Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-20
Words:
1,394
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
137
Bookmarks:
7
Hits:
1,398

14 Kecupan di Hari Ulang Tahunmu.

Summary:

Keonho sempat percaya bahwa cinta harus megah seperti di buku-buku romansa, hingga akhirnya Seonghyeon mengajarkannya bahwa cinta justru hadir dalam bentuk sederhana, hangat, dan tulus— cukup melalui perhatian kecil yang terasa seperti rumah.

Notes:

HALOOO kembali dengan alpha!hyeon dan omega!keon, kali ini membawa yang manis-manis dan (seharusnya) ditujukan untuk ulang tahunnya keonho, tapi lewat 6 hari gak apa-apa lah, ya ;D terima kasih juga atas antusiasme dari kalian di work omegaverse!hyeonkeon sebelumnya, ini juga ada di universe yang sama, siiiih, cuman untuk melanjutkan alur yang kemarin #jujur aja aku agak kebingungan dan merasa ... "ini bagus gak, ya, kalau dibuat gini?" terus, jADI MAAF BANGET KALAU BELUM ADA LANJUTANNYA ;C happy reading, yaaaaw! <3

Work Text:

Ahn Keonho akui, ia bukan pribadi yang romantis. 


Dulu, menurutnya, pemberian kasih sayang hadir secara diam-diam. Bentuknya sederhana dan menyelinap dalam keseharian. Keonho tumbuh dengan benaknya yang terus-menerus berpikir bahwa kasih sayang— atau cinta itu hadir melalui bagaimana Ibu menata rambutnya setelah selesai mandi, melalui satu gelas susu dan roti yang dipanggang terlalu lama oleh Kakak, ataupun melalui usapan Ayah pada punggung kecilnya ketika ia terjatuh saat bermain sepeda. 


Menurutnya, semua itu sudah cukup menjelaskan indahnya perasaan cinta. Hangat tanpa banyak kata. 


Hingga pada usianya yang keempat belas, Keonho mulai mengenal bentuk cinta yang lain. 


Satu hari sebelum ulang tahunnya, ia mendengar teman-teman sekelasnya berbicara tentang pacar, kencan, dan Valentine. Istilah-istilah itu terdengar asing, tetapi satu hal ia pahami— semuanya tentang cinta dan cara menunjukkannya pada seseorang yang istimewa.


Maka, sepulang sekolah, Keonho merengek pada Kakaknya agar diantar ke toko buku. Ia membeli berbagai buku romansa, bahkan satu dengan judul yang terdengar nyeleneh.


“Ngapain, sih, kamu beli buku-buku gak penting kayak gitu, Dek?” 


“Ini namanya ilmu remaja tau!”


Kalimat tersebut sempat Keonho utarakan dengan begitu percaya diri, meskipun sontak mengundang tawa dari Kakaknya. Alisnya menukik keheranan, tetapi pada hari berikutnya, Keonho mengerti alasannya. 


Keonho membaca buku-buku itu di setiap waktu yang ia punya; saat pertama kali ia menggigit roti panggangnya, saat perjalannya di mobil ketika menuju ke sekolah, bahkan saat ia sedang diberikan penugasan matematika oleh gurunya, Keonho memilih untuk membaca buku-buku itu. 


Namun setelah halaman terakhir selesai, ia hanya merasa waktunya terbuang.


Meskipun begitu, ada satu hal yang Keonho pelajari— cinta punya banyak bentuk.

 
Cinta dapat ditunjukkan melalui bunga yang diberikan kepada pasanganmu, cinta dapat ditunjukkan melalui barang-barang mahal yang secara sukarela diberikan kepada pasanganmu, dan begitu banyak cara untuk menunjukkan perasaan cinta yang Keonho sama sekali tak pernah ketahui sebelumnya. Maka, ketika Keonho selesai membaca seluruh lembaran dari buku-buku romansa itu, ia mempelajari bagaimana menerapkan ilmu-ilmu itu pada kehidupannya. 


Bertahun-tahun ia mencoba untuk menunjukkan perasaan cinta pada orang yang disukainya, bermodal dengan mengubah penampilannya, menjadi seseorang dengan reputasi yang tinggi, serta membangun kepribadian yang hangat dan menyenangkan, ternyata tak kunjung membawa Keonho menjadi seperti pemeran utama dalam buku-buku romansa yang ia baca pada saat usianya empat belas tahun. 


Namun, seluruhnya berubah sedemikian rupa ketika hidupnya bak dimulai kembali saat ia temukan bahwa dirinya adalah seorang Omega— yang secara kebetulan terikat dengan seorang Alpha yang tak pernah ia sangka sebelumnya, Eom Seonghyeon. 


Seonghyeon hadir dan mengubah pandangannya soal cinta. Apabila dahulu ia berpikir bahwa cinta selalu hadir melalui bunga, cokelat, ataupun barang-barang mahal dan bermerek terkenal, Seonghyeon memberikan bentuk cinta yang terasa seperti perasaan kasih sayang yang diberikan oleh Ibu, Ayah, dan Kakak. Bentuk cinta milik Seonghyeon terasa begitu sederhana, menyelinap secara perlahan, tetapi hangatnya tak tertandingkan. 


Seonghyeon juga mengatakan bahwa bentuk kasih sayang yang paling indah adalah fakta bahwa Keonho bahkan dilahirkan bersamaan dengan perayaan hari kasih sayang. 


“Selamat ulang tahun, Sayang.”


Perayaannya sederhana. Seonghyeon tidak hadir dengan hal-hal yang berlebihan, tetapi cukup membuat dada Keonho menghangat. Di tengah malam, Seonghyeon hadir dengan kalimat yang terucap dengan damai. Berbagai doa yang ia rapalkan dengan begitu lembut. Satu buah kue berukuran sedang yang dihiasi dengan krim dan stroberi serta senyuman manis milik Seonghyeon sudah cukup berharga bagi Keonho. Feromon beradu di udara, tidak mengintimidasi, tetapi menenangkan bagi satu sama lain.

 
“Tiup lilinnya, dong.”


Fuuu—


Api pun padam, beriringan dengan doa yang dirapalkan dalam diam. 

 
Keonho tidak langsung membuka mata. Bibirnya masih terkatup pelan setelah doa terakhirnya selesai dirapalkan. Namun ketika akhirnya kelopak mata itu terangkat, Seonghyeon melihatnya— warna merah serta bulir-bulir air mata yang perlahan memenuhi sudut mata Omega itu.


“Kenapa?” tanya Seonghyeon, suaranya rendah, hampir seperti bisikan yang takut memecah sesuatu yang rapuh.


Keonho menggeleng cepat. Terlalu cepat. “Nggak kenapa-kenapa.”


Tentu saja bohong.


Matanya berkaca-kaca. Hidungnya memerah. Bibirnya sedikit bergetar seperti anak kecil yang berusaha keras terlihat kuat.


Seonghyeon tidak menertawakan. Tidak juga menggoda. Hanya tersenyum, kemudian menaruh kue tersebut di atas meja dan mendudukkan dirinya di sofa. 


“Sini.”


Keonho berkedip. “Hah?”


“Duduk.”


Seonghyeon menepuk pahanya pelan.


Dan entah sejak kapan, Ahn Keonho yang selalu keras kepala itu menurut tanpa banyak bantahan. Ia bergerak pelan, canggung, lalu duduk menyamping di pangkuan Seonghyeon. Lengan Alpha itu langsung melingkari pinggangnya. 


“Tanggal empat belas,” gumam Seonghyeon pelan di dekat telinganya. “Berarti aku punya empat belas hal yang harus aku lakuin.”


Keonho mengerutkan alis. “Apa lagi, sih—”


Satu kecupan mendarat di dahinya.


“Karena kamu selalu berusaha kuat, bahkan waktu kamu lagi capek banget.”


Keonho terdiam.


Satu kecupan di pipi kiri. 


“Karena kamu gampang banget merah waktu dipuji.”


Satu kecupan di pipi kanan. 


“Karena kamu selalu pura-pura nggak suka, padahal senyummu nggak bisa disembunyiin.”


Keonho menutup wajahnya setengah dengan tangan, malu. Seonghyeon tersenyum kecil, lalu menyingkirkan tangan itu perlahan.


Satu kecupan di ujung hidung. 


“Karena kamu selalu cemberut kalau lagi mikir keras.”


Satu kecupan di daun telinga. 


“Karena kamu selalu dengerin aku, bahkan hal-hal yang nggak penting.”


Satu kecupan di ceruk leher. 

“Karena kamu selalu gemetar kalau aku terlalu dekat.”


“Seonghyeon …” Keonho protes lemah, tapi tidak benar-benar menjauh. Wajahnya mulai memerah. 


Satu kecupan di bahu. 


“Karena kamu selalu bilang kamu bisa sendiri. Padahal kamu pantas disandari.”


Satu kecupan di punggung tangan. 


“Karena tangan kamu selalu duluan cari tanganku.”


Satu kecupan di jari manis. 


“Karena kamu bilang nggak percaya janji … tapi tetep percaya aku.”


Satu kecupan di ujung jemari. 


“Karena kamu selalu nyentuh aku pelan-pelan, seolah aku rapuh.”


Satu kecupan di pucuk kepala.


“Karena kamu nggak sadar betapa berharganya kamu.”


Seonghyeon menatapnya lebih lama dari sebelumnya. Lalu tangannya bergerak pelan, menuntun Keonho sedikit lebih dekat.


Satu kecupan di dada kiri, tepat di atas jantungnya.


“Karena di sini … kamu selalu nyimpen semua perasaanmu. Dan aku janji, aku bakal jagain itu.”


Satu kecupan di sudut bibir. 


“Karena kamu selalu nahan senyum, padahal ujung-ujungnya gagal juga.”


Dan terakhir, satu kecupan di bibir.

 
“Karena kamu selalu bilang ‘aku nggak apa-apa’ dengan suara paling pelan.”


Sunyi.


Keonho masih terdiam di pangkuannya ketika kecupan keempat belas itu usai. Tangannya bertengger nyaman pada kerah baju Seonghyeon, seolah-olah takut jika ia bergerak sedikit saja, momen itu akan runtuh.


Seonghyeon mengangkat wajahnya perlahan.


“Kenapa kamu lihat aku kayak gitu?” bisiknya.


Keonho menelan ludah. “Kayak gimana?”


“Kayak mau lari … tapi nggak mau.”


Kalimat itu jatuh tepat di antara mereka.


Dan untuk pertama kalinya malam itu, Keonho tidak menunduk. Ia menatap balik. Lama. Terlalu lama untuk sekadar manis.


Tangan Seonghyeon yang tadi memeluk pinggangnya kini bergerak naik— pelan, mantap— menyusuri tulang belakangnya sampai berhenti di tengkuk. Jemarinya menyelip di rambut, menarik lembut, cukup untuk membuat Keonho sedikit mendongak.


Napas mereka beradu.


Tidak ada yang berbicara.


Ciuman berikutnya tidak lagi seperti kecupan yang sebelumnya ia layangkan.


Bukan sekadar sentuhan.


Bukan sekadar alasan manis.


Bibir Seonghyeon menekan lebih dalam, lebih lama. Seolah ia benar-benar ingin Keonho merasakannya. Keonho terkejut sesaat— lalu tanpa sadar membalas. Tangannya yang tadi mencengkeram kerah kini berpindah ke bahu, lalu ke tengkuk, menariknya lebih dekat.


Sofa kecil itu mulai terasa terlalu sempit. Napas mulai tidak teratur.


Seonghyeon memiringkan kepala, menyesap itu dengan sabar tapi pasti. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak memberi ruang untuk mundur. Setiap jeda hanya berlangsung sepersekian detik sebelum bibir mereka kembali bertemu.


“Seonghyeon …” nama itu keluar setengah desahan, setengah peringatan.


Alpha itu berhenti— hanya cukup untuk menyentuhkan dahinya ke milik Keonho.


“Kamu mau aku berhenti?”


Pertanyaannya tenang. Tapi tangannya masih di tengkuk, ibu jarinya menyapu pelan kulit hangat di sana.


Keonho menggeleng. Lambat. Itu cukup.


Ciuman berikutnya lebih dalam. Lebih berani. Keonho yang biasanya malu kini justru yang lebih dulu mendekat, tubuhnya otomatis menyesuaikan, lututnya bergeser sedikit di atas paha Seonghyeon. Feromon mereka menebal di udara, tidak liar, hanya terasa lebih berat. Lebih padat.


Seonghyeon memutus ciuman itu perlahan, turun ke sudut rahang Keonho, lalu ke bawah telinganya. Tidak tergesa. Setiap sentuhan terasa disengaja.


Jemari Keonho mencengkeram bahunya lebih kuat.


“Jangan … bikin aku kayak gini,” gumamnya serak.


“Kayak gimana?”


“Kayak nggak bisa mikir.”


Seonghyeon terkekeh pelan.


“Aku nggak butuh kamu mikir,” bisiknya. “Aku cuma mau kamu ngerasain.”


Keonho akhirnya menyerah pada air mata yang jatuh secara perlahan. Bukan karena sedih— melainkan karena hangatnya terlalu banyak untuk ditahan sendirian.


“Ini … berlebihan,” gumamnya serak.


Seonghyeon tersenyum tipis. “Belum.”


“Hah?”


Alpha itu menyentuh pipi Keonho, menghapus bulir-bulir air mata yang menyelinap dengan ibu jari.


“Aku masih punya sisa hidup buat ngulang empat belas kecupan itu tiap tahun.”


Dan untuk pertama kalinya, Ahn Keonho merasa cinta tidak perlu bunga mahal, atau cokelat bermerek, atau halaman-halaman buku romansa yang ia hafal dulu.


Cinta cukup seperti ini.


Sederhana.


Menyelinap.


Hangat.