Actions

Work Header

Gravitasi Tanpa Izin

Summary:

Hyeonkeon/Keonhyeon as Divisi Perlengkapan dan Keamanan AU

Dua minggu menjadi panitia lomba teater di kampus membuat Seonghyeon mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tak pernah ia hitung. Ruang serbaguna kampus itu dipenuhi suara, tuntutan, dan orang-orang yang belajar terlihat kuat agar semuanya tetap berjalan.

Ia termasuk yang pandai menyembunyikan sesuatu di balik kata “wajar”. Ia menyebutnya empati. Tanggung jawab. Sekadar rasa kasihan pada seseorang yang jarang mendapatkan istirahat.

Semua terasa biasa saja. Sampai kebetulan-kebetulan kecil mulai tampak terlalu sengaja.
Sampai jarak yang ia jaga terasa lebih melelahkan daripada mendekat.

Di antara riuh dan sisa-sisa malam yang belum selesai, ada sesuatu yang tumbuh pelan, tanpa nama.
Dan semakin lama ia menyangkalnya, semakin sulit rasanya untuk diabaikan.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Keadaan backstage di ruang serbaguna kampus sedang kacau.

Naik-turun tirai tidak sinkron, properti tersusun berantakan di salah satu sudut, dan para peserta lomba mondar-mandir sambil membawa kostum yang setengah dikenakan. Dari kejauhan, suara instruksi operator bercampur dengan suara sutradara peserta lomba yang perlahan tersulut emosi.

Seonghyeon berdiri di dekat rak properti. Tangannya menggenggam sebuah tongkat dengan batu kristal merah di ujungnya, tanpa tahu harus dibawa kemana. Di sebelahnya, dua temannya saling melempar pandang, seolah kehabisan kalimat yang pantas diucapkan di tengah huru-hara seperti ini.

“Kasian banget ya anak-anak operator,” ujar salah satu, suaranya setipis rasa iba yang sebentar lalu hilang. “Dari tadi disuruh ulang-ulang mulu. Lighting ulang, sound ulang.”

Yang lain menyahut pelan, seperti menghibur diri sendiri, “Ya … semangat, deh, operator.”

Seonghyeon tidak ikut melibatkan diri. Namun, setiap kata itu masuk ke indra pendengarnya, menetap sebentar di benaknya sebelum jatuh perlahan ke dalam dada. Entah sejak kapan, kata operator membuat dadanya terasa agak sesak. Entah sejak kapan pula, ia menjadi peduli terhadap apa yang terjadi di ruang atas itu.

Bukan peduli.
Hanya merasa kasihan.
Ya, hanya kasihan.

Para operator memang sering menjadi sasaran evaluasi. Lelah, dimarahi, diminta mengulang hal yang sama. Siapa pun tentu akan iba melihat hal seperti itu. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang perlu dipersoalkan.

Bukan karena Keonho.
Tidak.
Tidak ada hubungannya dengan Keonho.

Seonghyeon menegaskan hal itu di dalam kepalanya, mengulanginya seperti mantra yang dipaksa bekerja. Seolah-olah dengan menyebutnya cukup sering, perasaannya akan menurut, lalu kembali patuh pada jarak yang selama ini ia jaga.

Jam istirahat telah dimulai sejak dua puluh menit yang lalu.

Hanya saja, tim backstage masih berkutat dengan sisa pekerjaan. Properti milik Teater Pendar dibereskan tanpa banyak pertimbangan. Kostum dilipat seadanya, properti diseret ke sudut ruangan, satu-dua barang hampir terjatuh sebelum cepat-cepat ditahan. Semuanya kemudian diikat dan ditandai agar tidak tercampur dengan properti milik teater lain.

Gerak mereka tampak tergesa, seperti ingin segera selesai, seperti ingin segera sampai pada sesuatu yang disebut istirahat, meski raga mereka sendiri belum benar-benar diberi waktu untuk berhenti.

Beberapa anak Teater Pendar mengucapkan terima kasih, lalu berpamitan melalui pintu belakang. Punggung-punggung itu menghilang satu per satu, meninggalkan ruangan yang masih dipenuhi sisa hiruk kesibukan.

Seonghyeon merasakan sebuah tepukan mendarat di bahunya dari samping. “Ayo makan ke green room,” ucap temannya.

Cowok itu mengangguk. Kacamata yang bertengger di atas dahinya ikut bergeser sedikit, membuat helaian rambut di pelipisnya nyaris jatuh kembali ke mata. Ia mengangkat ponselnya, berniat menaikan posisi kacamata sekaligus memastikan rambutnya kembali rapi lewat refleksi layar.

Layar ponsel itu menyala sebelum sempat ia gunakan sebagai cermin. Sebuah notifikasi masuk muncul di layar. Di sebuah grup chat bernamakan Perkapman Meledak, salah satu rekan divisinya yang berjaga di meja registrasi mengirimkan foto sebuah kantong plastik besar berisi nasi bungkus. Pada bagian luarnya tertulis PERLENGKAPAN & KEAMANAN. “Merapat guys,” tulisnya singkat.

Lelaki itu menurunkan ponselnya. Jemarinya menekan layar sebentar, sekadar memberikan reaksi jempol pada percakapan di grup. Ia lalu melangkah mengikuti teman-temannya menuju green room.

Di green room, mereka duduk melingkar di lantai yang masih terasa dingin oleh sisa AC. Kantong plastik besar itu dibuka, aroma nasi hangat menyebar di ruangan. Tangan-tangan yang lelah itu meraih bungkus masing-masing. Ada yang berseru karena salah satu di antara mereka mengambil dua, ada pula yang hanya diam, terlalu letih untuk bereaksi.

Seonghyeon memandang teman-teman sedivisinya. Ada sesuatu yang terasa hilang dari pemandangan itu.

“Anak-anak operator mana?” tanyanya dengan nada datar, nyaris terdengar seperti gumaman. Tangannya menyendok nasi dan ayam suwir, lalu menyuapkan ke mulut tanpa banyak ekspresi.

Kawan di sampingnya yang hampir menyuapkan sendok ke mulut berhenti sejenak. “Masih di ruang operator. Biasa, anak Teater Bayang minta ngulang terus.”

Beberapa anggota divisi langsung menanggapi. Salah satunya menirukan gaya bicara sutradara Teater Bayang yang dikenal perfeksionis. Meninggikan nada, memerintah, seolah kesalahan sekecil apa pun tak bisa ditoleransi. Ia menirukan dengan berlebihan, membuat dua-tiga orang di sekitarnya tertawa.

Seonghyeon tidak menanggapi. Ia hanya mengangguk tipis, seakan jawaban itu memang sudah ia duga sejak awal. Rasa nasi di lidahnya mendadak kehilangan makna, tetap hangat, tetap mengenyangkan, tetapi entah kenapa terasa kosong.

Sementara itu, di ruang atas, panitia yang bertugas sebagai operator masih mengatur lighting dan sound. Sutradara dari Teater Bayang meminta satu adegan diulang. Lalu diulang kembali. Dan diulang lagi. Keonho dan beberapa temannya menghela nafas beberapa kali, mengutak-atik mixer dan dimmer. Di belakang mereka, si Koordinator Perlengkapan dan Keamanan ikut mengawasi, diam, namun penuh perhatian.

Ruang serbaguna kampus berubah menjadi medan tempur. Siang hari digunakan untuk gladi, malam hari untuk evaluasi. Pagi datang dengan mata sembab, pulang membawa pundak yang pegal. Anak-anak divisi perlengkapan dan keamanan hampir selalu menjadi yang terakhir meninggalkan ruangan, merapikan sisa kabel, mencari properti yang entah bagaimana bisa berpindah tangan, membereskan kunci, serta memeriksa barang pinjaman dari rektorat yang telah dicek berkali-kali.

Seonghyeon hafal bau debu tirai panggung. Hafal nama-nama tim teater yang mengikuti lomba di kampusnya. Hafal bunyi langkah orang-orang yang mondar-mandir di backstage. Setiap hari posisinya berpindah, kadang menjaga tirai, kadang mengurus dan mengangkat properti. Tangannya penuh bekas gesekan kayu dan cat yang belum sepenuhnya kering. Tubuhnya penat, tetapi kepalanya jauh lebih penat.

Evaluasi selalu menjadi ruang paling kejam.
Di sana, suara-suara meninggi tanpa ragu.
Dan divisi mereka hampir selalu dapat semprotan.

“Operatornya yang fokus dong!”
“Backstage, properti punya Teater Pusara bisa ilang itu gimana ceritanya?”
“Runner, bisa lebih cepet ga ngasih micnya?”
“Yang jaga di regis jangan kecolongan lagi. Tadi ada dua anak SMA yang lolos bawa vape ke dalem!”
“Kalian kerja apa enggak sih?”

Seonghyeon duduk bersila dengan bahu yang menegang, tatapannya kosong. Ia tahu mereka bukan malas. Mereka kurang tidur. Kurang makan. Waktu istirahat hanya satu jam, dan sering kali tetap tersita oleh gladi ulang tim teater yang meminta mengatur ulang lighting, sound, juga blocking.

Keonho berada di sisi seberang Seonghyeon. Sorot matanya tampak tenggelam. Terkadang Seonghyeon melihat pemuda itu menunduk, berpura-pura mengatur kabel, padahal napasnya bergetar. Pernah pada suatu malam, Keonho menangis diam-diam di balik tangga spiral ruang operator, tubuhnya terjongkok dengan jaket yang dibenamkan ke wajah. Seonghyeon melihat itu dari jauh. Dadanya terasa nyeri, seperti ditarik oleh sesuatu yang tidak ia pahami sebelumnya. Namun, kakinya memilih diam.

Ia peduli.
Namun, ia tidak mau memperlihatkan kepedulian itu.

Ada sesuatu di dalam dirinya yang menahan untuk tidak terlalu dekat.
Ada sesuatu di dalam dirinya yang selalu takut disalahpahami.

“Kalo dari perlengkapan dan keamanan, ada yang mau disampein?” suara Iroha, sang Koordinator Acara menyadarkan lamunan Seonghyeon.
Martin menoleh ke deretan anggotanya, mengangkat mikrofon dalam genggamannya. “Ayo, dari kalian dulu.”

Seonghyeon mengangkat tangan, ragu sesaat sebelum akhirnya benar-benar mengacungkannya lebih tinggi. Koordinator Perlengkapan dan Keamanan itu menoleh, lalu mengulurkan mikrofon ke arahnya.

“Halo,” suaranya terdengar sedikit serak ketika bunyi pengeras suara memantul ke dinding ruangan.”Kenalin, aku Seonghyeon dari perkapman. Sebelumnya … sorry kalau divisi kami masih banyak miss.”

Tangannya gemetar saat menggenggam mikrofon. Ujung bibirnya berdenyut halus, menahan gugup yang tiba-tiba menyerbu. Ada jeda kecil sebelum ia melanjutkan. “Cuma mau bilang … jam istirahat kita kurang.”

Ia menarik napas lebih dalam, membiarkan paru-parunya terisi penuh, lalu menghembuskannya perlahan, seperti sedang menetralkan detak jantungnya sendiri.

“Bahkan waktu jam istirahat pun operator masih disuruh kerja. Ada juga yang belum makan.” Pandangannya singgah sejenak ke arah Keonho. “Kalau dipaksa terus, yang ada makin banyak salah.”

Ruangan seketika sunyi.
Beberapa detik terasa lebih panjang daripada yang seharusnya, seolah semua orang menunggu siapa yang akan bicara lebih dulu.

Martin mengangguk pelan, ekspresinya mengeras sebentar sebelum melunak, seperti seseorang yang baru menyadari ada sesuatu yang luput dari perhatiannya.

Iroha menatap Seonghyeon cukup lama. Tatapannya tidak tajam, lebih seperti sedang menimbang-nimbang, antara aturan yang sudah terlanjur berjalan dan kondisi orang-orang di dalamnya.

“Oke,” finalnya.
Nada suaranya tenang, tapi cukup tegas untuk memutus keraguan di ruangan itu.
“Jam istirahat kita tambah satu jam. Habis ini, nggak ada yang kerja dulu.”

Keputusan itu terdengar sederhana. Namun cukup untuk memberi ruang bernapas bagi mereka yang sejak tadi menahan lelah.

Keonho menatap Seonghyeon dari seberang. Melalui sorot matanya, ia ingin bilang terima kasih. Tetapi cowok itu sudah lebih dulu menunduk, berpura-pura memainkan handy talky di tangannya, seolah tidak ingin tatapan itu bertemu.

Ia tidak ingin terlihat peduli.
Seolah apa yang barusan ia lakukan hanyalah bagian dari tugas.
Seolah tidak ada apa-apa yang terselip di balik keberanian yang tiba-tiba muncul itu.

Sejak momen itu, Seonghyeon lebih sering mendengar suara Keonho melalui handy talky. Nadanya datar, cepat, efisien. Kadang pecah oleh lelah. Kadang tenggelam oleh derau. Ia menangkap suara itu bukan sebagai instruksi, melainkan sebagai tanda bahwa si Februari itu masih bertahan.

Ia bersumpah pada dirinya sendiri. Ini hanya empati. Ini hanya rasa kasihan.
Namun, setiap evaluasi, napasnya tertahan lebih lama.
Setiap jam istirahat hampir terserobot kembali, pandangannya refleks menyasar ke arah tangga spiral milik ruang operator.

Larut malam itu, gladi kotor belum juga usai. Ruang serbaguna terasa lengang. Deretan kursi penonton menghitam dalam gelap, hanya tersisa lampu panggung yang menyala setengah, membuat bayangan properti memanjang di lantai.

Seonghyeon sedang membereskan tali tirai yang kusut. Keonho berlari dari ruang operator menuju backstage untuk mengambil baterai mikrofon. Runner yang seharusnya bertugas belum juga kembali. Langkah lelaki itu terasa berat, bahunya sedikit merosot, seperti telah kehabisan tenaga, tetapi tetap memaksakan diri.

Seonghyeon melirik sekilas. Hanya sekejap, cukup untuk menangkap garis lelah di bawah mata Keonho dan keringat yang mengicir di pelipisnya.
Tangannya bergerak lebih dulu sebelum pikirannya sempat melarang. Ia mengambil sebungkus roti isi dari meja kecil di dekatnya, lalu mendorongnya pelan ke arah Keonho tanpa benar-benar menatap wajahnya.
“Ambil aja,” katanya datar.
“Tembus murah di Alfamart. Gue gak suka rotinya.”

Suaranya rata, seperti sedang memberi instruksi teknis. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi.

Keonho terdiam sesaat. “Oh … makasih.”

Lelaki yang menawarkan roti kepadanya tadi kembali merapikan tali tirai, seolah urusan sudah selesai. Ia tidak menunggu respons, tidak pula mencari ekspresi di Wajah Keonho.

“Jangan lupa makan,” tambahnya, lebih mirip dengan perintah.
Sesudah itu, ia berpura-pura sibuk mengencangkan simpul yang sebenarnya sudah cukup erat. Jemarinya menarik tali itu sekali lagi, memastikan dirinya punya alasan untuk tidak menoleh.

Keonho masih di tempat itu, merasa ganjil. Bukan karena rotinya, melainkan karena cara tawarannya. Kaku, dingin, namun terlalu tepat untuk disebut kebetulan.

“Iya,” jawabnya pelan, meski atensi Seonghyeon tak lagi tertambat padanya.

Keonho kembali menembus gelap menuju ruang operator sambil menggenggam roti itu. Seonghyeon menunggu hingga bunyi langkahnya lenyap, barulah napasnya keluar perlahan.

Di dalam benaknya, sebuah bisikan mengendap dan membuat dadanya terasa tidak nyaman, ‘kalau lo terus pura-pura cuek, lo bakal capek sendiri.’

Ia memilih mengabaikannya.
Tali tirai ditarik lebih kencang, sampai nyeri muncul di telapak tangannya.

Lampu koridor ruang serbaguna menyala setengah, memantulkan cahaya pucat di lantai yang mulai kusam oleh jejak langkah. Suara musik dari dalam ruangan terdengar jauh, terendam dinding dan pintu yang tertutup, seperti datang dari dunia lain yang masih berisik oleh sorak-sorai dan latihan yang tak kunjung selesai.

Seonghyeon berdiri di depan vending machine yang berdengung pelan. Suara mesinnya konstan, seperti napas yang dipaksakan tetap stabil di tengah kelelahan malam. Layar kecil di bagian depan berkedip, menampilkan deretan minuman dengan harga yang terasa lebih mahal ketika dilihat dalam keadaan perut kosong.

Ia mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu rupiah dari dompetnya.
Tangannya hampir menekan tombol minuman yang biasa ia beli, gerakan yang sudah begitu hafal hingga tak lagi perlu dipikirkan.

Beberapa langkah di belakangnya, suara yang terlalu familiar menyusup ke dalam keheningan koridor.

“Anjir, duit gue kurang seribu,” suara Keonho terdengar, setengah ketawa, setengah pasrah
“Dapet apaan ya di vending machine?”
Temannya menimpali dengan santai, ”Liat aja dulu. Siapa tau ada yang cukup.”

Seonghyeon menahan jarinya di udara.
Gerakan yang tadinya hampir selesai itu tertunda, seperti ada sesuatu yang tiba-tiba menariknya kembali.

Ia menoleh.
Tidak memastikan.
Namun, suara itu cukup jelas untuk dikenali tanpa perlu melihat wajah pemiliknya.

Seonghyeon mengurungkan niat. Pilihan ia ubah menjadi satu minuman seharga tiga ribu dan satu minuman seharga enam ribu. Sengaja. Agar pada mesin itu masih tersisa seribu rupiah.

Mesin penjual otomatis kembali berdengung, lampu kecil di bagian dalam menyala, mekanisme di balik kaca bergerak pelan. Kaleng pertama jatuh dengan bunyi tumpul, disusul kaleng kedua yang menggelinding singkat sebelum berhenti di tempat pengambilan.

Seonghyeon meraih dua kaleng itu.
Setelahnya ia pergi tanpa menengok.

Keonho terdiam menatap layar vending machine yang kini menunjukkan angka seribu di bagian atas. Ia menoleh, berniat memanggil Seonghyeon, sekadar memastikan apakah itu kebetulan atau memang disengaja. Namun, punggung lelaki Capricorn itu sudah menghilang di tikungan koridor.

Keonho tersenyum kecil, memasukkan uang senilai dua ribu yang hanya tersisa di kantongnya, “yah, rezeki gue kali.”

Obrolan kecil di backstage sering kali lebih tajam dari evaluasi. Kata-kata yang dilontarkan sambil tertawa bisa menyisakan bekas yang lama, terutama ketika tidak diarahkan secara langsung, tapi tetap terasa seperti menyentuh kulit.

Di area backstage, dua panitia lain bercanda soal panitia cowok yang dianggap “terlalu lengket” dengan temannya. Nada suara mereka ringan, seolah ini cuma bahan iseng di sela lelah. Namun di balik tawa itu, ada sesuatu yang merendahkan, sesuatu yang membuat candaan itu terasa tidak sepenuhnya bersih.

“Eh, jangan-jangan begituan?”
“Halah, lebay. Tapi iya sih, aneh aja.”

Seonghyeon mendengar itu.
Dadanya menegang.
Ada rasa panas yang naik pelan, bukan marah, lebih mirip takut yang datang tiba-tiba.

Ia teringat caranya sendiri selama ini menjaga jarak.
Sikap dingin yang sengaja ia bangun sebagai tameng.
Cara bicara yang dibuat datar agar tak memberi ruang bagi siapa pun untuk terlalu dekat.

Ia takut terlihat.
Takut diseret ke bisik-bisik yang sama.
Takut mengakui sesuatu yang bahkan pada dirinya sendiri belum berani ia beri nama.

Di kepalanya, ada suara yang selalu datang pelan, tapi menekan.
Suara yang terdengar seperti peringatan yang tak ia minta;

‘Jangan terlalu dekat.’
‘Jangan kasi celah.’
‘Nanti ribet. Nanti jadi bahan omongan.’

Seonghyeon menuruti suara itu.
Ia menarik diri setengah langkah setiap kali jarak mulai terasa terlalu dekat, seolah setengah langkah itu cukup untuk menyelamatkannya dari sesuatu yang bahkan belum benar-benar terjadi.

Hari terakhir lomba datang.

Nama pemenang dari berbagai macam kategori baru saja diumumkan.
Di beberapa sudut ruang, tim-tim dari SMA dan SMK meledak bersamaan. Ada yang teriak kegirangan, ada yang saling peluk sampai hampir jatuh, ada yang lompat-lompat sambil mengangkat sertifikat dan piala. Riuhnya datang bergelombang, tidak satu arah, seperti tepuk tangan yang pecah di banyak titik sekaligus.

Di sela-sela itu, beberapa peserta yang nama timnya tidak disebut memilih bergerak duluan. Ada yang menepuk bahu temannya sambil bilang “gapapa,” ada yang pura-pura sibuk mencari tas, lalu keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Wajah-wajah kecewa itu cepat tenggelam di balik pintu, meninggalkan sisa gempar yang terlalu keras untuk mereka dengar.

Beberapa lampu utama mulai dipadamkan. Anak-anak operator akhirnya bisa turun dari posisi masing-masing. Semua itu sekarang diambil alih DJ langganan kampus yang sudah siap berdiri di depan panggung.

Lampu diganti mode pesta. Warna-warna mulai bergerak liar, menyapu dinding, lantai, dan wajah-wajah yang tadinya lelah.

After party menunggu tepat dibalik pintu.

Seonghyeon berdiri di luar ruang serbaguna, sedikit menyamping di dekat daun pintu yang tak tertutup rapat. Dari celah sempit itu, cahaya berwarna tumpah ke lantai koridor, memotong gelap dengan warna-warna yang terlalu ramai. Ia mengintip ke dalam, melihat rekan-rekannya yang mulai tertawa tanpa beban, saling melempar komentar ringan, beberapa sudah menggoyangkan badan mengikuti beat yang belum sepenuhnya dimulai.

Ada kelegaan di udara ruang itu.
Ada juga sesuatu yang lain, yang menempel di dadanya seperti beban tipis yang tak bisa ia sebutkan namanya.

Ia sadar. Dua pekan ini bukan cuma soal kerja, bukan cuma soal mengatur jadwal, mengamankan teknis, dan memastikan semua berjalan sesuai rundown.
Ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut digeser, ikut disentuh oleh kehadiran-kehadiran yang terlalu dekat untuk pura-pura tak berarti.

Dan ketika musik pertama after party mulai berdentum dari balik pintu, Seonghyeon tahu,
hal-hal yang selama ini ia simpan rapi, yang ia dorong ke sudut-sudut paling sunyi dalam dirinya,
tidak akan bisa ditahan lebih lama lagi.

Di luar ruang serbaguna, udara malam terasa seperti jeda yang sengaja Tuhan sediakan. Seonghyeon bersama beberapa anak divisinya duduk santai di area registrasi, tempat yang siang tadi penuh dengan antrean siswa dari berbagai sekolah, sekarang cuma dihuni angin yang lewat pelan. Mereka menghindari hingar di dalam. Menghindari suara yang terlalu keras.

Ia butuh ketenangan.
Ia butuh sunyi yang tidak menuntut apa-apa darinya

“Bantu angkat kursi ke belakang, ya.” Punggungnya ditowel dari belakang. Suara Martin memecah jeda itu. Seonghyeon mengangguk bersama beberapa teman yang lain. Sunyi yang baru ia temukan ditarik kembali ke dalam gaduh.

Begitu pintu ruang serbaguna dibuka, dunia seakan berganti wajah.
Lampu moving head menyapu wajah orang-orang dengan warna yang tak sempat menetap. Dentum bass menghantam dada. Tawa, teriakan, dan nyanyian berkelindan jadi satu bunyi yang riuh.

Di tengah hiruk itu, Seonghyeon kembali berdiri di ambang.
Antara masuk sepenuhnya,
atau tetap menyisakan jarak yang selama ini ia sebut aman.

Tapi langkahnya sudah terlanjur bergerak.
Ia masuk.

Seperti biasa, ia memilih sibuk.
Menyibukkan diri selalu lebih mudah daripada membiarkan sesuatu tumbuh di dalam dada.

Seonghyeon melangkah menuju barisan kursi di area penonton. Ia menyusun sepuluh kursi menjadi satu tumpukan, merapatkan sandarannya agar tidak mudah goyah, lalu mengangkatnya. Otot lengannya menegang ketika cowok itu berjalan ke arah gudang di bawah ruang operator. Setelah menurunkannya, ia kembali lagi.

Ia bolak-balik beberapa kali, mengangkat kursi demi kursi, membiarkan tubuhnya sibuk sementara pikirannya dibiarkan kosong.

Sampai akhirnya, di tengah ruangan, tertinggal sepuluh kursi terakhir.

Pas.

Seonghyeon menyusunnya dengan lebih pelan, memastikan tiap sandaran bertemu rapat. Saat mengangkat tumpukan itu, bebannya terasa lebih ringan dari seharusnya, seolah ada tangan lain yang ikut menahan dari depan.

“Lepas aja, gue bisa sendiri.”

Kepalanya menyembul ke samping kiri. Dan di balik tumpukan kursi itu, ia menemukan wajah Keonho. Rambutnya sedikit berantakan, kacamata bertengger di dahinya seperti biasa. Napasnya terdengar tipis, tapi ia tetap memancarkan senyum kecil.

Ada sesuatu yang mengendur di dadanya
Ada sesuatu yang menyesal telah terucap

Seandainya orang lain, Seonghyeon tidak akan peduli ditingggal. Lagipula, ia sudah bolak-balik mengangkat kursi sendirian sejak tadi.
Tapi ini Keonho.
Dan entah mengapa, ia ingin pertolongan itu tetap ada.

“Gapapa, Hyeon,” kata Keonho ringan, diiringi kekehan yang hampir tak terdengar. “Tadi mau ngangkat yang lain, tapi keburu diambil orang.”

Mereka memikul tumpukan kursi itu bersama, masing-masing dari sisi yang berlawanan. Ketika melewati perbedaan level lantai, langkah Keonho sedikit melambat, menyesuaikan ritme tanpa perlu diminta.

“Harusnya lo istirahat,” ucap Seonghyeon, datar seperti biasa. “Capek ‘kan ngurusin operator tadi?”

Keonho menjawab setelah mereka melewati undakan. “Santai. Lagi nggak ngapa-ngapain juga”

“Thanks.”

“Yoi.” Keonho mengangguk, meski tahu Seonghyeon tidak akan melihatnya karena tumpukan kursi itu menjadi dinding di antara mereka.

Setelah kursi-kursi itu diturunkan, suara decit besi terdengar singkat lalu menghilang.

Mereka kembali berjalan ke tengah ruangan yang masih gaduh.

“Makasih ya,” kata Keonho, “ waktu itu lo speak up soal jam istirahat.”

Seonghyeon cuma mengangguk.

“Makasih juga soal roti … sama kembalian seribu di vending machine.”

Tubuh Seonghyeon kaku sepersekian detik. Dirinya ketahuan.
Ia menahan senyum yang hampir lolos, lalu mengangguk lagi.

Musik makin keras.
Permainan lampu makin liar.
Dan jantung Seonghyeon, entah sejak kapan, ikut menari tanpa irama.

Perhatiannya terhenti pada Keonho yang kini terdorong makin dekat karena orang-orang di sekeliling mereka bergerak mengikuti beat lagu phonk yang terputar. Entah sejak kapan di tangan lelaki itu sudah ada gelas plastik berisikan soda. Wajahnya berganti-ganti warna, disapu sorot lampu strobe dan moving head. Dalam cahaya yang tak pernah menetap itu, Keonho terlihat terlalu indah untuk dipandang lama-lama.

Seonghyeon tahu perasaannya tidak sedang bercanda

Ada ragu yang datang lebih dulu,
ragu yang membuat langkahnya ingin mundur setengah jengkal.
Namun bersamaan dengan itu, muncul ketakutan lain,
takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia miliki.

Ia berdiri di antara dua dorongan.
Menjauh supaya aman,
atau bertahan supaya tidak menyesal.

Seonghyeon berdehem pelan. “Keon,” panggilnya, suaranya nyaris tenggelam di antara dentuman bass yang memantul dari dinding ke dinding.

Ia ragu sejenak, seperti menimbang apakah kalimat-kalimat di kepalanya layak keluar atau sebaiknya tetap disimpan.
“Lo tau nggak.” lanjut Seonghyeon pelan, “selama dua minggu ini, gue ngeliat lo bolak-balik ke operator, ngecek sound, ngejar waktu istirahat buat anak-anak. Lo capek, tapi tetep jalan. Nggak banyak ngomel.”

Keonho menggeser kacamata dari dahinya ke atas kepala, lalu menyengir tipis. Senyumnya selalu begitu; tidak lebar, namun cukup untuk memperlihatkan sedikit deret gigi yang rapi. Ada lekukan kecil di sudut bibirnya yang membuat ekspresinya tampak lebih ringan dari keadaan sebenarnya.

“Soalnya kalo gue ikut ngeluh,” katanya santai, “yang lain makin panik.”

“Justru itu,” potong Seonghyeon, suaranya tetap datar, seolah sedang menyebutkan sesuatu yang biasa.
“Lo tuh … orang yang bikin keadaan nggak tambah rusak. Lo bikin situasi di operator kerasa lebih stabil, walau sebenernya lagi berantakan. Menurut gue … itu keren.” Kata terakhir itu jatuh tanpa banyak tekanan, namun terasa lebih berat dari yang ia duga.

Keonho terdiam. Ujung jarinya gemetar tipis di permukaan gelas plastik yang dingin, menandai keterkejutan yang belum sempat ia sembunyikan. “Lo jarang muji orang, Hyeon.”

“Karena gue nggak gampang kagum,” jawab Seonghyeon singkat.
Ia berhenti sejenak, seolah kalimat berikutnya harus dipaksa keluar dari tempat yang paling sunyi di dalam dirinya.

Tatapannya terangkat, lalu berhenti tepat di paras Keonho. Terlalu lama untuk disebut kebetulan. Cukup lama untuk menyadari bagaimana cahaya warna-warni itu membuat garis rahangnya tampak lebih tegas, dan bagaimana kacamata yang bertengger di atas kepalanya justru membuatnya terlihat lebih menarik dari yang seharusnya.

Ia yang mengalihkan pandang lebih dulu.

“Tapi kalo soal lo …,” napasnya tertahan dalam hitungan detik, “gue kagum.”

Gaduh di sekitar mereka semakin meninggi. Teriakan pecah, tubuh-tubuh bergerak tanpa arah yang jelas. Beberapa bahu menyenggol Seonghyeon ketika orang-orang di sekeliling larut dalam euforia yang terlalu sempit untuk dihindari.

Gawai di tangannya terlepas. Benda pipih itu jatuh ke lantai, memantul sekali sebelum terdiam di antara sepatu-sepatu yang berlalu-lalang.

Si pemilik ponsel itu menunduk, meraih benda itu dengan gerakan cepat. Ia mengetukkan jemarinya ke layar, memastikan tidak ada retak yang mengkhianati kecerobohan barusan.

Layar menyala.
Angka di sudut atasnya menampilkan 23.59.

Pemuda itu menelan ludah, berdiri seperti orang yang berhenti di tepi suatu yang curam. Dadanya naik turun perlahan, seolah sedang menahan langkahnya sendiri. Di kepalanya, hitungan kecil berjalan, beriringan dengan napas yang ia atur agar tidak terdengar gemetar.

Angka-angka itu mengalir sampai genap.

Barulah, pada hitungan ke enam puluh, ia membuka mulut.

“Happy birthday, Keon.”
Nada suaranya turun, hampir terseret oleh bising di sekitar.
“Gue … sayang sama lo.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tidak meledak.
Tidak menuntut jawaban.
Hanya dibiarkan ada, seperti pengakuan yang terlalu lama disimpan dan akhirnya keluar tanpa perlawanan.

Seonghyeon berbalik.

Langkahnya menembus kerumunan yang padat. Tubuh-tubuh lain bersinggung dengannya, tawa dan sorak melintas terlalu dekat, seakan tidak menyadari ada satu perasaan yang baru saja diletakkan di udara lalu ditinggalkan begitu saja.

Ia membiarkan semua itu menutup jejaknya, seolah keberaniannya hanya diberi waktu sekejap sebelum berubah menjadi penyesalan yang akan menghantuinya sendiri.

Keonho masih berdiri di tempat yang sama, sementara pikirannya tertinggal beberapa langkah di tubuhnya. Ia membuka mulut, seakan hendak memanggil, tetapi Seonghyeon telah lebih dulu lenyap, ditelan lautan manusia dan cahaya yang bergerak tanpa arah.

Detik berikutnya putaran lagu phonk itu berhenti, tergantikan oleh suara terompet yang familiar dari lagu Selamat Ulang Tahun.

Lagu itu dibiarkan berputar sebentar sampai akhirnya lirik itu tiba; hari ini. Tepat di kata itu, spot light menyala.

Sorot lampu putih jatuh ke tubuh Keonho. Cahaya itu datang mendadak, membuatnya silau dan terkejut, memaksanya memejamkan mata sejenak.

Peluit ditiup di sekitarnya. Nada-nada tinggi itu menusuk di antara tawa dan teriakan, memantul di dinding ruang serbaguna yang lelah menyimpan terlalu banyak suara. Sorak-sorai pecah tanpa menunggu kesiapan siapa pun, seakan bahagia bisa dipanggil begitu saja tanpa perlu permisi.

Martin muncul membawa kue. Lilinnya menyala kecil, goyang tertiup hembusan napas orang-orang yang mendekat.

Wajah-wajah di sekelilingnya kini terang oleh senyum yang tulus, senyum orang-orang yang larut dalam euforia kecil yang ingin dibagi bersama.

Keonho menatap kue itu beberapa saat, seolah sedang memindai kenyataan bahwa ini benar-benar tentang dirinya. Ia menarik napas, lalu meniup lilin.

Api kecil itu padam. Tepuk tangan menggema. Beberapa peluit kembali ditiup, menambah hingar yang tidak memberinya ruang untuk berpikir. Ucapan selamat datang dari segala arah, menimpanya bertubi-tubi, datang sebagai suara-suara yang hangat, namun terasa terlalu banyak untuk ditangkap satu per satu.

Namun di antara semua bahagia yang diarahkan kepadanya, ada satu orang yang justru memilih pergi.

Keonho menoleh ke kiri.
Ke kanan.
Ke belakang.

Pandangan itu bergerak pelan, seolah takut menemukan ruang kosong yang terlalu jelas. Ia berharap, dengan bodohnya, Seonghyeon akan muncul dari kerumunan, tertawa kecil, lalu mengatakan bahwa yang tadi cuma bercanda.

Yang ia temukan hanyalah cahaya lampu yang bergerak, bayangan orang-orang yang berseliweran, dan sisa ruang kosong di sisinya, tempat seseorang seharusnya berdiri.

Di hari ulang tahunnya sendiri, Keonho dirayakan oleh banyak orang.
Di saat yang sama, ia justru ditinggalkan oleh satu orang yang paling ingin ia temukan.

Seseorang yang pergi di tengah bahagia,
meninggalkan perasaan yang tak punya alamat pulang.

Notes:

Ini fanfiction pertama gue yang beneran kelar dan dipost 💤
So sorry kalau masih ada yang kurang atau berantakan.

Happy Keonho Day dan happy Valentine’s, guys 💐

Anw, versi nama lokalnya juga ada di X dengan alur dan username yang sama juga.

Thanks udah baca!