Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-20
Words:
2,972
Chapters:
1/1
Comments:
20
Kudos:
121
Bookmarks:
4
Hits:
1,203

Prioritas Nomor Satu

Summary:

Di siang itu, Ohyul bela-belain datang ke IGD di jam jaga Ryul agar sang pacar tidak marah lagi padanya. Marahnya sudah hilang sebenarnya dari kemarin dan sekarang berganti dengan rasa khawatir.

Notes:

maaf cerita dikit sebenernya aku mau buat cerita ini sebagai au fakechat di x tapi aku sendiri malas bikin fakechatnya T_T dan actually ini nyambung sama au pair favoritku yang lain tapi mereka as residen bedah nah coassnya itu iyul HAHAHAH. kenapa aku bikin nyul jadi coass gigi? liat aja dia sendiri yang selalu keliatan wangi, cantik, imut dan anggun begitu emang cocoklah dateng ke rs tampilan rapi dan wangi meski puseng mikirin pasien yang suka ghosting atau kabur. kalo iyul jelas cocok banget lagi stase bedah yang kurang tidur, sibuk ikut dokter spesialis ke sana-sini sampe gak sempet mandi wkwk

kalo niat, mau aku bikin versi fakechatnya atau kalo gak ya series aja deh sini 👀

btw aku kurang tau tentang dunia coass gigi jadi maaf kalo ada yang halu atau aneh di sini 😭 gak menyepelekan coass gigi yang pasti pusing dan berat juga cuma sepenglihatan aku, coass gigi tuh selalu keliatan rapi, beda sama coass dokter umum yang tergantung stase apa dulu sih

Work Text:

Situasi sedang begitu tenang di salah satu IGD rumah sakit di hari yang masih siang. Di salah satu ruang kecil di balik nurse station terdapat dua orang dokter muda dengan salah satu residen bedah. Sama-sama sedang bertugas untuk berjaga di IGD yang masih dalam keadaan sepi, kosong melompong.

“Ada pasien, Dok,” panggil seorang perawat menghampiri ketiganya.

Satu residen bedah dan satu dokter muda memutuskan untuk keluar langsung memeriksa. Sementara itu, satu dokter muda lagi yang masih berkutat dengan laptop meski sebetulnya baru selesai jaga malam, memilih tetap di sana.

“Lo gak ikut?”

“Entaran, masih nyusun ppt gue,” balasnya tanpa menoleh pada temannya sama sekali.

Berhubung masih sepi, tidak masalah kalau dia tidak ikut. Ryul sedang berusaha menyelesaikan materi presentasi laporan kasusnya yang nanti malam akan ditampilkan di depan salah dosen konsultan bedah digestive yang paling killer. Berbekal bimbingan dengan residen bedah dalam menyusul laporannya sedari tadi, dan kini Ryul mulai merasakan apa itu lelah setelah malam tadi hanya dapat tidur dua jam.

“Oi, Bro,” panggil temannya lagi mengintip dari ambang pintu.

Ryul yang duduk di lantai tanpa peduli itu kotor apa bersih, spontan melirik temannya dengan raut kesal dan lelah yang tidak dibuat-buat. “Apaan?”

“Pasiennya mau dijait sama lo.”

“Napa gue? Emang gue siapa, anjir?” tanya Ryul sedikit menyolot, soalnya jelas dia sedang pusing dan mengantuk tapi tiba-tiba disuruh jahit atas permintaan pasien lagi.

Siapa yang mau dijahit dokter muda secara cuma-cuma? Biasanya saja harus dokter muda yang meminta izin ke residen agar diberi kesempatan menjahit. Ryul awalnya menolak tapi temannya terus meminta hingga residen bedah juga datang.

“Mau dijahit dokter muda Ryul katanya. Buruan, Dek.”

Sebenarnya siapa, sih pasien itu? Kenapa bisa tahu dia sedang jaga IGD sekarang? Lagi kenapa residen bedah ini mau juga menuruti kemauan si pasien. Ryul pun akhirnya bangun, menaruh laptopnya yang masih menampilkan salindia laporan kasusnya. Ketika dirinya baru keluar dimana ruangan ini memang berada di depan ranjang-ranjang IGD bagian surgical. Terlihat seseorang yang langsung melihatnya sambil melambaikan tangan.

“Orang kalo udah beneran jatuh cinta beneran tolol, ya,” ucap si residen bedah yang membuat beberapa orang menoleh ke arahnya.

“Lo jait sendiri gak gue awasin. Bucin bucinan mampus lo,” ujarnya lagi yang membuat Ryul menoleh padanya dengan senyum tidak enak.

Menghampiri ranjang yang satu-satunya terisi di sini. Ekspresi datar Ryul yang tidak bersahabat itu tidak membuat senyum milik si pasien hilang, adanya malah semakin lebar senyumnya.

“Hai,” sapanya dengan manis.

Sudah ada meja kecil tempat alat-alat yang sudah siap. Ryul semakin merasa tidak enak sekarang, kemudian menoleh ke arah nurse station lagi, meminta bantuan tapi bahkan teman dan perawatnya sudah bersekongkol untuk tidak membantunya.

“Ini berlebihan, gak, sih?!” batin Ryul sedikit panik, melirik lagi pasien itu; pacarnya yang imut dan manis dan Ryul baru sadar kalau pacarnya sedang terluka.

“Kamu abis ngapain kenapa bisa sobek gini lututnya?!”

Barulah ekspresinya melunak, khawatir terbaca jelas di wajah Ryul begitu membuka kassa di lutut kiri atas pacarnya. Ohyul sang pacar hanya tersenyum hingga seluruh giginya terlihat tapi kemudian mengerang kencang ketika lukanya ditekan tanpa belas kasihan.

“SAKIT, IH!”

“Ini kenapa?” tanya Ryul benar-benar khawatir.

Kemudian memulai tindakan dengan mengambil sarung tangan steril dan memakainya. Semua sudah benar-benar tertata rapi, tinggal dirinya yang melakukan tindakan.

“Jatoh,” balas Ohyul sedikit cemberut, tapi kemudian bergidik ngeri ketika Ryul mulai memegang jarum suntik yang sudah berisi cairan bius.

“Dimana?” tanya Ryul lagi sambil kembali membersihkan luka, baru mulai bersiap melakukan pembiusan lokal.

“Kesandung terus kena seng.” Ohyul menutup matanya dengan kedua tangan, menggigit bibir bawahnya dengan ketakutan dan meringis begitu merasakan jarum suntik mulai memasuki kulitnya.

“A-ah sakit!”

“Kok disuntik lagi? Sakit!”

Ryul hanya menyeringai santai setelah beberapa kali menyuntik dengan harapan agar obat biusnya benar-benar tersebar sehingga proses jahit nanti tidak meninggalkan rasa sakit. Ohyul menurunkan tangannya, memandang lukanya yang ternyata cukup lebar menganga dan sekarang terlihat sisa darah yang masih ada.

“Dokter gigi suka nyuntik gusi pasiennya kok disuntik malah takut?”

“Beda tau!”

“Lebih sakit disuntik gusinya, ya! Emang aku nangis pas kamu suntik waktu itu?!”

Ohyul mencibir malas mendengarnya. Memilih diam saja ketimbang mereka lanjut berdebat. Sebetulnya dia sudah berkeringat dingin, wajahnya mulai pucat apalagi ketika melihat Ryul memegang jarum dan pinset di tangan. Lukanya sudah terasa kebas oleh bius tapi tetap terlihat menyeramkan melihat langsung kulitmu dijahit meski dengan pacar sendiri sekali pun.

“Kamu ke sini sama siapa?”

Ohyul memilih berbaring agar lebih rileks—disuruh Ryul juga sementara pacarnya sekarang fokus menjahit dengan  serapi mungkin. Sebetulnya mereka ini sedang bermarahan atau lebih tepatnya Ryul yang marah, sudah dua hari mereka tidak bertemu terlepas dari rumah sakit tempat mereka belajar juga berbeda. Menyelam sambil minum air, kesialan Ohyul langsung dia gunakan untuk menghampiri pacarnya karena kebetulan dia punya jadwal jaga Ryul.

“Sama temen, tapi tiba-tiba pasiennya udah dateng jadi aku ditinggal sendiri sekarang,” jelas Ohyul sebenarnya sedikit sebal karena temannya tega meninggalkanya tapi mau bagaimana lagi.

“Mau tungguin aku gak?”

“Mau,” balas Ohyul mengangguk kecil, sungguh dia tidak merasakan apa-apa sekarang di sekitar lukanya yang barusan disuntik.

Agak lama prosesnya hingga selesai juga. Ohyul kembali bangkit untuk duduk, melihat luka di atas lutut kirinya sudah tertutup dengan jahitan yang rapi. Ohyul tidak bohong kalau jahitan Ryul rapi dan sudah tampak bersih, kemudian seseorang datang yaitu residen bedah barusan yang menggeleng kecil melihat mereka berdua.

“Cakep juga jahitan lo,” komen residen bedah itu pada Ryul yang tersenyum bangga.

Sementara Ohyul hanya tersenyum canggung; malu sebenarnya tapi dipikir lagi padahal dia dari awal tidak punya malu dengan meminta hanya mau dijahit dengan dokter muda bernama Ryul.

“Pacar lo?”

“Iya, Bang hehe,” balas Ryul yang mendapat ejekan dari si residen bedah.

“Langgeng, dah. Baru aja mau gue pepet.”

Setelah memeriksa jahitannya sudah bagus dan sesuai, residen bedah itu pun meninggalkan mereka berdua kembali. Benar-benar semuanya Ryul kerjakan sendiri termasuk merapikan alat bahkan menyuntikan lengan Ohyul yang semula protes.

“Kenapa disuntik terus, sih?!” protes Ohyul yang sudah lelah dengan perasaan takut dengan jarum suntik menembus kulitnya.

“Profilaksis, Yang. Udah SOP ini.”

“Mahal gak?”

“Aku yang bayar udah.”

Luka itu sudah tertutup rapi dengan kassa dan plester. Ketika semua sudah selesai, Ryul kembali menghampiri ranjang dimana Ohyul berada yang sekarang sedang menatap lukanya sendiri yang sudah ditutup.

“Harus aku edukasi juga kaya ke pasien lain? Gak usahlah, ya?” tutur Ryul mulai merasa canggung sendiri yang berujung tertawa aneh, membuat Ohyul melihatnya juga bingung harus bagaimana.

“Edukasilah. Aku kan pasien kamu!”

“Ah, gak usah. Nanti aku aja yang rawat luka kamu sampe sembuh, aku juga yang buka jahitannya.”

“Kamu mau jadiin aku laporan kasus, ya?”

“Gak bisa juga lagian.”

Ohyul mengembus napas sedikit kesal. Tapi Ryul pernah cerita kalau untuk mengambil sebuah kasus untuk ditampilkan ada kriteria khususnya, mungkin kasus yang dia alami terlalu remeh tapi entahlah. Kemudian Ohyul menyadari bahwa Ryul sudah menggendong tas ranselnya yang selalu tampak penuh dan padat.

“Kamu udah selesai?” tanyanya penasaran yang diangguki.

Turun perlahan dari ranjang dengan bantuan pacarnya. Ohyul baru mulai merasa nyeri di lukanya, mungkin efek bius lokal barusan sudah habis. Berjalan dengan agak tertatih dan bahunya langsung dirangkul oleh Ryul tapi buru-buru Ohyul mengelak karena sadar akan menjadi pandangan orang-orang.

“Lah kenapa?” tanya Ryul bingung yang mendapat tatapan sinis dari Ohyul.

Barusan saat dia datang IGD memang sepi, sekarang sudah lumayan ramai bahkan beberapa orang dengan seragam yang mirip residen dan dokter muda juga sudah banyak yang berlalu-lalang. Ohyul baru sadar apa itu malu sekarang.

“Kamu ke sini naik apa, deh?”

“Dianter temen tadi pake mobil.”

“Yah, aku pake motor gak apa-apa?”

“Emang kenapa?!”

Sebetulnya kos mereka itu sama hanya beda lantai. Karena kamar kos Ohyul ada di lantai tiga dan dia malas naik tangga sejauh itu, berujung dirinya sekarang sedang duduk nyaman di sofa kamar kos Ryul yang ada di lantai satu. Sementara pacarnya sendiri sedang mandi karena belum mandi dari kemarin sore. Kalau ditanya kenapa bisa, Ohyul belum bertanya soal itu karena mereka masih marahan kemarin-kemarin.

“Ih, kamu lagi banyak tugas, ya?” Ohyul langsung sadar begitu Ryul yang sudah mandi dan berganti pakaian langsung membuka laptop di meja belajar.

“Huum,” balas Ryul singkat.

Kalau kemarin-kemarin, Ohyul pasti sudah mengajak ribut. Tapi sekarang karena emosinya sedang sangat stabil dia juga baru jatuh barusan, dirinya menjadi lebih mengerti. Sadar dia akan dicueki entah sampai kapan tapi terlalu malas juga untuk pergi ke kamarnya kecuali Ryul mau menggendong.

“Tapi dia baru selesai jaga malem,” batin Ohyul yang menepis ide ingin digendong pacarnya.

Pilihan satu-satunya adalah tetap di sini. Ohyul pun perlahan berdiri dari sofa kemudian berjalan ke arah kasur, tidak perlu sungkan lagi untung berbaring di sana sambil meringis karena merasa perih.

“Udah makan?”

“Belum.”

Ryul kemudian beranjak, meraih tasnya dan mengeluarkan satu bungkus roti ukuran sedang. Tak lupa mengambilkan segelas air dan memberikannya pada Ohyul yang langsung kembali bangun.

“Abisin dulu rotinya,” titah Ryul kemudian mengambil kantong plastik putih dari tasnya, mengeluarkan beberapa bungkus dengan berbeda warna di sana.

“Ini anti nyeri, kalo ini antibiotik, minum sekarang semuanya,” lanjutnya lagi sambil membukakan satu persatu bungkus obat tersebut lalu menaruhnya di atas plastik bening baru.

Ohyul yang melihat sambil diam hanya mengangguk, meski begitu pipinya sudah memanas sekarang. Rasanya benar-benar sangat diperhatikan meski sebenarnya selalu begitu, tapi kali ini rasanya seratus kali lebih manis.

“Makasih banyak, Dokter,” balas Ohyul seraya tersenyum, membuat pacarnya itu diam sejenak berdiri di samping kasur.

“S-sama-sama.” Ryul langsung kembali ke kursinya untuk kembali menyelesaikan tugas yang sudah dikejar deadline sementara Ohyul hanya diam-diam memperhatikan dengan perasaan berbunga-bunga.

Indahnya jatuh cinta kesekian kalinya pada orang yang sama.

Setelah makan dan minum obat, Ohyul memilih tidur karena sudah lumayan lelah juga pagi tadi ada asistensi dengan dosennya. Begitu kembali membuka kedua mata, yang dia lihat pertama kali adalah Ryul yang terlelap dengan menghadap ke arahnya. Wajah itu begitu nyaman dengan posisinya, membuat Ohyul langsung merasa senang dan kemudian berusaha mendekatkan tubuhnya.

“A-ah sakit!” ringisnya secara tidak sengaja menekan lukanya yang bertemu dengan lutut Ryul yang ikutan terbangun.

“Kenapa?” tanya Ryul langsung dengan khawatir.

Ohyul meringis kesal, rasanya perih dan lumayan ngilu. Sekarang dia menyesal tidak hati-hati hingga punya luka seperti ini.

“Kebentur,” balasnya.

“Hati-hati makanya.”

“Ya.” Ohyul membalas cuek, tubuhnya kembali terbaring terlentang, dirinya mulai kesal lagi karena lukanya terasa sakit kembail.

“Mau dipeluk, ya?”

Untung saja pacarnya itu langsung peka. Ohyul menahan senyum begitu Ryul mendekat lalu memeluknya dari samping, kedua tungkainya hati-hati agar tidak terbentur dengan luka Ohyul yang baru.

“Udahan ya marahannya?” pinta Ohyul dengan nada pelan.

“Iya.”

“Gak suka kalo gak ketemu atau gak dapet chat dari kamu.”

Ryul mengangguk setuju, dia juga kalau ditanya rindu jelas sekali rindu pacarnya yang selalu menggemaskan ketika bersamanya tapi terlihat cuek di depan orang banyak.

“Aku juga minta maaf, ya, kemarin-kemarin cuekin kamu.”

“Iya, aku tau kok kamu kedapetan ikut operasi yang lama terus. Maaf, aku gak bisa pengertian.”

“Kita sama-sama salah, udah, ya.”

“Iya….”

Seraya menunggu Ryul untuk tampil melalui zoom meeting, mereka putuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Duduk di lantai dengan meja kecil di antara mereka. Akhirnya suara obrolan dan tawa mereka kembali terdengar dan terasa hangat. Setelah beberapa hari tidak bertemu dengan emosi yang meluap-luap belum lagi lelah dari menjalani rutinitas sebagai dokter muda. Kini mereka akhirnya bisa melepas beban sebentar kemudian berbagi waktu bersama.

“Seru juga, ya, bedah. Kamu minat masuk ini?” tanya Ohyul seraya membaca laporan kasus yang sudah dicetak, melirik Ryul sebentar yang sedang kembali menghafal kasusnya sendiri.

“Lama sekolahnya.”

“Terus mau masuk mana, dong?”

“Aduh lulus dulu aja, deh yang penting. Pusing aku stase ini, Yang. Rasanya otot sama tulang aku suka mau cerai berai tau,” aku Ryul yang tidak dia buat-buat.

Membuat Ohyul terkekeh melihatnya. “Sama, sih aku juga. Asal dapet pasien dulu terus bisa aku selesain sampe tuntas beneran.”

“Kamu masih butuh pasien apa lagi?” Ryul langsung menoleh.

“Kenapa emang?”

“Aku jadi pasien kamu lagi gak bisa?”

“Gak bisalah. Gigi kamu udah sehat begitu, dih!”

Ryul cemberut mendengarnya. “Iya, sih. Kenapa gigi aku gak jelek aja, ya biar bisa kamu tanganin?”

“Aneh-aneh aja, ih kamu!”

“Kamu juga aneh-aneh aja jatoh terus bela-belain ke IGD RS biar dijait aku.”

Ryul mengaduh begitu kepalanya ditepuk oleh laporan kasus yang sudah dia bikin setengah mati.

“Oh, kamu gak seneng, ya aku samperin?!” tanya Ohyul mulai sensi.

“Seneng, tapi gak seneng pas kamunya luka dateng ke aku.”

“Tetep gak seneng namanya, kan?!”

“Siapa yang seneng jahit pacarnya sendiri? Kalo bisa, aku gak mau kamu luka kaya gitu!”

Mereka saling bertatapan, Ohyul sadar lagi kalau dia sudah membuat pacarnya amat khawatir. Tapi sungguhan, deh dia jatuh barusan benar-benar di luar kuasanya dan yang pertama dia pikirkan hanya pacarnya yang kebetulan sedang stase bedah. Temannya saja barusan menawarkan untuk ke klinik terdekat, tapi Ohyul lebih memilih memeriksa jadwal Ryul yang ternyata hari ini di IGD.

“Aku pas jatuh tadi langsung keinget kamu soalnya… maaf, deh harusnya aku gak ke rs tadi,” aku Ohyul tapi yang ada dia malah mendapat kecupan di pipi kirinya.

Tiba-tiba sekali, Ohyul mau menepis malu pun tidak sempat jadinya hanya diam membeku sementara pacarnya sudah tersenyum lebar.

“Aku mau tampil dulu, doain lancar, ya.”

Kembali lagi dirinya yang dicueki. Ohyul hanya menonton dari lantai, sementara Ryul duduk di kursi meja belajar dan mulai presentasi. Laporannya masih ada di tangan Ohyul yang karena bosan memilih membacanya sembari mencari bagian mana yang Ryul sebutkan.

Dua jam kurang akhirnya selesai juga. Ryul menghela napas lega akhirnya selesai tampil. Setengah bebannya di stase ini sudah selesai. Begitu dia berbalik ke belakang, tampak Ohyul sudah kembali berbaring seraya bermain ponsel. Obat di meja nakas sudah tidak ada alias sudah dimakan kembali.

“Udah selesai!”

“Lulus?”

Ryul ikut naik ke atas kasur, kehadirannya membuat Ohyul bangkit dan duduk bersandar pada kepala kasur.

“Laporan kasusnya udah acc, sih. Aku masih ada ujian kasus lagi nanti di akhir.”

“Yeay, selamat!” balas Ohyul tapi kemudian tersipu melihat Ryul menyentuh pipi kirinya sendiri; memberi kode untuk memberi hadiah.

Kecupan di pipi kirinya mendarat dengan mulus. Ryul hampir berjingkrak tapi berusaha menahan diri. Rasa senangnya berkali lipat bertambah setelah sebelumnya sudah dipuji oleh konsulen.

“Besok kamu masuk jam berapa?”

Ohyul menatap lukanya sejenak kemudian menjawab, “jam sepuluh. Kamu pagi, ya?”

Ryul memeriksa ponselnya sebentar untuk melihat jadwal lalu membalas, “jam delapan. Aku gak dapet visit besok tapi langsung masuk poli. Besok pagi sarapan bareng,  yuk?”

“Aku nginep di sini boleh gak?”

Dengan perasaan senang luar biasa, Ohyul duduk manis di sofa sementara itu Ryul sedang ke kamarnya di lantai tiga untuk apalagi kalau bukan mengambil beberapa pakaiannya termasuk pakaian jaganya untuk besok. Ryul pun kembali dengan membawa totebag besar yang berisi penuh.

“Mau sekalian aku mandiin gak?” tawar Ryul yang mendapat tatapan malas dari Ohyul.

“Jangan kena air, loh, Yang.”

Semula Ohyul menganggap enteng, tapi beberapa saat kemudian ketika dirinya sudah di dalam kamar mandi dan memulai ritual. Ryul yang sedang terbaring nyaman di kasur langsung dipanggil.

“AY, MAAF LUKANYA KENA AIR AAAA.”

“Tau, ah urus sendiri lukanya.”

“Kok kamu gitu sama aku?!”

Sungguhan tidak sengaja. Ohyul keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berganti. Menatap cemas pada kassa yang menutup lukanya sudah basah kuyup, tapi dia tidak menemukan keberadaan Ryul. Dirinya langsung mencari ponselnya tapi sadar begitu melihat ponsel Ryul juga ada di sana.

Akhirnya dia hanya duduk diam menunggu di sofa. Sepuluh menit berlalu dan Ryul kembali membawa kantong plastik putih.

“Dari mana?”

Tidak menjawab melainkan langsung duduk di lantai tepat di depan kedua kakinya. Ohyul melihat isi dari kantong plastik itu, sedangkan Ryul mulai membuka kassa yang menutup lukanya. Dengan telaten membersihkan dan mengganti kassa. Perasaan itu muncul lagi, Ohyul merasa salah tingkah setiap Ryul memberinya perhatian seperti sekarang.

“Udah aku kasih plester yang anti air.”

“Makasih lagi hehehe.”

Karena mereka malam ini tidur bersama, tidak afdol rasanya tidak mengobrol terlebih dahulu ketika biasanya melalui video call meski jarak kamar mereka hanya tiga lantai. Ryul memperhatikan dengan seksama cerita Ohyul dua hari ke belakang karena absen mendengarkan.

“Susah banget, ya cari pasiennya, Yang?”

“Huh banget, banget, banget! Belum lagi udah beberapa kali dighosing pasien,” keluh Ohyul teringat lagi dua hari lalu sempat di-ghosting pasien ditambah juga pacarnya.

“Maaf, ya aku juga ghosting kamu kemaren-kemaren.”

“Iya, udah gak usah dibahas lagi yang itu. Sekarang yang penting udah baikan.”

“Beneran aku ngerasa bersalah,” tutur Ryul dengan raut bersalah, mengundang Ohyul untuk memukul wajahnya dengan bantal penuh kasih sayang.

“Diem.”

“Aku sayang kamu.”

“Tiba-tiba?”

“Mau janji sama aku gak?”

“Janji apa?”

“Kita sumpah dokter bareng. Abis itu liburan berdua aja mau ga?”

Ohyul sempat ragu sebelumnya. “Perasaan jadwal sumpah dokter FK sama FKG beda, deh Ay?”

“Bulannya sama gak, sih?”

“Gak tau tapi kayanya beda?”

“Ya, udah intinya di tahun yang sama. Atau periode, yang sama. Aduh, intinya ujian kita nanti sama batchnya gitu,” terang Ryul yang mulai bingung sendiri.

Ohyul terkekeh melihatnya kemudian mengangguk. “Ya, kalo pasien aku segera terpenuhi semua. Sebenarnya dikit lagi, sih. Kamu gimana?”

“Aku aman aja, selama gak ngulang stase.”

“Tapi kita kalo belajar gak bisa bareng, kan materinya beda.”

Ryul segera menyentuh kedua bahu pacarnya, wajah mereka saling berhadapan. “Biarin, kita belajar masing-masing tapi berdua,” ujar Ryul begitu serius tapi dianggap lucu oleh pacarnya.

“Oke, oke.”

“Beneran mau, ya?”

“Emang mau liburan ke mana?” tanya Ohyul penasaran, karena dia sendiri sedang tidak ada keinginan untuk liburan ke sebuah tempat.

“Thailand, mau?”

“Boleh.”

“Terus kita nikah di sana diem-diem.”

Wajah Ohyul seketika memerah juga terkejut mendengarnya, sementara Ryul sudah tersenyum bahagia membayangkan. Di awal sudah meminta untuk pergi liburan berdua tentu punya maksud dan tujuan.

“Yang serius, ah!”

“SERIUS! Emang bisa nikah di sini?” tanya Ryul begitu santai.

“Minimal lamar dulu.”

“Nanti aku lamar pas sumpah dokter. Gampang.”

Hati Ohyul rasanya sudah buyar sekarang, melebur dengan rasa hangat yang terlalu. Berusaha menahan diri agar tidak terlalu terang-terangan berharap, apalagi dari bagaimana Ryul mengucapkannya dengan enteng.

“Ngomong mah emang gampang.”

“Oke, aku lamar sekarang?”

“Tidur, yuk kayanya kamu udah kecapean banget.”

“Aku serius, Yang!”

Ohyul menggeleng kecil dan memutuskan menarik selimut yang muat untuk mereka berdua. Kemudian menarik sebelah lengan Ryul untuk merangkulnya agar semakin nyenyak dalam tidur.

“Besok pagi aku lamar pake bubu ayam.”

“Terserah kamu ajalah.”

“’Love you too, Yang.”