Work Text:
Ini sudah masuk tahun kedua, namun Kim Minji masih sering tidak percaya jika ia berhasil mendapatkan Pham Hanni.
Jika ingatannya diputar lagi, Minji yang dulu benar-benar seperti orang aneh. Ia rela berlari 10 blok jauhnya untuk menghampiri halte bus tempat Hanni biasa naik untuk pulang, dan selalu mendapat tatapan aneh dari murid-murid sekolah internasional yang menyebalkan itu.
"Eh, ada anak Smala."
"Ngapain di sini jir?"
"Salah turun halte kali."
"Minjiii!!" suara lucu di antara bisik menyebalkan terdengar menyahuti namanya, membuat badan tinggi itu berdiri tegak dan tersenyum melihat wajah manis bak madu itu kini menghampiri.
Ah, Pham Hanni memang sempurna di semua kategori.
Beruntung Minji tidak mengikuti hasutan Taesan dan Anton yang menyuruhnya untuk mundur saja kala itu. Bisa dilihat, sekarang siapa yang berpacaran dengan Pham Hanni?
Betul, Kim Minji.
Dan di umur hubungan yang hampir genap dua tahun ini, Kim Minji berdiri bingung di depan toko bunga yang cukup sepi. Ia baru saja keluar dari perpustakaan setelah belajar makna-makna bunga dan berencana memberikan satu buket untuk Hanni sebagai hadiah valentine karena tahun lalu mereka tidak merayakan secara spesial. Hanya bertukar cokelat dan surat, akan membosankan jika harus begitu lagi menurut Minji.
Memantapkan langkah, Minji masuk ke dalam toko bunga dan seketika berhadapan dengan ratusan bunga cantik yang Minji ingin beli seluruhnya dan diberikan pada Hanni. Sedikit lebay, but who cares, let a girl fall in love.
Hampir menghabiskan kira-kira tiga jam di toko indah ini, Minji keluar dengan buket bunga yang akhirnya berhasil ia putuskan dengan bantuan kakak florist di dalam.
Semoga saja Hanni suka.
Dikarenakan uang tabungan valentinenya masih cukup banyak, Minji mengayuh sepeda ke supermarket terdekat. Tangannya meraih beberapa cokelat putih kesukaan Hanni dan satu kartu untuk menulis surat.
Tepat jam 8 malam, Minji memarkirkan sepeda kesayangannya di lahan parkir apartemen Hanni dan masuk, menyapa satpam yang sudah ia kenal dan mengambil lift untuk pergi ke lantai 5.
Perjalanan menuju apartemen milik Hanni diisi dengan pikiran berisik tentang apakah Hanni akan menyukai hadiahnya yang tidak seberapa ini? Minji menggerutu, kembali menyalahkan diri sendiri, takut tidak menjadi pacar yang pantas untuk Hanni. Pikiran ribut itu kembali bergejolak saat ia tiba di depan pintu milik Hanni yang tertutup rapat.
Di tahun keduanya menjalankan hubungan, Kim Minji masih merasa belum pantas.
Suara bel berdering terdengar dari dalam, dan beberapa saat kemudian pintu terbuka, menampilkan Hanni yang, masih cantik tentu saja, menggunakan celemek kesayangannya yang bertabur cokelat berantakan.
"Sumpah kenapa gak ngechat aku dulu Minjii? Kuenya baru masuk oven..."
Minji terkekeh, mengulum senyum dan menyodorkan buket bunga yang ia jaga selama perjalanan ke sini.
"Happy Valentine's day, Hanni."
Reaksi Hanni tepat seperti yang Minji duga, senang. Dan lucu. Ekspresi bahagia saat menerima buket berisi mawar merah dipadukan dengan tulip itu sangat cocok di wajah cantiknya.
"This smells great, tapi kamu masuk dulu."
Apartemen ini sudah seperti rumah keduanya, yang jelas lebih nyaman digunakan untuk istirahat dibanding kamar kosnya sendiri. Terkadang Minji juga lupa waktu dan tertidur pulas di sofa ini hingga dini hari.
Jadi sekarang, Minji memilih duduk di karpet. Hanni yang melihat itu terheran, sofa seluas itu dan Minji malah memilih duduk di karpet?
"Di sofa aja, Minji. Karpetnya banyak debu nanti kamu sakit."
"Nanti aku ketiduran."
"...Ya gapapa?" apron telah dilepas, Hanni bergabung dengannya di bawah, bertukar tatap dengan Minji. "Ada yang ganggu pikiran kamu hari ini?"
Pertanyaan itu tidak ingin Minji dengar, tidak di hari valentine yang hanya terjadi satu tahun sekali. Ini salahnya karena terlihat banyak pikiran dan berakhir membuat Hanninya panik.
But still, they're not kids anymore.
"It feels kinda weird, knowing the fact that I have you in my arm while still being not good enough myself," Minji memberi tatapan pada Hanni yang mendekat, "I still feel like you deserve someone better Hanni."
"Did somebody told you that?"
"Nggak ada kok, cuma pikiranku dari tadi ribut sendiri," jawaban Minji pelan, hanya cukup terdengar oleh Hanni. "Maaf ya kamu dapetnya yang kayak aku—"
Terpotong, kini Minji dipaksa menatap Hanni lurus dengan dua tangan lembut itu menangkup wajahnya. Ekspresi serius itu masih lucu, cantik. Mata bulat bak rusa seakan menenggelamkan Minji pada tatapannya, tidak bergeming selama beberapa detik.
"Kamu masih inget kan kamu bilang apa pas pertama kali aku nerima kamu jadi pacar aku?"
"Inget..."
"Apa?"
"Aku percaya sama semua pilihan kamu."
"Kamu percaya pilihanku karena apa?"
"Karena kamu pasti tau yang terbaik buat diri kamu sendiri..."
"Exactly," senyuman semanis madu itu kembali tertoreh, menepuk pipi Minji pelan tanpa melepas tangkupan di wajahnya.
"Aku milih kamu karena aku percaya kamu bakal jadi pilihan terbaik, Minji. Aku tau aku deserve orang yang kayak gimana, aku tau pilihanku sendiri dan buat diriku sendiri ke depannya bakal gimana. Kalo kamu lagi capek berantem sama pikiran kamu sendiri, aku ada buat nerima semua pikiran kamu jadi jangan disimpen sendiri. And no, kamu gak perlu, gak boleh minta maaf karena udah jadi pacar aku. Kamu gak tau aku sering bangga-banggain kamu di kampus? Pacarku cantik, keren, jago main basket, wangi. I deserve you. Kalo kamu masih sering ngerasa belum pantes, kita masih bisa perbaiki diri bareng-bareng. Jadi, jangan suka nyalahin diri sendiri ya, Minji? Nanti aku nangis."
Minji benar-benar bersyukur sudah berlari 10 blok waktu itu.
Seakan paham hanya dengan perubahan ekspresi wajah Minji, Hanni tersenyum dan bergerak merogoh saku jaketnya, mengekuarkan sebuah lipstik.
"Happy Valentine's day, Minji," Hanni membuka lipstik tersebut, memperlihatkan sebuah cokelat berbentuk lipstik yang membuatnya terkekeh. "Aku tadi malem bikin ini. Mau aku pakein ga?"
Astaga, siapa yang berani menolak senyuman itu?
Anggukan pelan Minji lakukan, bersamaan dengan torehan cokelat di bibir bagian bawahnya. Rasa manis dapat ia rasakan berasal dari cokelat berbentuk aneh tersebut sebelum bibir Hanni menyapa miliknya, memberi kecupan tipis tiba-tiba yang membuat Minji membeku.
"I love you so much."
Kim Minji benar-benar bersyukur sudah berlari 10 blok saat itu.
"I love you more, Hanni."
