suara sepatu bergesekan dengan lantai, suara napas kasar bercampur dengan dengusan kesakitan.
Ryul berdiri di tengah-tengah mereka. Dadanya naik turun. Tangannya mengepal. Satu dari mereka masih mencoba bangkit, tapi langsung didorong lagi hingga terduduk.
Disisi lain, kantin siang itu tidak terlalu ramai. Jam makan sudah hampir selesai, hanya tersisa beberapa siswa yang masih duduk santai, mengobrol pelan, atau menghabiskan sisa makanan mereka. Di sudut dekat jendela, Kwon Ohyul duduk sendirian seperti biasa.
Nasinya hampir tidak tersentuh. Ia makan pelan, tanpa terburu-buru, punggungnya tegak, tatapannya sesekali turun ke buku kecil yang selalu ia bawa. Bahkan saat istirahat pun, rasanya ia tidak pernah benar-benar lepas dari tugas. Beberapa siswa yang lewat masih menunduk kecil saat melihatnya. Refleks. Ohyul tidak terlalu memedulikan.
Ia baru saja mengangkat sendok ketika suara langkah kaki yang tergesa mendekat.
“Kak, gawat! Kim Ryul berantem sama kakak kelas.”
Sendok itu berhenti di udara. Ohyul mengangkat pandangan. Seorang siswa kelas satu berdiri di depannya, napasnya terengah, wajahnya panik.
“Di mana?” tanya Ohyul singkat.
“Di tangga kelas tiga, kak. Udah rame banget. Gak ada yang berani misahin.”
Ohyul langsung berdiri. Kursinya bergeser pelan, tapi ia bahkan tidak sempat merapikannya. Makan siangnya ditinggalkan begitu saja. Ia berjalan cepat mengikuti siswa itu, langkahnya panjang dan tegas. Biasanya ia terlihat tenang.Tapi kali ini, ritme langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya.
Suara keributan sudah terdengar bahkan sebelum mereka sampai di tangga. Teriakan, suara sepatu berderap dan sorakan kecil dari siswa yang berkerumun. Kerumunan itu padat. Ohyul mendorong masuk tanpa ragu. Pemandangan di tengah lingkaran itu langsung membuat rahangnya mengencang.
Kim Ryul.
Rambutnya berantakan, napasnya berat, tangan kanannya masih terangkat dan di depannya ada tiga siswa kelas tiga yang sudah terlihat kacau—seragam kusut, bibir sobek, dan wajah penuh amarah. Tak ada yang berani mendekat. Tak ada yang berani memisahkan.
“Berhenti!”
Suara Ohyul memotong keributan itu seperti pisau. Beberapa kepala langsung menoleh. Suasana mendadak sunyi sesaat.
“Kim Ryul! Berhenti!”
Ryul yang baru saja hendak melangkah maju lagi tiba-tiba ditarik dari belakang. Tangannya dicekal kuat. Ryul menoleh, napasnya masih tersengal. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu. Mata Ryul masih dipenuhi amarah yang belum reda, sementara mata Ohyul tak kalah kerasnya.
“Cukup.” kata Ohyul rendah.
Beberapa anggota disiplin yang sudah tiba lebih dulu berdiri canggung di pinggir. Mereka tampak ragu sejak awal, tidak tahu harus mulai dari mana. Ohyul tidak melepaskan pegangan tangannya.
“Bawa mereka ke ruang kesehatan.” perintahnya singkat pada anggota disiplin, dagunya menunjuk ke arah tiga kakak kelas yang sudah terlihat kewalahan. Mereka langsung bergerak, membantu ketiga siswa itu berdiri.
Ohyul menarik Ryul menjauh dari tengah kerumunan yang mulai dibubarkan oleh guru yang baru datang. Ryul tidak bergerak pada awalnya, tapi saat mereka sudah agak jauh dari pusat keramaian, ia menarik tangannya keras-keras.
“Lo apa-apaan sih? Kenapa misahin gue sama mereka?!” Suaranya kasar. Dadanya masih naik turun. Matanya tajam, penuh sisa emosi yang belum sempat padam.
Ohyul menatapnya, alisnya sedikit berkerut.
“Kamu yang apa-apaan.” balasnya, suaranya dingin.
“Berantem di sekolah kayak preman, sama kakak kelas lagi. Kamu sehari gak bikin ulah gak bisa ya?” Kalimat itu meluncur begitu saja. Dan langsung terasa salah.
Ryul terdiam.
Tatapannya yang tadinya panas kini berubah lebih gelap. Rahangnya mengencang. Sesuatu di matanya seperti retak, antara marah dan tersinggung. Emosi yang tadi belum selesai disalurkan mendadak naik lagi, bahkan lebih tinggi.
“Preman?” ulang Ryul pelan, suaranya rendah.
Ohyul baru sadar. Ucapannya terlalu jauh. Ia menghela napas pelan, mencoba menahan diri. Tangan yang tadi sempat terlepas kini bergerak lagi, mencoba meraih lengan Ryul. Tapi sebelum sempat menyentuh pemuda jabrik itu menepisnya kasar. Jarak di antara mereka langsung terasa jauh.
“Jangan sentuh gue.” kata Ryul, suaranya serak.
Ohyul terdiam. Tangannya menggantung di udara sesaat sebelum perlahan diturunkan.
“Ryul...”
“Gue gak butuh ceramah lo.” potong Ryul cepat.
“Lo bahkan gak tau apa yang terjadi.”
"Tapi berantem juga bukan solusi." balas Ohyul, nada suaranya mulai meninggi tanpa ia sadari.
Ryul tertawa pendek. Sinis.
“Ya, mungkin lebih berguna daripada cuma nyatet nama orang tiap hari.”
Kalimat itu menampar balik. Ohyul terdiam, sedikit tertegun. Ia menatap wajah Ryul lebih lama. Baru sekarang ia benar-benar melihatnya. Bibir Ryul sedikit pecah. Buku jarinya memerah. Seragamnya kusut. Rambutnya acak-acakan. Tapi bukan itu yang membuat Ohyul berhenti bicara. Tatapannya. Ada kemarahan yang belum sepenuhnya padam di sana.
“Kamu bisa dikeluarin dari sekolah.” kata Ohyul akhirnya, suaranya lebih pelan, tapi tetap tegas.
Ryul menatapnya tanpa berkedip.
“Ya udah, biarin.” Jawaban itu terlalu cepat.
Ohyul mengernyit. “Biarin?”
Ryul mengangkat bahu. “Gue emang sering bikin masalah kan? Bukannya lo juga mikir gitu?”
Ohyul tidak langsung menjawab. Ryul mendecak pelan, lalu berbalik.
“Udah. Selesai kan? Gue gak berantem lagi." Ia mulai berjalan menjauh.
“Ryul!” panggil Ohyul.
Ryul berhenti, tapi tidak menoleh. Ohyul menatap punggungnya beberapa detik. Kata-kata yang tadi ia ucapkan masih terasa berat di tenggorokannya. Ia ingin menarik kembali ucapannya. Tapi Ryul sudah lebih dulu melangkah lagi. Dan kali ini, ia benar-benar pergi.
Taman belakang sekolah jarang didatangi orang, apalagi setelah jam istirahat selesai. Ohyul sudah berkeliling hampir sepuluh menit. Ia sempat mengecek ruang kesehatan, ke kelas mereka, koridor kelas dua, bahkan kembali ke tangga tempat keributan tadi terjadi. Tapi Ryul tidak ada di mana-mana.
Semakin lama ia mencari, semakin tidak nyaman rasanya di dada. Kalimatnya tadi terus terngiang. Ia menghembuskan napas pelan, langkahnya melambat saat melewati taman belakang. Sebenarnya ia tidak terlalu berharap menemukan siapa-siapa di sana.
Lalu ia melihatnya. Kim Ryul bersandar di batang pohon besar, satu kaki diluruskan, satu ditekuk, kepalanya menengadah sedikit dengan mata terpejam. Rambutnya yang jabrik tertiup angin pelan, seragamnya masih kusut seperti tadi.
Ohyul mendekat pelan, hampir tanpa suara. Jarak beberapa langkah saja sudah cukup baginya untuk melihat lebih jelas. Ada luka di sudut bibir Ryul. Memar tipis di pipinya. Buku jarinya memerah, kulitnya sedikit lecet.
Dada Ohyul terasa mencelos. Harusnya tadi ia menanyakan apakah Ryul baik-baik saja. Harusnya ia memastikan dulu. Tapi yang keluar dari mulutnya justru tuduhan. Ia merasa bersalah. Sangat.
Ohyul akhirnya duduk di sampingnya, menyisakan jarak kecil. Ia tidak langsung bicara. Hanya duduk, memandangi tanah, berusaha mengumpulkan kata-kata yang rasanya sulit keluar.
“Gue lagi pengen sendiri.”
Ohyul tersentak. Ia menoleh cepat. Ryul sudah membuka matanya. Tatapan mereka langsung bertemu. Untuk sesaat, Ohyul kehilangan kata-kata. Tapi ia memaksa dirinya tetap bicara.
“Aku mau minta maaf.” katanya pelan.
Ryul tidak menjawab. Hanya menatapnya.
“Harusnya aku tanya dulu keadaan kamu, kenapa kamu bisa berantem sama mereka.” lanjut Ohyul, suaranya lebih pelan dari biasanya.
“Bukan malah nuduh kamu nyari masalah.”
Ryul menghela napas panjang. Matanya sempat terpejam lagi sesaat, lalu terbuka.
“Peluk gue.”
Ohyul mengernyit. “Hah?”
“Cepetan.” kata Ryul, nada suaranya datar, tapi ada nada tidak sabar disana.
Ohyul masih bingung. Ia tidak tahu harus bagaimana. Tapi setelah beberapa detik yang terasa lama, ia perlahan mendekat dan memeluk Ryul. Pelukannya kaku. Ragu. Seperti orang yang tidak terbiasa menyentuh orang lain.
Ryul tidak langsung bereaksi. Ia hanya diam. Lalu pelan-pelan, ia membalas. Lengannya melingkar di pinggang Ohyul, menariknya sedikit lebih dekat. Ohyul bisa merasakan hangat tubuhnya. Nafasnya yang masih sedikit berat. Bau sabun yang samar bercampur dengan keringat dan angin sore. Mereka terdiam seperti itu beberapa detik.
Lalu Ryul bicara, suaranya rendah, nyaris seperti gumaman di dekat telinga Ohyul.
“Kalo tadi lo meluk gue kayak gini, gue gak bakal kasar sama lo.” katanya pelan.
Ohyul menegang sedikit.
“Maafin gue juga ya, cantik.”
Panggilan itu lagi. Dari pertama kali mereka sering berhadapan, Ryul memang kadang menyebutnya begitu. Dengan nada iseng dan senyum miring yang menyebalkan. Tapi kali ini beda. Tidak ada nada iseng. Suaranya lembut. Sangat berhati-hati.
Ohyul tidak sadar kalau ia menahan napas sejak tadi. Saat mendengar itu, dadanya terasa jauh lebih ringan. Aneh. Harusnya ia tersinggung seperti biasa. Harusnya ia menegur. Tapi yang ia rasakan justru lega. Sangat lega. Ia tidak menjawab dan tidak pula mendorong Ryul menjauh. Tangannya malah sedikit mengencang di punggung pemuda itu. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya diam di sana.
Mereka masih di posisi itu beberapa detik setelah kata-kata Ryul menghilang bersama angin sore. Pelukan itu terasa hangat dan Ohyul yang pertama kali sadar. Ia pelan-pelan melepaskan lengannya. Gerakannya canggung. Seperti takut melakukan sesuatu yang salah.
Ryul, sebaliknya, terlihat biasa saja. Ia ikut melepas, bersandar lagi ke batang pohon, seolah tidak ada hal besar yang baru saja terjadi. Nafasnya sudah lebih tenang, bahunya turun, ekspresinya kembali santai seperti biasanya.
Ohyul berdehem kecil, berusaha menata dirinya sendiri.
“Ehem! Kita obatin luka kamu dulu ya.” katanya, sedikit terlalu cepat.
“Takut infeksi kalau dibiarin lama-lama.”
Ryul meliriknya, lalu mendecak pelan. “Gue males balik ke sana.”
“Aku bawa peralatannya kok.” balas Ohyul buru-buru. Ia meraih tasnya yang sejak tadi ia bawa. “Jadi kita gak perlu balik.”
Ryul mengangguk kecil. Ohyul membuka tasnya, mengeluarkan kapas, antiseptik, dan plester kecil. Tangannya bergerak terampil, seperti sudah terbiasa. Ia memang sering membawa peralatan sederhana seperti itu, untuk berjaga-jaga kalau ada siswa yang terluka saat bertugas. Ia bergeser sedikit lebih dekat. Sekarang jarak mereka hanya sejengkal. Cukup dekat sampai Ohyul bisa melihat jelas garis luka di sudut bibir Ryul, memar tipis di pipinya, dan goresan kecil di buku jarinya.
“Tahan ya, ini agak perih.” katanya pelan, sebelum menyentuhkan kapas ke luka di bibir Ryul.
Ryul tidak menjawab. Ia hanya menatap. Awalnya Ohyul tidak terlalu sadar. Ia fokus membersihkan luka, berusaha selembut mungkin. Tapi semakin lama, ia mulai merasa diperhatikan. Ia mendongak sedikit. Ryul sedang menatapnya. Bukan sekadar melihat tapi benar-benar memperhatikan.
“Dari deket gini.” kata Ryul pelan.
“Bulu mata lo panjang banget ya.”
Ohyul terdiam sesaat.
Ryul menambahkan, nyaris seperti gumaman. “Cantik.”
Tangan Ohyul yang memegang kapas berhenti sepersekian detik. Jantungnya seperti tersenggol sesuatu. Ia berdehem cepat, menunduk lagi, pura-pura fokus membersihkan luka.
“Biasa aja.” gumamnya pelan, berusaha terdengar tenang. Tapi ujung telinganya sudah mulai memanas.
Sunyi lagi beberapa detik. Hanya suara daun yang bergerak pelan di atas mereka. Tiba-tiba Ryul bicara lagi.
“Lo pake lipbalm apa?”
Ohyul refleks menoleh, kaget. “Hah?”
“Lipbalm.” ulang Ryul santai. “Lo pake apa?”
Ohyul mengerjap, benar-benar tidak menyangka pertanyaan itu. “Emang kenapa? Mau minta?”
Ia membuka tasnya lagi. “Kebetulan aku bawa di tas.”
Ryul mengangguk. “Boleh.”
Ohyul mengeluarkan lipbalm kecil dari dalam tasnya, menyerahkannya. Jari mereka sempat bersentuhan sebentar. Ryul tidak langsung memakainya. Ia justru menatapnya lama. Lalu tatapannya turun ke bibir Ohyul. Dan tetap di sana. Ohyul langsung sadar. Napasnya tertahan. Ia tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba rasanya panas. Wajahnya memanas tanpa bisa dicegah.
Ia menunduk sedikit, pura-pura merapikan kapas yang sebenarnya sudah tidak perlu dirapikan. Tapi Ryul masih menatap. Dari bibirnya, pelan-pelan naik ke mata Ohyul. Tatapan mereka bertemu lagi. Kali ini lebih lama. Rona merah sudah jelas muncul di pipi Ohyul. Ia bisa merasakannya sendiri, panasnya menjalar sampai ke telinga. Tangannya yang tadi bergerak tenang kini terasa sedikit kaku. Ryul masih memegang lipbalm itu, tapi belum juga dipakai. Seolah lupa. Atau memang sengaja.
Ohyul berdehem pelan lagi, mencoba mengembalikan suasana ke sesuatu yang lebih normal. “Dipake aja, biar gak kering bibirnya.”
Ryul tersenyum tipis, baru akhirnya membuka tutupnya.
“Iya.” katanya pelan. Tapi matanya masih sesekali melirik Ohyul.
Dan Ohyul tidak tahu harus berbuat apa dengan dirinya sendiri.
Beberapa hari setelah kejadian di taman belakang itu, semuanya kembali berjalan seperti biasa. Pagi itu, Kwon Ohyul sudah berdiri di gerbang sekolah. Seragamnya tetap rapi, buku catatan kecil ada di tangannya, dan tatapannya masih setajam biasanya. Para siswa yang datang tetap merapikan kemeja saat melihatnya.
Tidak ada yang berubah. Kecuali satu hal kecil. Saat Kim Ryul muncul di kejauhan dengan langkah santai, kemeja setengah keluar dan tas digantung asal di bahunya, ada sesuatu yang berbeda di wajah Ohyul.
Senyum tipis.
Kecil sekali. Hampir tidak terlihat. Tapi ada.
Ryul langsung menyadarinya. Ia berhenti tepat di depan Ohyul, seperti biasa. Menatapnya dengan senyum malas yang khas.
“Terlambat.” kata Ohyul, suaranya tetap datar. “Lima menit.” Tangannya bergerak mencatat.
Ryul menyeringai. “Pagi juga, cantik.”
Ohyul tidak menatapnya lama. Tapi sudut bibirnya sedikit naik, hampir tak terasa.
“Seragam berantakan.” lanjut Ohyul.
“Dasi?"
“Di tas.”
“Pake.”
Ryul menurut. Mengeluarkan dasinya dan memakainya dengan gerakan asal-asalan. Biasanya, Ohyul akan langsung membetulkan. Tapi kali ini, ia hanya memperhatikan beberapa detik, lalu dengan gerakan pelan, tangannya naik dan merapikan simpul dasi itu.
Jari mereka nyaris bersentuhan. Atmosfer di antara mereka terasa aneh. Seolah ada sesuatu yang lembut dan hangat yang mengalir pelan, tak terlihat tapi terasa jelas. Seperti bunga-bunga kecil yang bermekaran di udara, membuat pagi itu terasa lebih ringan.
“Udah.” kata Ohyul pelan.
Ryul menatapnya. “Makasih.”
Ohyul mengangguk, lalu pura-pura kembali fokus mencatat. Tapi senyum kecil itu masih tersisa.
Jam istirahat, mereka kembali ke tempat yang sama. Taman belakang sekolah. Di bawah pohon besar yang sudah seperti tempat rahasia mereka berdua. Ohyul sudah duduk di sana lebih dulu. Di tangannya ada dua kotak bekal. Ia sempat ragu membawanya pagi tadi, tapi akhirnya tetap ia masukkan ke tas. Ryul datang beberapa menit kemudian, langsung menjatuhkan dirinya di samping Ohyul.
“Bawa bekel?” tanyanya, alisnya terangkat.
Ohyul mengangguk pelan. “Iya, aku masak tadi pagi.”
Ryul langsung bersiul pelan. “Buat gue juga?”
Ohyul membuka kotaknya, lalu mendorong satu ke arah Ryul. “Buat kita berdua.”
Ryul membukanya. Aroma hangat langsung keluar. Nasi, telur dadar, tumis sayur, dan ayam krispi yang dipotong kecil-kecil. Ia langsung mengambil satu suap.
“Enak banget!" katanya dengan mulut masih setengah penuh. “Gue jadi makin yakin.
Ohyul yang sedang makan berhenti. “Yakin apa?”
Ryul menoleh padanya, santai sekali. “Lo emang ditakdirkan jadi my bini gue.”
Ohyul langsung tersedak kecil. “Apasih! Gak jelas banget.”
Ryul terkekeh. “Udah cantik, pinter masak lagi.”
Pipi Ohyul langsung memerah. Ia menunduk, pura-pura fokus pada makanannya. “Diem deh.”
“Hahahaha.” Ryul tertawa lepas. “Emang gak mau?”
Ohyul mengernyit, masih belum sepenuhnya mencerna. “Hah?”
Ryul menatapnya, kali ini sedikit lebih serius. “Emang gak mau sama gue?”
Ohyul terdiam. Sendoknya masih terangkat di udara, belum sampai ke mulut. Ryul melanjutkan dengan nada santai, seolah cuma bercanda, padahal matanya memperhatikan reaksi Ohyul dengan seksama.
“Ya kebetulan kemarin ada yang confes ke gue, gue tolak.” katanya. “Nahh kalo lo nolak juga, kayaknya gue—”
Ohyul langsung menatapnya.
“AKU GAK NOLAK!” Suaranya sedikit terlalu keras. Spontan dan tanpa dipikir.
Ryul tersentak kaget sesaat. Lalu detik berikutnya, ia tertawa keras.
“Ihhh jangan ketawa, Ryul! Malu!”
Ohyul langsung menunduk, wajahnya merah sampai ke telinga. Ia menutup sebagian wajahnya dengan tangan, benar-benar tidak berani menatap. Ryul masih tertawa kecil, matanya penuh rasa gemas. Ia meletakkan kotak bekal di antara mereka, lalu pelan menarik Ohyul mendekat. Tangannya melingkar di bahu Ohyul, menariknya ke dalam pelukan.
“Udah, gak usah malu.” gumamnya pelan.
Ohyul tetap menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya.
“Jangan ditutup mukanya.” lanjut Ryul, suaranya lembut.
“Nanti cantiknya gak keliatan.”
Ohyul langsung menepuk bahunya cukup keras. “Apasih! Nyebelin!”
Ryul meringis, tapi malah terkekeh. “Sakit tau.”
“Biarin!” gumam Ohyul kesal, tapi tidak benar-benar menjauh dari pelukan itu.
Ryul hanya tertawa kecil lagi, suara kekehannya terdengar hangat di dekat telinga Ohyul. Ya Tuhan, Kim Ryul memang berbahaya untuk kesehatan jantung Kwon Ohyul.
