Work Text:
Alexander Albon bahkan belum sempat memproses apa yang tengah terjadi kala kesadarannya masih di awang-awang. Tapi tubuhnya dapat merasakan beban yang amat berat, terutama di bagian dadanya, dan Alex berani bertaruh kalau napasnya sempat hilang selama sepersekian detik.
“H-ah!” pria itu megap-megap mencari oksigen, bak ikan yang dipaksa keluar dari air.
“Aleexxx, banguun.” suara berat laki-laki di atasnya–oh, kini Alex paham siapa yang bertanggung jawab atas tekanan besar di dadanya tadi.
Alex mengerang lantas tangannya bergerayang mengambil tubuh laki-laki tersebut untuk dipindahkan dari atas tubuhnya, “Carlos, berat.”
“Bangun! Kamu susah banget dibangunin!” gerutu Carlos, mau tidak mau pindah balik ke atas kasur. Posisi tubuh Alex kini miring ke kanan, menghadap Carlos yang justru menempelkan wajahnya pada dada bidang Alex. Lagi-lagi, tubuh Alex diguncang oleh Carlos agar sang empu bangun dari tidur.
“Aku lapar Aleeex. Kamu udah janji mau masakin aku nasi ayam kemangi. Ayo cepat masak, aku udah lapar!” rengek Carlos panjang lebar berharap kalau Alex setidaknya memiliki kesadaran sedikit untuk mendengarkan apa yang ia katakan.
Alex hanya bergumam panjang, kentara sekali masih mengantuk membuat Carlos menghembuskan napas jengkel dan hampir menyerah kala tangan Alex malah merangkul pinggang Carlos lantas menipiskan jarak mereka yang sudah tidak ada itu.
“Lima menit,” bisik Alex pada rambut Carlos yang acak-acakan. Carlos sudah siap mau protes tapi tidak jadi sebab telapak tangan Alex kini mengusap punggungnya yang tidak tertutupi fabrik apapun. Pelan-pelan, naik-turun, sukses membuat pemuda itu kembali menutup kelopak matanya. Carlos menyerah. Gestur tangan dari kekasihnya sukses membuat Carlos kembali ke alam bawah sadar.
Entah berapa lama sudah berlalu, Alex kembali terbangun dengan kondisi laki-laki dalam dekapannya masih tertidur pulas. Pelan-pelan, Alexander Albon melepaskan diri dari tubuh Carlos dan dalam hati bersyukur mengingat kekasihnya itu tidak mudah terbangun. Alex membubuhkan kecup pada puncak kepala Carlos sebelum akhirnya beranjak dari atas kasur.
Alex membawa kakinya langsung menuju dapur setelah cuci muka. Ia mengambil bahan-bahan untuk membuat nasi ayam kemangi, menu permintaan Carlos. Salahnya sendiri sih, karena terlalu jumawa berkata bahwa ayam kemangi buatannya jauh lebih enak dari restoran Thailand yang beberapa hari lalu mereka temukan di aplikasi food delivery. Tapi memang, menurut Alex, seluruh menu yang mereka pesan terasa kurang (atau mungkin lidah Thailand Alex yang terlalu oriental, entah juga).
Dengan lihai, pemuda itu memasukkan ayam fillet frozen ke dalam microwave untuk dicairkan. Kemudian ia memasak nasi terlebih dahulu menggunakan rice cooker, jiwa asia tenggara dalam dirinya merasa bangga. Ibunya juga pasti bangga. Alex mengangguk-angguk sendiri. Setelah itu, ia mengambil beberapa siung bawang putih dan cabai rawit. Sedikit saja, mungkin lebih sedikit dari biasanya mengingat Carlos tidak bisa makan pedas. Sungguh bencana bagi Alex yang amat terbiasa dengan berbagai macam rasa pedas. Alex mencincang bawang putih dan cabai tersebut, kemudian mengambil wajan anti lengket di kabinet bagian bawah untuk ditaruh di atas kompor.
Kalau melihat adegan ini, banyak yang akan meyakini bahwa Alex sudah sering memasak di dapur meski aslinya lebih sering Carlos yang menghabiskan waktu di area ini. Alex terlampau suka melihat kekasihnya meracik resep yang baru ditemukan di tiktok sebab menurutnya wajah Carlos saat serius terlihat amat menggemaskan.
Begitu Alex memasukkan bawang putih dan cabai yang sudah ia cincang, tangannya menggapai tombol cookerhood untuk dinyalakan. Alex masih ingat terakhir kali ia masak dan lupa menyalakan cookerhood, Carlos ngambek dan Alex butuh satu setengah jam untuk membujuk kekasihnya itu. Bisa celaka.
Baru juga Alex menuangkan ayam fillet yang sudah mencair ke dalam wajan, ia bisa mendengar suara pintu kamar dibuka-tutup menandakan penghuni rumah satunya sudah bangun.
Tidak ada suara apapun selanjutnya, tahu-tahu punggung Alex sudah ditempeli oleh Carlos.
“Kok bangun?”
“Wangiii, laperrr,” rengek Carlos memegang kaus di bagian pinggang yang Alex kenakan.
“Kamu udah cuci muka?” tanya Alex, sembari menambahkan bumbu ke dalam wajan. Carlos cuma mengangguk dan Alex bisa merasakan wajah kekasihnya itu bergerak naik turun menyentuh punggungnya.
“Duduk aja, sebentar lagi selesai. Tapi nasinya belom masak, sih.” ujar Alex menepuk-nepuk jemari Carlos.
Carlos hanya bergumam tanpa benar-benar pindah dari posisinya.
“Aku mau ambil kemangi di kulkas, loh.” ujar Alex memberi tahu Carlos untuk segera ingkah. Alih-alih melepaskan diri, tangan Carlos malah melingkar di pinggang Alex seolah memberi tahu sang empu kalau ia tidak akan pergi.
“Jalan aja,” balas Carlos acuh.
Maka, Alex mundur satu langkah, diikuti dengan carlos di belakangnya menempel bak koala. Kemudian bergerak menjauhi kompor untuk ke depan pintu kulkas yang jaraknya hanya lima langkah. Alex merunduk sedikit untuk mengambil daun kemangi di salah satu rak lemari pendingin, ingin berjongkok pun sulit, syukurnya tangan Alex panjang sehingga daun kemangi tersebut bisa digapai.
Keduanya bergerak dengan sinkron. Alex menuju sink untuk mencuci daun kemangi lantas kemballi berjalan ke depan kompor. Satu langkah demi satu langkah. Kaki Alex, lalu Kaki Carlos. Beruntung area dapur rumah mereka cukup luas sehingga baik Alex maupun Carlos tidak ada yang terkantuk kabinet atau ujung meja.
Bunyi suara rice cooker menggema, tanda kalau nasi mereka sudah matang.
“Tuh udah matang,”
“Ayamnya?”
“Udah matang juga.”
“Oke.” Carlos serta merta melepaskan diri dari Alex dan duduk di atas meja makan. Alex terkekeh melihat kelakuan pemuda itu, sebab dimatanya, Carlos yang seperti ini amat sangat menggemaskan. Carlos yang manja. Carlos yang clingy. Carlos yang maunya diurus Alex.
Dan Alexander Albon sudah jatuh terlalu jauh, sehingga pun kalau bisa, ia akan memberikan segala hal di dunia ini untuk Carlos. Termasuk meladeni tingkah laku kekasihnya pagi ini.
Alex mengambil dua piring, menyendok nasi putih yang baru matang lantas menaruh ayam kemangi masakannya. Ia menaruh satu di hadapan Carlos dan satu lagi di depan kursinya. Sebelum duduk, Alex sempat mengambil dua gelas air putih juga untuk menemani sarapan mereka.
“Selamat makan, ganteng.”
“Yay! Makasih banyak Aleeexxx,” ujar Carlos bertepuk tangan. Masih ada raut kantuk di wajah kekasihnya, tapi Alex bisa melihat mata itu ikut tersenyum bersamaan dengan sudut bibir Carlos yang naik.
“Gimana?” tanya Alex tidak sabaran.
Carlos mengerang puas, ia baru menyuap satu kali, “enaaakk!! Alex, manteb banget ini!” serunya kembali mengambil sesuap lagi.
“Pelan-pelan, sayang, masih panas loh.” Alex mengingatkan, sontak Carlos diam sejenak menatap nasi di sendoknya selama sepuluh detik baru ia suapkan ke dalam mulut.
“Enak banget Alex,” jawab Carlos tidak nyambung.
Alex tidak bisa berhenti tersenyum menampilkan deretan gigi serinya. “Iya, Carlos. Jangan lupa hitung kunyahannya 32 kali.”
Carlos merengut, pandangannya lurus menatap mata Alex, “bawel.” Singkat. Padat. Ngomel.
Alex tertawa renyah. Kalau ia bisa lihat Carlos kayak begini terus sih, Alex rela deh masak ayam kemangi tiap hari. Oh, atau minta resep masakan lain ke mama ya? Alex mencatat dalam kepala untuk menghubungi ibunya nanti siang.
