Work Text:
Pertama kali kau melihatnya adalah saat seongsaenim datang ke kelas dan berkata jika akan ada murid baru di kelas. Hanya membuat kelas ini menjadi lebih sesak, pikirmu. Sehingga kau memutuskan untuk tidak memperhatikan.
Kau hanya mendengar jika namanya Hyunseok. Pasti murid lelaki, itu sudah pasti. Kau yakin bahwa Hyunseok ini adalah salah satu pembuat onar juga. Kau tidak suka dengan suasana yang berisik.
Tapi tidak.
Ketika menoleh, kau melihatnya, meski matamu tertutup oleh lebatnya rambut yang sengaja kau tata di depan mata, kau masih bisa melihatnya dengan jelas. Tubuhnya tinggi, hanya beda beberapa centi tingginya darimu. Tidak terlalu bulky, namun juga tidak kurus.
Murid baru itu bagaikan bunga.
Ah, apakah tadi baru saja kau terbengong sebentar?
Tidak, Jaeyeol. Kau tidak bisa tertarik padanya.
***
Sudah beberapa kali kau memperhatikannya. Dari rambutnya yang hitam dan terlihat halus, hidungnya yang mancung serta senyumnya yang lebar.
Kau seakan hafal dengan kebiasannya.
Hyunseok adalah orang yang mudah untuk dibuat kagum terhadap orang lain. Contohnya; berikan saja susu cokelat padanya, dan dia akan mengangumimu.
Namun, kau juga sadar, pemuda itu bukanlah orang yang lemah. Kau sudah melihatnya, dia bisa menumbangkan Jinsung yang merupakan juara di boxing dengan sekali pukulan. Hyunseok jelas, lebih kuat dari yang orang kira.
Pernah sekali ketika ujian sudah dekat, pemuda berambut hitam itu mendatangimu dan memintamu untuk mengajarinya.
Dan, benar seperti dugaanmu, saat pipimu tidak sengaja bersentuhan dengan rambutnya ketika kau sedang mengajarinya rumus yang tidak dia pahami, kau mencium wangi sampo. Bukan sampo yang biasa kau gunakan, kau tahu rata-rata siswa disini tidak akan bisa membelinya.
Wangi yang dipancarkan pemuda di hadapanmu seperti wangi musim panas. Dimana mugunghwa juga mekar dengan indahnya, namun tetap memancarkan keindahan serta aromanya tersendiri.
“Jaeyeol, apa jawabanku untuk soal ini benar?” Dia tertanya seraya menggigit ujung pulpenmu. Kau tersenyum kecil sebelum melihat hasil kerjanya. Sesaat kemudian kau mengangguk.
Kemudian dia merekahkan senyumnya.
Dan kau bersumpah, kau akan melakukan apapun juga untuk melindungi senyumnya itu.
***
Kau ingat kapan terakhir kali bibirmu bersentuhan dengan rokok. Kira-kira, sudah beberapa bulan lalu semenjak kau membantu Hyunseok dengan mengurus kelompok yang ingin berbuat curang.
Kau tahu bahwa tanpa bantuanmu, Hyunseok bisa melakukannya sendiri, ditambah lagi dengan adanya Vasco dan Jinsung.
(Tapi kau tetap ingin melakukan sesuatu untuknya, meski bukan dalam bentuk materi.)
Kau pun terbayang, apa rasanya jika bibirmu bersentuhan dengan bibirnya yang penuh?
Kau tidak akan pernah tahu.
***
Menurutmu, Park Hyunseok itu bagaikan bunga.
Indah, dengan segala sesuatu yang dipunyainya. Senyumnya, matanya, tawanya. Semua.
Kuat, bukan hanya dengan kekuatan, namun dengan perbuatannya.
Namun, seperti bunga yang terus kokoh berdiri meski terinjak-injak berulang kali dan masih memancarkan keindahannya, kau tahu bahwa jika kau ingin bunga itu terus hidup, kau tidak boleh menyentuhnya.
Kau hanya boleh merawat dan memandangi keindahannya saja dari jauh. Karena, kau tahu, detik kau memetik sebuah bunga, bunga itu akan mati perlahan.
Karena itu, kau berjanji dalam hati, kapanpun Park Hyunseok membutuhkan bantuan, kau, Hong Jaeyeol, akan melindungi Park Hyunseok kapanpun, dan mencintainya. Meski hanya bisa dari kejauhan.
