Work Text:
Klik.
Rion bingung, saat tangannya mencoba menurunkan tuas pintu, tidak ada perlawanan dari mekanisme kunci.
“Buset, gak di kunci sama dia.”
“Oy, Uzuki Kei.” Rion melangkah dengan langkah ragu-ragu masuk ke dalam apartemen sederhana yang ditempati Kei.
“Kei, gua masuk ya.” Netra emasnya melihat sekeliling, agak berantakan. Tidak seperti biasanya. Perlahan langkah kakinya membawanya ke depan pintu kamar yang sedikit terbuka. Di balik pintu itu Rion dapat melihat gundukan seseorang di dalam selimut.
Rion melangkah masuk, tidak seperti tabiatnya yang menempatkan sopan santun di nomor sekian, sekarang dia berbisik permisi dengan ragu. Ini bukan pertama kalinya dia masuk ke dalam kamar Kei, tapi ini berbeda. Dia merasa seperti maling karena masuk tanpa izin terlebih dahulu.
Ketika matanya berhasil memindai isi kamar itu dan melihat gundukan di atas kasur Rion melangkah mendekat, disana pria yang sekarang menjadi kekasihnya sedang tertidur, dahinya lembap, dia bisa melihat lelaki itu agak menggigil.
Ya, setelah mendapat kabar dari kekasihnya bahwa dia sedang sedikit tidak enak badan. Rion berinisiatif segera datang mengunjungi Kei.
Tangan Rion lalu menyentuh dahi Kei di balik poninya, merasakan sentuhan dingin itu Kei membuka matanya.
“Rion...” Kei hendak bangkit, tapi dorongan kecil dari telunjuk Rion di dahinya membuatnya terpaksa berbaring kembali.
“Noh liat, gak usah bangun-bangun segala, di dorong pake telunjuk doang tepar,” Rion menghela nafas, tangannya menyimpan totebag di atas meja nakas, dan mengeluarkan thinwall berisi bubur hangat yang dia beli sebelum kesini.
Keadaan begitu tenang, Rion duduk di sisi kasur menepuk kepala Kei pelan.
“Udah gua bilang istirahat yang bener, jangan ambil lembur terus. Kerjaan sih gak akan pernah selesai,” Kendati berkata dengan ketus suara Rion syarat akan kasih sayang, Kei hanya mendengarkannya.
Rion membuka jaket hitamnya dan menyampirkan di kursi terdekat, tersisa baju sleeveless yang menempel, matanya memindai posisi Kei yang berbaring menyamping.
“Bentar, jangan dipaksa bangun. Tiduran senderan aja biar gak pusing.”
Rion menyadari posisi kepala Kei terlalu datar untuk bisa menelan bubur dengan nyaman. Rion kemudian naik ke atas kasur dengan lututnya, memosisikan tubuhnya condong di atas tubuh Kei untuk meraih bantal-bantal tambahan yang tertumpuk di sisi lain tempat tidur.
Jarak mereka nyaris terkikis, wangi parfum Rion yang segar langsung menyeruak masuk ke indra penciuman Kei. Kei memejamkan mata bukan karena apa, tapi jantungnya berdebar, menyaingi denyutan nyeri di kepalanya.
Rion bertumpu pada satu tangan di samping bahu Kei, sementara tangan lainnya sibuk menyusun dua bantal menjadi sandaran yang lebih tinggi.
“Rion, kepalaku sakit banget,” suara Kei merengek. Ketika sekarang melihat Rion duduk di samping ranjang sudah siap dengan bubur di pangkuannya.
“Sabar ah, namanya juga lagi sakit, sini gue suapin.”
Kei cemberut, padahal Rion malah yang terlihat tidak sabar. Mata biru lelaki itu tidak nafsu melihat bubur yang ada di tangan wanita itu.
“Aku sudah makan, Rion,” ujar Kei lirih beralasan karena dia merasa semua makanan yang masuk ke kerongkongannya terasa seperti pasir. Selain itu dia merasa malu, bagaimana mungkin pria dewasa berakhir disuapi seperti seorang balita.
“Makan apaan? Makan hati? Buka mulutnya, keburu dingin ini,” ujar Rion sambil menyodorkan sendoknya ke mulut Kei.
“Aku bisa sendiri, Rion,” ujar Kei yang membuat mata Rion melotot galak, dan detik selanjutnya Kei hanya pasrah menerima suapan demi suapan.
Tangan Rion dengan cekatan merapikan selimut yang membungkus tubuh kekasihnya. Bubur setengah tandas, Kei yang sudah menelan obat, cek suhu terakhir yang masih di angka 38,5⁰C, di sertai dengan dahi Kei yang sekarang tertempel plester demam, ya untuk saat ini cukup.
“Kamu sengaja kan Rion, bikin aku kelihatan seperti anak-anak begini?” Kei memegang plester demam itu di dahinya, dingin memang tapi tetap saja hal itu agak memalukan.
“Suruh siapa muka lu melas begitu kaya bocah?” tangan Rion merapikan poni di dahi Kei, “Udah ah komen mulu, cepet tidur.”
Kei hanya menggumam tidak jelas, membiarkan tubuhnya makin tenggelam dalam selimut. Efek tubuhnya yang bekerja melawan sakit, menjadikan Kei gampang mengantuk, jemari dingin Rion yang sekarang mengusap pinggiran plester demam di dahinya membuat Kei benar-benar enggan terlelap.
“Rion..”
“Apa?”
“Jangan pulang dulu... ya,” bisik Kei, suaranya agak serak. Tangannya mencari telapak tangan Rion untuk digenggam.
Rion hanya terdiam. Dia melihat betapa kontrasnya posisi mereka sekarang. Kei yang biasanya rapi dan tenang kini tampak begitu rapuh di bawah balutan selimut tebal. Sedangkan Rion dengan sifat kerasnya terus-terusan mengomeli Kei. Rion menghela nafas, berharap sifat kerasnya tidak membebani Kei lebih dalam.
“Iya, bawel. Gue nggak kemana-mana,” Rion akhirnya duduk di pinggiran kasur, membiarkan tangannya tetap dalam genggaman Kei.
“Cewek aku galak banget, tapi aku sayang banget gimana dong?” Alis Rion bertaut menahan malu dengan ucapan Kei yang seperti orang melantur karena mengantuk.
“Banyak cincong banget ini orang sakit satu,” ujar Rion ketus tapi bibirnya berusaha menahan senyum, menggenggam erat tangan Kei yang perlahan tenggelam dalam tidurnya.
Mata Rion menatap keluar jendela.
Gerimis.
Netranya emasnya kembali menatap lelaki yang terbaring disampingnya. Rion memastikan napas Kei sudah teratur dan dalam, sebelum perlahan melepaskan tautan jemari mereka. Tubuhnya dia bawa berdiri untuk membereskan kekacauan kecil di atas nakas.
Gerakannya seminim mungkin agar tidak menimbulkan suara. Namun, saat hendak memindahkan tumpukan berkas yang biasanya rapi, matanya menangkap sesuatu yang familier.
Sebuah sticky note yang belum sempat di cabut dari bloknya, di dalamnya sebuah catatan kecil tertera dengan tulisan tangan Kei yang rapi. Rion mengangkat blok sticky note itu, matanya memindai barisan kata di sana:
- Dark chocolate 70% (Rion tidak suka manis)
- Sea salt (penyeimbang)
- Packaging: cari pita warna hitam atau emas
(Jangan sampai gosong lagi pas dilelehkan)
Rion tertegun, dia melihat tanggal di ponselnya.
13 Februari.
“Oon,” bisik Rion pelan.
Besok adalah hari Valentine. Di saat kebanyakan gadis sibuk mencari cokelat mahal atau bergelut di dapur untuk pasangan mereka, lelaki itu justru sudah menyiapkan segalanya lebih awal. Kei dengan segala jadwal lemburnya yang gila dan tubuh kurus yang akhirnya tumbang itu masih sempat memikirkan cara untuk memberikan sesuatu yang personal untuk Rion.
Dia lalu menyimpan blok sticky notes itu kembali ke meja, tanpa menyadari perasaannya makin dalam kepada sosok berambut putih yang sudah tertidur lelap itu.
'Ada juga gua yang ngasih lu coklat. Aneh lu ah,' ujar Rion dalam hati, tetapi sudut bibirnya tersenyum geli.
Pagi mulai menyingsing menggeser malam, Kei membuka matanya. Dia perlahan duduk dan merasakan sakit kepala yang masih tersisa, tubuhnya banjir keringat, matanya bergerak memindai kamar, tidak ada siapa pun.
“Cuma mimpi...” Kei menghela nafas, sebegitu jatuh hatinya dia pada Rion hingga dia menghalusinasikan sosok wanita tangguh itu saat sedang sakit. Kalau Rion tahu pasti dia mengejeknya tanpa ampun. Kei melirik nakasnya, tidak mendapati gelas yang dia sediakan semalam.
“Kok gak ada? Apa aku lupa bawa ya," gumam Kei bingung.
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke dapur, langkahnya masih sedikit terhuyung, saat Kei melihat punggung familier di dapurnya langkahnya terhenti.
“Rion...” suara lirih itu membuat kepala gadis berambut biru itu menoleh.
“Loh kok udah bangun?” Rion berbalik dan mendekat, “Pinjam kompornya ya, kemarin gua bawa teh baru, bagus buat imun.”
“Ini aku lagi mimpi ya? Kamu udah jadi istriku ya? Kok kamu ada di apartemenku?” Kei berucap dengan wajah melongo, Rion memerah dia lalu mengusap wajah Kei dan mendorongnya sedikit, mampu menyadarkan Kei dari lamunan pasca demamnya.
“Istri, istri. Halu lu? Kumpulin nyawa dulu baru ngomong. Duduk sana.”
Bak anak balita yang menuruti kata ibunya, dia duduk dengan baik masih menatap Rion yang sedang menunggu air mendidih. Matanya memindai punggung Rion, penampilan sederhananya dengan sleeveless putihnya dan rambut biru yang di ikat asal membuat Rion terlihat cantik. Cantik banget malah.
“Rion...” panggil Kei lembut, “Kamu beneran nginep disini?”
Rion berbalik lagi dan berkacak pinggang, “Menurut lu gimana? Gue datang di culik setan kesini pagi-pagi?” ucapan Rion membuat Kei tetap melongo, tangannya tiba-tiba seperti menutupi bagian atas tubuhnya.
“Kamu tidur dimana?”
“Apaan sih, di ruang tamu kan ada sofa. Jangan mikir aneh-aneh.”
Kei cemberut, padahal aneh-aneh juga enggak masalah, pikir seorang Uzuki Kei.
Matanya kembali melihat Rion yang kembali fokus menyeduh teh, seketika semerbak wangi buah dan rempah memenuhi ruangan itu.
‘Teh mahal pasti ini,’ pikir Kei dalam hati.
Rion berbalik, meletakkan cangkir hangat itu di depan Kei. Tatapannya yang tadi galak perlahan melunak saat melihat rambut putih Kei berantakan dan wajahnya masih pucat. Tanpa aba-aba Rion mengulurkan tangan dan menyentuh dahi Kei.
“Udah adem. Kayanya keringet lu udah keluar semua.”
“Terima kasih, Rion.”
Rion menarik kembali tangannya, namun alih-alih menjauh dia menarik kursi di depan Kei. Matanya yang tajam menatap Kei membuat pria berambut putih itu sedikit salah tingkah dan menyesap tehnya perlahan.
“Enak?” tanya Rion pendek.
“Hangat, agak pahit buat lidah ku, tapi wanginya enak banget,” jawab Kei tulus. Dia menatap uap yang mengepul dari cangkirnya, lalu melirik Rion.
“Ini beli dimana? Enak.”
“Gak tau, ada di pantry rumah. Kayaknya dari London, cuman deskripsinya bagus buat kesehatan jadi aku bawa aja.”
Kei tersedak sedikit.
“Woy, pelan-pelan.”
“Ini pasti mahal Rion. Kamu beneran nyiapin ini dengan cuma-cuma?” Kei menatap cangkirnya.
“Kata siapa cuma-cuma? Ini tebusan buat itu tuh,” Rion menunjuk di sudut dapur Kei ada bahan-bahan membuat cokelat yang terbengkalai karena pemiliknya keburu sakit sebelum mengeksekusinya. Kei menoleh dan wajahnya memanas.
Kei terdiam, tangannya yang memegang cangkir sedikit gemetar, bukan karena dingin, tapi karena malu yang luar biasa. Rahasianya terbongkar. Rencana romantis yang ia susun rapi—menurutnya— di kepalanya kini berantakan, digantikan dengan dirinya yang demam semalaman.
“P-padahal.. aku mau kasih kejutan..” gumam Kei pelan, suaranya tenggelam di balik pinggiran cangkir, “Aku tau kamu nggak suka manis, makanya aku cari resepnya sendiri.”
Rion menghela napas panjang, langkah kakinya mendekat ke arah Kei. Dia tidak kembali duduk, melainkan berdiri tepat di samping pria itu. Tangannya yang dingin mengelus tengkuk Kei.
“Kejutan itu kalau lu sehat, terus kita ngapain kek jalan bareng kek. Bukan lu tepar di kasur gara-gara pusing nyiapin ginian. Lagian...” Rion berhenti sejenak, jarinya memainkan ujung rambut putih Kei yang berantakan.
“Gua gak butuh cokelat mahal atau cokelat racikan sendiri atau apapun itu lah. Liat lu bangun dan nggak mengigil lagi kaya semalam aja udah cukup.”
Kei mendongak, matanya yang biru jernih menatap manik emas Rion yang berkilau. Ada keheningan nyaman di antara mereka.
“Jadi hari Valentine pertama kita gagal yah?” tanya Kei dengan senyum tipis yang terlihat sedih. Rion memutar bola mata dan menyentil dahi Kei, membuat pria itu mengaduh.
“Sakit tau, Rion.”
“Gak ada gagal,” wajah Rion memerah. “Anggap aja teh yang gua bawa ini sebagai pengganti coklat. Bisa kali ya...” Rion terlihat berpikir, dia lalu menatap Kei. “Cepat bilang, bisa.”
“Iya, bisa Rion. Bisa. Terima kasih.” Kei terkekeh, rasa hangat menjalar di dadanya lebih hangat daripada teh dari London yang dibawa Rion. Bahkan mungkin lebih hangat daripada bayangan otaknya untuk kejutan memberikan coklat. Kei memosisikan dirinya menjadi menghadap Rion yang berdiri di depannya, dia memegang ujung baju di pinggang Rion.
“Rion...”
“Apaan lagi?”
“Boleh peluk sebentar? Dingin banget, kayanya aku masih demam,” ujar Kei melas dan polos yang dibuat-buat, meskipun dia tahu Rion pasti sudah sadar bahwa itu hanya akal-akalannya.
“Halah.”
Rion yang berdiri di depan Kei lalu memeluk leher lelakinya itu, wajah Kei bersandar pada perut Rion.
“Gak usah modus. Lima menit aja, abis itu lu mandi. Bau keringet,” gumam Rion ketus, namun ia justru semakin menenggelamkan jemarinya di sela rambut putih Kei, mendekapnya lebih erat.
Kei kembali terkekeh pelan tetapi makin mengeratkan pelukannya pada pinggang Rion, “Mau di lama-lamain aja, ini obat yang paling manjur dibanding teh herbal atau obat dari apotek.”
Di dapur sederhana itu Kei menyadari, mungkin coklatnya gagal dilelehkan tapi hatinya sudah lebih dulu meleleh dengan perhatian kasar tetapi tulus dari gadis di pelukannya ini.
“Selamat hari kasih sayang, Rion,” bisik Kei lirih.
Tangan Rion berhenti mengelus rambut Kei sejenak, wajahnya merah padam hingga telinga. Dia mendengus mencoba mempertahankan harga dirinya yang mulai runtuh.
“Iya, iya selamat hari kasih sayang juga, Kei.”
Pagi itu hari Valentine tidak perlu hadiah muluk-muluk bagi mereka, dengan kehadiran satu sama lain yang penuh kehangatan menjadi salah satu hadiah yang melampaui perayaan mana pun. Di apartemen mereka di hari kasih sayang itu, perasaan mereka mengalir tanpa perlu banyak kata, sesederhana nafas yang teratur dan detak jantung yang seirama di dalam pelukan hangat itu.
