Actions

Work Header

MJ Since 2023

Summary:

James mengenal Martin sejak 3 tahun yang lalu, ada banyak perubahan yang terjadi semenjak mereka bertemu. Salah satunya, keyakinan James tentang cinta dan norma.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

James akui ia tidak terbiasa dengan suasana ini. Makan malam romantis pada restoran mewah di tengah kota. Setiap mejanya terhias oleh lilin aromatik dan bunga mawar merah. Pengunjung restoran memakai pakaian terbaik mereka, setelan kemeja, gaun cantik, dan rambut yang ditata elok. Musik jazz mengalun sebagai latar belakang, menemani perbincangan hangat dari setiap pasangan dan keluarga yang datang.

            Kursi pada setiap meja diatur sedemikian dekat, menambah intimasi di antara mereka. James tidak tahu apa yang salah. Steak yang ia pesan matang sempurna, salad pendampingnya juga dibumbui dengan baik, dan anggurnya manis. Namun entah mengapa ia tidak mampu mengunyah dengan baik.

            Apakah karena parfum wanita di seberangnya yang begitu tajam? Tidak, James dapat mentoleransi harum bunga dan vanilla—he is a fan of it. Walau tidak senikmat wangi laundry bersih yang melekat pada tubuh sahabatnya. Sang pemuda terus memainkan makanan dengan garpu, enggan mengangkat kepala karena ia tahu apa yang akan dikatakan oleh pasangan kencannya malam ini jika manik mereka bertemu.

             “James, do you hear me?” 

             James menghela napas, ia juga tidak bisa berlari dari masalah terlalu lama. Maka, pemuda tersebut memberanikan diri untuk melihat. Harvey mungkin termasuk perempuan tercantik yang pernah ia lihat. Hari ini wajahnya yang berwarna cokelat madu, berkilauan di bawah cahaya lampu. Riasan keemasan dan lavender menghiasi wajah Harvey, melukis mata hingga pipinya yang penuh bintang. She’s very beautiful, but does he want to see her face forever? No.

               “Yes, Harvey? I’m sorry, saya melamun tadi. Bisa ulangi pembicaraan kita?” balas James dengan senyuman samar.

                Harvey tampak melebarkan mata, “Are you serious? Saya bilang, kita sudah menjalankan agenda kencan ini selama tiga bulan lebih. Kita terus melangkah maju dan mundur. I feel like, you’re treating me as a toy. I’m tired of it, James.

                 Bukan rahasia bahwa James dikenal sebagai pemain ulung. Mulut-mulut itu membicarakannya sembarangan, mengatakan bahwa ia bukan pria yang baik—seringkali memanfaatkan wanita untuk menghabiskan waktu saja—tidak pernah serius. Bangsat. Salahkan saja ia terus, padahal mereka datang begitu saja lalu pergi dengan tidak sabaran. Oke, lebih baik James lupakan keegoisannya ini, karena ia pun tidak tahu apa yang hatinya inginkan.

                   Keonho pernah berkata, “Bukannya lebih baik Abang berhenti memberi harapan terus tolak mereka sejak awal daripada bermain-main seperti ini?” Lalu, James akan membalas dengan jawaban yang sama. “Cinta itu bukan hanya soal perasaan, tetapi juga eksplorasi dan pengalaman.”

                    PREEEEETTT.Bilang aja kalo lo tuh lagi denial, stop mainin perasaan orang ya. Bang, You know who you want from the start. You’re the only one who truly understands your heart. Stop ignoring your feelings. Gak capek emang lari-lari terus?

                  Mengingat pembicaraan bodoh itu saja James langsung merasa mual. Apa yang bocah kecil itu tahu tentangnya? Jemari sang lelaki beralih untuk mengusap kalung yang bertengger di leher, liontin salip tergantung di sana.

                “What do you mean by that? I’m not treating you like a toy, Harvey.” 

                “Sudah? Is that the only thing you have to say for yourself?” kekeh Harvey jelas-jelas terdengar penuh sarkas.

                 Kedua tangan sang pemuda mengepal di bawah meja, berusaha menahan emosinya yang mudah melonjak. Namun James tahu bahwa ia bukan api berkobar yang siap melahap habis orang-orang di sekitarnya seperti sang Ayah. Maka, James menelan semua amarah yang ia rasakan dalam diam. Ketika Harvey menyiram wajahnya dengan anggur merah, James hanya bisa tersenyum memaklumi.

               Perempuan itu beranjak dari kursi dengan wajah memerah, menghentakkan kaki hingga keluar dari restoran—meninggalkan sosok James yang mematung. Pengunjung di meja lain melihatnya dengan khawatir, beberapa tawa geli juga terdengar samar-samar. Hiburan.

                Bagus. Sekarang kemeja putih dan celana cokelat yang ia pakai ternodai oleh cairan merah pekat. Seolah-olah ada seseorang yang James bunuh atau memuntahkan darah di atasnya. James mengusap wajah kasar. He deserves it. 

                Ia tahu bahwa dirinya berhak diperlakukan seperti itu. Walaupun begitu, James tidak bisa mengabaikan rasa pedih di dadanya yang perlahan kembali bermekaran. 

               James harap ia mampu menerima isi hatinya dengan mudah. Atau setidaknya, semesta mau merestui apa yang sebetulnya James mau. Keonho benar, James selalu mengetahui sejak awal siapa yang ia inginkan. Hanya saja bagaimana jika bentuk cinta James selalu dinilai sebagai “dosa”?

               Ia mengerang frustasi. Tiba-tiba saja kepalanya berputar pada siluet seseorang yang selalu mengganggu pikirannya. James mengingat tubuh jangkung itu, surai pirang bak pasir pantai yang berkilauan di bawah lautan biru, dan seringai lucu itu. Mendadak James berharap jikalau ia tidak 15.800 km lebih jauh dari seseorang tersebut.

              Selamat ya Martin, lagi dan lagi kamu sukses menjadi pemenangnya.

 

 

****

 

 

                Mobil jeep wrangler berwarna abu-abu melaju kencang melewati jalan bukit berliku. Bagian roof terbuka lebar, memperlihatkan lautan temaram yang dihiasi oleh berbagai rasi bintang bercahaya. Kemilaunya menemani para insan yang sebagian besar mungkin sudah tenggelam dalam bunga mimpi.

 

                Ryul fokus berpegang dengan setir selagi melirik ke rearview mirror memeriksa situasi penumpang di kursi belakang. Ada Gawon yang naik bersama Martin untuk menikmati angin yang berhembus kencang serta pemandangan dari atas bukit. James terkikik karena tingkah dua orang itu yang tidak jarang berteriak karena hawa sejuk nikmat.

 

             Tubuh mereka setengahnya berada di bagian luar, melewati roof mobil. “Tolong dijagain anaknya, Pak,” ujar Ohyul dari kursi depan berusaha mengingatkan James.

 

               “Gue nggak khawatir kalau mereka jatoh sih. Lebih ke deg-degan aja celana Martin melorot,” sahut Ryul membuat Martin mendecak sebal lalu memeriksa celana jeansnya yang memang sering dimodel sagging pants. 

 

             “Lah, rezeki James nggak sih itu?” James menoleh begitu cepat pada Gawon, wanita itu mengintip ke bawah lalu menjulurkan lidah. Mata melotot lelaki itu seolah berkata, “Kontol lo tau kontol, nggak, Won?”

 

                 “Kenapa harus James? AADJ. Ada apa dengan James?”

 

              Bagi ketiga sahabatnya yang lain, ini adalah candaan. Tetapi, tiga bulan tanpa bertemu satu sama lain tentu membuat rasa canggung kembali menyelimuti James. Ia bersyukur karena pemuda yang jangkung justru ikut menahan tawa. Suara pfftt–keluar dari ranum tipisnya sebelum ia menendang usil kaki Gawon. 

 

                  “Yeah, he will probably enjoy the view.” WOW. OKE???

 

          James bingung harus bereaksi seperti apa, tetapi jantungnya terasa berguncang begitu keras sampai getarannya mampu membuat ia lemas karena perkataan Martin. Ia butuh pegangan, maka tangan sang pemuda bersurai kecoklatan refleks meremat kaki jenjang si pelaku gombalan maut itu. Jika ada satu hal yang menjadi kelemahan bagi Martin, maka hal tersebut adalah sentuhan.

 

             Tiga tahun mengenal pemuda tersebut, tentu James mengenal seluk-beluk Martin cukup baik. Mulai dari selera berpakaiannya, musik, kebiasaan saat tidur, hingga cerita masa kecil memalukan lelaki pirang itu. He’s a clingy person, really touchy, berbanding terbalik dengan James. Oleh karena itu, sentuhan dari sang pemuda adalah statis kencang yang mampu membuat rona menyebar di pipinya. Balasan akibat mulut Martin yang asal bicara.

 

                “Oh, get a room you two,” canda Ohyul memutar bola mata malas. Tenang, bukan hanya Gawon yang muak akan hubungan penuh tanya mereka berdua. 

 

               Sudah beberapa bulan sejak James menjalani agenda kuliahnya di Chicago. Jarak adalah mimpi buruk, sebab ia harus memenuhi hari-hari berat tanpa kehadiran orang terdekatnya. Rindu ia rasakan setiap waktu, namun, ia tidak akan membiarkan perasaan emosionalnya menang. Jika, ditanya paling rindu siapa? Para sahabat James mungkin sudah bisa menebak jawaban sang pemuda, meskipun ia diam saja.

 

               Martin Edwards. 

 

       Lagu dari radio mengisi mobil. Phases karya PRETTYMUCH mengalun indah, mengacak-acak isi kepala James.

 

               Even though you ain’t mine, it’s the fact that I’m yours.

 

            Martin yang ia kenali sejak tiga tahun lalu. Entah sihir apa yang dipasang oleh sang pemuda diam-diam, namun sang anak Adam berhasil menjadi distraksi terbesar bagi James untuk mencari kekasih. Setiap kali ia berusaha mendekati wanita lain, justru lembaran peristiwa yang terjadi mengingatkan James akan Martin. Sebagian besar restoran yang James kunjungi bersama wanita itu adalah tempat makan favorit Martin, lalu film yang mereka setel di apartemen adalah kumpulan rekomendasi dari Martin, bahkan tempat-tempat berkencan James adalah tempat yang pernah Martin pijak.

 

               It’s the fact that my life ain’t complete without yours.

 

            Ada banyak hal yang tidak mereka sepakati bersama, namun James selalu mencoba untuk berpikir. Semua orang berkata bahwa James tidak akan melakukan hal yang sama pada orang lain, namun kelembutan dan pengertian itu dengan senang hati ia berikan kepada Martin.

 

           It’s the fact that at night I be tryna ignore. 

      Catching overseas flights just to knock on your door, ‘cause you put my planet in orbit.

 

        James menahan diri. Walau harus ia akui, bahwa memang obrolan berjam-jam dengan Martin terasa lebih menyenangkan daripada harus berpura-pura bahagia di setiap kencan buta yang ia lakukan. Sometimes, calling each other is not enough too—jika James lupa ia sedang berkuliah di negara orang, mungkin tangannya sudah impulsif memesan tiket agar bisa kembali ke Jakarta. Kota di mana mereka menghabiskan waktu SMA bersama.

 

               Persahabatan mereka begitu erat. Agama James selalu menjadi bagian penting di dalam kehidupan. Diam-diam ia selalu berdoa jikalau hati mereka berseteru. James mau benang takdir terikat di antaranya dengan Martin saja. Entah sejak kapan, tetapi Martin Edwards telah menjadi jawaban dari segala tanyanya. But, he’s a loser. He can’t walk one step forward. James is too afraid to ruin everything. 

 

              Jari telunjuk dan ibu jari James menarik ujung jeans Martin, meremas hingga bekasnya menjadi kusut. Sang empunya menunduk ke bawah lalu merosot untuk duduk kembali di samping pemuda yang lebih tua. Ia mendekatkan wajah pada telinga James lalu berbisik, “Are you okay? Mabok nggak? Ada antimo tuh di kursi belakang.”

 

                 James ikut menoleh, menjadikan jarak mereka beberapa centi lebih dekat. Hidung kedua sejoli itu hampir bersentuhan. Manikmaya gelap bersorot tajam James bertemu dengan tatapan lembut sang pria berdarah campuran. Coklatnya kemerahan, bulat, James dapat membayangkan isi planet mars di dalam sana.

 

                James nggak butuh antimo, tatapan dari Martin saja sudah cukup membuat ia mabuk kepayang. Ia tidak mau disembuhkan, biarkan dia tenggelam. Eksistensi Martin saja cukup. Seketika semua gundah-gulana sirna karena ada pemuda itu di sampingnya.

 

                  “Nothing, just enjoying the view.”

 

 

 

****

 

 

 

               

 

                 Kepulan asap sigaret keluar dari sela bibir seorang pemuda bersurai coklat muda. Kacamata baca yang pakai sedikit merosot dari pangkal hidung. James duduk sendirian di pinggiran bukit, menikmati hamparan kota yang penuh cahaya. Kumpulan pemukiman, gedung tinggi, ah, nyaman sekali rasanya jauh dari keramaian. 

 

              Suara merdu tawa seseorang mengalihkan atensi James. Suara langkah kaki mendekat ke arahnya, bahkan tanpa harus melihat langsung pemuda itu mengetahui siapa yang datang. “Hey,” Martin menyapa dengan seringai khas sebelum mendaratkan bokongnya di sebelah James.

 

                James tidak mampu menahan senyuman. Ia melirik Martin yang kini menggosokkan kedua tangan karena angin menusuk. “Dingin?” tanya lelaki yang lebih tua.

 

          “Dikit. Doesn’t matter though, dari sini pemandangannya kaya surga.” Mereka memang sejak lama menyukai petualangan singkat, pelarian pendek dari segala kesibukan, atau James saja yang berlari dari Ayah? Tidak tahu. Yang pasti, Martin akan dengan sigap berkata, ‘Kak, I know a place.’ Lalu tanpa protes James akan mengekorinya dari belakang.

 

           James menyunggingkan bibir, tidak bisa membiarkan Martin diterjang kedinginan begitu saja. Ia sampirkan setengah dari jaket tebalnya pada pundak pemuda itu meskipun harus susah payah karena tinggi mereka yang cukup berbeda. 

 

           “Oh, are you trying to be a gentleman now?”

 

          “Diem. Mau hipotermia, lo?”

 

          “Gue tau cara lain buat ngehangatin diri, tau kak.”

 

         Martin mengangkat kedua alis. Ia melihat ke dalam mata James lamat-lamat, membuat yang ditatap seketika salah tingkah. Martin sudah besar, ya? Sudah pintar mempermainkan hati seseorang begini? Antagonis. Curang, ah. James tidak suka. Pemuda bersurai kecoklatan itu lantas mendorong sahabatnya kesal. “Gak. Ide lo jelek.”

 

           “Apaan sih? Maksud gue masuk ke dalam gubuk kayu kita anjirrr, emang Kakak mikirnya apaan? Jorok,” ujar Martin tertawa puas hingga tubuhnya terhuyung ke belakang. Sedikit rona mewarnai wajah James yang dingin. 

 

        Mereka terjebak kembali oleh keheningan. Martin menoleh ke arah rumah kayu yang terisi oleh sejoli, Ohyul dan Ryul yang tadi sibuk menyiapkan makanan. Gawon tengah berkaraoke di ruang tengah. Suara nyanyian kencang dan juga tawa dua pemuda masih terdengar sampai telinga Martin. Mereka sibuk dengan dunia masing-masing.

 

                 Ini waktu yang tepat untuk bertanya.

 

                 “Kak, I already heard it from Gawon.”

 

                 “Denger apaan?”

 

              “Why do you keep doing that? Kenapa lo selalu nolak mereka lagi dan lagi?” Oh, jadi soal itu. James menelan ludah susah payah, tiba-tiba saja tengkuknya gatal dan kerikil di sekitarnya terasa menarik untuk dilempar.

 

                 Harus menjawab apa dia? Ini bukan soal pilihan ganda, opsi tidak bermunculan pada kepala James.

 

                    “Ya….. I don’t want them.”

 

                Ia dapat merasakan tatapan penuh tanya dari Martin. Iya, gue gamau mereka. Maunya kamu. Maunya kamuuuuuu, tin. James kembali menyesap rokok di jemarinya lamat-lamat, berharap apabila racun itu mampu menghapus rasa gugupnya.

 

                  “They’re really kind, you know?” Kamu juga baik sekali, Tin. “They’re very beautiful too.” Kamu juga seindah itu, Tin. “Most of them like the things that you like too.” Aduh, kamu juga yang paling mengerti semua hal yang gue suka, kan? 

 

                 Tiga tahun ia telah mengenal Martin Edwards. Sebelum itu, James tidak mengetahui definisi cinta. Cinta yang sukses orang tuanya ajarkan hanya cinta kepada Tuhan, lalu sisanya gagal. Karena Ibunya kini telah menikah lagi dengan pria asing dari London dan sang Ayah berakhir di rumah sakit jiwa karena trauma mengikuti aliran agama yang sesat. James didoktrin untuk taat, jika tidak mungkin bilur akan mewarnai kulitnya kembali. Cinta kepada sesama adalah dosa. 

    

                     James menoleh, mempertemukan pandangan dengan lelaki yang lebih muda. Surai pirang bak pasir pantai itu menari mengikuti angin. Hidung bangirnya merah menggemaskan dan kini manik James turun ke arah ranum merah muda sang sahabat. Menatap lebih lama dari sana, sebelum sedikit mengalihkan tatapan. Ia membasahi bibirnya sendiri. “Martin, everything that you’ve said are the qualities that you have too.”

 

                  Martin mengerti. Tentu, ia mengerti—sebab kepalanya langsung mengalihkan diri agar James tidak menangkap bunga merah muda yang perlahan bermekaran hingga bagian telinganya. James memiringkan kepala, “You know what I mean by that, right?

 

                        Sang sahabat menggeleng ribut. “No, gue nggak ngerti Kak. Mereka perempuan—“

 

                         “Persetan.”

 

                         Betapa terkejutnya Martin mendengar itu. Ia kembali menatap James yang kini memasang ekspresi sungguh-sungguh. Dari mana pun ia melihat, tiada cela kebohongan yang Martin temukan pada iris gelap tersebut. James menatapnya seolah-olah lautan bintang di langit telah berpindah pada manik sang lelaki yang lebih muda. “I don’t care if it feels wrong for other people, I don’t care if my parents call it a sin. Lo jauh dari itu.”

 

                      Martin ingin melayangkan protes kembali, namun tiba-tiba saja sebuah tangan muncul untuk menarik rahangnya. Bibir tebal itu menempel dengan lugu, bertemu dengan miliknya, diam tanpa gerakan. Ranum James kering dan pahit, namun entah mengapa Martin buta rasa karena ia ikut memejamkan mata. Nafasnya bergetar namun lega, seolah berkata Oh my fucking god, is this real? Is it finally happening?

 

                     Lumatan-lumatan kecil mulai James berikan, ia memimpin gerakan, menyesap rasa yang ada dengan hikmat seolah bibir Martin adalah sari buah yang harus diminum habis. Ia menghisap ranum tersebut perlahan, dihadiahi oleh lenguhan dari sang empu. Tangan Martin sudah bertengger untuk membuat kusut surai coklat muda James, meremas di sana berusaha menyalurkan nikmat. Pagutan mereka hanya terhenti pada saat pasokan oksigen tinggal sedikit, bahkan saat Martin memutusnya—James mendesah kecewa dan masih mencondongkan wajah.

 

       Tanpa sadar Martin terkekeh. “Kak…..” lirihnya kini merasa malu-malu. Gila, dia baru saja mendapatkan ciuman dari James.

 

              “Kakak ngapain?”

 

            Sabit muncul pada wajah James, “Lo bawel dan kita kedinginan. Emangnya lo doang yang punya cara lain buat ngangetin diri?”

 

               Martin memukul bisep sang pemuda dengan kesal, ia ingin mengaduh kesakitan karena otot-otot James yang keras namun menahan diri. James mengusap lengannya, “Bercanda, Martin. Dengerin gue baik-baik. You’re the only person I want from the start, but I’m always afraid to admit it.”

 

                  Gemilang muncul di manik Martin. Ia memainkan jemarinya yang beristirahat pada paha, “Since when?

 

                      James membalas, “Sejak lo bikin gue lupa soal norma dan agama yang selama ini jadi pegangan gue, Martin. Since you've came into my life.”

 

                    Tangan James perlahan menyentuh permukaan bibir Martin yang basah karena pagutan mereka tadi. Napas Martin berderu, James mungkin tidak tahu bahwa ia tengah menahan hujan yang bisa saja lepas dari kedua matanya. Ia telah menunggu, menunggu sejak awal mereka dipertemukan saat SMA. Kalau ini mimpi, jangan bangunkan Martin.

 

                      “How about your parents? Aren't you scared of what people think about us?

 

                      Persetan mereka.

 

            James tidak mau lagi berlari. Biarkan ia peluk erat-erat tubuh sang pujaan hati sampai wangi mereka bersatu setiap hari. Selama Martin ada di sini, maka James yakin mereka akan baik-baik saja. 

 

             Tiga tahun mengenal Martin—James kini menemukan jawaban tentang “apa itu cinta?”. Cinta bukan hanya perihal perasaan, setiap orang memiliki bentuk cinta mereka masing-masing. Dalam kasus James, Martin Edwards adalah bentuk cintanya yang sempurna.

 

                    “Persetan mereka,” ucapnya sekali lagi sebelum kembali membuat sang purnama menjadi saksi bisu penyatuan bibir sepasang anak Adam yang menyalurkan perasaan terpendam sejak hari pertama mereka bertemu

Notes:

Hello, everyone. I'm soooo excited to finally sharing this fluffy work for you all, since I've been stuck on stress because of my college life. I hope you enjoy it! I'm very sorry for my messy writing (I DON'T HAVE TIME TO PRACTICEEE GAHHHH)

Anyways, love you all. Muah, muah!