Work Text:
Setelah hampir 2 hari Kazuki pergi dari rumah, malam harinya ia akhirnya memutuskan untuk pulang.
“Aku pulang.”
Tak ada balasan, rumah terasa sangat sunyi, kemana perginya Rei dan Miri?
Dilihatnya kondisi rumah yang berantakan, sampah makanan dimana-mana, pakaian bertebaran, dan mainan Miri yang berserakan. “Yah, sudah kuduga,” Kazuki menghela napas. Apa yang ia harapkan? Tidak mungkin Rei mau membersihkan rumah.
Kazuki menuju kamar Miri, dibukanya pintu dan sorot matanya langsung tertuju pada kasur. Di sana terbaring Miri dengan plester kompres penurun demam tertempel di dahinya dan obat dengan resep dokter di atas nakas. Tak hanya itu, ia mendapati pula Rei yang tertidur dengan posisi duduk, kepalanya ia taruh di atas kasur sembari tangannya menggenggam tangan mungil Miri.
Kazuki terkejut, tidak menyangka putrinya jatuh sakit saat ia tak ada. Rasa bersalah merasuki dirinya. Ia hanya ingin meninggalkan rumah sebentar untuk memberikan Rei dan Miri pelajaran karena telah menyepelekan dirinya dan memperlakukannya seperti pembantu, akan tetapi pemandangan di hadapannya ini juga membuatnya terenyuh.
Rei yang kelelahan merawat Miri hingga tertidur, ukuran tangannya yang sangat kontras dengan tangan miri, posisi tidurnya yang miring membuat rambutnya jatuh ke wajahnya, bulu mata yang lentik, dan mulut yang sedikit terbuka serta terdengar deru napas kecil keluar dari mulutnya.
‘Manis sekali,’ batin Kazuki. Tanpa sadar sebuah senyuman terukir di wajahnya.
Tunggu, apa tadi? Apa Kazuki baru saja menyebut Rei manis? Manusia dengan tampang suram dan tidak pernah tersenyum itu? Tidak, tidak. Tidak mungkin. Ia tidak pernah mengakui seorang pria bisa terlihat manis. Tidak pernah.
Ada rasa kasihan saat ia melihat Rei, apakah tidur seperti itu nyaman? Yah sepertinya Rei biasa tidur di posisi apapun mengingat ia selalu tidur di bathtub setiap malam yang pastinya tidak nyaman.
Kazuki berjalan mendekati Rei, menggoyangkan bahunya pelan supaya ia terbangun. Sedikit terkejut, ia merasakan suhu tubuh Rei yang lebih panas daripada suhu tubuh manusia normal. Untuk memastikannya, ia menyibak poni Rei, meletakkan telapak tangannya di dahi Rei dan merasakan suhu yang sangat panas.
Rei terbangun karena merasakan ada tangan yang menyentuhnya, ia membuka mata, mengedipkan beberapa kali untuk membiasakan cahaya yang masuk ke matanya, dan akhirnya menyadari Kazuki di hadapannya, dekat sekali. “Kazuki…,” sapa Rei lemas. Rei mengusap matanya dan berusaha untuk bangun, kepalanya terasa berat sekali.
“Kapan kau pulang?” tanya Rei dengan suaranya yang serak.
“Baru saja,” jawab Kazuki. “Kau demam, lebih baik kau pindah ke kamar dan tidur disana,” ajak Kazuki sembari menarik tangan Rei supaya ia beranjak dari kasur Miri.
“Tidak, aku tidak sakit. Minggir, aku belum membersihkan rumah.” Rei menepis tangan Kazuki dan berusaha berjalan menuju pintu kamar, akan tetapi, baru tiga langkah saja dia sudah sempoyongan hampir terjatuh, untung saja Kazuki dengan sigap menangkapnya.
“Sudah kubilang, kan. Lebih baik kau menuruti apa kataku. Kau terlihat seperti zombie.”
“Diam.”
Kazuki terkekeh. Ia membopong Rei, dikalungkannya satu tangan Rei di lehernya, dan satu tangannya ia taruh di pinggang Rei untuk menopang tubuhnya. Mereka berjalan keluar dari kamar Miri dan menutup pintunya pelan supaya Miri tidak terbangun. Sesampainya di luar, Kazuki mengantar Rei menuju ke kamarnya.
Rei mengangkat satu alisnya, bingung. “Kenapa ke kamarmu?”
“Kau tidak pernah menggunakan kasurmu, sudah pasti berdebu, aku tidak punya waktu untuk mengganti spreimu sedangkan kondisimu sudah seperti ini.”
Tak ada respon. Kazuki benar, entah kapan terakhir kali Rei mengganti spreinya. Jangankan mengganti sprei, membersihkan kamarnya pun tidak. Dia paling hanya membersihkan mejanya saja karena ia merawat dan membersihkan senjata-senjatanya disana.
Kazuki membaringkan Rei ke atas kasur, memastikan partnernya berbaring dalam posisi yang nyaman, lalu menyelimutinya hingga leher. Setelah itu, ia menyiapkan sebaskom air hangat dan selembar handuk kecil untuk mengompres dahi Rei.
Rei tidak memberontak sama sekali, ia sepenuhnya berpasrah akan apapun yang dilakukan Kazuki pada dirinya, badannya lemas, kepalanya berat. Sepertinya ia terkena demam akibat kemarin hujan-hujan mengantar Miri ke TK dan harus pulang lagi karena hari itu ternyata hari Minggu, serta saat ia berlari ke café milik Kyutaro di tengah hujan demi meminta bantuan untuk Miri yang jatuh demam. Salahkan dirinya sendiri karena tidak mau memakai mantel hujan padahal Kazuki sudah membelikannya untuk mereka masing-masing.
“Rei, istirahatlah. Aku akan membuatkan bubur.”
“Mm..”
Kazuki meninggalkan kamar. Tak lama, terdengar suara riuh Kazuki berkutat dengan peralatan dapur. Sendirian, Rei merenung, rasa bersalah menghantuinya. Jadi ini yang dirasakan Kazuki, pantas saja ia marah hingga meninggalkan mereka. Mengasuh Miri benar-benar menguras mental dan tenaga, ia sangat kewalahan, energinya dengan Miri jauh berbeda. Ini baru mengurus Miri saja, belum membersihkan dan mengerjakan pekerjaan rumah serta memasak, bagaimana Kazuki bisa melakukan itu semua setiap hari?
Rei teringat rumah masih berantakan, ia belum sempat membereskannya karena tidak sengaja tertidur setelah merawat Miri. Saat Kazuki pulang pun Rei malah menambah beban Kazuki karena harus merawat dirinya. Kazuki pasti marah lagi kepadanya. Baru kali ini Rei merasa menjadi seseorang yang tidak berguna.
Hidupnya bergantung kepada Kazuki selama beberapa tahun terakhir, saat Kazuki menghilang, ia kelabakan. Ia harus meminta maaf, tapi bagaimana? Diingat-ingat apakah ia pernah meminta maaf ke Kazuki? Mungkin pernah dan hanya hitungan jari, Rei tidak ingat.
Cukup lama, terdengar suara pintu kamar tiba-tiba terbuka, terlihat Kazuki membawa nampan dengan semangkuk bubur panas, segelas air, dan obat penurun demam di atasnya. Diletakkannya nampan itu di atas meja, lalu Kazuki mengambil handuk kompres dari dahi Rei, dikembalikan ke dalam baskom, dan membantu Rei mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada headboard kasur.
“Pegang gelasnya,” ucap Kazuki sembari memberikan segelas air kepada Rei. Rei menurut, diraihnya gelas itu dari tangan Kazuki lalu ia genggam dengan kedua tangannya. Ia memperhatikan Kazuki yang sedang menarik kursi ke samping kasur lalu duduk sembari memegang semangkuk bubur hendak menyuapkannya ke mulut Rei.
“Aku bukan anak kecil.”
“Kau dan Miri sama saja. Diamlah dan makan. Setelah itu minum obat.”
Rei menyerah, akhirnya ia membuka mulutnya menerima suapan dari Kazuki. Tiga suapan sudah masuk, akan tetapi suasana tetap hening, tidak ada yang berbicara di antara mereka. Sungguh canggung, karena Kazuki tidak biasanya sediam ini. Kazuki itu cerewet, Rei sampai bosan mendengar suaranya.
“Maaf.” Rei memutuskan untuk memecah keheningan.
“Huh?” Kazuki yang hendak memberikan suapan keempat diam, terkejut.
Rei menunduk, genggamannya pada gelas yang ia pegang semakin kuat.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Kazuki, tak lama disusul dengan gelak tawa kecil. Rei menatap Kazuki dengan heran, apakah ada yang lucu dengan permintaan maafnya tadi?
Selesai tertawa, Kazuki mendengus dan seutas senyum lembut tergambar di wajahnya. “Kau akhirnya sadar?” ucap Kazuki dengan nada mengejek.
“Bagaimana rasanya?”
“Melelahkan.”
Kazuki menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan melanjutkan kegiatannya menyuapi Rei. “Sekarang sudah tau kan bagaimana perasaanku setiap hari?” Rei mengangguk. “Kalau begitu, selanjutnya, tolong bantu aku melakukan pekerjaan rumah. Kalau tidak mau, paling tidak jagalah Miri selama aku beres-beres. Miri itu putri kita, jangan semuanya harus aku.”
Putri kita?
Semburat merah muncul di wajah Kazuki, panik menyadari kata-katanya tadi. Frasa ‘putri kita’ rasanya seperti mereka sepasang kekasih yang sedang membesarkan anak mereka berdua.
“M-MAKSUDKU—”
“Iya. Maaf,” potong Rei di tengah kepanikan Kazuki.
Kazuki menghela napas lega. Tak sadar, bubur yang ia suapkan sudah habis. Kazuki lalu menyerahkan sebutir tablet penurun demam kepada Rei dan Rei meminumnya dengan segera.
“Tidurlah, aku akan menyiapkan kompres untukmu.”
Kazuki membereskan peralatan makan dan pergi mencucinya di dapur. Ia kembali naik ke kamar dengan segelas air untuk jaga-jaga siapa tahu Rei terbangun dan merasa haus. Kazuki mengambil baskom berisi air yang sudah dingin, menggantinya dengan air hangat untuk mengompres dahi Rei kembali.
Saat ia hendak mengompres dahi Rei, ternyata Rei sudah tertidur. 'Cepat sekali obatnya bekerja,' batin Kazuki. Diletakkannya lipatan handuk yang sudah ia rendam dengan air hangat ke atas dahi Rei dengan hati-hati supaya tidak membangunkannya. Selesai, Kazuki hendak pergi untuk membereskan lantai bawah yang sangat berantakan itu, akan tetapi, ia merasakan ada yang menggenggam ujung bajunya dengan erat.
“..Ugh...ayah..”
Terlihat wajah Rei yang mengernyit dan tubuhnya gemetaran. Sepertinya ia mengalami mimpi buruk hingga mengigau.
“..sakit..maaf…”
Air mata meluncur dari mata Rei yang masih terpejam. Melihat Rei yang seperti itu, Kazuki jelas tidak tega, bagaimana mungkin ia meninggalkan partnernya dalam kondisi seperti ini, apa yang dia mimpikan hingga seorang Rei, senjata keluarga Suwa, sampai menangis?
Akhirnya ia naik ke kasur, berbaring di samping Rei, menghadap partnernya itu. Dalam tidurnya, Rei bergerak meringkuk menempel dada Kazuki dengan tubuhnya yang masih gemetaran. Handuk kompres di dahinya terjatuh, Kazuki menyingkirkannya, lalu mengusap-usap punggung Rei dengan lembut berusaha menenangkannya.
Ayah, katanya. Kazuki tahu ayah Rei merupakan kepala keluarga Suwa, mereka bekerja di bawah organisasi keluarga tersebut. Ia adalah sosok yang kejam dan hubungan Rei dan ayahnya tidak seperti ayah-anak, lebih seperti bos dan bawahan. Rei pun pergi dari mansion keluarga Suwa dan tinggal di apartemen ini karena ia ingin kabur dari kekangan ayahnya. Rei tidak pernah bercerita secara detail. Dari ucapannya saat tidur tadi, sepertinya ayahnya sering menggunakan kekerasan padanya hingga memori itu terbawa ke dalam alam bawah sadarnya.
Rei menjadi lebih tenang, tidak gemetaran lagi, napasnya juga lebih teratur. “Syukurlah,” batin Kazuki. Rei sangat dekat, di dekapannya, tidak pernah ia dan Rei melakukan kontak fisik sedekat ini. Melihat seorang pembunuh bayaran yang kuat, jarang gagal dalam misi, dan bengis menunjukkan sisi lemahnya, Kazuki merasa Rei terlihat..…imut.
Rasanya Kazuki ingin menampar dirinya, tapi tidak bisa, ia tidak ingin Rei terbangun. Sangat sulit menenangkan dirinya. Wajah Rei benar-benar ada di depan dadanya, apakah ia mendengar degup jantungnya yang berdebar-debar? Apakah ia akan terbangun karena suara jantungnya yang terlalu berisik?
Kazuki memutuskan untuk memejamkan matanya. Lebih baik ia tidur sekarang karena besok ia harus bangun pagi, memasak sarapan, mempersiapkan Miri untuk berangkat ke TK, dan membersihkan rumah. Tubuhnya juga lelah setelah hampir dua hari bepergian.
“Selamat tidur, Rei” ucapnya lalu terlelap.
***
Sorot cahaya matahari dari sela-sela tirai jendela menerpa wajah Rei, sedikit silau, ia memutuskan untuk membuka mata. Ia mengedipkan matanya beberapa kali hingga penglihatannya tidak lagi buram, dan tepat di hadapannya, terlihat tubuh seseorang mengenakan kaos ungu gelap dan kemeja pink sedang tertidur pulas. Selain itu, ia merasakan pula sebuah lengan sedang melingkar di pinggangnya.
“Huh?” otak Rei berusaha memproses.
Rei mendongakkan kepalanya, akhirnya terlihat siapa sosok yang sedang tidur sembari memeluknya, Kazuki.
Mata Rei terbelalak, reflek ia menendang tubuh Kazuki yang masih terlelap itu.
BRUKKK!!
“AWW!!” terdengar suara Kazuki berteriak kesakitan. Kazuki sekarang sudah sepenuhnya bangun, diusap-usapnya pantatnya yang mendarat ke lantai dengan kasar.
“REI APA-APAAN??” protes Kazuki.
“Kenapa..kenapa kau tidur di sini?” tanya Rei yang masih terbelalak kaget.
“Hey, kalau bukan karena kau yang menarik bajuku sambil menangis aku tak akan mau tidur denganmu. Mimpi apa kau sampai gemetaran seperti itu semalam? Aku hanya ingin menolongmu dan ini balasanmu hah?!” jawab Kazuki dengan marah, berusaha berdiri sambil meringis kesakitan.
“Menangis?” Rei bertanya-tanya dalam hati. Menangis adalah hal yang janggal bagi Rei. Ia tidak pernah menangis selama bertahun-tahun, mungkin terakhir kali ia menangis adalah saat ia masih kecil karena didikan ayahnya yang keras, sekarang ia sudah terbiasa dengan rasa sakit tanpa perlu mengeluarkan air mata.
Terdengar suara helaan napas panjang dari mulut Kazuki. “Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?” tanya Kazuki sembari berkacak pinggang.
“Masih sedikit pusing,” jawab Rei.
“Ya sudah, lebih baik kau lanjut beristirahat, nanti aku bawakan sarapan kesini. Mau bubur lagi?”
Rei membalas dengan anggukan dan Kazuki beranjak keluar dari kamar. Ia berusaha untuk kembali tidur, ditariknya kembali selimut hingga ke dadanya lalu memejamkan mata.
15 Menit berlalu, ia tetap tidak bisa tidur padahal rasa pusing masih menetap di kepalanya. Apakah karena ia tidur di tempat yang bukan biasanya? Bisa jadi.
Rei jadi memikirkan perkataan Kazuki tadi. Ia berusaha mengingat apa yang membuatnya menangis dalam tidur. Sepertinya ia memimpikan masa kecilnya saat ia dipaksa bertarung dengan anjing doberman milik ayahnya, ia masih mengingat rasa sakit tubuhnya tercabik-cabik hasil cakar dan gigitan anjing itu, akan tetapi ia tidak tega membunuhnya hingga akhirnya anjing itu ditembak mati sang ayah. Disitu ia menangis sembari meminta maaf pada ayahnya, namun tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang lembut yang mengelusnya, memeluknya, dan memberikannya ketenangan hingga mimpi buruk itu sirna dan ia bisa tidur lebih nyenyak.
“Jangan bilang itu Kazuki…”
Rei merasakan pipinya memanas dan degup jantungnya semakin cepat. Rasanya aneh, ia tak paham apa yang sedang ia rasakan sekarang.
Rei memutuskan untuk beranjak dari kasur, daripada ia kalut dengan pikirannya lebih baik ia turun ke bawah mencari suasana baru. Toh, ia juga tidak bisa lanjut tidur.
.
.
.
“Loh, Rei? Tidak tidur?” tanya Kazuki melihat Rei yang tiba-tiba muncul. Terlihat Kazuki sedang sibuk membuat sarapan, lantai bawah juga sudah rapi. Di atas kompor terlihat sepanci bubur dan sewajan nasi goreng.
“Tidak bisa,” balas Rei singkat.
Rei berjalan menuju sofa di seberang dapur dan menyalakan televisi, muncul kartun kesukaan Miri. Rei memilih menonton acara tersebut sambil berbaring di atas sofa. Semenjak ada Miri, entah mengapa Rei ikut tertarik dengan apa yang Miri tonton. Ia tidak pernah menonton hal seperti ini saat kecil.
Entah mengapa kombinasi suara televisi, suara berisik alat masak, dan nyanyian kecil Kazuki membuatnya mengantuk. Lama-kelamaan matanya terasa berat dan ia pun terlelap.
.
.
.
“PAPA KAZUKI!!!” Miri berteriak menjumpai Kazuki yang berada di dapur. Ia lalu berlari ke arah Kazuki dan melompat ke arahnya. Kazuki dengan sigap menangkap Miri dan membawanya ke gendongannya.
“Selamat pagi, Miri. Bagaimana keadaanmu? Masih merasa demam? pusing? tidak enak badan?” sapa Kazuki khawatir sembari ia mengecek suhu tubuh Miri dengan menempelkan telapak tangannya pada dahi Miri.
“Aku sudah sembuh papa!”
“Bagus lah. Mau berangkat ke TK?”
Miri mengangguk dengan antusias.
“Papa Kazuki kemarin kemana?”
“Maaf sayang kemarin papa pergi lama. Papa kemarin ada pekerjaan,” jawab Kazuki bohong sambil mencium pipi Miri. Padahal tidak sampai dua hari ia pergi tapi rasa rindunya ke Miri sudah tidak tertahan.
“Papa Rei bilang Papa Kazuki menelantarkan kami,” ujar Miri cemberut.
“Tidak mungkin sayang. Papa tidak mungkin menelantarkan kalian berdua.”
Mendengar jawaban tersebut, Miri tertawa gembira dan memeluk Kazuki dengan erat.
“Miri turun dulu ya, papa mau lanjut memasak. Kamu ikut Papa Rei sana menonton kartun.”
Kazuki menurunkan Miri dari gendongan. Melihat televisi sedang menayangkan kartun kesukaannya, Miri langsung berlari ke arah sofa. Akan tetapi, sesampainya ia di depan sofa, Miri tiba-tiba terdiam lalu berlari kembali menuju dapur menghampiri Kazuki.
“Papa Rei tidur.”
Miri lalu menuju meja makan dan duduk di atas kursi, bercerita kepada Kazuki apa saja yang dilakukan Miri dan Papa Rei selama Kazuki tidak di rumah. Kazuki mendengarkan sembari menyiapkan sarapan, nasi goreng omelet untuknya dan Miri, serta semangkuk bubur untuk Rei.
Kazuki membawa semangkuk bubur, segelas air, dan obat untuk Rei ke depan televisi, ditaruhnya di atas meja di depan Rei, lalu membangunkan Rei dengan menggoyangkan bahunya pelan supaya tidak mengagetkannya.
“Rei, bangun, sarapan.”
Guncangan lembut itu berhasil membangunkan Rei, diubahnya posisinya dari tidur menjadi duduk.
“Mau aku suapi lagi?”
“Aku bisa makan sendiri.”
“CURANG!!! PAPA REI MAKAN DISUAPI PAPA KAZUKI TAPI AKU HARUS MAKAN SENDIRI.”
Miri protes merasa kesal dan cemburu, alisnya menukik tajam, tatapan marah tertuju ke arah Kazuki dan Rei. Mereka yang ditatap terkejut, tidak menyangka putri mereka menyimak pembicaraan mereka.
“Ya sudah kalau begitu.”
Kazuki berjalan meninggalkan Rei menuju meja makan dan duduk berhadapan dengan Miri. Mereka berdua makan sambil sesekali berceloteh, terdengar sesekali suara Miri tertawa dan Kazuki yang mengomel. Mendengar suara mereka berdua memberikan rasa senang dalam benak Rei. Suara ini lah yang ia rindukan.
.
.
“Sudah minum obat?” tanya Kazuki sambil mengambil mangkuk dan gelas yang sudah kosong di hadapan Rei. Rei mengangguk, pandangannya tertuju ke arah Kazuki. Sebenarnya Rei ingin bermain game, akan tetapi rasa pusing di kepalanya mencegahnya, ia tidak akan bisa fokus bermain game jika kondisinya masih seperti ini, yang ada malah ia akan semakin pusing.
“Setelah ini aku mau mengantar Miri ke TK, istirahatlah supaya sembuh total, tolong jaga rumah.”
“Biar aku yang cuci piring.”
Rei beranjak dari sofa hendak mengikuti Kazuki yang hendak kembali ke dapur menuju wastafel. Menyadari hal itu, Kazuki berbalik badan menghadap Rei.
“Terima kasih Rei kau sudah berusaha mau membantuku, tapi tolong, kali ini fokuslah pada proses penyembuhanmu. Jika kau memang ingin membantuku mengurus rumah, lakukanlah saat kau sudah sembuh.” Kazuki berucap tanpa ada nada marah, hanya sedikit tegas saja, ia tahu partnernya ini adalah orang yang keras kepala. Kazuki pun berpaling meninggalkan Rei.
Mendengar ucapan Kazuki, Rei menurut, ia kembali duduk di sofa dan menonton televisi, menunggu efek mengantuk dari obat yang ia minum datang. Sekitar setengah jam kemudian, terdengar langkah kaki Kazuki dan Miri menuruni tangga.
“Rei, kami berangkat dulu!”
“Papa Rei, Miri berangkat dulu, Papa Rei cepat sembuh!”
Rei menoleh ke arah mereka berdua, melambaikan tangan kecil, “Hati-hati di jalan.” Ia memperhatikan mereka berdua sampai mereka menghilang dari balik pintu.
***
“Aku pulang.”
Kazuki berjalan memasuki apartemen, pandangannya mengitari seisi rumah, ia tidak menemukan keberadaan Rei, akan tetapi televisi masih menyala.
Kazuki mendekati televisi hendak mematikannya, mengira Rei sudah pergi dari sofa, mungkin kembali tidur di kamar atau di bathtub.
“Rei, aku tahu kau orang kaya, tapi kau tetap harus menghemat listrik.”
Kazuki mencari keberadaan remot televisi, akan tetapi ia malah menemukan Rei yang sedang tertidur di atas sofa sambil meringkuk. Melihatnya, Kazuki tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Kazuki pergi menuju kamar, diambilnya selimut lalu kembali menuju sofa. Ia menyelimuti Rei hingga menutupi lengannya. Pandangannya tidak terlepas dari wajah Rei, diperhatikannya lekuk wajah Rei, napasnya yang tenang, rahangnya yang tajam, alisnya yang rileks (tidak menukik tajam seperti biasanya), dan rambutnya yang jatuh menutupi mata.
Seakan terhipnotis, Kazuki berjongkok di depan wajah Rei supaya dapat memperhatikannya dengan lebih dekat. Tangan Kazuki terulur ke wajah Rei, disingkirkannya rambut yang menutupi mata Rei itu lalu ia selipkan ke belakang telinganya.
“Maaf, Rei, sudah meninggalkanmu sendirian kesulitan,” ucap Kazuki berbisik.
“Terima kasih sudah merawat Miri dan mau membantuku mengurus pekerjaan rumah. Asal kau tahu, aku tidak mungkin akan meninggalkanmu, jangan berkata hal-hal aneh ke Miri. Cepat sembuh ya,” lanjut Kazuki sembari tangannya mengelus-elus rambut Rei selembut mungkin supaya Rei tidak terbangun.
Entah apa yang merasuki Kazuki, tubuhnya seakan bergerak sendiri, ia mendekatkan kepalanya menuju wajah Rei, semakin dekat hingga akhirnya ia dapat mencium kening Rei.
Hanya sedetik, kesadaran Kazuki akhirnya kembali. Ia langsung berdiri dan berlari menuju kamarnya di lantai atas, ditutupnya pintu kamar dibanting, tidak peduli kalau Rei bisa terbangun mendengarnya. Punggungnya menempel pada pintu, kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Wajah Kazuki merah padam, tidak percaya akan apa yang baru saja ia lakukan kepada partner kerjanya itu.
“AAAAARRRGGHHH APA YANG BARU SAJA KULAKUKAN??? KAZUKI BODOOHHH!!”
Kazuki menjerit dalam hati, tubuhnya merosot hingga ia terduduk mendekap kedua lututnya.
Tanpa Kazuki ketahui, Rei di atas sofa sama memerahnya dengan Kazuki, dari wajah menjalar hingga leher. Sebenarnya Rei sudah terbangun sejak mendengar suara pintu apartemen terbuka saat Kazuki pulang, hanya saja ia terlalu malas membuka mata. Saat merasakan Kazuki mendekati dirinya, ia tidak berani membuka mata, memilih pura-pura tertidur. Rei mendengar semua perkataan dan merasakan semua perlakuan Kazuki kepada dirinya. Setelah mendengar suara bantingan pintu kamar Kazuki, Rei menarik selimut hingga ke atas kepala dan membungkus dirinya.
