Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-19
Words:
1,586
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
27
Bookmarks:
1
Hits:
808

Violets Are Blue, A Rose Like You

Summary:

Jika aku memiliki mawar setiap kali aku memikirkanmu, aku akan memetik mawar itu untuk seumur hidupku. Meski tercampur sedikit darah di tanganku.

Notes:

draft 2024 yang awalnya masih belum nemu ujungnya, terus kemarin malem muncul ide dan jadi lah ini.

Work Text:

Berhenti saat berlari, ia menolehkan kepala seorang diri, pandangan menyapu sekitar yang terasa sepi. Pada malam hari, seiring awan hitam mengambil alih kekuasaan cakrawala, ia berhati-hati.

Pelipisnya bersimbah keringat, akankah ia bisa mengikat janji yang harus ditepati. Sementara, dirinya sendiri pun tak yakin dengan apa yang pernah ia katakan pada laki-laki yang ia cintai.

Surainya yang panjang, ia usap ke belakang. Di jalanan kota yang kini sunyi, hanya ada ia seorang diri. Semuanya lenyap tak terkendali, hal itu membuatnya harus segera mencari sang pujaan hati.

Kakinya melangkah pelan, menyusuri jalan yang tidak ada kendaraan berlalu-lalang. Aktivitas di kota itu sudah mati, tak ada lampu terang yang menyala seperti biasanya, hanya ada kesunyian malam yang semakin mencekam.

Ia tetap melangkah meskipun terengah-engah. Netranya mencoba fokus dengan kegelapan di sekitarnya, laki-laki itu akan terus berusaha jika hanya ini yang ia terima. Apapun itu untuk laki-laki yang dicintainya.

Tepat saat ia sampai di depan sebuah gang yang menghubungkan salah satu gedung tinggi, kakinya berhenti melangkah dan menatap lurus ke arah sana. Ragu sejenak, harus kah ia pergi? jika ia berdiam diri, bagaimana ia akan melewati semua ini.

Tak bisa ia lakukan selain berani. Laki-laki itu menghela napas, tangannya terkepal erat, benaknya mengatakan jika semua ini akan terlewati apapun yang terjadi, di sana.

Melangkah, hati-hati, pelan, dan berusaha untuk tidak meninggalkan jejak suara yang dapat menimbulkan kebisingan. Ia terus membawa tungkai hingga sampai di ujung gang.

Seutas warna merah yang asing, tergeletak begitu saja di atas aspal kering. Setangkai mawar yang tampak begitu hidup dan kontras dengan kegelapan, kelopaknya masih basah seolah baru saja dipetik dari dunia yang berbeda.

Ia berlutut pelan, jemarinya bergerak kaku meraih tangkai berduri itu, bertanya apakah ini jalan yang ia tuju. Begitu kulitnya bersentuhan dengan batang bunga tersebut, rasa perih yang nyata menyengat telapak tangannya.

Semilir angin malam berhembus menerpa kulitnya yang berbalut jaket, surainya yang panjang itu tertiup pelan. Dinginnya malam itu tak menggoyahkan pertahanan yang ia buat.

Ia harus bertemu, dan sadar.

“Seonghyeon.”

Tersentak pelan, ketika sebuah suara halus menyapa rungunya, ia segera menolehkan kepala mencari keberadaan suara itu yang terasa familliar.

Di hadapan, atensinya menatap penuh sosok laki-laki yang berdiri beberapa jarak dari ia berpijak. Dadanya berdetak kencang, seakan ingin keluar dari tempatnya. Lidahnya terasa kelu, ingin bersuara namun tidak bisa berkata apa-apa.

Seonghyeon— laki-laki yang namanya di panggil, merasakan sesak, tenggorokannya serasa tercekik saat sosok itu— laki-laki yang ia cintai berjalan pelan dan sedikit mendekat.

“Aku bilang berhenti, kamu nggak denger?”

Sosok laki-laki itu bersuara, terdengar sedikit bergetar entah karena dinginnya angin malam atau ikut merasakan sesak yang membelenggu di dadanya.

Seonghyeon menelan ludah susah payah, kakinya dengan berat maju selangkah. Air muka pujaan hatinya berubah gelap, seolah ada kesedihan selama ini yang tertahan.

“Keonho.” panggilnya pelan, kakinya kembali melangkah demi selangkah hingga kini keduanya berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.

Telapak tangannya terangkat perlahan, menyentuh lengan Keonho pelan tak ingin jika laki-laki itu merasakan sakit yang selama ini ia alami. Sedikit senyum terpatri, ketika netranya bertemu manik sekelam malam yang dimiliki Keonho.

“Nyatanya, aku gak bisa. Sekeras apapun aku mencoba, ujung-ujungnya balik ke hal yang sama.”

Keonho tampak diam, ia tidak mampu membalas. Pertahanan yang selama ini ia bangun pecah begitu saja, terdengar isakan kecil yang keluar dari bibirnya. Buliran air bening jatuh dari permukaan mengenai pipinya.

“Kamu bisa…” ujarnya, suaranya bergetar.

Seonghyeon menggeleng, ia menarik Keonho ke dalam dekapan erat. Tangannya beralih mengelus surai itu dengan sayang, tangan satunya lagi melingkar di pinggang.

“Maaf.” hanya kata itu yang bisa ia utarakan.

Keonho menenggelamkan wajahnya di bahu Seonghyeon, isakan itu menjadi keras mengalahkan kesunyian malam di gang sepi tersebut.

“Kamu kan udah janji jangan nyakitin diri lagi… kamu udah janji buat ngelawan ‘dia.’ Kamu luka, aku nggak suka.”

Kata itu mampu membuat Seonghyeon bungkam, ia semakin mengeratkan dekapan. Wajahnya terkubur di leher Keonho, sementara tangannya terus barada di sisi yang sama. “Iya, aku tau.”

Angin semakin berhembus kencang, menerbangkan helai surai mereka yang menyatu dalam pelukan. Suara isakan Keonho perlahan tersaru dengan deru angin yang kian bising.

Di bawah langit yang tak lagi berbintang, Seonghyeon sadar—ia bisa memeluk tubuh Keonho seerat mungkin, namun ia telah kehilangan jiwanya sendiri di tengah kegelapan kota yang kini membisu selamanya.

“Kamu pasti bisa, disini bukan tempat kamu. Kamu nyakitin diri lagi, kamu luka, aku berusaha, kamu mau bunuh diri.”

Seonghyeon tertegun begitu mendengar suara Keonho yang terasa jauh, menggema di sepenjuru kota. Gedung-gedung tinggi yang tadinya terasa menjulang mengancam, perlahan mulai terlihat samar, seperti lukisan cat air yang terkena tetesan hujan. Aspal di bawah kakinya terasa goyah, seolah dunia akan mulai runtuh berkeping-keping jika ia tidak segera sadar.

Denging di telinga, bukan suara angin yang lewat. Suara dunia sesungguhnya, bunyi kendaraan, ributnya manusia, dan bagaimana alam berbicara. Dunia Seonghyeon yang seharusnya— bukan kota sunyi yang sudah mati.

Dekapan itu tak akan ia lepaskan, justru semakin mengerat, sorot matanya mengedarkan pandangan. Rasa takut mulai merasuki dalam diri, sebuah tarikan hebat seolah menghantam dada Seonghyeon.

Awan hitam yang mengambil alih cakrawala itu perlahan berganti menjadi langit-langit ruangan putih yang pucat. Suara angin malam yang mencekam berganti dengan permohonan seseorang untuk berhenti.

Seonghyeon tersentak, kelopak matanya terbuka paksa. Tak ada lagi gang sempit atau dinginnya angin malam. Yang ada hanyalah jemari Keonho yang bergetar hebat saat mencoba merebut benda tajam dari genggamannya. Di ruangan putih itu, Seonghyeon baru tersadar—bahwa 'dia' hampir saja menang, jika saja suara Keonho tidak memanggilnya pulang.

Ia menarik napas panjang, paru-parunya terasa sesak seolah baru saja menghirup oksigen yang terlalu banyak secara tiba-tiba. Ruangan putih itu terasa silau, menusuk netranya yang masih terbiasa dengan kegelapan kota.

Ia menunduk, menatap pergelangan tangannya. Tak ada lagi mawar, tak ada lagi jaket yang melindunginya dari angin. Yang ada hanyalah noda kemerahan itu mulai merembes, mengotori lantai yang dingin.

“Seonghyeon... kumohon, lepas...” suara Keonho terdengar pecah, tepat di sampingnya.

Kepalanya menoleh pelan. Di sana, Keonho berdiri dengan wajah yang basah akan air mata. Tangan Keonho menggenggam pergelangan tangan Seonghyeon, bukan untuk mendekap melainkan untuk menghentikan gerakan jemari Seonghyeon yang masih kaku memegang sebuah benda tajam.

“Tadi… aku kenapa?” ia bertanya, suaranya terdengar asing di telinga sendiri. “Kota mati, sepi, cuma ada kamu sama aku.”

Keonho menggeleng, ia berhasil mengambil alih benda tajam itu dari genggaman Seonghyeon. Melemparnya jauh ke sudut ruangan, sehingga suara dentingan bergema di atas lantai yang dingin. Ia segera menarik Seonghyeon ke dalam dekapan yang sama eratnya, detak jantungnya tak karuan, hangat napasnya, dan ketakutan nyata yang tertanam di dada.

“Kamu cuma perlu istirahat, kamu lagi banyak pikiran. Aku dan kamu, kita di sini, bukan di sana. Kita nyata adanya, bukan ilusi semata.”

Seonghyeon perlahan menyandarkan kepalanya, menghirup aroma tubuh Keonho yang selalu menjadi candu baginya, membiarkan pertahanannya runtuh sepenuhnya. Di dunia nyata yang berisik dan menyakitkan ini, ia akhirnya benar-benar sadar— mawar yang ia cari tidak ada di kota sunyi itu, mawar itu sedang memeluknya sekarang, menangis untuknya.

Ia tahu, di luar sana orang mungkin akan menganggapnya gila. Mereka akan melihatnya hanya mendekap hampa di sudut ruangan yang dingin.

“Jangan pergi lagi.” Seonghyeon bersuara. Ia mengeratkan pelukannya, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, Keonho akan kembali menjadi butiran debu dan kenangan pahit di jalan raya itu.

Ia teringat mawar yang hancur di genggaman Keonho hari itu—hadiah untuk kesembuhannya yang justru menjadi nisan bagi cintanya.

Hari yang cerah, segalanya mendadak kehilangan gravitasi. Ia ingat aroma aspal yang basah setelah hujan, dan warna merah yang terlalu mencolok di tengah jalan raya yang sibuk. Keonho ada di sana, terbaring dengan napas yang terputus-putus.

Di genggamannya yang mendingin, ia masih mendekap erat sebuah buket bunga mawar—hadiah sederhana yang ingin ia berikan sebagai perayaan karena hari itu Seonghyeon berhasil melewati satu malam tanpa melukai dirinya sendiri. Keonho ingin bilang bahwa ia bangga, bahwa usahanya melawan 'dia' tidaklah sia-sia.

“Untukmu...” suaranya nyaris hilang di antara deru ambulans, menyerahkan mawar yang kelopaknya mulai hancur tergilas kenyataan.

Itu adalah mawar terakhir yang nyata. Mawar yang Keonho bawa sampai ke ambang kematiannya, hanya untuk memastikan Seonghyeon tahu bahwa ia dicintai. Namun, setelah genggaman itu terlepas selamanya, dunia Seonghyeon ikut mati.

Mawar merah itu menjadi pemandangan terakhir yang tertanam di retinanya, sebelum semuanya berubah menjadi kota sunyi yang tak berpenghuni.

Kini, Seonghyeon tak peduli lagi pada kesembuhan. Jika untuk melihat Keonho ia harus tetap “sakit” maka ia akan memilih untuk tidak pernah sembuh. Jika untuk menyentuh Keonho ia harus terus “memetik mawar” di pergelangan tangannya sendiri, maka ia akan melakukannya sampai darahnya habis.

“Aku sayang kamu Seonghyeon. Tolong hidup abadi dengan caramu sendiri, kemanapun kamu pergi, lakukanlah segala sesuatu dengan segenap hati.”

Mengulas senyum tipis, sebuah ekspresi yang tampak asing di wajahnya yang pucat. Kata-kata Keonho menggema, membasuh luka di hatinya jauh lebih cepat daripada darah yang kini sudah membasahi lantai.

Ia mengerti sekarang. Dunianya tidak perlu sembuh. Dunianya hanya perlu berisi Keonho—tak peduli apakah itu nyata atau sekadar serpihan memori yang dipaksa hidup kembali.

Perlahan, pandangan Seonghyeon mulai mengabur. Ruangan putih yang dingin itu perlahan memudar, berganti dengan cahaya kemerahan yang hangat, seolah ribuan kelopak mawar mulai berguguran dari langit-langit, menutupi segala kesedihan yang pernah ada. Ia tak lagi merasakan perih di lengannya, tak lagi mendengar deru ambulans yang menghantui mimpinya.

Hanya ada kehangatan yang semu namun menyelamatkan.

Sambil memejamkan mata, ia membisikkan satu kalimat terakhir—sebuah janji yang ia bawa sampai ke titik di mana kesadaran tak lagi mampu menjangkaunya;

“Jika aku memiliki mawar setiap kali aku memikirkanmu, aku akan memetik mawar itu untuk seumur hidupku. Meski tercampur sedikit darah di tanganku.”

Malam itu, di sudut ruangan yang sunyi, Seonghyeon tidak lagi sendirian. Ia telah pulang ke satu-satunya tempat di mana mawarnya tidak akan pernah layu.