Actions

Work Header

Kita ini temen, kan?

Summary:

Keonho dan Martin sudah bersama sejak masa kecil. Mereka tahu kebiasaan satu sama lain, hafal nada suara saat lelah, dan bisa memahami diam tanpa perlu penjelasan.

Namun ketika orang lain mulai menyadari kedekatan itu, satu pertanyaan sederhana menjadi terlalu berat untuk dijawab:
Benarkah mereka hanya teman?

Di balik candaan dan penyangkalan, ada jarak tipis yang mulai terasa berbeda. Dan mungkin, yang mereka takuti bukan kehilangan perasaan itu,
melainkan kehilangan satu sama lain.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Emang ini temen?

Chapter Text

Sejak kecil, Keonho dan Martin hampir tidak pernah benar-benar terpisah.

 

Dari hari pertama taman kanak-kanak, ketika Keonho menangis karena tidak mau ditinggal ibunya, Martin adalah anak yang duduk di sampingnya dan menyodorkan permen stroberi tanpa berkata apa-apa.

 

Sejak hari itu, entah bagaimana, jarak di antara mereka selalu terasa tetap—tidak pernah terlalu jauh, tidak pernah benar-benar hilang.

 

Di sekolah menengah atas sekarang, orang-orang sudah terbiasa melihat mereka berdampingan.

 

“Paket lengkap,” kata beberapa teman.

 

“Kayak suami istri gagal nikah,” kata yang lain sambil tertawa.

 

Keonho biasanya akan memutar mata.
Martin biasanya hanya tersenyum kecil.

 

Hari itu pun tidak berbeda.

 

Jam istirahat belum selesai ketika James memutar kursinya menghadap mereka. Tatapannya mengejek, seperti biasa.

 

“Kalian tuh capek nggak sih?” tanyanya santai.

 

Keonho mengernyit. “Capek apaan?”

 

“Capek pura-pura cuma temen.”

 

Suasana di meja mereka mendadak hening satu detik lebih lama dari yang seharusnya.

 

Keonho mendengus pelan. “Apaan sih. Emang cuma temen.”

 

Martin tidak langsung bicara. Ia menutup bukunya pelan sebelum akhirnya ikut menimpali, “Iya. Cuma temen.”

 

Kata itu meluncur ringan. Terlalu ringan.

 

James mengangkat kedua alisnya. “Iya deh. Kalau kalian bilang gitu.”

 

Ia berbalik lagi ke mejanya, masih dengan senyum penuh arti.

 

Keonho mengalihkan pandangan ke luar jendela. Angin sore menggerakkan tirai tipis kelas mereka.

 

Cuma teman.
Harusnya memang begitu.
Sudah bertahun-tahun begitu.
Tidak ada yang berubah.
Tidak ada yang perlu berubah.

 

Bel masuk berbunyi, memotong pikirannya.

 

Pelajaran matematika dimulai—dan seperti biasa, Keonho menatap papan tulis dengan ekspresi kosong.

 

Lima belas menit pertama ia masih mencoba mengikuti. Lima menit berikutnya ia menyerah.

 

“Kenapa lagi?” suara Martin terdengar pelan di sampingnya.

 

Keonho menutup bukunya sedikit lebih keras dari perlu.
“Nggak ngerti.”

 

Martin menoleh, menahan senyum kecil. “Bagian mana?”
“Semua.”

 

Ada jeda singkat sebelum Martin menggeser kursinya lebih dekat.

 

Terlalu dekat.

 

Lengan mereka hampir bersentuhan. Martin menarik buku Keonho pelan dan menunjuk langkah pertama pada soal.

 

“Kamu salah dari sini,” katanya lembut. “Harusnya pindahin dulu variabelnya.”

 

Nada suaranya tidak pernah tinggi. Tidak pernah kesal. Selalu sabar, seolah Keonho adalah sesuatu yang perlu dijaga, bukan ditegur.

 

Keonho menahan napas tanpa sadar.

 

“Terus?” tanyanya pelan.

 

Martin menulis ulang langkahnya, menjelaskan satu per satu. Tidak terburu-buru. Tidak mengeluh.

 

Beberapa menit kemudian, Keonho berkedip.

 

“Oh.”

 

Martin tersenyum tipis. “Oh?”

 

“Aku ngerti.”

 

“Ya memang harusnya ngerti. Kamu cuma panikan.”

 

Keonho cemberut. Tapi kali ini bukan karena matematika.

 

Dari bangku depan, Seonghyeon melirik ke belakang. “Kenapa mukanya kaya habis diputusin?”

 

Keonho langsung menegakkan badan. “Siapa yang diputusin?”

 

James kembali ikut campur tanpa diminta. “Iya tuh. Matematikanya doang yang susah? Bukan perasaan?”

 

Beberapa anak tertawa kecil.

 

Keonho merasakan panas naik ke wajahnya. “Lu bisa nggak sih diem sehari aja?”

 

Martin menutup bukunya pelan.

 

Ia berdiri lebih dulu sebelum bel benar-benar berbunyi.
Tanpa banyak kata, tangannya terangkat dan dengan natural merangkul bahu Keonho.

 

Gerakannya sederhana. Biasa.
Terlalu biasa.

 

“Ayo,” katanya.

 

“Ke mana?” tanya Keonho, masih setengah kesal.

 

Martin meliriknya sekilas. “Mau ke mana biar mood kamu balik?”

 

Keonho terdiam sejenak. Lalu menjawab pelan, hampir seperti rahasia. “Tempat biasa.”

 

Sudut bibir Martin terangkat sedikit. “Oke.”

 

Mereka berjalan keluar kelas berdampingan. Bahu mereka masih bersentuhan. Tangan Martin belum benar-benar menjauh.

 

Di belakang, James hanya berdecak pelan.
“Cuma temen, ya.”

 

Keonho pura-pura tidak dengar.

 

Martin juga.

 

Tapi entah kenapa, langkah mereka terasa lebih berat dari biasanya—seolah kata “cuma” itu tidak pernah benar-benar cukup untuk menjelaskan apa yang ada di antara mereka.
Dan mungkin, memang tidak pernah cukup.