Actions

Work Header

does he love me that much or does he love me TOO much (there's no in between)

Summary:

Aduh.

Boleh, tidak?

"Keonho."

Dijawab gumaman.

"Sayang."

"Iyaaaaa, oyoooooon." Lebar sekali jawabannya macam bebek. Seonghyeon sekali lagi terkikik. Dicuil Seonghyeon hidung bangir Keonho. Gemas.

Disuguhi tawa oleh sang empunya. Malah sekarang, malah sekarang Keonho kaitkan lengannya di leher Seonghyeon sambil senyam-senyum?!

Aduh.

Boleh, tidak, ini?

Notes:

hyeonkeonhyeon nyimut di sekolahan nih :3 enjoy masakanku!

Work Text:

"Kesinian dikit."

"Gini?"

"Agak tengah lagi. Liat tanganku."

Mendengar arahan lanjutan itu, Keonho menggeser kakinya sedikit untuk mengubah posisi awal dari tempatnya berdiri –persis ikuti posisi tangan Seonghyeon. Membetulkan mic di tangan dan kemudian langsung tersenyum lebar, senyuman yang sampai ke mata dan menyakiti rahang. Karena kalau tidak, pasti suara kakak Jurnalistiknya langsung menyerbu kepalanya: Di depan kamera harus selalu keliatan on point terus seger, ya, adek-adek! Jangan tunjukin, lho, betenya, oke? Kalau keliatan bete gausah turlap aja mending!

Syukurlah, akhir-akhir ini nggak ada suara itu karena Keonho sudah cukup terampil dalam mimik wajah dan body language. Kasih paham, bos.

Cekrek!

Tapi di sini masalahnya. Di sini, di sini.

Keonho reflek menutup matanya kesal dan mengulum bibirnya frustasi. Deru napasnya memburu. Ketika dia buka mata sudah terdengar cekikikan menyebalkan yang datang dari Seonghyeon di seberang. 

"Fokus, lah, Yon! Capek, cok!" Kan. Galak. 

Mendengar itu Seonghyeon langsung berhenti dan mati kutu. Reflek buat gerakan kunci mulut lalu buang kunci. Akal-akalan Seonghyeon.

Padahal yang berisik daritadi juga bukan mulutnya.

Tangannya membentuk oke sembari gelagapan membetulkan kamera dan menyetel ulang tripod. "Oke, oke. Sori."

Memperhatikan gelagat Seonghyeon, Keonho cuma bisa menghela napas. Sudah terlampau lelah omeli kameramen pengganti yang buat dia harus retake puluhan kali karena Seonghyeon yang terus-terusan memotret Keonho. Masalahnya, lagi-lagi masalahnya, Keonho sedang babak belur karena proker ekskul ini. Ada beberapa hal yang membuat konten kali ini wajib dilaksanakan dengan cepat, 1; narasumber terbatas, kalau sudah pulang semua, kelar, 2; kamera jurnalistik cuma bawa satu dan karena hari sial nggak ada di kalender, charger pun ketinggalan, 3; jurnalistik sedang kekurangan editor, (jadi dapat disimpulkan tetap Keonho yang ambil alih, job desc dia atau tidak urusan kesekian), 4; kejar tayang. Tenggatnya minggu ini. Kalau kata admin Instagram akun ekstrakurikuler mereka, kalau lewat dari deadline aku males upload. Disaranin sama anak-anak untuk kasih kompensasi dibalas lagi: Kalian aja yang megang kalo gitu. Aku pc satu-satu nanti kasih passwordnya, mau? Lah. 

Belum lagi diperparah dengan tugas sekolah Keonho sebagai siswa kelas 11 yang makin dikerjain makin tidak selesai. Burn out deh Keonho, nih. 

Tapi, lagi-lagi Keonho di sini. Merapikan baju turlap–kemeja biru navy dengan logo MC di sebelah kiri dada dipasangkan dengan celana warna beige–tiap-tiap anggota ekstrakurikuler mempunyai baju ini dan tidak boleh ada yang tidak punya karena hukumnya wajib fardhu 'ain kapital besar! Baju khusus turun lapangan atau kerap disebut turlap ini biasanya dibeli saat pelantikan anggota baru. Alasannya tentu supaya lebih mudah dikenali warga sekolah bahwasanya sekelompok biru-biru yang mondar-mandir ribut bawa kamera di tangan dan tripod disampir ke bahu ketika event sekolah itu adalah anggota Media Creative. 

Ready? Action! diucapkan Seonghyeon dan tidak perlu banyak waktu bagi Keonho untuk fokus dan memasang ekspresi terbaiknya.

Karena di sinilah bagian dia mencintai ekstrakurikuler ini. Karena di sinilah bagian dari dirinya. Ambisinya terhadap media dan seluk beluknya. Di sinilah memang seharusnya dia berada.

 


 

Singkatnya take selesai, tapi ternyata Keonho belum selesai. 

Belum selesai marah sama Seonghyeon maksudnya.

Pas mereka berdua lagi monitoring hasil wawancara tadi, Seonghyeon curi kesempatan untuk bisik-bisik ke Keonho yang mukanya sama-sama merah kayak dia, kepanasan. "Maafin yang tadi," katanya. 

Keonho cuma lirik lewat ekor mata lalu lanjut monitoring sambil otak-atik sedikit. 

Nggak nyerah sampai situ, disenggol-senggol sama Seonghyeon lengan Keonho. "Harus gimana dong biar dimaafin?"

Karena posisi Seonghyeon tepat di depan tripod, Keonho menggeser tubuhnya hingga menubruk dada Seonghyeon dan dengan satu gerakan cepat mematikan kamera yang sedang dimonitori. "Geser, mau beresin alat," celetuknya datar. 

Mata Seonghyeon membola panik dan mencegat lengan Keonho yang sudah ancang-ancang mengambil kamera dari tripod. "Aku aja, aku aja! Duduk manis aja, please? Ya, ya, ya?" 

Satu dua siswa yang masih berlalu lalang di sekolah kayaknya dengar suara Seonghyeon yang memelas itu, terbukti mereka nengok. Rada berisik memang frekuensi suara Seonghyeon ini.

Keonho yang malas debat cuma balas, "yaudah aku pulang kalo gitu. Nanti filenya suruh aja anak lain pake OTG Card Reader baru dikirim ke aku. Makasih udah dikamerain."

Keonho sudah nenteng tas ranselnya dan mau cabut tapi permintaan maaf Seonghyeon masih digantung di udara. Seonghyeon coba bersuara lagi, dia pikir bisa rangkai kalimat apapun asalkan korenhen dan bikin Keonho mau bicara dengan dia tapi lagi-lagi yang keluar, "maafin dulu..."

Ya, apalagi yang didapatkan Seonghyeon selain diam yang mencekik dan punggung yang perlahan menghilang dari pandangan?

 


Rapat kali ini diadakan hari rabu. Empat hari setelah event expo sekolah. Evaluasi biasa setiap selesai event. Membahas kinerja tiap-tiap divisi hingga menguliti masing-masing anggota Media Creative. Hanya rutinitas biasa setelah kegiatan besar. Namun, yang tidak biasa adalah rapat kali terasa lebih panjang dan tidak diisi oleh candaan dan celotehan ringan ataupun anggota yang habis beli jajan.

Mungkin karena atmosfer di ruangan saat ini cukup mencekik dan nggak ada siapapun yang berani mencairkan.

"Lu aja ngirim ke admin sosmed, tuh, lewat deadline satu hari, lho?"

Mungkin karena yang berdiri itu Keonho dan yang sedang marah itu pimpinan. Semuanya sadar, ketua divisi Jurnalistik sedang dipojoki habis-habisan oleh pimpinan. 

"Sebelumnya gue udah kabarin ke admin, mungkin buat konten wawancara agak munduran dikit uploadnya. Karena yang handle juga cuma gue sendiri. Gue agak ribet ngaturnya." Keonho jawab itu hampir dalam satu tarikan napas. Dia seperti sudah menduga akan ditodong pertanyaan sejenis ini di evaluasi kali ini.

Seonghyeon yang duduk nggak jauh dari Keonho cuma bisa menatap gelisah ke arahnya. Mereka masih belum berbaikan, omong-omong. Keonho masih betah mendiaminya.

Pimpinan yang diberi jawaban begitu langsung mengernyit dahi, "anggota lu ke mana, emang, Keon?"

Balik Keonho yang bingung, "gini aja bang, menurut lu siapa selain gue yang masih aktif di jurnalistik? Bang Juhoon? Kasian dia bang. Dia udah kelas 12. Bentar lagi pasif. Anggota gue yang kelas 10 juga belum bisa gue kasih turun lapangan."

"Lah, bisa. Mereka udah dikasih pelatihan setiap divisi, Keon. Even dokumentasi." Pimpinan melirik setiap anggota Jurnalistik. Anggota kelas 10 yang dilirik intens begitu hanya bisa menundukkan kepala dan tak berani menatap atau membantah. 

Lalu hening. Hening total.

Tidak ada yang menyela. Pun Keonho tidak bergeming. Keonho hanya menatap lurus ke arah depan. Dia tidak punya pegangan argumen apa-apa lagi untuk membalas. 

"Bilang aja lu mau ngambil jatah adek-adek biar lu dianggap perfect terus dapat pujian atas nama lu kan, Keon?" 

Pimpinan menjatuhkan bomnya. Ruangan makin senyap. Bahkan ketukan sepatu tiba-tiba terasa sangat memekakkan telinga.

Rahang Seonghyeon mengeras. Belum lagi pemandangan setelahnya menghancurkan hatinya, tangan Keonho bergetar dan terkepal menjadi tinju di samping tubuhnya. Mukanya memerah. Keonho sedang menahan emosi.

Juhoon yang duduk berada di samping Keonho, sedikit banyaknya merasa bersalah karena dia juga turut andil menyebabkan Keonho harus menanggung kemarahan pimpinan, tapi membantu pun Juhoon tidak bisa. Memang aturan Media Creative lah yang menyebutkan untuk tidak mengikutcampurkan anggota kelas akhir di kegiatan manapun.

"Keon... nggak usah didengerin, lah. Emosi doang itu." Juhoon berkata sambil menarik-menarik lengan Keonho, upaya membujuknya untuk segera duduk. 

Keonho tidak bergeming, tapi kemudian dia melirik Seonghyeon. Bibirnya bergetar. Entah mengapa, di dalam kepalanya saat ini terlintas untuk melihat Seonghyeon. Entah mengapa, seperti ada sesuatu yang cuma Seonghyeon-lah peredanya. Penyelamatnya. Seperti Seonghyeon-lah... satu-satunya yang bisa mengeluarkan dirinya dari lubang ini. 

Seonghyeon ternyata sudah menatapnya. Dengan mata yang sama merahnya dan berkaca-kaca. Memangnya Seonghyeon ini kenapa? Dia kan divisi dokumentasi? Apa dia merasa ikut dimarahi atau apa atau bagaimana, Keonho tidak dapat merangkainya menjadi susunan kata yang korenhen karena selanjutnya ruangan itu diisi dengan suara Seonghyeon yang mantap.

"Bang... yang harus apa-apa perfect kan lu sama pengurus inti lu itu. Kadiv Jurnalistik cuma jalanin sesuai prosedur aja, kan? Nanti kalau nggak sesuai sama mau lu yang kena juga Keonhonya, kan, bang? Iya, pasti...

...lagian ini ekskul sampah semua isinya. Lu tau nggak bang, konten kemaren yang ngereport Keonho, yang ngedit juga Keonho. Terus lu bilang apa? Karena serakah? Ngambil jatah adek-adek? Tanya anak Jurnal lain mau gerak nggak? Apa udah disuruh gerak tapi alesan nggak bisa? Nggak paham? Ini-itu? 

Bahkan kemaren pas mau take konten Jurnal, Keonho nggak ada kameramen, bang. Gue yang take over. GUE yang dari divisi lain. Gue gak maksud berlagak apa tapi lu bayangin ajalah masa mau take report sendirian? Nggak ada yang bisa begitu, bangsat! Gue out dari sini. Lu semua aneh."

Lalu Seonghyeon berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan suara bantingan pintu yang keras.

 


 

eyon: sayang, aku tau km masih marah

eyon: tapi dengerin aku ya?

eyon: out aja ya sayang? 

eyon: sayang

eyon: keon

 

keonho: seonghyeon

keoho: seonghyeon dmn

 keonho: udah yon 

keonho: aku udah out

keonho: yon udah

keonho: seonghyeon maukekamu

keonho: dmn

keonho: yon please

 keonho: seonghyeon aku gamarah

 


 

Kamar mandi. 

Keonho menemukan Seonghyeon di kamar mandi. Setengah duduk di pinggiran westafel. Merokok. 

"Yon..."

Langkah Keonho pelan ke arah Seonghyeon. Memastikan bahwa memang sebenarnya di sinilah tempat dia berada. Bersama Seonghyeon. Tapi kenapa dia masih ragu dengan jalan yang dia pilih? Kenapa semuanya terasa begitu berat ketika Keonho meninggalkan apa yang dia cintai sejak dulu di belakang? 

Ketika sudah tepat Keonho berada di hadapan Seonghyeon, Seonghyeon mematikan rokok dan tersenyum lembut kepada Keonho. Sialnya, mereka tahu. Mereka tahu konsekuensi semuanya.

They do it anyway. They should, no? 

"Sayang, mau pulang aja, nggak?" Seonghyeon mengusap-usap pipi Keonho. Pipinya tidak basah. Anak ini tidak menangis, kah? Mengapa?

Keonho menggelengkan kepalanya ribut. Menatap Seonghyeon lama sekali dengan bibir bawah ditekuk. Sesekali bersandar pada usapan lembut Seonghyeon di pipinya. 

Tangan Seonghyeon sekarang bebas dari pipi Keonho. Lalu Seonghyeon kecup pipi Keonho sekali. "Jadi?" Diusap-usap Seonghyeon kedua tangan Keonho yang bertengger di pahanya. Kuku Keonho panjang sekali, kapan terakhir kali anak ini potong kuku, ya? Sudah begitu lama kah mereka sibuk dengan urusan masing-masing sampai perubahan perawakan satu sama lain tidak disadari? Seonghyeon memikirkannya saja sudah mau nangis.

Keonho tiba-tiba gantian mengusap-usap pipi Seonghyeon, tapi dengan kedua tangannya. Mereka kini saling memberikan usap-usapan kecil dan hangat. Mungkin. Mungkin memang di sinilah seharusnya mereka berada. Memberi kehangatan satu sama lain. Menyalurkan energi. Saling sayang. Saling kasih. Mungkin memang Seonghyeon-lah yang Keonho cari. Mungkin di hadapan Seonghyeon-lah Keonho harusnya menangis.

Simpul yang begitu erat di hatinya sudah dilepaskan oleh Seonghyeon, tapi mengapa hal pertama yang dia berikan bukan ucapan terima kasih melainkan tangisan? 

Di hadapan Seonghyeon, Keonho mulai terisak. Awal-awal hanya lirihan yang tidak sengaja keluar dari tenggorokan, lama-lama beban yang menyesakkan dada yang harus dikeluarkan. Seperti ditoksi racun. Keonho berpikir dadanya akan sakit sekali jika dia tidak menangis sekarang.  

Bulir air mata itu berjatuhan ke celana seragam Seonghyeon. Badannya sudah bergetar hebat sekarang. "Maafin.. aku..."

Seonghyeon pun pecah juga. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia reflek mendongakkan kepalanya sambil mengerjapkan air mata, tidak ada alasan yang khusus. Keonho menangis, dia menangis. Jadi, siapa yang akan menenangkan? 

"Nggak apa-apa... kalau..mau nangis..." Itu suara Keonho. "Kamu... keluar ekskul demi aku." Itu juga suara Keonho. "Kemaren.. aku marah-marah gak jelas juga.." Masih terisak. Masih berantakan. Omongannya juga tidak jelas karena hidungnya mampet. 

Seonghyeon terdiam mendengarnya lalu betulan menangis. Kali ini dibawanya tubuh Keonho ke pelukan. Mereka sama-sama masih naif.

Satu yang jelas Seonghyeon ketahui, besar dedikasinya terhadap lensa dan kamera, Keonho pun juga sama. 

"Udah, belom, sayang..." 

Setelah lama menangis, dengan kurun waktu kurang lebih sepuluh menit, dari Keonho yang batuk tersedak ludah, sampai Seonghyeon yang sesenggukan berakhir suaranya sudah separau ini.

Keonho di pelukan Seonghyeon sudah mulai melemas. Isakan sudah hilang. Tinggal deru napas yang seperti cicit burung itu yang terdengar. "Mataku berat banget."

Seonghyeon yang sibuk membersihkan sisa air mata di pipinya terkekeh, "coba aku liat."

Menurut, Keonho mendongak menatap Seonghyeon. Tidak ada yang mengejutkan, hanya sepasang mata yang sayu dan merah, lalu bengkak, bulu mata lentik yang kuyup, pipi yang meninggalkan jejak tangis, hidung memerah rekah, alis tebal Keonho yang masih berkerut, dan bibir. Bibirnya. Bibir Keonho. Bibir pacarnya. 

Seonghyeon jadi melongo sendiri dibuatnya. Niat hati mau mengejek wajah sembab Keonho habis menangis malah dibuat terperangah. Ternyata lebih paripurna. 

Apalagi bibirnya.

Aduh.

Boleh, tidak?

"Keonho."

Dijawab gumaman.

"Sayang."

"Iyaaaaa, oyoooooon." Lebar sekali jawabannya macam bebek. Seonghyeon sekali lagi terkikik. Dicuil Seonghyeon hidung bangir Keonho. Gemas.

Disuguhi tawa oleh sang empunya. Malah sekarang, malah sekarang Keonho kaitkan lengannya di leher Seonghyeon sambil senyam-senyum?!

Aduh.

Boleh, tidak, ini?

"Keonho."

"Apa, loh."

"Pernah dicium di bibir nggak?" 

Keonho menaikkan satu alisnya. Main-main. 

"Pernah, sama mantan cewekk–" Keonho dibungkam dalam ciuman Seonghyeon. Seonghyeon menciumnya dengan kecup-kecup, lalu lumat-lumat, lalu Keonho merasakan dunia di sekitarnya buram. 

Perut Keonho digelitik. Dari dekat, Keonho bisa dengar juga detak jantung Seonghyeon yang memburu. Tangan Keonho jadinya sekarang di belakang rambut Seonghyeon –tengkuk– sementara Seonghyeon sendiri gelagapan mau naruh tangannya di mana. Kadang di pinggang Keonho. Kadang di perut Keonho. Dipuk-puk kali ya. 

Tapi rasanya enak banget.

Jago, ih, Seonghyeon. 

Enak.

Baru kepikiran kayak gitu udah dilepas ciumannya sama Seonghyeonnya. 

Belum sempat Keonho buka mata, dia dengar suara keran air diputar lalu air mengalir lalu keciplak keciplak. Pas Keonho buka mata, ternyata Seonghyeon basahin mukanya –agresif– yang sudah semerah tomat di westafel. 

Keonho cekikikan nggak berhenti dan ngeledekin Seonghyeon sepanjang perjalanan pulang.