Actions

Work Header

Distance

Summary:

Rangga dan Borne telah lama menjalin hubungan, saling mengisi dan memberi dukungan dalam romansa yang dulu terasa ringan. Namun waktu mengubah cara mereka mencintai. Borne semakin takut kehilangan, sementara Rangga diam-diam merasa sesak oleh tuntutan untuk selalu menjadi penopang. Di antara mimpi yang mulai berbeda arah, cinta mereka diuji oleh ketidakseimbangan yang tak lagi bisa diabaikan.

Notes:

hi hi xixixi(≧▽≦)

honestly, im not even sure what i just wrote—hope you enjoy it. and just to be clear, this is purely a work of fiction.

maaf kalo ada typo guys, semoga suka ya, happy reading♡♡♡

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Cahaya matahari pukul enam pagi selalu memiliki cara yang sinis untuk membangunkan Rangga. Sinar itu menerobos celah gorden tipis yang sudah kehilangan warna aslinya, jatuh tepat di wajahnya, memaksa matanya terbuka pada kenyataan yang belakangan ini, terasa jauh lebih melelahkan daripada mimpi buruk mana pun. Di sampingnya, Borne masih terlelap. Napasnya teratur, dadanya naik-turun dengan irama lambat yang dulu pernah menjadi satu-satunya suara yang bisa menenangkan Rangga. Dulu, suara napas itu adalah jaminan bahwa ia tidak sendirian di kota asing ini. Dulu, melihat punggung Borne yang meringkuk di balik selimut tebal adalah pemandangan yang mendefinisikan kata pulang.

Namun pagi ini, seperti banyak pagi lain di semester terakhir mereka, pemandangan itu tidak memunculkan apa-apa. Rangga hanya memandang punggung Borne tanpa keinginan untuk menyentuhnya. Tangannya tetap diam di atas seprai. Ia tidak merasa ingin meraih bahu itu atau merapikan rambut yang kini sudah tumbuh hingga menutupi telinga. Bahkan perasaan sederhana—lega karena bangun di samping orang yang sama—tidak datang. Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang tak jelas, membuatnya sulit menarik napas panjang. Ia berbaring beberapa detik lebih lama, seolah kasur yang ia tempati menahannya untuk tetap diam.

​Rangga bangkit perlahan, sangat berhati-hati agar per di kasur tua itu tidak berderit dan membangunkan lelakinya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kakinya sendiri yang menggantung di atas lantai ubin yang dingin. Di sudut kamar, tumpukan buku diktat dan draf skripsi tersusun rapi di atas meja belajar. Sekarang hidupnya berkisar pada meja itu—buku-buku, catatan, revisi yang nyaris selesai. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Nilainya tinggi, dosen-dosen memujinya, dan namanya hampir pasti disebut saat wisuda nanti sebagai mahasiswa berprestasi. Dari luar, tidak ada yang salah. Namun di kamar kos berukuran tiga kali empat meter ini, semua itu terasa jauh dari dirinya sendiri. Di ruang sesempit ini, ia bukan mahasiswa berprestasi. Ia hanya seseorang yang diam-diam memikirkan cara untuk pergi tanpa perlu menjelaskan terlalu banyak.

​Hubungan mereka dimulai dengan kesederhanaan yang naif. Dua anak laki-laki yang baru lulus sekolah menengah, membawa koper besar berisi pakaian dan harapan orang tua, berjanji untuk menaklukkan kota ini bersama-sama. Mereka adalah jangkar bagi satu sama lain di tengah arus pergaulan kampus yang deras. Mereka berbagi segalanya: mi instan di akhir bulan, keluhan tentang dosen yang sentimen, hingga ketakutan-ketakutan kecil tentang masa depan. Namun, seiring berjalannya waktu, Rangga menyadari bahwa jangkar itu kini telah beralih fungsi. Ia tidak lagi menahan mereka agar tidak hanyut, melainkan menahan Rangga untuk tidak bisa bergerak ke mana pun.

​Ia berdiri, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai. Air dingin yang membasuh wajahnya tidak cukup untuk membilas rasa bersalah yang mengendap di pori-porinya. Ia tahu Borne mencintainya. Cinta itu begitu besar, begitu tulus, dan justru karena itulah cinta tersebut terasa mencekik. Borne mencintainya dengan cara seseorang yang sedang tenggelam memeluk satu-satunya papan kayu yang terapung di lautan. Putus asa, begitu erat, dan mematikan.

​Ketika Rangga keluar dari kamar mandi, Borne sudah duduk di tepi tempat tidur. Matanya yang bengkak mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya, rambutnya mencuat ke segala arah. Ada kerentanan di wajah itu yang membuat dada Rangga nyeri.

​“Lo udah rapi?” tanya Borne, suaranya serak khas bangun tidur. Ada nada tuduhan yang halus di sana, seolah-olah fakta bahwa Rangga sudah siap menghadapi hari sementara dia belum adalah sebuah pengkhianatan kecil.

​Rangga mengangguk sambil mengambil kemejanya dari gantungan. “Saya ada bimbingan jam delapan. Prof. Haryono tidak suka mahasiswa yang telat.”

​Borne mendengus pelan, lalu menjatuhkan tubuhnya kembali ke kasur, menarik selimut sampai sebatas dagu. Matanya mengikuti setiap gerakan Rangga yang sedang mengancingkan kemeja.

​“Kok bimbingan lagi? Bukannya draf lo udah mau beres?”

​“Revisi bab empat. Ada data yang harus diperbaiki,” jawab Rangga, tanpa menoleh. Kebohongan itu keluar begitu saja, bukan karena ia benar-benar berbohong tentang bimbingannya, tetapi karena ia menyembunyikan fakta bahwa ia sebenarnya sengaja mencari kesibukan agar tidak perlu berlama-lama di kamar ini.

​“Enak ya jadi lo,“ gumam Borne, suaranya teredam bantal. “Semuanya lancar. Jalan lo mulus. Sementara gua masih sibuk samam bab dua yang nggak kelar-kelar. Dosen gua minta ganti topik lagi kemaren.”

​Rangga menghela napas panjang, jarinya berhenti sejenak di kancing terakhir. Ia sudah hafal arah percakapan ini. Segalanya akan bermuara pada Borne yang meratapi nasib, membandingkan dirinya dengan Rangga, dan akhirnya meminta validasi bahwa ia tidak sebodoh yang ia pikirkan.

​“Kau hanya perlu fokus, Bor. Jangan terlalu sering mengganti judul. Kerjakan apa yang ada.” kata Rangga, nadanya datar, tanpa emosi yang cukup untuk disebut memberi semangat.

​“Ngomong sih gampang. Lo pintar, Rangga. Lo nggak akan ngerti rasanya jadi rata-rata. Lo gak akan tau gimana takutnya nanti pas wisuda, cuman lo yang pake toga sementara gua masih jadi mahasiswa di sini.”

​Kalimat itu meluncur seperti anak panah yang sudah tumpul namun tetap menyakitkan karena ditembakkan berulang kali ke titik yang sama. Rangga berbalik, menatap Borne yang kini menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Ada masa di mana Rangga akan segera duduk di sampingnya, memeluknya, dan membisikkan kata-kata manis bahwa mereka akan sukses bersama. Bahwa Borne lebih dari sekadar nilai akademisnya. Tapi pagi ini, rasa empati dalam diri Rangga seolah enggan dibentuk.

​“Saya berangkat,” kata Rangga singkat, meraih tas punggungnya.

​“Rangga,” panggil Borne, nadanya berubah sedikit panik, menyadari perubahan nada bicara Rangga. “Tunggu.”

​Rangga berhenti di ambang pintu, tangannya mencengkeram gagang pintu besi yang dingin. “Apa?“

​“Nanti pulang jam berapa?”

​“Belum tahu. Mungkin sore. Atau malam. Saya mau di perpustakaan dulu.”

​“Makan malam bareng, kan?”

​Pertanyaan itu terdengar seperti permohonan. Rangga bisa merasakan jaring-jaring ketergantungan Borne mulai terlempar ke arahnya, mencoba mengikat kakinya agar tidak melangkah terlalu jauh.

​“Lihat nanti,” jawab Rangga, lalu menutup pintu sebelum Borne sempat mengatakan apa-apa lagi.

​Di balik pintu kayu yang tertutup itu, Rangga bersandar sejenak, memejamkan mata. Jarak fisik sudah tercipta, ia sudah berada di koridor kos yang sepi, tetapi jarak emosional yang ia butuhkan masih terasa mustahil untuk dicapai. Ia berjalan menjauh, langkah kakinya menggema di lorong, meninggalkan Borne yang mungkin kini sedang memeluk guling yang masih menyimpan aroma tubuh Rangga, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.

 


 

Perpustakaan kampus adalah tempat persembunyian yang sempurna. Di antara deretan rak buku yang menjulang tinggi dan hawa sejuk yang menenangkan, Rangga bisa menjadi siapa saja selain kekasih Borne. Ia memilih meja di sudut paling belakang, tempat yang jarang dijamah mahasiswa lain kecuali mereka yang benar-benar ingin menghilang. Di hadapannya, laptop menyala menampilkan dokumen skripsi yang hampir rampung, tetapi pikirannya melayang jauh melewati layar tersebut.

Prestasi akademis Rangga memang cemerlang. Ia adalah mahasiswa yang selalu duduk di barisan depan, yang catatannya selalu dipinjam satu angkatan, yang namanya disebut-sebut dosen sebagai standar keberhasilan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik itu semua, Rangga merasa kosong. Ia mengerjakan segalanya bukan karena gairah atau mimpi, melainkan karena kebiasaan yang mau tidak mau harus Rangga lakukan. Ia bergerak karena ia tidak tahu cara berhenti. Dan di tengah kekosongan arah hidupnya sendiri, beban emosional Borne menjadi pemberat yang membuatnya semakin tenggelam.

Rangga mengetik satu paragraf, lalu menghapusnya lagi. Kursor berkedip-kedip mengejek ketidakmampuannya untuk fokus. Ponselnya yang tergeletak di meja bergetar. Satu pesan masuk dari Borne.

Semangat bimbingannya, Sayang. Jangan lupa makan siang. Maaf tadi pagi aku ngeluh lagi.

Rangga menatap layar itu lama sekali. Kata Sayang di sana terasa asing, seperti bahasa dari peradaban yang sudah punah. Ia tahu Borne mengetik itu dengan perasaan bersalah. Pola itu sudah terlalu akrab bagi Rangga. Borne akan mulai dengan merasa dirinya tidak cukup, lalu suaranya meninggi, meminta diyakinkan, kadang menyalahkan keadaan. Tak lama setelah itu, rasa takutnya muncul—takut ditinggal, takut kalah cepat—dan ia berubah jadi lembut, mengirim pesan manis, bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa. Rangga sudah bisa menebak urutannya bahkan sebelum semuanya selesai. Dan ia lelah. Letih harus selalu siap menjadi penenang, payah berpura-pura hangat ketika yang ia rasakan justru sebaliknya.

Ia meletakkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah, memilih untuk tidak membalas. Biarlah keheningan menjadi jawabannya. Mungkin, pikir Rangga dengan kejam, jika ia cukup lama diam, Borne akan mengerti dengan sendirinya.

Siang merambat lambat. Cahaya matahari bergeser, menciptakan bayangan panjang di lantai perpustakaan. Sekitar pukul dua siang, Rangga melihat sosok yang ia kenal masuk ke area baca. Borne. Tentu saja dia datang. Borne selalu tahu di mana menemukan Rangga. Lelaki itu berjalan dengan bahu yang sedikit membungkuk, matanya menyapu ruangan dengan gelisah sampai ia menemukan Rangga di sudut. Wajahnya langsung cerah, sebuah senyum lega terbit di bibirnya yang pucat, seolah menemukan Rangga di sana adalah bukti bahwa dunia belum kiamat.

Borne menghampiri meja itu, menarik kursi di hadapan Rangga tanpa bertanya. Ia meletakkan tumpukan buku referensi dengan bunyi gedebuk pelan.

“Ternyata di sini. Aku chat nggak dibalas, kirain masih sama Prof. Haryono,” kata Borne, mencoba terdengar ceria, meskipun matanya menyelidik wajah Rangga, mencari tanda-tanda kemarahan.

“Ponsel saya di dnd.” jawab Rangga dusta, matanya tidak Lepas dari layar laptop. “Kenapa ke sini?“

“Mau ngerjain bab dua. Lo kan yang bila kalo gua harus fokus? Ya udah gua mau ngerjain di deket lo biar ketularan pinter.” Borne tertawa kecil, tawa yang terdengar dipaksakan dan bisa dirasakan sedikit kerapuhan.

Rangga hanya mengangguk pelan. Ia bisa merasakan tatapan Borne padanya. Borne tidak sedang membaca buku. Ia sedang membaca Rangga. Ia sedang memindai setiap kerutan di dahi Rangga, setiap helaan napas, setiap gerakan jari di atas keyboard. Borne sedang mencari kepastian bahwa Rangga masih miliknya.

Keheningan di antara mereka terasa tebal. Biasanya, mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan dalam diam yang nyaman, masing-masing tenggelam dalam dunianya sendiri namun tetap terhubung. Sekarang, diam itu penuh dengan ranjau. Setiap menit yang berlalu tanpa percakapan terasa seperti hitungan mundur menuju ledakan.

“Ga,” panggil Borne tiba-tiba, suaranya memecah konsentrasi Rangga yang sebenarnya memang sudah buyar.

Rangga menoleh, menahan desah napas frustrasi. “Ya?”

Borne memainkan ujung bukunya, matanya tidak berani menatap langsung ke mata Rangga. “Menurut lo... gua bisa lulus tahun ini nggak?”

Pertanyaan itu lagi. Pertanyaan yang sama yang sudah diajukan ratusan kali dalam berbagai variasi kalimat. Pertanyaan yang bukan meminta prediksi logis, melainkan meminta sebuah kalimat yang memberikan ketenangan.

“Bisa, kalau kamu kerjakan.” jawab Rangga tegas.

“Tapi gua ngerasa bego banget, Ga. Ini gua lagi baca jurnal, dan gak paham sama sekali. Rasanya kek kepala gua ini buntu banget buat mikir. Beda sama lo. Lo baca sekali langsung paham intinya. Lah, gua… gua takut ketinggalan.”

“Setiap orang punya waktunya sendiri, Borne.”

Nonsense banget dah. Lo ngomong gitu karena lo udah ada di depan. Coba kalo lo ada di posisi gua, pasti lo juga bakalan panik.” Borne menatap Rangga sekarang, urat-urat di pelipisnya tercetak jelas. “Lo gak akan ninggalin gua kan kalo lo lulus duluan?”

Inilah inti masalahnya. Ketakutan itu. Rasa tidak aman yang menggerogoti Borne dari dalam dan membuatnya menjadi parasit emosional. Rangga memandangnya lama. Wajah yang dulu begitu mudah membuatnya luluh kini terasa jauh, seperti kenangan yang diputar ulang tanpa suara. Ia sadar ia tak punya jawaban yang jujur untuk pertanyaan itu.

Di dalam kepalanya, ia sudah beberapa langkah lebih dulu. Ia sudah membayangkan wisuda tanpa Borne di sampingnya, sudah membayangkan kota lain, kamar lain, hidup yang tidak harus ia jelaskan pada siapa pun. Lulus lebih cepat terasa seperti pintu keluar yang sah—alasan yang tidak perlu diperdebatkan. Tapi mengatakan itu sekarang hanya akan meruntuhkan semuanya, dan ia belum siap menghadapi reruntuhannya.

“Kenapa berpikir seperti itu?” elak Rangga, suaranya terdengar lelah.

“Jawab aja, Ga. Susah banget tinggal bilang enggak akan.”

“Borne, ini perpustakaan. Kecilkan suaramu.”

“Lo selalu gini. Ngalihin topik. Apa susahnya ngeyakinin pacar sendiri?” desak Borne, suaranya bergetar menahan tangis dan marah. Rasa rendah dirinya mengubahnya menjadi sosok yang agresif, yang menyerang sebelum diserang, yang menuduh sebelum dituduh.

Rangga menutup laptopnya dengan kasar. Suara timbul dari layar yang bertemu keyboard membuat beberapa orang di meja sebelah menoleh. Rangga menatap Borne tajam, tatapan yang jarang ia perlihatkan.

“Dengar, Bor. Saya di sini. Saya duduk di hadapanmu. Saya menemani kamu mengerjakan skripsi. Kurang bukti apa lagi? Jangan membuat masalah yang tidak ada menajdi ada.”

Borne terdiam, menciut di bawah tatapan itu. Bahunya merosot, dan seketika ia tampak begitu kecil dan menyedihkan. Rasa bersalah kembali menghantam Rangga, tapi kali ini bercampur dengan kejengkelan yang luar biasa. Ia benci situasi ini. Ia benci menjadi orang jahat. Ia benci bagaimana Borne memaksanya menjadi penopang tunggal bagi kebahagiaannya.

Sorry,” cicit Borne pelan, air mata menetes satu di pipinya. “Gua cuma takut. Gua cuma butuh lo.”

Rangga tidak menjawab. Ia membuka kembali laptopnya, menatap layar yang menyala putih menyakitkan mata. Ia tidak mengulurkan tangan untuk menghapus air mata itu. Ia membiarkannya jatuh, membiarkan jarak di antara mereka melebar sejengkal lagi di atas meja kayu perpustakaan yang dingin itu.

 


 

Malam harinya, hujan turun deras mengguyur kota, seolah langit turut serta untuk mengurung mereka berdua di dalam kamar kos yang sempit itu. Suara air yang menghantam atap seng terdengar gaduh, menenggelamkan suara televisi yang menyala tanpa ada yang menonton. Udara terasa lembap dan dingin, namun di dalam ruangan itu, atmosfer terasa pengap dan menyesakkan.

Rangga duduk bersandar di kepala tempat tidur, sebuah novel terbuka di pangkuannya, tetapi matanya tidak benar-benar mengikuti baris-baris kalimat di sana. Pikirannya melayang, terseret oleh suara hujan yang jatuh bertalu-talu di atap seng kos.

Borne duduk di lantai, bersandar pada kaki ranjang, memeluk lututnya sendiri. Sejak kejadian di perpustakaan tadi siang, ia hampir tidak bersuara. Ia hanya menarik napas panjang lalu mengembuskannya pelan, rahangnya sesekali mengeras seperti sedang menahan sesuatu. 

Jemarinya mencengkeram kain celana di bagian lutut, lalu melepasnya lagi, berulang-ulang. Bahunya tegang, punggungnya keras, dan setiap kali Rangga bergerak sedikit, matanya terangkat seolah ingin berkata sesuatu—namun selalu urung, kembali menunduk, menelan kata-kata yang tak jadi keluar.

Lampu kamar yang remang-remang menciptakan bayangan panjang yang bergerak-gerak di dinding setiap kali petir menyambar. Di sudut kamar, tumpukan baju kotor yang belum sempat dibawa ke binatu terlihat seperti gundukan kegagalan-kegagalan kecil dalam hidup mereka yang semakin menumpuk.

“Lo ingat nggak waktu kita masih maba?” suara Borne memecah kebisuan, pelan namun jelas terdengar di antara gaduh hujan. Ia tidak menoleh ke belakang, tetap menatap dinding kosong di hadapannya.

Rangga menutup bukunya, meletakkannya di samping bantal. “Ingat. Kenapa?”

“Waktu itu kita janji kalau lulus nanti, kita mau backpacking keliling Jawa dulu sebelum cari kerja. Kita bahkan udah nabung di celengan ayam plastik itu.” Borne menunjuk ke atas lemari, tempat celengan ayam berwarna merah yang kini sudah berdebu dan mungkin isinya sudah diambil sedikit demi sedikit untuk keperluan mendesak.

“Itu rencana anak kecil, Bor. Realistis saja, kita butuh uang untuk hidup setelah wisuda,” jawab Rangga datar.

“Bukan soal uangnya, Ga. Soal mimpinya. Soal kita-nya. Kapan terakhir kali kita ngomongin masa depan yang ada kita-nya? Belakangan ini, kalo gua bahas soal kerjaan atau tempat tinggal nanti, lo selalu diem. Atau lo bakalan bilang jalani saja dulu.”

Rangga menghela napas, merasakan dadanya semakin sesak. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Borne sedang mengulik hubungan mereka, mencoba mengingat-ingat apa yang berubah, mencari tanda-tanda bahwa komitmen itu masih ada dan belum benar-benar hilang.ttt

“Saya sedang pusing memikirkan skripsi, Bor. Saya tidak punya kapasitas otak untuk memikirkan hal-hal yang belum terjadi.”

“Atau lo emang nggak mau mikirin itu karena di masa depan lo, nggak ada gua?”

Borne memutar tubuhnya, kini menghadap Rangga sepenuhnya. Wajahnya terlihat lelah, matanya cekung, namun ada api putus asa yang menyala di sana. Ia tidak sedang marah; dirinya sedang memohon untuk disangkal. Borne sedang menyodorkan pisau pada Rangga dan memohon agar sang kekasih tidak menusukkannya.

“Jangan memulai lagi,” kata Rangga, suaranya rendah, penuh peringatan.

“Kenapa? Kenapa gua nggak boleh nanya? Gua ini pacar lo, Ga. Gua berhak tahu. Kenapa lo berubah. Apa sayang salah dari gua. Lo ada di sini, tapi rasanya kaya orang asing yang cuman lagi numpang tidur.”

“Saya tidak berubah. Keadaan yang berubah. Kita makin bertambah umur, beban semakin banyak. Saya tidak bisa terus-menerus menjadi babysitter untuk kehidupanmu, Bor. Saya juga memiliki masalah sendiri. Saya juga bingung dengan hidup saya sendiri. Tapi saya tidak melimpahkannya ke kamu tiap lima menit sekali!”

Ledakan itu menghantam begitu saja. Rangga tidak bermaksud meninggikan suara, tetapi kadung kesabarannya tak bisa lagi terbendung. Kata-kata itu terlontar tajam, menusuk tepat di ulu hati rasa ketidakamanan Borne.

Wajah Borne pucat seketika. Bibirnya bergetar. “Jadi... jadi selama ini gua beban? Lo nganggep diri lo babysitter?”

Rangga memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Ia ingin menarik kembali kata-katanya, ingin mengatakan bahwa bukan itu maksudnya, tetapi sebagian kecil dari hatinya merasa lega karena kebenaran itu akhirnya terucap.

“Bukan begitu maksud saya...” Rangga mencoba meralat, tapi suaranya kehilangan tenaga.

“Emang itu maksud lo, Ga. Mata lo gak pernah bohong. Cara lo ngehela napas tiap gua ngomong juga ngasih tau gitu. Lo capek sama gua? Lo malu punya pacar yang akademiknya pas-pasan? Lo capek karena pacar lo ini nggak selevel sama lo?”

“Ini bukan soal akademik, demi Tuhan!“ sentak Rangga. “Ini soal kamu yang tidak bisa berdiri sendiri! Ini soal kamu yang menggantungkan seluruh harga dirimu ke saya! Itu berat, Borne! Itu berat buat saya!”

Keheningan yang mengikuti teriakan itu terasa memekakkan telinga. Hanya suara hujan yang masih setia mengisi latar belakang, menjadi saksi bisu dari retakan yang kini menganga lebar di tengah ruangan. Borne menatap Rangga dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara sakit hati yang mendalam dan pemahaman yang mengerikan. Ia tidak menangis kali ini. Ia hanya mengangguk pelan, seolah baru saja menerima diagnosis penyakit terminal yang sudah lama ia curigai.

“Oke,” bisik Borne. “Oke. Gua paham.”

“Borne, dengarkan dulu...”

“Nggak perlu, Ga. Lo bener. Gua emang selalu bergantung. Gua kira karena kita pasnagan, harusnya kita berdua saling nopang satu sama lain. Ternyata gua cuman ngegelantung sampe bikin lo capek dan keberatan.” Borne berdiri, mengambil jaketnya yang bergelayut di balik pintu.

“Mau ke mana? Di luar hujan,“ tanya Rangga, refleks rasa perhatiannya muncul sesaat.

“Ke warkop depan. Mau nyebat. Gak usah sok peduli.”

Tanpa menunggu jawaban, Borne keluar. Pintu tertutup dengan bunyi yang pelan namun terasa menghantam kencang. Rangga ditinggalkan sendirian di dalam kamar yang kini terasa terlalu luas, sangat sepi, dan seolah menghakimi. Ia menatap celengan ayam di atas lemari itu lagi. Debu di atasnya tampak semakin rimbun. Mimpi mereka tentang backpacking, tentang menaklukkan dunia bersama, terasa konyol sekarang. Rangga menyadari bahwa yang berubah bukan hanya perasaannya pada Borne. Ia juga seperti tak lagi mengenali dirinya sendiri. Dulu ia bisa bahagia dengan rencana kecil dan janji-janji sederhana. Saat itu mencintai terasa ringan, tidak penuh hitungan. Sekarang segalanya terasa penuh pertimbangan. Dan menyadari perubahan itu justru lebih menyakitkan daripada membayangkan perpisahan itu sendiri.

Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi ketika Borne kembali. Bajunya sedikit basah di bagian bahu, membawa aroma hujan dan asap rokok yang dingin masuk ke dalam kamar. Rangga belum tidur. Ia berbaring miring membelakangi pintu, pura-pura terlelap, tetapi seluruh indranya masih bisa merasakan setiap gerakan Borne.

Ia mendengar suara gemerisik pakaian yang dilepas, suara langkah kaki telanjang di lantai ubin, dan akhirnya, pergerakan kasur yang menurun saat Borne naik ke tempat tidur. Borne berbaring di sisi yang biasa ia tempati, memunggungi Rangga. Ada jarak sekitar beberapa sentimeter di antara punggung mereka—jarak fisik yang sepele, namun malam ini terasa seperti jurang tak berdasar yang memisahkan dua puncak.

Biasanya, jika udara sedingin ini, mereka akan saling mendekat tanpa perlu diminta. Lutut bertemu lutut, tangan mencari tangan di bawah selimut. Dan kedua tubuh saling menyatu menghalau dingin yang menusuk. Tapi malam ini mereka menjaga jarak. Tubuh mereka sama-sama kaku, punggung saling membelakangi, seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi tempat tidur dan sama-sama enggan bergerak lebih dulu.

Rangga menatap tembok di hadapannya yang catnya mulai mengelupas. Dalam kegelapan itu, pikirannya menjadi jelas. Pertengkaran tadi bukanlah akhir. Itu hanya gejala. Apa yang terjadi bukan hanya soal pertengkaran. Seiring waktu, mereka berubah ke arah yang berlainan. Rangga makin sering ingin sendirian, butuh ruang untuk memikirkan dirinya sendiri. Sementara Borne justru makin ingin diyakinkan, ingin digenggam lebih erat. Apa yang dibutuhkan yang satu, terasa menguras yang lain. Pelan-pelan, itu membuat semuanya terasa berat.

Rangga bisa merasakan tubuh Borne bergetar halus. Ia tahu Borne sedang menangis di belakangnya, menahan isak agar tidak terdengar. Dorongan untuk berbalik dan memeluk punggung itu masih ada—sisa-sisa dari kebiasaan empat tahun bersama—tetapi Rangga menahannya sekuat tenaga. Jika ia memeluk Borne sekarang, ia hanya akan memberikan harapan palsu. Ia hanya akan mengulang siklus itu lagi: pertengkaran, rasa bersalah, pelukan, dan kembali ke awal. Itu kejam. Memberi harapan pada sesuatu yang sudah mati adalah bentuk kekejaman tertinggi.

Jadi, Rangga memilih untuk diam. Ia memilih untuk membiarkan Borne menangis sendirian. Ia memilih untuk menjadi penjahat dalam cerita cinta pertama mereka, karena hanya dengan begitu Borne bisa belajar untuk berdiri tanpa berpegangan padanya.

Di luar, hujan sudah reda, menyisakan suara tetesan air dari talang yang jatuh satu-satu ke tanah basah. Iramanya lambat dan konsisten. Seperti detik jam yang menghitung mundur waktu kebersamaan mereka yang tersisa.

Rangga menyadari bahwa perpisahan tidak selalu terjadi dengan teriakan kita putus atau pintu yang dibanting saat hubungan berakhir. Kadang ia datang secara perlahan, seperti malam ini—dua orang masih berbagi kasur yang sama, tapi sudah memikirkan hidup masing-masing. Rangga tahu ia akan segera lulus. Ia mungkin akan pindah kota, mulai dari awal di tempat yang tak mengenalnya. Pikiran itu tidak lagi terasa seperti kemungkinan, melainkan seperti keputusan yang tinggal menunggu waktu. Sedangkan Borne harus menemukan langkahnya sendiri, harus belajar bahwa ia berharga bukan karena siapa pacarnya, tapi karena siapa dirinya.

Besok pagi, mereka akan bangun. Mereka mungkin akan bicara canggung, atau mungkin berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tapi sesuatu yang paling dasar telah patah malam ini, dan tidak ada lem perekat di dunia ini yang bisa menyatukannya kembali. Jarak itu sudah terlanjur ada dan tidak bisa ditarik untuk kemudian menjadi dekat kembali.

Rangga memejamkan mata, membiarkan satu air mata lolos dari sudut matanya, jatuh membasahi bantal. Ia berduka untuk hubungan mereka, ia berduka untuk Borne, dan ia berduka untuk dirinya sendiri yang dulu. Namun di balik duka itu, ada rasa lega yang tipis dan menakutkan. Rasa lega karena akhirnya, ia berhenti berbohong.

Dalam kegelapan kamar kos yang sempit itu, di samping laki-laki yang pernah menjadi dunianya, Rangga akhirnya menerima bahwa cinta tidak selalu cukup. Dan kadang, bentuk cinta yang paling jujur adalah membiarkan jarak mengambil alih, memberi ruang bagi masing-masing untuk tumbuh, atau hancur, sendirian.

Tangan mereka tidak bersentuhan. Napas mereka tidak seirama. Dan di dalam keheningan pukul dua pagi itu, Rangga mengucapkan selamat tinggal tanpa suara, pada segala yang pernah mereka miliki.

 

Tamat

Notes:

find me over at kisseudeul if you'd like to keep in touch <3