Actions

Work Header

where everything start (and crumble apart)

Summary:

Ketika Jungkook melirik Taehyung, ia menyadari sesuatu. Bahwa ini; momen ini, musim panas ini, pertemanan ini, perasaan ini, tidak akan berlangsung selamanya.

Notes:

HAPPY BIRTHDAY MY ICON MY PARTNER IN CRIME AMANDA THIS ONE FOR YOU BABE ❤❤

Btw, this chapter is inspired by WILD by TroyeSivan so please check it out:)

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

   Jari-jari Jungkook menyusuri pembatas jalan yang panas, matanya menatap sahabatnya yang meluncur menjauh diatas skateboard miliknya dengan riang. Jungkook selalu bertanya-tanya dimana Taehyung mendapatkan stok energinya di musim panas begini. Ia berjalan menuju keteduhan halte bus dan mengelap keringatnya ketika duduk. Ia meletakkan tas kertas hitam di sisinya, berharap Taehyung menyukai hadiah didalam tas kertas ini, sambil sesekali kembali memperhatikan sahabatnya
   "Alien meluncur terbang! Beep beep~" Taehyung meluncur kembali ke arah halte --kearah Jungkook-- dengan kedua kaki diatas skateboard, kedua tangan direntangkan, kedua mata sipit, dengan senyuman persegi paling manis yang pernah Jungkook lihat, dilatarbelakangi matahari musim panas.
   Jungkook meremas tangannya kuat-kuat; berusaha menahan dirinya--dan perasaannya--tetapi susah, sangat susah, untuk tidak jatuh cinta kepada orang seperti Kim Taehyung.
   "Beep~ kapal induk alien diberikan pada manusia~" Taehyung menyodorkan papan luncur itu ke dada Jungkook, membuatnya tertawa. "Huh, sekarang kau baru menganggapku manusia?" Jungkook meraih tas kertas hitam tadi dan balas menyodorkannya ke dada Taehyung.
   "Untukku?"
   "Untuk anjingmu dirumah"
   "Aish, aku cuma bertanya! Lagian apa isiny... AHH KIYOWO! Baby alien!" Harapan Jungkook tampak terkabul, karena sekarang Taehyung telah memeluk erat-erat boneka alien hijau kecil yang memakai kaus 'I Love Hooman (That's U)' di dadanya.
   "Kookie! Kau dapat ini dimana? Kau beli dimana? Ini lucu sekali! Kau akan kuberi nama Mr. Grinch!" Jungkook tertawa pelan mendengar celotehan Taehyung, "Ah, aku melihatnya di toko kemarin, dan tiba-tiba aku ingat aku juga punya seekor alien. Agar dia bisa bertemu induk aliennya, makanya aku memberinya padamu". Senyuman Taehyung memenuhi wajahnya, matanya menghilang dibalik pipi dan poni kecoklatan dan rasanya, jantung Jungkook melewatkan satu detakan ketika melihatnya.
   "Terimakasih Jungkookie karena sudah mempertemukanku dengan anak alienku! Sebagai tanda terimakasih, ini dari Mr. Grinch," ia menempelkan wajah kain bonekanya ke pipi kiri Jungkook, "dan dariku," Taehyung menempelkan bibirnya ke pipi kanan Jungkook, yang kini yakin jantungnya sudah berhenti berfungsi.
   "Pas! Busnya sudah datang!" Taehyung melompat dari kursi halte dan langsung naik kedalam bus, tidak menyadari dampak mematikan yang ditimbulkannya kepada sahabatnya.
   Jungkook sudah pernah ditindih, dijadikan bantal, disandung, dirangkul, dipeluk dan dikecup puluhan kali oleh sahabat-sahabatnya yang lain, tak terkecuali Taehyung. Tapi perasaan yang sekarang dirasakannya jelas ada pengecualian. Ia tidak pernah merasa seperti ini kecuali pada Taehyung; yang lebih tua dua tahun darinya; yang sebentar lagi akan meninggalkannya ke universitas; yang sama sekali tidak mengetahui perasaannya; yang merupakan segalanya baginya.
   Jungkook meraba pipinya yang panas. 'Ini saja. Ini saja sudah cukup. Untuk sekarang.'

   Taehyung menggenggam Mr. Grinch ditangan kiri dan tangan Jungkook di tangan lainnya dan mengayunnya dengan kekuatan berlebihan, mulutnya bersenandung riang asal-asalan. Mereka berjalan bergandengan dibawah matahari sore musim panas setelah turun dari bus; persimpangan jalan tempat mereka biasa berpisah menuju rumah masing-masing sudah terlihat.
   "Yah, Jungkook-ah," Taehyung memanggil tanpa menolehkan kepalanya, "kenapa tumben sekali kau membelikanku sesuatu? Sudah jadi saudagar sekarang?" Taehyung tergelak mendengar candaannya sendiri.
   Jungkook hanya membeli boneka itu karena iseng, karena semua hal berbau alien mengingatkannya pada Taehyung; namun ketika Jungkook melirik Taehyung yang tersenyum riang, dan menatap turun ke arah tangan mereka yang bertaut dan mengayun tinggi-tinggi di udara, dia menyadari sesuatu. Bahwa ini; momen ini, musim panas ini, pertemanan ini, perasaan ini, tidak berlangsung selamanya; bahwa kurang dari satu tahun, Taehyung akan pergi untuk kuliah, meninggalkan Jungkook sendiri bergelut bersama perasaannya; bahwa mereka tidak punya cukup banyak waktu untuk masing-masing.
   Jadi ketika mereka sudah berhenti di persimpangan, dan Taehyung menoleh kearahnya menunggu jawaban, Jungkook bahkan tidak berpikir sebelum bicara. "Itu... Aku... Se-sebentar lagi liburan musim panas mulai, lalu setelah libur kau pasti akan sibuk belajar untuk ujian dan kuliah dan jam sekolah akan bertambah juga ada les. Dan itu, jadi... boneka itu...," Jungkook mengusap-usap rambut hitamnya gugup. "...sebagai pengingat tentangku? Agar kau tidak... melupakanku...?" Jungkook menelan ludahya dan melirik sahabatnya sekilas, menebak reaksinya. Apa yang baru saja ia katakan? Walaupun bertingkah seperti bocah empat tahun, Taehyung pasti bisa menangkap arti apa yang barusan ia katakan. Jungkook tidak ingin Taehyung tahu perasaannya, ini belum saatnya, Jungkook tidak ingin Taehyung menjauhinya, Jungkook belum siap, Jungkook tidak ingin--
   "NGAHAHAHA," Tawa maniak Taehyung memutus rentetan pikiran di benak Jungkook, "Hah... Haha... Aku? Belajar saat musim panas? Kau gila ya? Kita, kau dan aku, bakal hangout penuh satu bulan ini!" Tampaknya otak Taehyung masih tetap sebebal anak umur 4 tahun. Taehyung mengacak rambut Jungkook, yang ikut tertawa pelan untuk menghilangkan kecanggungannya.  
   "Lagian, mana mungkin aku lupa denganmu, kita selalu menghabiskan seluruh musim panas sama-sama, kan?"
   "Iya juga ya, mana mungkin kau sibuk saat musim panas, kurasa aku terlalu paranoid, haha." Jungkook mendorong tangan Taehyung dari kepalanya.
   Taehyung benar, mereka sudah menghabiskan seluruh liburan musim panas bersama, Taehyung sudah mengenalnya sebegitu baik; ia tidak akan membenci Jungkook hanya karena perasaannya. Pasti. Tidak akan.
  Taehyung benar, Jungkook sudah berteman dengan Taehyung hampir seumur hidupnya. Ia sudah terlalu lama memendam perasaannya. Sudah terlalu lama menjadi seorang bodoh.
   "Aku sudah terlalu lama menunggu liburm musim panas ini."
   "Sekarang sudah dimulai."
   "Sekarang kita bebas."
   "Hanya satu bulan."
   "Sudah lebih dari cukup."
   Mereka bertatapan, seakan berbagi pikiran yang sama, sebelum senyum merekah di wajah mereka, sebelum Taehyung menarik lengan Jungkook dan berlari melawan arah dari persimpangan.

   "Kookie, hari ini tidak usah pulang! Kau kabur saja kerumahku!"
   "Oke!"
   "Kita habiskan malam kebebasan ini dengan pesta!"
   "Oke!"
   "Aah! Coba saja kau bisa pergi dari rumah membosankanmu dan tinggal denganku! Kau mau tidak?"
   "Mau!"
   Bahkan melompati jurang pun Jungkook akan berkata oke jika Taehyung yang menyuruhnya.
   Lalu Taehyung menoleh kebelakang dan tersenyum begitu lepas; dan walaupun dada Jungkook begitu sakit karena mereka berlari begitu kencang, karena Taehyung tersenyum begitu bahagia, karena Jungkook begitu jatuh cinta, Junngkook tidak ingin berhenti merasakannya.
   Menatap punggung Taehyung yang berlari didepannya dengan Mr. Grinch mengayun di tangan kirinya, rasanya Jungkook bisa meninggalkan semuanya dan  mengikutinya kemana saja; ke apartemennya, ke universitas, ke tempat dimana musim panas tak pernah berakhir.
   Ingin sekali Jungkook terus berlari bersama Taehyung dan meninggalkan semuanya dibelakang. Rumah membosankan orangtuanya, sekolah, tanggung jawab, tumbuh dewasa; kabur ke markas kecil mereka, apartemen Taehyung, dan menetap disana bersama.

    Mereka berakhir di sofa lusuh bekas milik teman mereka, Seokjin, di apartemen kecil Taehyung, kehabisan napas, tertawa tanpa suara sambil terbungkuk menahan sakit di perut mereka karena berlari. Rambut Jungkook sudah menempel di dahinya akibat keringat, tasnya ia buang sembarangan di dekat rak sepatu Taehyung dan ia terlalu malas untuk membungkuk dan melepas kaos kakinya.
   "Pilih musik yang bagus." Taehyung melempar iPod kecilnya pada Jungkook sebelum bangkit menuju kulkas di pojok ruangan dan mengeluarkan dua karton botol bir, yang beberapa botolnya sudah hilang. Jungkook menyambungkan iPod Taehyung pada sound system hasil patungan bersama teman-teman mereka bertujuh. "Tae, kita tidak ajak yang lain?" Taehyung hanya mengangkat pundaknya dan menggeleng. "Jiminnie juga tidak diajak?" Jarang sekali mereka hanya senang-senang berdua tanpa mengajak anggota geng mereka yang lain. "Aish, sudah kubilang kan; kita, kau dan aku akan menghabiskan waktu hangout berdua." Taehyung meletakkan botol-botol bir tersebut di meja sementara Jungkook berusaha menyembunyikan senyumnya dengan berlama-lama menyetel musik. "Lagian, kalau undang mereka, mana cukup minumannya." Tambah Taehyung.
   "Darimana dapat bir sebanyak itu?" Jungkook membuka salah satu tutup botolnya menggunakan ujung meja. "Sisa pesta dengan Namjoon-hyung seminggu lalu," ujar Taehyung, melempar cengiran khasnya. "Ah, kenapa aku tidak diajak?" "Anak kecil,"--Taehyung merebut botol bir Jungkook dan meminumnya--"tidak boleh ikut-ikut." Jungkook berdecak dan mengambil botol baru; bergumam, "aku sudah dewasa kok," sambil meneguk birnya banyak-banyak.
   Taehyung menganggapnya anak kecil. Ingin sekali dia terlihat dewasa sekarang. Dia bukan anak kecil. Tidak lagi.

   Jungkook bersila di lantai kamar, menonton Taehyung yang mabuk menjulang tinggi diatas kasur, bergoyang sambil meracau mengikuti lirik musik; tangan kanan menggenggam botol bir kesekian yang hampir hampir kosong dan tangan kiri mengayun Mr. Grinch yang malang. Dan ketika diterangi cahaya lampu redup dan dibingkai dengan rambut coklatnya, Jungkook memutuskan bahwa ia tak pernah melihat seseorang seindah ini apalagi dalam keadaan mabuk.
   Ingin. Ingin sekali Jungkook mengatakan semuanya pada Taehyung.  Tapi dia hanya menenggak botol birnya yang ketiga, berusaha melakukan sesuatu dengan mulutnya selain mengatakan perasaannya pada sahabatnya. Pikirannya sudah kabur karena alkohol dan segalanya tampak mungkin dan tidak sulit.
   Dia bisa bilang semuanya pada Taehyung sekarang kan? 'Tidak, tidak, jangan dulu, belum siap.' Tapi hanya bilang "aku suka padamu sejak SMP" apa susahnya sih? 'Belum. Belum ada persiapan.' Tapi hanya--Jungkook menenggak birnya lagi, menghentikan perdebatan dengan dirinya sendiri. Tapi semakin dia minum, semakin segalanya tampak mungkin dan tidak sulit.
   "Kookie, sudah jangan minum lagi. Nanti mabuk hayoo~" Taehyung membungkuk untuk mengambil botol bir Jungkook, namun Jungkook menarik tangannya, mengajaknya duduk di lantai dengannya.
   Ingin. Ingin Jungkook mengatakan semuanya.

   "Hyung."
   "Hm?"
   "Ajak aku denganmu."
   "Heh? Kemana?"
   Jungkook menoleh kearah Taehyung yang menyandarkan kepalanya di bahu Jungkook. Ia mengendus bau shampo Taehyung secara tak sadar.
   "Pergi. Jauh. Ke universitas? Aku bisa sembunyi di kamar asramamu. Aku sembunyi dibawah tempat tidur. Atau di lemari. Badanku elastis~ Lalu kau bisa memberiku makan roti dari kafeteria untuk makan siang," Jungkook mulai meracau tak jelas, sekali lagi mengendus rambut Taehyung. "Aku bisa menulis surat pada ibu kalau aku kabur, lalu--"
   "Kau ini minum berapa banyak sih?" Taehyung tergelak dan mendorong pundak Jungkook.
   "Ajak aku pergi, hyung. Jangan tinggalkan aku." Jungkook sudah hampir merengek sekarang, mencengkram sisi kemeja Taehyung erat-erat. Taehyung memutar badannya menghadap Jungkook dan menggenggam lengan atasnya.
    "Kookie, aku tidak meninggalkanmu. Lagipula, kalau aku pergi kuliah, masih ada Seokjin-hyung disini kan? Yoongi-hyung juga akan lulus sebentar lagi, dan Jimin--"
   "Tidak mau," Jungkook mengambil kedua tangan Taehyung dan menempelkannya di kedua pipinya. "Aku tidak butuh Seokjin-hyung, ataupun hyung yang lain. Kita, kau dan aku, itu yang kuperlukan."
   Taehyung hanya bisa memandang Jungkook yang mabuk dan berantakan, yang memohon agar dia tidak pergi.    
   Jungkook hanya bisa memandang Taehyung yang rasanya belum pernah sedekat ini dengannya. Yang tetap terlihat jelas walaupun pikirannya berkabut alkohol. Dan ketika mereka berpandangan, rasanya semua tampak mungkin dan tidak sulit.

   Jungkook menutup matanya ketika bibir mereka bersentuhan.

   Hanya kecupan singkat yang dalam sebelum ia memundurkan kepalanya dan kembali menatap Taehyung. Mata Taehyung terbuka lebar, bibir sedikit terbuka, tangannya masih berada di pipi Jungkook sebelum terkulai di sisinya. Taehyung terdiam, mengalihkan pandangannya, menegakkan tubuhnya, menutup diri; dan Jungkook merasa ia telah melakukan kesalahan besar. Taehyung tidak memiliki perasaan yang sama. Tidak mungkin memiliki perasaan yang sama.
   Jungkook sudah terlalu lama menahan semuanya; dan semuanya terasa begitu luar biasa ketika ia mencium Taehyung. Tapi tetap saja tenggorokannya tercekat ketika melihat Taehyung menghindari tatapannya. Tetap saja matanya memanas ketika Taehyung menarik tangannya menjauh. Bayangan dimana Taehyung menjauhinya, membencinya, berkelebatan begitu cepat. Belum pernah Jungkook merasa sebodoh ini.

   "Taehyung, maaf..."

   "Kau... Kenapa...?"

   "Aku minta maaf... Kumohon..."

   "Sejak... Kapan...?"

   Hanya ucapan tersendat Taehyung dan permintaan maaf Jungkook yang terdengar.

   "Jeon Jungkook, jelaskan padaku. Semuanya."

   Taehyung menatapnya tajam. Dan Jungkook merasa begitu lelah menyimpan semuanya begitu lama. Dengan perasaan lelahnya, dan dengan alkohol di pikirannya, Jungkook mengatakan semua pada Taehyung. Ketakutan akan kepergian Taehyung; kecemasan bahwa ia akan sendiri; cintanya kepada Taehyung. Jungkook bicara dan terus bicara; tak ada kebohongan, tak ada alasan, tak ada filter.
   Karena walaupun resiko Taehyung akan membencinya begitu besar, Jungkook tidak menyesal. Walaupun jantungnya terasa seperti jatuh ke perut setiap kali menatap Taehyung, Jungkook tidak menyesal. Tidak akan ia menyesal pernah mencium Taehyung dan mengungkapkan perasaannya.
   Karena sulit. Sungguh sulit untuk tidak jatuh cinta kepada Kim Taehyung.
   Saat itulah isakan Jungkook mulai terdengar.

   Taehyung pernah melihat Jungkook menangis sebelumnya. Terakhir kali ia melihatnya menangis adalah ketika kucing peliharaannya mati, bertahun lalu ketika ia masih 10 tahun. Taehyung juga menangis saat itu, memeluk Jungkook kecil yang tak mau melepas kucingnya. Tapi bahkan saat itu Jungkook tidak terlihat separah ini.
   Jungkook kini tampak sangat menyedihkan; terduduk di lantai kotor apartemennya, kepalanya bersandar lesu di dipan kasurnya dengan mata memerah dan kalimat tersendat, bicara tentang bagaimana ia begitu ketakutan jika Taehyung meninggalkannya; jika Taehyung membencinya.
   Belum pernah Taehyung memiliki desakan yang begitu kuat untuk membuat Jungkook kembali tersenyum. Desakan yang ingin membuatnya melakukan sesuatu--apa saja--agar tawa lepas yang tadi sore ia lihat muncul kembali. Desakan yang membuatnya ingin ikut menangis hanya agar Jungkook tidak menangis sendiri.
   Taehyung memasukkan kepalan tangannya kedalam lengan panjang kemejanya, menggunakannya untuk menghapus air mata Jungkook yang mulai mengering. Tapi lagi-lagi Jungkook menahannya. Kembali menempelkan tangan Taehyung ke pipinya; terasa dingin dan menyejukkan.

   "Taehyung, aku ingin bersamamu. Ingin selalu bersamamu."

    Taehyung terdiam. Dia tidak mengalami apa yang Jungkook rasakan; dia tidak mengerti. Terlebih Jungkook sahabat dekatnya sendiri; hampir, hampir seperti adiknya. Tapi ketika Jungkook kembali menatapnya dengan mata sedih itu, membisik namanya pelan, Taehyung kembali merasakan desakan tadi. Desakan untuk membuat Jungkook bahagia.
   "Taehyung, biarkan aku bersamamu. Kumohon."

   Jungkook tak berharap banyak, walaupun dentuman di dadanya berkata lain. Jungkook harusnya merasa cukup Taehyung masih mau bersahabat dengannya; tapi tentu ia ingin lebih--butuh lebih--. Ia menutup matanya, siap menghadapi penolakan.

   "Tentu, Kookie. Kita, kau dan aku, kita jalani ini pelan-pelan, oke?"
  
   Mata Jungkook kembali membuka, begitu lebar dan hanya terfokus pada Taehyung. Ia menatapnya tak berkedip beberapa saat.
   Dan senyuman itu kembali, begitu cerah dan menawan, dan beban menyesakkan terangkat dari dada Taehyung.
   Dan ciuman itu kembali, begitu dalam dan spontan, dan sesuatu yang hangat menyusup ke dada Taehyung.
   Jungkook menyandarkan dahi mereka dan menatap Taehyung, ia bisa menghitung bulu mata Taehyung dalam jarak sedekat ini. Dan tiba-tiba Jungkook sadar betapa dekat Taehyung dengannya saat ini, sadar bagaimana dahi mereka bersentuhan, bagaimana tangan mereka menindih satu sama lain, bagaimana baru saja, bibir mereka beradu.
   Dada Jungkook terasa sesak oleh seluruh perasaan yang meluap-meluap. Namun ia hanya bisa memeluk Taehyung erat dan menyandarkan kepalanya di lekukan pundak Taehyung sementara Taehyung mengelus rambut hitamnya dan mendesah pelan.
   "Terimakasih, Tae. Aku tak akan mengecewakanmu. Aku janji.
   "Tenang saja. Kau dan aku, kita pasti bisa menjalaninya. Pelan-pelan. Perlahan."
   Taehyung balas berbisik, lebih kepada dirinya sendiri.

Notes:

Thanks for reading^^
This is my first fanfiction so tell me what you think in the comment:)