Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of binar dan radja
Collections:
anonymous
Stats:
Published:
2026-02-18
Words:
1,600
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
79
Bookmarks:
5
Hits:
1,151

warm love

Summary:

“Binar,” panggil Radja, fokus pandangannya jatuh secara penuh pada paras cantik di hadapannya. “Sayang.” ucapnya kemudian.

Binar spontan tertawa. “What are you? Embun?” sarkasnya dengan bercanda, sebab cara Radja mengucapkan kata sayang tadi itu terdengar persis seperti keyword yang biasa Embun ungkapkan ketika ia tengah meminta perhatian kasih sayang—dielus puncak kepalanya. Tegas dan menuntut.

“Sayang, Binar,” ulang Radja tak menyerah. Makin menuntut dengan manja. “Sayang.”

atau; mengintip pada satu scene dalam kisah Radja dan Binar, andai saja mereka pacaran.

Notes:

yes, this is a WHAT IF scenario dari keonhyeon au yang ini atas dasar request anon di sini.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sewaktu Radja membuka pintu mobil, hal pertama yang dilihatnya adalah Binar yang duduk manis di sisi kursi penumpang tepat di belakang kursi Pak Uci. Kedua netranya memandang Radja dengan sorot tenang dan senyum hangat yang begitu menyambut. Cantik sekali.

Radja pun masuk tanpa banyak bicara, namun dengan tergesa ia melempar asal tasnya ke jok belakang begitu dirinya selesai menutup pintu dan meminta Pak Uci untuk langsung segera menjalankan mobilnya.

Sementara Binar yang sudah siap menyambut Radja dalam peluk—biasanya Radja selalu begitu, malah dibuat kaget karena Radja justru memposisikan tubuhnya untuk berbaring dengan mendaratkan kepala di paha Binar  begitu saja. Lebarnya mobil jelas tidak ideal bagi Radja untuk ada dalam posisi itu sehingga kakinya harus ia tekuk, sementara kedua matanya dipejamkan supaya bisa menutup semua akses distraksi visual dengan harapan ia akan dapat tambahan ketenangan dalam hening yang selanjutnya menyelimuti. 

Rasanya Radja lelah sekali hari ini.

Binar menerima semuanya tanpa banyak bertanya, mereka sudah saling mengenal dan dekat cukup lama untuk dirinya bisa tahu dengan mudah apa yang saat ini paling Radja butuhkan. Tidak perlu dipaksa untuk bercerita, nanti juga akan ditumpahkan dengan sendirinya. Tapi kemudian dilihatnya, sesekali muncul kerutan-kerutan tak nyaman di pangkal hidung atau dahi Radja dan sedikitnya itu mendorong Binar untuk melakukan aksi atas dasar rasa khawatirnya.

“Radja enggak pegel?” tanya Binar pada Radja yang masih enggan membuka mata, seraya tangannya mengurut halus kerutan di wajah Radja tadi dengan lembut. Ia tahu Radja tidak sedang tidur. “Nyaman enggak sih posisinya kayak begini?”

Si empu yang dilempari pertanyaan tidak merespon secara verbal, melainkan ia rubah posisi tubuhnya jadi menyamping untuk kemudian membenamkan wajahnya di perut Binar. Sementara Binar sendiri hanya tersenyum kecil, sudah sangat terbiasa baginya menghadapi sang pacar kalau sedang dalam mode manja begini. Lantas tangannya terangkat untuk menepuk-nepuk pelan bahu Radja, ritmenya teratur dan tekanan yang cukup dengan kelembutan penuh rasa sayang.

“Radja…” Tidak ada rasa keberatan atau ketidaknyamanan yang muncul di balik nada suaranya, yang ada hanya Binar dengan rasa khawatirnya itu bertanya dengan lembutnya, “Bukannya makin enggak nyaman ya kalau posisi kamunya begini?” 

“Lima menit.” Radja justru dengan susah payah berusaha melingkarkan tangannya di pinggang si kesayangan. Suaranya parau, getarannya merambat dari perut dan naik ke atas yang itu sampai membuat wajah Binar memerah sampai ke belakang lehernya. “Radja maunya begini. I think I need this the most right now.”

God. It’s ticklish, and fluttering. In a very good way. 

“Yaudah,” balas Binar pasrah. “Lima menit, ya.”

Radja semakin mengeratkan pelukannya, lantas menghirup wangi tubuh Binar sebanyak yang mampu memenuhi rongga dadanya seolah itu adalah oksigen yang dapat membuatnya untuk tetap bernafas dan hidup. Sementara Binar sesekali mengubah tepukan di bahu Radja menjadi sebuah usapan yang menenangkan.

Binar di sini, Radja. Binar enggak akan kemana-mana.

Tapi kemudian mereka tidak bertahan dalam posisi itu selama yang Radja ungkapkan sebelumnya, karena di menit ketiga tiba-tiba saja Radja bangkit jadi setengah duduk. Dengan masih condong ke arah Binar, semua beban tubuhnya ditumpu oleh kedua tangannya. 

“Binar,” panggil Radja, fokus pandangannya jatuh secara penuh pada paras cantik di hadapannya. “Sayang.” ucapnya kemudian.

Binar spontan tertawa. “What are you? Embun?” sarkasnya dengan bercanda, sebab cara Radja mengucapkan kata sayang tadi itu terdengar persis seperti keyword yang biasa Embun ungkapkan ketika ia tengah meminta perhatian kasih sayang—dielus puncak kepalanya. Tegas dan menuntut.

“Sayang, Binar,” ulang Radja tak menyerah. Makin menuntut dengan manja. “Sayang.”

“Enggak,” goda Binar. Telunjuknya terangkat dan mengarah pada rambut Radja. “Rambut Radja itu basah, tahu. Cukup paha Binar aja yang jadi korbannya ya.”

“Fine. Kalau gitu—Tapi kemudian Radja menggeser posisi tubuhnya jadi bersandar di pintu mobil, lalu meraih satu tangan Binar. “—sini.”

Mata Binar melirik panik dan setengah malu ke arah kursi sopir. “Radja!” bisiknya menegur.

Sementara Radja hanya mengedikkan bahu cuek. “Pak Uci,” panggilnya santai.

“Aman, Den Radja,” sahut Pak Uci yang sudah sangat hafal terhadap intensi Radja meski hanya dari panggilan namanya saja seperti barusan. “Santai aja, Kakak Binar. Dunia cuma milik kalian berdua.”

Binar menahan malu sampai memerah di seluruh wajah, sementara Radja tetap tidak menyerah. Ia tarik sedikit lengan Binar. “Siniii,” pintanya lagi.

Ada jeda selama beberapa detik. Binar masih mempertimbangkan, sementara Radja menunggu dengan penuh kesabaran dan pengharapan. 

“Yaudah.”

Binar akhirnya menyerah pada rasa kasihannya—ya, karena dia sayang—kepada Radja. Lantas ia menggeser tubuhnya dan menyamankan posisi dalam dekapan tubuh Radja, dengan kepalanya bersandar di bahu kokoh pacarnya itu. Sementara Radja kemudian melingkarkan lengannya, memastikan Binar terkunci dengan aman dalam peluknya.

Di luar, rintik hujan terlihat mulai membasahi kaca jendela mobil. Dinginnya tidak sampai masuk ke dalam mobil meskipun hening menyelimuti, karena Radja semakin mengeratkan pelukannya dan ibu jari Binar tanpa henti mengusap lembut lengan Radja di depan perutnya.

Sederhana, tapi itu saja sudah lebih cukup untuk menghangatkan hati keduanya.

“It’s raining,” ucap Binar, berusaha memancing Radja untuk bicara.

Radja hanya membalas dengan gumam kecil, sebelum akhirnya membuka suara sebagaimana yang Binar harapkan. “I had a bad swim today.”

“Ah… susah ya tadi latihannya?”

“Iya,” jawab Radja terdengar begitu lelah. “I’m overdoing it. Semua jadi berantakan.”

Lalu perasaan itu muncul lagi; soal bagaimana ia kesulitan mengatur pace-nya agar tetap konsisten, soal bagaimana ia bagaikan tengah berlari dari air yang seperti ingin menenggelamkannya, soal bagaimana tubuhnya mengirim sinyal protes karena sudah terlalu dipaksakan. Soal kegagalan yang mungkin akan jadi satu-satunya hal yang pada akhirnya akan Radja dapatkan.

“Radja, it’s okay.” Binar bisa merasakan bagaimana bahu Radja yang menjadi agak tegang, kepalanya semakin ia rapatkan dengan satu sisi wajah si kesayangan sambil satu tangannya terangkat untuk mengusap sisi wajah yang lain. “It’s just a bad swim, not a bad life.”

“Right…” Radja semakin mendekap sisi wajahnya pada tangan Binar, mengejar hangat dan tenang yang tersalur dari sentuhannya. “Life is good. Radja punya Binar soalnya.”

“Gombal.”

“Enggak.”

“Tapi ya, Radja. One bad swim doesn't make you any less of a good swimmer kok.” Tangan Binar kemudian ditarik Radja untuk ditautkan dengan miliknya. “Gak ada yang bisa hapus semua jejak kemenangan yang udah Radja dapatkan selama ini.”

“Bisa aja sih,” sanggah Radja. “Kan ada pepatah bilang, karena nila setitik rusak susu sebelanga.”

“Rusak masih bisa kita benerin lagi.”

“Caranya?”

“Ya, sekarang belum ketemu sih? Karena enggak betulan lagi kita hadapi. Tapi yang pasti, menyerah udah gak masuk dalam pilihan. Binar percaya, nanti pokoknya bakal selalu ada jalan.” Ada jeda beberapa detik sampai akhirnya Binar kembali melanjutkan, “Dan kalau Radja mengizinkan, Binar akan selalu berusaha memastikan kalau jalannya itu, apa pun bentuknya, enggak akan buat Radja ngerasa kesepian.”

Orang gila.

“Binar…” 

Maksudnya, Radja yang gila. Semua tegang yang sempat bahunya rasanya memang seketika menghilang, tapi kemudian sekarang jadinya tidak ada kata yang mampu Radja ucapkan lagi. Tapi dari bagaimana jantung Radja yang seperti akan mendobrak keluar dari rongga dada saking keras organ itu berdetaknya, Binar sudah bisa simpulkan sendiri seberapa besar efek dari eksistensinya dalam kehidupan Radja.

“Oke, Radja. Cukup. Binar ngerti.” Entah Radja bisa merasakan juga atau tidak, tapi Binar sebenarnya juga sedang salting sendiri. “Sekarang tenang, ya. You think too loudly.”

“No.” Radja mengoreksi. “I love you, loudly.”

“Oh my God.” Sekarang giliran Binar yang tiba-tiba kehilangan kemampuan bicaranya. “Shut up.”

Radja terpikirkan untuk lanjut melempar godaan sebenarnya. Tapi meski dari pencahayaan dalam mobil yang seadanya, sudut mata Radja tetap bisa menangkap bagaimana putihnya paras Binar itu perlahan terhias warna merah cantik yang juga seperti tanda bagi Radja untuk berhenti saat itu juga.

“Okay, okay. Radja udahan.”

“Bagus…” Binar menghembus nafas lega. “Kalau gak gitu, nanti Binar bisa meledak.”

“Jangan. Katanya mau nemenin terus biar Radja gak kesepian?”

“Iya, makanya Radja jangan menyebalkan.” 

“Iya, enggak akan.” Untuk pertama kalinya, Radja sungguhan tersenyum lepas dan tulus hari itu. Radja bisa merasakan Binar dalam dekapnya. Hangat, dan nyata. “Life is good, indeed.”

“Iya ‘kan… a bad swim is not the end of the world, kok.”

“Agree. The end of the world itu kayaknya kalau Binar anggap Radja udah gak bisa renang lagi deh.”

“That will never happen,” jawab Binar cepat. “Radja akan selalu jadi jagoan renang nomor satu di seluruh dunia.”

“Masa iya?”

“Iya, karena Embun cuma paling seneng kalau renang sama Radja kan.”

“Wow… bener juga.” Hati Radja jauh semakin menghangat begitu ia diingatkan fakta satu itu. “Siapa peduli apa yang orang lain pikirin, ya? Selama Radja jadi perenang favorit Embun, then the rest just doesn’t matter anymore.”

“That’s so sweet of you, Radja. Makasih banyak, ya.”

“Sama-sama, Binar.” Pelukan semakin dieratkan. “Radja sayang Binar.”

“Iya, Binar tahu.”

“Hey.”

“Hahaha… Binar sayang Radja juga. Nanti malem mau nonton film gak?”

“Mau. Sekalian nginep juga ya, boleh?”

“Boleh, sih. Tapi Binar belum bilang sama Embun… nanti Radja diusir keluar lagi sama Embun kayak waktu itu.”

“Yaudah nanti Radja mampir dulu sebentar, buat bicara langsung ke Embun kalau mau nginep di sana.”

“Ide bagus.” Binar mengangguk kecil. “Radja mau coba ngomong berdua aja sama Embun?” tawarnya kemudian.

“Maunya tetep ditemenin, boleh? Kadang kan Radja masih ada bingungnya. Terus ini ‘kan serious matter ya, kita mau quality time. Jadi pesannya harus sampe dengan bener.”

Binar tertawa. “Lucu banget sih….”

“Ketawanya ngeledek ah. Males.”

“Gak ngeledek. Itu pure karena Binar pikir kalian gemesin,” jawab Binar jujur. “Oke, nanti Binar temenin Radja bicara sama Embunnya ya.”

“Makasih, Kakak Binar,” ucap Radja tulus, tapi setengah menggoda. “Tolong dibantu sampe Radja bisa dapet acc dari Embun ya.”

“Hahahah… oke, siap. Sama-sama, Kakak Radja!”

Hujan di luar sana masih setia membasahi sepanjang jalan dimana mobil berjalan dengan tenang tanpa banyak hambatan, namun sedikit pun dingin tidak ada yang berhasil masuk mengisi ruang di antara mereka. Dunia kecil yang terlingkup dalam satu ruang mobil itu sudah terlanjur penuh dengan hangatnya peluk yang saling dibagi beserta canda dan tawa yang selalu bisa dicari di antara lelahnya hari yang sudah terlewati sejauh ini.

 

Notes:

makasih udah baca sampai akhir ya. ini dubuat spontan aja dan itu pun gak sesuai request yang spesial ulang tahun keonho. tapi, semoga paling enggak bisa tersampaikan soal gambaran gimana seandainya mereka pacaran. hahahah. jujur di plot aslinya kayaknya masih jauh? who knows... tapi ya, begitu lah. haha. terima kasih juga atas semua hal yang sudah tercurah limpah buat kisah binar dan radja, aku selalu sangat mengapresiasi segala bentuk perhatian untuk cerita mereka ini. huhuhuhu terharu... ada yang ikut menikmati jg perjalanannya. makasih banyak!!!

Series this work belongs to: