Work Text:
“Kamu masih kecil, buat apa pacaran?”
Katanya sih begitu, kata mama. Dan mama selalu ngulangin satu kalimat itu setiap saat. Gak ada penentu waktu atau trigger apapun, tapi mama selalu bilang.
Heran. Maksudku, emang kenapa kalau pacaran? Aku se-kecil apa sih di mata mama? Apa kelas 2 SMA tuh kecil ya?
“William, emang aku kecil?”
William yang sedang mengunyah telor gulungnya menoleh, ia berhenti mengunyah. Lucu sih jadinya, pipinya masih gembul soalnya ada makanan yang ia simpen di situ.
“Kwnwpw twnyw gwtw?”
“Telen dulu deh Iyamm.” William menurut, ia mengambil air dari botol di tasnya dan meminumnya—untuk membantu menelan.
“Kenapa tanya gitu?”, William mengulangi perkataannya.
“Kata mama aku kecil.”
“Gak salah sih, kamu emang kecil. Buktinya masih tinggian aku. Kamu juga gak bisa ambil buku di rak tinggi perpus, harus sama aku.”
“Oh, terus kita gak boleh pacaran dong harusnya?”
William menoleh, alisnya menukik, tanda dirinya bingung.
“Kok gitu ngomongnya?”
“Dari kemarin tuh mama ku bilang, katanya aku gak boleh pacaran. Masih kecil. Makanya bingung, emang aku se-kecil apa kok dilarang pacaran?”
William merenung, ia masih diam dan berpikir.
“Hmmm, bener juga kata mama kamu. Tapi Lego, aku juga kan masih kecil. Kita sama-sama kecil kalau gitu dong?”
“Iya ya… Mama kamu bilang juga gak?”
“Bilang apa?”
“Kamu masih kecil?”
“Sering. Katanya kenapa aku udah sibuk di luar rumah buat les atau futsal, padahal kan aku masih anak kecil, harusnya banyak di rumah sama mama papa ku. Gitu katanya. Tapi, emang iya ya kita masih kecil?”
Aku yang terdiam kali ini. Menggoyangkan kaki sambil menatap ke pepohonan di taman sekolah.
Iya ya. Nyatanya aku sama William sama-sama masih kecil.
“Kayak nya emang kita masih kecil deh Iyam.”
“Hmm, tapi kamu mau gak pacaran sama anak kecil?”
“Kok gantian kamu yang nanya?”
“Kata mama kamu, kamu masih kecil. Kata mama aku juga. Katanya kalau masih kecil, gak boleh pacaran. Tapi aku mau pacaran sama kamu. Kamu mau gak pacaran sama aku?” Mata William berkilat, ia bersungguh-sungguh. Tangannya perlahan bergerak menyentuh tanganku.
“Apasih Iyam? HAHAHA. Gimana yaa? Emang boleh gak sih anak kecil pacaran?”
“Gak tau, tapi kata mama-mama gak boleh? Cuma aku gak mau kalau gak boleh sama kamu.”
“Ya aku juga gak mau. Aku gakpapa kok pacaran sama anak kecil kaya kamu.”
“Kamu juga anak kecil! Yaudah, kita tetep pacaran ya kalau gitu. Gak usah bilang mama-mama, oke?” William mengangkat jari kelingkingnya.
“Oke!” Jari kelingking kita bertautan, tanda pengungkapan janji. “Kita kasih taunya pas udah besar aja gimana?”
“Bolehh. Tapi, kalau udah besar nanti, Lego masih pacaran kan sama William?”
Aku tersenyum, “Masih kok. Masih sama William.”
Ya sudah lah, emang anak kecil tau apa ya soal cinta? Baik aku atau William emang gak tau sih, tapi selama kita tau masing-masing, kayaknya masih cinta deh.
Biar kita aja yang masih kecil, tapi cinta buat kita berdua besar kok.
Oh iya, jangan bilang ke mama-mama kita ya soal ini. Ini rahasia antara aku dan William, para anak kecil yang udah pacaran.
