Work Text:
Jay menyadari sesuatu tentang Jungwon yang belum pernah ia akui sebelumnya. Senyum manis itu selalu membuat hatinya berdebar, dan lesung pipi yang tak pernah absen untuk ia cubiti dengan gemas. Setiap kali Jungwon berdiri terlalu dekat, Jay selalu mencuri nafas dalam-dalam, membiarkan wangi rambutnya memenuhi inderanya.
Ia hafal wangi rambut Jungwon, aroma yang entah bagaimana selalu berhasil menenangkannya. Kehangatan yang dimiliki lelaki itu perlahan menembus relung hatinya yang terdalam. Sepertinya cinta memang bukan sekadar mitos belaka.
Namun ada satu hal yang paling membuat Jay takut, jatuh terlalu dalam. Mata lelaki itu selalu berhasil membiusnya. Ia khawatir jika menatapnya terlalu lama, ia akan kehilangan kendali dan bertindak lebih jauh. Melakukan sesuatu yang mungkin mengejutkan Jungwon, membuatnya menyadari rahasia yang selama ini ia sembunyikan… lalu perlahan-lahan menjauh darinya.
Selama ini, hubungan mereka selalu berada di batas yang aman—cukup dekat untuk saling berbagi tawa, namun tak pernah benar-benar melewati garis yang tak kasatmata. Jay tahu ia menginginkan lebih dari sekadar ini. Lebih dari sekadar cubitan gemas dan candaan yang terlalu sering disalah artikan sebagai kebiasaan.
Jungwon… lelaki itu terlalu polos, atau mungkin terlalu tidak peka pada perasaannya sendiri. Kadang Jay tak bisa membedakan mana perhatian yang tulus dan mana yang hanya sekadar keramahan biasa antara seorang leader dan membernya. Ia takut salah menilai. Takut melangkah terlalu jauh, hanya untuk menyadari bahwa selama ini ia berjalan sendirian.
Jay selalu bersikap sedikit lebih baik terhadap Jungwon dibandingkan teman-teman mereka yang lain. Ia selalu berusaha membuat hidup lelaki itu terasa lebih mudah. Ia yang pertama kali mengulurkan tangan saat Jungwon kesulitan membuka es krim yang baru keluar dari kulkas.
Ia yang tanpa diminta membawakan barang-barang Jungwon saat di bandara, membantu Jungwon membawa kue ulang tahun untuk Kak Heeseung, atau dengan sabar memisahkan daun perilla yang saling menempel pada piring makan Jungwon. Bahkan memasakkan makanan kesukaannya, atau mengantarnya ke mana pun Jungwon ingin pergi.
Jay tahu Jungwon sebenarnya mampu melakukan semua itu sendiri. Namun tetap saja, ia ingin menjadi orang yang selalu siap membantunya.
Sayangnya, sebanyak apa pun perhatian yang ia curahkan, Jungwon seolah tak pernah menangkap sinyal yang ia berikan. Jay takut lelaki itu hanya menganggap semua ini sebagai bentuk kepedulian seorang kakak—mungkin karena ia anak tunggal, mungkin karena ia terlalu terbiasa menjaga.
Padahal bagi Jay, Jungwon bukan sekadar adik kecil. Bukan pula sekadar keluarga. Ia lebih dari itu—jauh lebih dekat dari yang berani ia akui.
***
Jungwon dan tawanya itu lagi. Suara yang biasanya selalu berhasil menyejukkan hati Jay.
Di waktu lain, Jay mungkin akan ikut tersenyum. Namun sekarang, setiap kali tawa itu ditujukan pada orang lain, sesuatu dalam dirinya terasa terusik. Saat Jungwon tertawa lepas bersama Jake. Saat ia beradu panco dengan Sunghoon dan tersenyum puas. Saat ia mengganggu Niki tanpa henti.
Atau seperti sekarang—suara cempreng itu pecah begitu saja ketika Heeseung menggelitiknya tanpa ampun.
“Kak ga boleh curang!”
Teriakan Jungwon yang begitu membahana memaksa kepala Jay menoleh ke arahnya, terjepit di antara Heeseung dan Sunoo yang masing masing sedang asik bermain game. Joystick di tangan Heeseung sudah berubah fungsi menjadi alat penggelitik Jungwon. Sunoo yang asik bermain game di handphonenya sendiri tetap cuek dengan keributan di sebelahnya.
“Gue ga curang ya bocil, lu aja yang skill issue”
“Skill issue??? Makan nih skill issue!”
Jungwon memencet setiap tombol di joystick yang malang itu seperti kesetanan sambil mendorong-dorong bahu Heeseung sambil tertawa kencang. Jay yang duduk di dapur sambil memakan sereal dapat melihat mereka dengan jelas.
Bagaimana mata Jungwon menghilang dan berubah menjadi bulan sabit yang cantik. Lesung pipit yang selalu menghiasi kedua belah pipinya—yang entah kenapa terlihat lebih merah dari biasanya. Suaranya yang melengking namun tetap terdengar merdu di telinga Jay. Panggil Jay gila tapi semua hal yang ada dalam diri Jungwon selalu terlihat indah di matanya.
Ini bukan pemandangan langka. Jay sudah terlalu sering melihatnya. Namun entah mengapa, perasaan panas itu selalu datang tanpa permisi. Ia sering berpura-pura tak peduli. Tapi jauh di dalam hati, Jay tahu betul keinginannya yang egois, memiliki tawa itu hanya untuk dirinya sendiri. Dan ia juga tahu, itu bukan sesuatu yang bisa ia miliki—setidaknya, belum sekarang.
“Kak Jay ngapain bengong di situ? Sini deh temenin aku main!” Suara Jungwon berhasil memecahkan lamunannya, otomatis membuat kakinya bergerak ke arah mereka. Jay mendudukan diri di depan pujaan hatinya. Punggungnya bersandar di kaki sofa, “Aku nonton aja ya, liat kamu main aja udah capek”
“Iya deh terserah yang penting temenin aku di sini.”
Jay hanya menghela nafas dan tersenyum kecil, yang dibalas senyum manis oleh yang lebih muda. Kebahagiannya begitu sederhana. Cukup berada di dekat Jungwon—menjadi penonton setia, meski hatinya terus meminta lebih.
***
Suara deru AC memecah keheningan malam itu diiringi suara petikan gitar yang Jay mainkan. Ia bersenandung pelan sambil mencoba coba mencari nada yang pas. Matanya menatap kosong ke depan, sembari duduk sendirian di ruang studionya dengan pintu terbuka. Entah sebagai undangan bagi tamu yang biasanya tiba tiba hadir begitu saja atau memang sekedar ingin melihat keluar.
Jay dapat melihat pintu kamar Jungwon yang ada di sebrang dengan jelas. Pikirannya berkecamuk. Terlalu banyak yang ingin dia sampaikan, namun petikan gitarnya jauh lebih jujur dari mulutnya. Lagi lagi bergumam pelan, berbisik pelan menyanyikan susunan lagu yang masih berantakan di dalam kepalanya.
Tiba tiba pintu di sebrangnya terbuka, memperlihatkan sosok pria yang sedari tadi mengisi pikirannya. Jungwon tersenyum dan berjalan pelan ke arahnya. “Hai” ucapnya sambil memasuki studio Jay, duduk tanpa permisi di sebelahnya, meski ia juga tidak keberatan.
Tangan yang lebih muda memang tidak bisa diam. Ia mulai memainkan senar gitar Jay, memetiknya asal, menciptakan nada suara yang sama semrawutnya dengan isi hati Jay. “Ajarin aku dong kak,” tangannya kini mulai mengetuk ngetuk badan gitar Jay, “itu loh lagu yang kakak pernah nyanyiin, Say You Wont Let Go”
Jay hanya terkekeh pelan mendengarnya “Hadeh, hafalin chord aja dulu.”
Tangannya mulai memetik senar gitar pelan, menyanyikan lirik Say You Won’t Let Go dari James Arthur, sesuai keinginan Jungwon. Saat Jay mengangkat kepalanya, mata mereka bertemu. Sial. Jay tak bisa melepas matanya dari wajah pria di sebelahnya.
Petikannya melambat. Bukan karena lupa chord, tapi ia sadar betul pandangan Jungwon hanya tertuju untuknya. Manik coklat cerah itu berhasil membuatnya lupa bagaimana cara bernafas.
Tatapan balik dari Jungwon tidak membuatnya takut, justru menguatkannya untuk terus melanjutkan permainannya. Alunan nada dari gitarnya terdengar syahdu, seakan ikut membantunya untuk memenangkan hati pria di hadapannya.
Tubuhnya otomatis maju mendekati yang lebih muda. Jungwon yang tak bergeming membuatnya semakin yakin. Nafas hangat Jungwon menerpa wajahnya. Dunia terasa lebih lambat dari biasanya.
Tidak tahu apakah ini efek dari suasana malam hari Seoul yang entah kenapa terasa begitu sepi saat itu, atau karena kehadiran adik kecil di hadapannya. Mungkin saja Jungwon juga menginginkan ini, menginginkan hal yang sama dengan dirinya.
Jay berhenti sebelum menyelesaikan nada terakhir. Jemarinya masih menempel pada senar, tidak bergerak. Ia menunggu, berusaha mencari sesuatu dalam mata Jungwon. Tidak tahu apa yang ia harapkan—pengakuan, penolakan, atau sekadar kedipan yang bisa mengakhiri imajinasinya kapan saja.
“Keren banget,” ucap Jungwon pelan sambil tersenyum, tidak melepaskan tatapannya pada Jay.
Untuk pertama kalinya Jay merasa tidak hanya bernyanyi, tapi mengutarakan isi hatinya, dan Jungwon mendengarkan itu semua seakan tau itu hanya untuknya. Ada sedikit rasa takut jikalau Jungwon betul betul memahami arti dari lirik lagu yang baru saja ia nyanyikan.
Namun semua rasa takut itu lenyap begitu saja, meleleh di hadapan tatapan lembut Jungwon. Jay rasa dia bisa bernyanyi dan memetik gitar semalaman hanya untuk terus melihat senyum itu hadir di wajah Jungwon.
***
Jay duduk malas di sofa sambil menatap room chat kakaotalk di handphonenya. Ia sudah sering kali berusaha melupakan perasaannya. Terlalu sering hingga ia lupa sudah berapa orang yang mampir di room chatnya. Namun hal itu tidak pernah bisa berlangsung lama. Chat adik kecil yang dipin paling atas itu selalu berhasil membuatnya terdistraksi. Bukannya membalas chat seorang junior yang baru-baru ini berusaha mendekatinya, malah mengajak Jungwon pergi makan di luar. Jay sudah pasrah jika tidak ada lagi yang bisa mengalihkan perhatiannya dari Jungwon.
“Jjongcaprio baby cat, what are you thinking so hard about?” Jake yang sedang duduk di sebelahnya menendang kakinya pelan.
“Baby australian milk golden retriever puppy sim jaeyun, shut up.” Ia balas menendang telapak kaki Jake.
“Baby cat little meow meow, shut up.” Jake sekarang lebih berani untuk menoel noel perut Jay dengan jempol kakinya.
“Baby aussie milk golden retriever layla puppy little paw paw, mind your own business.” balas Jay sambil menarik dan memelintir jempol jake keras membuat sang empunya mengerang sampai terguling jatuh dari sofa.
Jay tertawa terbahak melihat adegan di depannya. Jake, seringnya, lebih banyak membuatnya kesal, tapi dia tetap punya pesonanya tersendiri yang harus Jay akui, kadang membuatnya gemas. Mungkin saja—
“Apa nih ketawa ga ajak ajak aku,” tiba tiba saja muncul sosok kecil dari belakang Jay dan mendudukkan dirinya begitu saja di pangkuan yang lebih tua “kan aku mau ikut juga kak” kata Jungwon menoleh ke arah Jake dengan senyum manis lesung pipitnya. Jay refleks mengunci lengannya pada pinggang yang lebih muda.
Jake terdiam dan hanya bisa nyengir canggung “Hehe izin ketua.” balasnya sambil ngeloyor pergi.
Di sisi lain, Jungwon malah menarik tangan Jay agar memeluknya lebih erat. Jay terdiam, menyadari lingkaran tangannya di pinggang yang lebih kecil. Degup jantungnya tak lagi teratur, nafasnya semakin berat, sementara Jungwon justru makin bersandar tanpa ragu, “Jadi pergi makan ga kita?”
Untuk pertama kalinya Jay tidak perlu merasa harus melepaskan pelukannya. Dan yang lebih berbahaya, Jungwon tidak memintanya untuk berhenti.
***
Lelah.
Jay lelah sekali dan tujuannya hanya satu, kasur. Tapi matanya tetap sigap mengikuti pergerakan Jungwon yang ada di depannya.
“Ya ampun kok tumben panas banget ya” ucapnya sambil melepas jaket bulu tebalnya. Tangan Jay reflek mengambil dan menggantungnya pada gantungan jaket di samping sofa. Walau tubuhnya berteriak untuk segera berbaring tapi otaknya malah mengarahkan kakinya ke dapur.
“Cola kah?” Jay bertanya lalu sambil melewati Jungwon yang tergelepar di karpet. Jungwon hanya bergumam sambil menutup matanya dengan tangan, menghalangi terang lampu ruang tamu yang terasa membakar korneanya.
Jay yang sudah mengambil 2 kaleng cola duduk di sebelah kepala Jungwon, memandangi yang lebih muda sambil bersandar di sofa “nih” ujarnya sambil meletakkan sekaleng di sebelah kepala Jungwon.
“Kak kayaknya HP aku masih di kantong jaket deh” Jungwon menurunkan tangannya dan menatap Jay. Tanpa jawaban, tanpa keluhan, Jay sudah tau apa yang dimaksud yang lebih muda. Ia bangkit ke samping sofa dan merogoh kantong jaket Jungwon, menemukan HP nya di sana, memberikannya pada Jungwon dan ikut berbaring di sebelahnya.
Keduanya tenggelam dalam kegiatan scrolling HP masing masing, keheningan yang menyelimuti tidak terasa canggung sama sekali, justru membuat Jay merasa tenang akan hadirnya Jungwon di sisinya.
“Kak aku pengen dubai chocolate kimbap” celetuk Jungwon tiba tiba. Keinginannya bukan tanpa sebab, masalahnya FYP tiktoknya sedari tadi dipenuhi dengan review dubai chocolate chewy cookie, tutorial membuat dubai chocolate kimbap dan battle variasi dubai chocolate terbaik.
“Ga inget kah baru dua hari lalu aku udah beliin?” jawab Jay malas sambil tetap scroll HP, “Coba minta tuh dibikinin kare jepang kek, samgyeopsal kek, pasta carbonara kek”
“Yaudah bikinin manduguk ya” Jungwon membaringkan kepalanya di atas lengan Jay.
Jay melirik sekilas lelaki di sampingnya “Dih nyuruh nyuruh, situ tuan putri?”
“Lah emang aku tuan putrinya kakak kan?” jawab Jungwon polos.
Jay yang tidak tahan lagi melihat yang lebih muda mengedip ngedipkan matanya, dengan niatan agar yang lebih tua mau repot repot memasakkan untuknya. Yang tidak diketahui Jungwon adalah, jangankan semangkok manduguk, bumi dan seisinya pun akan dimasak Jay jika Jungwon mau, tidak repot sama sekali.
“Panggil ganteng dulu” Jay menaikkan alisnya main main, masih belum mau beranjak ke dapur dan berpisah dengan lelaki di hadapannya barang hanya 5 menit.
“Pleaseeeee kak Jay paling ganteng se-Korea Selatan aku udah laperrrr bangettt” Jungwon memeluk perut Jay kencang sambil memanyunkan bibirnya. Rasanya Jay ingin makan bebek goreng detik itu juga.
***
Malam itu semua member sedang dilanda rasa malas untuk berpergian keluar. Semuanya asik dengan kegiatannya masing masing, bertumpuk jadi satu di ruang tamu seperti sarden siap santap.
Jay yang bersandar di sofa mulai diserang kantuk. Tangannya yang dari tadi mengelus pelan rambut Jungwon yang menyender padanya perlahan berhenti. Saat matanya mulai tertutup tiba tiba saja Sunoo menyeletuk “Pada mau nonton film ga? Horor yuk”
Sontak matanya yang setengah tertutup langsung ditutup rapat rapat. Tidak ingin ada yang menyadari bahwa dia masih terjaga kala mereka sedang asik memilih film horor mana lagi yang akan meneror dorm mereka malam ini.
Walau dengan mata yang tertutup, semua inderanya yang lain masih berfungsi, sehingga ia dapat mendengar dengan jelas suara Jungwon yang mendekat “Hayooo ga boleh pura pura tidur! Kakak harus ikut nonton bareng kita ya!” Sofa tempatnya berbaring bergoyang, perlahan dia rasakan Jungwon menepuk-nepuk pipinya pelan.
Seketika ia membuka matanya “Iya, atur” balasnya sambil menggenggam tangan Jungwon, ingin merasakan hangat tubuh anak itu sedikit lebih lama.
Entah datang dari mana keberaniannya malam ini, hangat Jungwon membuatnya merasa film horor tidak semenakutkan itu, setidaknya untuk saat ini.
Jungwon hanya tertawa menanggapinya, “Oke ga boleh batal ya!”
Lampu ruang tengah pun dimatikan, hanya diterangi cahaya TV yang menusuk mata. Jay bersandar di sofa, berusaha terlihat santai dan tidak terpengaruh sama sekali oleh judul film yang dari fontnya saja sudah terlihat menyeramkan, “Film horor begini mah biasa aja.” ucapnya, walau dalam hati ia sudah menyesali keputusan untuk ikut bergabung dalam agenda sport jantung ini.
Adegan demi adegan terlewati. Baru di pertengahan film pun Jay sudah tidak tahan untuk meninggalkan ruangan ini dan bersembunyi dalam selimut di kamarnya. Tanpa disadari tubuhnya semakin condong mendekati Jungwon di sebelahnya. Kakinya menyenggol pelan paha Jungwon. Tangannya pun tidak tinggal diam ikut mencengkram lengan sofa.
Hal ini tidak luput dari mata Jungwon yang ternyata mengawasinya sejak tadi. Entah sejak kapan bahu Jay sudah menempel pada bahunya. “Kakak kalau takut bilang aja kali” bisik Jungwon pelan di telinga Jay.
“Aku ga takut?”
“Hadeh,” Jungwon tiba tiba saja mendudukkan dirinya di pangkuan Jay. “udah tenang aja, ada aku di sini, siap jadi tamengnya Park Jeongseong”
“Yang ada hantunya takut liat mukamu”
“Idih bisa gitu ya!”
“Sssstttt!” serentak member lain menoleh ke arah mereka dengan mata melotot. Merasa terganggu dengan cakap cakap dua sejoli yang tidak bisa diam dari tadi.
Adegan di layar berubah semakin mencekam. Jay tidak bergeming. Tubuhnya yang kelewat tegap terlihat menegang saat tensi di film semakin meninggi. Ia tau beberapa saat lagi akan ada sesuatu yang muncul.
Matanya tak lepas dari layar TV, terlihat seakan menunggu “sesuatu” itu untuk segera muncul. Pegangan tangannya pada pinggang Jungwon pun terasa semakin kencang.
“Kak”
Tidak ada jawaban dari yang lebih tua.
“Kak”
Saat Jay menoleh ke arah pemilik suara, wajah Jungwon sudah berada tepat di depannya. Terlalu dekat. Nafas mereka saling beradu satu sama lain. Jungwon menatapnya terlalu intens, tidak terlihat kerlingan jahil seperti biasanya.
Jantungnya semakin berdegup kencang, namun kali ini bukan karna sosok hantu yang sebentar lagi akan muncul di layar. Nafasnya tercekat. Pikirannya kosong. Dunia seperti berhenti detik itu juga. Matanya masih setia mengunci mata Jungwon. Jarak bibir mereka kurang dari sejengkal. Sedikit lagi—
“AAAAAAA ITU HANTUNYA MUNCUL!!!” Teriakan Sunoo yang memekakkan telinga seketika mengagetkan Jay. Ia refleks menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Jungwon. Tangannya memeluk erat lelaki yang lebih muda, “What the hell—”
Jungwon terdiam beberapa detik lalu tawanya pecah begitu saja, “Tadi siapa yang bilang ga takut ya?” tangannya merangkul bahu Jay, menepuknya pelan seperti sedang menenangkan anak kecil yang menangis.
Jay hanya mendengus pelan. “Siapa yang ga takut denger nenek lampir teriak kenceng banget gitu”
“Dih bisa banget manggil aku nenek lampir!” “Siapa yang lu panggil nenek lampir hah?” Sunoo dan Sunghoon berbicara bersamaan. Pasangan yang biasanya beradu mulut itu memang sangat kompak dalam beberapa hal.
“Ya Kim Sunoo lah, siapa lagi”
Sunghoon yang biasanya menjaili Sunoo juga tidak terima jika ada yang mengejek pacarnya “Tameng lu noh Yang Jungwon”
“Lagian yang takut aku napa jadi kalian yang pelukan”
Jay baru tersadar, tangannya masih melingkar erat pada pinggang Jungwon. Wajah mereka yang masih saling berdekatan. Senyum malu-malu Jungwon lagi-lagi menghiasi wajah manisnya.
Tangannya tidak lepas dari bahu Jay. Tidak juga berusaha lepas dari pelukan yang lebih tua. Terlalu dekat.
Refleks Jay memundurkan sedikit tubuhnya, berdehem kecil berusaha terlihat tetap tenang “Ya namanya juga kaget sih”
Jay sadar ini bukan hanya soal takut. Ia bersedia menonton 100 film horror setiap hari jika itu hal yang dibutuhkan untuk membuat Jungwon terus berada di dekatnya.
***
Hari itu dimulai seperti biasa. Bangun, mandi, gosok gigi memasak sarapan untuk Jungwon, memandangi Jungwon makan sampai habis dan mulai latihan harian mereka untuk konser bulan depan. Pikirannya kacau. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Pilihan lagu untuk setlist masih belum ditetapkan, perlu meeting dan itu tentu memakan waktunya bersama Jungwon. Pun masih ada member yang belum menguasai koreografi untuk lagu terbaru mereka versi konser nanti.
Semuanya membutuhkan perhatian Jay dan dia tidak kuat untuk memikirkan hal itu. Baru saja tadi malam dia dibuat gelisah akan tingkah Jungwon yang makin hari makin menempel padanya. Tentu itu membuatnya senang, tapi tetap saja menahan diri untuk tidak menciumi wajah lelaki itu rasanya lebih sulit dibanding mengangkat beban 100 kg bersama Sunghoon di gym.
“Ayo semuanya cepet ke studio ya!”
Teriakan Heeseung yang mengajak mereka ke ruang latihan memecahkan lamunannya. Jay menghela nafas dengan berat sambil menarik tangan Jungwon yang masih asik bermain handphone untuk bangkit dari sofa.
“Kak tungguin lah kenapa buru buru banget sih?” rengek Jungwon sambil bergelayutan di lengan Jay.
“Cepetan itu udah ditungguin yang lain say- Jungwon”
“Iya iyaa kakak sayang”
Jay rasanya ingin meledak saat itu juga walau AC 4 PK di sudut ruangan seharusnya cukup untuk mendinginkan isi kepalanya.
***
Pada siang hari yang cerah itu, semua member sudah lelah setelah latihan berjam-jam. Namun entah apa yang mengusik pikiran Jay hingga membuatnya melakukan beberapa kesalahan sejak awal latihan.
“Jay fokus dikit lah, lu napa sih?” Sunghoon mendadak berhenti dan semua orang memandanginya dan Jay.
“Sorry sorry lagi capek aja” jawab Jay singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca besar di ruang latihan.
“Ya semuanya juga capek kali, emang lu doang yang berkegiatan?” entah kenapa Sunghoon sepertinya sedang berada di mood yang tidak kalah buruknya dengan Jay, mungkin Sunoo melakukan sesuatu tadi malam, tidak ada juga yang tau.
“Lah ngapa ngegas amat dah lu? Ada problem lu sama gua?” Jay sepertinya tidak ada niatan untuk mundur, dan malah menaikkan nada suaranya.
“Yaudah karna Kak Jay capek, Kak Sunghoon juga capek, semuanya capek, kita istirahat dulu yaa? oke? oke!” suara Jungwon memecah suasana yang semakin tegang. Jay membenci dirinya sendiri. Bahkan Jungwon yang lebih muda harus turun tangan setiap kali emosinya tak terkendali.
Serentak semua member pun terbaring di lantai, kecuali Jay yang malah memilih untuk mengambil minum dari kulkas kecil, tidak lupa memilih cola zero sugar untuk Jungwon.
***
“Jungwon” ucap Jay sambil menempelkan cola itu ke jidat yang lebih muda yang sedang berbaring di samping cermin besar untuk mereka latihan.
“Iya kak- ya ampun bikin kaget aja, makasih ya” Jungwon mengambil kaleng cola dari tangan Jay, mengusap pelan jari jemari Jay, membuat hati yang lebih tua berdebar pelan.
“Sorry ya, jadi bikin tambah lama latihannya” ucap Jay pelan sambil ikut berbaring di sebelah Jungwon.
“Gapapa lah kak, aman aja, aku juga udah haus banget ini” Jungwon beranjak untuk duduk dan membuka colanya “Baring di sini kak” ucapnya sambil menepuk pelan pahanya.
Jay tanpa basa basi segera mencari posisi ternyaman di paha Jungwon. Ia menatap Jungwon yang sedari tadi belum bisa juga membuka kaleng cola itu, mungkin tangannya berkeringat, mungkin itu kode untuk Jay agar membukakannya untuk Jungwon.
“Lama banget buka kaleng doang, sini aku aja” ucapnya sambil mengambil kaleng cola di tangan Jungwon dan membukanya dengan mudah.
“Hehehe gitu dong kak dari tadi” yang muda hanya cekikikan, tanpa sadar telah memporak pondakan isi hati yang lebih tua.
“Tinggal ngomong aja padahal” dengus Jay sambil mencubit paha Jungwon main main.
“Kakkkk sakit ih” Jungwon membalasnya dengan menjitak kening Jay, dengan tak kalah lembutnya, yang hanya dibalas tawa oleh Jay.
Setelah puas menjitak kepala Jay, Jungwon menatap wajah Jay dalam dalam “Kak tadi kenapa sih berantem sama Kak Sunghoon?” tangannya mulai memainkan jari pria itu “Kalo ada masalah, kakak cerita lah sama aku”
“Gak kenapa kenapa kok.” jawabnya tanpa melihat Jungwon, mencari sesuatu yang lebih menarik dari Jungwon di langit-langit ruang latihan mereka.
“Bohong.”
Jay mendesah, tangannya balik menggenggam erat jemari Jungwon dan membawanya ke atas dadanya, “Udah fokus latihan aja, gausah dipikirin ya.” ibu jarinya menyapu punggung tangan yang lebih muda.
Terlalu dekat.
Terlalu hangat.
Jay tahu kalau dia mencondongkan kepalanya sedikit saja-
“HAYO LAGI NGAPAIN” teriakan Niki rasanya bisa menggetarkan seluruh lantai (im tryna say the whole floor)
Member yang lain sebenarnya sudah mulai menyadari tingkah mereka yang sudah biasa, tapi tetap saja bermesraan tanpa status itu merupakan bahan olokan yang sangat lezat.
“Dih apaan sih orang cuman mijetin Kak Jay nih lagi capek” tangan Jungwon dengan cepat memijat jari jemari dan tangan Jay.
“Lah gue juga capek ini kagak dipijetin juga?” saut Sunghoon mendengus
“Lagian mauan aja si Jungwon, padahal ga pacaran” Sunoo ikut menyeletuk menyiramkan minyak pada api yang sudah membara. Member lain hanya ikut tertawa. Heeseung bahkan memberikan jempolnya pada Sunoo atas tsunami fakta yang begitu terang itu.
“Tau tuh, bisa aja Jay capek gara gara ketempelan kamu terus Won” lanjut Heeseung, ingin ikut terlibat dalam agenda menjahili sang leader.
Hal ini spontan membuat Jay melepaskan tangannya sedikit. Takut Jungwon merasa malu atau tidak nyaman dengan godaan mereka. Takut Jungwon juga akan menyadari perasaannya.
“Ya kalau aku emang suka Kak Jay kenapa?” Jungwon mendengus kesal.
Hening.
Semua yang ada di ruang latihan butuh setidaknya 5 detik untuk memproses pernyataan Jungwon barusan. Jungwon sendiri tidak butuh sedetik untuk menyadari apa yang baru saja dia katakan.
“ANJIR GUE BILANG JUGA APA” Jake tertawa lepas sambil tepuk tangan heboh.
“Yang, bener kan kata aku, kamu ga percaya sih” Sunghoon menengok ke arah Sunoo yang sedang menatapi dua sejoli itu tidak percaya “Masalahnya aku pikir kak Jay yang bakal confess duluan” balas Sunoo.
“Mau siapa juga yang confess duluan ga ngaruh, dari awal juga udah kayak pasangan nikah 10 tahun” Heeseung menanggapi dengan malas, sepertinya menunjukkan kepada seseorang bahwa dia juga menginginkan hal yang sama.
Di balik riuhnya sorak sorai member lain, hanya satu orang yang sedari tadi diam dan tidak memberi tanggapan apa pun.
Jay.
Dunianya terasa berhenti. Ia tidak bisa berhenti menatap lekat wajah kesal Jungwon yang justru terlihat manis. Namun entah kenapa, pegangan tangannya pada jemari Jay terasa semakin erat.
“Kenapa? Emang cuman Kak Jay yang boleh suka duluan?” gerutu Jungwon pelan. Hal ini membuat otak Jay semakin macet. Dia merasa semua ini begitu tiba tiba dan mengejutkan. Seperti mimpi di saat demam, apa yang barusan dikatakan Jungwon tidak terasa nyata sama sekali.
Namun melihat wajah Jungwon yang semakin memerah bahkan sampai ke telinga dan lehernya, membuat kepercayaan dirinya mendadak meningkat.
Jay hanya tertawa kecil. “Lah aku pikir cuman aku doang yang ngerasa”
Member lain semakin heboh. Jake dan Heeseung tiba tiba saja membuat pola tepuk tangan sebagai tanda selamat untuk calon pasangan baru ini. Niki tiba tiba saja menjatuhkan dirinya ke lantai.
Sunghoon sibuk menggoda Sunoo untuk mencuri perhatian si kecil, merasa tidak boleh kalah dengan Jay yang memberikan PDA gratis walau masih tanpa status. Sunoo sendiri tidak mengindahkan pacarnya dan malah asik memfoto kejadian yang sebenarnya tidak langka ini, but a little documentation wouldn't hurt.
Jay tidak peduli dengan semua itu. Dia merasa harus menikmati momen ini selama mungkin. Dia hanya bisa melihat Jungwon.
“Yaudah kalau gitu sekarang boleh ga, gausah pura pura lagi?” tanya Jungwon sambil cemberut.
Jay menarik pelan tangan Jungwon hingga badan pria itu sedikit tertunduk. Jay berkata pelan, hanya kepada Jungwon “Iya…boleh, sayang” menatap Jungwon dengan begitu lekat, tanpa melepaskan pagutan jari jemari mereka.
Semua member refleks menyoraki mereka, kepada Jay tepatnya. Niki yang sudah tidak tahan memandangi mereka akhirnya memilih berguling guling di lantai.
Pemandangan yang begitu manis sampai membuat yang lain sakit gigi ini harus terhenti begitu saja. harus terhenti karena Sunghoon tiba tiba saja berdiri “Udahan dramanya kan? Lanjut latihan lagi ayo biar cepet balik”
***
Jay menatap Jungwon dalam dalam. Ia tidak bisa menahan senyumnya. Begitu Jungwon menangkap tatapan matanya, pria itu malah menunduk sambil tersenyum malu. Pemandangan ini tidak luput dari Niki yang entah kenapa always at the crime scene sambil memutar matanya.
“Jungwon awas jangan di situ” Jay menggeser lembut Jungwon yang entah kenapa melamun saat lagu masih mengalun, sebentar lagi bagian Jay untuk menjadi center tapi dia malah membeku di situ, “Eh iya kak” jawab Jungwon pelan sambil tersenyum.
“Eh sorry kak” Jungwon tidak sengaja menabrak bahu Jay di tengah koreo. Yang lebih tua hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, “Iya sayang”
“Y’all should really stop…” Jake mengirimkan tatapan tidak hangatnya itu kepada sang tersangka PDA di siang hari yang cerah ceria ini.
“Not my fault you couldn’t bag a baddie though.”
“Oh shut up you!”
***
“Gue sama Niki mau pergi makan, ada yang mau ikut ga?” Heeseung bertanya sambil membereskan barang barangnya.
“Lagi mager ah kak, aku pesen online aja” jawab Sunoo sambil mulai membuka aplikasi pemesanan makanan online.
“Mager mulu bocah” timpal Sunghoon sambil menjitak kepala Sunoo dan berlalu melaluinya, sedikit tergesa, takut dikejar Sunoo.
“Kak Sunghoon ih sakit tau!” teriak Sunoo sambil mengejar Sunghoon keluar ruangan.
“Gue ikut ya, masa iya jadi obat nyamuk di sini” Jake mulai mengikuti Heeseung dan Niki keluar dan melambaikan tangan pada Jay dan Jungwon yang masih sama sama berbaring di lantai “Duluan ya lover boys!”
“Hati hati” ucap mereka berdua serentak.
Satu per satu member lainnya pergi dari ruang latihan, meninggalkan keheningan yang menyelimuti dua sejoli yang sedang kasmaran, namun entah kenapa udara di ruangan latihan sore itu terasa lebih berat dari biasanya.
Jungwon membalikkan badannya dan menoleh ke arah Jay “Kak”
Jay menjawab tanpa menoleh ke arah Jungwon, dia masih belum percaya ini adalah kenyataan dan bukannya mimpi yang biasa muncul menghiasi malam malamnya “Iya”
“Kakak kenapa betah banget sih pura pura ga suka sama aku selama ini?”
Jay tertawa canggung, mengusap tengkuknya salah tingkah. “Ya ampun, kamu jangan asal ngomong gitu.”
“Kok asal?” Jungwon menaikkan alisnya.
Jay menghela napas, lalu akhirnya menatap Jungwon. Kali ini serius.
“Aku cuma nggak mau kamu merasa terbebani. Kalau ternyata kamu nggak ngerasa hal yang sama, aku nggak mau kamu jadi nggak nyaman.”
Jungwon terdiam sebentar. Lalu akhirnya memilih untuk duduk bersila.
“Kak,” katanya pelan, tapi jelas. “Aku bukan anak kecil.”
“Kakak pikir aku nggak pernah mikir soal ini?” suara Jungwon bergetar tipis.
Jay langsung panik, bangkit dari lantai untuk mengusap wajah Jungwon “Eh, bukan gitu—”
“Aku cuma nunggu kamu,” lanjut Jungwon lebih pelan.
Dan saat Jay melihat mata itu mulai berkaca-kaca, semua alasan rasional yang ia susun berbulan-bulan runtuh begitu saja.
“Jangan nangis,” katanya cepat, mendekat tanpa sadar, “Aku juga suka kamu. Dari dulu.”
BRUK
“Eh sorry guys jeda iklan dikit, dompet gue ketinggalan hehe” Terlihat Jake yang terburu buru masuk ke ruang latihan dan mengambil dompetnya di sudut ruangan, “I’ll leave you guys alone for real now, bye!” ucapnya sambil berlari kecil menghampiri Heeseung yang menunggunya di pintu.
“Jangan aneh aneh ya Jay” pesan Heeseung terakhir sebelum menutup pintu dan akhirnya betul betul meninggalkan mereka berdua.
Jungwon menghela nafas sambil menyenderkan kepalanya di dada Jay, mengambil tempat yang nyaman. “Kak tapi aku malu banget ih, kenapa coba tadi ngomongnya pas ada yang lain?” pria itu menatap Jay sambil cemberut.
“Lah kan kamu yang mulai duluan?” Jay hanya tertawa sambil mencubiti pipi yang lebih muda.
“Ya iya sih- tapi kan- argh gatau ah kamu ngeselin pokoknya!” Jungwon membalikkan kepalanya dan menggigit bahu Jay pelan.
“Hey anak kucing ga boleh gigit gigit!” Jay berteriak sambil tertawa dan mengangkat Jungwon, mendudukkan yang lebih muda di pangkuannya.
“Kamu ga tau seberapa lama aku nunggu kamu, nunggu momen ini,” Jay menatap mata Jungwon dalam-dalam, perlahan merengkuh tubuh yang lebih kecil dalam pelukannya.
Jungwon yang merasa tidak boleh kalah dalam lomba tatap tatapan ini justru malah membeku, tidak bisa berkutik kala Jay memegang erat tangannya, meremas pelan jemarinya dengan satu tangan.
Hangat tubuh Jungwon membuat keberanian Jay semakin meningkat. Ia tersenyum kecil, memikirkan bagaimana semesta sudah menyiapkan skenario terbaik untuknya hari ini. Ruang latihan mendadak terasa terlalu sunyi untuk degup jantung Jungwon yang terlalu nyaring untuk disembunyikan.
Wajah Jay semakin mendekat, terlalu dekat untuk bisa Jungwon hindari. Nafas hangat Jay membuat yang lebih muda tercekat, memerah layaknya kepiting yang dikukus 10 jam. Jemari di genggaman Jay dibawanya mendekat untuk dikecup ringan.
“Aku udah sabar banget selama ini, sekarang jangan minta aku berhenti ya”
