Work Text:
Tiada kukenal senja selain matamu
Tidak pula salju dapat terlihat seindah helai rambutmu
Sejak aku kehilangan engkau hari itu
Warna-warni menguap dari pandangku
Semua
Abu-abu
Hujan. Jiyan berkedip.
Tetes-tetes air jatuh. Bukan ke tanah melainkan langit. Basahnya selalu terasa asing meski telah Jiyan alami berkali-kali, dan itu mengganggunya. Sebuah peringatan untuk menepi disebar lewat pangu terminal. Hati-hati.
Kembali ke posisi awal dan berteduh, adalah apa yang dipikirkan sang jenderal saat kakinya bersusulan, terburu-buru. Dia harus memastikan taruna-taruni yang hari ini berlatih di luar dapat kembali dengan aman, sebelum mereka terjangkit halusinasi yang disebabkan hujan penyimpangan ini.
Suara-suara ratap merayapi tengkuknya.
'Mereka' tiba.
Jiyan mempercepat langkah. Setidaknya sampai matanya menyadari seseorang duduk bersandar di kursi panjang pinggir jalan. Siapa—
Rambut putih. Bekas luka. Manik emas yang sama terkahir kali ia melihatnya.
"Jiyan," Orang itu melambai dengan senyum tak lazim di wajahnya. "Selamat hari kasih sayang." Tambahnya ringan.
Geshu Lin?
Jiyan tidak bisa tidak melangkah lebih dekat. Diperhatikan oleh dia napas lelaki di hadapannya. Cukup lama. Ia tersenyum hambar, menghela napas pendek sebelum merespon. "Apa ini, tiba-tiba?"
Geshu Lin menjawab dengan pertanyaan. "Memang harinya, kan?"
Jiyan terkekeh. "Kau tidak terlihat cocok dengan hal-hal seperti itu, jadi kupikir kau tidak peduli dengan hari kasih sayang."
"Jahatnya." Geshu Lin berdiri. Gelak mengalir pelan dan bebas dari ia yang tampak tanpa beban. Seolah-olah dia bukan Geshu Lin yang selalu memasang wajah keras dan letih. Atau memang bukan.
Tangan Geshu Lin terulur seolah mengajak untuk melakukan sesuatu, menunggu Jiyan bereaksi. Entah apa. Melihat alis Jiyan bertaut pula ia berbaik hati menjelaskan.
"Aku tahu kau tak menyiapkan cokelat untukku. Sebagai gantinya temani aku berdansa."
Sungguh itu adalah ajakan konyol yang tak masuk akal. Dansa? Di tengah hujan begini? Mestinya Jiyan tertawa dan mengatai Geshu Lin gila. Namun ia tak mendapati penolakan dalam dirinya, sehingga ia menerima uluran tangan itu.
"Aku tidak tahu kau orang yang cukup sentimental, Jenderal."
"Hei, setidaknya sebut aku romantis."
Jiyan tertawa pelan. "Haruskah?"
Gema suara jalanan bergerak menjauh darimu
Aku tepat di hadapanmu, menyentuhmu
Jika ini cuma mimpi
Jangan bangunkan aku
Ia merasai dingin di ujung jemari.
Apakah karena hujan? Jiyan mengira-ngira, padahal jawabannya jelas bukan hanya itu.
Tangan Geshu Lin juga terasa cukup dingin.
Setidaknya dia nyata—
Tidak?
Ah.
Jiyan mendapati dirinya tenggelam lagi di hujan penyimpangan ini.
"Jenderal,"
Geshu Lin menyahut lembut. "Hmm?"
"Kapan kau akan kembali?"
Di detik selanjutnya tahu-tahu Geshu Lin menyerpih, menguap serupa tetes-tetes air yang melayang menuju langit.
Jiyan membisu.
Kenangan, oh, kenangan!
Jangan kau koyak rinduku yang lebam
Kasihani kasihku yang masih luka
Oleh duka semalam! []
