Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-14
Words:
1,209
Chapters:
1/1
Comments:
16
Kudos:
403
Bookmarks:
12
Hits:
6,396

Malam Ini Keonho Ambil Alih Kemudi Semesta

Summary:

Persetan kata dunia, selama kamu dalam pelukku mereka tak punya hak bicara.

Work Text:

Riuh suara mereka ketika Seonghyeon tuntun Keonho masuk ke ruang yang sudah didandani sedemikian rupa untuk sambut ulang tahun Keonho. Seluruh ruangan didekorasi wajah Keonho, kue yang tampilannya sungguh absurd—pasti hasil karya keempat temannya itu. Martin jadi yang pertama untuk jabat tangannya dan menarik Keonho dalam pelukan. Ditepuknya punggung Keonho erat sebelum dilepasnya dan ucapkan selamat ulang tahun dengan senyum lebar.

Seonghyeon amati cengkrama Keonho dengan James dari belakang, senyum tak hilang dari bibirnya. Dirangkulnya Keonho dan dibawanya untuk duduk di sofa. Keonho pandangi kawannya satu persatu, matanya berbinar dan senyumnya lebar sekali. Hatinya hangat dan tak pernah sepenuh ini. Tangan Keonho rangkul erat pundak Seonghyeon.

Dinyanyikannya selamat ulang tahun dan tiup lilin oleh mereka. Ketika lilin mati, yang pertama kali raupkan wajah Keonho dengan kue adalah Seonghyeon. Keonho memejam matanya pasrah, senyum masih sama lebarnya. Seonghyeon mengolesi setiap jengkal wajahnya dengan krim. Dibelakang, terdengar sorakan dari James, Martin dan Juhoon.

Seonghyeon terkikik melihat hasil karyanya. Seluruh wajah Keonho tertutup krim kue kehijauan. Keonho melirik, alisnya turun main main. Pura-pura marah.

“Tanggung jawab Seonghyeon kamu bikin wajahku kotor,”

Seonghyeon naikkan alisnya sebelah, menantang, “Mau aku jilatin wajahmu sampai kinclong, ha?”

Martin tepuk punggung Seonghyeon yang sudah menarik wajah Keonho dekati wajahnya dengan tangannya yang penuh krim. Lidahnya terjulur siap jilati wajah Keonho sampai bersih. Keonho merinding ketika ia rasakan lidah Seonghyeon di pipinya, jilati dan hisap pipi kanan dan kirinya sampai bersih. Lidah Seonghyeon dengan lihai sapu krim yang ada di dahi dan hidung Keonho.

Seonghyeon jilat tangannya sendiri ketika dirasanya tak lagi ada krim yang bisa disapu lidahnya, “Udah puas kamu sekarang?”

James berseru kencang dan bertepuk tangan heboh. Keonho tersenyum miring, matanya mengerling nakal pada Seonghyeon.

 

 

“Harusnya kita bawa alkohol,” celetuk Keonho ditengah keributan Martin dan Juhoon rebutan brownies. Martin tolehkan kepalanya, tangan menoyor kepala Keonho.

“Gaya banget kamu baru juga 17 begayaan alkohol alkohol. James minum alkohol aja belom boleh,”

Mereka tergelak bersama. James tuangkan air dari jug di gelas sloki dan dibagikannya satu satu kepada seluruh temannya. Diangkatnya sloki itu diudara,

Cheers untuk Keonho mahadashyat ke 17,”

 

Seonghyeon yang daritadi tak lepas dari rangkul Keonho, sepenuhnya sadar kalau tatapan Keonho tak lepas dari dirinya. Seonghyeon bisa rasakan Keonho yang condongkan kepalanya kearah Seonghyeon, dekati telinganya. Seonghyeon mencari cari pandangan, apapun yang bisa ditengoknya. Martin dan James yang sedang joget reggae. Digulirkannya pandangan kearah Juhoon diujung sofa yang pandangi Seonghyeon penuh makna. Bibir Juhoon menarik senyum miring, disisipnya air didalam sloki yang James edarkan tadi—seolah itu adalah alkohol.

Keonho berbisik tepat disebelah kuping Seonghyeon, nafas hangatnya sapu cuping telinga Seonghyeon, gerak bibirnya terasa jelas padahal tak menempel,

“Enggak perlu alkohol untuk cium kamu sampai mampus malam ini,”

Perlahan Seonghyeon gulirkan pandangan, tatap Keonho lebar lebar. Keonho rebahkan punggungnya disofa, seperti tak terjadi apapun. Tangan masih rangkul Seonghyeon, Keonho ikut Martin dan James nyanyikan lagu Bon Jovi.

 

 

Malam semakin larut, James dan Martin sudah kehabisan tenaga, kini terkapar diatas sofa. James sandarkan dirinya di bahu Juhoon, sedangkan Martin nyamankan kepalanya di paha Juhoon. Mereka bertiga telah sama sama singgah ke alam mimpi, sisakan Keonho dan Seonghyeon yang terkurung dalam tekanan.

Keonho tarik wajah Seonghyeon, membelainya. Keonho tersenyum lima jari. Setiap lirikan matanya pada Seonghyeon tinggalkan bekas panas pada diri Seonghyeon. Jantungnya berdebar, Seonghyeon remas lengan Keonho, mengelusnya.

Keonho senggol dahi Seonghyeon dengan dahinya, bisik suaranya kental dengan rasa kagum seolah siap hujani puji-puji untuk Seonghyeon malam ini, “Malam ini kamu cantik banget, Seonghyeon. Sengaja ya buat Aku susah menahan diri,”

Seonghyeon mengerling jenaka balas tatapan Keonho, senyum merekah di bibirnya, “Aku mah emang cantik terus, nggak sih?”

Keonho keluarkan kekehan sambil tarik Seonghyeon dalam ciuman. Seonghyeon serahkan dirinya sepenuhnya pada ciuman Keonho, meleleh pada setiap pagutannya. Keonho gigit bibir bawah Seonghyeon menariknya, menghisapnya. Seonghyeon berdebar kencang, ketiga temanya dibelakang dapat sewaktu waktu bangun dan langsung saksikan adu mulut Keonho dan Seonghyeon.

Tak mau lepaskan ciuman, Seonghyeon tarik Keonho berdiri dan menuntunnya masuk ke kamar. Tangan Keonho sibuk gerayangi dada Seonghyeon ketika tangan Seonghyeon susah payah buka dan tutup pintu. Ciuman Keonho berpindah menuju leher Seonghyeon. Patah patah desahan Seonghyeon keluar, kepalanya direbahkan kebelakang—pamerkan lehernya sepenuhnya pada Keonho. Disambutnya leher Seonghyeon dengan gigitan kecil Keonho. Diambilnya sedikit kulit leher Seonghyeon, digigit, dihisap, dipilin dengan giginya sampai merah.

“Keonho..ah- nanti kelihatan.. ngh,”

Peduli setan. Peduli setan tapi Seonghyeon pegang tangan Keonho yang remas bahunya dan berbisik,

“Keonho.. jangan—”

Keonho langsung tarik tubuhnya menjauh, Seonghyeon sambar kerah Keonho mencegahnya menjauh. Tubuh mereka menempel erat, Seonghyeon tatap Keonho penuh ingin.

Suara Seonghyeon hilang di akhir bisikan, “Jangan berhenti,”

Keonho bergetar, merinding turun selimuti punggungnya. Jantungnya pompa darah lebih kencang, berdetak lebih keras. Keonho bisa rasakan darahnya mengalir diseluruh tubuhnya. Matanya terbuka lebar, terbelalak. Bibirnya tersungging pamerkan senyum miring. Luar biasa sekali, Seonghyeon.

“Wah, nantangin ya kamu, Seonghyeon,”

 

Keonho lahap bibir Seonghyeon yang belum sempat selesaikan kata katanya. Bibir Seonghyeon terselip sempurna di bibir Keonho. Saling hisap dan saling tarik bibir mereka, Seonghyeon loloskan kembali desah tertahan. Didorongnya Keonho duduk diatas kasur dan diposisikannya duduk dipangkuan Keonho. Tangan Keonho menyusup masuk kedalam kaus Seonghyeon, sapu dada dan perutnya. Bibir mereka semakin dalam satu sama lain, dan tangan Keonho semakin bersemangat uleni dada Seonghyeon. Ibu jarinya sapu putting tegak Seonghyeon, dijepit dan dicubit sampai Seonghyeon mendesah diantara ciumnya.

“Ahh.. Keonho—mmh…”

Seonghyeon hentikan ciuman dan gigit bibir bawahnya untuk cegah suara keluar. Tangan Keonho tangkup pipi Seonghyeon dan ibu jarinya memohon untuk Seonghyeon lepas bibir bawahnya. Keonho buka mulut Seonghyeon dengan sisipkan ibu jarinya, menekan mulut Seonghyeon terbuka,

“Jangan ditahan, cantik. Nggak akan ada yang dengar kamu selain aku,”

Keonho hisap Jakun Seonghyeon sampai satu desahan kencang keluar dari bibir Seonghyeon.

 

Keonho masih sibuk cumbu bibir Seonghyeon sampai habis nafasnya. Bibir Seonghyeon sudah bengkak, kehabisan nafas, dan Keonho masih sibuk rebuti nafas Seonghyeon. Tangannya masih sibuk gerayangi dada dan punggung Seonghyeon sampai Seonghyeon dorong Keonho rebah di kasur. Kali ini giliran Seonghyeon yang sapu bibirnya turun ke leher Keonho, memberi hisap balasan. Kali ini giliran tangan Seonghyeon yang lancang masuki kaus Keonho, mengelus perutnya. Keonho memejamkan mata, nikmati sentuhan tangan hangat Seonghyeon. Cium Seonghyeon turun ke dada Keonho yang masih dilapis kaus. Dibenamkan kepalanya pada dada Keonho, hirup wangi Keonho rakus. Seonghyeon sibak kaus Keonho, pamerkan perutnya. Diciumnya perut Keonho sampai Keonho kegelian.

Seonghyeon gigiti perut Keonho gemas. Direbahkan kepalanya diatas perut Keonho, dengarkan bunyi gerak perutnya. Tangan Keonho belai rambut Seonghyeon, mengelusnya. Diangkatnya kepala Seonghyeon dan dituntunnya naik kembali pada ciuman.

Dengan nafas terengah, susah payah Seonghyeon buat dirinya bicara, “Keonho… udah… ciumannya… habis nafas aku… huu…”

Kepala Seonghyeon pusing, berputar setiap kali Keonho sesapi bibirnya. Setiap kali lidah Keonho sapu bibir atasnya, dan jilati isi mulutnya, kesadaran Seonghyeon ikut tersedot. Pening, Seonghyeon rasakan dunia berputar dalam setiap kecupan Keonho.

Keonho tersenyum, kedua tangannya tekan pipi Seonghyeon, “Tadi katanya mau dicium sampai mampus?”

 

 

 

Keonho rasakan berat tubuh Seonghyeon selimuti dirinya. Seonghyeon sepenuhnya taruh berat tubuhnya diatas Keonho, kepalanya ikut naik turun dada Keonho,

“Keonho, Aku mau dikelonin,”

Seonghyeon bergeser dari atas Keonho, menghamburkan dirinya di ceruk leher Keonho.

“Yang ulang tahun tuh, Aku atau kamu sih?” Keonho bertanya gemas, lengannya tarik Seonghyeon lebih erat dalam pelukan. Keonho rasakan tenggorokan Seonghyeon bergetar setiap kali ia tanggapi kata-kata Keonho dengan, “hmmm, hmmmm,”

“Kan’ kelonan ini hadiah buat kamu,”

Keonho tertawa, benamkan wajahnya di rambut Seonghyeon. Malam ini, Seonghyeon milik Keonho.