Work Text:
“My mom said you are perfect for me.”
Kalimat itu merayap masuk ke telingaku, begitu seduktif hingga sanggup merenggutku dari tidur siang paksa di sofa keluarga de Valmont.
Aku tahu Lady de Valmont punya reputasi yang aneh, tapi putri tunggalnya ini jauh lebih berbahaya. Saat mataku terbuka, yang kulihat adalah Lady Isabelle membungkuk di atasku dengan senyum yang tampak begitu asing.
Ia membiarkan rambut pirangnya jatuh tergerai, memagari wajahku dengan helai-helai emas yang berkilau. Jarak kami begitu tipis hingga aku tidak perlu bersusah payah untuk menghirup aroma rambutnya. Wangi vanila yang hangat dan murni, seperti kue yang baru keluar dari pemanggangan di dapur istana. Pelan-pelan aroma itu memenuhi penciumanku hingga menyergap seluruh akal sehatku.
Tatapannya yang mengunci mataku membuat dadaku berdenyut aneh. Aku merasa terintimidasi oleh caranya berdiri begitu dekat, oleh kenyataan bahwa keindahan itu datang dari seseorang yang seharusnya tidak membuatku gugup seperti ini. Aku pasti masih terjebak di alam mimpi, atau mungkin parfum vanilanya yang membuat otakku kacau.
Aku mencoba mengatur napas, menatap punggung Lady Isabelle yang kini bergerak menjauh menuju jendela. Sial, jantungku berdegup terlalu kencang untuk ukuran orang yang baru bangun tidur. Harusnya aku mendengarkan peringatan Justine minggu lalu saat dia memberikan tawaran ini padaku.
“The De Valmonts are peculiar, Helena. They don't need a music teacher.They need a magician.”
Awalnya aku menolak. Namun, aku tidak punya pilihan. Beasiswaku dicabut tepat di pertengahan semester dengan alasan efisiensi anggaran. Sebuah kode halus dari akademi bahwa dalam masa sulit, pendidikan murid laki-laki selalu menjadi prioritas utama. Mimpiku untuk bermain di panggung orkestra mati hari itu juga. Aku harus menghadapi kenyataan pahit menuruti permintaan gila Lady de Valmont demi bisa bertahan hidup.
“Tidak perlu belajar dari dasar,” ucapnya tempo hari dengan nada meremehkan yang amat kental. “Isa sudah terlalu dewasa untuk dibiarkan tampil tanpa sesuatu yang bisa ditunjukkan. "
Ia menatapku lama, seolah aku seharusnya paham tanpa perlu penjelasan. “I only want her to play one song. Just one, enough to impress the nobility at the gala. I believe Clair de Lune is the perfect choice.”
Setengah mati aku menahan muak yang menyumbat dadaku. Mengajarkan Clair de Lune kepada seorang gadis yang bahkan mungkin belum tahu letak middle C hanya demi sebuah pertunjukan dangkal di depan para bangsawan? Claude Debussy pasti akan membakar seluruh partiturnya jika ia mendengar rencana gila itu.
Kini aku menatap Lady Isabelle yang berdiri memunggungi cahaya matahari. Rambut pirangnya tampak seperti lingkaran cahaya yang membuatku tersadar: Mengajar Clair de Lune pada seorang pemula bukanlah tantangan terbesarku. Tantangan terbesarku adalah bagaimana caranya tetap waras menghadapi tatapan Nona Pirang dari keluarga de Valmont ini.
“Forgive me for falling asleep. Perhaps Lady de Valmont misinformed me of the schedule. I did not expect to wait two hours just to see the piano keys,” ucapku tajam, sambil buru-buru berdiri dan merapikan kerah bajuku yang agak kusut.
Aku berusaha memasang wajah sedatar mungkin, menutupi debar jantungku yang masih tertinggal di sofa tadi. Gadis itu tidak tampak tersinggung. Ia justru terkekeh pelan,
“Isa,” jawabnya santai.
Ia melangkah mendekat, mengikis jarak yang seharusnya terjaga di antara guru dan murid. Jemarinya yang lentik tiba-tiba terangkat ke arah wajahku, menyelipkan sehelai rambutku yang berantakan ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat pelan, seolah ia sedang menikmati setiap detik sentuhannya pada kulitku.
Aku terpaku. Apa-apaan Nona Pirang ini? Berani-beraninya dia menyentuhku seolah kami sudah saling mengenal bertahun-tahun.
“Panggil aku Isa saja, Helena. Aku rasa usia kita tidak terlalu jauh.”
“Very well, Lady Isa. Let us begin. We have no time for pleasantries if you wish to master Clair de Lune in such a short time.”
Aku berusaha mengalihkan perhatian pada piano, namun Nona Pirang ini sepertinya punya agenda lain selain belajar musik. Aku berjalan menuju piano, mencoba mendapatkan kembali kendali atas diriku sendiri.
“Bukan begitu, Lady Isa. Jari Anda terlalu kaku. Anda menekan tuts seolah sedang memukul meja, bukan menyentuh awan,” geritku kesal. “Debussy is about pianissimo. It should be a whisper. Feel the weight of your arm flowing into your fingertips.”
Isa hanya tertawa kecil, sengaja menekan nada yang salah berkali-kali sampai suaranya memekakkan telinga.
“Tanganku tidak mengerti maksudmu, Helena. Mungkin kau harus memberiku… contoh langsung?”
Aku menghela napas panjang, mencoba menahan emosi. Aku melangkah ke belakangnya.
“Keep your back straight. How can you feel the resonance if you're slouching like that?”
Aku meletakkan kedua tanganku di bahunya, menariknya ke belakang agar punggungnya tegak. Bahunya terasa begitu mungil dan lembut di bawah telapak tanganku, dilapisi kain sutra yang seolah tidak ada harganya. Tidak berhenti di situ, aku menurunkan tanganku ke pinggangnya, memposisikan tubuhnya agar sejajar dengan bagian tengah piano.
Sentuhan itu terasa terlalu intim. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya merambat melalui jemariku, dan dari posisiku yang berdiri tepat di belakangnya, aku tidak sengaja menunduk.
Sial. Gaun pink kebanggaannya itu ternyata memiliki potongan leher yang cukup rendah. Dari sudut pandangku, aku bisa melihat dengan jelas garis putih belahan dadanya yang kontras dengan warna gaunnya. Aku menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokanku mendadak terasa kering kerontang. Bagaimana bisa aku mengajarkan harmoni musik, jika harmoni di dalam kepalaku sendiri sudah hancur hanya karena sepotong pemandangan yang tidak seharusnya kulihat?
Aku segera meraih punggung tangannya yang pucat dan halus, mencoba mengalihkan fokus pada tuts piano.
“Posisikan jarimu melengkung, seperti sedang memegang telur yang sangat rapuh. Let's start with the opening chord, D-flat major. Relax your wrist.”
Aku menuntun jemarinya menekan tuts-tuts hitam dengan sangat pelan. Begitu kulit kami bersentuhan, aku merasakan jemari Isa sedikit bergetar, tapi dia tidak menjauh. Malah, dia sengaja menyandarkan bobot tubuhnya ke belakang. Licik memang, ia memanfaatkan postur tegak yang baru saja kuperbaiki hingga punggungnya bersentuhan langsung dengan dadaku. Aroma vanila itu kembali mendominasi indra penciumanku.
“Dingin sekali,” gumam Isa pelan.
Matanya tidak melihat ke arah piano, tapi justru menatap pantulan wajahku di permukaan kayu piano yang mengilap.
“Your hands are freezing, Helena. But why is your breath so hot against my neck?”
Aku membeku, tanpa sadar meremas jemarinya terlalu kuat.
“Ahh…” Nona Pirang itu mengaduh pelan, sebuah suara yang lebih mirip bisikan tertahan daripada rintihan kesakitan.
Ia perlahan memutar tubuhnya, mendongak untuk menatapku dari kursinya yang rendah. Mata kami bertemu kembali, sama seperti caranya membangunkanku dari tidur beberapa saat lalu.
“Careful, Helena…” bisiknya, matanya mengunci milikku dengan intensitas yang sanggup meluluhkan tuts piano di bawah kami. “You’re gripping my hand so tight. One might think you’re afraid I’ll run away the moment you let go.”
Ia memberikan senyuman kecil, sebuah seringai kemenangan yang memberitahuku bahwa dia tahu persis apa yang sedang kulakukan.
“Or perhaps,” ia menjeda, suaranya kini serak dan merayap ke telingaku, “it is you who is afraid to let go?”
Aku terkesiap. Saraf-saraf di jemariku seolah tersengat listrik. Buru-buru aku mencoba menarik tangan, namun Isa justru membalik telapak tangannya, mengunci jemariku di bawah miliknya dengan gerakan yang jauh lebih dominan.
“Don't let go,” pintanya, terdengar seperti perintah mutlak. “How can I feel the music if you are so afraid to touch me?”
“Katanya kau mau mengajariku Clair de Lune. Bagaimana aku bisa merasakannya kalau kau tidak menuntunku sampai akhir?”
Aku menelan ludah. Di bawah jemariku, aku bisa merasakan urat nadi di pergelangan tangannya berdenyut cepat. Dia tidak sedingin yang dia tunjukkan. Dia juga gugup, tapi dia jauh lebih ahli dalam menyembunyikannya di balik senyuman nakal itu.
“I believe this is enough for today, Lady. The sun is setting, and I am losing my focus,” ucapku, berusaha lepas dari situasi menegangkan ini.
Aku tidak boleh membiarkan Nona Pirang ini tahu bahwa hatiku hampir saja meledak hanya karena satu sentuhan di balik piano.
Buru-buru aku segera berdiri hingga hampir menyenggol kursi piano. Namun, sebelum aku sempat melangkah jauh, suara Isa menghentikanku tepat di ambang pintu ruang musik yang remang.
“Is it the sun? Or is it me?”
Aku membeku, membelakanginya karena tidak sanggup melihat senyum penuh kemenangan itu lagi.
“Anyway,” ia menjeda, aku bisa mendengar gesekan kain gaunnya saat ia bangkit dari kursi. “You’re right. We should stop. After all, Clair de Lune is meant to be played under the moonlight… not in the broad daylight where everyone can see your blushing face.”
Aku tidak menoleh. Aku juga tidak menjawab. Hanya terus berjalan keluar dari kediaman de Valmont dengan langkah seribu, mengabaikan sapaan pelayan di lobi.
Sialan. Benar-benar sialan.
Justine benar. Keluarga ini tidak butuh guru musik. Mereka butuh pesulap, dan aku baru saja menyadari bahwa dalam permainan ini, akulah yang baru saja terkena triknya.
