Work Text:
“Kakak kue cucurnya dikeluarin dulu mau mama panasin!”
“Hah, sebentar… yang coklat - coklat bulet ini bukan, Ma?”
“Iyaa. Tolong taruh di piring dulu.”
Jani yang baru keluar kamarnya langsung dengar ribut - ribut dari dapur antara Kak Andi dan mama jadi penasaran. Rupanya kakak dan mamanya itu baru saja pulang dari pasar untuk berbelanja. Sebenarnya nurutin keinginannya Andira yang lagi kepingin banget buat jajan makanan pasar, sih. Maklum, di New York jarang ada yang jual soalnya.
“Morning,” sapa Andira ketika melihatnya.
“Morning,”
“banyak banget,” ucap Jani setelah melihat banyaknya makanan yang berjejer di meja makan. Ia mengamati satu persatu, matanya membesar senang ketika dilihatnya ada kue putu ayu kesukaannya. “Asikk, udah lama nggak makan ini kangen banget!”
“Ini juga ada cucur, kamu suka kan, Kak,” ujar mama yang saat ini tengah mengeluarkan makanan manis berwarna coklat itu dari microwave. “Eh iya, Kakak Jani tolong bangunin Yasmin, ya. Kemarin bilang mau kerkom pagi ini jadi apa nggak, tuh.”
Jani mengangguk, ia kemudian beranjak untuk naik ke lantai atas tempat kamar Yasmin berada, masih sambil mengunyah kue putu ayunya.
“Makannya sambil duduk dong sayang!!” tegur mama yang sempat melihat.
“Hehe, ngum-nyah dom–ang kok, Ma!!!”
.
Sesampainya di depan pintu kamar yang ditempeli stiker bernuansa pink milik Si Bungsu, Jani mengetuk perlahan.
tok tok tok
“Dek Yasmin bangunn, jadi kerkom nggakkk?”
Belum ada jawaban.
“Kak Jani masuk ya,” ia membuka perlahan pintu kamar sang adik. Dilihatnya Yasmin yang masih bergelung dalam selimut, tertidur lelap. Ia berusaha membangunkan Yasmin perlahan. Adiknya itu saat ini sedang hectic - hecticnya persiapan masuk kuliah. Seperti tadi malam, Si Bungsu baru pulang jam 9 malam lewat karena ada bimbel.
“Dek ayo bangun, kamu katanya ada kerkom, jadi nggak?”
“Mmm” hanya ada pergerakan kecil, Yasmin ngulet sedikit. “Jadii, jam berapa deh sekarang?”
“Udah mau jam tujuh, kamu kerkom jam berapa?”
Tiba - tiba Yasmin duduk tegak, matanya membelalak, “oh my god, aku harus kumpul jam 8!!!” Cewek itu buru - buru bangkit dan lari ngibrit menuju kamar mandi. Tak lupa sebelumnya menyambar handuk dari balkon. Janitra hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya, “mau dianterin apa bawa mobil sendiri?” tanyanya kemudian.
“DIANTERINNN” balas Yasmin dari dalam kamar mandi.
“Ok, Kakak tunggu di bawah, ya. Nanti panggil aja kalau udah,” Jani lantas bangkit dan beranjak keluar. Sebelum benar - benar kembali turun ke lantai bawah, ia kembali melongokkan kepala, “Mama tadi habis ke pasar, ada nasi uduk Mang Deni.”
“Aaa mauuu!!! Buat aku ya!!!”
“Iyaaa”
.
Rupanya agenda kerkom Yasmin adalah latihan menari bersama teman - temannya untuk penilaian ujian praktik. Maka selepas mengantarkan Yasmin ke sanggar milik temannya, Janitra tidak langsung pulang. Ia masih harus mengantarkan Ammara, kakak keduanya, ke stasiun.
Saat ini gadis itu tengah menerima telepon dari Sang Atasan.
“Iya Masss, ini Mara sudah di jalan. Ih, ya lagian kenapa sih Mas Arul kok mendadak, pokoknya nanti saya dapat persenan ya ga mau tau!! Beneran ya? Yaudah ini saya lanjut jalan dulu. Ok, yaa.”
pippp, telepon dimatikan.
Atasan Ammara di kantor memang cukup santai dan dekat dengan karyawannya, selain itu masih terbilang muda sehingga interaksi seperti tadi cukup wajar di antara mereka. Tapi yah, minusnya memang kadang suka mendadak begini. “Hufttt apaan sih, yang tiba - tiba ganti jadwal berangkat siapa yang ikut ribet siapa!!!” kakaknya itu belum berhenti misuh - misuh sejak tadi di rumah. Tapi Jani paham sih kenapa Ammara kesal, ini kan hari libur tapi masih harus masuk kerja. Belum lagi kakaknya itu juga semalam jadi harus lembur sampai hampir tengah malam karena pekerjaannya ini.
“Padahal udah dibilang pas progress-an kemarin kalau desainnya bakal selesai Senin. Jadi udah siap pas beliau berangkat Selasa siangnya. Eh, baru kemarin Jumat sore ngabarin kalau bakal berangkat Minggu malam. Mendadak banget deh ngasih tau reschedule-nya” amuk Mara sebelum berangkat tadi.
Yang denger ikutan pusing.
“Minta bonus lah, Kak,” timpal papa dari arah pintu samping yang berada di dekat dapur, terlihat baru selesai berkebun.
“Wooo tentu saja sudah bosss. Bodo amat bakal aku kejar - kejar itu bonus!” ucap Ammara sambil memakai sepatunya. “Yuk, berangkat!”
Jani mengedikkan bahu, tidak tahu harus benar - benar membalas apa selain memberi semangat. “Menurut gue abis ini lo harus liburan.” Mara yang tengah menatap jalanan pagi itu, yang bisa dibilang cukup ramai, mengangguk - angguk kecil, “Itali lagi oke kayaknya.”
Sang adik hanya manggut - manggut. Wanita yang kini berusia di pertengahan 20-an di sampingnya itu memang kerap jalan - jalan keliling dunia. Yah, itung - itung sekalian mencari inspirasi untuk kebutuhan pekerjaannya sebagai arsitek. Tak lama, kakak beradik itu telah sampai di stasiun.
“Beneran nggak dianterin nyampe kantor?”
Ammara menggeleng, “nggak deh, nanti gue mau mampir - mampir dulu soalnya.”
Janitra mengangguk.
Ammara melepas seatbelt-nya, “bye cantik, Kakak berangkat dulu! Makasih yaa udah dianterin. Hati - hati pulangnya,” ucap Ammara sembari merentangkan tangan ke arah adiknya. Jani yang sudah paham dengan gestur tersebut hanya mendekatkan wajah.
Ammara langsung segera sun - sun pipi adiknya itu. Jani tuh ya, walaupun udah 20 tahun tapi pipinya masih gembillll kayak mochi. Makanya suka diciumin sama orang rumah. Yasmin juga sih, tapi cewek itu suka risih dan bakal ngomel - ngomel kalau ada yang sentuh muka dia tiba - tiba.
Ciuman terakhir mendarat di pipi kiri Jani, Ammara kemudian mengambil barang - barangnya dan keluar dari mobil, “byee.” “He em. Hati - hati, Kak Mar,” balas Janitra.
Ia membalas lambaian tangan kakaknya saat dilihatnya cewek itu masih sempat - sempatnya melambaikan tangan dari kejauhan.
.
Janitra saat ini sudah berkutat di depan layar laptopnya. Ia sedang menyiapkan script jawaban untuk interviewnya minggu depan. Malam sebelumnya, Jani dapat email kalau dia lolos ke tahap seleksi terakhir organisasi consulting di kampusnya yang dia daftar beberapa minggu lalu.
Andira menghampiri ruang tengah tempat Jani berada sambil membawa nampan. Ia meletakkan nampan di meja, kemudian duduk di sofa agak dekat dengan adiknya yang duduk lesehan di atas karpet itu. “Nih,” ucapnya menyodorkan segelas es beras kencur kepada Janitra. Jani menoleh dan menerima gelas dari tangan kakaknya tersebut, “makasih.”
“Lagi libur gini masih ada tugas, Dek?” tanya Andira. Terlihat sudah duduk nyaman dengan satu tangan memegang gelas sedangkan tangan satunya lagi memegang majalah kecantikan yang juga ia topang dengan pahanya.
Janitra menggeleng, “paling kebanyakan buat non-akademik sih. Kalau yang ini buat organisasi. Jani lagi tahap seleksi, minggu depan interview.” Andira mengangguk.
“Nanti siang ada agenda nggak? Kak Andi sama Papa mau pottery class, ikut yuk!”
“Jam berapa?”
“Setengah tiga berangkat.”
“Yah, aku mau ada zoom sama temen - temen lomba, kayaknya jam segitu belum kelar,” jelas Janitra. Dia mulai menimbang - nimbang apa nanti dia izin keluar zoom duluan ya biar bisa ikut.
“Hmmm, ya udah deh. Gapapa, sekalian nanti kamu jaga rumah.”
Keduanya kemudian tenggelam dalam kegiatan masing - masing. Andira kemudian teringat sesuatu.
“Oh iya, kamu masih libur kan nyampe akhir bulan? Brand Sekar lagi perlu model, kalo kamu lagi lowong dia mau sama kamu katanya.” Sekar itu teman Andira. Andira memang bekerja sebagai aktris dan model. Tapi saat ini statusnya semi aktif karena sedang kuliah S2 di New York. Karena pekerjaannya itu, nggak jarang adik - adiknya terkena eksposur. Sejauh ini paling sering sih Janitra, yang memang cakep banget, dia sudah beberapa kali dapat tawaran dan kerjaan buat jadi model dari rekan - rekan kakaknya.
“Kok Kak Sekar nggak langsung chat aku, deh?” jawab Janitra, dirinya masih fokus dengan dokumen naskah di laptop.
“Sekar bilang udah kok, tapi ga kamu bales katanya.”
Saat ini fokus Jani sudah menghadap ke kakaknya. Ia menelengkan kepalanya ke samping, terlihat berpikir. Mahasiswa semester 2 itu kemudian meraih ponsel dan memeriksa deretan chat masuk di aplikasi Instagram-nya, kemudian nyengir saat dilihatnya memang ada beberapa pesan masuk dari Sekar sejak dua hari lalu. “Eh, iya. Aduh maaf deh, aku lagi off sosmed soalnya.” Andira hanya mendengus dan menggeleng - geleng kecil. “Jadi gimana, mau? Photoshoot-nya Rabu pagi minggu depan.”
“Boleh. Bentar aku bales chat Kak Sekar sekalian aja.” jawab Janitra. Lumayan, biar dia nggak gabut - gabut amat.
“Ok.”
.
Tepat tengah hari bel rumah keluarga Irawan berbunyi.
“Tamu?” tanya mama yang saat ini sedang menyiapkan bahan masakan untuk membuat makan siang. “Marcel.” jawab Janitra yang sudah berjalan ke depan untuk membukakan pagar. Janitra tersenyum dan melambaikan tangan sesampainya ia di depan gerbang.
Setelah mazda merah milik teman SMP-nya itu berhasil terparkir rapi di halaman, pengemudi mobil yang merupakan laki - laki jangkung keluar. Dilihatnya Marcel menenteng kantong kertas besar di tangan kiri. Marcel tersenyum, “oit!”
Ia mengacak - acak rambut Jani asal saat jarak keduanya sudah dekat. Jani balas tersenyum lebar kemudian memeluk Marcel singkat. Sebenernya mah mereka masih ketemu kok, toh satu kampus juga. Tapi memang di liburan semester kali ini Marcel ke luar kota hampir dua minggu, jadi baru ketemu lagi sekarang.
Keduanya masuk ke dalam rumah.
Jani langsung kembali ke tempatnya tadi untuk bersiap zoom bersama teman - teman satu tim lombanya. Dia lagi ikut business case competition dan timnya lolos final buat nanti ke Boston. Jadi sekarang mereka punya kurang lebih satu setengah bulan untuk siap - siap. Marcel sendiri langsung menuju dapur untuk mengobrol dengan Sharon. “Siang Tante,” Marcel salim dan cium tangan Sharon.
“Halo, Sayang. Balik Jakarta kapan? Wah, apa ini,” tangannya menerima kantong kertas dari Marcel.
“Kemarin, Tan. Ini ada tahu bakso, lumpia, sama ayam bawang dari Bunda. Tahu bakso sama lumpianya beli pas di Semarang.”
“Wah enak banget, makasih yaa. Tolong bilangin ke Bunda juga Tante suka banget! Habis ini kita makan bareng - bareng.”
Marcel mengangguk. Tangannya sudah mencomot satu buah pisang dari pantry. “Bibi kemana, Tan?”
“Lagi libur, nikahan saudara Bibi,” jawab Sharon. Marcel kemudian melanjutkan obrolan bersama Sharon untuk beberapa saat. Tak lama kemudian Dion dan Andira ikut bergabung.
Pintu depan terbuka. Yasmin sudah pulang dalam keadaan sedikit berantakan dan lepek. “Gila, di luar panas banget!” ucapnya pertama kali ketika sudah masuk ke dalam rumah. Cewek itu langsung menggelepar di atas lantai. “Pulang naik apa, Nak? Kok nggak bilang Papa biar dijemput?” tanya Dion ketika melihat kelakuan Si Bungsu. Saat ini posisi Yasmin sudah berubah tengkurap di atas lantai.
Yasmin menggeleng kecil, “gapapa Pap, tadi ditebengin Salma naik motor.”
“Tidurannya di atas karpet aja, nanti masuk angin kalau kayak gitu, Dek,” ucap mama.
Yasmin menurut. Ia berbaring di sebelah Jani. “Eh, Kak Marcel,” sapanya kemudian ketika melihat eksistensi Marcel di dapur.
Marcel tersenyum, “Halo, Yasmin. Habis dari mana deh?”
“Kerkom, latihan buat uprak,” jawab Yasmin. Marcel mengangguk paham.
.
“Siang guyss, long time no see. Liburan pada kemana, nih?” terdengar suara Ella dari speaker laptop Jani.
“Haloo, long time no seee!!! Gue so far di rumah aja sih,” balas Irene.
“Gue juga,” Janitra ikut memasuki obrolan.
“Halo - halo, gue lagi di Bandung nih. Ke tempat Eyang.” kata Shaqeel.
“Gue kemarin baru balik dari Jepang.” ucap Kenneth.
“Ih asik banget!! Klo lo sendiri, El?” timpal Irene.
“Ini gue lagi di Spore, ke tempat Koko.”
“Jadi mau Spore juga…”
Obrolan berlanjut, memang sudah jadi kebiasaan sebelum mereka memulai sesi diskusi. Kalau lagi nggak keburu - buru, sih.
“Minggu terakhir bulan ini tapi udah pada di Jakarta, kan? Kayaknya kita perlu buat ketemu deh, biar diskusinya bisa langsung,” ucap Jani di tengah - tengah obrolan. “Bisaaa,” jawab teman - temannya hampir bersamaan. “Nanti di tempat gue aja guys, gue bawain jajan banyak dari Bandung,” ucap Shaqeel.
“Nah mantappp”
“Janji ya, kalau di tempat Akil jangan malah pada ke-distract main,” ingat Janitra. Karena pengalaman mereka beberapa waktu lalu teman - temannya itu malah asik main PS. Emang di rumah Shaqeel saking lengkapnya bahkan ada ruang billiard sendiri.
“Siap Mamah” ucap Ken dan Irene bersamaan. Ella ketawa aja, “lucu banget demiiii!!! Yang sabar ya Jani menjadi Mamah of the Team. Mana badung semua,” ucapnya. Jani hanya geleng - geleng dan tersenyum kecil.
Saat ini Marcel sudah pindah duduk di ujung lain sofa dan menyalakan TV untuk nonton film di Netflix, Yasmin masih tiduran di karpet. Sepertinya ketiduran.
“Gapapa nanti gue bantuin, Jan,” ucap Shaqeel kemudian. Pernyataannya barusan memantik ceng - cengan dari yang lain.
“Yahhh mulus banget malesss,” erang Ella.
“Waduhhhh,” ucap Kenneth.
“Of courseee, INI DIA PAPAH KITA!” timpal Irene semangat.
Karena Janitra nggak pakai headphone, obrolannya dengan teman - temannya barusan tentu saja dapat terdengar sampai radius tertentu. Tak terkecuali oleh Marcel dan Yasmin, yang ternyata nggak tidur. Adiknya sudah mendekat perlahan ke arah laptop kakaknya berada untuk melihat orang - orang yang ada di layar. Kepo. Marcel juga kini menolehkan kepalanya menatap Jani, pria itu menaikkan sebelah alisnya.
“Wow, ganteng,” bisik Yasmin setelah melihat rupa pemilik suara - suara tadi. Ia menatap Marcel ketika mengatakannya, seperti memberi isyarat. Marcel mengedikkan bahu, fokusnya kembali ke layar besar di hadapannya.
“Dekkk, sana - sana,” bisik Jani mengusir adiknya.
“Hstt, udah - udah kita mulai ya sekarang, ya. Ken, tolong share catatan feedback dari Prof. Wisnu dong, ada di lo, kan?”
“Iya ada, wait. Nah, udah keliatan kan? Ini guys, jadi —”
.
Tak disangka diskusi tadi akan berlangsung hingga sore. Mata janitra sekarang udah panas karena terlalu lama menatap layar laptop. Saat ini ia sedang tiduran di sofa dengan Marcel di sebelahnya, masih fokus menonton film tentang troll. Kondisi rumah saat ini cukup sepi. Andira dan papa sudah jalan sekitar satu setengah jam yang lalu, mama sedang arisan di rumah tetangga sebelah, Ammara belum pulang, Yasmin les menggambar, sehingga tinggal menyisakan Jani dan Marcel. “Mau keluar nggak?” tanya Marcel di tengah kegiatan menontonnya.
“Kemana?”
“Lo maunya kemana?”
“Mmmm, taman yuk, mumpung lagi bagus cuacanya.” Janitra bangkit sambil membawa piring bekas makannya tadi siang. Ia membuka kulkas dan mengambil tupperware berisi buah potong yang sudah disiapkan mamanya untuk sekalian dibawa ke ruang tengah. “Tapi nunggu Kak Mara balik dulu ya, katanya bentar lagi,” Jani kembali mendudukkan dirinya di tempatnya tadi. “Boleh.” Marcel mendekat ke tempat Jani duduk untuk ikut makan buah. Hening sesaat. Marcel dan Jani makan buah sambil fokus dengan tontonan di hadapan mereka.
“Shaqeel siapa, deh?” tanya Marcel tiba - tiba. Janitra nggak perlu tahu, kalau sebenarnya cowok itu tadi sudah diam - diam stalking akun penyelenggara lomba yang Janitra ikuti hanya untuk melihat profil tim dan peserta yang lolos. Tapi sayangnya nggak terlalu banyak informasi yang bisa dia dapat.
“Anak teknik, seangkatan sama kita. Temen - temen setim gue semuanya seangkatan.” Marcel mengangguk - angguk. Sekilas melirik Janitra yang juga tengah menatapnya.
“kayak nggak asing,” ucapnya kemudian.
“Iya, sekolah dia dulu sering lawan SMA kita pas tanding basket. Inget nggak? Eh ternyata seksrang satu kampus, mana ketemu lagi terus jadi temen satu tim,” jelas Jani, dia sebenernya masih takjub dengan fakta ini.
“Loh, Shaqeel tuh Shaqeel Abraham?” tanya Marcel. Pantas, dirinya tadi sempat tidak asing dengan nama itu, tapi kan yang namanya Shaqeel di dunia ini banyak. “He em, lucu kan? How things work in this life.”
Pemain yang namanya Shaqeel tuh…, sejauh yang Marcel amati dulu, memang kayaknya naksir Janitra. Marcel bahkan yakin kalau semua orang yang lihat dan ngamatin seengaknya barang sebentar aja, juga pasti sadar. Tapi emang dasarnya teman di sampingnya ini yang kadang suka nggak sadar aja.
“Helloo, I am homeee!” teriak Ammara dari pintu depan. “Loh, kok sepi?” ucapnya kemudian setelah melihat keadaan rumah. “Eh, ada Marcel! Halo ganteng, kok baru keliatan?”
“Halo Kak Mar. Iya, kemarin keluar kota."
Ammara mengangguk, “wih serunyooo. Eh sini deh, gue tadi beli cake dari kafe temen, cobain yuk!” tangannya melambai - lambai menyuruh adik - adiknya menghampiri. “Pada kemana?” tanya Ammara.
“Papa Kak Andi lagi main ke Jakpus, Mama arisan, Yasmin les. Jani sama Marcel juga mau keluar habis ini, gantian Kakak jaga rumah, ya,” jelas Jani. Janitra membereskan barang - barang yang tadi dipakainya dan membawanya naik ke kamar. Sekalian mau siap - siap.
“Mau kemana, Mar?” tanya Ammara kepada Marcel yang sedang menyuapkan sepotong carrot cake ke mulut. “Taman depan, paling lanjut nyari makan,” jawabnya. “Ini enak kak, ga terlalu manis. Tapi masih agak kasar dan terlalu padat.” Ammara tersenyum, “iya kann!! Gue juga pointed out soal ini ke temen gue. Baru buka kafenya, so she said that she still needs lots of review for their recipe development.”
Beberapa saat kemudian, Janitra sudah siap. Ia menghampiri Marcel di ruang makan, “yuk!”
Marcel menghabiskan air putih dari gelasnya dan bangkit, “cobain deh Jan, enak. Habisin sekalian aja. Gue keluarin mobil dulu,” ucapnya kepada Jani. “Dah Kak Mara, makasih cake nya!” Ammara membalas dengan acungan jempol.
“Mau nitip sesuatu nggak?” tanya Jani di sela suapan. Cake yang dibawa kakaknya betulan enak!
“Nope, makasih. Tanyain Yasmin aja coba.” Janitra mengangguk, Si Bungsu memang hampir nggak pernah absen minta jajanin kakak - kakaknya.
Setelah menghabiskan kuenya dan mencuci piring serta gelas kotor yang tadi Marcel dan ia pakai, Janitra bergegas menyusul ke depan. “Dah, Kak!”
“Dahh, hati - hatii!!” balas Ammara.
