Work Text:
Bandung pagi itu sedang dingin-dinginnya, tapi Senanda sudah rapi dengan jaket motor hitamnya. Di atas motor gede kesayangannya, ia sesekali memanaskan mesin yang suaranya menderu halus di depan pagar rumah keluarga Kenara.
Tak lama, sosok yang ia tunggu muncul. Kenara keluar dengan langkah terburu-buru, mengenakan hoodie biru cerah yang membuat wajahnya terlihat sepuluh kali lebih gemas.
"Lama ya, a? tadi nyari kaos kaki sebelah lagi nggak ketemu." keluhnya sembari mengerucutkan bibirnya.
Senanda terkekeh, ia melepas helm cadangannya dan memakaikannya ke kepala Kenara. "Nggak apa-apa, dede. Lagian aa rela nunggu sampe Bandung salju juga kalau yang ditunggu itu kamu."
"Dih, gombal! ayo berangkat, keburu Mang Asep tutup!"
Kenara naik ke boncengan, tangannya otomatis melingkar di pinggang Senanda—posisi favorit yang selalu sukses membuat jantung Senanda melakukan atraksi sirkus. Motor pun melaju membelah jalanan yang masih berkabut tipis.
Tujuan mereka bukan kafe aesthetic yang kopinya seharga cicilan motor, melainkan pangkalan bubur ayam Mang Asep di pojok pertigaan.
Begitu sampai di lapak bubur Mang Asep, Senanda langsung dapet servis bintang lima.
"Mang, bubur dua. Yang satu jangan pedes, jangan pakai kacang, kerupuknya dibanyakin." ucap Senanda lancar tanpa nanya lagi ke Kenara.
Kenara yang lagi sibuk ngelepas helm cuma bisa nyengir. "Aa hafal banget."
"Hafal di luar kepala kalau soal kamu mah," sahut Senanda, tangannya narik kursi buat Kenara duduk di sebelahnya.
Pas bubur dateng, Kenara makan dengan lahap sampai ada sedikit kecap di sudut bibirnya. Dengan gerakan cepat, Senanda ngeraih tisu, lalu ngelap sudut bibir itu pelan banget.
Kenara sempat diem sebentar, matanya ketemu mata Senanda yang tadinya fokus ke bibir sekarang pindah ke matanya. Duh, dunia serasa milik berdua, Mang Asep cuma ngontrak.
Selama makan, Kenara benar-benar terlihat seperti namanya, cantik dan tenang. Tapi ketenangan itu hancur saat ia mulai berebut sate usus terakhir dengan Senanda.
"A Senan mah! itu punya kan Nara!"
"Siapa cepat dia dapat, dede sayang." goda Senanda sambil mengangkat tusuk sate itu tinggi-tinggi.
Namun, melihat mata Kenara yang mulai berkaca-kaca—akting tentu saja, Senanda langsung menyerah. Ia menyuapkan sate itu ke mulut Kenara. "Nih, makan. Biar pipinya makin gembul."
Selesai makan, sebelum balik ke motor, Kenara narik tangan Senanda. "A, foto dulu yuk! buat kenang-kenangan hari ini."
Senanda nurut aja pas ditarik ke deket motor. Mereka ambil beberapa foto. Ada yang Senanda lagi ngerangkul Kenara, ada yang Kenara lagi pose dua jari sambil nyender di bahu Senanda.
Setelah sesi foto yang penuh tawa—dan beberapa kali protes dari Kenara karena Senanda sengaja memotret saat ia belum siap berpose—keduanya pun kembali membelah jalanan Bandung.
Angin pagi yang tadinya dingin kini mulai terasa hangat, sehangat tangan Kenara yang meremas jaket Senanda tiap kali motor itu melaju sedikit lebih kencang.
Senanda sesekali melirik spion, memastikan Kenara baik-baik saja, atau sekadar ingin melihat pantulan wajah sang pujaan hati yang sedang asik melihat-lihat pedagang bunga di pinggir jalan.
Sesampainya di depan rumah Kenara, motor Senanda berhenti. Kenara turun dengan enggan. "Makasih ya, a. Kenyang banget, sate ususnya kerasa sampe sekarang."
Senanda melepas helm Kenara, mengacak sedikit rambut yang agak lepek karena keringat. Tiba-tiba, tangannya beralih menangkup kedua pipi Kenara. Jarak mereka jadi sangat dekat. Senanda menatap lekat mata Kenara, senyum tipis terukir di bibirnya.
"Dede... capek banget ya?" tanyanya lembut.
Kenara menggeleng pelan, pipinya otomatis merona saat merasakan sentuhan tangan Senanda. "Enggak kok, a. Seru hari ini."
"Bagus kalau gitu." Senanda mengusap pipi Kenara perlahan dengan ibu jarinya, lalu menunduk.
Ia mengecup kening Kenara, lama, seolah ingin menyalurkan seluruh perasaannya di sana. Aroma parfum Senanda yang maskulin langsung menyerbu indra penciuman Kenara, membuat jantungnya berdebar kencang.
Kenara seketika memejamkan mata, merasakan kehangatan bibir Senanda yang membuat dunianya serasa berhenti berputar. Belum sempat Kenara bernapas, Senanda pindah mencium pipi kanan dan pipi kirinya bergantian dengan bunyi yang terdengar jelas banget di telinga.
"Gemes banget sih hari ini," bisik Senanda tepat di depan wajah Kenara.
Pandangan Senanda turun ke bibir Kenara yang sedikit terbuka. Seolah mendapatkan lampu hijau, Senanda pelan-pelan memajukan wajahnya lagi sampai akhirnya bibir mereka bertemu.
Itu bukan sekadar kecupan singkat yang biasanya. Senanda menekankan bibirnya lebih dalam, menyesap kelembutan di sana dengan ritme yang lambat dan penuh perasaan.
Tangan Senanda yang awalnya hanya menangkup pipi, kini perlahan turun ke tengkuk Kenara, menariknya sedikit lebih dekat seolah ingin menghapus jarak yang tersisa. Kenara bisa merasakan deru napas Senanda yang hangat dan aroma mint tipis yang menenangkan.
Kecupan itu terasa begitu tulus, seakan Senanda sedang membisikkan janji tanpa suara bahwa ia tidak akan pernah membiarkan sang pujaan hati sendirian.
Kenara yang awalnya kaget, perlahan ikut terhanyut. Tangannya yang mungil meremas ujung jaket kulit Senanda, mencari tumpuan karena dunianya benar-benar terasa berputar sekarang.
Ciuman itu tidak terburu-buru, justru terasa sangat mendebarkan, membuat Kenara sadar sepenuhnya bahwa laki-laki di depannya ini benar-benar tergila-gila padanya.
Beberapa detik berlalu, Senanda melepaskan tautannya, lantas mengusap bibir Kenara menggunakan jempolnya sambil senyum miring—senyum "Aa Kasep" yang paling Kenara benci sekaligus cinta.
"Sana masuk, istirahat. Nanti kalau nggak masuk-masuk, aa bawa pulang lagi nih kamunya," goda Senanda, nyentil hidung Kenara pelan.
Kenara tidak mampu berkata-kata hanya bisa mengangguk cepat. Sebelum itu, ia menarik wajah Senanda mendekat untuk di berikannya kecupan singkat di pipinya. Setelahnya ia berlari masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang lagi karena malu setengah mati.
Di teras, ia bisa mendengar suara tawa Senanda yang puas, sedikit kaget juga dengan perlakuan tiba-tiba itu sebelum suara motornya menjauh.
