Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-11
Completed:
2026-02-23
Words:
4,915
Chapters:
3/3
Comments:
9
Kudos:
87
Bookmarks:
7
Hits:
1,075

The Accidental Bond

Summary:

Ada rahasia umum yang menyebar di lingkungan Hogwarts: “Kemanapun Profesor Huang pergi, ada ledakan yang mengikutinya. Dan dimana ada ledakan, disitu pasti ada Profesor Na.” Bagi para siswa, Profesor Na seperti memiliki indra keenam yang bisa mengetahui kapanpun Profesor Huang berada dalam bahaya. Bagi para staff, kejadian itu mungkin terlihat seperti kebetulan. Dan bagi Profesor Huang sendiri, hal itu terasa… memalukan.

Notes:

I do not own Huang Renjun or Na Jaemin.
Happy reading!

Chapter 1: The Potion Professor and The DADA Professor

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Pagi itu nampak tenang.

Para siswa berlalu-lalang menuju kelas masing-masing—saling bersilangan di koridor. Suara ramai dari percakapan para siswa mengisi udara. Tidak ada hal yang aneh di pagi itu.

Sampai suara ledakan terdengar seperti naga kecil yang sedang bersin.

BOOMMM!

Getarannya merambat di lorong bawah tanah, menggetarkan lentera gantung dan menyebabkan beberapa siswa yang berada di dekat sumber suara tersandung kaget. Asap biru terang merambat memenuhi lorong. Sumbernya berasal dari salah satu ruang kelas yang tertutup rapat—ruang kelas ramuan.

Bukan hal baru, sebetulnya. Ini bukan pertama kalinya suara ledakan terdengar dari ruang kelas Profesor Huang. Sang guru ramuan—Huang Renjun—sebetulnya adalah seseorang yang brilian dengan pembawaan yang tenang, namun entah mengapa, ia sepertinya juga memiliki bakat untuk mengundang kekacauan.

Para siswa yang berada di dekat ruang kelas Profesor Huang terdiam di tempat masing-masing. Mengingat hal ini terjadi bukan pertama kalinya, semua seolah sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Bahkan dalam hati masing-masing, mereka sudah mulai menghitung mundur.

Tiga… Dua… Satu…

Sosok tinggi dengan jubah hitam muncul dari ujung lorong. Langkahnya cepat, namun tidak terkesan terburu-buru, kemudian menghilang ke dalam ruang kelas ramuan.

“Kali ini tepat sepuluh detik sejak suara ledakan terdengar,” bisik seorang siswa tahun kedua dengan dasi berwarna merah dan emas pada temannya yang memakai dasi berwarna kuning dan hitam.

“Timing-nya benar-benar tepat. Kata Riku hyung, Profesor Na seperti punya radar Huang,” balas temannya.

“Sudah aku bilang, Saku! Mereka pasti berkencan! Kau saja yang tidak percaya.”

Selain berbisik-bisik dari tempatnya berdiri masing-masing, tidak ada seorang siswa pun yang berani untuk masuk ke dalam kelas ramuan—termasuk mereka yang pagi ini memiliki kelas ramuan. Semua hanya berdiri menunggu, menantikan apa yang akan terjadi berikutnya.

Sementara itu, Profesor Na sudah masuk ke dalam ruang kelas yang masih berasap. Profesor Huang berdiri di tengah ruangan dengan masih terbatuk-batuk. Rambut pirangnya penuh serpihan jelaga, lengan bajunya terbakar sedikit, dan kuali di depannya masih mendesis mengeluarkan asap biru terang.

Ketika kedua maniknya menangkap sosok sang kolega, Profesor Huang merengut—ekspresinya terlihat lucu bagi Profesor Na, tapi tentu ia tidak akan mengatakannya langsung.

“Oh.” Profesor Huang kembali terbatuk. “Kau lagi.”

“Aku kebetulan sedang lewat,” jawab Profesor Na datar.

Profesor Huang balas menatap datar. “Lorong ini buntu, jika kau ingat, Profesor Na yang terhormat. Lewat darimana, maksudmu?”

Sang guru pertahanan terhadap ilmu hitam—Na Jaemin—mengangkat bahunya. “Aku sedang mengecek dinding lorong. Ada laporan retakan.”

“Retakan darimana?”

Jaemin menatap Renjun tanpa berkedip. “Masih dugaan.”

Rasanya Renjun ingin menjerit kesal. Lelaki di depannya tidak membutuhkan sihir untuk mengacaukan emosinya.

Tiba-tiba terdengar suara dari rak paling atas. Sebuah botol kaca tergelincir dan jatuh cepat di atas Renjun. Sebelum Renjun bahkan sempat bereaksi, Jaemin sudah mengangkat tongkatnya. Botol itu berhenti di udara, tepat sejengkal dari dahi Renjun.

Keheningan singkat memenuhi ruangan.

“Kau…” Renjun menunjuk Jaemin, “bukan hanya lewat!”

Jaemin menarik napas dan menghambuskannya pelan. “Hanya kebetulan.”

Renjun bisa mendengar suara tawa tertahan dari para siswa yang mengintip dari luar.


Insiden pagi ini di ruang kelas ramuan tentu menjadi topik hangat yang segera menyebar ke seluruh penjuru kastil. Para siswa saling berbisik dan terkikik pelan—menguatkan konspirasi bahwa Profesor Na memiliki radar Profesor Huang sehingga bisa mengetahui setiap kali sang guru ramuan berada dalam bahaya. Tidak hanya para siswa, sesama profesor dan staf pun saling menanggapi dengan geli.

Kim Doyoung—sang guru mantra—menyesap tehnya, namun jelas terlihat sedang menahan tawa. “Mungkin kita butuh ruang kelas yang tahan ledakan,” katanya dengan ekspresi yang pura-pura serius.

Lee Taeyong—guru herbology—menimpali sambil terkikik, “Atau Profesor Na seharusnya mendapatkan gaji tambahan, sebagai ‘Pelindung Profesor Huang’.”

Semua yang mendengarnya tertawa.

“Ah, bukankah mereka sudah seperti itu sejak masih sekolah?” Nakamoto Yuta—guru transfigurasi—ikut bersuara. “Aku masih ingat bahkan ketika di sekolah pun Profesor Na sepertinya selalu tahu kapanpun Profesor Huang berada dalam radar bahaya.”

“Betul, aku sampai tidak bisa menghitung berapa kali Profesor Na membawa Profesor Huang ke Hospital Wing,” sahut Qian Kun—sang penyihir penyembuh yang bertugas di Hospital Wing.

Para guru yang lebih senior sibuk berbagi cerita mengenai Profesor Na dan Profesor Huang semasa sekolah. Sementara itu, Na Jaemin tetap tenang dan sibuk mengunyah rotinya. Sedangkan Huang Renjun sudah ingin menenggelamkan kepalanya ke sup labu.


Huang Renjun dan Na Jaemin sama-sama menjalani masa sekolah di Hogwarts pada angkatan yang sama. Keduanya bukan teman baik, bahkan berasal dari asrama yang berbeda—Renjun, si jenius dari Ravenclaw dan Jaemin, si misterius dari Slytherin, namun entah mengapa mereka seperti memiliki koneksi satu sama lain.

Semuanya dimulai pertama kali di kelas Herbology pada tahun pertama mereka dimana Ravenclaw bergabung dengan Slytherin. 

Saat itu Renjun tersandung akar mandrake yang belum dicabut dengan benar. Ia hampir jatuh menabrak pot tanaman berduri. Tetapi sebelum siapapun bisa bereaksi, tangan seseorang menarik kerah jubahnya dari belakang. Tarikan itu membuat Renjun terhuyung mundur, kembali berada pada posisi yang aman.

Renjun menoleh. Jaemin berdiri dibelakangnya dalam diam, masih memegang kerah jubah si Ravenclaw.

Renjun mengerjap. “Oh—uh. Terima kasih?”

Jaemin melepaskan cengkeramannya. Tatapannya dingin dan suaranya rendah.

“Lain kali, lihat jalan.”

Dan ia berjalan pergi sebelum Renjun sempat mengatakan apa-apa lagi.

Selama masa sekolah, Renjun tumbuh menjadi salah satu siswa paling jenius di angkatannya.

… dan paling ceroboh.

Anehnya, entah bagaimana caranya, Na Jaemin selalu berada dalam radius 10 meter ketika sesuatu terjadi.

Contohnya saat Renjun tanpa sengaja memicu ledakan kecil di kelas ramuan, kepalanya hampir terkena pecahan kaca. Tetapi kaca itu berhenti di udara—Jaemin berdiri dengan tongkat terangkat.

Seisi kelas membeku—sampai Profesor Lee, guru ramuan saat itu—menyuruh Jaemin untuk kembali duduk. Semua tetap diam, namun memiliki pertanyaan yang sama: bagaimana Jaemin melakukannya dalam waktu yang begitu cepat?

Atau ketika Renjun tersandung di tangga bergerak, tiba-tiba ada tangan yang menahan tubuhnya sehingga tidak terjatuh. Renjun menoleh dan menemukan Jaemin yang menatapnya datar, padahal sebelumnya Renjun yakin bahwa ia sendirian di lorong itu sampai naik tangga.

“Kenapa… kau sepertinya ada dimana-mana?” tanya Renjun suatu hari ketika Jaemin—entah untuk ke berapa kalinya dalam minggu ini—menghalau buku yang hampir menimpa kepala Renjun di perpustakaan.

“Hanya kebetulan lewat.” Jawaban singkat yang sama selalu diberikan Jaemin, membuat Renjun menyipit curiga.

Sampai pada tahun terakhir mereka, kisah tentang Huang Renjun—si Ravenclaw jenius yang ceroboh—dan Na Jaemin—si Slytherin yang misterius dengan insting kuat setiap kali seorang Ravenclaw dalam bahaya—sudah menjadi legenda.

Semua orang tahu keduanya tidak memiliki hubungan spesial, bahkan bukan teman baik. Tidak pernah duduk bersama maupun mengobrol panjang. Tetapi semua juga tahu, ada sesuatu… seperti benang halus yang tidak terlihat di antara mereka, seolah mengikat.


Sore itu, Huang Renjun sedang sibuk mengolah ramuan baru yang telah ia rancang selama tiga bulan: ramuan yang bisa membuat penyihir bisa berinteraksi dengan tumbuhan yang dirawatnya dengan memberikan sinyal emosional. Ramuan ini memungkinkan seorang penyihir bisa merasakan emosi dari tanaman yang dirawatnya.

Saat sedang mengaduk kualinya, Renjun mendengar suara langkah ringan yang mendekat. Sedikit merasa sebal, tetapi Renjun mengenali langkah itu. Benar saja, tidak lama kemudian Na Jaemin muncul di pintunya.

“Aku mengembalikan bukumu.” Jaemin masuk tanpa permisi sambil mengangkat buku di tangannya.

Renjun menyipitkan kedua matanya. “Itu bukan bukuku!”

“Kau mungkin lupa.”

“Aku TIDAK—”

Tiba-tiba kuali di tengah mereka mulai berpendar. Cahaya hijau menyebar dengan cepat memenuhi ruangan.

“Jaemin, mundur!”

“Kau yang mundur, Renjun.”

BOOOMM!!!

Ledakan itu terasa berbeda dari biasanya, menurut Renjun. Lebih lembut, namun dengan tekanan yang cukup kuat, seperti gelombang laut yang meledak dari dalam air.

Renjun merasakan tubuhnya terdorong kuat, tetapi Jaemin dengan segera menariknya, melindungi kepalanya ketika mereka terjatuh bersama.

Saat cahaya mulai reda, Renjun mendapati ia dan Jaemin terbaring di lantai batu. Ia berada di atas tubuh sang rekan profesor. Tangannya yang berada di dada Jaemin dapat merasakan detak jantung lelaki yang terbaring dibawahnya itu. Namun ada sesuatu yang berbeda yang dirasakannya—sesuatu yang bukan miliknya.

Rasa khawatir…? dan perhatian.

Jaemin membuka matanya perlahan. “Renjun, apa kau baik-baik saja?”

Renjun hanya diam, tatapannya kosong, sebelum tiba-tiba ia melompat berdiri. Ia menatap terkejut dan matanya mulai bergetar. “Aku… bisa merasakan emosimu.”

Jaemin berkedip lambat, mencoba mencerna ucapan Renjun. Perlahan ia mulai menyadarinya—perasaan yang bukan miliknya, namun bisa ia rasakan.

Panik… takut… bingung…

“Aku juga,” ucap Jaemin sambil bangkit perlahan, “bisa merasakan emosimu.”

Sesaat hening di antara mereka berdua sebelum Renjun mulai berteriak frustasi.

“TIDAAAAKKK!”


- to be continue -

Notes:

Another Hogwarts AU, karena Harry Potter adalah root dari awal mula aku mulai nulis fanfiction. Hahaha. Hope you enjoy this piece.
Any kudos or comments are greatly appreciated. Thank you for reading!