Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-08
Words:
531
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
10
Bookmarks:
1
Hits:
103

Rumah

Summary:

Rover ingin pulang.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Mau pulang. Rasanya mau pulang.

"Hyouhakusha-san, terima kasih banyak atas kerja kerasmu."

"Ah, ya. Tentu. Sama-sama."

Dia ingin pulang.

"Mau lanjut? Tidak istirahat dulu?"

"Tak apa. Bukankah jika lebih cepat selesai akan lebih baik?"

"Hyouhakusha-san orangnya workaholic, ya."

"Haha. Mungkin."

Pulang....

Apakah itu mungkin?

Rover melempar punggungnya berbaring ke tengah padang rumput. Manik emasnya menatap langit jingga yang berhias awan tipis di setiap ujungnya. Dapat dia lihat mentari yang bermalas-malasan di cakrawala. Hangat cahayanya merambati kulit sang pengembara.

Apakah warna langit saat ini sama dengan senja di tempat itu?

Rover mendapati dirinya perlahan-lahan lupa. Ia ingin mengingat hal-hal yang mulai lepas satu-persatu dari kenangannya. Bau tanah, aroma masakan rumah, pewangi pakaian yang biasa ia semprotkan ke baju. Warna-warni dan bentuk bunga-bunga di tempatnya dulu. Awan, langit, mentari dan bulannya. Bahkan namanya. Rover tidak ingin melupakan itu semua.

Dia ingin pulang barang sebentar saja.

Rasa letih merayapi punggung serta pundaknya, mengakar di relung hatinya tanpa sepengatahuan dia. Tahu-tahu tumbuh, bertunas, berkecambah, lalu mekar jadi lelah dan kerinduan yang membuat gundah. Berat itu semua membebat hingga menyerupai keputusasaan, melahirkan resah. Rover membencinya; perasaan ini, kerinduan yang membebani hatinya ini.

Sekali waktu ia mencoba mengirim pesan selain laporan. Teruntuk seorang yang wajahnya sudah lama ia lupakan. Tidak ada jawaban. Mungkin bahkan tidak disampaikan. Lain waktu dikatakannya bahwa dia ingin pulang. Bahwa dia letih dan ingin beristirahat, bahwa dia ingin setidaknya melihat rumah.

Jawabannya adalah penolakan yang acuh, sebaris pesan yang membuat dia bermimpi buruk. 'Jangan pikirkan hal-hal remeh yang tak ada hubungannya dengan tugasmu.'

Setelah itu alat komunikasinya rusak.

Rover ingin tahu apakah ia dibuang? Bahkan meski begitu ia masih ingin pulang. 

Dia mau pulang.

"Hyou-san, ketemu! Kenap tiduran di sini? Tidak empuk, lho. Bikin sakit punggung."

Tiba-tiba saja Aemeath sudah berada di sebelahnya. Rover mendudukkan diri berselonjor dengan bertumpu pada tangan kiri. Sebuah senyum dipaksakan di wajahnya. 

"Aku tidak tidur, kok."

"Hee, sou?" Mata anak itu membulat polos, berkedip-kedip. Kemudian tangannya menarik Rover untuk bangkit. "Kalau begitu, mari pulang!"

Pulang.. kah?

Rover mendengkus geli. Dukanya seakan menguap menyisakan berat di dadanya yang sesak.

Benar juga. Untuk sekarang, rumahnya ada di sini, ya.

"Sou da na." Ia bergumam seraya berdiri, menepuk serpihan tanah yang tersisa di punggung.

"Hmm?"

"Tidak. Mari pulang, Aemeath."

Dengan memikirkan bahwa anak yang menggenggam tangannya ini jugalah tidak memiliki rumah, Rover merasa bebannya jadi sedikit lebih mudah. Dia menyejajarkan langkah kakinya dengan milik Aemeath yang kecil, melompat-lompat riang. Bocah itu bercerita tentang apa yang dilakukannya hari ini di rumah. Mendengarnya, Rover hanya tertawa, berceletuk menimpali jika dirasa cukup menarik.

Bahkan meski ia tak bisa pulang, Rover ingin setidaknya menjadi rumah untuk seseorang. Jangan sampai Aemeath merasakan gelisah dan gundah serupa ia yang mungkin selamanya takkan bisa kembali. Jangan sampai anak sepolos ini merasakan sakit lebih dari yang saat ini.

"Nanti malam, mau kubacakan dongeng?"

"Aemeath lebih suka kalau diajak main gim, sih."

Rover memutar mata, mencolek ujung hidung Aemeath seraya tertawa. "Mainnya, kan, sudah sering."

Bibir bocah itu mengerucut. "Terus kenapa? Aemeath suka, kok!"

"Baiklah. Tiga puluh menit saja, ya."

"Yatta!"

Mungkin bukan Rover yang menyelamatkan Aemeath. Justru anak itulah yang menyelamatkannya, dia rasa.

"Aemeath,"

"Hmm?"

"Terima kasih."

"Buat apa?"

"Banyak."

"Hyou-san aneh."

"Haha. Mungkin memang?" []

Notes:

A/N : Saya baru menyelesaikan msq dan sedang berpatah hati. Padahal saya udah dispoiler garis besarnya, tapi tetep nangis sekitar tiga kali. Rover, anak saya yang malang...
Rover cuma mau pulang sebentar saja padahal, dia bukannya ingin lari. Dia bakal membantu tanpa diminta jg, dia cuma mau pulang sebentar.. aduh maaf saya sentimental. Saya cinta anak ini /nangis/
Lalu... Aemeath... Aemeath... Ah, anak anak yang kehilangan rumah ini.. saya patah hati. Kuro berani beraninya!!!!

Salam patah hati,
Kaze.