Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-07
Words:
3,755
Chapters:
1/1
Comments:
12
Kudos:
109
Bookmarks:
4
Hits:
763

Kimi Kangen Ayah

Summary:

“Andrea kangen ayah ya?” tanya George tidak tahan untuk tidak bertanya kemudian heran sendiri karena tidak ada sahutan penuh nada sewot dari anak semata wayangnya. George mengalihkan pandangan dari buku cerita di tangannya dan melihat mata Andrea Kimi sudah berkaca-kaca.

Loh he loh he– yah, salah langkah si bapak. George menepuk kepalanya sendiri. Akibat usil, dia juga yang kena batunya.

Notes:

Author gak punya anak. Kimi dipanggil Andrea sama orangtuanya, tapi manggil diri sendiri Kimi karena namanya dibilang lucu sama temen playgorup-nya.

Work Text:

George tidak bisa tidak mengalihkan pandangannya dari televisi kala mendengar langkah kaki kecil itu tidak berhenti mondar-mandir mengitari rumah. Beruntung rumah yang mereka tinggali ini hanya satu lantai saja, kalau tidak, mungkin Andrea Kimi sudah bolak-balik naik turun menyambangi ruang demi ruang. Awalnya juga, George tidak sadar kenapa anak umur lima tahun ini heboh sendiri seperti tengah melakukan misi rahasia yang tidak boleh diketahui oleh bapaknya sendiri. Masalahnya, George hapal sekali kalau Andrea Kimi tergolong bawel dan tidak gengsi untuk selalu merecoki dirinya bilamana anak kecil itu sedang berada dalam rasa ingin tahu penuh. Namun, Andrea Kimi yang sekarang seperti tidak menyadari kalau sosok George ada untuk ditanya dan tengah duduk tidak jauh dari area bermainnya di ruang keluarga.

 

Sebentar-sebentar, Andrea Kimi pergi ke ruang tamu. Kemudian anak itu pergi ke kamarnya sendiri, ada suara benda yang jatuh (kemungkinan besar salah satu mainannya) lantas kaki mungil itu berlalri ke arah dapur. George bisa mendengar suara buka tutup pintu kulkas lalu,

 

“Ah…” suara anak kecil itu terdengar dari sofa tempat George duduk. Ia mulai khawatir meski tidak bergerak sedikitpun sebab ingin melihat apakah anak laki-lakinya akan menyelesaikan apapun yang telah terjadi atau berteriak meminta bantuan.

 

“Andrea? Kamu gak apa-apa?”

 

“Susunya tumpah, Pa, tapi udah Kimi lap kok.” jawabnya sembari pelan-pelan berjalan membawa mug plastik berisi susu putih penuh untuk kemudian duduk di samping George dan meminumnya.

 

Baru juga bapak satu anak itu menghela napas karena dapat melihat Andrea Kimi dalam jangkauan pandangannya, lagi-lagi jantung George harus siap terpompa kembali sebab kaki kecil Andrea Kimi sudah menyentuh lantai. Susu di mug plastik itu sudah habis.

 

Setelah entah berapa putaran, George baru sadar kalau Andrea Kimi memang tengah menjalani misi rahasia yaitu mencari ayahnya yang masih dinas di luar kota. George sejujurnya mau tertawa, tapi juga kasihan dengan anak laki-lakinya yang sudah mengitari rumah mencari Max meski tidak kunjung ketemu. Jarang sekali Andrea Kimi menginginkan kehadiran Max, kecuali– ah, benar juga, anaknya baru selesai membangun lego berbentuk robot terbaru yang amat canggih (menurut dia sendiri). George ingat kalau tadi anak kecil itu memamerkan lego buatannya dan hanya dibalas seadanya oleh George. Benar juga, tiap kali Andrea Kimi membuat lego, ia merasa harus menunjukkan hasil karyanya ke semua orang, termasuk Max, ayahnya sendiri. 

 

Yah, repot deh kalau udah gini, batin George. Ia paham sekali kalau Andrea Kimi adalah orang paling gengsi nomor dua kalau sudah perihal sang ayah (George nomor satu). Mau ditanya olehnya pun pasti ujung-ujungnya anak itu akan menangis. Tidak ditanya, tapi hati George miris sendiri melihat anak itu mencari Max yang tidak ada di rumah.

 

“Andrea Kimi,” akhirnya George buka suara. Bisa dilihat anaknya berjengit kaget lantas pelan-pelan mata mungil itu menatap ke arah George takut-takut.

 

“Ya, papa?”

 

“Beresin legonya, yuk kita bobo, udah jam delapan ini.”

 

Andrea Kimi cemberut, “tapi…”

 

“Lego robotnya taruh di atas meja dulu aja, biar besok ayah bisa lihat.”

 

“Besok?” Kimi mengerutkan dahi, kemudian baru sadar kalau ayahnya tidak ada di rumah.

 

“Iya, ayah kan masih dinas di luar kota,”

 

Kimi manggut-manggut, meski kerutan di dahinya tidak kunjung lurus. “Andrea cari ayah ya?” pancing George tidak tahan.

 

“Nggak.” Waduh, santai boss. Kok cepat banget nyahutnya. George menahan tawa sembari melihat anak semata wayangnya memindahkan lego robot ke atas meja ruang keluarga, lantas ikut membantu Kimi memungut kepingan-kepingan lego untuk dimasukkan ke dalam boks mainan. 

 

“Sikat gigi, pipis, cuci muka ya. Papa mau ganti baju dulu.” ujar George setelah menutup boks mainan yang langsung diamini oleh Kimi tanpa ba-bi-bu.

 

Tidak butuh waktu lama untuk mereka berdua akhirnya merebah di atas kasur. Kimi sudah memeluk boneka dinosaurus kesayangannya dengan mata lima watt tapi bersikeras mendengarkan Papanya membacakan dongeng sebelum tidur. Rutinitas yang biasanya dilakukan oleh Max, berhubung orangnya tidak ada, George menjadi pemeran pengganti.

 

“Merem aja loh,” usul George geregetan sendiri melihat kelakuan Andrea Kimi.

 

“Tapi ceritanya belom selesai,” jawab anak itu merengut. Keras kepalanya persis Max, batin George.

 

“-dan mereka hidup bahagia selamanya, selesai.” sahut George usil, hal yang sukses membuat Andrea Kimi merengek sebal. 

 

“Papaaaaa,”

 

“Kamu tuh, udah berapa kali coba dibacain buku ini tiap malam,” George merasionalkan pikiran anak umur lima tahun tersebut.

 

Kimi lagi-lagi cemberut, tapi tidak menjawab ucapan papanya.

 

“Andrea kangen ayah ya?” tanya George tidak tahan untuk tidak bertanya kemudian heran sendiri karena tidak ada sahutan penuh nada sewot dari anak semata wayangnya. George mengalihkan pandangan dari buku cerita di tangannya dan melihat mata Andrea Kimi sudah berkaca-kaca.

 

Loh he loh he– yah, salah langkah si bapak. George menepuk kepalanya sendiri. Akibat usil, dia juga yang kena batunya. 

 

“Huaaa, ayah kapan pulangnya sih? Kimi kan mau kasih lihat lego yang baru kimi bikin! Huaaa-”

 

“Shhh… shh… Andrea sedih ya ditinggal ayah lama-lama. Gak apa-apa, besok juga ayah pulang.”

 

“Besok-besok terus sih. Kan, besok masih lama, Papa!”

 

“Yaudah, gimana kalau sekarang kamu merem terus tidur biar besok datengnya lebih cepat? Terus ayah dateng deh.”

 

Tangis Andrea Kimi sukses berhenti, ia menatap wajah George masih dengan pelupuk penuh air mata tidak percaya. George lantas mengusap pipi tembam anak laki-laki itu dengan sayang, membuat Kimi luluh juga. Andrea Kimi memejamkan mata dan pergi ke alam mimpi.

 

Goodnight, baby goat,” bisik George mengecup dahi Kimi yang sudah terlelap. Lega sekaligus gemas sendiri menyadari bahwa Andrea Kimi benar-benar perpaduan dirinya dan Max. Hal yang membuat George lantas mengambil ponsel untuk mengirimkan potret Kimi pada suaminya.

 

 

George : insert picture

George : anaknya kangen nih, ayah kok gak pulang-pulang.

Max : hahaha

Max : anaknya aja, nih? Papanya nggak?

George : 🙄

George : kamu jadi pulang besok?

Max : gengsi nih yeee

Max : aku bentar lagi otw, kangen anak-suami.

George : kirain jadinya besok pagi

George : hati-hati loh nyetirnya

Max : tenang, sama driver kantor kok

Max : kamu tidur aja, aku bawa kunci

George : oke ayah

George : besok kamu seharian sama Andrea ya

Max : asal semaleman sama kamu, aku sih oke-oke aja

George : 🤢

 

 

Siapa bilang kalau anak umur lima tahun tidak punya kegiatan yang padat. Andrea Kimi akan dengan berani membantah siapapun yang berkata demikian di depan wajahnya sebab ia merasa hari-harinya super sibuk. Tepat jam lima pagi, Andrea Kimi akan terbangun dari tidurnya untuk pergi ke kamar mandi. Sudah sampai di kamar mandi, anak itu terbiasa langsung mencuci muka dan bilamana sudah mencuci muka, ia akan merasa super segar sehingga dilanjutkan dengan kegiatan menggosok gigi. (meski sebenarnya Andrea Kimi juga bingung kenapa ia tiap bangun tidur harus sikat gigi padahal sebelum tidur ia selalu sikat gigi) ((hal ini juga pernah menjadi perdebatan panjang antara dia dan George)).

 

Biasanya, Andrea Kimi berniat untuk mengambil segelas susu di dapur namun ia kerap terdistraksi dengan tumpukan mainan di kamarnya dan mulai mengambil salah satu dari sekian mainan yang tergeletak. Kali ini, Kimi mengambil salah satu action figure (palsu) favoritnya yaitu Hulk. Ia mulai mengoprek kaki dan tangan Hulk yang dirasa tidak sesuai dengan standar(nya sendiri), kemudian tangannya meraih mobil-mobilan hot wheels, lantas ia kembali terdistraksi dengan mainan robotnya yang lain, sampai akhirnya Kimi pun duduk di lantai kamarnya dan sibuk bermain peran dengan mainan-mainan di sana. 

 

Ayah dan Papa belum bangun, Andrea Kimi tahu itu sehingga ia merasa leluasa bermain di kamarnya. Eits– anak umur lima tahun itu kembali cemberut mengingat kalau ayahnya tidak ada di rumah semalam saat ia beranjak tidur. Sudah entah berapa hari sang ayah absen membacakan dongeng sebelum tidur– banyak! Pokoknya lebih dari satu hari! (Kimi malas mikir). Padahal waktu-waktu dongeng sebelum tidur adalah hal yang amat Kimi nantikan sebab ia merasa kalau saat itu diam lebih menarik daripada bergerak. Maklum, anak laki-laki ini memang sangat aktif. Boleh tanya kebenaran fakta ini pada George.

 

Andrea Kimi sibuk menabrak-nabrakkan wajah Hulk pada bemper depan Bumblebee sampai tidak mendengar suara buka-tutup pintu kamar kedua orangtuanya.

 

“Andrea? Udah bangun?” itu suara ayah, sontak membuat anak umur lima tahun itu berjengit dan menoleh ke arah pintu kamarnya yang sengaja dibuka. (Kimi bahkan tidak ingat kapan pintu itu pernah tertutup)

 

“Ayah!” seru Kimi kemudian berdiri, kaki kecilnya dengan lincah menapaki lantai menuju Max yang sudah setengah merunduk siap menerima serangan anak semata wayangnya.

 

Max memeluk Kimi yang langsung naik ke tubuhnya macam koala kecil, “halo jagoan,”

 

“Ayah kapan sampai? Kok Kimi gak tau.”

 

“Kamu udah tidur pas ayah sampai,” jawab Max sigap menggendong Kimi lantas membawanya ke arah dapur

 

“Ayah pasti malem-malem banget sampai nya,” seru Kimi tidak melepaskan tautan tangan di leher ayahnya.

 

“Andrea mau susu?” tawar Max menurunkan anaknya kala mereka sudah sampai di depan kulkas.

 

“Mau! Mau! Pakai gelas Kimi sendiri.”

 

“Yang pink?” tanya Max setelah membuka kabinet berisi gelas-gelas.

 

“Itu punya papa!”

 

“Yang biru?”

 

“Itu punya ayah!”

 

“Hmm, terus yang mana dong?”

 

“Yang kuning! Ih! Ayah gimana sih, gitu doang gak tahu!” sahut Kimi dengan nada yang amat sewot, sepenuhnya tidak sadar kalau sedari tadi Max memang sengaja mengusilinya.

 

Bapak satu anak tersebut mengulum senyum gemas melihat tingkah anaknya, kemudian manggut-manggut pasrah melihat ekspresi Kimi tidak berubah–bersungut-sungut. Mirip George, batin Max.

 

“Oh iya, kuning yah. Ayah lupa,”

 

“Ayah mah, lupa-lupa terus,” balas Kimi dengan bibir mengerucut. Kalau sudah begini tandanya Max sudah harus berhenti usil, kalau dilanjut bisa-bisa Andrea Kimi mengawali hari dengan tangisan dan itu akan berpengaruh pada mood bocah itu seharian. Max tidak mau membuat anak semata wayangnya bete.

 

“Nih, susu buat Andrea. Jus jeruk buat ayah.”

 

“Terimakasih Ayah,” ujar Kimi bak autopilot yang membuat senyum Max kembali merekah. Keduanya duduk di meja makan berdampingan dengan gelas di depan masing-masing. Max menikmati rasa asam jeruk yang sengaja ia seruput sedikit demi sedikit untuk mengumpulkan nyawa di pagi hari, sementara Kimi dengan tidak sabaran menyeruput susu karena memang anak itu sudah lapar.

 

“Ayah! Ayah, udah lihat belum robot lego buatan Kimi?”

 

“Robot lego? Wah belum tuh, dimana ayah bisa lihat?”

 

“Itu Yah, di depan tv. Ayo sini kita lihat.” seru Kimi lantas turun dari kursinya. Sebelah tangan Max ia ambil sembari melenggangkan kaki kecilnya ke ruang keluarga. Hal yang membuat Max mau tak mau ikut bangkit meninggalkan jus jeruknya untuk mengikuti Kimi. 

 

“Tuh yah, lihat robot lego buatan Kimi. Keren kan, Yah?”

 

“Woah, keren banget! Ini robotnya bisa terbang gak?”

 

“Nggak bisa terbang, cuma ini robotnya bisa nembak aja,” Kimi mengangkat lego tersebut dari atas meja dengan hati-hati, “yang ini Yah tembakannya, terus ini nyambung sama tangannya.”

 

“Terus-terus kepalanya mana?”

 

“Yang ini kepalanya, yang warna orens,” tunjuk Kimi ke bagian atas, “tapi harus hati-hati pegangnya, soalnya kepalanya bisa lepas sendiri,”

 

“Oh, kepalanya longgar ya itu,”

 

“Iya itu kepalanya longgar,” sahut Kimi kemudian menunjuk bagian bawah robot ditangannya, “ini kakinya, terus dia ini ada ekornya Yah.”

 

“Robot ada ekornya?” nah kali ini Max beneran penasaran, kok bisa tiba-tiba ada ekor?

 

“Iya, kan ini robot dinosaurus Yah, jadi dia punya ekor.” jawab Kimi santai.

 

Max diam sebentar lantas menimpali, “kalau robot dinosaurus, kenapa lehernya gak panjang?”

 

Giliran kimi yang diam, “Soalnya… gak tau.” jawab anak itu sembari nyengir menatap ayahnya. 

 

“Masa gak tahu kan ini kamu yang bikin,” ujar Max, lagi-lagi usil,

 

“Ya emang gatau Kimi, Yah!” balas Kimi tidak mau kalah. 

 

“Andrea Kimi! Kok gak mandi? Kamu hari ini mau sekolah gak?” George yang baru bangun memotong adegan berantam anak-ayah di pagi hari itu. Kimi sontak berdiri dan lari menuju kamar mandi. “Iya ini mandi!”

 

George geleng-geleng membuat Max kembali terkekeh melihat kelakuan anak umur lima tahun tersebut. “Tuh kan, langsung pamer robot lego!” seru George menunjuk lego di hadapan Max dengan dagunya.

 

“Ternyata dia kebiasaan pamer juga ya,”

 

“Sama kayak kamu,” balas George cepat seraya melengos, “kamu yang antar Andrea ke playgroup ya, aku mau buat sarapan dulu.”

 

Baru juga Max berhasil menyusul George ke dapur, ia bisa mendengar pekikan suaminya kala melihat isi kulkas. “Astaga! Susu Andrea habis! Tadi dia minum susu? Kamu yang ambil?”

 

Max mengangguk, “iya tadi gelas terakhirnya, aku lupa bilang ke kamu.”

 

George nampak berpikir sebentar, “kayaknya kamu harus ke supermarket deh, beberapa sabun dan bahan makanan juga tinggal dikit. Aku tulisin list-nya ya.”

 

Max mengernyitkan dahi, “aku ke supermarket sendiri aja nih? Gak jadi anterin Andrea ke playgroup?”

 

“Gak usah, Andrea sama aku aja nanti. Kamu langsung ke supermarket, nanti pulang sekolah pasti anaknya minta minum susu deh.” putus George, mengingat Andrea Kimi suka sekali minum susu. Maklum, masa pertumbuhan.

 

“Yakin gak apa-apa? Kamu belum bilang Andrea kalau aku yang bakal anterin dia kan?”

 

George mengangguk pasti, “iya, aku gak janji apa-apa kok. Tenang aja.” mendengar jawaban suaminya, Max menurut saja dan siap-siap untuk pergi ke supermarket sementara George siap mengambil secarik kertas dan pulpen untuk menulis daftar produk yang harus Max beli di supermarket. 

 

..

 

Sepertinya Andrea Kimi juga tidak menyadari ketidakhadiran sang ayah, begitu yang George pikirkan selama ia menemani anaknya memakai sepatu di area foyer dan menyandingkan ransel berbentuk pesawat warna biru di bahu Kimi. Bukan apa, perjalanan dari rumah ke playgroup tempat Kimi menimba ilmu hanya berjarak dua blok dan mereka berdua selalu berjalan kaki tiap pagi. Lima menit awal tidak ada tanda-tanda apapun, Andrea Kimi berjalan sembari mengamit tangan kanan sang papa bahkan bersenandung sebab terlampau bersemangat pergi ke sekolah. George bahkan bisa melihat anaknya menggoyang-goyangkan kepala, membuat rambut panjang bocah itu tersibak-sibak kecil.

 

Setengah perjalanan sebelum sampai ke tempat playgroup, Andrea Kimi berhenti berjalan membuat George ikut menghentikan langkah.

 

“Andrea, kenapa? Ada yang ketinggalan kah?” tanya George, merundukkan tubuhnya untuk menyamakan pandangan dengan anak kecil itu.

 

George bisa melihat Andrea Kimi mengerjapkan matanya berkali-kali dengan bibir mengerucut. Ia seperti melihat dirinya sendiri versi mini kala berpikir keras. 

 

“Mau ke kamar mandi? Gak jadi mau sekolah?” tanya George lagi dan lagi, tidak lupa menjaga nadanya tetap lembut agar anak semata wayangnya percaya untuk mengeluarkan apa-apa yang ada di kepala padanya. 

 

“Ayah, udah gak sayang lagi yah sama Kimi?” tanya anaknya sama sekali gak nyambung.

 

Duar!

 

Ini pasti efek gak lihat Max sewaktu mau pergi berangkat sekolah. George jujur mau banget tahu alur pemikiran anaknya, tapi ia bisa lihat kalau ujung pelupuk mata Kimi sudah penuh dengan air mata.  

 

Yah, nangis lagi.

 

George meringis, “sayang dong. Kenapa gitu?”

 

“Masa ayah udah pergi kerja lagi, cuma main sebentar sama Kimi! Ayah udah gak mau main sama Kimi lagi ya, Pa? Apa robot lego buatan Kimi kurang keren, Pa? Padahal tadi pagi kata ayah robot lego Kimi keren kok! Tapi kenapa ayah pergi gak bilang-bilang Kimi, Papa?!” cerocos Kimi dramatis membuat George menarik dua alisnya terkejut dan kagum di waktu yang bersamaan sebab ternyata anaknya ini menaruh perhatian pada sekitar juga.

 

“Oh Andrea… sedih ya tadi ayah perginya gak pamit, iya?” George mengusap puncak kepala anaknya sembari menenangkan Kimi.

 

George bisa melihat anaknya mengangguk pelan, ada beberapa bulir air mata yang turun namun langsung dihapus oleh kimi secepatnya dengan punggung tangan. Benar-benar gengsi dilihat menangis, apalagi perihal ayahnya.

 

“Ayah tadi disuruh pergi ke supermarket sama papa, buru-buru karena ternyata susu kamu habis. Makanya papa suruh cepat pergi ke supermarket takutnya nanti pulang sekolah Andrea mau minum susu, tapi susunya gak ada. Maafin papa ya?”

 

Kimi terisak lantas mengangguk pelan, “Berarti, ayah pulang kan abis dari beli susu?”

 

“Pulang dong, kan susunya mau diminum sama Andrea nanti pulang sekolah.”

 

Tidak ada jawaban dari anak kecil berumur lima tahun itu sehingga Geroge kembali mengusak rambut coklat anaknya, merapikan anak rambut yang tersibak angin. “Sekarang, Andrea mau lanjut jalan ke sekolah atau pulang aja nunggu ayah?”

 

“Ke sekolah aja,” jawab Kimi 

 

“Kalo gitu jangan cemberut dong, kan mau ketemu bu guru sama teman-teman,” bujuk George yang hanya dijawab anggukkan oleh Kimi.

 

“Papa, Kimi mau peluk,” pinta anaknya sebelum mereka lanjut berjalan ke sekolah. Hal yang langsung diamini oleh George kemudian mereka berdua kembali berjalan kaki seperti tidak ada jeda drama sebelumnya.

 

 

George : kamu masih di supermarket?

George : anaknya nangis lagi nyariin kamu

George : kaget, drama banget pagi-pagi

Max : drama kayak siapa tuh

George : KAYAK KAMU LAH

Max : iya sabar gak usah ngamuk

Max : aku udah di parkiran, mau pulang

Max : ada mau nitip sesuatu?

George : gak ada sih

George : ada semua kan yang di daftar belanjaan

Max : aman

George : entah kenapa kalo kamu bilang aman aku malah tambah khawatir

Max : hahah

Max : cek sendiri nanti

Max : aku jalan ya

George : hati-hati

George : kalau kejebak macet, sekalian aja jemput anaknya ya, kayaknya udah masuk rush-hour gak sih?

Max : shite

Max : oke nanti aku kabarin lagi ya.

 

 

Saat Max sampai di depan playgroup tempat Andrea Kimi menimba ilmu, ia bisa melihat kalau anak semata wayangnya tengah berlari-larian dengan beberapa teman sebayanya. Tidak begitu banyak karena memang jam pulang sudah lewat dan kebanyakan teman-teman Andrea sudah dijemput oleh orang tua masing-masing. Dengan santainya, Max berjalan menghampiri anak kecil itu sampai akhirnya Andrea Kimi menyadari kehadiran sang ayah.

 

“Ayahhh!!” seru Kimi lantang, lantas berlari menuju Max tanpa ba-bi-bu langsung meninggalkan teman bermainnya.

 

Dengan sigap Max menangkap Kimi kemudian langsung dibawa naik untuk digendong. Max membubuhkan kecup di puncak kepala anak semata wayangnya kemudian protes, “ih, anak siapa sih ini bau asem!”

 

Kimi merengek, “siapa suruh ayah cium-cium orang Kimi abis main!”

 

Max tergelak, tahu kalau anak umur lima tahun itu selalu punya jawaban dan tidak mau kalah. Persis papanya.

 

“Yuk pulang sekarang,” ajak Max menurunkan Kimi dari gendongannya. Mengerti bahwa ternyata ia dijemput sang ayah, Andrea Kimi buru-buru masuk ke dalam untuk mengambil ransel dan pamit ke ibu guru. Setelahnya, Max mengamit tangan mungil itu untuk kembali mengendarai mobil.

 

Benar saja perkiraan George kalau jalan raya sudah padat sekali saat Max kembali dari supermarket. Hal yang membuat Max mau tidak mau langsung berputar untuk menjemput Andrea Kimi di playgroup tanpa menurunkan tas belanja dari mobil. Begitu duduk di kursi penumpang, anak lima tahun itu menjulurkan kepalanya ke belakang kursi.

 

“Kata papa, ayah tadi pergi ke supermarket. Emang iya, Yah?”

 

Max yang baru juga duduk di belakang kemudi mengangguk, “iya, tadi papa ke supermarket buat beli susu kamu sama sabun dan lain-lain. Andrea mau minum susu sekarang?”

 

Giliran Kimi yang menggeleng, tidak ada jawaban apa-apa dari anaknya membuat Max menoleh sekaligus memastikan sabuk pengaman sudah terpasang dengan benar.

 

“Andrea, kita makan es krim yuk. Mau gak?”

 

Tawaran tiba-tiba dari Max membuat anak itu terkejut. Max bisa melihat bola mata anaknya membulat dari ujung pandangan, hal yang serta merta membuat sang ayah merekahkan senyum. 

 

“Beneran Yah? Boleh sama papa, emang?” tanya anak umur lima tahun itu sedikit tidak yakin.

 

Max terkekeh, “ssst, jangan bilang-bilang Papa. ini rahasia kita aja.”

 

Yang membuat situasi ini semakin lucu adalah, Andrea Kimi benar-benar terlihat berpikir keras. Max tahu kalau anak itu benar-benar menginginkan es krim, tapi ia juga amat tahu kalau Andrea Kimi tidak bisa menyimpan rahasia apapun. Apalagi dari papanya sendiri. 

 

Kimi bergumam panjang, “tapi tergantung, Yah..”

 

“Tergantung apa?”

 

“Tergantung nanti pas pulang Papa tanyain Kimi atau nggak. Kalau papa tanyain berarti udah gak rahasia lagi.”

 

Pecah sudah gelak tawa Max sementara Andrea di sampingnya hanya bisa cengengesan. “Ya jangan dijawab lah, kan rahasia.”

 

“Ih ayah, kan papa tanya masa kimi gak jawab nanti kimi dimarahi papa tau!” balas Kimi. Nah kan, selalu ada aja jawaban dari anak umur lima tahun ini.

 

 

Tidak ada yang tidak bisa Andrea Kimi ceritakan kepada kedua orang tuanya, apalagi kepada Max yang notabene tidak duapuluh empat pertujuh bersama seperti George. Memang dasarnya anak ini amat over-sharing. Max merasa kalau Andrea sangat leluasa bercerita tentang apapun, mungkin karena ia masih kecil dan rasa sungkan itu belum ada. Max juga paham, mungkin, di pikiran anak umur lima tahun adalah tidak ada yang bisa mereka percaya selain orang tua dan ibu guru. Maka dari itu Andrea tidak ragu-ragu untuk berceloteh karena ia percaya kalau orang tuanya akan selalu mendengarkan.

 

Max hanya modal satu cup ice cream dengan dua varian untuk membuat Andrea Kimi menumpahkan rangkuman apa-apa yang terjadi selama ia pergi pejalanan bisnis kemarin. Tentang susu tumpah, tentang proses pembuatan robot lego, tentang kejadian seru di sekolahnya, juga tentang bagaimana ia tidak menyukai kalau George yang membacakan dongeng sebelum tidur. 

 

“Nggak seru, yah! Bosen!” begitu menurut penuturan anak kecil itu.

 

Max hanya bisa mengangguk-angguk, mencoba memberi pengertian kepada Andrea agar mau mengerti kondisi-kondisi darurat yang mengharuskan Max untuk absen dari perannya sebagai narator cerita tidur.

 

Toko es krim langganan mereka sebenarnya tidak jauh dari sekolah Kimi, hanya saja, sesi bonding anak ayah itu berlangsung cukup lama sehingga keduanya pulang ke rumah lebih lambat dua jam. Untungnya, Max memang sudah laporan pada George sekaligus konfirmasi kalau anaknya memang boleh makan es krim.

 

Begitu sampai rumah, Andrea Kimi langsung berhambur ke dalam ruang meninggalkan ayahnya di carport mengambil tas belanjaan. Anak kecil itu langsung mencari kehadiran sang papa. 

 

“Papa! Papa, Kimi udah pulang!” seru Kimi setelah menemukan George di ruang tengah lantas ikut duduk di samping George dan langsung memeluknya.

 

“Andrea abis darimana sama ayah? Kok lama pulangnya?” tanya George mengusak rambut panjang anaknya.

 

“Hmmm.. itu…” kimi terlihat berpikir, membuat George menahan lengkungan senyum di wajahnya. 

 

“Jalan-jalan, ya?” tembak George membuat anaknya salah tingkah.

 

“Eh… iya… Kimi dibeliin eskrim sama ayah” jawab anaknya menyerah. Benar-benar tidak bisa bohong.

 

“Es krim? Papa dibeliin nggak?”

 

“Gak tau tuh ayah! Kimi cuma diajak. Papa dibelikan yang rasa coklat kesukaan papa.” ujar anaknya sembari cengengesan sebab ia sendiri tahu kalau ia tengah mengkambing-hitamkan ayahnya sendiri.

 

“Terus, tadi kamu makan rasa apa?”

 

“Kimi beli rasa vanilla dan coklat. Kata ayah boleh yang mana aja jadi kimi pilih dua.”

 

“Terus, habis nggak es krimnya?”

 

“Habis! Tapi Kimi gak belepotan makan es krimnya soalnya ayah kasih tisu.”

 

George ber-ooh ria sembari mengangguk, “pinter, anak siapa ya ini?”

 

“Anak ayah sama papa!” ujar Kimi dengan lantang membuat George gemas lantas menghujani pipi anak semata wayangnya dengan kecupan. Hal yang sukses membuat Kimi merengek. 

 

“Bau asem nih, ganti baju gih. Sekalian taruh ransel kamu di kamar.”

 

“Iyaaaa,” sahut kimi lantas berlari menuju kamarnya sendiri sembari menyeret ransel biru berbentuk pesawat itu.

 

Tidak lama, gantian Max yang duduk di samping George tempat Kimi tadi. Ia serta merta menyodorkan pipi ke arah George, “aku juga mau dicium,”

 

“Dih?? Iri aja ini bapak-bapak sama anak sendiri,”

 

“Gak apa-apa dong minta cium sama suami sendiri,” balas Max membuat George memutar bola matanya malas, tapi toh ia tetap membubuhkan kecup di pipi suaminya. 

 

Happy banget anaknya, kamu kasih jampi-jampi es krim nih.”

 

“Bukan, es krim cuma bumbu tambahan. Aslinya kita cuma ngobrol doang.”

 

“Masa ngobrol sama kamu bisa bikin sumringah banget kayak gitu. Gak percaya aku,”

 

“Loh? Ini yang dinamakan kekuatan cinta kasih seorang ayah dengan anaknya,”

 

“Halaah, dibuat-buat aja kamu. Mana es krim aku? Jangan-jangan udah mencair lagi.”

 

“Udah aku masukin kulkas, tadi aku minta es tambahan kok biar gak cepet cair.”

 

Baru juga George ingin membalas ucapan Max, suara Kimi menginterupsi dari dalam kamar, “ayahh nanti kita main lego bareng ya, Yah!” pinta Kimi dengan kepala menyembul dari balik pintu kamar.

 

“Oke!” sahut Max sembari mengacungkan jempol. Andrea Kimi bersorak senang lantas kembali ke kamar menyelesaikan urusannya. Detik itu juga, George dan Max beradu pandang bak tengah melakukan percakapan tanpa kata kemudian keduanya mengangguk-angguk paham. Hari ini Max akan seharian menemani Kimi bermain.