Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-17
Words:
3,132
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
1
Hits:
13

Everlasting Wish

Summary:

Selalu ada harapan baru merekah di fajar pertama setiap tahunnya. Bagi Lucien, harapan itu akan tetap sama, sekarang dan selamanya.

[One-shot. Spesial tahun baru Imlek #HappyCNY]

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Everlasting Wish

 

 

"Nak Noa, baru pulang?"

Sapaan itu sedikit mengagetkan Noa yang sedang berdiri di depan pintu apartemennya dengan kunci elektronik di tangan. Gadis itu berbalik dan melihat nenek penghuni apartemen tepat di depannya, tengah tersenyum ramah.

"Malam tahun baru begini, masih sibuk kerja, ya?" sang nenek berkata lagi.

"Iya, Nek." Noa tertawa kecil. "Kami harus mempersiapkan acara spesial untuk tahun baru."

"Wah .... Bekerja di TV repot juga, ya ...."

"Hehehe .... Ya, begitulah, Nek."

"Oh iya, Nenek punya sesuatu untuk Nak Noa."

"Eh?"

Sang nenek mengeluarkan bungkusan kain merah berbentuk kotak dari balik punggungnya. Langsung diberikannya kepada Noa. Gadis itu menggenggam ujung atas kain dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menopang dari bawah. Agak berat, dan terasa hangat.

"Apa ini, Nek?" tanya Noa penasaran.

"Untuk makan malam. Nenek harap Nak Noa suka."

"Ya ampun, Nenek repot-repot segala."

"Sama sekali tidak. Oh iya, Nenek juga mau minta tolong."

"Hm? Minta tolong apa, Nek?"

"Di dalam sini, ada dua porsi." Sang nenek menepuk pelan bungkusan di tangan Noa. "Tolong berikan yang satu lagi untuk Nak Lucien."

"Eh? Untuk Lucien?"

Nenek itu tersenyum, lantas menoleh ke pintu apartemen yang tertutup rapat tepat di sebelah apartemen Noa. Dari sela-sela pintu, tak ada cahaya terpancar sedikit pun.

"Sepertinya belum pulang, ya?" sang nenek berkomentar. "Nak Lucien itu selalu sibuk bekerja. Nenek jadi khawatir melihatnya."

Senyum samar mampir di bibir Noa. Tetangganya yang satu ini memang sangat perhatian kepada para penghuni apartemen lain. Beliau tinggal di apartemen ini sudah lama, bersama dengan putra tunggalnya. Namun, putranya sangat sibuk bekerja, sehingga sering tidak berada di rumah. Terkadang, Noa berpikir, mungkin sang nenek sedikit kesepian. Karena itulah, ia memberi perhatian lebih kepada Noa dan Lucien yang tinggal sendiri tanpa sanak keluarga.

"Nak Noa, kamu harus lebih memperhatikan dia."

Noa mengerjap mendengar ucapan sang nenek yang berikutnya. "Dia.... Maksud Nenek, Lucien? Ke... Kenapa harus saya?"

"Bukankah kalian sepasang kekasih?"

Semburat merah menghiasi pipi Noa. "I-Itu...."

"Tidak usah malu-malu." Sang nenek terkekeh lembut. "Nenek juga pernah muda, kok."

Noa makin tersipu. Hatinya menghangat ketika melihat sang nenek berpamitan, sebelum kemudian masuk kembali ke dalam apartemennya. Rasanya pun masih tetap hangat, saat Noa berbalik masuk ke apartemennya sendiri.

 

 


"Mr. Love: Queen's Choice/Love & Producer" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Papergames/Elex©

Fan fiksi "Everlasting Wish" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fan fiksi ini.

One-shot. LucienxMC. MC menggunakan nama "Noa". Ditulis untuk tahun baru Imlek #HappyCNY


 

 

Detik-detik bergulir sepi di kompleks apartemen nan damai. Noa tertidur meringkuk di sofa bersama bantal kesayangan dan selimut bermotif stroberi tercinta. Jam dinding Miki dan Mini Tikus di ruang tamu terus berdetak, menyaksikan Noa yang mulai menggeliat pelan, lantas membuka mata.

Gadis itu mengerjap-ngerjap dua-tiga detik. Sewaktu kesadarannya telah penuh, ia tergeragap bangun. Cepat-cepat dilayangkannya pandang ke arah jam di dinding. Hampir pukul sembilan malam.

"Sudah jam segini?!"

Gadis itu cepat-cepat membereskan bantal dan melipat selimut. Tadinya dia cuma ingin melepas penat, bersantai sejenak setelah puas mandi berendam air hangat. Tak disangka malah sampai terbawa ke alam mimpi. Untung saja cuma sekitar setengah jam.

"Eh? Suara itu ...?" Noa menajamkan pendengaran. Sepertinya suara samar yang ia dengar tadi berasal dari apartemen sebelah. "Suara shower? Lucien sudah pulang, ya? Kayaknya dia lagi mandi...."

Pemikiran 'Lucien sedang mandi' mendadak menimbulkan fantasi. Meronalah Noa seketika. Cepat-cepat digelengkannya kepala, mengusir bayangan yang datang tak diundang di benaknya.

"A-Aku nggak ngintip, ya!"

Gadis itu menunjuk dinding yang membatasi apartemennya dengan apartemen Lucien. Ia terdiam, lantas merasa konyol sendiri. Dia di sini, Lucien di sana, terpisahkan tembok sebegitu tebalnya. Bagaimana caranya bisa mengintip?

Daripada terus berpikir yang tidak-tidak, Noa berpikir lebih baik ia segera bersiap-siap. Setidaknya, ia cukup yakin, Lucien pasti belum makan malam. Gadis itu pun cepat-cepat membawa kembali bantal dan selimutnya ke dalam kamar. Cuci muka, lalu merapikan diri dan berdandan sedikit. Baru setelah itu pergi ke ruang makan.

Noa bersyukur, makanan pemberian nenek tetangganya yang baik hati itu disimpan di dalam wadah khusus. Jadi masih tetap hangat sampai waktu yang lama. Namun, tetap saja harus dimakan secepatnya. Tidak mungkin mau disimpan sampai besok, 'kan? Noa sempat berpikir, mungkin sang nenek sengaja ingin menciptakan momen supaya dirinya dan Lucien bisa menghabiskan waktu berdua.

Gadis itu kembali harus merutuki bakat kebucinan yang sudah mendarah daging. Sementara, meja makan sudah tertata rapi. Ia tersenyum melihat meja kecil yang memiliki dua kursi, kini sudah terisi set piring, teko, dan cangkir porselen yang baru dibelinya beberapa hari lalu. Noa jatuh cinta pada pandangan pertama kepada set itu, berkat gambar bunga-bunga kecil dan kupu-kupu ungu di badannya.

"Hmm.... Lebih baik aku telepon Lucien dulu. Harusnya dia sudah selesai, 'kan?"

Noa mengambil ponselnya, bermaksud menuntaskan niatnya. Akan tetapi, tiba-tiba ia tersenyum, sementara ide lain melintas. Alih-alih menelepon, pada akhirnya Noa memutuskan untuk melakukan video call.

Kesalahan besar—atau mungkin Noa harus menyebutnya keberuntungan—karena yang menunggunya adalah sosok close-up Lucien yang tengah bertelanjang dada, dengan kemeja ungu muda yang sama sekali belum dikancingkan.

"L-Lucien?! Kamu... ngapain berpenampilan kayak gitu?!"

Noa menutup mata. Namun, sepasang mata beriris cokelat madu itu mengkhianatinya. Ia kembali terbuka, walau pipi sang pemiliknya sudah malu-malu merona.

"Aku habis mandi. Lalu tiba-tiba ada telepon masuk. Karena dari kamu, makanya cepat-cepat kuangkat."

Si dia di layar ponsel Noa menjawab dengan wajah tanpa dosa. Noa tidak tahu lagi, apakah penampilan Lucien atau kata-kata pria itu yang membuat hatinya berdebar hangat.

"Y-Ya udah, cepetan kancingin dulu bajunya. Ntar masuk angin, lho."

"Hm.... Aku juga ingin begitu. Tapi susah kan kalau hanya pakai satu tangan."

Rasanya bukan cuma perasaan Noa kalau Lucien barusan bicara dengan nada mengeluh manja. Detik berikutnya, gadis itu pun menyadari kilatan jahil di mata sang pemilik netra lavender nan lembut. Lucien terkekeh samar di seberang sana, sementara Noa cemberut sendiri.

"Ada apa kamu menghubungiku? Apa kamu butuh bantuanku?"

Pertanyaan Lucien mengingatkan Noa akan tujuan awalnya menelepon.

"Mm.... Kamu nggak sibuk, 'kan?" tanya Noa. "Nggak ada rencana apa-apa habis ini?"

"Tidak ada. Memangnya kenapa?"

"Bisa datang ke tempatku sekarang? Aku punya sesuatu untukmu."

Noa bisa melihat mata Lucien berbinar. Gadis itu tersenyum ketika Lucien mengangguk.

"Aku segera ke sana."

 

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

 

Bel apartemen Noa berbunyi, tepat ketika ia selesai meletakkan vas berisi bellflower berwarna violet. Makanan dari nenek tetangga pun sudah siap terhidang di piring. Noa bergegas membukakan pintu. Senyum manisnya segera mengisi penglihatan Lucien yang barusan membunyikan bel. Masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang sebelumnya dilihat Noa—yang tentu saja sekarang sudah terkancing rapi, plus sweter rajut cokelat muda bermotif kotak-kotak.

"Ayo, cepat, masuk!"

Setelah menutup pintu, Noa meraih tangan Lucien. Lantas cepat-cepat menarik pria itu sampai ke ruang makan. Lucien tersenyum ketika melihat isi meja makan Noa. Dan masih tersenyum saat Noa mendudukkannya di salah satu kursi.

"Ini pemberian nenek di apartemen depan buat kita berdua," Noa menjelaskan tanpa diminta. "Jadi dijamin rasanya pasti enak."

Lucien mengangguk pelan. Ia pun—sama seperti Noa—sudah beberapa kali diberi makanan buatan sendiri oleh sang nenek. Cita rasa masakan rumahan hasil racikan tangan beliau memang sudah teruji kelezatannya.

Dan saat ini, Noa duduk semeja, begitu dekat dengannya. Lucien bisa melihat warna dari Noa dan sekelilingnya, hingga ke piring yang berada tepat di depan pria itu. Pikirnya, sekarang ini Noa pasti sedang sangat gembira. Belum mulai makan pun, Lucien sudah merasakan kehangatan mengaliri dirinya.

"Oh, ya," kata Lucien kemudian. "Aku juga membawa sesuatu."

Lucien meletakkan wadah serupa termos nasi ke atas meja. Noa membantu pria itu membukanya.

"Waah.... Pangsit!" Mata gadis itu berbinar-binar melihat isi termos yang masih mengepulkan uap hangat. "Lucien, kamu bikin apa beli?"

"Tidak keduanya. Pete yang memberikannya. Katanya, ini pemberian ibunya. Beliau ingin sedikit berterima kasih karena aku sudah menerima dan mengajarkan banyak hal kepada Pete selama ini."

"Waah, ibunya Pete baik sekali." Noa tersenyum, sebelum akhirnya tersentak ringan. "Apa nggak apa-apa, kalau aku ikut memakannya?"

Lucien tertawa kecil. "Tentu. Lagi pula, aku tidak mungkin bisa menghabiskan makanan sebanyak ini sendirian."

Noa melirik isi termos sekali lagi. Ada pangsit dengan beberapa macam isian. Semuanya menggugah selera. Dan memang terlalu banyak kalau hanya untuk satu orang. Mau tak mau, Noa jadi berpikir, jangan-jangan Pete dan ibunya sengaja memberikan pangsit berlebih. Pete pasti tahu persis, dengan siapa lagi Lucien akan berbagi makanan kalau bukan dengan Noa?

"Ya sudah. Kalau begitu, ayo kita makan," kata Noa. "Nanti keburu dingin."

Noa dan Lucien memulai dengan makanan pemberian nenek tetangga. Mie panjang umur yang lazim menjadi hidangan makan malam bersama menyambut tahun baru.

"Enak bangeeet~"

Ekspresi gembira memenuhi wajah Noa setelah suapan pertama dengan sumpitnya. Lucien hanya tersenyum sambil terus makan dengan tenang.

"Nanti kita harus berterima kasih sama Nenek," kata Noa lagi. "Oh! Gimana kalau nanti kita beli hadiah tahun baru untuk beliau? Terus, buat keluarga Pete juga."

"Boleh," sahut Lucien. "Aku juga ingin berterima kasih karena sudah diberi kesempatan untuk melewatkan malam tahun baru ini bersamamu."

Noa hanya tersenyum, lantas meneruskan makan dengan lahap. Gadis itu selesai lebih dahulu daripada Lucien. Lantas mulai menuangkan teh dari dalam teko ke cangkir Lucien, lalu ke cangkirnya sendiri.

"Teko dan cangkir-cangkir ini baru, ya?" tanya Lucien tiba-tiba.

"Iya. Piringnya juga. Memang agak mahal, sih, tapi bagus, 'kan?"

"Hm. Kamu memang pandai memilih."

"Hehehe...."

Lucien meneguk teh dengan khidmat setelah menandaskan isi piringnya. Noa pun telah duduk di kursinya sendiri, lantas menyesap teh pelan-pelan. Sesekali, ia melirik termos yang berisi pangsit. Masih dibiarkan tertutup agar tetap hangat, tetapi aromanya seolah sudah tercium oleh Noa. Lucien yang menyadarinya, tak bisa menahan tawa kecil.

"Makan saja duluan," katanya, "tidak usah menungguku."

"Eeh.... Mana bisa begitu. Ini kan punyamu."

Lucien tersenyum lembut. "Milikku berarti milikmu juga."

Kadang-kadang Noa gemas sendiri, betapa mudahnya pria ini membuat gelenyar hangat merambati pipinya. Karena sudah dipersilakan, Noa membuka tutup termos tanpa sungkan.

"Ada macam-macam isian," komentar Noa. Lantas diambilnya satu pangsit dengan sumpit. Langsung diletakkannya ke atas piring Lucien. "Yang ini isi sayuran. Lucien, kamu harus makan banyak sayur biar sehat."

"Hmm.... Oke...."

Ada tawa di dalam mata Lucien ketika melihat Noa mengambilkan dua pangsit sayuran lagi untuknya.

"Ada yang isi udang juga." Noa mengambil satu pangsit yang dimaksudkannya. "Lucien, kamu nggak ada alergi, 'kan?"

Lucien hanya menggeleng. Satu pangsit udang mendarat di piring Lucien. Tiga pangsit sejenis menyusul dengan cepat, hanya saja ke piring Noa.

"Yang ini isi daging ayam. Lucien, kamu mau?"

Tanpa menunggu jawaban, Noa menaruh dua pangsit ayam ke piring Lucien. Dan tiga ke piringnya sendiri. Kali ini, Lucien tidak bisa menahan tawa.

"Nona kecil yang rakus," katanya. "Aku rasa, pangsit sayuran itu akan sedih kalau kamu tidak mau memakannya."

"S-Siapa bilang aku nggak mau makan sayuran?" Noa merona seketika, lantas mengambil satu pangsit sayuran untuk dirinya sendiri. "Dan aku nggak rakus, ya."

Lucien tersenyum, lantas mencoba pangsit sayuran. Noa menyusul dengan pangsit udang favoritnya.

"Mantap bangeeet~"

Tawa samar lolos dari bibir Lucien. Segala ekspresi spontan gadis itu tak pernah gagal menerbitkan kebahagiaan tersendiri di hatinya. Para pangsit di piring Noa pun menunaikan tugas dengan kecepatan kilat, berpindah ke dalam perut gadis itu. Ia melirik ke dalam termos. Masih tersisa setengahnya.

"Ambil saja." Ada tawa di dalam suara Lucien yang mengalun lembut. "Aku juga sudah kenyang."

Noa melirik piring Lucien sebentar. Masih ada satu pangsit daging di sana. Gadis itu lantas menggeleng.

"Nggak," ucapnya. "Ini harus dibagi rata."

Gadis itu mengulurkan sumpitnya. Namun, kemudian, terhenti sejenak.

"Lucien, favoritmu yang mana?" tanyanya tiba-tiba.

"Hm? Yang mana saja boleh." Setelah itu, Lucien terkekeh samar, lalu melanjutkan, "Tapi... karena sayuran baik untuk kesehatan, aku juga harus berbagi denganmu."

Noa terkekeh canggung. Ia lantas mengambil dua pangsit sayuran untuk dirinya, dan sisa satu lagi untuk Lucien. Masih ada tiga pangsit udang. Walau dengan berat hati, diberikannya dua untuk Lucien dan satu untuk dirinya sendiri. Sisanya masih ada empat pangsit ayam. Lebih mudah untuk membaginya sama rata.

"Aku satu saja," kata Lucien setelah Noa mengambilkan satu pangsit ayam ke piringnya. "Sisanya untukmu."

"Eh? Beneran boleh?"

"Tentu. Untukku sudah cukup."

Lucien tertawa kecil ketika melihat binar kegembiraan seperti anak kecil di mata gadis pujaan hatinya. Keduanya pun melanjutkan makan sambil bercakap-cakap. Tentang Lucien dan pekerjaannya. Tentang Noa dan teman-temannya. Tentang setahun yang telah mereka lewati bersama. Kemudian tentang apa saja yang terlintas di benak mereka.

"Omong-omong, kamu sudah tahu?" kata Lucien suatu ketika. "Tengah malam nanti ada pesta kembang api di taman kota di dekat sini."

"Oh, ya? Yang baru selesai dibangun itu?"

"Hm-mm. Arahnya tepat di depan balkon kita, lho."

"Waaah.... Benarkah? Apa bisa kelihatan dari sini?"

"Pasti kelihatan. Taman itu cukup dekat. Mau melihatnya sama-sama?"

"Mau, mau! Nanti kita foto sama-sama, ya! Latarnya kembang api. Pasti bagus bangeeet~"

"Oke."

Noa melihat jam dari ponselnya sebentar. Baru empat puluh tujuh menit beranjak dari pukul sembilan malam.

"Tapi masih lama," kata Noa. "Aku tahu! Nanti setelah makan, kita nonton film dulu sebentar. Aku habis beli blu-ray film baru. Gimana?"

"Baiklah."

 

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

 

Sepuluh menit sebelum tengah malam, Noa sudah berdiri bersama Lucien di balkon apartemen gadis itu. Ia harus mengenakan sweter lagi di atas pakaiannya yang sudah dua lapis. Udara Januari di Loveland tahun ini memang lebih dingin daripada biasanya, apalagi di waktu malam. Padahal sudah hampir akhir bulan.

"Lucien, kamu nggak apa-apa cuma pakai baju dua lapis begitu?" tanya Noa sembari memeluk lengannya sendiri.

"Sweter ini sudah cukup hangat," kata Lucien menenangkan.

Noa tersenyum tipis. Sweter rajut cokelat itu adalah pemberiannya di hari ulang tahun Lucien tahun lalu. Noa memang membuatnya agak tebal, sebab ia memberikannya di bulan November yang lebih dingin daripada sekarang.

"Tapi kalau kamu mau membuatku lebih hangat," Lucien menambahkan, "boleh, kok."

"Hah?" Noa mengerjap. "Maksudnya?"

Lucien hanya tersenyum sampai kedua matanya tertutup. Pipi Noa terlambat merona hingga dua detik kemudian.

"Aku cuma bercanda."

Kalimat Lucien yang satu itu tak pernah bisa diterima oleh Noa dengan rasa percaya. Gadis itu menyibukkan diri dengan ponselnya untuk mengalihkan perhatiannya sendiri.

"Noa," panggil Lucien kemudian. "Kurasa sebentar lagi."

Noa melirik jam digital di layar ponselnya. Tinggal 55 detik menuju pergantian tahun. Gadis itu menatap ke angkasa yang malam ini sangat cerah, nyaris tanpa awan. Sinar bintang pun temaram, dikalahkan cahaya lampu kota yang tak pernah tidur.

"Dua puluh detik lagi," Lucien kembali berkata sembari menatap Noa. "Mau hitung mundur?"

"Ayo!"

Noa kembali menatap layar ponselnya. Menunggu detik menuju angka lima puluh dengan debaran menyenangkan di dalam dadanya. Matanya kembali menatap angkasa tepat sebelum angka itu terpampang. Begitu pula Lucien, yang bersiap untuk menghitung bersama.

"Sepuluh," keduanya berkata kompak. "Sembilan. Delapan. Tujuh. Enam. Lima. Empat. Tiga. Dua. Satu!"

Tepat di akhir hitungan mereka, pesta kembang api dimulai di kejauhan. Kemeriahan warna-warni dan suara benar-benar memenuhi udara. Ekspresi kekaguman mewarnai wajah Noa yang berbinar-binar gembira. Menyaksikan festival cahaya beraneka warna membentang di atas cakrawala.

Lucien menoleh ke samping. Tersenyum lembut ia, sementara dadanya pun kini dipenuhi kehangatan. Di mata gadis penuh warna di hadapannya, ia melihat pantulan keindahan dari sang dirgantara. Lebih indah daripada yang pernah disaksikannya tanpa teman.

"Lucien!"

Pria itu sedikit terkejut ketika tiba-tiba pandangannya bersirobok dengan netra sewarna madu milik Noa yang berkilauan.

"Ayo foto bersama!"

Berikutnya, Lucien hanya menuruti arahan Noa untuk berswafoto-ria. Hanya ada mereka, dengan kembang api menjadi saksi di kejauhan. Setelah mengambil beberapa gambar, keduanya kembali menyaksikan pesta yang masih berlangsung di langit Loveland.

"Indah, ya?" kata Noa.

Lucien melirik dua detik ke samping. "Hm. Sangat indah."

"Selamat tahun baru, Lucien!"

Pria itu terpana ketika wajah tersenyum Noa mendadak beradu pandang dengannya. Ia pun tergerak untuk memberikan senyum hangat yang sama tulusnya.

"Selamat tahun baru juga untukmu, Noa."

"Oh, iya.... Lucien, apa harapanmu untuk tahun yang baru ini?"

"Hmmm.... Harapan, ya...." Lucien berpikir sejenak. "Harapanku... adalah—"

"Eh, tunggu! Mumpung kembang apinya masih ada, ucapkan harapanmu dalam hati dengan sungguh-sungguh. Pasti akan terkabul!"

"Hm?" Lucien mengangkat alis sejenak. "Apakah benar harapanku bisa terkabul?"

"Bisa, dong. Kamu nggak percaya sama aku?"

"Aku percaya."

Dengan senyum masih tak lepas dari bibirnya, Lucien kembali menatap angkasa. Kembang api terus menyala menjadi perhiasan malam. Ia pun mengucapkan satu permohonan di dalam hatinya, seiring kilasan kenangan indah dalam setahun ke belakang, yang tercipta berkat makhluk Tuhan yang bernama Noa.

Andaikan dirinya masih boleh memupuk asa, maka harapannya akan tetap sama. Seperti waktu-waktu penuh kebahagiaan yang telah diterimanya bersama dengan Noa. Untuk tahun ini, dan tahun-tahun berikutnya. Lucien hanya ingin mereka bisa terus bersama.

"Aku juga akan berdoa untukmu," suara lembut Noa membuai pendengaran Lucien. "Semoga harapanmu akan menjadi kenyataan."

Sebuah kembang api besar menyala terang, tepat di akhir kalimat Noa. Gadis itu tertawa kecil, lantas kembali menatap Lucien dengan senyuman.

"Apa kamu ada rencana setelah ini? Jangan bilang tahun baru masih mau kerja, ya."

Lucien tertawa kecil. "Harusnya aku yang bilang begitu, Nona Produser yang hebat."

"Nggak, kok." Noa ikut tertawa. "Memang, sih, acara TV tahun baru itu rating-nya tinggi. Tapi semua proses syutingnya sudah beres. Tinggal tayang aja. Jadi... katanya aku nggak perlu ada di sana. Semuanya menyuruhku libur."

"Hm.... Kamu punya rekan-rekan kerja yang baik." Lucien diam sejenak, teringat satu harinya yang tak kalah sibuk. "Aku minta maaf, sebagai konsultan utama Miracle Entertainment, hari ini aku tidak bisa hadir."

"Justru aku yang harusnya berterima kasih. Aku tahu, kok, kamu sibuk banget. Tapi kamu masih mau melayani konsultasi lewat telepon." Noa tersentak tiba-tiba. "Jangan-jangan... gara-gara itu kamu sampai harus lembur sampai malam banget?"

"Silly girl." Lucien memberikan satu senyum lembut yang menenangkan hati Noa seketika. Sementara tangannya bergerak menepuk pelan puncak kepala sang gadis. "Jangan khawatir. Yang penting, semua pekerjaanku sudah selesai. Jadi... malam ini... dan juga seharian besok, aku libur."

"Benarkah?" Noa berkata riang. "Berarti... waktumu akan jadi milikku seharian di awal tahun baru ini?"

"Tentu. Kamu ingin membawaku ke mana?"

"Hmmm.... Gimana kalau... wisata kuliner?"

"Kamu masih mau makan lagi?" Lucien tertawa kecil. "Apa perutmu masih muat?"

"Muat, dong. Lagian kan makannya masih nanti-nanti, nggak sekarang." Mata Noa berkilau oleh rasa antusias. "Kamu juga harus makan yang banyak, ya!"

"Kalau aku jadi gemuk, apa kamu masih akan menyukaiku?"

"Walaupun Lucien jadi gemuk, atau kelak sudah keriput dan beruban, bagiku dia tetap laki-laki paling tampan di seluruh dunia. Lagi pula... aku menyukaimu bukan hanya karena tubuhmu."

Lucien terdiam sedetik, lantas memeluk dirinya sendiri sambil menjauhkan tubuhnya sedikit ke belakang. Kening Noa berkerut saat melihat pria itu tiba-tiba pasang gestur seperti gadis zaman dulu yang diintip mandi di sungai.

"Noa mesum."

Kalimat singkat Lucien membuat otak Noa seolah berhenti bekerja. Apa pula ekspresi Lucien sekarang yang macam anak kucing teraniaya di dalam boks karton di pinggir jalan? Sedetik berselang, wajah Noa pun langsung merah padam.

"Bukan gituuuuu!"

Detik berikutnya, ekspresi Lucien sudah kembali normal. Tawa lepasnya pun mengisi udara, bersaing dengan suara kembang api yang masih menerangi langit malam.

"Lucien!"

Pria itu mengaduh pelan ketika Noa tiba-tiba mencubit lengannya dengan gemas. Ia tertawa lagi saat gadis itu bersungut-sungut, lantas mengarahkan tatapannya kembali menikmati pesta cahaya di atas sana.

Lucien mendekatkan dirinya kepada Noa. Tanpa sengaja, tangan mereka saling bersentuhan. Noa sedikit terkejut, tapi kemudian menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Lucien, tanpa menoleh. Lucien pun membalasnya dengan cara yang sama.

Tatapan Lucien lantas tertuju ke arah yang sama dengan Noa. Sementara, di bibir mereka, terukir senyuman yang terindah.

 

 

 

TAMAT

 

Notes:

* Author's Note *

 

Hai, haiii~! \(^o^)

Tetiba kepikiran pengin publish fic buat CNY. Dan ofc bersama suami tercinta~ 🥰💜

Oh iya, karena udah ada yang duluan bikin fic Imlek, aku ngikut aja buat tagarnya.

Happy happy lunar new year aja buat semuanya. Met Imlek yaaah .... Met makan kue keranjaaang~ Favoritku banget nih tiap Imlek, hehehe .... Oh ya, pada dapat banyak angpau, nggak? 👀✨

Semoga tahun yang baru ini akan jadi tahun yang lebih baik buat kita semua. Semoga sehat-sehat dan sukses selalu.

Dan sampai jumpa lagi di kisah-kisah selanjutnya!

Ciao~

 

Regards,
kurohimeNoir
17.02.2026