Chapter Text
Di sebuah gang kecil di Seoul, berdiri sebuah kafe mungil dengan pintu kayu putih dan lonceng kecil yang berbunyi lembut setiap kali dibuka. Papan namanya bertuliskan “Rizuko Café” dengan huruf pastel yang menggemaskan. Begitu masuk, pengunjung langsung disambut nuansa Jepang yang super cute: tirai noren bermotif bunga sakura, boneka mochi kecil di rak, serta lagu J-pop lembut yang mengalun pelan.
Pemilik kafe itu adalah Shotaro, 26 tahun — pria dengan wajah cantik, senyum lembut, dan aura imut yang membuat siapa pun yang datang langsung merasa hangat. Awalnya orang datang karena penasaran dengan konsep kafe Jepang yang lucu. Namun setelah viral di media sosial, alasan mereka datang berubah:
bukan cuma kopi dan cake.
… tapi Shotaro.
Setiap pagi, Shotaro menyapa pelanggan dengan suara lembutnya.
“Selamat datang~”
Dan separuh pengunjung langsung lupa kenapa mereka datang.
Siang itu, tiga pria duduk di meja dekat jendela.
Sungchan, Eunseok, dan Anton.
Menu sudah terbuka.
Selama sepuluh menit.
Tidak ada yang dibaca.
Mata mereka hanya mengikuti Shotaro yang berjalan membawa tray, menyapa pelanggan, lalu tertawa kecil ketika seorang anak kecil memberinya stiker kelinci.
Sungchan menopang dagu. “Dia makin imut ya.”
Eunseok mengangguk pelan.
“Serius. Cara dia bilang ‘arigatou’ barusan… aku hampir pingsan.”
Anton hanya menatap tanpa berkedip. “… dia manusia kan?”
Di samping meja mereka berdiri Wonbin, mengenakan apron krem dengan ekspresi lelah yang sangat kentara.
Dia sudah berdiri di sana…
tujuh menit.
“… jadi mau pesan?”
Tidak ada jawaban.
Ketiganya masih menatap Shotaro yang sedang menghias strawberry shortcake.
Wonbin menarik napas panjang.
“Kalian datang, duduk, pesan latte… lalu menatap Shotaro dua jam.”
Anton mengangguk santai. “Latte enak di sini.”
Wonbin menyipitkan mata. “Kalian bahkan tidak minum sampai habis.”
Sungchan tersenyum tanpa rasa bersalah. “Kami menikmati suasana.”
Wonbin menatap mereka datar. “… suasana bernama Shotaro.”
Dari dapur, suara panci diketuk keras.
Sohee mengintip keluar dengan wajah kesal.
“Kalau mereka tidak pesan dalam satu menit, aku kirim matcha latte pahit tanpa gula.”
Sementara itu, Shotaro berjalan mendekati meja mereka dengan senyum hangat.
“Kalian sudah siap pesan?”
Tiga pria itu langsung duduk tegak.
“IYA.”
Wonbin menutup mata.
Akhirnya.
Anton menunjuk menu secara acak. “Apa pun yang Shotaro hyung rekomendasikan.”
Eunseok mengangguk cepat. “Aku juga.”
Sungchan tersenyum lembut pada Shotaro. “Yang kamu suka.”
Shotaro tertawa kecil, pipinya sedikit merona.
“Kalau begitu aku buatkan favoritku ya.”
Saat Shotaro berjalan kembali ke dapur, ketiganya menatapnya lagi.
Wonbin berbalik menuju dapur sambil bergumam, “Aku butuh kenaikan gaji.”
Dari dalam dapur, Sohee menjawab: “Aku butuh pelanggan normal.”
Tbc
