Work Text:
ahn keonho itu naif, dia cuma paham hal baik didunia ini, keonho terlalu naif bahkan kalaupun ada orang yang jahatin dia, keonho akan ngerasa itu tindakan yang biasa aja.
kadang sayang banget keonho harus ketemu sama martin yang nggak tau sejak kapan jadi manipulatif, keonho yang naif ketemu sama martin yang manipulatif, kemenangan telak buat martin tentunya.
martin nggak suka berbagi sesuatu yang udah jadi miliknya, martin nggak suka keonho terlihat terlalu mencolok diluar sana, lebih tepatnya martin nggak mau keonho yang udah jadi milik dia bisa dilihat dengan mudahnya sama orang lain, apalagi dengan tatapan memuja.
tapi selain naif, keonho juga penuh rasa penasaran, anak itu suka buat nyoba hal baru, yang kadang narik perhatian orang lain.
martin mau keonho buat dirinya sendiri, martin mau keonho yang bergantung sepenuhnya ke martin, tapi kadang martin nggak bisa batasin itu semua, martin bakal crashout dan berakhir kasar sama keonho.
tapi, bocah lugu dan naif kayak keonho ini bisa ngelawan apa?
"martin udah belum acara kuliahnya nak? ini keonho nakal banget, dari kemarin juga berantem sama papanya, mama pusing lihatnya"
hari terakhir acara himpunan martin dapat chat dari mamanya keonho kayak gitu, martin sih tentu udah izin sama pacar kecil rewelnya itu bakal susah buat bales chat, dan setiap buka handphone pesan dari keonho pasti udah nyentuh angka seratus.
jadi hari ini, pagi-pagi banget martin udah ada dirumah keonho, mau jemput anak nakal yang susah banget di bilangin, diruang tengah udah ada keonho yang duduk cemberut dengan kupluk dan jaket tebal yang membalut dia pagi ini.
kalau ditanya berantem sama papa soal apa sih jawabannya tentu kayak biasa, keonho yang nggak gampang buat dibilangin, anak itu main sampai malem, keluyuran nggak jelas sama siapa aja, bahkan seonghyeon sahabat keonho yang biasanya main bareng, ditanyain papa pun jawabannya nggak tau.
papa khawatir banget, ditelfon keonho sampai puluhan kali, taunya lagi nongkrong di cafe sama temen sekelasnya, lengkap sama hal yang papa nggak suka banget.
rokok.
martin tentu akan lakuin hal yang sama kalau jadi papa, apalagi ternyata keonho semalem mainnya pakai celana pendek banget pahanya kemana-mana, martin tau setelah dikirimin secreenshotan sama seonghyeon dari story instagram temen sekelas keonho, makin panas lah martin.
kata mama juga semalem keonho berantem sama papa sampai berani bentak-bentak, padahal biasanya disemprot dikit sama papa udah langsung diem, mama udah pusing, jadi ini keonho dikasih ke martin deh sehari aja.
awalnya mau dikirim kerumah kakek sama nenek, tapi anaknya langsung nangis panik ngunci diri dikamar mandi, untung mama punya kunci serep.
sekarang keonho lagi melukin mama, nggak mau ikut sama martin karna keonho jelas tau martin pasti marah sekarang ini.
"mama..... adek nggak mau..... adek disini aja sama mama..... janji nggak nakal lagi....."
nggak ada gunanya keonho ngerengek kayak gitu sekarang, martin udah disini dan keonho tentu harus ikut sekarang.
"apa? nangis mulu, males gue"
mata keonho udah merah karna nangis dari awal sampai di apartment martin, anaknya duduk ditengah kasur dengan mata yang natap martin lekat, berharap martin nggak marah lebih lanjut.
"udah jago lu pikir begitu? gue tinggal bentar udah nggak tau aturan begitu"
keonho masih diem dengan pundak yang naik turun berat, berusaha buat nggak lanjut nangis kejer, keonho bahkan nggak dikasih izin buat beranjak dari kasur, tadi sempet nyoba tapi dibanting martin balik ke kasur, tangan sama punggung keonho sakit karna tadi ngelawan si kakak.
"punya mulut digunain bego, semalem ngapain bentak-bentak papa? udah jagoan beneran lo?
kasar, martin selalu gini kalau udah marah, dan keonho nggak suka kalau martin kasar kayak gini, rasanya kayak martin udah nggak sayang lagi, udah nggak peduli lagi, mau ninggalin keonho, keonho takut ditinggalin sama martin.
jadi dengan tenggorokan yang rasanya kayak dicekik itu, yang lebih muda berusaha buat buka suara.
"e-enggak kak martin......"
martin berdecak pelan, natap keonho dengan tatapan tajamnya itu, keonho sendiri udah berantakan, air matanya mulai turun lagi, suaranya bergetar dan serak, rambutnya acak-acakan, kaos yang dipakainya udah belel karna tadi sempet ditarik martin, untung nggak robek.
"enggak apanya? kalau jawab yang bener"
keonho geleng pelan, anaknya ngerangkak ke pinggir kasur buat ngedeket kearah martin, tapi nggak berani sampai nurunin kakinya.
"udah berani keluar pakai celana pendek waktu nggak sama gue? mau pamer ke orang-orang lo?"
keonho lagi-lagi gelengin kepalanya, nyoba buat nyangkal ucapan martin barusan, tapi martin ngeluarin handphonennya, ngasih lihat secreenshoot an yang ngelihatin keonho pakai celana pendek.
langsung panik bukan main, keonho nyoba buat lebih deket ke martin, anak itu turun dari kasurnya, tapi waktu tangan kecilnya berusaha buat ngeraih lengan martin, anak itu lagi-lagi didorong buat balik naik keatas kasur.
"diem disana anjing, dibilangin susah banget"
"maaf! maaf! maafin adek....... kak martin maaf........"
tangis keonho makin keras, air matanya juga turun dengan deras, yakin setelah ini matanya akan sembab.
martin jalan ngedeket, berdiri di pinggir kasur, ngeraih dagu keonho buat dongak kearahnya, sedangkan keonho udah duduk bersimpuh di atas kasur, seolah memohon ampun.
"suka pahanya dilihat orang banyak kayak gitu? udah berapa orang yang pegang itu keonho?"
keonho geleng kenceng, tangan kecilnya raih tangan martin, mata basahnya itu natap martin pakai tatapan panik.
"enggak! enggak suka! nggak ada! nggak ada yang pegang kakak" katanya menggebu, isakannya makin sering terdengar.
martin senyum miring lihat keonho yang mohon-mohon didepannya kayak gini, kebiasaan awalnya sok jago, kalau udah didepan martin menciut kayak anak kucing ketakutan.
tangan kanan martin terangkat, melayang pelan kepipi kanan keonho, pipi keonho ditepuk berulang kali, sampai tamparan terakhir bikin keonho terpekik pelan, tangan kecil itu reflek meraih lengan martin, berharap pelukan setelahnya seperti biasa.
tapi martin belum selesai, sekarang berpindah ke pipi kiri, ritmenya sama dan keonho masih berusaha untuk menangkis dengan tangan kecil yang berakhir kena pukul juga.
"kakak sakit! sakit hiks..... kak martin udah........."
pipi keonho total memerah, matanya menatap sayu kearah martin, kemudian martin beranjak pergi keluar kamar, entah kemana keonho tidak berani mengikuti.
martin balik bawa jaket punya keonho, lengkap sama tas yang isinya barang emergency keonho.
"ayo kerumah kakek aja"
keonho kaget bukan main, tangannya berontak kecil waktu ditarik sama martin buat turun dari kasur.
masalahnya, kakek itu mantan marinir, keonho ketahuan nakal sedikit saja hukumannya sudah melelahkan bukan main, jalan jongkok, seharian kerja dikebun, atau kalau udah kayak gini pasti bakal kena pukul rotan.
jadi dengan sekuat tenaga keonho mulai berontak, tangannya nepis tangan martin lumayan keras, dan berhasil lepas cengkraman martin di pergelangan tangannya.
keonho melangkah mundur waktu yang lebih tua melangkah mendekat, martin natap pergerakan keonho lekat.
"kenapa? mama papa udah nggak bisa, gue juga capek sama lo, lo sama kakek aja biar diajarin sopan santun"
keonho geleng keras, kakinya jalan mundur sampai nabrak meja belajar punya martin, keonho kehimpit, kakinya melangkah kesamping tapi pinggangnya diraih martin dengan gampangnya, dicengkram kuat dan setelahnya diangkat dengan gampangnya.
"enn-engga! gamau kakek! minggir!"
tangan kecil yang ada bekas cengraman di pergelangannya itu berusaha buat jauhin tangan martin dari pinggangnya, kakinya nendang udara dengan bebas.
"jangan! kakak....... adek nggak mauu!"
martin nggak melanin langkah kakinya sama sekali, dan waktu udah deket pintu keluar keonho makin panik.
"maaf! maaf kakak, adek janji nggak akan gitu lagi! adek bakal lakuin apapun!"
langkah kaki martin terhenti.
"apapun lo bilang?"
keonho langsung ngangguk, otaknya nggak berpikiran panjang kedepan, tapi keonho merasa amat sangat lega setelah martin turunin dia di ruang tengah.
isakan keonho masih keras, air matanya juga masih terus turun.
"udahan nangisnya"
nggak ada jawaban, keonho cuma natap martin pakai tatapan sayunya.
jadi martin bawa yang lebih muda untuk dipangku, dan tanpa banyak omong, bibir keonho sudah mulai dipangut, cara ampuh untuk buat keonho berhenti nangis, lidah martin mulai masuk kedalam rongga mulut keonho, tangan kecil keonho mulai terkulai lemas di atas pundak martin.
bibir keonho disesap, tengkuknya ditahan dengan pinggangnya yang berulang kali diremat lembut.
7 menit berlalu, dan akhirnya martin sudahi ciumannya, isakan keonho hilang tapi nafasnya masih belum teratur.
"sudah anh keonho?"
keonho geleng pelan, tangannya ditaruh dikedua pundak martin, meremat pundak itu dengan tenaga seadanya.
"adek minta maaf kak martin"
martin senyum kecil, dia udah cukup nahan diri dengan lihat tampilan keonho didepannya ini, rambut berantakan, kerah kaos yang turun nampilin tulang selangkanya yang sempurna, bibir merah merekah dengan air mata yang buat keonho makin kelihatan kayak glazed donut.
enak.
chuu
chuu
chuu
ciuman dari martin merembet dari bibir ke leher, yang dileher berubah jadi sesapan dan jilatan.
keonho gelagapan, buru buru dorong kepala martin tapi tangannya ditepis kasar, tangan kanan martin juga udah sibuk masuk kebalik kaos keonho.
"k-kakak......"
lenguhan dari keonho berulang kali terdengar, anak itu menggeleng kekanan kekiri ngerasain sesapan martin dilehernya.
"a-ah! kakak......"
tangan martin makin nakal, yang awalnya cuma ngelus pinggang dan perut keonho, sekarang naik ke puting anak itu, melintir puting keonho pelan.
"kak martin...... s-sudah....... sudah"
keonho pusing, tangan kecilnya yang nggak bertenaga itu berusaha jauhin tangan martin dari badannya, tapi martin seakan enggan, gigitan dan jilatan dileher keonho juga makin banyak.
kepala keonho nggak sengaja mendongak, yang malah disalah artikan martin kalau boleh melakukan lebih.
"kakak! sakit!"
gigitan martin disana makin brutal, martin makin gencar ngasih tanda di tubuh keonho, tangannya juga makin liar bergerak dibalik kaos yang lebih muda.
"kak martin.... please..... udah kakak......"
dengan berat hati martin jauhin kepalanya, yang lebih tua natap keonho lekat seolah bisa nelanjangin keonho ditepat sekarang juga, sedangakn keonho cuma bisa natap martin dengan tatapan polos sayunya, keonho bener-bener kelihatan rapuh dan bisa hancur kapan aja.
"kakak masih marah sama kamu, paha kamu dilihat banyak orang, ini punya kakak"
ucap martin tegas, tangan kanannya turun mencengram paha keonho kencang, mengundang ringisan sakit dari yang lebih muda.
"sakit..... maaf kakak...."
"dan soal kamu yang mau ngelakuin apapun buat kakak, bakal kakak minta lain kali, kakak nggak bakal berhenti cuma karna kamu nangis kayak gini lagi"
