Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-10
Words:
2,267
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
75
Bookmarks:
6
Hits:
1,173

Soulmate, love me.

Summary:

Eom Seonghyeon tak pernah peduli dengan istilah soulmate yang selalu digaungkan orang-orang, namun semua hal itu berubah ketika ia bertemu dengan Kim Juhoon.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Seonghyeon tidak peduli pada tanda hati kecil yang terukir di lengannya. Istilah soulmate sudah lama menjadi hal yang tidak dianggap serius oleh orang-orang. Di dunia yang penuh dengan perselingkuhan ini, pasangan yang ditakdirkan hanya menjadi lelucon di berbagai obrolan. Stigma yang mengalir di sekitar buat dirinya ikut terbawa arus yang menyesatkan, bahwa belahan jiwa tak selamanya berakhir bersama. Setidaknya itulah yang ia pegang teguh sampai hari dimana Juhoon datang. Lelaki itu memiliki wajah rupawan dan senyum yang menawan. Mudah sekali baginya untuk menaklukkan tiap hati yang datang untuk menjadi tawanan. Namun bagi Seonghyeon, hal itu justru menjadi ancaman. Sebab tanda di pergelangan tangan kanannya memanas saat mereka bertatapan.

Pertemuan awal keduanya berlangsung dengan singkat. Sore itu Seonghyeon duduk sendirian di taman, berusaha mencari inspirasi untuk tugas seni yang akan dikumpul minggu depan. Tubuhnya tenggelam dalam hoodie yang kebesaran. Netranya sibuk menatap kamera sembari terus-menerus mengambil potret dua ekor burung yang sibuk berkicau. Dirinya sudah putuskan akan melukis burung tersebut dalam kanvas, bertekad mendapatkan nilai tinggi untuk satu-satunya bidang yang paling ia perjuangkan.

Saat itulah Juhoon lewat, lelaki itu berhenti di taman untuk tenangkan pikiran sejenak. Tak butuh waktu lama bagi Seonghyeon untuk menyadari kehadirannya. Tatapan keduanya bertabrakan, buat sensasi terbakar hadir di tanda yang menjadi bukti bahwa mereka adalah milik satu sama lain. Seonghyeon merasakan napasnya tercekat, rasa panas itu menjalar dengan cepat tanpa sepengetahuan. Ia kemudian memalingkan wajah sembari berdoa bahwa yang lain tidak menyadari seberapa merah pipinya.

Kepalanya terasa pusing, debar jantungnya meningkat seiring panas di tangannya yang menggelitik. Seonghyeon kebingungan, apa hal yang harus ia lakukan ditengah pertemuan tiba-tiba dengan belahan jiwanya? Dirinya jarang sekali percaya pada takdir, lantas bagaimana mungkin ia bisa siap dengan skenario semacam ini? Haruskah ia mendekat? Mengajaknya bicara? Atau justru kabur dan berpura-pura bahwa dunianya tidak terbalik ketika sorot teduh itu membakarnya hingga hangus?

Juhoon menyaksikan reaksi Seonghyeon dengan keterkejutan yang sama. Ia merasakan rasa terbakar pada tanda miliknya yang berada di pergelangan tangan kiri, pertanda yang sudah tak perlu diragukan lagi kebenarannya. Juhoon menatap lamat-lamat pada sosok kecil yang terbungkus pakaian kebesaran itu. Tak bisa dipungkiri, wajahnya terlihat tampan, namun disisi lain kata cantik jauh lebih cocok untuk gambarkan rupanya. Pipi Seonghyeon sedikit berisi dengan hidung mancung dan ranum penuh yang semerah ceri. Garis wajahnya halus, buat ia lebih memiliki kesan lembut ketimbang jantan seperti lelaki umumnya.

Keinginan untuk mengenalnya buat Juhoon melangkahkan kaki mendekati yang lebih muda. Rasa ingin tahu mendahului kesadarannya untuk menahan diri. Juhoon biasanya tak begini, ia bukan tipe yang mengambil keputusan secara cepat tanpa memikirkan matang-matang terlebih dahulu. Namun dalam kasus kali ini, logika tak bisa melawan naluri yang menuntunnya untuk maju. Ia menarik napas pelan, tiba-tiba merasa gugup akibat keputusannya sendiri.

“Halo?” Sapa Juhoon pada sosok di hadapan, suaranya jauh lebih tenang daripada detak jantungnya.

Suara itu buat Seonghyeon menoleh dengan ragu, pandangannya jatuh pada iris coklat milik Juhoon yang terlihat bergetar. Hatinya ikut gemetar hasilkan tarikan napas yang tak stabil, buat dirinya mencari pegangan namun berakhir mengepalkan tangan genggam lengan hoodienya sendiri. Buku jarinya memutih namun rasa sakit itu sama sekali tak pengaruhi dirinya, karena detakan di dadanya jauh lebih menyakitkan sekarang.

“Hai.” balas Seonghyeon dengan suara yang hampir tak terdengar, seakan dunia sekitar menelan keberaniannya untuk berucap lebih keras.

Kedua lelaki tersebut saling bertatapan dalam waktu yang lama. Terlalu lama, bahkan mereka tak menyadari bahwa mentari sudah mulai tenggelam dilahap kegelapan. Cahaya sore yang remang-remang membingkai wajah Juhoon dengan sempurna, menyatu dengan keindahan kulitnya yang pucat. Penampilan itu buat Seonghyeon termenung lama, diam-diam mematri ketampanan tersebut dalam memori. Sorot matanya tampilkan kekaguman yang tak terkendali, bahkan tanpa sadar buat yang lebih tua tersipu dalam hati.

Juhoon gigit bibir bawahnya pelan, merasa bingung harus berlaku apa terhadap momen ini. Perasaan dalam hatinya tumpah-tumpah namun logikanya tak mampu memproses kejadian ini dengan lancar. Juhoon mengutuk dirinya sendiri, frustasi karena tak berdaya atas perasaan apapun yang menyerangnya saat ini. Ia putuskan untuk maju selangkah, cukup untuk buat Seonghyeon menarik napas tajam, bersiap untuk apapun yang akan diucapkan lelaki dihadapannya.

“Aku Juhoon, Kim Juhoon.” ucap Juhoon sembari mengulurkan tangannya, menanti balasan dari Seonghyeon yang kini menatapnya canggung.

Seonghyeon terdiam sejenak untuk kemudian menyatukan lengan mereka dalam genggaman yang hangat. Untuk sesaat, jemarinya terasa ngilu, layaknya arus listrik baru saja terpercik akibat sentuhan kulit mereka. “Eom Seonghyeon.”

Jemari Juhoon jauh lebih besar daripada miliknya, sangat sempurna membalut tangannya yang dingin karena gugup. Genggaman tangan Juhoon pada miliknya terasa menyenangkan, membuat sesuatu dalam diri Seonghyeon bergejolak karena dibaluti perasaan nyaman. Ternyata beginilah rasanya bertemu dengan pasangan, hangat, nyaman, namun disisi lain juga diisi gejolak yang menggebu untuk selalu dekat.

Keduanya terdiam lagi setelah tautan itu lepas. Sungguh, dari sekian banyak scenario tentang pertemuan dengan soulmatenya, tak satupun bayangan terlintas dalam benak Juhoon kalau mereka akan canggung seperti ini. Keheningan itu mencekiknya perlahan, namun rasa penasaran tetap membuncah hebat dalam gemuruh dadanya, buat rasa mencekik itu menjadi berlipat ganda. Perasaan berdebar ini buat Juhoon gila, ingin rasanya kabur dari sini dan mengubur dirinya guna menghilangkan kekacauan hatinya. Namun apa daya, tatapan Seonghyeon seakan menguncinya untuk tinggal lebih lama.
Malam datang lebih cepat daripada yang Seonghyeon antisipasi, buat dirinya tersadar bahwa ini saatnya untuk kembali ke rumah. Matahari sudah tenggelam sepenuhnya, tinggalkan sedikit semburat oranye yang berusaha setengah mati melawan gelapnya angkasa namun kalah. Ia beranikan diri untuk menatap Juhoon dengan terang-terangan, ranumnya sempat terbuka sedikit sebelum berbicara lembut, “Sepertinya aku harus pulang.”

Rasa kecewa menghampiri Juhoon sedetik kemudian. Ia baru saja bertemu dengan belahan jiwanya yang telah ditunggu sedari lama, namun sudah harus berpisah begitu saja karena cahaya bulan mulai menampakkan dirinya. Kendati demikian, Juhoon tetap ukirkan senyum tipis lalu anggukkan kepalanya pada yang lebih muda.

“Mau pulang bersama? Aku akan mengantarmu.”

Seonghyeon mengangguk lebih cepat dari yang ia inginkan. Reaksi itu picu kekehan kecil melompat dari yang lebih tua, buat dirinya tersipu malu akibat tindakannya sendiri. Keduanya kemudian berjalan berdampingan di bawah lampu jalan yang tak begitu terang. Perjalanan pulang mereka hanya diisi dengan keheningan yang damai. Baik Juhoon maupun Seonghyeon merasa tak repot untuk membuka suara, menikmati kehadiran masing-masing dengan perasaan yang tenang. Yang lebih muda memimpin jalan hingga sampai di rumah miliknya yang bergaya artistic. Keduanya menutup pertemuan manis dan menegangkan itu dengan saling bertukar kontak. Senyum malu-malu hadir di sudut wajah keduanya ketika mereka akhirnya berpisah.

Hari-hari Seonghyeon setelah pertemuan dengan Juhoon berubah jauh dari biasanya. Perasaan berdebar selalu menghantui dirinya setiap saat, buat ia merasa akan mati karena detak jantungnya tak pernah mau tenang. Mereka akan bertemu saat waktu luang, berbagi ruang nyaman satu sama lain dengan kegiatan sederhana. Tak satupun dari mereka berusaha untuk terburu-buru dalam mengungkapkan perasaan. Keduanya memilih berjalan pelan, menemukan satu sama lain di sudut ketenangan, berusaha membuka lembaran-lembaran pemahaman yang menuntun keduanya menuju satu kesatuan.

“Aku akan ikut pertandingan basket akhir pekan ini, apa kamu tertarik untuk menonton?” tanya Juhoon pada suatu sore ketika mereka sedang makan eskrim bersama di kamar miliknya.

Seonghyeon terdiam sejenak, tampak berpikir dilihat dari keningnya yang sedikit mengkerut. Akhir pekan ini ia tak memiliki jadwal penting, namun datang ke kampus orang lain hanya untuk menonton “kekasih” tak resminya itu buat dirinya agak ragu.

Dan Juhoon dapat merasakan keraguan itu dengan satu tatapan. Ia dengan cepat mengubah arah duduknya menghadap Seonghyeon, jemarinya meraih tangan lelaki manis itu untuk digenggam, “Kamu terlihat ragu, katakan padaku apa yang mengganggu pikiranmu.”

Jemari Seonghyeon meremat miliknya tanpa sadar, kebiasaan yang selalu terulang ketika lelaki itu sedang gugup. Juhoon sangat hafal dengan tabiatnya, meskipun keduanya baru mengenal satu sama lain selama kurang lebih satu bulan. Mungkin itulah yang orang-orang sebut sebagai soulmate, ketika orang lain dapat dengan mudah memahami dirimu tanpa perlu menjelaskan apapun, ketika orang lain dengan mudahnya menyatu bersama seluruh kebiasaan hidupmu tanpa usaha apapun, dan ketika Juhoon bisa dengan mudah mencintai seluruh diri Seonghyeon tanpa syarat apapun.

“Aku... Aku hanya berpikir bahwa orang lain mungkin akan salah sangka terhadap kita.”

Sebelah alis Juhoon naik saat pertanyaan Seonghyeon masuk ke telinganya, “Salah sangka? Dalam hal apa?”

Pertanyaan dari Juhoon buat Seonghyeon tercekat tanpa aba-aba, perasaan takut mulai merayap dalam ruang kosong di hatinya. Waktu yang mereka habiskan bersama terlalu berharga baginya karena meninggalkan beribu harapan yang tak berani ia ucapkan dengan lantang. Dan Seonghyeon takut bahwa hanya dirinya yang menggantungkan jiwanya pada hubungan ini.

“Kita tidak memiliki hal khusus untuk berperilaku seperti ini.”

“Seperti ini? Maksudmu seperti ini layaknya seorang pasangan kekasih?”

Seonghyeon mengangguk tanpa bicara. Tatapannya kemana-mana, berusaha keras hindari tatapan Juhoon yang seakan ingin melahapnya. Rasa takut itu jauh lebih dominan daripada apapun sekarang, karena ia takut akan berakhir dalam kekecewaan.

Juhoon menghela napas lelah, bukan karena kesal pada lelaki di depannya, namun justru karena hal konyol yang baru saja diakui oleh lelaki tersebut. Terkadang berbicara dengan Seonghyeon terasa seperti berbicara dengan balita. Karena demi Tuhan, Juhoon tak mengerti dengan bagaimana ia bisa berpikir demikian. Mereka adalah pasangan, belahan jiwa, tempat bersandar satu sama lain yang sudah ditakdirkan, namun ia masih berpikir mereka tidak layak berlaku selayaknya kekasih?

“Biar aku jelaskan kepadamu dengan baik.”

Juhoon menjeda ucapannya, meraih dagu yang lebih muda agar menatapnya. Perhatiannya sepenuhnya ia curahkan pada lelaki tersebut, berusaha meyakinkan keraguan yang sepertinya telah mengakar dalam hatinya.

“Aku dan kamu terhubung melalui tanda di lengan kita masing-masing. Dan itu lebih dari cukup untuk menjelaskan siapa kita kepada dunia tanpa perlu khawatir akan tanggapan orang lain. Bahkan jika semua orang berusaha merebut aku dari dirimu, mereka tak akan bisa melampaui takdir. Aku milikmu, sepenuhnya, tanpa bantahan apapun.”

Ucapan Juhoon lebih dari cukup untuk meyakinkan Seonghyeon, karena lelaki itu kini justru tampak terharu atas kata-kata yang disampaikan untuknya. Bibirnya melengkung ke bawah, menampilkan perasaan bersalah yang justru buat Juhoon gemas. Jemari mereka bertautan mesra, salurkan perasaan tenang dan aman yang meresap lewat sentuhan lembut Juhoon kepadanya.

Namun sesaat kemudian, seolah kesadaran menghantamnya, Seonghyeon menghembuskan napas kasar. Lengkungan ranumnya semakin tajam disertai tatapan tak senang, berusaha terlihat merajuk pada yang lebih tua. “Aku mengerti, tapi aku ingin sesuatu yang resmi…”

Gelak tawa keluar tanpa sengaja dari bibir Juhoon, sembari tangannya meraih rahang yang lebih muda dalam genggamannya. Meskipun Seonghyeon berusaha tampilkan kesan menyeramkan lewat tatapan matanya, hal itu tak berpengaruh sama sekali karena wajah bulatnya justru terlihat semakin imut sekarang. Gemas sekali, segala hal tentang Seonghyeon tak pernah gagal buat Juhoon menjadi gila. Kewarasannya serasa ditarik menjadi garis tipis yang langsung putus seketika saat ia lihat Seonghyeon mencebik dengan manjanya.

“Baru kemarin kamu bertingkah malu-malu seolah aku orang baru, tapi lihat dirimu sekarang. Merajuk dengan manja padaku seperti ini, kamu memang ahli membuat aku gila ya?”

Belum sempat Seonghyeon menjawab, sebuah kecupan sudah melayang terlebih dahulu di pipi kanannya. Satu kecupan, dua kecupan, dan kecupan lain yang datang bertubi-tubi hingga Seonghyeon sendiri tak tau pasti jumlahnya berapa. Seluruh wajahnya dicintai habis-habisan oleh sentuhan lembut bibir Juhoon, sebarkan rasa geli dan sesuatu yang manis di dada yang lebih muda. Lelakinya tersenyum lebar sesudahnya, merambat dari bibir menuju mata, membentuk bulan sabit yang buat hatinya meleleh seketika.

Tatapan Juhoon yang penuh binar beralih dari netranya menuju ranum tebalnya. Seonghyeon rasakan dadanya nyeri dalam bentuk yang menyenangkan, terkesima dengan bagaimana cara Juhoon membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi lewat tindakan sederhana seperti ini. Pandangan matanya menangkap bagaimana kilatan hasrat terpantul pada iris tersebut, buat dirinya tak mampu melakukan apapun kecuali tersipu hebat dengan pipi memerah.

“Sebelum aku tak bisa menahan diriku sendiri, aku akan lebih dahulu bertanya padamu, sayang. Apakah boleh, diriku yang merupakan belahan jiwamu ini, mengisi ruang kosong di hati dan pikiranmu sebagai kekasih indah yang kamu impikan itu?”

Pipi hangat itu diusap dengan lembut oleh jemari Juhoon, namun pandangannya tak pernah lepas dari bibir lelaki tersebut. Seonghyeon merasa ditelanjangi oleh tatapan tersebut, berusaha kabur dengan sia-sia dari genggaman Juhoon. Hatinya tak kuasa menahan rasa sakit yang candu itu, hatinya penuh, sangat penuh karena diisi dengan cinta Juhoon hingga rasanya akan tumpah dan berserakan.
Seonghyeon menganggukkan kepalanya tergesa, tak mampu menahan rasa sesak yang membuncah di dadanya. “Boleh, dan akan selalu boleh. Tolong cintai aku sepenuhnya, sekuatnya, dan sebebasnya, cintai aku hingga ke tulang dan buat aku merasakan keindahan itu terwujud menjadi nyata.”

Kata-kata Seonghyeon mengaung di udara seiring rasa lega menghantam keduanya. Perlahan namun pasti, Juhoon mulai mencondongkan wajahnya sedikit demi sedikit. Tangannya mengusap lembut bibir bawah yang lebih muda, beri afeksi manis seolah mengulur waktu. Kepalanya berhenti saat hidung mereka bersentuhan, seolah beri Seonghyeon waktu untuk mundur jika ia tak mau. Tapi apa yang perlu ia khawatirkan? Seonghyeon justru lebih senang mencondongkan dirinya lebih dekat hingga ranumnya bertabrakan dengan milik yang lebih tua.

Sentuhan bibir itu awalnya pelan, penuh khidmat, seolah ciuman pertama mereka adalah hal yang suci. Juhoon menarik diri sedikit hanya untuk memperhatikan bagaimana mata Seonghyeon terpejam nyaman. Lelaki manis itu berusaha mengejar kembali bibirnya yang ia balas dengan lumatan lembut. Keduanya bergerak dalam irama yang lambat, tidak berusaha tergesa-gesa pada apapun, hanya menikmati bagaimana bibir mereka saling menyesap dengan gemuruh bergejolak di dada.

Tak ada yang tahu pasti berapa lama mereka berciuman, waktu berjalan tanpa arah di ruangan tersebut. Juhoon akhirnya melepaskan Seonghyeon saat lelaki tersebut hampir pingsan karena kehabisan napas. Ranumnya secara rakus meraup udara di sekitar, buat dadanya naik turun dengan cepat. Manis, semuanya terasa manis. Jemari Juhoon di wajahnya, tubuh Juhoon disekitarnya, perasaan Juhoon untuknya, bahkan ciuman keduanya, semuanya meninggalkan rasa manis yang tak akan pernah hilang dari ingatannya.

Baik Juhoon dan Seonghyeon sama-sama tersenyum lega, menatap kekacauan pada wajah satu sama lain dengan penuh cinta. Mungkin, konsep Seonghyeon tentang pasangan yang telah ditakdirkan selama ini berlabuh pada pengertian yang salah. Namun dengan Juhoon disisinya, ia dapat mengerti dengan sangat baik bahwa tak semua hal dapat berjalan buruk seperti kebanyakan orang. Dan tentu saja, ini baru permulaan dari beribu kisah manis lain yang akan mereka bagi bersama.

Notes:

hi, find me in twitter @contabct
semoga pada suka ya lol takut