Chapter Text
Ohyul merupakan tipe yang tidak berbicara banyak—namun bukan berarti hal tersebut menjadikan ia pendiam atau pemalu. Ia hanya berbicara ketika rasanya diperlukan dan ketika dibutuhkan tanda kehadiran. Ia memilih kapan dan bagaimana ia akan bicara. Ia selalu menutur kata-katanya dengan baik, selalu memikirkan apa yang akan ia ucapkan sebelum itu terlepas dari mulutnya. Meski begitu, Ohyul tumbuh di keluarga yang menghadirkan cinta tak bersyarat. Membuatnya percaya diri pada prinsip dan nilainya sendiri, tidak pernah bergantung pada validasi eksternal, dan tidak mudah goyah oleh tekanan sosial. Jadi, Ohyul tidak terbiasa butuh orang lain secara eksplisit—ia selalu bisa berdiri sendiri.
Tabungan cintanya penuh—ia tumbuh dengan pelukan yang tak dihitung, pujian yang tulus, dan validasi emosi sejak kecil. Orang tuanya tidak menganggap kasih sayang sebagai sesuatu yang memanjakan, namun sebuah kebutuhan dasar. Ia pintar—sangat pintar malah. Menjadi siswa dengan ranking paralel yang selalu mengikuti berbagai lomba dan olimpiade yang dihadirkan membuatnya sangat dikenal. Dan tak hanya itu, rupanya juga—ia lebih dikenal cantik daripada tampan. Wajah manis, mata besar dengan bulu mata lentik alami, bibir merah muda penuh, ekspresi lembut dan gerak tubuh halus dengan senyum merekah manis yang siap menarik siapapun untuk mengaguminya. Namun, ia selalu merasa tak tersentuh—entah karena semua kesempurnaan itu atau sesuatu di dalam dirinya yang selalu ingin bersembunyi dan mengusir yang lain pergi.
Jika Ohyul adalah personafikasi dari tenangnya angin, maka Ryul hidup dalam bara api. Jika para guru menyukai Ohyul, maka untuk Ryul—mereka biasa menghembuskan nafas ketika melihat namanya. Ia sedari kecil diajarkan untuk berdiri tegak, tak kenal takut, dan siap untuk membela yang lemah. Ia tumbuh dengan mindset bahwa kekerasan bukanlah masalah selama ia membela mereka yang kecil. Ia dibentuk sebagai anak yang tak butuh menunggu persetujuan selama semuanya adil dirasakan. Ia hidup dalam dunia yang harus cepat bertindak tanpa perlu dipikirkan terlebih dahulu—dan sangat disayangkan, itu selalu berakhir dengan frontal di tangannya.
Ryul tidak takut apapun. Baginya, emosi adalah bahan bakar, konflik adalah jalan dan tindakan adalah kejujuran. Kalau diam, orang lemah akan terluka dan jika terlambat, penyesalan akan datang. Ia tak biasa menunggu persetujuan. Baginya, dunia tak pernah menunggu korban siap. Ia tak pernah percaya pada ‘menunggu’. Namun sisi lemahnya, ia tidak terlatih dalam menahan diri. Baginya, menahan sama dengan kalah. Sudah tak terhitung berapa kali ia terjebak dalam detensi atau rumah sakit karena ulahnya. Reputasinya memang buruk dan daftar hukumannya panjang, namun ia sebenarnya cukup pintar. Ia tak pernah melanggar peraturan yang baginya tak pantas untuk dilanggar. Nilainya tak pernah bermasalah, ia selalu mengerjakan tugas dengan baik, dan selalu bisa menjawab ketika dilontarkan pertanyaan. Ia lebih baik lagi ketika berhubungan dengan non-akademik— menjadi anggota klub futsal dan menjadi boxer yang beberapa kali membawakan piala. Ia hanya sulit mengontrol emosi dan meluapkannya, namun ia sadar mana yang benar dan salah.
Dan hal itu dibuktikan hari ini. Ponsel Ohyul bergetar di dalam sakunya—memperlihatkan nama Woojin terpampang disana. Ia menutup bukunya, menaruhnya pada sebuah keranjang khusus sebelum akhirnya berjalan meninggalkan perpustakaan.
“Halo?”
“Yul, lo lagi dimana?”
“Perpus,”
“Boleh kesini bentar ga? Bantuin gue,”
“Kemana?”
“UKS. Ini si Ryul abis berantem lagi, darahnya banyak banget gamau berhenti. UKS lagi kosong, gue kerepotan banget ini ngurusinnya,”
Ohyul menghembuskan nafasnya, jarinya ia bawa memijit batang hidungnya lembut. “Yaudah, bentar,”
Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku sebelum membawa langkah kakinya cepat menuju UKS. Matanya tak perlu lama untuk menangkap salah satu kasur di pojok yang memperlihatkan Woojin tengah membersihkan luka di punggung Ryul yang sudah sedikit mulai bersih. Di sekitar mereka terlihat banyak kapas berbalut darah yang cukup berserakan.
Ohyul mendengus sebelum akhirnya berjalan mendekat—mengambil kapas bersih yang berada di sebelah Woojin dan mulai memperhatikan wajah Ryul yang penuh luka dan memar. “Selalu dengan cara paling primitif,” ketusnya sembari menuangkan sedikit alkohol ke kapas bersih dan mulai membawanya perlahan ke pelipis Ryul.
“Gue ga nyerang orang yang ga salah,” respon Ryul mencoba membela diri.
Ohyul menekan lukanya, membuat Ryul meringis kecil. “Jadi apa alasannya kali ini? Ngebela orang lain?” Ohyul menatapnya remeh. “Tipikal. Selalu aja lo sembunyi di balik kata membela,”
“Gue ga sembunyi di balik apapun,”
“Kalo cara lo kaya gini terus—lo gaada bedanya sama orang yang lo pukulin,” Ohyul lanjut. Kapasnya kini sudah diganti dengan yang baru untuk membersihkan luka di tulang pipi Ryul. “Sok heroik,”
“Lagi-lagi, ni dua orang pinter berantem soal siapa paling bener,” Woojin dari balik punggung Ryul menatap mereka berdua dengan tampang sarkas—dengan tangan yang berusaha menahan bahu Ryul agar tidak terpancing. "Capek ga sih?"
“Jangan atur cara gue,”
“Kalau gitu, stop ngerepotin gue,”
“I didn’t ask you to come,”
“Yet, you act like i owe you,”
“I didn’t ask you to care either,”
“Okay guys, it’s enough,” Woojin beranjak turun dari kasur—membawa dirinya berdiri di antara Ohyul dan Ryul yang masih saling memberi pandangan intens—merasa situasi sudah jauh lebih tidak enak. “Salah gue. Salahin gue aja please jangan ribut,”
“You should stop acting like you’re the center of every problem,” Ohyul sedikit melangkah mundur—memberikan ruang untuk Woojin di antara mereka berdua. “Lo ga jadi pelindung, Ryul—lo pembuat onar. You can’t even control yourself,”
Nada itu terdengar terlalu tenang. Terlalu rapi. Dan entah kenapa, itu yang paling membuat Ryul kesal. “Gue ga akan berubah cuma karena lo ga suka,” balas Ryul dengan intonasi berat.
Baru saja Ohyul hendak membuka mulutnya untuk membalas, Woojin menarik tangannya untuk berjalan keluar ruangan—meninggalkan Ryul di dalam dengan luka yang sudah nyaris bersih. “Gue minta lo dateng buat bantuin gue—bukan buat nambah pusing gue, Yul,”
“It’s getting out of hand, mau sampai kapan dia kaya gitu? Sampai dia mati dipukulin?”
“Ya, ga gitu juga. Maksud gue—bahasnya jangan waktu kondisinya lagi kaya gini, yang ada lo berdua bentrok. Both of you are so defensive, benturan ego terus. Kalau mau dibahas lagi, lakuin pas kepala kalian udah dingin,” tutur Woojin letih.
Ohyul memutar bola matanya kesal. “Gue udah males ngurusinnya,” ketus Ohyul sebelum akhirnya ia berbalik pergi.
“Ohyul!” Woojin menatap punggung Ohyul berjalan menjauh—sebelum akhirnya ia menghembuskan nafasnya kasar.
Woojin kembali melangkah masuk, menatap mata tegas Ryul dengan tatapan letih. “Ohyul left,”
Ryul mengangguk singkat. “Good for him,” responnya. “Lo pergi aja, makasih udah bantuin gue,”
“Gila aja, gue ga akan ninggalin lo dalam kondisi gini lah,”
“Papa gue bakal dateng sebentar lagi. It’s okay. You can leave,” balas Ryul sembari membalut kassa ke telapak tangannya sendiri. “You really should—atau dia bakal ikut ngomelin lo juga nanti,”
Woojin menatapnya tak yakin. “Lo serius?”
Ryul mengangguk.
—
Ohyul memang marah. Ia selalu marah saat Ryul terlibat dalam masalah. Ia tak pernah suka melihat orang lain bermain kekerasan. Baginya, orang-orang yang melakukan kekerasan adalah orang bodoh yang tak bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih masuk akal. Primitif. Destruktif. Dan membuat situasi yang seharusnya bisa ditangani berakhir menjadi kotor.
Ia memang khawatir pada Ryul—bohong jika ia bilang ia tak peduli melihat sahabatnya sedari kecil itu terluka dan penuh memar. Namun bagaimanapun, itu pilihan Ryul. Ia selalu menjadikan dirinya sebagai yang paling rugi—memilih jalan yang hanya membuatnya terluka tanpa arti. Tak sekali dua kali Ohyul merasa muak dan letih memperhatikannya berakhir dalam keadaan seperti itu. Ia tak pernah menurut. Tak pernah peduli pada dirinya sendiri. Selalu saja muncul dengan wajah babak belur dan darah yang menetes di bibir. Dan Ohyul tak akan pernah mengerti, apa yang ia capai dari itu selain menghancurkan dirinya sendiri secara perlahan dan pasti. Namun, meski semuak dan semarah apapun dia—ia akan selalu kembali dan peduli. Tak peduli seberapa banyak lontaran kata kasar, sumpah serapah atau ungkapan menusuk yang mengisi ruangan antara mereka, mereka akan selalu mencari cara kembali untuk peduli. Hanya saja, terkadang cara itu tidak lagi terasa sama.
Contohnya kini Ohyul tengah menghadap Mr. David—guru konseling yang biasa mengurus detensi atau hukuman untuk murid. Setelah ia mengetahui soal apa yang sebenarnya Ryul bela—langkah kakinya otomatis mengantarkannya kesini. Pria separuh baya itu menurunkan sedikit kacamatanya ketika ia melihat Ohyul berdiri di hadapannya, sebelum akhirnya ia menunduk untuk kembali membaca bukunya. “What is it? Trying to clear your friend’s name again?”
Ohyul mengangguk. “I can assure you it was not fully his fault, sir,”
“But what i heard was otherwise,”
“He was just trying to protect someone who was getting bullied,” Mr. David menaruh bukunya di meja, memberikan perhatian sepenuhnya pada lelaki dihadapannya.
“Mr. Kwon, you should stop trying to help Mr. Kim. He’s been getting detention all year—it’s not surprising anymore. Aren’t you tired of taking care of someone who will never learn?” Mr. David melepas kacamatanya. “Saya tidak menghukumnya atas niatnya—tapi perbuatannya. Kekerasan tidak akan pernah menjadi jalan dalam mengatasi masalah, saya tahu kamu paham betul soal itu,”
“Yes, sir,”
“You’re just wasting your time and energy for someone like that, Mr. Kwon. Sepertinya ia juga tidak peduli bahwa kamu sering menghampiri saya untuk membebaskannya atau mengurangi hukumannya. Dan jika pun ia tahu—ia masih terus melakukannya, tandanya ia tak peduli dengan perhatianmu. He doesn’t care and he won’t ever learn. You should just focus on yourself. You don’t owe him anything.”
Ohyul tidak membantah. Bukan karena ia setuju—tapi karena bagian itu selalu terasa lebih rumit dari sekadar peduli atau tidak
Tiga hari sudah berlalu sejak kejadian keributan yang Ryul dengan sengaja melibatkan diri—ia kembali ke sekolah, dengan jalan yang sedikit pincang tanpa membutuhkan tongkat untuk membantunya. Saat ia memasuki kelas, ia langsung berjalan menuju kursinya di bagian paling belakang—melewati Ohyul yang duduk di barisan ketiga dari depan—berada di sebelah kanan jajarannya dengan jarak 3 kursi di antara mereka. Ia meletakkan tasnya lebih keras dari yang perlu. Tidak ada yang menoleh. Termasuk Ohyul. Ia terlihat menunduk, tak memperdulikan Ryul berjalan melewatinya dan memilih sibuk membaca sebuah buku yang Ryul yakini buku pelajaran dari seberapa tebal dan besarnya buku tersebut.
—
Bel istirahat berbunyi—Ryul mulai bangkit dari kursinya dan menyampiri milik Ohyul. “Kantin?” tanya Ryul.
Ohyul menengadahkan kepalanya, mata lentiknya menatap milik Ryul. “Ayo,”
Mereka berjalan berdampingan, tak ada satupun dari mereka memulai bicara—namun ketegangan sisa adu mulut tempo hari sudah luntur. Diam di antara mereka tidak lagi terasa canggung—hanya terasa sedikit berbeda. Dan entang mengapa, hal seperti ini terasa biasa—mereka akan bertengkar, adu mulut, tak ada yang mau mengalahkan ego, defensif dan tegak pada prinsip masing-masing, berusaha tidak peduli—namun pada akhirnya mereka akan baik-baik saja.
“Masih sakit?” tanya Ohyul pada akhirnya. Matanya melirik pelipis Ryul yang terlihat sedikit ungu.
Ryul tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu memperhatikan nada suaranya—mencoba memastikan sesuatu yang tidak pernah ia tanyakan. “It’s okay,” baru saja Ohyul hendak membuka mulutnya kembali, Ryul melanjutkan. “Don’t. I know what I’ve done wrong, jangan diperpanjang,” Ia sudah hafal bagaimana percakapan ini biasanya berjalan.
Ohyul memutar bola matanya jengkel.
“Mulai sibuk lagi lo?” Ryul mencoba membuka obrolan baru. “Kapan tuh olimpiadenya?”
Ohyul mengangguk. “Udah mulai persiapan OSN. Udah mulai pembinaan lebih padat sama harus ngerjain latihan soal lebih banyak. Weekend gue sekarang bener-bener full try-out. Dua minggu lagi udah harus nginep di hotel bareng finalis lain buat persiapan ujiannya,”
Ia mendengarkan dengan alis sedikit berkerut, bukan karena tidak mengerti—tapi karena ia selalu merasa ada sesuatu yang dikejar Ohyul lebih dari sekadar kemenangan. “Berapa lama?”
“Seminggu,”
Ryul mengangguk. “Jangan dipaksain,”
“Jangan dipaksain gimana? Kalau ga dipaksain ntar gue ga menang,” ujar Ohyul tak terima.
“Mending lo kalah karena ga maksain diri daripada kalah karena pingsan gara-gara vertigo lo kambuh pas lagi ujian,” jawab Ryul. “Bakal malu-maluin tuh,” Tawa Ryul terdengar ringan. Tapi ada sepersekian detik sebelum ia benar-benar tertawa.
Ohyul memukul pundak Ryul yang ia yakini memar bekas tempo lalu—yang reflek membuat Ryul meringis. “Kalo mulut lo gabisa dipake ngomong bener, mending gausah ngomong sekalian,”
“Ye, begini juga karena gue peduli,”
“Mulut sama kelakuan ga ada yang bener,”
Ryul terkekeh, kemudian terdiam. “But I’m serious tho. Stop being too hard on yourself ya," Ia sudah pernah mengatakan itu sebelumnya. Berkali-kali. Dengan nada yang berbeda-beda.
“I will. When you stop making yourself as the center in every problem,”
Ryul mendecak, tapi tatapannya tidak sepenuhnya kesal. Lebih seperti seseorang yang sudah terbiasa tidak dimengerti. “Ah, males. Mulai dah,”
“Jadi, cuma lo aja yang boleh ngatur-ngatur gue?”
“Dah. Males ribut, kaki gue nyeri,”
“And whose fault is that?”
“Nyul. Udah,”
Ohyul mendengus kasar, belum terima argumennya dipatahkan begitu saja. Namun melihat kondisi Ryul yang masih cukup memprihatinkan, membuat ia menelan bulat-bulat rasa tidak terimanya. Karena, sudah terlalu banyak hal yang tidak pernah selesai di antara mereka. Dan seperti biasa, mereka memilih berhenti di tengah.
Saat mereka tiba, kantin sudah cukup ramai. Namun, Woojin dan Louis sudah terlihat duduk di salah satu meja yang berada tak jauh dari pintu masuk. Kedua lelaki itu terlihat sibuk mengobrol sebelum akhirnya berhenti ketika Ryul dan Ohyul bergabung—dengan Ryul duduk di sebelah Woojin, dan Ohyul yang berhadapan dengannya.
“Cepet amat, udah selesai makan aja?” Ryul menatap mangkok yang hanya menyisihkan kuah soto di atas meja mereka.
“Kelas gue bubar duluan tadi. Ni si Louis belum lama,” respon Woojin sembari menunjuk Louis dengan matanya. “Belum mesen juga tuh dia,”
“Nitip, Lou,”
“Mau pesen apa?” Louis mulai bersiap-siap beranjak—matanya menatap Ryul yang terlihat berpikir. Ia mengalihkan pandangannya pada Ohyul. “Kak, nitip aja sekalian. Mau apa?”
“Roti-rotian aja boleh ga? Sama americano. Gue mau cepet soalnya. Mau langsung ke perpus abis ini,” balas Ohyul.
Louis mengangguk, matanya kembali ia arahkan pada Ryul. “Cepet,”
“Chicken Teriyaki boleh deh. Minta es tehnya dua gelas ya, Lou,” Louis menggangguk mendengar pesanan Ryul, sebelum akhirnya ia melenggang pergi.
“Udah mendingan?” Woojin bertanya, matanya menatap Ryul dari bawah sampai atas. “Ga bonyok-bonyok amat nih muka lo, tumben,”
Ryul mengangkat alisnya singkat. “Aman,”
“Sekarang sih aman. Gatau nanti,” Ohyul menceletus.
Ryul menatapnya malas. Namun, Woojin yang menyaut. “Maksud?”
“Hari ini masih dikasih nyawa. Besok-besok juga tuhan udah males tuh—kucing aja cuma 9, masa dia lebih dari 10,”
Ryul mendengus pelan, tapi matanya tidak ikut menyipit seperti biasanya. Ia terlalu cepat mengalihkan pandang. “Rajin amat ngitungin,”
“Siapa yang ngitungin? Gue udah stop ngitung di urutan yang ke-10 dan itu udah terjadi 12 tahun lalu,” “
"Yaelah. Dulu mah masih berantem-berantem manja,”
“Gue sumpahin—“
“Udah,” Woojin memotong. Ia sudah tahu kemana obrolan ini akan diarahkan—menuju kematian. Alias, dua lelaki dengan ego tinggi dan selalu punya ribuan kosa kata menampar untuk dilemparkan—tak akan berhenti sebelum salah satu dari mereka kelepasan kendali, dan Woojin harus menghentikan sebelum itu terjadi. “Ga ada yang mati dulu sebelum kita scuba diving di palung mariana,”
Mereka memang sudah saling kenal sejak masih berumur 4 dan 5 tahun. Tinggal di lingkungan yang sama, bermain di playground yang sama, masuk ke TK yang sama hingga ke SMA pun yang sama. Bohong jika mereka bilang mereka tidak pernah merasa muak dan bosan melihat satu sama lain—namun, kebersamaan yang tumbuh selama nyaris seluruh hidup mereka membuat kehadiran satu sama lain mengalir sebagai naluri—seperti menjadi bagian dari jati diri. Mereka akan lebih memilih untuk bertahan merasakan muak dan kesal melihat wajah yang sama selama seumur hidup itu daripada harus melihat wajah-wajah itu menghilang dari hidup mereka. Karena kehilangan itu akan terasa sangat nyata.
Dan jika Woojin boleh jujur, mungkin ialah yang paling muak disini. Ryul dan Ohyul, sebagai yang lebih tua di atasnya—memang sering bisa diandalkan, terutama Ohyul. Namun, dibandingkan Woojin yang mengandalkan mereka, sepertinya mereka lebih sering mengandalkan Woojin untuk mencegah pertumpahan darah di antara mereka berdua. Jika saja Woojin mengikuti rasa muaknya sekali untuk membiarkan mereka berkelahi—yang mana hampir setiap hari, mungkin ia akan kehilangan salah satu dari mereka—entah dalam konteks kehadiran—or worse, mungkin nyawa.
“Sisa butter croissant doang sama garlic bread,” suara Louis memecah hadir. “Chicken Teriyaki-nya nanti dianterin sekalian sama tehnya,”
Ohyul menerima roti yang diberikan Louis. “Makasih,” ia meneguk americano dingin dan mulai membuka bungkus butter croissant yang diberikan Louis.
“Ntar balik main ke rumah ga? Main ps,” Louis kembali buka suara, sembari mencelupkan kentang goreng yang ia beli ke dalam cocolan mayonnaise dan saos. “Abis beli disk baru,”
“Apaan?” Woojin bertanya.
“Helldivers 2,”
“Gas,” Ryul mengangguk.
“Bisa jalan?” Woojin menatapnya dengan alas kanan sedikit terangkat.
“Remeh,” Ryul menjitak kepala Woojin cukup kuat, membuat lelaki berambut sedikit panjag itu meringis sakit.
“Kak, ikut?” Louis menatap Ohyul yang masih sibuk memakan croissant miliknya.
“Skip dulu. Belajar,”
“OSN ya?”
“OSN ga OSN juga belajar mulu,” celetuk Woojin. “Robot kali ah,”
Ohyul hanya mengangguk—terlalu sibuk mengunyah makanannya untuk merespon.
“Lembur di perpus berarti?” tanya Louis lagi.
Ohyul mengangguk lagi. “Iya,”
“Gue juga skip, ada latihan,” ungkap Woojin sebelum ia menyereput kopi yang es batunya sudah mencair.
“Berdua doang ini jadinya?” tanya Louis.
“Iya, si pincang doang tuh yang bisa,” Ryul memutar bola matanya mendengar panggilan Woojin.
“Yaudah,”
—
Woojin masuk dengan menenteng dua kaleng soda dingin di tangannya. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 19.37. Ia sudah mengirimi pesan pada Ohyul barusan, menanyakan keberadaan lelaki tersebut dan menyuruhnya untuk balik ketika ia menjawab masih di perpustakaan. Namun, daripada menyuruh lelaki itu pulang—yang sudah pasti tak mungkin akan ia lakukan atas dasar perintah, ia memilih untuk lebih baik menemaninya saja.
Setelah sedikit berkeliling mengelilingi perpustakaan untuk mencari Ohyul, ia menemukan lelaki itu tengah duduk di salah satu meja di bagian tepi ruangan. Tangannya menahan kepalanya yang menggantung, bulu mata panjangnya tak bisa menutupi matanya yang terlihat letih membaca salah satu buku di antara tumpukan buku di sekitarnya.
“Nih,” Woojin menaruh salah satu kaleng soda di depan Ohyul—lalu menarik kursi di sebelahnya untuk duduk.
Ohyul menegakkan kepalanya. “Makasih banyak ya, Jin,” ujarnya sembari membuka minuman tersebut dan meneguknya pelan. “Sumpah, lo pulang aja,”
Woojin menggeleng dengan mata yang tertutup. “Gak,” ucapnya penuh penekanan. “Gue temenin sampai lo mau pulang,”
“Gue masih lama, Jin,”
“Ya gapapa?”
“Gaenak gue,”
“Udah gue bilangin juga, gapapa. Jangan ngatur,”
Ohyul menghembuskan nafasnya—cukup letih untuk berdebat dan berusaha merubah pikiran Woojin. Ia lanjut membaca buku fisika di hadapannya—dengan Woojin yang kini sibuk bermain game di ponselnya.
“Olimpiade-nya kapan, Yul?” tanya Woojin tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
“Dua minggu lagi,”
“Dimana?”
“Di Convention Hall hotel tempat gue nginep nanti,”
Woojin mengangguk—tak berniat melanjutkan obrolan atas dasar tak ingin menganggu fokus Ohyul.
Mereka ada di posisi itu selama kurang lebih 30 menit ke depan. Ponsel Ohyul pun sedari tadi berdenting beberapa kali—memperlihatkan nama kontak kedua orang tuanya yang menghubungi.
“Yuk,” Ohyul menghadap Woojin, sembari meregangkan sedikit badannya. “Bentar gue beres-beres dulu,”
“Mau balik bareng aja, Yul? Apa lo dijemput?”
“Bawa apa? Ga lagi ngide bawa mobil kan?”
“Motor, aman,” ucap Woojin seraya menyengir.
Ohyul terseyum, kemudian mengangguk. “Boleh. Bentar ya gue kabarin Ayah gue dulu,”
Woojin melihat Ohyul mengetik di ponselnya sebelum akhirnya ia berdiri, menaruh ponselnya di saku dan menenteng tas ranselnya.
Saat mereka keluar, gedung sekolah sudah cukup remang. Memang, lampu sudah mulai dimatikan dari fajar—namun, dikarenakan banyak kegiatan murid yang masih berlangsung hingga malam, lampu tidak dimatikan sepenuhnya. Langkah Ohyul stabil. Sedikit terlalu stabil untuk seseorang yang menghabiskan hampir seluruh sore hingga malam menunduk di bawah lampu putih yang terang benderang.
“Yul,”
“Hmm,”
“Tapi kata gue lo harus kurang-kurangin deh kaya gini,”
Ohyul menatapnya bingung. “Kaya apa?”
“Gila-gilaan belajar kaya gini. Ga baik, Yul,” ujarnya. “Masalahnya lo kaya gini ga pas nyiapin sesuatu aja—tapi setiap hari, cuma lebih kaya orang gila aja kalau lagi persiapan buat sesuatu,”
Ohyul terkekeh. “Yaelah, lo juga sama aja. Latihan tiap hari juga ga baik kali,”
“Ya, soalnya itu hobi gue, jadi walaupun capek gue seneng ngelakuinnya,”
“Loh, siapa bilang belajar bukan hobi gue?”
Woojin menggeleng tak terima. “Ga ada orang di dunia ini yang enjoy belajar, Yul,”
“Ada,” Ohyul membalas. “Gue buktinya,”
Woojin menatap sahabatnya itu tak percaya—kemudian kembali menggelengkan kepalanya. “Udah kena nih psikisnya,” gumamnya. “Gara-gara kebanyakan ngerjain latihan soal,”
Ohyul tertawa—tangannya ia bawa merangkul pundak Woojin yang lebih pendek darinya. “Trust me. I’m enjoying all this,” Woojin mengangguk, meski ia tidak benar-benar yakin. Ia ingin percaya—selalu ingin percaya.
“Orang tua lo pasti bangga banget ya sama lo, Yul. Pinter, rajin, sopan, baik—cakep lagi,”
“Lah emang,”
“Nah ini nih, yang bikin males,” Woojin menoyor kepala Ohyul dengan pelan—membuat lelaki cantik itu tertawa lebih lepas.
“Orang tua lo juga kali. Ga ada orang tua yang ga bangga sama anaknya, Jin. Cara nyampein dan nunjukinnya aja yang beda,” Ohyul tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi rapihnya.
“Ya, gue ga ada bilang orang tua gue ga bangga sih,” Ohyul menekan tangannya untuk mencekik leher Woojin dengan bercanda—membuat Woojin berpura-pura kesakitan. “Tapi, serius deh. Lo kan dulu sering drop ya, orang tua lo pasti khawatir banget kalau kondisi lo gitu lagi,”
“Itu cuma kambuh kalo kecapean doang kok, aman,” ungkap Ohyul dengan tenang. Tidak menoleh ketika mengatakannya. “Lagian gue juga sekarang ga separah dulu. Sibuknya pas ada nyiapin sesuatu aja,”
Woojin memutar bola matanya. “Apaan. Sama aja gue liat-liat,”
Tangan kiri Ohyul yang masih melingkar di pundak Woojin kini meraih pipi kanannya dan mencubitnya gemas. “Khawatiran banget. Lo sayang ya sama gue?”
Woojin menepisnya. “Eh, lo ibaratnya dari gue belum putusin tali pusar aja udah ngerecokin kehidupan gue ya—yakali gue ga sayang,”
Ohyul tertawa lagi. “Sayangnya gue engga,” Ia mengatakannya sambil tertawa. Woojin tahu itu bercanda. Tetap saja, ada sesuatu yang terdengar sedikit terlalu ringan.
Woojin membawa tangannya memukul bagian belakang kepala Ohyul gemas. “Tau gini minuman soda lu tadi gue masukin kaporit,”
“Hahahaha,”
